cover
Contact Name
Jurnal Jalabahasa
Contact Email
jalabahasa.bbjt@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
emmamaemunah69@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jalabahasa: Jurnal Ilmiah Kebahasaan
ISSN : 18584969     EISSN : 26156032     DOI : -
Core Subject : Education,
JALABAHASA adalah jurnal yang menjadi media publikasi hasil-hasil penelitian bidang bahasa, penerjemahan, dan pengajaran bahasa yang bukan penelitian tindakan kelas (non-PTK). JALABAHASA terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Mei dan November. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bebestari.
Arjuna Subject : -
Articles 76 Documents
IMPLIKATUR DALAM UNGKAPAN TEGUR SAPA MASYARAKAT JAWA (THE IMPLICATURE OF JAVANESSE GREETING) Rahardian, Ema
JALABAHASA Vol 12, No 2 (2016): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v12i2.250

Abstract

Ungkapan tegur sapa menarik untuk dikaji karena mengandung gejala kebahasaan, salah satunya adalah implikatur. Untuk itu, penelitian ini hendak mengkaji gejala kebahaan tersebut. Melalui metode etnogra? , data tuturan dikumpulkan. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknik heuristik. Berdasarkan hasil analisis ditemukan adanya implikatur melalui pelanggaran maksim kuantitas, kualitas, relasi, dan cara. Bentuk tindak tutur dalam implikatur itu, yaitu (1) representatif dengan subjenis (a) menolak memberikan alasan, (b) memberitahukan perasaan, (c) memberitahukan, dan (d) merahasiakan; (2) komisif dengan subjenis (a) membela diri, dan (b) menjebak; serta (3) ekspresif dengan subjenis menenangkan hati. ABSTRACT Greetings is interested to be analyzed because it has several linguistics phenomenon, such as implicature. This reseach aims to analyzed that linguistics phenomenon. It uses ethnography method to collects the data. The data is analyzed by using heuristic technique. The result shows that the implicature happens because of the illiciteness of quantity, quality, relation, and manner maxim. The implicature also has some speech act functions, such as representative, commisive, and expressive function.  
PENERJEMAHAN NAMA TOKOH KARYA SASTRA ANAK KE DALAM BAHASA INDONESIA (THE TRANSLATION OF CHARACTER’S NAME IN CHILDREN’S LITERATURE INTO INDONESIAN) Kuncara, Singgih Daru
JALABAHASA Vol 12, No 1 (2016): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v12i1.105

Abstract

Makalah ini mendiskusikan penerjemahan nama dalam karya sastra anak. Keunikan penerjemahan untuk anak-anak adalah penerjemah fokus pada pembaca sasaran. Objek penelitian pada tulisan ini adalah nama karakter dalam cerita Walt Disney. Teknik penerjemahan nama yang digunakan adalah peminjaman murni, peminjaman alamiah, harfi ah, dan adaptasi. Penerapan teknik adaptasi sebaiknya diminimalkan karena cenderung melanggar keinginan penulis karya sastra untuk memberikan nama yang bermakna pada karakter tertentu. Selain itu, pengurangan teknik adaptasi dapat membantu anak-anak agar memahami budaya lain. This paper discusses translation of personal name in children?s literature. The uniqueness of translating for children is that the translator is concerned with the target readers. The object of this paper is character?s name in Walt Disney stories. Techniques in translating names are pure borrowing, naturalized borrowing, literal translation, and adaptation. Adaptation technique should be minimized because it tends to violate the author?s intention to give a meaningful name to a certain character name. Reducing adaptation technique also helps the children to respect and know about other cultures.
TINDAK TUTUR DALAM IKLAN BERBAHASA JAWA DI RADIO (THE ACTS OF SPEECH OF JAVANESE ADVERTISEMENT IN THE RADIO) Handono, Suryo
JALABAHASA Vol 13, No 1 (2017): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v13i1.52

Abstract

Iklan sebagai salah satu bentuk komunikasi memunyai peranan penting untuk memperkenalkan suatu produk kepada masyarakat. Tuturan iklan merupakan fenomena menarik untuk diteliti dari berbagai aspek pragmatik, salah satunya adalah tindak tutur. Penelitian ini mengkaji tindak tutur pada wacana iklan berbahasa Jawa di radio. Penelitian bersifat deskriptif kualitatif ini memaparkan bentuk tindak tutur dan konteks tuturan dalam wacana iklan berbahasa Jawa di radio. Strategi yang digunakan adalah analisis isi. Berdasarkan analisis isi diperoleh hasil bahwa bentuk tuturan dalam wacana iklan berbahasa Jawa di radio meliputi tindak tutur representatif, direktif, ekpresif, komisif, dan deklaratif. Tindak tutur representatif digunakan dalam konteks memberi tahu, menyatakan, mengakui, melaporkan, menjelaskan, menyebutkan, dan memberikan kesaksian. Tindak tutur direktif digunakan dalam konteks menyuruh, mengajak, mengimbau, menyarankan, dan mengingatkan. Tindak tutur ekspresif digunakan sebagai evaluasi dalam konteks memuji, mengkritik, dan mengeluh. Tindak tutur komisif digunakan hanya dalam konteks memastikan. Tindak tutur deklaratif digunakan dalam konteks melarang, menegaskan, dan meyakinkan. Kata kunci: tindak tutur, konteks, iklan, bahasa Jawa, radioABSTRACTAdvertising as one form of communication has an important role to introduce a product to the community. Advertising is an interesting phenomenon to be examined from various aspects of pragmatic, one of which is the act of speech. This study examines the acts of speech on the discourse of Javanese advertisement on the radio. This descriptive qualitative research describes the form of speech acts and the context of speech in the discourse of Javanese ad on the radio. The strategy used is content analysis. Based on the content analysis, it is found that the form of speech in the Javanese language advertising discourse in the radio includes the act of representative speech, directive, expressive, commissive, and declarative. Representative speech acts are used in the context of notifying, declaring, acknowledging, reporting, explaining, mentioning, and giving testimony. The directive speech acts are used in the context of commanding, referring, appealing, suggesting, and reminding. Expressive speech acts are used as evaluation in the context of praising, criticizing, and complaining. Commissive speech acts are used only in the context of making sure. Declarative speech acts are used in the context of prohibiting, asserting, and reassuring. Keywords: speech acts, context, advertisement, Javanese, radio
Medan Makna Denotatif Kata Mencuci dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa (The Denotative Meaning of the Word ‘Washing’ in Bahasa Indonesia and Javanese) Sutarsih, Sutarsih,
JALABAHASA Vol 14, No 1 (2018): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v14i1.184

Abstract

Kata mencuci merupakan salah satu kata dalam bahasa Indonesia yang memiliki makna ?membersihkan dengan memakai air atau barang cair, biasanya dengan sabun?. Dengan demikian, kata mencuci berkaitan dengan kegiatan membersihkan. Namun, kata mencuci tersebut memiliki medan makna yang berkaitan dengan objek yang dibersihkan. Demikian pula halnya dengan kata mencuci dalam bahasa Jawa. Medan makna kata mencuci dalam bahasa Jawa juga berkaitan dengan objek yang dibersihkan. Latar belakang penelitian ini adalah kata mencuci dalam bahasa Indonesia memiliki medan makna berupa kata tertentu. Jadi, ada beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang memiliki hubungan makna. Kata mencuci dalam bahasa Indonesia memiliki padanan dengan kata ngumbahi dalam bahasa Jawa. Hal itu berarti bahwa dalam bahasa Jawa dimungkinkan juga ditemukan medan makna kata mencuci. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Meliputi kata apa saja medan makna denotatif kata mencuci dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. 2) Apa perbedaan medan makna denotatif kata mencuci dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah menemukan hal berikut. 1) Kata yang merupakan medan makna denotatif kata mencuci dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. 2) Perbedaan medan makna denotatif kata mencuci dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif bersifat deskriptif. Data berupa kata-kata bermakna ?mencuci? dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Data bahasa Indonesia dicari padanannya dalam bahasa Jawa. Data tersebut dianalis kontrastif berdasarkan medan makna. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa medan makna denotatif kata mencuci dalam bahasa Jawa lebih banyak dibandingkan dengan medan makna dalam bahasa Indonesia. Medan makna tersebut memunculkan variasi bentuk kata. Variasi tersebut bergantung pada media, objek, alat, letak, dan cara dalam melakukan kegiatan mencuci.
HALAMAN DEPAN (PREFACE) BBJT, BBJT
JALABAHASA Vol 15, No 2 (2019): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v15i2.632

Abstract

KOHESI WACANA BERITA OLAHRAGA PADA SURAT KABAR SOLOPOS EDISI OKTOBER 2019 (COHESION OF DISCOURSE OF SOLOPOS SPORTS NEWS IN OCTOBER 2019 EDITION) Permatasari, Nur Endah; Jannah, Marfuah Nur; Febriana, Bunga
JALABAHASA Vol 16, No 1 (2020): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v16i1.442

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kohesi gramatikal dan kohesi leksikal yang ditemukan dalam berita olahraga surat kabar Solopos edisi Oktober 2019. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data diambil dari berita olahraga pada surat kabar Solopos edisi Oktober 2019. Sumber data diambil secara acak. Pengumpulan data menggunakan metode simak dengan teknik catat. Hasil penelitian ini adalah kohesi gramatikal terbagi menjadi (1) referensi/pengacuan, (2) substitusi/penyulihan, (3) elipsis/pelesapan, dan (4) konjungsi/perangkaian. Adapun kohesi leksikal terbagi menjadi (1) repetisi/pengulangan, (2) sinonimi, (3) antonimi, (4) hiponimi, (5) kolokasi, dan (6) ekuivalen. This research aims to describe grammatical and lexical cohesion of Solopos sport news in October 2019. This is a descriptive qualitative research which data were taken from Solopos sports news in October 2019. Data sources are taken randomly. Method of collecting data using the method read and listen, as for techniques using note technique. The results of this study are grammatical cohesion divided into (1) reference referential, (2) the substitution/removal, (3) ellipsis/despair, (4) conjunctions/framing. Then the lexical cohesion is divided into (1) reps/repetitions, (2) synonymy, (3) antonymy, (4) hiponymy, (5) collocations, and (6) equivalents.
KRITIK DALAM UNGKAPAN BAHASA JAWA: KAJIAN SEMANTIK KOGNITIF (CRITICISM IN JAVANESE IDIOMS: COGNITIVE SEMANTIC ANALYSIS) Wahyuni, Tri
JALABAHASA Vol 16, No 1 (2020): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v16i1.453

Abstract

Indonesia sangat kaya akan ragam budaya dan bahasa. Keanekaragaman tersebut terejawantah dalam ungkapan-ungkapan khas, seperti pantun atau peribahasa, yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat penuturnya. Budaya Jawa merupakan salah satu budaya besar yang bertahan hingga kini. Tulisan ini mengetengahkan kritik dalam ungkapan Jawa melalui kajian semantik kognitif yang bertujuan untuk mendeskripsikan ungkapan-ungkapan bahasa Jawa yang mengandung makna kritikan dan menguraikan makna filosofi dalam ungkapan-ungkapan tersebut. Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan ancangan semantik kognitif. Metode yang digunakan adalah simak, agih, padan, dan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan teknik sadap dan perluas. Dari hasil analisis, terdapat 24 ungkapan bahasa Jawa yang mengandung kritik dan memunculkan makna personifikasi, yakni perpaduan konsep yang sama antara sifat binatang atau tokoh manusia dan sikap serta perilaku manusia. Kritik yang terdapat dalam ungkapan-ungkapan Jawa tersebut digunakan sebagai media kontrol sosial. Indonesia is very rich in diversity of cultures and languages. Those diversity is manifested in specific expressions, such as poems or proverbs, that reflect the local wisdom of the speaker community. Javanese culture known as a great culture that survives until today. This paper explores criticism in Javanese expressions in a form of cognitive semantic study. The aim of this paper is describing Javanese expressions that contain critical meanings and describing philosophical meanings in those expressions. This qualitative descriptive study used cognitive semantic design. The methods used were simak, agih, padan, and in-depth interview with tapping and expanding techniques. The analysis founded 24 Javanese expressions that contain criticism and give rise to the personification meaning, namely the combination of the same concepts between the nature of animals or human figures with human attitudes and behavior. Criticism in those Javanese idioms are used as a form of social control.
KASUS PEMBUBARAN UPACARA ODALAN DI BANTUL YOGYAKARTA: ANALISIS WACANA KRITIS PEMBERITAAN CNNINDONESIA.COM DAN SOLOPOS.COM (THE CASE OF ODALAN DISSOLUTION CEREMONY IN BANTUL YOGYAKARTA: CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS IN CNNINDONESIA.COM AND SOLOPOS.COM NEWS) Musrichah, Anggun Putri Aminatul
JALABAHASA Vol 16, No 1 (2020): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v16i1.457

Abstract

Berbagai media lokal maupun media nasional memberitakan kasus pembubaran upacara odalan di Bantul Yogyakarta dengan berbagai bias. Penelitian ini menganalisis wacana yang diproduksi oleh media nasional CNNIndonesia.com dan media lokal Solopos.com guna mengungkapkan kecenderungan kedua media tersebut dalam memberitakan kasus pembubaran upacara odalan. Teori yang digunakan adalah tiga dimensi analisis wacana kritis Norman Fairlough, yaitu dimensi tekstual, praktik wacana, dan sosiokultural dengan tiga tahapan pendekatan, yaitu deskripsi, eksplanasi, dan interpretasi. Dalam tahap dimensi teks, peranti teks yang dianalisis adalah judul, struktur gramatika, dan penggunaan konjungsi. Dimensi kedua, peneliti menganalisis interdiskursivitas dan intertekstualitas untuk menjelaskan bagaimana media mengonstruksi teks berita. Pada dimensi ketiga peneliti menjelaskan praktik sosiokultural dengan analisis kuasa dan ideologi. Hasil penelitian ini adalah CNNIndonesia.com berpihak pada kelompok penyelenggara upacara odalan, sebaliknya Solopos.com berpihak pada kelompok warga yang menolak. Media menggunakan aktor terkait sebagai kuasa atas ideologi masing-masing pihak. The various local media and national media report about a case of the dissolution of the odalan ceremony in Bantul Yogyakarta with a different bias. This study analyzes the discourse that was produced by CNNindonesia and Solopos.com in order to reveal how the national media trends CNNIndonesia.com and local media Solopos.com in reporting the odalan ceremony case. The theory used is the three dimentions of Norman Faircough?s critical discourse analysis, namely the textual dimension, discourse practice, and the sociocultural with three stages approach: description, explanation, and interpretation. In the text dimension stage, the text tools analyzed are the title, gramatical structure of the contents of the text, and the use of conjunctions. The second dimension, the researcher analyzes the interdiscursivity and intextuality sections to explain how the media construct the news text. In the third part, the researcher explains sociocultural practices by analyzing power and ideology. The results are CNNIndonesia.com taking sides with the odalan ceremony group and vice versa Solopos.com taking sides with residents who refuse. The media uses related actors as power over ideology of each party.
HALAMAN DEPAN (PREFACE) BBJT, BBJT
JALABAHASA Vol 16, No 1 (2020): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v16i1.629

Abstract

IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM STUDI LINGUISTIK PRAGMATIK (CONVERSATIONAL IMPLICATURE IN PRAGMATIC LINGUISTIC STUDIES) Saifudin, Akhmad
JALABAHASA Vol 16, No 1 (2020): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v16i1.423

Abstract

 Tulisan ini membahas implikatur percakapan, yakni sebuah studi dalam ilmu linguistik pragmatik yang mengkaji maksud penutur dalam percakapan. Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan apa itu implikatur percakapan, bagaimana mengidentifikasi dan memaknai implikatur, serta mengapa penutur menggunakan implikatur dalam tuturannya. Untuk mengkaji permasalahan digunakan teori Grice tentang prinsip kerja sama (PK), maksim percakapan (MP), dan implikatur percakapan. Data percakapan diperoleh dari observasi percakapan natural antara penulis dan mahasiswa, serta percakapan di antara mahasiswa yang terjadi di lingkungan kampus. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada dasarnya dalam setiap percakapan digunakan implikatur. Implikatur digunakan bukan karena tidak ingin bekerja sama dalam percakapan, tetapi ada alasan yang lebih diprioritaskan dan alasan tersebut tidak dapat mematuhi semua maksim dalam MP. Implikatur percakapan digunakan untuk tujuan efisiensi verbal, pengalihan tanpa berbohong, kesopanan, dan tujuan estetika, serta ironi. This paper discusses the conversational implicature, which is a study in pragmatic linguistics that examines the intent of speakers in conversation. The purpose of this paper is to describe what the conversational implicature is, how to identify and interpret the implicature, and why do speakers want to engage in implicature. To study the problem Grice's theory of the cooperative principle, maxims of conversation, and the conversational implicature are used. Conversation data is obtained from observations of natural conversations between writers and students, as well as conversations between students that occur on campus. The results of the analysis show that basically in every conversation the implicature is used; The implicature is used not because they do not want to cooperate in conversation, but because there are prioritized reasons and those reasons cannot comply with all maxims in maxims of conversation. The conversationalimplicature is used for the purpose of verbal efficiency, misleading to lying, politeness, and aesthetic purposes, as well as irony.