cover
Contact Name
Hartono, M.Pd.I
Contact Email
yudipoday@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yudipoday@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. situbondo,
Jawa timur
INDONESIA
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist
ISSN : 26213699     EISSN : 26152568     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al Bayan: adalah Jurnal Ilmu Al- Qur'an dan Ilmu Hadist yang diterbitkan oleh LPPM STIQ Wali Songo Situbondo dua kali dalam satu tahun yaitu pada bulan januari dan juli. Jurnal ilmiah yang kami kelola memuat tema seputar Al Qur'an dan Hadist dan kajian-kajian keislaman lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 265 Documents
Flexing Sebagai Personal Branding Dalam Al-Qur’an: Aplikasi Teori Tafsir Maqāṣid Abdul Mustaqim Agustin, Bela; Badi’ah, Siti; Hendro, Beko
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis penafsiran dan pemahaman ulama terhadap ayat-ayat terkait flexing, serta mengkaji korelasinya melalui teori Tafsir maqāṣidi Abdul Mustaqim. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan tafsir maudhui, menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan dengan konsep flexing dan personal branding seperti surah Al-Qashash [28] 76, Al- Isra' [17]: 37, Yusuf [12]: 55, Luqman [31]: 18, dan Al-Ahzab [33]: 21. Artikel ini membahas tentang etika flexing dalam personal branding berdasarkan lima aspek maqāṣid al-syari’ah: ḥifẓ al-mal, ḥifẓ al-nafs, ḥifẓ al-‘aql, ḥifẓ al-naṣab, dan ḥifẓ al-din. Temuan penelitian menunjukkan bahwa, flexing sebagai personal branding dapat diterima dalam Islam jika memenuhi prinsip maqāṣid syariah, yakni menjaga harta (ḥifẓ al-mal), jiwa (ḥifẓ al-nafs), akal (ḥifẓ al-‘aql), keturunan (ḥifẓ al-naṣab), dan agama (ḥifẓ al-din). Flexing yang bertujuan menginspirasi, memotivasi, mensyukuri nikmat Allah, atau memberikan edukasi kepada masyarakat dapat menjadi strategi personal branding yang baik. Flexing yang berlebihan dan tidak berdasarkan nilai maqāṣid dapat merusak hubungan sosial dan spiritual, sedangkan flexing yang sehat dan berdasarkan nilai dapat menjadi strategi personal branding yang etis dan bermakna. Adapun kebaruan penelitian ini, terletak pada aplikasi teori tafsir maqāṣidi Abdul Mustaqim dalam menganalisis fenomena kontemporer flexing sebagai personal branding perspektif Al-Qur’an. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang bagaimana membangun personal branding yang positif dan Islami, serta menghindari dampak negatif dari flexing.
Term Dha'if Dalam Tafsir Al-Munir Karya Wahbah Az-Zuhaili (Studi Kasus Komunitas Yuk Hijrah Lampung) Nismara, Ara; Badi’ah, Siti; Irawan, Yoga
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 9 No 1 (2026): Januari
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to understand the meaning of the term dha’īf in the Qur’ān based on the Tafsīr Al-Munīr by Wahbah Az-Zuhaili and how this meaning is actualized and practically applied by the Yuk Hijrah Lampung Community. The term dha’īf in the Qur’ān often refers to conditions of weakness in spiritual, social, and physical dimensions that require special attention. The tafsīr method used is thematic tafsīr (maudhui), involving the collection and analysis of verses related to the term dha’īf. Primary data were obtained through observation and interviews with community members who actively undertake hijrah as a concrete response to these conditions of weakness. The study’s results show that Tafsīr Al-Munīr provides a strong theological foundation and context to understand that te term dha’īf is not only interpreted as generally weak, but can also be understood as weak in social, physical, and spiritual aspects according to the context of the Qur’ān, while the Yuk Hijrah Lampung Community actualizes this understanding through hijrah classes, sharing time, and social activities. The research concludes that the understanding and application of the term dha’īf have important social and psychological functions in motivating behavioral change and religious identity among contemporary Muslim communities.
Penafsiran Ayat-Ayat Ruqyah Jam'iyyah Ruqyah Aswaja (JRA) Kajian: Tafsir Al-Munir Karya Wahbah Az-Zuhaili Lestari, Cici Dewi; Muhamad Hakiki, Kiki; Muttaqin , Ahmad
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 9 No 1 (2026): Januari
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruqyah syar’iyyah di Indonesia berkembang pesat pasca Orde Baru seiring meluasnya kebebasan ekspresi keagamaan. Jam’iyyah Ruqyah Aswaja (JRA) hadir sebagai lembaga yang menghidupkan praktik ruqyah sesuai syariat dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai media penyembuhan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pemahaman JRA dengan penafsiran Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir terhadap ayat-ayat ruqyah, sekaligus menemukan titik temu dan perbedaan orientasi keduanya. Metode yang digunakan adalah studi komparatif dengan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif analitik. Kajian dilakukan melalui penelitian kepustakaan (library research) dengan menjadikan Tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili sebagai sumber tafsir serta buku panduan resmi JRA sebagai rujukan praktik ruqyah. Selain itu, penelitian ini juga dilengkapi dengan penelitian lapangan (field research) di JRA cabang Bandar Lampung. Analisis data dilakukan menggunakan teori resepsi Al-Qur’an dan pendekatan eksegesis, dengan pengumpulan data melalui studi literatur, observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesesuaian sekaligus perbedaan dalam pemahaman ayat-ayat ruqyah. Pada sebagian besar ayat seperti Al-Falaq, Al-Qalam, Thaha, Al-Isra, dan An-Nahl, JRA dan Tafsir al-Munir menunjukkan keselarasan. Namun, pada ayat-ayat seperti Al-Anbiya dan Ali Imran, terdapat perbedaan signifikan karena JRA menggunakannya secara fungsional dalam praktik ruqyah, sedangkan Tafsir al-Munir menekankan konteks historis-teologis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemahaman JRA dan penafsiran Wahbah az-Zuhaili meski terdapat perbedaan namun tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. JRA merepresentasikan praktik penghidupan Qur’an dalam masyarakat, sedangkan Tafsir al-Munir menjadi landasan teologis dalam penafsiran dan pemahaman Al-Qur’an.
Iddah Dalam Al-Qur’an: Kajian Tafsir Atas Dimensi Perlindungan Dan Kehormatan Perempuan Sutrawati, Sutrawati; Mahmud, Basri; Mukhtar, Mukhtar
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 9 No 1 (2026): Januari
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v9i1.1608

Abstract

The matter of ‘iddah is often viewed merely as a normative obligation without uncovering its underlying philosophical dimensions, particularly those related to the protection and dignity of women after divorce or the death of a husband. The background of this study lies in the gap between the Qur’anic text (das sollen), which stipulates a waiting period, and social reality (das sein), which often perceives ‘iddah as a burden or a restriction on women’s activities. This research aims to examine the Qur’anic verses on ‘iddah using a thematic exegesis (mawḍū‘ī) approach in order to analyze its embedded dimensions of psychological, social, and biological (lineage) protection. The method employed is qualitative research based on library studies, utilizing content analysis of primary sources (the Qur’an and authoritative tafsir works) as well as secondary literature. The main findings show that the stipulation of ‘iddah in the Qur’an—such as in Q. al-Baqarah 2:228 and al-Ṭalāq 65:4—constitutes a legal mechanism that is pro-women, as it holistically safeguards lineage clarity, provides space for emotional recovery after trauma, and affirms the dignity of women as respected legal subjects. This study emphasizes that ‘iddah is not merely a ritual obligation but a form of shar‘i instrumentation that functions to preserve the purity of lineage while reinforcing women’s honor against stigma or negative social perceptions.
Identity Crisis In The Modern Era: A Qur’anic Perspective Based On Ibn Qayyim Al-Jauziyyah’s Tafsir Hidayatullah, Elit Ave; Puteri Rintani, Aliefia Salsabila; Bilqist, Nayl Syakil
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 9 No 1 (2026): Januari
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v9i1.1787

Abstract

Identity crisis has become a significant challenge for adolescents in the modern era, particularly due to social pressures, digital culture, and globalization, which lead to confusion in self-concept and lower self-esteem. This paper positions itself within the Islamic perspective of tazkiyatun nafs according to Ibn Qayyim al-Jauziyyah, aiming to analyze how spiritual purification can address identity crises among contemporary youth. Using a literature review methodology, this study examines classical tafsir, Islamic spiritual texts, and modern psychological research related to adolescent identity formation. The discussion highlights the three stages of tazkiyatun nafs: takhalli, the purification of the soul from negative traits and harmful influences, tahalli, the cultivation of virtuous character and spiritual awareness, and tajalli, the manifestation of divine values in personal and social life. Findings indicate that integrating these stages enables adolescents to develop authentic, dignified identities, fostering both psychological and spiritual well-being. The study demonstrates that Islamic spiritual practices offer a holistic approach to navigating identity challenges in the digital and globalized era.