cover
Contact Name
Jurnal Jalabahasa
Contact Email
jalabahasa.bbjt@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
emmamaemunah69@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jalabahasa: Jurnal Ilmiah Kebahasaan
ISSN : 18584969     EISSN : 26156032     DOI : -
Core Subject : Education,
JALABAHASA adalah jurnal yang menjadi media publikasi hasil-hasil penelitian bidang bahasa, penerjemahan, dan pengajaran bahasa yang bukan penelitian tindakan kelas (non-PTK). JALABAHASA terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Mei dan November. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bebestari.
Arjuna Subject : -
Articles 76 Documents
PENYIMPANGAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA DALAM INTERAKSI BELAJAR-MENGAJAR BAHASA INDONESIA (THE VIOLATION OF LANGUAGE POLITENESS PRINCIPLES IN THE INTERACTION OF INDONESIAN LANGUAGE TEACHING AND LEARNING) Alika, Shintia Dwi
JALABAHASA Vol 13, No 1 (2017): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v13i1.51

Abstract

Studi kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa dan penyebab penyimpangannya. Sumber data dari studi kasus ini adalah beberapa tuturan siswa dalam kelas dan guru bahasa Indonesia dalam interaksi belajar mengajar bahasa Indonesia. Metode yang digunakan dalam studi kasus ini adalah deskriptif kualitatif. Studi kasus ini difokuskan pada permasalahan prinsip kesantunan berbahasa di dalam kelas yang dikaji secara pragmatik. Hasilnya menunjukkan beberapa hal berikut. (1) Jenis penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa terdiri dari penyimpangan tunggal dan penyimpangan ganda. Penyimpangan tunggal meliputi penyimpangan maksim kearifan, penyimpangan maksim kedermawanan, penyimpangan maksim pujian, penyimpangan maksim kerendahhatian, penyimpangan maksim kesepakatan, dan penyimpangan maksim kesimpatian. Penyimpangan ganda meliputi penyimpangan maksim kearifan dan maksim kedermawanan, penyimpangan maksim kearifan dan maksim pujian, penyimpangan maksim kedermawanan dan maksim pujian, penyimpangan maksim pujian dan maksim kesepakatan, penyimpangan maksim kerendahhatian dan maksim simpati, penyimpangan maksim kesepakatan dan maksim simpati, penyimpangan maksim kearifan, maksim kedermawanan, dan maksim pujian, dan penyimpangan maksim pujian, maksim kerendahhatian, dan maksim kesepakatan. (2) Penyebab penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa dalam interaksi belajar mengajar bahasa Indonesia siswa di dalam kelas meliputi penyimpangan disebabkan penutur sengaja menuduh lawan tutur, sengaja berbicara tidak sesuai konteks, protektif terhadap pendapat, dorongan rasa emosi penutur, kritik secara langsung dengan kata-kata kasar, dan mengejek. ABSTRACTSchool is a formal institution that has a strategic function to educate the future generation in using Indonesian language profi ciently, correctly, and politely. However, there are many students found not applying the politeness principles eventhough the teachers have taught it in the class. Based on that background, this research is conducted to fi nd out the types of the politeness principles in the teaching and learning interaction. Source of the data is the students and the Indonesian language teacher speeches in the class. The research uses descriptive qualitative research. Focus of this research is the language politeness using the pragmatic approach. The result indicates that (1) the violation of politeness principles in the teaching and learning interaction are happened in tact,generositiy, approbation, modesty, agreement, and symphaty maxims, (2) the cause of the violation of the politeness principles in the class interaction are the speaker accused the hearer in purpose,giving no sympathy, protective to assumption, direct critics using harsh words, and mocking.
Kajian Pragmatik Mengenai Tindak Tutur Direktif dalam Serat Joko Lodhang Karangan Raden Ngabehi Ranggawarsita (The Pragmatics Analysis about Directive Speech Act in Serat Joko Lodhang by R. Ng. Ranggawarsita) Setyawan, Bagus Wahyu
JALABAHASA Vol 14, No 2 (2018): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v14i2.206

Abstract

Karya sastra Jawa, khususnya serat, merupakan karangan pujangga keraton atas perintah atau kehendak raja. Kehendak raja ini dimaksudkan untuk memberikan pedoman dan perintah kepada rakyatnya melalui karya sastra. Penelitian ini berbentuk penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik, yaitu kajian tentang tindak tutur. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tindak tutur direktif dalam Serat Joko Lodhang karangan R. Ng. Ranggawarsita. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah teks Serat Joko Lodhang karangan R. Ng. Ranggawarsita. Sumber data sekunder diambil dari narasumber ahli dan pustaka yang berkaitan dengan data penelitian. Teknik pengambilan data menggunakan studi pustaka dan wawancara mendalam. Analisis data menggunakan teknik analisis jalinan dan mengalir berdasarkan teori pragmatik tindak tutur. Berdasarkan penelitian, Serat Joko Lodhang ini memuat pedoman untuk bertindak. Tindak tutur yang ditemukan dalam Serat Joko Lodhang berupa tindak tutur direktif langsung dan tidak langsung. Tindak tutur tersebut berfungsi mengimbau rakyat untuk bertindak, sebagaimana fungsinya sebagai sastra piwulang. Javanese literature, especially Serat, is written by palace writer because of the command or the will of the king. This is due to the king?s intention to provide guidance and command to his people through literature. This research is qualitative descriptive using pragmatic approach. Aim of this research are to describe about direcif speeech act in Serat Joko Lodhang by R. Ng. Ranggawarsita. Primary data source of this research is Serat Joko Lodhang by R. Ng. Ranggawarsita. Secondary data taked from expert informant and some of references. Data collected tecnique using literature review and in-depth interview with some expert. Data analyze using flow model and pragmatics analysis especially in speech act theoretical. Due to the analysis, Serat Joko Lodhang contains guidelines for action. The types of speech acts include direct and indirect directive speech act. That speech act is suggesting people to take action, as the function of piwulang literature. 
Pemberitaan Dukungan Keluarga Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) pada Prabowo-Sandi dalam Liputan6.Com (Liputan6.com Reporting of NU Founders Family’s Support to Prabowo-Sandi) Zulianto, Roni Ardian
JALABAHASA Vol 15, No 2 (2019): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v15i2.339

Abstract

Berita yang ditayangkan oleh media massa tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan, tetapi sudah mengalami pengolahan yang disesuaikan dengan ideologi media massa. Oleh sebab itu, penelitian ini ingin mengkaji teks berita dukungan keturunan keluarga pendiri NU pada capres Prabowo dan Sandi yang ditayangkan oleh Liputan6.com. Sumber data dalam penelitian ini berupa teks berita Liputan6.com pada November 2018. Metode yang digunakan adalah simak-bebas libat cakap dengan teknik klasifikasi terhadap data yang dikumpulkan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode padan-pragmatis sehingga hasil analisis data disajikan dalam uraian. Selain itu, peneliti menggunakan teori tiga dimensi Fairclough (1995) yang meliputi (1) text, (2) discourse practice, dan (3) sociocultural practice. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa berita yang dimuat tentang dukungan tersebut tidak benar karena pada praktik sosial yang disisipkan pada beberapa kalimat oleh penulis menyatakan bahwa keturunan pendiri NU tersebut memang berkunjung, tetapi bukan untuk mendukung dalam pemilihan suara. The news published by mass media is not suitable with the event in the real life. However, it is processed by the ideology from mass media. That is why, this study wants to examine the critical discourse of the news about the NU founders of descendants family?s support to Prabowo-Sandi aired by the liputan6.com. The data source of this study are the news from liputan6.com in November 2018. The method used simak bebas libat cakap by using classification techniques on the data collected. While for the data analysis, the researcher uses padan-pragmatic method and the results of data analysis present in a description. The researcher uses three dimensions theories from Fairclough (1995) which are (1) text, (2) discourse practice, and (3) sociocultural practice. The result of this study showed that the news about the support of NU founder family was not true because the social practice that was inserted by writer stated that the descendants of the founder of the NU had just visited, but had not supported them in the election.
Analisis Sens Polisemis The Merriam Webster Online Dictionary dan Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Jaringan: Studi Metaleksikografi (The Analysis of Sense Polysemic of The Merriam Webster Online Dictionary and Online Kamus Besar Bahasa Indonesia: the Study of Metalexsicograhpy ) Prihantono, Kahar
JALABAHASA Vol 14, No 1 (2018): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v14i1.164

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berusaha membandingkan organisasi sens polisemis the Merriam Webster Online Dictionary (MWOD) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring (dalam jaringan). Penulis mencermati penyusunan sens pada kedua kamus dan membandingkan keduanya untuk mengungkap peluang revitalisasi sens dalam KBBI. Sampel penelitian yang diambil secara acak, yakni 24 kata kepala yang memiliki sens polisemis. Sens kata kepala dicermati dengan menerapkan teori radial set model Brugman-Lakoff dan kemudian dibandingkan dengan memanfaatkan korpus data. Dari hasil pembahasan, penulis menarik beberapa simpulan sebagai berikut. Pertama, sens kedua kamus (MWOD dan KBBI) tersusun dalam susunan yang hampir sama, kedua kamus tidak menyertakan indikator sens dan menampilkan sens secara berurutan dengan penanda angka arab (1, 2, 3, dan seterusnya). Kedua, kelengkapan anggota sens kedua kamus berbeda, MWOD menampilkan lebih banyak sens dalam organisasi entrinya. Ketiga, MWOD menampilkan definisi pendek (mini definition) sebagai indikator sens yang terbatas. sementara KBBI tidak menampilkan, baik definisi pendek maupun indikator sens. Keempat, MWOD membuka peluang munculnya subsens,sementara KBBI tidak memiliki peluang serupa. Kelima, susunan sens MWOD diatur dengan mempertimbangkan hirarki sens Evan (2005) dan KBBI mementingkan frekuensi penggunaan (dalam realita, sens baru akan tampil setelah sens lama). Pembandingan sens kedua kamus membuka peluang bagi KBBI untuk (1) merevitalisasi sens sehingga sens-sens baru dapat dimunculkan, (2) merevisi sens dengan menyusun pembeda sens (sense differal) implisit, (3)memanfaatkan teori radial set model Brugman-Lakoff untuk membantu pengorganisasian sens baru, (4) sens-sens baru dari kata-kata kepala tersebut telah lama digunakan dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi belum dimasukkan ke dalam organisasi entri KBBI daring oleh tim penyusun.ABSTRACTThe study attempted to compare polysemous sense organisation of The Merriam Webster Online Dictionary (MWOD) and Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). The writer examined the sense compilation of both dictionaries? and compared each other to reveal the potential sense revitalization in KBBI. Samples of the research were taken randomly,covering 24 headwords with polysemous senses. The senses of the headwords were examined by establishing the radial set model theory of Brugman-Lakoff?s. Next, they were compared each other by taking the advantage of the data corpus. The result of the analysis led to some conclusions as follows. First, the sense of both dictionaries (MWOD and KBBI) were presented in quite the same ordering, both dictionaries did not present sense indicators and arrange the senses in Arabic numeric markers sequence (1, 2, 3, and so on). Second, the completeness of both dictionaries? sense members was different, MWOD displayed more senses in its entry organisation. Third, MWOD displayed mini definitions as inadequate sense indicator whether KBBI did not display both mini definitions and sense indicators. Fourth, MWOD had opportunities for the emergence of new subsenses whether KBBI did not. Fifth, the sense organisation of MWOD was arranged according to sense hierarchy of Evan's (2005) whether KBBI emphasized the frequency of usage (in reality the new senses would be presented ). The comparison of the senses organisation led an opportunity for KBBI to (1) revitalize its senses so that new senses could be generated, (2) revise senses by establishing implicit sense differentiators, (3) take the advantage of the radial set theory of Brugman-Lakoff in organising its new senses, and (4) new senses of those headwords had been used in Indonesia context for years and they had not been involved in the Online KBBI entries by its compilers.
Penggunaan Bahasa Dakwah Ustaz Hanan Attaki di Media Sosial Instagram (The Usage of Language by Ustaz Hanan Attaki on Instagram Social Media) Inderasari, Elen; Lestari, Bini; Achsani, Ferdian
JALABAHASA Vol 15, No 1 (2019): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v15i1.315

Abstract

Penggunaan bahasa dakwah turut memengaruhi keberhasilan penyampaian materi yang ingin disampaikan dai kepada mad?u. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik penggunaan bahasa dalam dakwah Ustaz Hanan Attaki. Penelitian ini tergolong dalam penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini diambil dari beberapa video dakwah Ustaz Hanan Attaki yang diunggah dalam akun media sosial instagram Hanan_Attaki. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa teknik simak dan catat dengan cara menyimak video dakwah dari Ustaz Hanan Attaki, kemudian mencatat bentuk-bentuk penggunaannya. Teknik keabsahan data berupa triangulasi sumber data. Teknik analisis data berupa model interaktif yang terbagi menjadi tiga komponen, meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa dakwah Ustaz Hanan Attaki memiliki karaktersitik, seperti penggunaan ragam bahasa gaul, campur kode dalam bahasa Arab dan Inggris, serta ditemukan beberapa gaya bahasa repetisi, yaitu asonansi, kiasmus, epizeukis, anafora, dan simploke. The use of dakwah language influences the success of the material conveyed by da'i to mad'u. The purpose of this study was to describe the characteristics of language use in ustaz preaching Hanan Attaki. This research was classified into qualitative descriptive research. The data sources in this study were taken from several videos of Ustaz Hanan Attaki's preaching uploaded in the Hanan_Attaki Instagram social media account. The writer used listening and note technique in collecting data, which were carried out by listening to the da'wah video of Ustadh Hanan Attaki and then recording the forms of language use used. The data validity technique was in the form of triangulation of data sources. The data analysis technique used was an interactive model which was divided into three components, including data reduction, data presentation, and conclusion or verification. The results of this study indicate that the use of ustaz preaching language Hanan Attaki has distinctive language characteristics such as the use of various slang languages, mixed codes in Arabic and English, and found several styles of acoustic repetition, chiasmus, epizeukis, anaphora, and simploke.
Pemakaian Bahasa Jawa Keluarga Muda di Eks-Karesidenan Semarang (The Use of Javanese of Young Families in the Ex-Residence Of Semarang) Maemunah, Emma
JALABAHASA Vol 13, No 2 (2017): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v13i2.87

Abstract

Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa yang memiliki penutur terbanyak di Indonesia. Terdapat kecenderungan bahwa keluarga muda lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa Jawa untuk berbicara terutama di daerah perkotaan. Penelitian terhadap pemakaian bahasa Jawa para keluarga muda yang tinggal di eks-Karesidenan Semarang ini dilakukan untuk melihat pemakaian bahasa Jawa dan pergeserannya ke bahasa yang lain. Data diperoleh dengan metode kuesioner, metode wawancara, dan pengamatan partisipatif. Dengan ancangan teori sosiolinguistik dan metode deskriptif-kualitatif, hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga muda di eks-Karesidenan Semarang tetap memakai bahasa Jawa ketika berbicara dengan mitra tutur yang sesuku tanpa melihat hubungan mitra tutur dan penutur serta lokasi pertuturan dan terjadi pergeseran pemakaian bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Pergeseran pemakaian bahasa Jawa ke bahasa Indonesia terjadi ketika mitra tutur diketahui tidak sesuku. Hubungan penutur dan mitra tutur, rentang usia penutur dan mitra tutur, serta lokasi pertuturan tidak menjadi faktor terjadinya pergeseran bahasa. Faktor penyebab terjadinya pergeseran bahasa dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia adalah mitra tutur yang diketahui tidak sesuku dan/atau tidak diketahui kesukuannya.Javanese is one of languages with the most speakers in Indonesia. There is a tendency that young family prefers to speak Indonesian rather than Javanese primarily in urban areas. The study on the use of Javanese of young family who lives in eks-Karesidenan Semarang is done to fi nd out the use of Javanese and its shift to other languages. The data were obtained by questionnaire and participant observation techniques. By using the approach of sociolinguistic theory and descriptive-qualitative method, the result of the research shows that young families in eks-Karesidenan Semarang keep using the Javanese when talking to interlocutor from the same ethnicity. The relationship between the speaker and the interlocutor and the location of the speech did not affect the use of the Javanese by the respondent as long as the interlocutor was known come from the same ethnicity and there is a shift in the use of Javanese to Indonesian language in eks-Karesidenan Semarang society. The use of Javanese shifts to the Indonesian occurs when the interlocutors do not come from the same ethnicity. The relations between the speaker and the interlocutor, the age range between the speaker and the interlocutor, and the location of the speech are not factors of the language shift. The factor that causing the language shift from the Javanese to the Indonesian is the interlocutor who does not come from the same ethniciyy and/or the ethnicity of the interlocutor is unknown.
METAFORA SINESTESIA DALAM BAHASA JAWA (JAVANESE SYNESTHESIA METAPHOR) Suwatno, Edi
JALABAHASA Vol 12, No 2 (2016): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v12i2.249

Abstract

Metafora sinestesia adalah metafora berupa ungkapan yang bersangkutan dengan suatu indra yang dipakai sebagai objek atau konsep tertentu, yaitu pertukaran alat indra penanggap. Dapat diartikan juga bahwa metafora sinestesia adalah perubahan makna akibat perbedaan pertukaran tanggapan antara dua indra yang berlainan. Metafora sinestesia dalam bahasa Jawa, misalnya, Omongane pancen atos. ?Berbicaranya memang keras?. Dapat dibandingkan dengan Watune atos. ?Batunya keras?. Kata atos ?keras? yang harus ditanggap dengan alat indra perasa kulit, tetapi ditanggap oleh alat indra penglihatan mata Swarane sindhene cemplang ?Suara pesindennya hambar? bandingkan dengan Jangane cemplang kurang uyah ?Sayurnya hambar kurang garam?. Ngendikane alus sopan.?Berbicaranya halus dan sopan?,dapat dibandingkan dengan Kulite alus kaya sutra, ?Kulitnya halus seperti kain sutera?. Metafora sinestesia memiliki fungsi dan jenis. Metafora sinestesia berfungsi untuk penghalusan makna (eufemisme) dan fungsi pengasaran/mengasarkan makna (disfemia). Metafora sinestesia dalam bahasa Jawa memiliki beberapa jenis antara lain, (1) indra penciuman hidung, (2) indra pendengaran telinga, (3) indra penglihatan mata, (4) indra peraba kulit, dan (5) indra perasa lidah.  ABSTRAK Synesthesia metaphor is a metaphor expression form, which is concerned with a sense that is used as an object or a particular concept, namely the exchange of responder senses.The synesthesia metaphor also refers to meaning change because of response differences between two different senses. Javanese synesthesia metaphor, for example omongane pancen atos ?his speech was hard?. It can be compared to watune Atos ?the rock is hard. The atos ?hard? word should be responded with ear as listening sense, but it is responded with by the eyesight sense. Swarane sindhene cemplang ?the pesinden?s voice is bland? can be compare with jangane less cemplang kurang uyah ?The soup is bald because of less salt?. Alus Ngendikane sopan ?his speech is smooth and polite ? can be compared to Alus Kulite kaya sutra ?her skin is smooth as silk ?. Synesthesia metaphor has functions for smoothening meaning (euphemism) and coarsening meaning (disfemia). Types of Javanese synesthesia metaphor are (1) nose as smell sense, (2) ear as hearing sense, (3) eye as sight sense, (4) skin as touch sense, and (5) tongue as taste sense. 
KOMPARATIF KEIGO BAHASA JEPANG DENGAN KRAMA BAHASA JAWA DALAM MEDIA SOSIAL (THE COMPARATIVE OF KEIGO IN JAPANESE AND OF KRAMA IN JAVANESE) Wulandari, Anastasia Dewi
JALABAHASA Vol 12, No 1 (2016): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v12i1.104

Abstract

Penelitian yang berjudul Komparatif Keigo Bahasa Jepang dengan Krama Bahasa Jawa dalam media sosial ini merupakan sebuah kajian sintaksis dan semantik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keigo bahasa Jepang dengan krama bahasa Jawa. Berdasarkan hasil analisis, penulis menyimpulkan bahwa sonkeigo dengan krama inggil merupakan ragam bahasa yang digunakan untuk meninggikan orang lain, kenjougo dengan krama-andhap merupakan ragam bahasa yang digunakan untuk menghormati orang lain dengan merendahkan diri sendiri, dan teineigo dengan krama lugu merupakan ragam bahasa yang digunakan tanpa meninggikan atau merendahkan orang lain. Perbedaannya adalah bahwa di Jepang terdapat dua konsep yang dikenal dengan uchi dan soto. Hal tersebut menunjukkan bahwa bahasa Jepang memerhatikan kepada siapa penutur itu berbicara. The paper entitled the Comparative of Keigo in Japanese and of Krama in Javanese in Social Media is a study of both syntactics and semantics. The descriptive comparative method is used in this study. The purpose of this study is to analyze keigo in Japanese language compared with krama in Javanese language. According to the result, the writer conclude that sonkeigo with krama inggil is used for the same perspective to polite, kenjougo with krama andhap is used for the same perspective to honor people, and teineigo with krama lugu is used for the same perspective to humble polite. The difference is that in Japanese there are two concepts known as uchi and soto. This means that Japanese pay attention to whom a speaker is talking to. 
WACANA KEPEMIMPINAN: ANALISIS MAKNA KONOTASI DALAM TEKS PIDATO PERDANA PRESIDEN JOKOWI (LEADERSHIP WORK: CONSUMER MEANING ANALYSIS IN PRIMARY PROPERTY TEXT PRINCIPLE JOKOWI) Nurpadillah, Veni
JALABAHASA Vol 13, No 1 (2017): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v13i1.43

Abstract

Kalimat yang mengandung makna konotasi pastinya sering kita dengar di tengah-tengah kita. Dan hal itu membuat suatu percakapan menjadi menarik. Bukan hanya didalam percakapan yang dilakukan oleh seseorang individu terhadap individu lain yang mengandung makna konotasi, tetapi didalam karya tulis seperti pidato dan teks-teks lainnya juga mengandung makna konotasi tersebut. yang sangat menarik perhatian. Salah satu Pidato pemimpin yang mempunyai keuinikan gaya bahasa adalah Jokowi. Atas dasar keunikan gaya pidato Jokowi disertai komunikasi langsung dengan rakyat (blusukan) merupakan keunggulan yang dimiliki oleh Jokowi dibanding presiden Indonesia sebelumnya. Oleh karena itu, maka peneliti tertarik untuk meneliti pidato perdana ketika Jokowi sudah resmi menjadi presiden dalam Pemilihan Umum Presiden 2014 di Indonesia tahun 2014. Penelitian in Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah teks pidato perdana Presiden Joko Widodo. Penggalan kalimat dalam teks pidato perdana Presiden Joko Widodo merupakan salah satu data utama dalam penelitian ini. Teknik mengumpulkan data dilakukan dengan cara baca markah dan teknik tulis.i merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metodologi kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini yakni terdapat makna konotatif di dalam teks pidato perdana presiden Jokowi, terdapat dua jenis makna konotatif yakni konotasi positif dan konotasi negatif, dan terdapat 7 kata dan frasa yang bermakna konotatif di dalam teks pidato presiden Joko Widodo.ABSTRACTSentences that contain the exact connotation meaning we often hear in our midst. And it makes a conversation becomes interesting. Not just in a conversation conducted by an individual against another individual that contain connotations, but in papers such as speeches and other texts also contain such connotations. very interesting. One of the leaders who have keuinikan speech language style is Jokowi. On the basis of the uniqueness of the style of speech Jokowi accompanied by direct communication with the people (blusukan) the advantages possessed by the Indonesian president Jokowi than before. Therefore, the researchers are interested in examining the inaugural speech when Jokowi has officially become president in the 2014 Presidential Election in Indonesia in 2014. The study in The source of the data in this study is the text of the inaugural speech of President Joko Widodo. A fragment of a sentence in the text of the inaugural speech of President Joko Widodo is one of the main data in this study. Mechanical collecting data is done by reading many techniques tulis.i is a qualitative study that uses qualitative descriptive methodology. The results of this study that there is a connotative meanings in the text of the presidential inaugural speech Jokowi, there are two kinds of the connotative meanings of positive and negative connotation connotation, and there are seven words and phrases connotative meaning in the text of a speech the president Joko Widodo.
Makna dan Keterkaitan Antarmantra dalam Upacara Siraman Air Sedudo Mayarakat Nganjuk (The meaning and Interrelationship Mantra Siraman Air Sedudo in the Society of Nganjuk) Kusuma, Seplian Nungki; Susilowati, Ucik; Widodo, Hendri Wahyu
JALABAHASA Vol 14, No 1 (2018): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v14i1.172

Abstract

Abstract:This study aims to discuss the meaning and interrelationship Mantra Siraman Air Sedudo. The meaning and interrelationship between spells to know the meaning contained in the mantra for the life of Nganjuk people. This research uses qualitative method, to know the meaning and relevance of water sprinkle Sedudo mantra. Data collection techniques used in knowing the Mantras Air Sedudo text is by observing or visiting direct informants who know about the spell text. The results of this study show that 1) The meaning of the Siraman Air Sedudo has a deep and strong meaning. 2) The interrelationship between the spells of one another are interconnected and inseparable. 3) Mantra Siraman Air Sedudo continues to grow and be maintained until today, although the development of the times continues. Mantra Siraman Air Sedudo has three mantras such as: 1) Pangkur Singgah-Singgah, 2) Dandang Rahayu Sugar, and 3) Wirangrong. The three mantras used are related to one another. The above three spells concerning human relationships with the Creator and the life, death, sustenance, and luck of society. Air Sedudo spell is used to keep the citizens of Nganjuk from bad things and get good things.Keywords: Mean, Mantra Siraman Air Sedudo, Mantra  interconnection   Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk membahas makna dan keterkaitan antar mantra Siraman Air Sedudo. Makna dan keterkaitan antar mantra untuk mengetahui makna yang terkandung dalam mantra tersebut bagi kehidupan masyarakat Nganjuk. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, untuk mengetahui makna dan relevansi dari mantra Siraman Air Sedudo. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam mengetahui teks mantra Siraman Air Sedudo adalah dengan observasi atau mengunjungi langsung narasumber yang mengetahui mengenai teks mantra siraman. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 1) Makna mantra Siraman Air Sedudo memiliki arti dalam dan kuat. 2) Keterkaitan antar mantra satu dan lainya saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. 3) Mantra Siraman Air Sedudo tetap berkembang dan dijaga hingga saat ini, meskipun perkembangan zaman terus berlangsung. Mantra Siraman Air Sedudo memiliki tiga mantra seperti : 1)Pangkur Singgah-Singgah, 2)Dandang Gula Rahayu, dan 3) Wirangrong. Ketiga mantra yang digunakan memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain. Ketiga mantra di atas mengenai hubungan manusia dengan Sang Pencipta serta hidup, mati, rezeki, dan kemujuran masyarakat. Mantra siraman Air Sedudo digunakan untuk menjaga keselamatan warga Nganjuk dari hal yang buruk dan mendapatkan hal-hal yang baik.Kata-kata kunci: Makna, Mantra Siraman Air Sedudo, Keterkaitan mantra