cover
Contact Name
laelatus Syifa Sari Agustina
Contact Email
laelatussyifa.sa@staff.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
wacana@mail.uns.ac.id
Editorial Address
Gedung D Fakultas Kedokteran UNS Jl. Ir. Sutami no. 36A, Kota surakarta (solo), Jebres, Jawa Tengah, 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
WACANA
ISSN : 20850514     EISSN : 27161625     DOI : https://doi.org/10.13057/wacana.v12i1
Wacana adalah wadah pengembangan psikologi di indonesia khususnya dibidang indegenous yang memuat naskah-naskah ilmiah penelitian empiris. Psikologi dalam ranah indegenous mengkhususkan diri pada studi yang mengangkat seni, etnis, budaya, nilai-nilai kepercayaan, spiritualitas, agama dan kearifan lokal yang saling mempengaruhi proses sosial dan proses individual serta hubungan intra dan/atau inter kelompok dan lingkungan. Kajian dalam bidang-bidang psikologi lainnya dapat dimuat dalam Wacana sepanjang memiliki relevansi dengan psikologi khusunya bidang indegenous.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2016)" : 6 Documents clear
STRATEGI KOPING PADA BIPOLAR YANG MENGALAMI PERCERAIAN (STUDI KASUS) Mursyid Robbani; Salmah Lilik; Arif Tri Seyanto
Wacana Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.122 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v8i1.92

Abstract

STRATEGI KOPING PADA BIPOLAR YANG MENGALAMI PERCERAIAN (STUDI KASUS)     COPING STRATEGIES OF BIPOLAR ON THE DIVORCE EXPERIENCE (CASE STUDY)     Mursyid Robbani, Salmah Lilik, Arif Tri Seyanto Program Studi Psikologi FakultasKedokteran Universitas SebelasMaret     ABSTRAK   Strategi koping merupakan proses penyesuaian diri berupa perilaku dan pikiran internal berupa sumber daya, nilai-nilai yang dianut, dan komitmen sebagai upaya pertahanan diri dari tuntutan eksternal yang mengancam untuk memperoleh rasa aman dan menurunkan efek negatif yang ditimbulkan. Bipolar merupakan merupakan gangguan suasana perasaan atau mood yang ditandai dengan pergantian antara episode mania dengan episode depresi dalam waktu yang berbeda atau keduanya dalam waktu yang sama yang berpengaruh pada aktivitas sehari-hari berupa peningkatan atau penurunan energi yang signifikan. Pada penelitian ini, seseorang yang mengalami gangguan bipolar menjadi salah satu kelompok yang rentan terhadap efek stres yang ditimbulkan karena kondisi mood yang tidak stabil ditambah dengan kurangnya dukungan yang diterima karena perceraian yang dialami. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui strategi koping yang digunakan pada bipolar yang mengalami perceraian. Subjek penelitian ini berjumlah dua orang, yaitu pria dan wanita yang memiliki diagnosis bipolar tipe mania dan tidak memiliki gangguan lain, masih menjalani pengobatan dengan psikiater, serta memiliki riwayat perceraian dalam dua tahun terakhir. Penentuan subjek dalam penelitian ini menggunakan teknik bola salju (snowball sampling). Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa metode kualitatif dengan rancangan studi kasus. Pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah riwayat hidup, observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa kedua subjek memiliki latar belakang utama gangguan bipolar yang sama, yaitu karena kehilangan pasangan. Sementara alasan bercerai dari kedua subjek adalah karena kurangnya efektivitas komunikasi dan interaksi yang terjalin diantara keduanya menjadi pemicu terbesar dalam perceraian mereka. Untuk bertahan dengan kondisinya, kedua subjek menggunakan delapan bentuk koping dari dua jenis berupa problem-focused dan emotion-focused. Subjek wanita lebih dominan melakukan koping dengan cara problem-focused seperti berkonsultasi kepada psikiater, mengonsumsi obat secara rutin dan berbagi cerita dengan orang lain, sedangkan untuk subjek pria lebih memilih emotion-focused sebagai cara dominan untuk bertahan seperti berusaha mengontrol diri dari kejadian stresfull, dan berpikiran positif karena ingin melepaskan diri dari ketergantungan obat. Kedua subjek juga memiliki reaksi psikologis yang sama seperti berdamai dengan diri sendiri dan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan YME.
Hubungan Antara Budaya Organisasi denganCommon Ingroup Identity Pada Karyawan PT Intan Pariwara Kuzana Alpra; Aditya Nanda Priyatama; Selly Astriana
Wacana Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.706 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v8i1.88

Abstract

Hubungan Antara Budaya Organisasi  denganCommon Ingroup Identity Pada Karyawan PT Intan Pariwara   The Correlation Between Organizational Culture And Common Ingroup Identity On Employee Of PT.  Intan Pariwara Kuzana Alpra, Aditya Nanda Priyatama, Selly Astriana   Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret     ABSTRAK Common ingroup identity adalah perubahan representasi kognitif dari yang semula berorientasi “kami” versus “mereka” menjadi lebih inklusif yaitu “kita”. Strategi ini menekankan proses rekategorisasi dimana anggota kelompok dari  kelompok yang berbeda diinduksi untuk menerima diri mereka sebagai satu kesatuan, lebih inklusif menjadi grup superordinat dibandingkan dengan sebagai dua grup yang terpisah.Common ingroup identity memiliki dampak positif bagi anggota organisasi. Dampak positif yang dihasilkan tersebut dapat dimanfaatkan untuk keberlangsungan proses dalam perusahaan sehingga semua karyawan dapat terintegrasi dengan baik. Common ingroup identity pada individu dipengaruhi oleh berbagai variabel, salah satunya adalah budaya organisasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara budaya organisasi dengan common ingroup identity pada karyawan PT. Intan Pariwara. Sampel penelitian yang digunakan berjumlah 91 karyawan PT Intan Pariwara menggunakan teknik pengambilan sampel cluster random sampling. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan skala budaya organisasi dan skala common ingroup identity.Skala budaya organisasi terdiri dari 23 aitem valid dengan koefisien reliabilitas 0,814, skala common ingroup identity terdiri dari 18 aitem valid dengan koefisien reliabilitas 0,799. Analisis data menggunakan teknik korelasi pearson product moment dan diperoleh koefisien korelasi (R) sebesar 0,848 dan p=0,00 (p<0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara budaya organisasi dengan common ingroup identity yang signifikan dan positif. Nilai R square atau koefisien determinasi sebesar 0,719 yang berarti dalam penelitian ini budaya organisasi memberikan kontribusi sebesar 71,9 % dan 28,1% dijelaskan oleh faktor lain. Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat hubungan antara budaya organisasi dengan common ingroup identity pada karyawan PT. Intan Pariwara.   Kata kunci : Budaya organisasi, common ingroup identity
Hubungan Antara Keadilan Organisasi dan Keterikatan Karyawan dengan Kepuasan Kerja pada Karyawan PT Mekar Armada Jaya Magelang Maria Stephani Dwitya; Bagus Wicaksono; Nugraha Arif Karyanta
Wacana Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.483 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v8i1.93

Abstract

Hubungan Antara Keadilan Organisasi dan Keterikatan Karyawan dengan Kepuasan Kerja pada Karyawan PT Mekar Armada Jaya Magelang   THE RELATIONSHIP BETWEEN ORGANIZATIONAL JUSTICE AND EMPLOYEE ENGAGEMENT WITH JOB SATISFACTION ON THE EMPLOYEES OF PT MEKAR ARMADA JAYA MAGELANG     Maria Stephani Dwitya, Bagus Wicaksono, Nugraha Arif Karyanta Program Studi Psikologi FakultasKedokteran UniversitasSebelasMaret     ABSTRAK   Masyarakat usia dewasa di dunia menghabiskan sebagian besar waktu terjaganya di tempat kerja, oleh karenanya studi mengenai kepuasan kerja memiliki peran penting baik dalam peningkatan kualitas hidup individu maupun efektivitas organisasi. Kepuasan kerja merupakan sikap dan perasaan positif individu terhadap pekerjaannya sebagai hasil penilaian terhadap pekerjaan tersebut. Penilaian karyawan terhadap pekerjaannya tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor baik internal maupun eksternal, diantaranya keadilan organisasi dan keterikatan karyawan. Keadilan organisasi merupakan keseluruhan persepsi karyawan apakah mereka diperlakukan secara adil atau tidak dalam sebuah organisasi. Keterikatan karyawan merupakan kondisi hubungan positif karyawan dengan pekerjaannya meliputi dimensi fisik, kognitif, dan emosional dalam memenuhi peran dan tugas kerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keadilan organisasi dan keterikatan karyawan dengan kepuasan kerja, hubungan antara keadilan organisasi dengan kepuasan kerja, dan hubungan antara keterikatan karyawan dengan kepuasan kerja pada karyawan PT Mekar Armada Jaya Magelang. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan tetap PT Mekar Armada Jaya Magelang sejumlah 754 karyawan. Sampling yang digunakan adalah Cluster Random Sampling dan diperoleh lima unit kerja sebagai sampel dengan total sampel 160 karyawan. Instrumen yang digunakan adalah skala kepuasan kerja, skala keadilan organisasi, dan skala keterikatan karyawan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara keadilan organisasi dan keterikatan karyawan dengan kepuasan kerja karyawan PT Mekar Armada Jaya Magelang , ditunjukkan dengan Fhitung = 45,176 (>Ftabel 3,00), p=0,000 (p<0,05),dan koefisien korelasi R=0,604.  Secara parsial, terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara keadilan organisasi dengan kepuasan kerja dengan nilai korelasi 0,389 dan p=0,000 (p<0,05). Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara keterikatan karyawan dengan kepuasan kerja dengan nilai korelasi 0,167 dan p=0,001 (p<0,05). Nilai R2 yang diperoleh sebesar 0,365 berarti sumbangan pengaruh variabel keadilan organisasi dan keterikatan karyawan pada kepuasan kerja adalah sebesar 36,5%. Besarnya sumbangan efektif keadilan organisasi terhadap kepuasan kerja sebesar 23,98% dan sumbangan efektif keterikatan karyawan terhadap kepuasan kerja sebesar 12,52%.   Kata kunci: keadilan organisasi, keterikatan karyawan, kepuasan kerja.
Pengaruh Pelatihan Pemaafan terhadap Peningkatan Self Esteem Pecandu Narkoba di Program Re-Entry Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido, Bogor Kadek Widya Gunawan; Aditya Nanda Priyatama; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.392 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v8i1.89

Abstract

Pengaruh Pelatihan Pemaafan terhadap Peningkatan Self Esteem Pecandu Narkoba di Program Re-Entry Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido, Bogor     Effect of Forgiveness Training on Self Esteem Improvement Among Drug Addicts in Re-Entry Program of National Narcotics Rehabilitation Center Lido, Bogor     Kadek Widya Gunawan, Aditya Nanda Priyatama, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebalas Maret       ABSTRAK Salah satu penyebab prevalensi penyalahguna narkoba meningkat setiap tahun adalah pecandu narkoba lama yang telah menjalani rehabilitasi mengalami kekambuhan sehingga kembali menyalahgunakan narkoba. Rendahnya self esteem pada pecandu narkoba yang direhabilitasi menyebabkan individu memiliki persepsi yang buruk tentang hubungan sosial, serta tidak tahan dalam menghadapi stres yang akhirnya memicu individu untuk kembali menyalahgunakan narkoba. Self esteem adalah keyakinan individu bahwa dirinya berharga yang didasarkan pada penilaian orang lain dan sistem tata nilai di lingkungan individu tinggal. Kondisi psikologis tersebut dapat diatas dengan pemberian pelatihan pemaafan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pelatihan pemaafan terhadap peningkatan self esteem. Pelatihan pemaafan adalah modifikasi dari terapi pemaafan ke dalam bentuk workshop yang berfokus pada pemaafan (forgiveness) dan perasaan bersyukur (gratitude). Subjek dalam penelitin ini adalah pecandu narkoba di fase akhir program rehabilitasi, yaitu fase re-entry di Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido, Bogor. Desain yang digunakan adalah desain eksperimen pretest-posttest control group design dengan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang masing-masing berjumlah enam orang. Kelompok eksperimen diberikan pelatihan pemaafan sebanyak enam sesi selama tiga hari dengan metode ceramah, diskusi, studi kasus, mengerjakan tugas, dan mental imagery. Metode pengumpulan data berupa skala penelitian Adult Version of the Coopersmith Self Esteem Inventory dengan validitas yang bergerak antara 0,517 sampai 0,759,  dan koefisien reliabilitas skala adalah 0,840 sehingga skala dinyatakan valid.Teknik analisis data menggunakan statistik nonparametrik Mann-Whitney dan Wilcoxon Signed-Rank Test secara komputasi dengan software SPSS for MS Windows version 22.0. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah pelatihan pemaafan terbukti memiliki pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan self esteem pada pecandu narkoba di program re-entry Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido, Bogor ditunjukkan dengan nilai uji signifikansi (p) sebesar 0,029 (p<0,05) yang berarti hipotesis penelitian diterima. Kata kunci: pelatihan pemaafan, self esteem, rehabilitasi narkoba.
Pengaruh Pelatihan Syukur terhadap Peningkatan Subjective Well Being pada Ibu yang Memiliki Anak Down Syndrome Nurul Muslikhatul Khoiriyah; Rin Widya Agustin; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.633 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v8i1.90

Abstract

Pengaruh Pelatihan Syukur terhadap Peningkatan Subjective Well Being pada Ibu yang Memiliki Anak Down Syndrome     The Effect of Gratitude Training to Increase Subjective Well Being in Mother of Children with Down Syndrome     Nurul Muslikhatul Khoiriyah, Rin Widya Agustin, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi FakultasKedokteran UniversitasSebelasMaret       ABSTRAK   Keadaan anak down syndrome yang mengalami gangguan, baik fisik, psikologis, maupun sosial membuat ibu merasa tertekan dan kurang bahagia. Kebahagiaan (happiness) mengacu kepada pengalaman subjektif seseorang yang mengarah kepada penilaian terhadap kehidupan yang telah dijalani atau selanjutnya disebut dengan subjective well being. Subjective well being dapat dihasilkan melalui pelatihan yang membentuk karakter individu. Salah satu bentuk intervensi yang dapat digunakan untuk meningkatkan subjective well being adalah pelatihan syukur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh pelatihan syukur terhadap peningkatan subjective well being pada ibu yang memiliki anak down syndrome. Subjek penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak down syndrome di SLB B-C dan Autis YBA Surakarta. Desain penelitian ini adalah desain eksperimen pretest-posttest control group design dengan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol masing-masing sebanyak lima orang. Kelompok eksperimen diberikan pelatihan syukur selama dua hari dengan menggunakan  metodesharing, kuliah, games, active communication, mental imagery, simulations, video,relaksasi, instruments, dan writing tasks.Metode pengumpulan data penelitian yaitu modul pelatihan syukur yang dimodifikasi dari Anggarani (2013), Satisfaction With Life Scale (Diener, dkk., 1985) dan Scale of Positive and Negative Experience (Diener dan Biswas-Diener, 2009). Hasil analisis kuantitatif dengan uji 2 Sampel Independen Mann-Whitney untuk kepuasan hidup diperoleh nilai Z -2.694 dan p 0.007< 0.05 pada pretest-posttest, sedangkan pretest-follow up memperoleh nilai Z sebesar -2.703 dan p 0.007< 0.05dan posttest-follow up mendapatkan nilai Z sebesar -2.612 dan  p 0.009< 0.05. Sedangkan perhitungan uji 2 sampel independen Mann-Whitney untuk balance affectdiperoleh nilai Z-2.627 dan p 0,009< 0.05 pada pretest-posttest,nilai Z sebesar -2.643 dan p 0.008< 0.05 untuk pretest-follow updan  nilai Z sebesar -2.635 dan  p 0,008< 0.05 untuk posttest-follow up. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pelatihan syukur memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan subjective well being pada ibu yang memiliki anak down syndrome. Kata kunci: pelatihan syukur, subjective well being, ibu, down syndrome.
Hubungan antara Stereotip Daya Tarik Fisik dan Kesepian dengan Perilaku Konsumtif terhadap Produk Kosmetik pada Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Rengganis, Nisa; Yusuf, Munawir; ., Hardjono
Wacana Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.209 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v8i1.91

Abstract

Hubungan antara Stereotip Daya Tarik Fisik dan Kesepian dengan Perilaku Konsumtif terhadap Produk Kosmetik pada Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret   The Relationship between Physical Attractiveness Stereotype and Loneliness with Consumtive Behavior toward Cosmetics Products on Female Students at Faculty of Social and Politic Sebelas Maret University   Nisa Rengganis, Munawir Yusuf, Hardjono Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret       ABSTRAK Perkembangan trend kecantikan menyebabkan individu berusaha untuk senantiasa berpenampilan menarik. Trend kecantikan mendorong perilaku konsumtif terhadap produk kosmetik. Perilaku konsumtif terhadap produk kosmetik pada mahasiswi menyebabkan mahasiswi melakukan pembelian produk kosmetik secara berlebihan di luar kebutuhan. Perilaku konsumtif dapat dipengaruhi oleh berbagai variabel di antaranya adalah tuntutan stereotip daya tarik fisik dan perasaan kesepian yang dirasakan mahasiswi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stereotip daya tarik fisik dan kesepian dengan perilaku konsumtif terhadap produk kosmetik pada mahasiswi fakultas ilmu sosial dan ilmu politik Universitas Sebelas Maret. Subjek penelitian diambil dengan cluster sampling. Alat pengumpul data yang digunakan adalah skala perilaku konsumtif, skala stereotip daya tarik fisik, dan skala kesepian. Analisis data menggunakan teknik analisis regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan nilai Fhitung 2,749 < Ftabel 3,092 ; p = 0,089 (p > 0,05), yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara hubungan antara stereotip daya tarik fisik dan kesepian dengan perilaku konsumtif terhadap produk kosmetik. Nilai R2 dalam penelitian ini sebesar 0,05 atau 5%, artinya stereotip daya tarik fisik dan kesepian secara bersama-sama memberikan sumbangan efektif sebesar 5% terhadap perilaku konsumtif terhadap produk kosmetik. Secara parsial, terdapat hubungan positif dan siginifikan antara stereotip daya tarik fisik dengan perilaku konsumtif terhadap produk kosmetik (rx1y = 0,220 ; p = 0,031 < 0,05), serta tidak terdapat hubungan yang siginifikan antara kesepian dengan perilaku konsumtif terhadap produk kosmetik (rx2y = - 0,083 ; p = 0,420 > 0,05).   Kata kunci: perilaku konsumtif, stereotip daya tarik fisik, kesepian, mahasiswi  

Page 1 of 1 | Total Record : 6