cover
Contact Name
Jurnal Kebudayaan
Contact Email
jurnal.budaya@kemdikbud.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
imeldawijaya2@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kebudayaan
ISSN : 19075561     EISSN : 26858088     DOI : -
Jurnal Kebudayaan was first published by the Center for Cultural Research and Development, Research and Development Agency, Ministry of Culture and Tourism in Juni 2006. In 2016, the Center for Cultural Research and Development was merged with the Center for Policy Research in the Ministry of Education and Culture to become the Center for Education and Culture Policy Research. However, the journal publication continues without any changes in name. Our journal is published three times a year in April, August, and December, and consists of articles of researches and studies regarding policy and challenges in culture, covering topics ranging from: art, tradition, religions and beliefs, cultural objects, museums, history, cultural heritage, language, and other aspects of culture.
Arjuna Subject : -
Articles 105 Documents
EKSPLORASI STRUKTURALISME SEMIOTIK TEKS MANGUPA PADA UPACARA ADAT PERNIKAHAN ANGKOLAMANDAILING Syahfitri, Dian
Kebudayaan Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v11i1.15

Abstract

AbstractMangupa is the final stage of Angkola-Mandailing cultural wedding ceremony. The texts ofMangupa are chosen to be explored in this research because the texts are tied with the cultureand contain a lot of cultural expressions. In addition, Mangupa is not only delivered in theform of prose, but also rhythmic poetry. This research is intended to study the poetry within theprocess of Mangupa through semiotics structuralism analysis. Semiotics is the study of sign. Thepurpose of this semiotics structuralism research is to examine literature work as system of sign.Moreover, the sign implies the aesthetic communication devices. The research was conductedby heuristic and hermeneutic reading analysis techniques. Heuristic technique is a reading whichbases on linguistic structuralism or semiotically means bases on convention system of the firstlevel of semiotics. Meanwhile, hermeneutic is a reiterated reading or one that bases on the secondlevel of semiotics. The findings shows that icon consists of 19 words and expressions, index has8 words and expressions, while symbol has 7 expressions and sentences referred to the texts ofMangupa. AbstrakMangupa merupakan upacara terakhir dalam pernikahan Angkola Mandailing. Teks mangupadipilih sebagai teks yang dikupas dalam kajian ini karena teks ini terikat dengan budaya danmemiliki banyak ungkapan budaya. Selain itu, Mangupa bukan hanya disampaikan dalamteks prosa, tetapi juga teks puisi yang berirama. Penelitian ini akan mengkaji pantun dalamprosesi mangupa melalui analisis strukturalisme semiotik. Semiotik adalah kajian tanda. Kajianstruktural semiotik bertujuan akan mengungkap karya sastra sebagai sistem tanda. Tanda tersebutmerupakan sarana komunikasi yang bersifat estetis. Penelitian ini menggunakan teknik analisispembacaan heuristik dan hermeneutik. Pembacaan heuristik adalah pembacaan berdasarkanstruktur kebahasaan atau secara semiotik adalah berdasarkan konvensi sistem semiotik tingkatpertama dan pembacaan hermeneutik adalah pembacaan yang dilakukan secara berulang-ulang(retroaktif) atau berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua. Temuan penelitian ini menunjukkanbahwa ikon terdapat sembilan belas kata dan ungkapan, indeks sebanyak delapan kata danungkapan, sedangkan simbol terdapat sebanyak tujuh ungkapan dan kalimat yang mengacu padateks ini.Kata kunci: strukturalisme semiotik, teks Mangupa, upacara adat pernikahan, Angkola-Mandailing
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN WARISAN BUDAYA TAKBENDA (WBTB) INDONESIA Marjanto, Damardjati Kun
Kebudayaan Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v11i1.18

Abstract

AbstractThe objectives of the research for policy of intangible cultural heritage (ICH) are as follow.(1) To understand the processes and problems of implementation of ICH policy in Indonesia; (2)To identify stakeholders involved in ICH policies that have been registered and confirmed; and(3) To ascertain a plan of action programs that carried out by relevant agencies following thedetermination of ICH policy in Indonesia. This study uses qualitative research method, throughinterviews and focus group discussion (FGD) to a number of informants, i.e. government officials,cultural actors, and community members. The implementation of the Minister of Education andCulture regulation that related to â??the administrative proceduresâ? of ICH policy has be done asgood as possible by Directorate of Values Internalization and Cultural Diplomacy. However, it isbelieved that the effort is still need to be improved. It seems that this is caused by poor technicalability for filling the form and misunderstanding about ICH, which often confused as havingthe same meaning and value with cultural heritage. Local stakeholders need to have the sameunderstanding about the importance of the regulation of president and of Ministry of Educationand Culture. Therefore, all the regions can carry out this policy together and contribute toeach other in protecting ICH through action programs. Bidaâ??i, Songket, Sambas, and BetangTraditional House in West Kalimantan Province; and Makepung and Tektekan in Bali Provincehave been designated as ICH of Indonesia. However, conservation efforts should not stop at thisdetermination only.Keywords: Intangible Cultural Heritage (ICH), Bidaâ??i. Songket Sambas, Betang traditional house,Makepung and Tektekan AbstrakTujuan penelitian kebijakan Warisan Budaya Takbenda (WBTB) ini, adalah untuk: (1)mengetahui proses dan berbagai masalah dalam implementasi kebijakanWBTB Indonesia;(2) mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat dalam kebijakan WBTB yang telah didaftarkandan ditetapkan; dan (3) mengetahui rencana program aksi yang dilakukan oleh instansi terkaitterhadap penetapan WBTB Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatifdengan wawancara dan Focus Group Discussion (FGD) terhadap sejumlah informan, baik dariaparat pemerintahan, pelaku budaya, maupun warga masyarakat. Hasil penelitian menunjukanbahwa implementasi Permendikbud yang terkait â??prosedur administratifâ? KebijakanWBTB,telah dilakukan dengan maksimal oleh Direktorat INDB, beserta jajarannya. Meskipun demikian,dalam pelaksanaannya dirasakan kurang maksimal. Hal ini tampaknya, disebabkan kemampuanteknis pengisian formulir maupun pemahaman akan arti budaya takbenda seolah-olah samadengan cagar budaya. Perlu pemahaman dari stakeholders di daerah tentang pentingnya Perpresdan Permendikbud WBTB, sehingga kebijakan ini dapat bergerak bersama di daerah dan salingberkontribusi dalam melakukan perlindungan WBTB dalam bentuk program aksi. Bidai, SongketSambas, dan Rumah Betang di Provinsi Kalimantan Barat, serta Makepung dan Tektekan diProvinsi Bali sudah ditetapkan sebagai WBTB Indonesia. Upaya pelestarian seyogyanya tidakberhenti pada penetapan WBTB tersebut.Kata kunci: Warisan Budaya Takbenda (WBTB), Bidai (Bideâ??), Songket Sambas, Betang,Makepung dan Tektekan
PERJUANGAN DAN OPIUM: MENGEPUL ASAP DARI SEBATANG BAMBU, KEHIDUPAN PETANI DI HINDIA BELANDA DI MASA CULTUURSTELSEL Ichsan A., Muhammad Nur
Kebudayaan Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v11i1.19

Abstract

AbstractDutch control over the archipelago was very strong, especially in the nineteenth century.The Netherlands Government policy set cultuurstelsel was binding for the indigeneous peopleof the archipelago. Besides, using this policy, the Netherlands provoked the natives to consumeopium by smoothen the way of the opium suppliers from China. The consumption reached itspeak when mass opium consumption occurred in 1830-1870 coinciding with the practice ofcultuurstelsel policy by the Dutch. This paper attempts to reflect the influence and linkagesbetween cultuurstelsel and opium. The data used is qualitative data which obtained by collectingwritten sources and some reports from Netherlands papers. This data was sorted and verifiedbefore having an interpretation and analysis that poured through the process of historiography.The results of this paper indicate that during cultuurstelsel period, the natives became the objectof oppression of the Dutch government in an inhumane way. The natives were forced to work andcultivate their own land yet the Dutch was the one who enjoyed the results. In order to make thenatives to be stronger and work tenaciously, they were given opium as a â??drugâ? to boost theirendurance performace so that they could work optimally and reap a lot of production to be sentto Europe by the Dutch. AbstrakPenguasaan Belanda terhadap Nusantara sangat kuat, terutama di abad ke-19 M. Kebijakanpemerintah Belanda menetapkan cultuurstelsel sebagai pilihan adalah hal yang mengikat bagipribumi Nusantara. Di samping itu pula, dengan kebijakan tersebut, Belanda memengaruhikelompok pribumi untuk mengonsumsi opium dengan cara memudahkan para pemasok opiumdari Tiongkok dan puncaknya ketika terjadi konsumsi opium massal pada tahun 1830-1870 yangbertepatan dengan kebijakan Cultuurstelsel oleh Belanda. Tulisan ini berusaha menggambarkanpengaruh dan keterkaitan antara Cultuurstelsel dan opium. Data yang digunakan adalah datakualitatif yang diperoleh dari mengumpulkan sumber tertulis, dan beberapa laporan Belanda,kemudian dipilah dan diverifikasi sebelum adanya interpretasi dan analisa yang dituangkanmelalui proses historiografi. Hasil dari tulisan ini menunjukkan bahwa di masa Cultuurstelselkaum pribumi menjadi objek penindasan pemerintah Belanda dengan cara yang tidak manusiawi.Kaum pribumi dipaksa untuk bekerja, kerja Rodi, mengolah lahan mereka sendiri, namunpemerintah Belandalah yang menikmati hasilnya. Agar kaum pribumi kuat dan ulet bekerja,mereka diberi opium sebagai â??obatâ? penambah stamina agar dapat bekerja maksimal dan menuaiproduksi yang banyak untuk dikirim ke Eropa.
BUDAYA TOLERANSI ORANG BALI DALAM NASKAH KUNO GEGURITAN SUCITA MUAH SUBUDHI Purna, I Made
Kebudayaan Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v11i1.21

Abstract

AbstractSince the earliest time, Indonesian has become a multicultural nation with diverse tribes,traditions, local languages, and religions. Thus, it is necessary to have a local wisdom thatcontains tolerance values and teaches respect towards ethnic diversity. Included in this case islocal wisdom that based on an ancient manuscript. The tolerant lifestyle among religious andethnic differences in Balinese community has been managed in the form of an ancient manuscriptGeguritan Sucita Muah Subudhi. This paper has three objectives: first, to explain the values inthe Geguritan Sucita Muah Subudhi; second, to describe the actualization form of toleranceimplemented by the Balinese; and third, to expose the functions Geguritan Sucita Muah Subudhiin Balinese society. The method used in this study is content analysis. The main process to obtaindata is through ancient manuscripts Geguritan Sucita Muah Subudhi, related researches andother relevant information. The results shows that tolerance in Bali is performed well. It evenabsorbs cultural elements from various religions and ethnicities in the land of Bali. Tolerancelifestyle can be actualized through traditional organizations and social activities, as well asarranged through the concepts of local wisdom.Keywords: tolerance, religion, multiculture, brotherhood.AbstrakSejak zaman dahulu bangsa Indonesia sudah menjadi bangsa multikultur dengan beragamsuku, tradisi, bahasa daerah dan agama yang berbeda-beda. Untuk itu diperlukan kearifanlokal yang mengandung nilai-nilai toleransi dan saling menghargai atas keberagaman etnis.Termasuk dalam hal ini kearifan lokal yang bersumber dari naskah kuno. Pengelolaan polahidup toleran antara penganut yang berbeda agama maupun etnis pada masyarakat Bali sudahdituangkan dalam bentuk naskah kuno Geguritan Sucita Muah Subudhi. Tulisan ini mempunyaitiga tujuan: Pertama, memaparkan nilai-nilai dalam lontar Geguritan Sucita Muah Subudhi;kedua, memaparkan tentang bentuk aktualisasi toleransi yang dilaksanakan oleh Orang Bali;ketiga, memaparkan fungsi Geguritan Sucita Muah Subudhi dalam masyarakat Bali. Metodeyang digunakan adalah analisis isi (content analysis). Proses pengambilan data yang utamamelalui naskah kuno Geguritan Sucita Muah Subudhi dan hasil penelitian serta informasi yangrelevan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toleransi di Bali berjalan baik. Bahkansaling menyerap unsur budaya yang dibawa dari berbagai agama dan etnik yang ada di tanahBali. Hidup toleransi dapat diaktualisasikan pembuktianya melalui organisasi tradisional, dankegiatan sosial, serta ditata melalui konsep-konsep kearifan lokal.Kata Kunci: toleransi, agama, multikultural, nyama
NOMENKLATUR BIDANG KEBUDAYAAN DI PEMERINTAH PROVINSI: BERGABUNG DENGAN BIDANG PENDIDIKAN ATAU BIDANG PARIWISATA? Setiawan, Budiana
Kebudayaan Vol 11 No 1 (2016)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v11i1.22

Abstract

AbstractCulture sector, which was transferred into the Ministry of Culture and Tourism since2001, was back to the Ministry of Education and Culture in October 2011. The changes oforganizational structure in ministerial level should be followed by changes of organizationalstructure in officials in provincial level. But in reality, the majority of provincial governmentsretain the culture sector together with tourism sector. This case provokes a question why thechange of organizational structure in the ministerial level is not followed by most of the officialsin provincial level. The method of this study is literature study of some articles and essays frombooks and internets, which contain history of culture sector in ministerial level, role of culturefor tourism, role of culture for education, as well as examples of official that manages culturesector in three provinces (West Kalimantan, West Sumatra, and Yogyakarta Special Region). Theresults shows that many officials merge culture sector together with tourism sector because themeaning of culture sector is considered to have a stronger synergy with tourism than education.The provincial government considers that culture sector needs to be empowered for the benefitof tourism sector. Conversely, tourism development will strengthen peopleâ??s culture in theirprovinces. Culture-based tourism development will also increase local income for the province AbstrakBidang kebudayaan yang sejak tahun 2001 bergabung dalam Kementerian Kebudayaandan Pariwisata, mulai Oktober 2011 beralih kembali ke Kementerian Pendidikan danKebudayaan. Perubahan struktur organisasi di tingkat kementerian tersebut semestinya diikutidengan perubahan struktur organisasi kedinasan di tingkat pemerintahan provinsi. Namundalam kenyataannya sebagian besar dinas di tingkat provinsi tetap mempertahankan bidangkebudayaan disatukan dengan bidang pariwisata. Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapaperubahan struktur organisasi di tingkat kementerian tersebut tidak diikuti oleh sebagian besardinas di tingkat provinsi? Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah dengan melakukanstudi pustaka terhadap tulisan-tulisan dan laman-laman, yang memuat tentang sejarah bidangkebudayaan di tingkat kementerian, peran kebudayaan terhadap pariwista, peran kebudayaanterhadap pendidikan, serta contoh-contoh dinas yang menangani bidang kebudayaan di tigaprovinsi (Kalimantan Barat, Sumatera Barat, dan D.I. Yogyakarta). Hasil kajian menunjukkanbahwa hal tersebut disebabkan pemaknaan bidang kebudayaan yang dianggap lebih bersinergidengan pariwisata daripada pendidikan. Pemerintah provinsi memandang bidang kebudayaandapat diberdayakan untuk kepentingan bidang pariwisata. Sebaliknya, pengembangan pariwisataakan memperkokoh kebudayaan masyarakat di provinsi tersebut. Perkembangan pariwisatayang berbasis kebudayaan juga akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi provinsitersebut.
MENAKAR KEARIFAN AGAMA DENGAN BUDAYA MEASURING RELIGION WISDOM BY CULTURE Sudrajat, Unggul
Kebudayaan Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v11i2.23

Abstract

AbstractThe object of the research is in Rembang, Central Java. It is related to the conflictof Sapta Darma faith. beliefs is the mistical human admission . Meanings of religionshould be understood as part of the knowledge. This research is motivated by researcherâ??sdesire to reveal the roots of the problem which lead to the conflict between religions orbeliefs that often occurs in the community. The main issue of this study is focused onhow the actions of the government and religious leaders that have authorities to solve theproblems. The purpose of this study is to find the problem roots that lead to the actualissues of belief in society. This study is included into the field research with the object ofconflict is Sapta Darma belief in Rembang by using descriptive-analytic point of view.the Sources of the data used in the study are interview, documents, and field observations.This research uses an anthropological approach. Based on the research results, the caseof incendiarism in Blando Hamlet, Plawangan Village, Kragan District in Rembang hassocial conflicts that is caused by reliance. the conflict does not necessarily have to endwith the burning, but there are many other solutions that can be used as a unifying one ofthem is by a dialogue. By using a dialogue the conflict can be minimized. AbstrakObjek penelitian ini di Rembang, Jawa Tengah terkait dengan konflik kepercayaanSapta Darma. Kepercayaan merupakan pengakuan manusia terhadap sesuatu yang gaib.Pemaknaan terhadap agama harus dipahami sebagai bagian dari pengetahuan bahwa agamasebagai ilmu. Penelitian ini dilatarbelakangi keinginan peneliti untuk mengungkapkanakar permasalahan yang mengakibatkan adanya konflik antar agama atau kepercayaanyang kerap terjadi di masyarakat. Pokok pembahasan dalam penelitian ini terfokus padabagaimana tindakan pemerintah dan tokoh agama yang berwenang menyikapi persoalanpersoalankepercayaan. Tujuan dari penelitian ini menemukan akar permasalahan yangmengakibatkan adanya isu-isu aktual kepercayaan yang terjadi di masyarakat. Penelitianini termasuk penelitian lapangan dengan objek konflik kepercayaan Sapta Darma diRembang dengan sudut pandang deskriptif-analisis. Sumber data yang digunakan dalampenelitian wawancara, dokumen-dokumen, dan observasi dilapangan. Penelitian inimenggunakan pendekatan antropologis. Berdasarkan hasil penelitian, kasus pembakaranrumah ibadah di Dukuh Blando, Desa Plawangan, Kecamatan Kragan di Rembangtelah terjadi konflik sosial yang diakibatkan aliran kepercayaan. Konflik ini tidak sertamertaharus berakhir dengan pembakaran, akan tetapi masih banyak solusi lain yang bisadijadikan pemersatu salah satunya adalah dialog, sebab dengan berdialog konflik pun bisadiminimalisir.
BATAVIAASCHE PLANTEN EN DIERENTUIN: KEMUNCULAN GAGASAN KONSERVASI SATWA MELALUI KEBUN BINATANG OLEH ELITE BATAVIA 1864 -1942 Irmalasari, Fitri R.
Kebudayaan Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v11i2.24

Abstract

AbstractThis article talks about the emergence of Bataviaasche Planten en Dierentuin (BatavianBotanical and Zoological Garden) in 1864 as the first zoological park in Batavia aswell as in East Dutch Indies. It becomes the first Dutch East Indies ex-situ conservation(conservation of plants and/ or animals which was done outside their natural habitat),that was spearheaded by a handful of elite Batavia. The science development in the 19thcentury and political ideology of the Dutch Colonial were the backgrounds of the changingperspective of Batavian well-educated elites towards nature environment and its sourcesincluding animals. Data sources which are the annual reports of the zoo organisation,photographs, travel notes, will disclose the motive and aim as well to necessarily attestthe power of social construction, namely race and social class, as the main driver of theemerging conservation notions and the importance of knowledge on animals for Bataviancitizens from the 19th to early 20th century. The presence of an artificial habitat of plantsand animals in the capital of colonial land, after all, was a microcosm that representedthe change of peopleâ??s attitude, which is from traditional to modern, as comprehended byBatavian elites in managing animals. AbstrakArtikel ini membahas kemunculan Bataviaasche Planten en Dierentuin (Kebun Botanidan Binatang Batavia) pada 1864 sebagai kebun binatang pertama di Batavia maupundi Hindia Belanda. Kebun binatang tersebut menjadi konservasi ex-situ (konservasitumbuhan dan/ atau satwa yang dilakukan di luar habitat alaminya) pertama di HindiaBelanda dan dipelopori oleh segelintir elite Batavia. Perkembangan ilmu pengetahuanpada abad ke-19 serta ideologi politik pemerintah kolonial melatarbelakangi perubahancara pandang elite terpelajar Batavia terhadap lingkungan alam beserta isinya, termasuksatwa. Sumber data artikel ini berupa laporan-laporan tahunan pengelola kebun binatang,foto-foto, catatan-catatan perjalanan, yang akan memperlihatkan motivasi dan tujuan parapenggagasnya serta dengan sendirinya menunjukkan kekuatan konstruksi sosial beruparas dan kelas sosial sebagai penggerak utama atas lahirnya gagasan-gagasan mengenaikonservasi dan pentingnya pengetahuan mengenai satwa bagi masyarakat Batavia sejakabad ke-19 hingga awal abad ke-20. Kehadiran sebuah habitat buatan bagi tumbuhandan satwa bernama kebun binatang di ibu kota koloni, bagaimanapun merupakan sebuahmikrokosmos yang merepresentasikan perubahan sikap, yang oleh elite Batavia dipahamisebagai transisi dari sikap masyarakat tradisional ke masyarakat modern dalam mengatursatwa.
RITUAL UJIAN NASIONAL: TRANSFORMASI PENGHORMATAN LELUHUR PADA KOMUNITAS KROWE DI KABUPATEN SIKKA Utama, Bakti
Kebudayaan Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v11i2.25

Abstract

AbstractNational Examination in Indonesia is considered as a determinant for studentsâ??graduation. In recent years, several high schools in Sikka district held a ritual everytime before national exam. This paper discusses the ritual practices of the NationalExamination, especially at a high school in the mountains of Central Sikka. The purposeof this article is to answer whether national ritual practice exam is a new phenomena orrooted in the traditions of ancestors worshiping at Adat Community of Krowe in Sikka.For this purpose data have been collected through literature study, observation, andinterviews on Krowe people. Based on the collected data, the main argument of this paperis that the National Examination ritual practice is a form of transformation in ancestorworshipping ritual rooted in the Krowenese tradition. In this discussion, transformationrefers to the change in surface level but on a deeper level unchanged. Thus, although thenational exam ritual is an new expression of Krowenese belief, but at a deeper level is amanifestation of their tradition of ancestors worshiping. AbstrakUjian Nasional di Indonesia dianggap sebagai penentu kelulusan siswa, sehinggadilakukan berbagai usaha untuk menjamin kelulusan mereka. Pada beberapa tahunterakhir, beberapa sekolah menengah di Kabupaten Sikka mengadakan ritual setiapkali akan menghadapi ujian nasional. Tulisan ini membincangkan praktik ritual UjianNasional (UN), khususnya di sebuah sekolah menengah atas di pegunungan SikkaTengah. Tujuan tulisan ini adalah menjawab apakah praktik ritual ujian nasional tersebutmerupakan fenomena baru atau berakar pada tradisi penghormatan kepada leluhur padaKomunitas Krowe di Sikka. Untuk tujuan tersebut, data telah dikumpulkan baik melaluistudi literatur, observasi, maupun wawancara dengan Orang-orang Krowe. Berdasarkandata yang terkumpul tersebut, argumentasi utama tulisan ini adalah bahwa praktik ujiannasional merupakan bentuk transformasi ritual penghormatan leluhur yang telah berakarpada tradisi Komunitas Krowe. Dalam diskusi ini, transformasi merujuk pada terjadinyaperubahan pada tataran permukaan tetapi pada tataran yang lebih dalam tidak mengalamiperubahan. Dengan demikian, walaupun ritual ujian nasional merupakan ekspresi barukepercayaan orang Krowe, namun pada tataran yang lebih dalam merupakan wujud daritradisi mereka atas penghormatan kepada leluhur.
PERKEBUNAN TEMBAKAU DAN KAPITALISASI EKONOMI SUMATERA TIMUR Akbar, Allan
Kebudayaan Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v11i2.26

Abstract

AbstractEast Sumatra area was formerly a wilderness, in a short time, has become the mostprofitable plantation area in Sumatra. This development took place due to the success oftobacco cultivation in East Sumatra. The big profit of this tobacco plantation has attractedthe interest of foreign investors to invest in East Sumatra. Besides generated great wealth,tobacco plantation has also brought some impacts on the development of East Sumatra.This study will highlight how the development of tobacco plantations brought wealthto East Sumatra as well as the impacts that occured from the widespread of the newplantings. Using the historical methods, this research aims to explain the economicchanges that occurred in East Sumatra, especially since the rise of the opening of thetobacco plantations by foreign investors. From this study, it appears that the openingof the tobacco plantations has affected to four important changes, which are changes inlifestyle of the traditional elite, the forming of social gap, changes in the demographiccomposition, and the emergence of new towns. AbstrakDaerah Sumatera Timur yang sebelumnya merupakan hutan belantara, dalam waktusingkat telah menjadi wilayah perkebunan paling menguntungkan di Pulau Sumatera.Perkembangan ini terjadi berkat keberhasilan budidaya tembakau di Sumatera Timur.Keuntungan yang besar dari perkebunan tembakau menarik minat para investor asinguntuk menanamkan modalnya di Sumatera Timur. Selain mendatangkan kekayaan yangbesar, perkebunan tembakau telah membawa beberapa dampak bagi perkembanganSumatera Timur. Penelitian ini akan menyoroti bagaimana perkembangan perkebunantembakau hingga mendatangkan kekayaan bagi Sumatera Timur serta dampak apa sajayang ditimbulkan akibat dari maraknya pembukaan perkebunan tersebut. Menggunakanmetode sejarah, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perubahan ekonomi yangterjadi di Sumatera Timur terutama sejak maraknya pembukaan perkebunan-perkebunantembakau oleh para investor asing. Dari penelitian ini terlihat bahwa pembukaanperkebunan tembakau berdampak pada empat perubahan penting, seperti perubahan gayahidup kalangan elite tradisional, terjadinya jurang sosial, perubahan komposisi demografi,dan munculnya kota-kota baru.
DIASPORA ORANG BALI: DINAMIKA SOSIAL-BUDAYA UMAT HINDU-BALI DI DESA KERTA BUANA Siburian, Robert
Kebudayaan Vol 11 No 2 (2016)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v11i2.27

Abstract

AbstractBalinese people have been living in Kerta Buana village since 1980, when they joinedtransmigration program. In fact, when they migrated to Kalimantan island, it was notsolely a physical, but also a cultural migration. Thus, they still perform their religiousrituals and customs like they used to in Bali so that the people surrounding Kerta Buanavillage do not need to go to Bali to learn and understand Balinese culture and religiousrituals of Hindu-Bali people. The settlement of Hindu-Bali people in a village will be asocial capital to actualize their culture. Related to the settlement of Hindu-Bali peoplein Kerta Buana village, the problems in this article, i.e.: (1) How social dynamics ofHindu-Bali people does in Kerta Buana village? (2) How kind of relationship have thatis built between Kerta Buana village and Bali island? The results of this research showsthat Hindu-Bali community in Kerta Buana village live in a community. So, it is easy tomanage it. The other thing is Hindu-Bali community in Kerta Buana village still carry outreligious rites and customs even though they live far from the area of origin. In fact, theyfabricated the culture in Bali in accordance with the conditions that exist in Kerta Buanavillage. The other thing, Hindu-Bali community still carry out rites and traditions, eventhough far distance from Bali island. In fact, they created Balinese culture for adaptedwith conditions in Kerta Buana village. AbstrakKeberadaan orang Bali di Desa Kerta Buana sudah sejak 1980, yaitu ketika merekamengikuti program transmigrasi. Pada saat mereka bertransmigrasi ke Pulau Kalimantan,ternyata yang bermigrasi tidak hanya fisik tetapi juga kebudayaan mereka. Dengankebudayaan yang ikut serta dengan mereka, ritual agama dan adat istiadat tetap merekalakukan seperti berada di Bali, sehingga masyarakat di sekitar Desa Kerta Buana tidakharus ke Bali untuk memahami kebudayaan dan ritual-ritual kegamaan orang HinduBali. Bermukimnya orang Hindu-Bali di suatu desa menjadi modal sosial untukmengaktualisasikan kebudayaannya itu. Terkait dengan keberadaan orang Hindu-Bali diDesa Kerta Buana, permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini meliputi: (1) Bagaimanadinamika sosial orang Hindu-Bali di Desa Kerta Buana? (2) Bagaimana hubungan yangmereka bangun dengan daerah asal di Pulau Bali? Hasil penelitian menunjukkan bahwamasyarakat Hindu-Bali di Desa Kerta Buana hidup dalam satu komunitas sehingga mudahuntuk menggerakkannya ataupun mengelolanya. Hal lain adalah masyarakat Bali di DesaKerta Buana masih tetap melaksanakan ritual keagamaan dan adat istiadat kendati merekabermukim jauh dari daerah asal. Bahkan mereka merekayasa kebudayaan yang ada diBali sesuai dengan kondisi yang ada di Desa Kerta Buana.

Page 6 of 11 | Total Record : 105