cover
Contact Name
Hedrikson Marnes Ander
Contact Email
pppm.polnustar@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
pppm.polnustar@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kepulauan sangihe,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Sesebanua
ISSN : 25977105     EISSN : 26552868     DOI : 10.54484
Core Subject : Health,
Tulisan yang diangkat dari hasil penelitian dibidang Kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 99 Documents
ANALISIS INDEKS GLIKEMIK DAN KANDUNGAN GIZI SAGU PORNO Dhitodwi Pramardika; Ferdinand Gansalangi
Jurnal Ilmiah Sesebanua Vol 4 No 2 (2020): Jurnal Imiah Sesebanua
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, POLITEKNIK NEGERI NUSA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jis.v4i2.362

Abstract

Di Kabupaten Sangihe terdapat satu pangan lokal yang terkenal yaitu bernama “Sagu Porno”. Panganan khas asli dari suku Sangihe yang terbuat dari tanaman sagu yang diolah dengan cara dibakar. Masyarakat sangihe memepercayai bahwa makanan ini bagus jika dikonsumsi penderita diabetes. Namun penelitian ilmiah mengenai pangan tersebut masih sangat minim. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis indeks glikemik dan kandungan gizi pada Sagu Porno. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Lokasi pengujian kandungan gizi dilaksanakan di Laboratorium Balai Riset dan Standarisasi Industri Kota Manado sedangkan untuk pengukuran indeks glikemik dilakukan di Politeknik Negeri Nusa Utara. Subjek pada penelitian ini sebanyak 14 responden dan objek pada penelitian ini adalah sagu porno. Berdasarkan hasil uji kandungan gizinya, sagu porno memiliki kandungan karbohidrat sebanyak 50,65 persen, protein 2,06 persen, lemak 11,75 persen dan serat kasar 3,12 persen. Berdasarkan hasil uji kandungan indeks glikemiknya diketahui bahwa sagu porno adalah 296,53 persen yang artinya bahwa sagu porno merupakan panganan dengan indeks glikemik tinggi. Kesimpulannya, tidak disarankan penderita diabetes untuk mengkonsumsi panganan sagu porno. in Sangihe District, famous food as a local food called “Sagu Porno”. Secialty original dish from Sangihe tribe, which it was made from the sago plant with burned processed. The people very much believe that those food was good if consumed by diabetics. However, scientific quantity research on those foods were little. Based on those study the aim of analyzing were the glycemic index and nutritional content of Sagu Porno. Those research was an experimental research. The location for testing the nutritional content was on the laboratory Balai Riset dan Standarisasi Industri of Manado City, while for the measurement of the glycemic index at Politeknik Negeri Nusa Utara. The subjects in those study were 14 respondents and the object in those study was Sagu Porno. Based on the results of the nutritional content test, Sagu Porno has a carbohidrate content of 50.65 percent, 2.06 percent protein, 11.75 percent fat, and 3.12 percent crude fiber. Based on the results of the glycemic index content test, it was known that Sagu Porno was 296.53 percent, which means that Sagu Porno is a food with a high glycemic index. In conclusion, diabetics are not advised to consume Sagu Porno.
PENGALAMAN KELUARGA MENGHADAPI TRAUMA PASCA BENCANA ALAM DI KAMPUNG LEBO KECAMATAN MANGANITU Yenny Budiman Makahaghi; Conny Juliana Surudani
Jurnal Ilmiah Sesebanua Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Imiah Sesebanua
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, POLITEKNIK NEGERI NUSA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jis.v5i1.367

Abstract

Bencana tidak bisa lepas dari siapapun jika sudah kehendak sang kuasa pasti akan terjadi, dan keluarga yang mengalami dampak dari bencana alam ini harus bisa menerima setiap kenyataan hidup yang sudah terjadi. Bencana alam yang dialami membuat keluarga kehilangan rumah, harta benda bahkan anggota keluarga yang sangat dikasihi. Pengalaman yang sangat menyakitkan ini adalah bagian dari kehidupan yang harus dijalani pasca bencana alam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan pengalaman keluarga menghadapi bencana alam di kampung Lebo. Metode : penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif fenomenologi dengan teknik wawancara mendalam kepada 6 keluarga yang terdampak bencana alam di Kampung Lebo Kecamatan Manganitu. Analisis data yang digunakan mengacu pada tujuh langkah teknik analisis data collaizi. Hasil : Penelitian ini menunjukkan keluarga merasakan dampak trauma pasca bencana alam sehingga ditemukan tujuh tema besar yaitu 1) Tanda awal bencana, 2) Respon terhadap banjir, 3) Beban psikologi 4) Jenis dukungan, 5) Beban ekonomi, 6) Makna setelah terjadi bencana, 7) Harapan untuk Lebo. Tujuh tema tersebut saling berhubungan satu dengan yang lain dan merupakan pengalaman hidup partisipan menghadapi pasca trauma bencana alam. Kesimpulan : Akibat dari kejadian ini menyebabkan keluarga mengalami beban psikologi karena kehilangan barang berharga. Meskipun sulit menerima kenyataan harus kehilangan yang orang yang dikasihi serta benda berharga tetapi dukungan yang selalu datang dari berbagai pihak sehingga keluarga mengurangi beban yang dialami. Dengan kejadian ini keluarga mengalami perubahan ekonomi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Melalui kejadian ini keluarga menyadari bahwa ini kehendak sang pencipta sehingga harapan kedepan bencana alam ini tidak akan terjadi lagi di kampung. Disasters cannot be separated from anyone if the power has the will of it, it will definitely happen, and families who experience the impact of this natural disaster must be able to accept it. The natural disasters experienced have made families lose their homes, property and even loved family members. This painful experience is a part of life that must be lived after a natural disaster. The purpose of this study is to describe the experiences of families facing natural disasters in Lebo village. Methods: This study used a phenomenological qualitative research method with in-depth interviews with 6 (six) families affected by natural disasters in Lebo Village, Manganitu District. The data analysis used refers to the seven steps of the Collaizi data analysis technique. Results: Those study showed that families feel the impact of trauma after natural disasters so that seven major themes were found, 1) Early signs of disaster, 2) Response to flood, 3) Psychological burden 4) Types of support, 5) Economic burden, 6) Meaning after a disaster, 7) Hope for Lebo. The seven themes were interconnected with one another and represent the life experiences of the participant in dealing with natural disasters. Conclusion: The consequences of those incident caused the family to experience a psychological burden due to the loss of valuables. Even though it was difficult to accept the fact that you were lose loved ones and valuable objects, support always come from all people so that the family could reduces the burden experienced. With this incident the family experienced economic changes in meeting their daily needs. Through those incident the family realized those was the creator's will so that in the future this natural disaster would not happen again in the Lebo village.
EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM PENCEGAHAN PENANGGULANGAN DAN PENATALAKSANAAN PENYAKIT KUSTA DI PESISIR PULAU MAHANGETANG KABUPATEN SANGIHE TAHUN 2019 Detty Jeane Kalengkongan; Yeanneke Liesbeth Tinungki
Jurnal Ilmiah Sesebanua Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Imiah Sesebanua
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, POLITEKNIK NEGERI NUSA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jis.v5i1.371

Abstract

Penyakit kusta bila tidak ditangani dengan cermat, dapat menyebabkan masalah yang kompleks, baik dari segi medis yaitu cacat fisik, juga sampai pada masalah sosial budaya dan keamanan. Untuk mencapai eliminasi kusta pemerintah melakukan upaya menurunkan beban kusta dan memutuskan transisi kusta melalui pencegahan dengan upaya pemberian kemoprofilaksis Rifampisin dosis tunggal pada setiap orang yang hidup bersama serta berinteraksi dengan pasien kusta. Pulau Mahangetang merupakan salah satu kampung project demonstrasi (pilot) kegiatan pemberian kemoprofilaksis tahun 2019 oleh karena ditemui kasus kusta dengan jumlah 22 orang. Tujuan penelitian mengevaluasi Pelaksanaan Program Pencegahan Penanggulangan dan Penatalaksanaan kusta di pesisir pulau Mahangetang. Metode penelitian deskritif kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Pengumpulan data diperoleh melalui kuesioner, wawancara secara mendalam serta observasi langsung. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling dengan 10 informan yang ditentukan oleh peneliti sendiri. Hasil penelitian ini menemukan, Kebijakan dan strategi Input evaluasi pelaksanaan pencegahan penanggulangan dan penatalaksanaan penyakit kusta belum berjalan secara optimal. Proses evaluasi program berjalan sesuai perencanaan, walaupun hasilnya belum maksimal. Output evaluasi pelaksanaan program dengan cakupan 215 orang (43,39 persen). Kesimpulan Input pelaksanaan belum berjalan secara optimal. Proses dan output pelaksanaan berjalan baik sesuai dengan perencanaan dengan cakupan 43,39 persen. Saran dalam melaksanakan program, sebaiknya melakukan advokasi kepada pihak penentu kebijakan, agar dalam pelaksanaan program dapat berjalan baik sehingga penularan kusta dapat ditekan. If not handled carefully, leprosy can cause complex problems, both from a medical perspective, namely physical disabilities, as well as socio-cultural and security issues. To achieve the elimination of leprosy, the government has made efforts to reduce the burden of leprosy and decide the transition to leprosy through prevention by administering a single dose of chemoprophylaxis Rifampicin to everyone who lives together and interacts with leprosy patients. Mahangetang Island was one of the villages for the demonstration project (pilot) for the provision of chemoprophylaxis in 2019 because 22 cases of leprosy were found.The purpose of this research is to evaluate the implementation of the Prevention and Management Program of leprosy on the coast of Mahangetang Island. Qualitative descriptive research method with a phenomenological approach. Data collection obtained through questionnaires, in-depth interviews and direct observation. The sampling technique was purposive sampling with 10 informants who were determined by the researchers themselves. The results of this study found that the policies and input strategies for evaluating the implementation of leprosy prevention and management have not been running optimally. The program evaluation process goes according to plan, although the results were not optimal. The output of program implementation evaluation covered 215 people (43.39 percent). In conclusion, the implementation input has not run optimally. The implementation process and output went well in accordance with the planning with a coverage of 43.39 percent. Suggestions in implementing the program, it was better to carry out advocacy to policy makers, so that program implementation can run well so that the transmission of leprosy can be suppressed.
PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT TATANAN RUMAH TANGGA DI DAERAH KEPULAUAN Mareike D. Patras; Yeanneke L. Tinungki
Jurnal Ilmiah Sesebanua Vol 4 No 2 (2020): Jurnal Imiah Sesebanua
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, POLITEKNIK NEGERI NUSA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jis.v4i2.379

Abstract

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan cerminan pola hidup keluarga yang senantiasa memperhatikan dan menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga. Semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga keluarga atau anggota keluarga dapat menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan dan dapat berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan dibidang kesehatan di masyarakat. Hal ini terjadi karena kurangnya perilaku hidup bersih sehat keluarga. Guna mencegah penyakit menular dan tidak menular, setiap anggota rumah tangga perlu diberdayakan,dalam melaksanakan 10 (sepuluh) indikator PHBS Pelaksanaan PHBS Kabupaten Sangihe tahun 2017 50,40 persen. Di Kecamatan Tabukan Selatan Tengah 280 KK Keluarga yang di pantau ,yang ber PHBS 114 (40,2 persen). Tujuan penelitian ingin mengetahui Hubungan Pengetahuan dan Sikap Keluarga dengan Perilaku Hidup Bersih Sehat. Metode penelitian dengan menggunakan rancangan Cross sectional study. Hasil penelitian tidak ada hubungan pengetahuan dengan penerapan Perilaku hidup Bersih Sehat diperoleh nilai P yaitu sama dengan 0,171 lebih dari ᾳ 0,05 dan ada hubungan antara sikap dengan penerapan Perilaku hidup Bersih Sehat nilai p value 0,03 kurang dari ᾳ (0.05). Disarankan agar setiap anggota keluarga termotivasi melaksanakan 10 indikator PHBS Clean and Healty living behavior showed of fammily pattern live style in order to prevent infectious and non-communicable diseases, every member of the household needs to be empowered in implementing 10 (ten) indicators of Clean and Healthy Living Behavior. In 2017 the implementation in Sangihe District was 50.40 percent. The family monitored in Tabukan Selatan Tengah Subdistrict were 280 families, apply clean and healthy living behavior about 114 (40.2 percent). Method of those reaseach apply cross sectional study, design and the result of the research show that was not a relationship between knowledge and clean healthy life behavior with p value 0.171 lebih dari ᾳ (0.05) and those was a relationship between attitude and clean healthy lifestyle, p value 0.03 kurang dari ᾳ (0.05). The member of fammily incentive to motivate ten (10) standards of Clean Healty living behavior.
EFEKTIVITAS MEPASANGU (BAKERA) TERHADAP GANGGUAN KESEHATAN PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI KEPERAWATAN POLITEKNIK NEGERI NUSA UTARA Christien Rambi; Ferdinand Gansalangi
Jurnal Ilmiah Sesebanua Vol 4 No 2 (2020): Jurnal Imiah Sesebanua
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, POLITEKNIK NEGERI NUSA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jis.v4i2.380

Abstract

Indonesia memiliki 7.000 dari 30.000 jenis tumbuhan yang tumbuh di Indonesia yang dapat digunakan sebagai obat tradisional. Salah satu metode pengobatan tradisional yang terkenal di Kepulauan Sangihe ialah mepasangu yang diartikan sebagai kegiatan bakera (memanfaatkan uap hasil rebusan berbagai rempah). Kegiatan ini dijadikan tradisi untuk terapi bagi seorang wanita setelah melahirkan dan juga bagi seseorang yang mengalami gangguan kesehatan akibat masuk angin, berupa keluhan pegal di seluruh badan. Tujuan penelitian ini ialah diketahuinya efektifitas mepasangu terhadap gangguan kesehatan pada mahasiswa. Metode yang digunakan ialah desain penelitian cross sectional. Seluruh mahasiswa semester 1, 3, dan 5 Program Studi Keperawatan dijadikan populasi dalam penelitian ini, sedangkan teknik pengambilan sampel ialah purposive sampling berdasarkan pertimbangan beberapa kriteria dengan jumlah sampel sebanyak 46 orang. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juli sampai Oktober 2020. Instrumen penelitian yang digunakan ialah tanaman rempah, seperti buah cengkeh dan daunnya, buah pala dan daunnya, sereh, daun puring, dan daun pandan. Keluhan gangguan kesehatan responden dicatat pada lembar observasi. Analisa data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60,8 persen responden mengalami keluhan gangguan kesehatan insomnia dan masuk angin yang terjadi bersamaan dan keluhan yang paling sedikit ialah hanya keluhan masuk angin pada responden, yaitu sebanyak 3 orang (6.5 persen). Berdasarkan hasil analisis statistik menggunakan uji chi square diperoleh nilai p sama dengan 0,025 dimana nilai p Kurang dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa mepasangu efektif mengatasi gangguan kesehatan. Mepasangu dapat digunakan sebagai terapi tradisional dalam mengatasi gangguan kesehatan berupa insomnia, masuk angin, dan badan pegal. Indonesia has 7,000 of the 30,000 type of plants that grow in Indonesia that used as traditional medicine. One of the well-known traditional healing method in the Sangihe Island is Mepasangu, which is defined as Bakera activity (utilizing steam from the stew of various spices). This activity was used as a tradition for the treatment of a woman after giving birth and also for someone who experiences health problems due to cold, in the form of complaints of stiffness all over the body. The purpose of this study was determine the effectiveness of mepasangu against health problems in students. The method used in this study was a cross sectional research design. All students in semester 1, 3, and 5 of the Nursing Study Program were the population in this study, while the sampling technique was purposive sampling based on the consideration of several criteria. The number of samples that met the inclusion criteria was 46 people. This research was conducted from July to October 2020. The research instrument used were several spices, such as cloves and their leaves, nutmeg and leaves, lemongrass, croton leaves, and pandan leaves. Complaints about the respondent's health problems were recorded on the observation sheet. Anlyze data used the chi square test as a statistical test. The results showed that 60.8 percent of respondents experienced complaints of health problems, insomnia and cold that occurred simultaneously and the least complaints were only complaints of colds among respondents, as many as 3 people (6.5 percent). Based on the results of statistical analysis used the chi square test, the value of p same as 0.025 was obtained where the p value less than 0.05, so it can be concluded that mepasangu was effective in overcoming health problems. Mepasangu can be used as a traditional therapy to treat health problems such as insomnia, cold and body aches.
FAKTOR LINGKUNGAN FISIK RUMAH DAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI WILAYAH PESISIR Maryati Agustina Tatangindatu; Melanthon Juneidi Umboh
Jurnal Ilmiah Sesebanua Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Imiah Sesebanua
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, POLITEKNIK NEGERI NUSA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jis.v5i1.381

Abstract

Tuberculosis (TB) merupakan penyakit infeksi bakteri menahun yang disebabkan oleh Mycobakterium Tuberculosis. TB merupakan salah satu dari sepuluh tertinggi penyebab kematian di seluruh dunia. Di Indonesia angka kematian akibat TB mencapai 140.000 orang per tahun. Di Kabupaten kepulauan Sangihe Tuberkulosis Paru masih menjadi masalah kesehatan. Pada tahun 2018 jumlah kasus TB di Wilayah Puskesmas Manenete berjumlah 21 kasus dan terjadi peningkatan kasus pada tahun 2019 menjadi 44 kasus.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara faktor lingkungan fisik rumah dengan kejadian TB Paru di Wilayah Puskesmas Manente. Jenis penelitian ini merupakan penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Hasil analisis bivariat menggunakan uji chi square menunjukkan variabel kepadatan hunian, ventilasi rumah serta jenis dinding rumah memiliki P value kurang dari 0.05 ( kurang dari 0.05). Untuk variabel jenis lantai diperoleh nilai P value lebih dari 0.05 (lebih dari 0.05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kepadatan hunian, ventilasi rumah dan jenis dinding rumah dengan kejadian TB Paru serta tidak terdapat hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadia TB Paru di Wilayah Puskesmas Manente. Pemerintah dan instansi terkait perlu melakukan promosi kesehatan secara rutin terkait upaya pencegahan TB Paru serta mengedukasi masyarakat untuk dapat meningkatkan daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Tuberculosis (TB) is a chronic bacterial infection caused by Mycobacterium tuberculosis. TB is one of the top ten causes of death worldwide. Death caused by TB amount 140,000 people in a year. In Sangihe District, Pulmonary Tuberculosis was a health problem. In 2018 the number of TB cases in Manente Health Center area were 21 cases and increased in 2019 44 cases. The purpose of this study was to determine the relationship between house physical condition factors with the incidence of pulmonary tuberculosis in the Manente Health Center area. Those reseach were analytic survey research with a cross sectional approach. The results of bivariate analysis used the Chi Square Test showed that the variables of house density, house ventilation and type of house walls had a P value of less than 0.05 (less than 0.05). For the floor type variable, the P value was more than 0.05 (more than 0.05). Based on the results the reaseach concluded that those was a relationship between house density, house ventilation and type of house wall with the incidence of Pulmonary Tuberculosis and there was no relationship between the type of floor of the house and the incidence of Pulmonary Tuberculosis in Manente Health Center area. The government and related officer need to carry out regular health promotions about how to prevent Pulmonary Tuberculosis and educate the public able to increase endurance by implementing a clean and healthy lifestyle.
PENGETAHUAN MASYARAKAT KEPULAUAN SANGIHE TENTANG CORONA VIRUS DISEASE 2019 Melanthon Junaedi Umboh; Maryati Agustina Tatangindatu
Jurnal Ilmiah Sesebanua Vol 4 No 2 (2020): Jurnal Imiah Sesebanua
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, POLITEKNIK NEGERI NUSA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jis.v4i2.387

Abstract

Covid-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus corona. Data resmi dari Pusat Penanggulangan Covid-19 Republik Indonesia menyebutkan bahwa jumlah kasus covid-19 terus mengalami pengingkatan. Pengetahuan tentang Covid-19 merupakan hal yang penting harus ada pada seorang individu sebab beberapa penelitian menemukan pengetahuan yang baik akan mengurangi angka kejadian terjangkit atau penularan Covid-19. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui gambaran pengetahuan Masyarakat tentang Covid-19 dan Pencegahannya di Kampung Naha 1 Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif yang dilaksanakan Kampung Naha 1 Kecamatan Tabukan Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe pada bulan Juli-Desember 2020. Pengambilan sampel secara purposivesampling. Variabel pada penelitian ini yaitu pengetahuan masyarakat tentang covid-19. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan analisis data univariat menggunakan IBM SPSS Statistics 25. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (71.9 persen), termasuk pada kategori usia produktif yaitu 25-54 tahun (71.9 persen) serta memiliki pendidikan terakhir SD (36 persen). Hasil analisis menunjukkan bahwa masyarakat Kampung Naha 1 telah memiliki pengetahuan yang baik tentang penyebab covid-19 dengan persentase 98 persen begitu pula dengan pengetahuan tentang upaya pencegahan covid-19 dengan persentase 96.9 persen. Masyarakat Kampung Naha 1 Kecamatan Tabukan Utara memiliki pengetahuan yang baik dimana sebagian besar responden dapat menjawab pertanyaan tentang penyebab, gejala dan pencegahan penularan covid-19 dengan benar. Covid-19 is a disease caused by the corona virus. Official data from Pusat Penanggulangan Covid-19 Republik Indonesia states that the number of Covid-19 cases continued to increase. Knowledge about Covid-19 was important thing that must be in an individual because several studies have found that good knowledge will reduce the incidence of contracting or transmitting Covid-19. The purpose of those study to describe of community knowledge about the causes and prevetion of Covid-19 in Naha 1, Tabukan Utara, Sangihe. Those research through a quantitative research with descriptive method was carried out in Naha 1, Tabukan Utara, Sangihe in July to December 2020. Sampling method used to purposive sampling. The variable in this study was people knowledge about Covid-19. Data collection used questionnaires and univariate data to analyis used IBM SPSS Statistics 25. The results showed that most of the respondents were male (71.9 percent), included in the productive age category, namely 25-54 years (71.9 percent) and had the latest elementary education (36 percent). The results of the analysis show that the people of Kampung Naha 1 have a good knowledge of the causes of Covid-19 with a percentage of 98 percent as well as knowledge of efforts to prevent Covid-19 with a percentage of 96.9 percent. The people of Kampung Naha 1, North Tabukan District have good knowledge about the causes, symptoms and prevention of covid-19 transmission. Those because the most respondents were correctly answering questions about the causes, symptoms and prevention of Covid-19 transmission.
GAMBARAN AWAL EFEK SAMPING VAKSIN SINOVAC-CORONAVAC PADA PETUGAS KESEHATAN DI KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Chandrayani Simanjorang; Conny Juliana Surudani; Yenny Budiman Makahaghi
Jurnal Ilmiah Sesebanua Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Ilmiah Sesebanua
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, POLITEKNIK NEGERI NUSA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jis.v5i2.465

Abstract

Efek samping vaksin COVID-19 menjadi informasi yang sangat penting diketahui untuk meyakinkan masyarakat dalam rangka peningkatan cakupan vaksinasi. Penelitian ini bertujuan melakukan studi independen untuk mengetahui efek samping Sinovac-CoronaVac pada petugas kesehatan. Metode penelitian berupa cross-sectional pada Juni-Desember 2021. Kuesioner berisi pertanyaan tentang data demografi, anamnesis, dan efek samping vaksin Mayoritas partisipan tidak merasakan efek samping apapun, 61,8 persen setelah dosis 1 dan 88,1 persen setelah dosis 2. Efek samping yang dirasakan umumnya ringan seperti mengantuk (14,7 persen), tidak enak badan (6,5 persen), sakit di lokasi suntikan (4,8 persen), sakit kepala (5,8 persen), demam (5,1 persen), nafsu makan meningkat (3,8 persen), letih/lesu (3,1 persen), bengkak di lokasi suntikan (2,4 persen), dan nyeri ulu hati (0,7 persen). Terdapat perbedaan proporsi efek samping yang signifikan menurut kelompok umur dan riwayat alergi. Efek samping vaksin Sinovac-CoronaVac tergolong ringan bahkan tanpa efek samping, sehingga masyarakat tidak perlu ragu untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19. The study of COVID-19 vaccine side effects is very important to convince the community to increase vaccination coverage. This study aimed to conduct an independent study to determine the side effects of Sinovac-CoronaVac among health workers. The cross-sectional research method was carried out in June-December 2021 on health workers. The questionnaire contains questions about demographic data, medical anamneses, and vaccine side effects. The majority of participants did not feel any side effects, 61.8 percent after dose 1 and 88.1 percent after dose 2. The side effects felt were generally mild, including increased sleep (14.7 percent), feeling unwell (6.5 percent), injection site pain (4.8 percent), headache (5.8 percent), fever (5.1 percent), increased appetite (3.8 percent), fatigue (3.1 percent), injection site swelling (2.4 percent), and nausea (0.7 percent). There was a significant difference in the proportion of side effects according to age group and allergy history. The side effects of the Sinovac-CoronaVac vaccine are mild and even without side effects, so people don't need to hesitate to get the COVID-19 vaccination.
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG STUNTING PADA BAYI DI BAWAH DUA TAHUN (BADUTA) DI PUSKESMAS MANGANITU KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Jelita Siska Herlina Hinonaung; Astri Juwita Mahihody; Grace Angel Wuaten
Jurnal Ilmiah Sesebanua Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Ilmiah Sesebanua
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, POLITEKNIK NEGERI NUSA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jis.v5i2.470

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang menimbulkan dampak serius perkembangan fisik, mental, dan emosional anak-anak, dan bukti menunjukkan bahwa efek dari stunting pada usia muda, khususnya pada perkembangan otak, sulit untuk memperbaikinya pada usia lanjut walaupun jika anak menerima gizi yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengambarkan pengetahuan ibu tentang stunting pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Manganitu Kabupaten Kepulauan Sangihe. Jenis penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Manganitu pada bulan Juni-September 2021. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh ibu Baduda di wilayah kerja Puskesmas Manganitu. Teknik pengambilan sampel yaitu consecutive sampling yang dilakukan di beberapa posyandu dari bulan Juni-September 2021. Seluruh ibu balita dibawah usia dua tahun (Baduda) yang datang ke Posyandu serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dimasukan menjadi sampel penelitian. Adapun kriteria inklusi adalah ibu Baduda bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusinya yaitu ibu Baduda yang memiliki anak yang lahir dengan cacat bawaan. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner pengetahuan tentang stunting. Analisis data menggunakan komputerisasi. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas umur ibu berada pada umur ideal melahirkan (67,2 persen), pendidikan ibu berada pada kategori rendah (55,2 persen), tingkat pengetahuan ibu kurang baik (58,6 persen). Baduda yang mengalami stunting sebanyak 8,6 persen. Item pertanyaan pengetahuan tentang kekurangan gizi kronis penyebab terjadi stunting menjawab dengan salah sebanyak 58,6 persen dan Baduta stunting menjadikan anak rentan terhadap penyakit menjawab dengan salah sebanyak 53,4 persen. Kesimpulan gambaran pengetahuan ibu tentang stunting pada Baduta di Wilayah Kerja Puskesmas Manganitu Kabupaten Kepulauan Sangihe berada pada kategori rendah. Stunting is a chronic nutritional problem that seriously affects children's physical, mental and emotional development, and evidence shows that the effects of stunting at a young age, particularly on brain development, are difficult to correct in old age even if children receive proper nutrition. This study aims to describe maternal knowledge about stunting in children under two years old in the Manganitu Community Health Center Work Area, Sangihe Islands Regency. This type of research uses a cross-sectional design. This research was carried out in the working area of the Manganitu Health Center in June-September 2021. The population of this study was all mothers of children under two years old in the work area of the Manganitu Health Center. The sampling technique was consecutive sampling conducted at several Integrated Health Post from June-September 2021. All mothers of children under two years old who came to the Integrated Health Post and met the inclusion and exclusion criteria were included in the study sample. The inclusion criteria were that children under two years old his mother was willing to be a respondent. The exclusion criteria were children under two years old mothers who had children who were born with congenital defects. The data collection technique used a knowledge questionnaire about stunting. Data analysis using computerization. The results showed that the majority of the mothers were at the ideal age for giving birth (67.2 percent), the mother's education was in a low category (55.2 percent), the mother's level of knowledge was not good (58.6 percent). Children under two years old who experienced stunting were 8.6 percent. Question items about knowledge about chronic malnutrition causing stunting were answered incorrectly by 58.6 percent and children under two years old stunting making children vulnerable to disease answered incorrectly as much as 53.4 percent. The conclusion of the description of maternal knowledge about stunting in children under two years old in the Manganitu Health Center Work Area, Sangihe Islands Regency is in a low category.
GAMBARAN PELAKSANAAN SISTEM RUJUKAN PUSKESMAS DI DAERAH KEPULAUAN Meistvin Welembuntu; Iswanto Gobel
Jurnal Ilmiah Sesebanua Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Ilmiah Sesebanua
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat, POLITEKNIK NEGERI NUSA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/jis.v5i2.471

Abstract

Salah satu prioritas reformasi kesehatan adalah meningkatkan dan pemerataan pelayanan yang bermutu bagi masyarakat di daerah terpencil dan kepulauan. Salah satu permasalahan di daerah kepulauan dan daerah terluar seperti pada wilayah kerja Puskesmas Nusa Tabukan adalah sistem rujukan dari Puskesmas menuju Rumah Sakit Tipe C yaitu RSD Liun Kendage Tahuna. Oleh karena itu perlunya suatu studi untuk memiliki gambaran pelaksanaan sistem rujukan puskesmas di daerah Kepulauan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan rancang bangun cross sectional. Penelitian ini dilakukan di kampung Nipa, Pulau Nusa yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Nusa Tabukan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang pernah mendapatkan pelayanan rujukan berupa pendampingan oleh perawat atau petugas kesehatan rerata dalam 3 tahun terakhir dengan jumlah sampel sebanyak 59 orang. Hasil Penelitian ini menunjukkan pelaksanaan rujukan pasien di wilayah kepulauan Puskesmas Nusa Tabukan berjalan dengan baik walaupun belum terdapat perahu/ambulance laut yang terstandar dan masih menggunakan perahu komersil/masyarakat yang dimodifikasi sementara untuk SOP pelaksanaan rujukan secara baku belum ditetapkan dan masih bersifat fleksibel. Diharapkan kerjasama antara pihak pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan dan perangkat kampung dalam memfasilitasi transportasi rujukan pasien. One of the priorities for health reformation is to improve and equal health services to the community in remote areas and archipelagos. One of the problems in the islands and outermost areas, for example in the working area of ​​the Nusa Tabukan Health Center, is the referral system from the Public Health to Type C Hospital, namely RSD Liun Kendage Tahuna. Therefore, a study is needed to have an overview of the implementation of the Public Health center referral system in the Archipelago area. This research was a descriptive study, with a cross-sectional design. This research was conducted in Nusa Utara Island, which is the working area of ​​the Nusa Tabukan Health Center. The population of this study was all people who had received referral services in the form of assistance by nurses or health workers in the last 3 years on average with a total sample of 59 participants. The results of this study indicate that the implementation of patient referrals in the islands of Nusa Tabukan Health Center is going well even though there is no standardized boat/ambulance and still uses modified commercial/community boats, while the operating standard procedure (SOP )referral has not been established and it depends on the situation. This research recommends that cooperation between local government through the Health Department and village officials should facilitate the transportation of the patient.

Page 7 of 10 | Total Record : 99