cover
Contact Name
Hartono, M.Pd.I
Contact Email
yudipoday@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yudipoday@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. situbondo,
Jawa timur
INDONESIA
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist
ISSN : 26213699     EISSN : 26152568     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al Bayan: adalah Jurnal Ilmu Al- Qur'an dan Ilmu Hadist yang diterbitkan oleh LPPM STIQ Wali Songo Situbondo dua kali dalam satu tahun yaitu pada bulan januari dan juli. Jurnal ilmiah yang kami kelola memuat tema seputar Al Qur'an dan Hadist dan kajian-kajian keislaman lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
Menyelusuri Makna Tersembunyi: Identifikasi Asbāb Al-Nuzul Dan Implikasinya Dalam Tafsir Al-Qur'an Bariroh, Roikhatul Jannatul; Nimah, Rodhotun
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 7 No 1 (2024): Januari
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v7i1.1073

Abstract

Asbab al Nuzul has been widely used by commentators to understand the verses of the Qur'an. So it is necessary for a commentator to be able to analyze the validity of the Asbāb al Nuzul in the Qur'an. Research with this descriptive analysis method yields an understanding Asbāb al-nuzul is a notification or news about the revelation of a verse either regarding an incident or a question, namely when an event occurs and the Qur'an is revealed about it. Second, when Rasulullah SAW. asked about something and sent down the Qur'an which explains the law. To find Asbāb al-nuzul verse, it is necessary to pay attention to the first, the revelation is based on the validity of the history of the Prophet Muhammad. or to friends. Second, if the history is taken before it is transmitted to a friend, if it is from tabi'in, then it is considered marfu' but mursal, and it can also be accepted if the sanad is correct. Third, many interpreters mentioned the reason for the revelation of the verse with a different way of reference, namely by looking at its expression. The difference in the number of verses in the Qur'an is that there are seven well-known opinions mentioned in the book al-Bayᾱn fῑ 'adῑ al-Qur'ᾱn. Namely Al-Madanῑ al-Awwal: In the kufic narrations of Madina experts there are 6,217 verses. While in the history of ahlul Basrah there are 6,214 verses, Al-Madanῑ al-Akhῑr: 6,214 verses, Al-Makkῑ: 6,210 verses, Al-Baṣrῑ: 6,204 verses, Al-Dimashqῑ: 6,227 and it says 6226 verses, Al-Ḥamṣῑ: 6,232 verses, Al-Kūfῑ : 6,236 verses. According to al-Suyūťi there are 591 verses, and according to Al Wahidi there are 715 verses that have Asbāb al-Nuzūl. If disensenkan around 9-10%. So that it can be concluded that not all verses in the Qur'an have a cause for Nuzul, even though they are considered important they cannot arbitrarily take events at the time of the Prophet to serve as the cause for the revelation of a verse.
Konsep Nasionalisme Dalam Al-Qur’an ‘Asyiqulloh, Ahmad Tsiqqif; Sulaiman, Abdullah; Fuada, Noviani Lu’luatul
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 1 (2025): Januari
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i1.1097

Abstract

Artikel ini membahas tentang konsep nasionalisme dalam Al-Quran. Konsep ini merupakan konsep cinta tanah air yang telah dianjurkan dalam Al-Quran. Proses mencari konsep nasionalisme ini dilakukan dengan mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan cinta tanah air. Khususnya dalam metodologi tafsir maudhu’i. Mengumpulkan ayat-ayat dengan secara tematik. Artikel ini merupakan penelitian tematik berwajah kualitatif dengan menggunakan sumber penelitian primer, ayat Al-Quran dan sumber sekunder, bahan bacaan tentang nasionalisme. Kemudian hasil penelitian disajikan dengan naratif-analitis dari beberapa contoh ayat-ayat Al-Quran sebagai bentuk implementasi teori dan penguatan pemahaman.
Konsep Al-Qur'an Dalam Gagasan Moderasi Beragama: Menyelaraskan Akhlak Dan Keyakinan Arifin, Muhammad
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 1 (2025): Januari
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i1.1156

Abstract

The Qur'an, the holy book of Muslims, contains content that is timeless and universally applicable (mas}alih} li> kulli> zama>n wa maka>n). One of the important concepts in the Qur'an is the idea of religious moderation. Religious moderation is a principle that advocates the importance of maintaining balance, justice and moderation in all aspects of worldly life. It emphasises the importance of being moderate in terms of belief, worship and ethical behaviour. The Qur'an consistently portrays the idea of religious moderation in a comprehensive framework that encompasses a variety of character traits, such as honesty, open-mindedness, love, and flexibility. These traits are interconnected, holistic and universal, reinforcing each other and offering collective benefits. This research also aims to identify the main values underlying the idea of religious moderation and how they can be applied in daily life to create balance, justice and harmony. This research uses a qualitative approach with thematic interpretation (mawdu'i) analysis method. The main data used are the verses of the Qur'an related to religious moderation, supported by classical and contemporary interpretations to enrich the analysis. The results show that the Qur'an offers a clear and comprehensive framework regarding religious moderation. This idea includes a number of main characters such as honesty, open-mindedness, love, and tolerance.
Pendidikan Al-Qur’an Dalam Membangun Ketahanan Keluarga Muslim Persefektif Surah At-Tahrim Ayat 6 Dalam Tafsir Ibnu Kastir Anisa, Anisa; nugraha, muhammad tisna; Hamzah, Nur; sumin, sumin
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 1 (2025): Januari
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i1.1175

Abstract

Keluarga memainkan peran mendasar dalam pembentukan masyarakat yang harmonis. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran pendidikan Al-Qur'an, khususnya melalui Surah At-Tahrim ayat 6, dalam membangun ketahanan keluarga Muslim untuk mencegah konflik dan perceraian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melibatkan wawancara terstruktur dengan kepala keluarga dan tokoh agama. Analisis data dilakukan menggunakan software NVivo 12 Plus untuk mengidentifikasi pola-pola utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran kepala keluarga sangat penting dalam memberikan bimbingan, pendidikan agama, dan teladan positif. Pendidikan keluarga, baik formal maupun informal, berfokus pada nilai-nilai aqidah, syariat, dan akhlak yang membentuk fondasi ketahanan keluarga. Kolaborasi antara suami dan istri juga diidentifikasi sebagai elemen penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Implementasi ajaran Surah At-Tahrim ayat 6 memperkuat kesadaran akan tanggung jawab bersama dalam menjaga keluarga dari perbuatan yang dapat merusak. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan preventif melalui pendidikan agama dapat mendukung terciptanya keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, serta mengurangi angka perceraian.
Penafsiran Imam Asy-Syaukani Tentang Mukāʾan Wa Tasdiyah (Analisis Semantik Toshihiko Izutsu) Syawalia, Zahiyah Tika; Hakiki, Kiki Muhamad; Masruchin, Masruchin
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i2.1249

Abstract

This study examines the meaning of "mukāʾan wa tasdiyah" in the tafsir of Fathul Qadir by Imam Asy-Syaukani using Toshihiko Izutsu's semantic approach. he problem raised in this study is to explain in more depth the meaning of the word "mukāʾan wa tasdiyah" in the context of Asy-Syaukani's interpretation and to look at it from Toshihiko Izutsu's semantic analysis. The word "mukāʾan wa tasdiyah" in QS. Al-Anfal verse 35 describes the custom of polytheists who perform rituals around the Kaaba with whistling and clapping as a form of mockery of worship. The Qur'an clearly criticizes the practice as a worship that has no value of submission to Allah and is only a form of play without spiritual meaning. The method used in this study is a qualitative method (library research) and uses Toshihiko Izutsu's semantic analysis. The results of the study, through Izutsu's semantic analysis, it was found that the meaning of "mukāʾan wa tasdiyah" has shifted from neutral to negative nuances in the Qur'anic value system. The word "mukāʾan" means whistling, while "tasdiyah" means clapping hands, which in this context is used by polytheists to disrupt worship. Imam Asy-Syaukani in his commentary explained that this action not only shows an insult to Islamic worship, but also as a real effort to prevent Muslims from worshiping solemnly. Thus, this study highlights how Imam Asy-Syaukani interprets worship behavior carried out without submission to Allah and is strengthened by Toshihiko Izutsu's semantic analysis to obtain a deeper explanation and meaning.
Studi Kritis Terhadap Praktik E-Begging Dalam Tiktok Live Menurut Pemahaman Hadis Dan Prinsip Etika Sosial Pratama, Dicky Wahyu; Hasanah, Uswatun; Nadhiran, Hedhri
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i2.1252

Abstract

Abstract The phenomenon of E-Begging in TikTok live streaming is increasingly becoming a concern in today's digital era. E-Begging, which is the practice of asking for help online, utilizes the live streaming feature to attract viewers and obtain virtual gifts as a form of support. This study aims to analyze this phenomenon from the perspective of the hadith, especially those related to ethics and morals in a social context (interpersonal relationships). In this study, a qualitative approach with thematic-conceptual methods was used to explore the meaning and awareness of the practice of E-Begging. The results of the study show that begging without an emergency is an act that is prohibited in Islam. The Prophet Muhammad ﷺ emphasized the importance of trying and seeking sustenance in a halal way. Therefore, the phenomenon of E-Begging not only reflects social problems such as poverty and economic instability, but also raises ethical questions regarding human dignity and values ​​in society. Through this study, it is hoped that the public can better understand the negative impacts of E-Begging and encourage discussions about more constructive solutions to help those in need without degrading their dignity. This study also recommends the need for collective awareness not to support practices that are detrimental both socially and morally.
Fenomena Brain Rot Dalam Perspektif Hadis: Analisis Dampaknya Terhadap Moralitas Remaja urwatulwutsqo, halwa; Ghifari, Muhammad; Ash, Abil
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i2.1305

Abstract

Istilah brain rot ini biasa digunakan ketika menggambarkan pada penurunannya kondisi fungsi otak yang diakibatkan karena kebiasaan mengkonsumsi konten dalam sosial media yang sifatnya instan dan dangkal.. Kondisi seperti ini jika dibiarkan terus-menerus akan berdampak buruk sehingga mengakibatkan kerusakan otak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menelaah fenomena brain rot yang terjadi diera sekarang ini dalam perspektif Nabi Muhammad SAW, dan akan berfokus pada nilai-nilai ajaran Islam terkait pentingnya untuk menjaga kesehatan akal dan menjaga waktu. Adapun metode yang akan digunakan pada artikel ini adalah menggunakan studi kepustakaan dengan pendekatan tematik, yaitu mengumpulkan serta menganasis hadis-hadis yang berkaitan pada kesehatan akal dan waktu. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan umatnya untuk senantiasa menjaga akal dan memanfaatkan waktu dengan baik. Kata Kunci: Brain rot, media sosial, hadis, akal, waktu.
Dinamika Kodifikasi Hadis: Analisis Peran Ulama dan Metodologi Pembukuan Hadis pada Abad Awal Islam kamaludin, kamaludin
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis proses monumental Kodifikasi Hadis pada abad awal Islam, fokus pada dua pilar utamanya: peran sentral para ulama dan arsitektur metodologis yang mereka kembangkan. Kontribusi utama studi ini adalah menyajikan analisis terintegrasi yang menunjukkan bahwa kodifikasi Hadis merupakan proyek ilmiah kolektif yang berhasil diselenggarakan berkat sinergi antara otorisasi politik (instruksi Khalifah Umar bin Abdul Aziz) dan pengembangan metode kritik sanad dan matan oleh para ulama. Awalnya, transmisi hadis dominan secara lisan. Namun, kekhawatiran akan hilangnya Hadis akibat wafatnya para penghafal dan maraknya pemalsuan mendesaknya perlunya pembukuan sistematis. Titik balik resminya adalah instruksi visioner Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Studi ini menelaah kontribusi ulama perintis seperti Imam Az-Zuhri, Ibnu Juraij, dan Imam Malik, serta generasi setelahnya (termasuk Imam Bukhari dan Imam Muslim) dalam menghimpun dan mengklasifikasikan. Pembahasan metodologis meliputi model Musannaf (berbasis tema fikih), Penelitian ini menganalisis proses monumental Kodifikasi Hadis pada abad awal Islam, fokus pada dua pilar utamanya: peran sentral para ulama dan arsitektur metodologis yang mereka kembangkan. Kontribusi utama studi ini adalah menyajikan analisis terintegrasi yang menunjukkan bahwa kodifikasi Hadis merupakan proyek ilmiah kolektif yang berhasil diselenggarakan berkat sinergi antara otorisasi politik (instruksi Khalifah Umar bin Abdul Aziz) dan pengembangan metode kritik sanad dan matan oleh para ulama. Awalnya, transmisi hadis dominan secara lisan. Namun, kekhawatiran akan hilangnya Hadis akibat wafatnya para penghafal dan maraknya pemalsuan mendesaknya perlunya pembukuan sistematis. Titik balik resminya adalah instruksi visioner Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Studi ini menelaah kontribusi ulama perintis seperti Imam Az-Zuhri, Ibnu Juraij, dan Imam Malik, serta generasi setelahnya (termasuk Imam Bukhari dan Imam Muslim) dalam menghimpun dan mengklasifikasikan. Pembahasan metodologis meliputi model Musannaf (berbasis tema fikih), Musnad (berdasarkan perawi sahabat), dan Jami' (komprehensif), yang disertai dengan standardisasi kritik sanad dan matan yang ketat. Hasil kajian menegaskan bahwa proses kodifikasi ini berhasil menjaga keotentikan hadis, menyingkirkan riwayat palsu, dan menciptakan disiplin ilmu hadis yang terstandardisasi, menjadikannya warisan abadi bagi umat Islam. Musnad (berdasarkan perawi sahabat), dan Jami' (komprehensif), yang disertai dengan standardisasi kritik sanad dan matan yang ketat. Hasil kajian menegaskan bahwa proses kodifikasi ini berhasil menjaga keotentikan hadis, menyingkirkan riwayat palsu, dan menciptakan disiplin ilmu hadis yang terstandardisasi, menjadikan warisan abadi bagi umat Islam.
Analysis of ANALYSIS OF THE METHODOLOGY OF HADITH UNDERSTANDING IN THE THOUGHTS OF YUSUF AL-QARADAWI AND K.H. ALI MUSTAFA YA'QUB: Methodological study on the approach to understanding hadith by two contemporary scholars Khairunnisa, Ni’mah; Maimonah, Sri Maimonah; Kholiq Hasan, Moh. Abdul
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i2.1558

Abstract

Hadis, yang memuat perkataan, tindakan, atau keputusan Nabi, tidak muncul tanpa latar belakang. Perubahan dan perbedaan kondisi setelah hadis muncul secara tidak langsung memengaruhi tingkat keasliannya. Oleh karena itu, mengembangkan cara memahami hadis dan mengadaptasi pemahamannya dengan situasi kontemporer menjadi krusial. Yusuf Al-Qaradawi dan KH Ali Mustafa Ya'qub adalah dua tokoh terkemuka dalam studi hadis kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi metodologi pemahaman hadis kedua tokoh tersebut dan menganalisis persamaan serta perbedaan metodologinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan penelitian kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yusuf Al-Qaradawi dikenal dengan pendekatannya yang berbasis pada maqāṣid al-sharī'ah (tujuan hukum Islam), sementara KH Ali Mustafa Ya'qub menekankan keaslian hadis melalui kritik sanad dan matan. Pemikiran keduanya menjadi inspirasi bagi akademisi dan ulama kontemporer untuk senantiasa menjaga kemurnian hadis sekaligus menghidupkannya sebagai sumber nilai moral, sosial, dan spiritual.
Perilaku Ibu Dalam Pemberian Asi: Studi Tafsir Shofwah At-Tafaasiir aprilia, yosella cindy; shomad, bukhori abdul; windari, fitri
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 9 No 1 (2026): Januari
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i2.1271

Abstract

Breastfeeding is a crucial early stage in achieving a healthy and prosperous life for a child. However, some mothers, particularly among socialites and Generation Z young mothers, are reluctant to breastfeed due to concerns over changes in body shape, especially weight gain, leading them to choose formula milk as an alternative. This study aims to examine in depth the behavior of mothers who are reluctant to breastfeed for these reasons, using the Tafsir Shofwah At-Tafaasiir approach to Quranic verses related to breastfeeding. This article employs a thematic interpretation (tafsir maudhu’i) method with a library research approach. Data were collected from various literary sources, such as the Qur’an, tafsir books, scientific literature, journals, and relevant theses. The collected sources were analyzed through reading and quoting to formulate the research conclusions. The findings indicate that breastfeeding for two full years is a form of maternal responsibility and affection that should not be unilaterally discontinued without the husband's agreement and consideration of the child’s best interest. Breastfeeding is also beneficial for the mother's health, including reducing the risk of cancer and aiding postnatal recovery.