cover
Contact Name
Hartono, M.Pd.I
Contact Email
yudipoday@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
yudipoday@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. situbondo,
Jawa timur
INDONESIA
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist
ISSN : 26213699     EISSN : 26152568     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al Bayan: adalah Jurnal Ilmu Al- Qur'an dan Ilmu Hadist yang diterbitkan oleh LPPM STIQ Wali Songo Situbondo dua kali dalam satu tahun yaitu pada bulan januari dan juli. Jurnal ilmiah yang kami kelola memuat tema seputar Al Qur'an dan Hadist dan kajian-kajian keislaman lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
Sejarah Dan Proses Kodifikasi Qiraat Sab'ah: Melacak Warisan Penting Dalam Tradisi Membaca Al-Qur'an Roziqin, Ahmad Khoirur
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 6 No 2 (2023): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v6i2.432

Abstract

Salah satu di antara keringanan yang diberikan oleh Allah kepada ummat Nabi Muhammad, Shallahu ‘alahi wa Sallam adalah varian bacaan al-Quran, atau yang lebih dikenal dengan qiraat. Qiraat adalah madhhab/cara tertentu dari beberapa madhhab cara mengucapkan kalimat-kalimat al-Quran yang dipilih oleh salah seorang imam qiraat yang berbeda dengan madhhab lainnya.Sejarah munculnya perbedaan bacaan, atau qiraat, terjadi sejak awal pertama kali wahyu diturunkan, namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa qiraat terjadi di Madinah, karena di kota tersebut berkumpul suku-suku Arab. Karena di antara faedah adanya qiraat adalah untuk memudahkan orang Arab membaca al-Quran. Perkembangan qiraat tidak bisa dilepaskan dari hadith sab’at ahruf, hal ini karena memang hadith tersebut menjadi legitimasi untuk membolehkannya membaca al-Quran dengan gaya bahasa suku Arab. Diantara faedah munculnya qiraat adalah untuk memudahkan ummat, khususnya orang Arab dalam membaca al-Quran, karena mereka juga terdapat berbagai suku-suku, sehingga dialek atau lahjah diantara mereka juga berbeda. Setelah melalui tahapan yang berlandaskan 3 kaidah (Mutawatir, Rasm Ustman, kaidah Arab), Ibnu Mujahid menyederhanakan qiraat menjadi tujuh, yang kita kenal dengan qiraah sab’ah, yang semula berjumlah lebih dari dua puluh. Ijtihad dari Ibnu Mujahid kemudian dijadikan landasan bagi ulama setelahnya dalam qiraah sab’ah.
Telaah Analisis Iddah Bagi Perempuan Berbasis Al-Qur’an Dan Sains Andika, Rindi; Ismail, Ismail
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 6 No 2 (2023): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v6i2.450

Abstract

Iddah merupakan masa penantian seorang perempuan pasca jatuhnya talaq dari seorang suami atau karena wafat. Selain untuk masa berkabung, masa penantian tersebut juga untuk membebaskan rahim perempuan yang tercerai dari keberadaan janin. Dalam iddah, status perceraian berdampak pada jenis iddah yang akan lakukan oleh seorang perempuan. Di sisi lain, teruntuk wanita yang tertalak karena suaminya meninggal atau talak mati diwajibkan kan pula menjalani masa iddah dan ihdad, yaitu meninggalkan berbagai bentuk berhias diri baik dengan pakaian maupun atribut perhiasan lainnya. Wanita yang berada dalam masa iddah tidak sepenuhnya terlepas dari suami. Pada klasifikasi tertentu, seorang perempuan yang sedang berada dalam masa iddah juga masih memiliki beberapa hak yang dapat ia peroleh. Dengan metode desktiptif-analisis, tulisan ini mencoba memaparkan sekaligus menganalisa terhadap diskursus tentang iddah dalam al-Qur’an dan Sains beserta macam dan nilai-nilai aksiologis di dalamnya dimana iddah merupakan bagian dari sebuah perjalanan pernikahan seorang wanita pasca terjadinya perceraian.
Kekuatan Pengetahuan: Keutamaan Dan Manfaat Menjadi Orang Berilmu Dalam Qs. Fatir:28 (Kajian Tafsir Fi Zhilalil Qur’an) Aini, Putri Rizki; Alfiansyah, Muhammad; Mahfi, Icha Alfira; Riantika, Putri Ayu
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 6 No 2 (2023): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v6i2.464

Abstract

Together with science, humans are carriers of the message of the caliphate on earth, which has an obligation to prosper and develop it. Islam is a comprehensive religion (overall). With knowledge, one's life will become more valuable and colorful. The religion of Islam highly values ​​people who are knowledgeable, because they see the importance of this knowledge. With knowledge a person will do everything that Allah subhanallahuwata'ala commands him and is afraid if he leaves something that He commands, while someone who is not knowledgeable will be swayed by the deception of his lust. The purpose of this paper is to reveal the meaning of the word Ulama as stated in QS. Fathir verse 28 which can be understood that scholars are not only in matters of religion but in other fields of knowledge can also be called scholars. The author conducts a study on the interpretation of the Fi Zhilalil Qur'an through collecting data obtained through qualitative methods, namely library research and using a phenomenological design, which will later produce descriptive data.
Munasabah Al-Qur’an Perspektif Pendidikan Islam Afifah, Qorina Khoirul
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 8 No 1 (2025): Januari
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v8i1.467

Abstract

Knowledge of the Qur'an also known as "Ulumul Qur'an" arises as a result of a Muslim's contact with it, either by reading or studying it. The science known as Ulumul Qur'an studies all things related to the Qur'an. 'A. In 'Ulumul Qur'an, there are several branches that will continue to develop as long as the Qur'an is studied. Munasabah Al-Qur'an is one of the branches of 'Ulumul Qur'an. This essay is written using a literary study approach with the intention of revealing everything about the munasabah of the Qur'an from the point of view of Islamic Education in Indonesia. In order to understand the Qur'an as a whole and holistically (holistically), one of the ulumul al-Qur'an known as munasabah explains how the elements of the Qur'an are interconnected or integrated. The goals and curricula of Islamic education in Indonesia show how important the munasabah of the Qur'an is for the practice of Islam in that country
Pemaknaan Ni’mal Abdu Dalam Quran : Studi Tafsir Al Munir Wahbah Az-Zuhaili: THE MEANING OF NI'MAL ABDU IN THE QURAN: A STUDY OF TAFSIR AL MUNIR WAHBAH AZ-ZUHAILI Adirasa, Ery Santika; Zadittaqwa, Mohammad; Fitriani, Laily
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 7 No 1 (2024): Januari
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v7i1.486

Abstract

One interesting word that catches attention is "ni'mal abdu" (the best servant), which is repeated only twice in the Quran, specifically in Surah Saad: verse 30 and 44. This word is a praise from Allah bestowed upon Prophet Solomon and Prophet Job (Ayyub). Both prophets have different backgrounds, with Prophet Solomon being blessed with wealth, while Prophet Job was tested with calamities. However, both of them are honored as the best servants. This research aims to describe the messages contained in these verses to understand what makes someone fall into the category of ni'mal abdu.This study utilizes a qualitative research method with library research as the approach. The data analysis employs content analysis. In this written work, the author will document the interpretation of ni'mal abdu according to the views of Wahbah Az-Zuhaili, a commentator in Tafsir Al Munir, and then elaborate on it. The primary data source used is the Quran and Tafsir Al Munir, while secondary data sources include relevant books and journals on the topic.The research findings indicate that the meaning of ni'mal abdu (the best servant) can be derived from two situations based on the stories of Prophet Solomon and Prophet Job. Immense wealth does not necessarily imply exceeding limits, but if it is approached with gratitude and obedience, it becomes the potential of a good servant in the sight of Allah, as exemplified by Prophet Solomon. On the other hand, if someone is tested with a lack of wealth or afflicted with hardships, but responds with patience and remains obedient to Allah, they also have the potential to become a good servant in the eyes of Allah, similar to Prophet Job.
Dekonstruksi Syariah Dalam Pembaharuan Hukum Islam: Kajian Terhadap Pemikiran Abdullah Ahmed Al-Naim Ubaidillah, M Hasan
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 2 No 1 (2019): Januari
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v2i1.541

Abstract

Syariah merupakan derivasi dari agama Islam yang lahir dari penafsiran terhadap teks yang terdapat dalam Al-qur’an dan as-sunnah. Sebagai sebuah produk dalam penafsiran, penetapan syariah dipengaruhi oleh corak sosiologis dan kondisi politik kapan dan dimana syariah tersebut ditetapkan. Oleh karenanya, menerapkan syariah yang dibangun pada abad ke-7 ke abad 21 merupakan sebuah kesalahan yang fatal. Upaya pembaharuan yang dilakukan terhadap syariah acapkali dinilai sebagai bentuk sekularisasi yang berusaha mengaburkan nilai-nilai dan moral yang terkandung dalam agama. Penelitian ini berusaha menempatkan dekonstruksi syariah yang digagas oleh Abdullah Ahmed Al-Naim sebagai sebuah gagasan baru dalam pembaharuan hukum Islam yang diharapkan mampu menjawab permasalahan yang muncul, terkait dengan penerapan hukum publik Islam. Penelitian ini bertumpu pada pembahasan mengenai : dekonstruksi syariah, konteks sosial dan metodologi yang digunakan Abdullah Ahmed Al Naim, dan dekonstruksi syariah dalam menjawab permasalahan di bidang hukum publik Islam.
Wakaf Produktif (Perspektif Tafsir Al-Manar) Tafsir Surat Surat Al-Baqarah Ayat 261-263 Dan Surat Ali ‘Imran Ayat 92 Ramadhan, M.Syafrie; Pratama, M. Guntur Sandi; Aprilianti, Eka
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 7 No 1 (2024): Januari
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v7i1.556

Abstract

Waqf is a social worship contact between humans and Allah SWT, Productive Waqf is found in the Al-Quran verses about nafkah, namely Surah Al-Baqoroh verses 261-263 and Surah Al-'Imran verse 92. The method used is Hermeunetics with the perspective of Al-Manar interpretation. In fact, the Qur'an does not explain the meaning of waqf clearly, but the scholars agree that in the Qur'an what is meant by waqf here is infaq. This is because the basis used by the scholars in explaining the concept of waqf is based on the findings of the Qur'anic verses that explain infaq. Among them are Surah Al-Baqarah verses 261-263 and Al-Imran verse 92.
Reintegrasi Wanita Sebagai Perhiasan Dunia Dalam Akun Youtube Dzulqarnain ms: Analisis Qiraah Mubadalah Wildan Sholeh, Adam; Syamsul Huda, Muhammad; Abidin Zamroni, Zainul
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 7 No 1 (2024): Januari
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v7i1.561

Abstract

Culture that is patriarchal in nature is still developing in society, where the social construct that applies in society always places women second to men, the role of women in the household is limited only in the domestic sphere. Analysis of the interpretation of the Koran surah Ali Imran verse 14 in various classic commentary books places women only as objects that can only seduce men, but cannot be seduced by men, women are considered the source of all beauty that can lead men to actions that misleading. So that it is suspected of causing a biased interpretation of gender. This construction was also conveyed by DzulqarnainMS on his YouTube account which has been watched by approximately 44 million viewers. The theory of Qiraah mub is to offer a new perspective in interpreting the Koran. The offer is to link the roles of men and women in providing significant implications for the meaning of the moral message conveyed by the Koran. Therefore, the question in this research is how to understand the meaning of women as world jewelry conveyed by the DzulkarnainMS account when viewed from the perspective of qiraah mublain. This study is a literature study with a qualitative approach. The result of this study is that the interpretation conveyed by the dzulqarnain account is considered too textual and ignores the position of women who are only used as objects, while men are the subjects discussed in the Qur'an.
Telaah Rasm Pada Manuskrip Mushaf Al-Qur`An Kuno Di Kalimantan Barat: Perbandingan Pada Manuskrip Mushaf Al-Qur`an Sanggau, Mushaf Ismahayana Landak Dan Mushaf Standar Indonesia Buhori, Buhori; Hakim, Abdul; Abdi, Efan Chairul
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 7 No 1 (2024): Januari
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v7i1.569

Abstract

This article discusses the characteristics of the manuscripts of the Al-Qur'an manuscripts from the Sanggau collection of the West Kalimantan Museum and the manuscripts of Ismahayana Landak as well as a comparison of the aspects of rasm contained in these two ancient manuscripts in West Kalimantan, in comparison with the rasm system contained in Indonesian Standard Mushaf. The research methode used was content analysis in the form of text analysis which was carried out by taking an inventory of these two ancient manuscripts. This study shows that the manuscripts of the Sanggau are still intact with a total of 23, 190 pages, the number of lines per page is 15-17, and the width of the text size per page is 0.4 cm. No paragraph and page numbering was found. The text uses Khat Naskhi in black ink. Meanwhile, Ismahayana's Mushaf was written on European paper with an incomplete physical condition. No start page or illumination. The total pages are 273 and 546. The number of lines per page is 15-16 pages. The length and width of the text on the right side is 6 cm, the top width is 3.5 cm, the left side is 2 cm and the bottom line is 3 cm. The Naskhi khat type is written in black ink. The Sanggau Mushaf Manuscript and the Ismahayana Manuscript are written with rasm imlâ'i. However, the use of rasm is not applied consistently. Because in some writing certain pronunciations also use the rasm utsmâni pattern
Al-Istitsna’ Dengan Illa Dalam Surah Al-Taubah Anas, Fathur; Mahmud, Basri; Mujahid, Mujahid
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 7 No 1 (2024): Januari
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v7i1.570

Abstract

Penelitian ini berfokus pada kajian al-Istisna’ dengan illa dalam surah al-Taubah, Penelitian ini termasuk Penelitian kualitatif dengan pendekatan bahasa Arab. Data terdiri dari data primer berupa ayat al-Qur’an sedangkan data sekundernya bersumber dari kitab-kitab, hasil-hasil penelitian, jurnal, majalah serta dokumen-dokumen yang lain yang terikat dengan. cara kajian serta pemahaman data yang dipakai yakni kajian sintaksis adalah dengan meninjau tiap-tiap yang terdiri dari separuh peraturan mengenai al-Istits\na>’ dengan berdasarkan pada teori-teori sintaksis secara umum. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan al-Istisna dengan Illah dalam surah al-Taubah terulang sebanyak 22 kali yang terdapat di 19 ayat dengan berbagai jenis yaitu: al-Istisna al-Tam sebanyak 5 kali, al-Istisna al-Muafarrag 18 kali, al-Istisna al-Mujab 1 kali, al-Istisna Ghairu Mujab sebanyak 21 kali dan al-Istisna al-Muttasil sebanyak 5 kali serta tidak didapatkan al-Istisna al-Munqati’ Sementara berdasarkan hukum-hukum al-Mustasna’ dengan illa dalam surah al-Taubah terdiri dari wajib di-i’rab mansub atas dasar al-Istisna’ sebanyak 1 kali, boleh di- i’rab mansub atas dasar al-Istisna dan boleh juga di-i’rab al-Badlu kepada al-Mustasna’ minhunya sebanyak 4 kali, sementara yang di-i’rab sesuai dengan yang dituntut olehʻamil sebelumnya sebanyak 16 kali.