cover
Contact Name
laelatus Syifa Sari Agustina
Contact Email
laelatussyifa.sa@staff.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
wacana@mail.uns.ac.id
Editorial Address
Gedung D Fakultas Kedokteran UNS Jl. Ir. Sutami no. 36A, Kota surakarta (solo), Jebres, Jawa Tengah, 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
WACANA
ISSN : 20850514     EISSN : 27161625     DOI : https://doi.org/10.13057/wacana.v12i1
Wacana adalah wadah pengembangan psikologi di indonesia khususnya dibidang indegenous yang memuat naskah-naskah ilmiah penelitian empiris. Psikologi dalam ranah indegenous mengkhususkan diri pada studi yang mengangkat seni, etnis, budaya, nilai-nilai kepercayaan, spiritualitas, agama dan kearifan lokal yang saling mempengaruhi proses sosial dan proses individual serta hubungan intra dan/atau inter kelompok dan lingkungan. Kajian dalam bidang-bidang psikologi lainnya dapat dimuat dalam Wacana sepanjang memiliki relevansi dengan psikologi khusunya bidang indegenous.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2011)" : 6 Documents clear
PERBEDAAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DITINJAU DARI STRATEGI SELF-MANAGEMENT DALAM MENGATASI WORK-FAMILY CONFLICT PADA IBU BEKERJA Dias Tri Handayani; Salmah Lilik; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.887 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v3i2.37

Abstract

Peran ganda yang dimiliki ibu bekerja sebagai wanita karir sekaligus ibu rumah tangga mengarahkan ibu bekerja pada permasalahan work-family conflict (selanjutnya disebut WFC) yang disebabkan oleh pertentangan dua peran atau lebih sekaligus.   WFC dapat menyebabkan terganggunya psychological well-being (selanjutnya disebut PWB) pada ibu bekerja, jika tidak diatasi dengan benar.  Dengan membangun self-management dalam diri ibu bekerja, dapat membantu ibu bekerja mengatasi WFC, sehingga lebih mengarahkan mereka pada proses pencapaian  PWB.  PWB  adalah kehidupan yang positif, seimbang dan berkelanjutan pada individu dalam menghadapi tantangan menuju kondisi terbaik meliputi fisik, mental dan sosialnya.  Terdapat empat strategi self-management, yaitu positive self-talk, time management, task delegation dan role compartmentalization, yang nantinya masing-masing strategi self-management akan mengarahkan ibu bekerja pada kondisi PWB yang berbeda-beda pula. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah terdapat perbedaan PWB ditinjau dari strategi self-management dalam mengatasi WFC pada ibu bekerja.  Populasi adalah ibu bekerja di 4 Bank Persero (BUMN) di Surakarta.  Sampel berjumlah 72 orang dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling dengan kriteria wanita sudah menikah, pada saat ini memiliki anak berusia 0 – 13 tahun, suami masih hidup dan pendidikan minimal lulusan SMA/ SMK.  Pengumpulan data menggunakan Skala PWB dan Skala Strategi Self-Management dalam Mengatasi WFC. Teknik analisis data yang digunakan adalah One-Way ANOVA dengan bantuan program SPSS 14. Hasil analisis dengan menggunakan teknik One-Way ANOVA diperoleh  = 1,165 lebih kecil dari   = 2,739.  Dari hasil analisis tersebut, dapat dimaknai bahwa tidak ada perbedaan PWB ditinjau dari strategi self-management dalam mengatasi WFC pada ibu bekerja.  Hal ini dikarenakan masing-masing strategi berperan sebagai fungsi afek, tingkah laku dan kognisi dalam diri individu yang sistem bekerjanya saling terpisah tetapi saling mempengaruhi, sehingga ketiganya sama-sama diperlukan untuk mengatasi work-family conflict dan sama-sama berkontribusi dalam mengarahkan psychological well-being pada ibu bekerja.   Kata kunci: psychological well-being, strategi self-management dalam mengatasi work-family conflict, ibu bekerja
PERBEDAAN PENYESUAIAN SOSIAL SISWA AKSELERASI DITINJAU DARI INTENSITAS KOMUNIKASI KELUARGA (STUDI PADA KELAS X PROGRAM AKSELERASI SMA NEGERI 3 SURAKARTA) . Prehaten; Tuti Hardjajani; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.828 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v3i2.39

Abstract

Program akselerasi yang menyajikan kurikulum padat, menekan dan penuh tuntutan dapat menjadikan siswa kehilangan waktu untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Hal ini dapat menyebabkan pengalaman-pengalaman sosial yang dialami siswa menjadi berkurang sehingga anak menjadi kurang terampil dalam melakukan penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial seorang anak dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Dalam hal ini komunikasi memainkan peranan penting sebagai media yang digunakan saat melakukan interaksi dengan anggota keluarga.  Semakin tinggi intensitas Komunikasi keluarga yang terjadi akan akan memberikan pengalaman sosial yang cukup bagi anak dalam proses belajar sosial sehingga dapat membantu dalam mempelajari keterampilan-keterampilan sosial yang dibutuhkan dalam melakukan penyesuaian sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan penyesuaian sosial siswa akselerasi ditinjau dari intensitas komunikasi keluarga. Subyek dalam penelitian ini adalah kelas X siswa SMA N 3 Surakarta tahun 2010. Penelitian ini menggunakan studi populasi mengingat jumlah siswa akselerasi yang sedikit yakni 59 siswa. Alat pengumpul data menggunakan skala penyesuaian sosial dan skala intensitas komunikasi keluarga. Metode analisis data menggunakan One Way anava dengan bantuan Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 16. Berdasarkan hasil uji one way anava diperoleh F hitung 34,402 dan F tabel 4,010, (p = 0,05), karena F hitung > F Tabel maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan penyesuaian sosial siswa akselerasi ditinjau dari inntensitas komunikasi keluarga artinya rata-rata penyesuaian sosial berbeda berdasarkan intensitas komunikasi keluarga. Berdasarkan analisis stastistik deskriptif diperoleh bahwa penyesuaian sosial siswa akselerasi berada pada tingkat tinggi (52,54%) dan tingkat sedang (47, 46 %). Selain itu juga diperoleh bahwa intensitas komunikasi keluarga berada pada tingkat tinggi (74,58%) dan tingkat sedang (25,42%). Rata-rata penyesuaian sosial dengan intensitas komunikasi tinggi sebesar 113,11 dengan skor penyesuaian sosial terendah 99 dan skor tertinggi yaitu 137. Rata-rata penyesuaian sosial dengan intensitas komunikasi sedang sebesar 97,00 dengan skor penyesuaian sosial terendah 76 dan skor tertinggi yaitu 110. Semakin tinggi intensitas komunikasi keluarga maka semakin tinggi penyesuaian sosialnya. Kata kunci: Program Akselerasi, Penyesuaian Sosial, Intensitas Komunikasi keluarga.
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN SEKSUALITAS DAN KUALITAS KOMUNIKASI ORANGTUA DAN ANAK DENGAN PERILAKU SEKS BEBAS PADA REMAJA SISWA-SISWI MAN GONDANGREJO KARANGNYAR Evidanika Nifa Mertia; Thulus Hidayat; Istar Yuliadi
Wacana Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.019 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v3i2.40

Abstract

Di Indonesia, terutama di kota-kota besar perilaku seks bebas pada remaja semakin meningkat. Akibat dari perilaku tersebut adalah kehamilan di luar nikah, pemerkosaan, merebaknya pelacuran di kalangan remaja, aborsi, penyakit menular seksual, pelecehan seksual dan penyimpangan-penyimpangan seksual. Ada banyak yang melatarbelakangi perilaku seks bebas pada remaja, seperti kurangnya pengetahuan seksualitas anak dan kurang berkualitasnya komunikasi orangtua dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan seksualitas dan kualitas komunikasi orangtua dan anak dengan perilaku seks bebas pada remaja siswa-siswi MAN Gondangrejo Karanganyar. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian diambil dengan teknik cluster random sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala perilaku seks bebas, skala pengetahuan seksualitas, dan skala kualitas komunikasi orangtua dan anak. Analisis data menggunakan teknik analisis regresi ganda. Hasil perhitungan menggunakan analisis regresi ganda menunjukkan koefisien regresi variabel pengetahuan seksualitas sebesar -0,595 pada taraf signifikan p<0,05. Artinya bahwa pengetahuan seksualitas mempunyai hubungan negatif dengan perilaku seks bebas. Koefisien regresi variabel kualitas komunikasi orangtua dan anak sebesar -0,615 pada taraf signifikan p<0,05. Artinya kualitas komunikasi orangtua dan anak mempunyai hubungan negatif dengan perilaku seks bebas. Selain itu berdasarkan hasil analisis data diketahui ada hubungan yang signifikan secara statistik antara pengetahuan seksualitas dan kualitas komunikasi orangtua dan anak dengan perilaku seks bebas pada remaja siswa-siswi MAN Gondangrejo Karanganyar, ditunjukkan dengan nilai R=0,592 dan F=17,279 pada p<0,05. Sumbangan efektif pengetahuan seksualitas dan kualitas komunikasi orangtua dan anak dengan perilaku seks bebas dapat dilihat dari keofisien determinan (R2) sebesar 0,351 atau 35,1% yang berarti masih terdapat 64,9% faktor lain yang mempengaruhi perilaku seks bebas selain pengetahuan seksualitas dan kualitas komunikasi orangtua dan anak.     Kata kunci       : pengetahuan seksualitas, komunikasi orangtua anak, seks bebas
HUBUNGAN ANTARA BODY IMAGE DAN KONFORMITAS DENGAN PERILAKU KONSUMTIF PADA SISWI KELAS XI SMA NEGERI 7 SURAKARTA Sebayang, Jessica; Yusuf, Munawir; Priyatama, Aditya Nanda
Wacana Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.057 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v3i2.36

Abstract

Remaja merupakan salah satu target pemasaran potensial berbagai produk industri karena karakteristik remaja yang labil, spesifik, dan mudah dipengaruhi sehingga dapat mendorong munculnya perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif merupakan tindakan individu untuk membeli atau mengkonsumsi barang atau jasa secara berlebihan yang bukan prioritas kebutuhannya dan tanpa pertimbangan yang rasional, demi kepuasan fisik dan dorongan untuk memuaskan hasrat kesenangan semata. Individu dengan body image yang negatif dan tingkat konformitas yang tinggi dapat meningkatkan perilaku konsumtif individu tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui: 1. Hubungan antara body image dan konformitas dengan perilaku konsumtif pada siswi kelas XI SMA Negeri 7 Surakarta; 2. Hubungan antara body image dengan perilaku konsumtif pada siswi kelas XI SMA Negeri 7 Surakarta; 3. Hubungan antara konformitas dengan perilaku konsumtif pada siswi kelas XI SMA Negeri 7 Surakarta. Populasi dalam penelitian ini adalah siswi kelas XI SMA Negeri 7 Surakarta. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Perilaku Konsumtif dengan koefisien korelasi Pearson sebesar -0,052-0,679 dan Reliabilitas Alpha 0,909; Skala Body Image dengan koefisien korelasi Pearson sebesar -0,052-0,693 dan Reliabilitas Alpha 0,902; serta Skala Konformitas dengan koefisien korelasi Pearson -0,056-0,667 dan Reliabilitas Alpha 0,738. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis pertama adalah analisis regresi ganda, dan selanjutnya untuk menguji hipotesis kedua dan ketiga menggunakan analisis korelasi parsial. Berdasarkan hasil analisis regresi ganda diperoleh nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,450; p = 0,000 (p<0,05) dan F hitung 9,527 > F tabel 3,12. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara body image dan konformitas dengan perilaku konsumtif pada siswi kelas XI SMA Negeri 7 Surakarta. Secara parsial menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara body image dengan perilaku konsumtif pada siswi kelas XI SMA Negeri 7 Surakarta dengan koefisien korelasi (r) sebesar -0,247; serta terdapat hubungan positif yang signifikan antara konformitas dengan perilaku konsumtif pada siswi kelas XI SMA Negeri 7 Surakarta yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,309.   Kata Kunci: body image, konformitas, perilaku konsumtif
MODEL PEMBELAJARAN REGULASI DIRI UNTUK MENURUNKAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA Tri Rejeki Andayani; Nugraha Arif Karyanta
Wacana Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.676 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v3i2.41

Abstract

Prokrastinasi akademik merupakan salah satu hambatan dalam proses mahasiswa menyelesaikan masa studinya. Kebiasaan untuk menunda-nunda penyelesaian tugas yang terkait dengan akademik akan memberikan pengaruh besar dalam prestasi studi dan lama studi yang ditempuh. Beberapa studi terdahulu telah menunjukkan bahwa self-regulated learning (SLR) merupakan penentu dalam belajar, dimana 1 % puncak pelajar yang berprestasi merupakan siswa self-regulated. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran regulasi diri terhadap penurunan prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimen dengan subyek penelitian mahasiswa Psikologi FK UNS yang memiliki tingkat prokrastinasi diatas rata-rata. Subyek ditentukan berdasarkan teknik purposive nonrandom sampling. Desain penelitian menggunakan Pretest-posttest Control Group Design dan teknik analisis datanya akan menggunakan pendekatan Statistika independen sample t-test. Untuk menunjang pembahasan agar lebih mendalam, analisis data juga dilengkapi dengan metode kualitatif. Hasil uji hipotesis dengan menggunakan independen sample t-test menunjukkan nilai signifikansi 0,004 (p < 0,05). Kesimpulan atas hasil ini adalah bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara skor post-test kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Karena sebelum perlakuan subyek berada pada taraf yang sama, dapat disimpulkan bahwa pemberian perlakuan berupa pelatihan regulasi diri memiliki pengaruh yang nyata terhadap tingkat prokastinasi akademik subyek penelitian. Hal ini dikonfirmasi oleh hasil uji paired sample t-test pada skor kelompok eksperimen sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan menunjukkan nilai signifikansi untuk uji dua sisi sebesar 0,002 (p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara skor prokastinasi akademik kelompok eksperimen sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan, yang menguatkan kesimpulan bahwa pelatihan regulasi diri memiliki pengaruh yang nyata terhadap penurunan skor prokastinasi akademik subyek penelitian.   Kata Kunci: regulasi diri, prokrastinasi akademik
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN EMOSIONAL KELUARGA DAN RESILIENSI DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI KEMOTERAPI PADA PASIEN KANKER DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA Febi Dwi Setyaningsih; . Makmuroch; Tri Rejeki Andayani
Wacana Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.264 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v3i2.38

Abstract

Kemoterapi adalah salah satu cara pengobatan kanker yang dilakukan dengan memasukkan obat-obatan anti-kanker ke tubuh pasien. Kemoterapi sebagai salah satu pilihan utama pengobatan untuk penyakit kanker memiliki berbagai efek samping yang dapat menimbulkan kecemasan dalam diri pasien. Pasien yang mendapatkan dukungan emosional dari keluarga akan terhindar dari kecemasan menghadapi kemoterapi karena adanya berbagai perasaan positif yang dirasakan pasien dengan tersedianya dukungan emosional keluarga. Resiliensi dalam diri pasien akan dapat mengurangi kecemasan menghadapi kemoterapi ketika muncul bersama dengan dukungan emosional keluarga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan emosional keluarga dan resiliensi dengan kecemasan menghadapi kemoterapi serta hubungan antara masing-masing variabel prediktor, yaitu dukungan emosional keluarga dan resiliensi, dengan kecemasan menghadapi kemoterapi. Populasi penelitian adalah pasien kanker yang menjalani kemoterapi di RSUD Dr. Moewardi Surakarta dengan sampel penelitian sebanyak 50 responden yang diambil menggunakan purposive incidental sampling. Pengumpulan data penelitian menggunakan Skala Kecemasan Menghadapi Kemoterapi                               (daya beda item = 0,433-0,900; reliabilitas = 0,974), Skala Dukungan Emosional Keluarga (daya beda item = 0,391-0,889;  reliabilitas = 0,967), dan Skala Resiliensi (daya beda item = 0,395-0,866; reliabilitas = 0,978). Uji F dalam teknik analisis regresi berganda menunjukkan Fhitung = 9,649 (Ftabel = 3,195; Fhitung>Ftabel) dan p = 0,000 (p<0,05). Hal ini berarti ada hubungan signifikan antara dukungan emosional keluarga dan resiliensi dengan kecemasan menghadapi kemoterapi. Besarnya hubungan antara dukungan emosional keluarga dan resiliensi dengan kecemasan menghadapi kemoterapi ditunjukkan dari nilai   R = 0,540. Kontribusi dukungan emosional keluarga dan resiliensi terhadap kecemasan menghadapi kemoterapi adalah sebesar 29,1%. Uji t antara dukungan emosional keluarga dan kecemasan menghadapi kemoterapi menunjukkan nilai thitung = 2,311 (ttabel = 2,012; thitung>ttabel), p = 0,025 (p<0,05), dan B = -0,795. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan negatif signifikan antara dukungan emosional keluarga dan kecemasan menghadapi kemoterapi. Hubungan resiliensi dengan kecemasan kemoterapi tidak signifikan terlihat dari hasil uji t yang menghasilkan nilai nilai thitung = 0,217 (ttabel = 2,012; thitung<ttabel),   p = 0,829 (p>0,05), dan B = -0,060. Kata kunci: kemoterapi, kecemasan menghadapi kemoterapi, dukungan emosional keluarga, resiliensi

Page 1 of 1 | Total Record : 6