cover
Contact Name
Richa Mardianingrum
Contact Email
j.pharmacosript@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
j.pharmacosript@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pembela Tanah Air No.177, Kahuripan, Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat 46115
Location
Kota tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Pharmacoscript
ISSN : 26224941     EISSN : 26851121     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Pharmacoscript merupakan jurnal penelitian yang dikelola oleh Prodi Farmasi dibawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Perjuangan Tasikmalaya (P-ISSN: 2622-4941 E-ISSN: 2685-1121) Jurnal ini merupakan media publikasi penelitian dan review artikel pada semua aspek ilmu farmasi yang bersifat inovatif, kreatif, original dan didasarkan pada scientific yang diterbitkan 2 kali dalam 1 tahun yakni pada bulan Agustus dan Februari. Jurnal ini memuat bidang khusus di farmasi seperti kimia farmasi, teknologi farmasi, farmakologi, biologi farmasi, farmasi klinik, dan bioteknologi farmasi.
Arjuna Subject : -
Articles 232 Documents
STUDI ETNOMEDISIN TUMBUHAN OBAT ANTIPIRETIK DAN ANTIGASTRITIS PADA MASYARAKAT DESA SIRNABAYA KECAMATAN RAJADESA KABUPATEN CIAMIS Hendy, Suhendy; Vina, Alvionita; Ira, Rahmiyani
Pharmacoscript Vol. 7 No. 2 (2024): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v7i2.1775

Abstract

Etnomedisin adalah pengetahuan kesehatan dari sudut pandang masyarakat lokal paa suatu etnis tertentu. Masyarakat Desa Sirnabaya Kecamatan Rajadesa Kabupaten Ciamis masih memanfaatkan pengobatan tradisional (Batra) untuk kasus demam dan gastritis e. Praktik pengobatannya selain dilakukan oleh Batra (praktik pengobatan tradisional)  di desa tersebut, dilakukan juga secara mandiri oleh masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan wawasan tentang penggunaan obat-obatan sebagai pengobatan antipiretik dan antigastritis yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Sirnabaya. Jenis penelitian menggunakan desain kualitatif metode deskriptif dengan teknik Purposive dan Snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan nilai frekuensi tertinggi sitasi kasus antipiretik adalah daun dadap serep 50,94%, famili fabaceae 53,92%, bagian daun 76,69%, cara pengolahan ditumbuk 64,49%, dan cara penyajian dibalurkan 58,80%. Sedangkan pada kasus gastritis adalah kunyit 62,33%, famili zingiberaceae 91,86%, bagian rimpang 73,71%, cara pengolahan direbus 41,46%, dan cara penyajian diminum 99,45%. Sedangkan nilai RKI  (Rasio Kesepakatan Informan) tertinggi pada kasus antipiretik yaitu influenza sebesar 0,90 dan kasus antigastritis yaitu anoreksia sebesar 0,88.
PENGETAHUAN DAN SIKAP TENAGA KESEHATAN TERHADAP OBAT HALAL DI KOTA SAMARINDA Juniza Firdha, Suparningtyas; Abdul Rahman, Janggo; Laode, Rijai
Pharmacoscript Vol. 7 No. 2 (2024): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v7i2.1777

Abstract

Produk farmasi halal mendapatkan perhatian yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir karena meningkatnya permintaan akan produk yang sesuai dengan prinsip Islam. Sebagai pemangku kepentingan utama dalam industri pelayanan kesehatan, petugas kesehatan memainkan peran penting dalam memastikan keselamatan dan kesejahteraan pasien, khususnya dokter dan apoteker sebagai lini terdepan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat pengetahuan dan sikap tenaga kesehatan terhadap obat halal, menggali pemahaman mereka tentang obat halal dan sikap mereka terhadap peresepan dan pemberian produk tersebut. Metode penelitian observasi secara cross sectional menggunakan kuisioner terhadap 58 apoteker dan dokter di kota Samarinda yang ditentukan secara purposive sampling. Beberapa karakteristik responden juga dianalisis selain tingkat pengetahuan dan sikap. Tingkat pengetahuan dan sikap ditentukan dengan analisis univariat sehingga diperoleh bahwa sebaran tingkat pengetahuan apoteker dan dokter yang tergolong tinggi, secara berurutan yaitu 89,4% dan 85,2%. Begitu pula sikap apoteker dan dokter juga tergolong tinggi terhadap obat halal, secara berurutan yaitu sebesar 82,4% dan 87,5%.
HUBUNGAN EFEK SAMPING OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TB PARU DI PUSKESMAS KETANGGUNGAN Nadira Alvi, Syahrina; Siti, Pandanwangi; Nina Pratiwi , Susanti; Try, Utami
Pharmacoscript Vol. 7 No. 2 (2024): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v7i2.1782

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Salah satu faktor penyebab rendahnya angka kesembuhan adalah ketidakpatuhan dalam pengobatan pasien TB. Hal ini disebabkan karena adanya efek samping obat TB, sehingga sebagian pasien memilih berhenti mengkonsumsi obat anti tuberkulosis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kejadian efek samping obat anti tuberkulosis (OAT) terhadap kepatuhan minum obat pada pasien TB paru di Puskesmas Ketanggungan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, rancangan penelitian menggunakan corelational study, dengan pendekatan yang digunakan bersifat cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 73 pasien TB paru di Puskesmas Ketanggungan. Penelitian dilakukan dengan  hasil kuesioner untuk menilai efek samping dan kepatuhan. Hubungan antara kepatuhan dan efek samping minum obat OAT dianalisis menggunakan Chi-Square test. Penelitian ini menggunakan interval kepercayaan 95% dan taraf signifikan 5%. Jika nilai p < 0,05, menunjukan perbedaan yang bermakna, sebagian besar responden mengalami efek samping ringan sebanyak (58,9%) dan sebagian besar responden patuh dalam mengkonsumsi obat sebanyak (74,0%). Pada penelitian disimpulkan bahwa ada hubungan yang cukup erat antara kejadian efek samping Obat Anti Tuberkulosis (OAT) terhadap kepatuhan minum obat pada pasien TB paru dengan tingkat kekuatan korelasi yang cukup.
FORMULASI DAN EVALUASI DARI EKSTRAK Monascus purpureus SEBAGAI PEWARNA ALAMI KOSMETIK DEKORATIF Resha, Shaleha; Anna, Yuliana; Lusi, Nurdianti; Nabila Aini, Wahyudin
Pharmacoscript Vol. 7 No. 2 (2024): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v7i2.1794

Abstract

Penggunaan kosmetik dekoratif saat ini semakin meningkat terutama pada kaum wanita yang selalu ingin terlihat cantik sehingga membuat penampilan terlihat lebih percaya diri dan dapat menutupi kekurangan pada area wajah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pigmen kapang Monascus purpureus dapat digunakan sebagai pewarna alami pada sediaan kosmetik dekoratif.  Pigmen merupakan metabolit sekunder yang diproduksi melalui proses fermentasi Monascus purpureus pada beras sebagai substrat. Beras diekstrasi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Formula kosmetik yang dibuat adalah perona pipi, perona mata dan lipcream, dengan 4 formula untuk setiap sediaan (F0-F3). Evaluasi sediaan yang dilakukan meliputi uji organoleptik, uji daya oles, uji stabilitas, uji pH, uji iritasi, uji homogenitas, uji kesukaan, uji keretakan, dan uji daya sebar. Sediaan tersebut memiliki konsentrasi yang berbeda. Hasil analisis data metode friedmant menunjukkan bahwa F2 memiliki lipcream yang paling disukai, F3 memiliki perona pipi yang paling disukai, dan F2 memiliki perona mata yang paling disukai.
POTENSI EKSTRAK ETANOL 96% KULIT LIMAU KUIT (Citrus hystrix DC) SEBAGAI ANTIBAKTERI PADA Staphylococcus aureus DAN Propionibacterium acne Nurbidayah, Nurbidayah; Muhammad, Arsyad; Eny, Hastuti; Nur, Amalia
Pharmacoscript Vol. 7 No. 2 (2024): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v7i2.1899

Abstract

Limau kuit (Citrus hystrix DC) memiliki buah dengan cita rasa yang khas dan memiliki rasa asam. Limau kuit di Kalimantan Selatan lebih populer sebagai penyedap rasa pada dunia kuliner dan bumbu dapur dengan cara diambil perasan buahnya. Penelitian terkait kulit limau kuit dengan ekstraksi metode soxletasi belum banyak diteliti, sehingga tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui senyawa zat aktif dalam ekstrak kulit limau kuit dan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan  Propionibacterium acne. Esktraksi dilakukan menggunakan alat soxlet dan uji antibakteri dilakukan dengan menggunakan difusi sumuran. Hasil skrining fitokimia dengan menggunakan uji tabung menunjukan hasil bahwa ekstrak limau kuit menggunakan pelarut etanol 96% mengandung senyawa saponin, alkaloid, fenol, tannin, triterpenoid dan flavonoid. Hasil pengukuran zona hambat ditunjukan pada konsentrasi 20% terkategori lemah, konsentrasi 40% terkategori sedang, dan konsentrasi 60%, 80%, dan 100% terkategori kuat dalam menghambat pertumbuhan S. aureus yaitu berturut-turut 11, 01mm, 12, 64 mm, dan 18,99 mm. Pada bakteri P. acne sampai konsentrasi 20%, 40%, 60%, dan 80% masih memberikan respon hambatan yang lemah dan pada konsentrasi 100% terkategori sedang dengan diameter zona hambat 5,58mm. Hal tersebut menunjukkan pengujian antibakteri limau kuit lebih efektif menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dibandingkan dengan P. acne.
STUDI PREFORMULASI GINGEROL DALAM SEDIAAN GEL DENGAN PERBANDINGAN BASIS CARBOPOL DAN VISCOLAM Laras Rizkia, Widyastuti; Diana Sri, Zustika; Lusi, Nurdianti; Firman, Gustaman; Sisca Julyani, Amanda
Pharmacoscript Vol. 7 No. 2 (2024): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v7i2.1904

Abstract

Jerawat merupakan suatu keadaan yang seringkali menurunkan kepercayaan diri seseorang karena mengganggu penampilan. Pencegahan kulit berjerawat dapat dilakukan dengan perawatan menggunakan kosmetik dalam bentuk sediaan gel  untuk penghantaran obat topikal. Tujuan dari penelitian ini untuk membandingkan penggunaan Carbopol dan viscolam sebagai gelling agent dalam formulasi sediaan gel dengan menggunakan bahan aktif gingerol. Metode penelitian meliputi pre-formulasi gingerol, pengujian aktivitas antibakteri gingerol menggunakan metode difusi sumuran, pembuatan formula sediaan gel gingerol dengan konsentrasi 5%, 10%, dan 15% pada masing-masing gelling agent (carbopol dan viscolam). Evaluasi sediaan meliputi pengujian organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, dan viskositas. Penelitian ini menunjukkan bahwa gingerol berhasil dibuat dalam sediaan gel dengan  aktivitas antibakteri gingerol terhadap Staphylococcus aureus dengan daya hambat sebesar 14,3%-18,5% dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi sediaan gel sebagai antibakteri. Hasil evaluasi fisik sediaan gel menunjukkan bahwa gel dengan carbopol lebih jernih dan lebih kental dibandingkan dengan gel yang menggunakan viscolam sehingga mempengaruhi nilai daya sebar sediaannya.
PELEPASAN SECARA IN-VITRO MANGOSTIN, PIPERIN, DAN CURCUMIN DALAM SEDIAAN PATCH ORAL Ine, Suharyani; Nor, Latifah; Ani, Fatonah; Azhar Dimas, Putra; Siti, Fatma; Amelia, Ramadhita; Isti, Daruwati; Ade, Meisa
Pharmacoscript 2025: Special Issue Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v1iSpecial.1983

Abstract

Sediaan patch sudah mulai digunakan sebagai alternatif sediaan padat yang inovatif dan menyenangkan ketika digunakan secara oral. Pada penelitian sebelumnya, bentuk patch berbasis kitosan dan alginat dipilih untuk penghantaran mangostin, namun memberikan masalah pada saat pencampuran. Mangostin yang diformulasikan dalam sediaan patch oral dengan basis natrium alginat dan kitosan mengikuti pelepasan Korsmeyer-Peppas sebanyak 80,34+0,32% pada jam ke-3, sementara pelepasan kurkumin hanya sekitar 13%. Pada penelitian ini, dibuat patch patch oral mangostin, piperin dan kurkumin dengan basis yang berbeda yaitu kitosan, hidroksipropilmetilselulosa dan gelatin. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi pelepasan tiga zat yang berbeda, yaitu mangostin, piperin, dan kurkumin dalam patch oral dengan basis yang sama. Pelepasan patch oral mangostin, piperin, dan kurkumin diuji menggunakan media saliva buatan dan waktu uji selama 3 jam. Studi ini memperlihatkan bahwa profil pelepasan mangostin, piperin, dan kurkumin, dari sediaan patch oral mengikuti model Korsmeyer-Peppas dengan nilai R2 masing-masing 0,9536; 0,9091; dan 0,903. Untuk mangostin mencapai konsentrasi tertinggi yaitu 14,93% pada menit ke-90, dan pada jam ke-3 melepaskan zat aktif 90,96%. Sementara kurkumin mencapai konsentrasi tertinggi pada menit ke-15 sebesar 24,34% dengan pelepasan 95,72% pada jam ke-3, dan piperin mencapai konsentrasi tertinggi pada menit ke-15 sebesar 11,52% dan pada jam ke-3 sebesar 92,33%. Pada model pelepasan Korsmeyer-Peppas, terjadi difusi dan erosi yang disebabkan oleh penggunaan polimer dalam sediaan patch, sehingga pelepasan akan cepat di awal dan menjadi stagnan di akhir. Fenomena ini bermanfaat untuk mendapatkan onset of action yang cepat, namun stabil dalam waktu lama.
FORMULASI DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SEDIAAN EYE PATCH EKSTRAK ETANOL BUAH KUPA (Syzygium polycephalum) Nina, Karlina; Rima Yulia, Senja; Siti Azzahra Nurul, Fazri; Dea, Martelinda; Lela, Sulastri; Sulistiorini, Indriaty
Pharmacoscript 2025: Special Issue Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v1iSpecial.2368

Abstract

Tanda-tanda Penuaan seperti keriput, kantung mata, dan lingkar hitam sering muncul di sekitar mata akibat paparan sinar matahari. Senyawa metabolit pada Buah kupa seperti flavonoid bermanfaat sebagai antioksidan yang dapat menghambat proses penuaan. Ekstrak etanol buah kupa dibuat sediaan Eye patch dengan konsentrasi 0,5%;1%;2%. Penelitian bertujuan untuk mengeksplorasi potensi ekstrak buah kupa (Syzygium polycephalum) sebagai produk Eye Patch dan untuk mengetahui kemapuan aktivitas antioksidannya. Ekstrak buah kupa diperoleh dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, evaluasi eye patch mencakup pengamatan terhadap organoleptic, penentuan bobot, pengukuran pH, rasio swelling, dan pengujian ketahanan lipatan. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil). Berdasarkan penelitian yang diperoleh bahwa ekstrak etanol 70% buah kupa (Syzygium polycephalum) Dapat diformulasikan menjadi sediaan eye patch. Aktivitas antioksidan eye patch dengan konsentrasi ekstrak buah kupa 0,5%; 1%; dan 2% masing-masing memiliki nilai IC50 64,07 ± 0,14 µg/mL; 56,97 ± 0,27 µg/mL dan 53,21 ± 0,34 µg/mL dengan kategori antioksidan Kuat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sediaan eye patch berbasis ekstrak buah kupa memberikan pendekatan baru dalam kosmetik antioksidan alami dengan aktivitas antioksidan yang kuat.
ANALISIS KCN MENGGUNAKAN METODE TITRASI ARGENTOMETRI LIEBIG-DENIGES PADA AIR RENDAMAN SINGKONG YANG DIRENDAM AIR KELAPA Emma, Emawati; Jigan Az, Zahra; Winasih, Rachmawati
Pharmacoscript 2025: Special Issue Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v1iSpecial.2429

Abstract

Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan beraneka ragam, Keanekaragaman tersebut membuka banyak peluang alternatif terhadap pengganti produk kimia yang dapat menimbulkan dampak negatif baik bagi kesehatan maupun lingkungan. Salah satu pemanfaatan tanaman ialah sebagai pengendali hama tikus alami (rodentisida). Singkong diketahui memiliki kandungan senyawa berbahaya yakni sianida (HCN) jika dilakukan pengupasan dan disimpan dalam jangka waktu yang lama. Sementara itu, air kelapa merupakan sumber kalium elektrolit yang baik, dan menyediakan 600 miligram dalam satu cangkir. Jika dilakukan perendaman singkong menggunakan air kelapa maka Ion kalium (K+) akan bereaksi dengan sianida (CN-) dalam singkong dan membentuk senyawa Kalium Sianida (KCN) yang memiliki efek racun. Pemanfaatan racun KCN tersebut telah banyak digunakan untuk mengendalikan hama pengerat oleh masyarakat, akan tetapi penelitian mengenai kandungan dan kadar senyawa KCN pada air rendaman tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar KCN pada air rendaman singkong dengan air kelapa sebagai racun untuk hewan pengerat. Metode yang digunakan untuk analisis KCN adalah argentometri Liebig-Deniges dimana digunakan larutan AgNO3 sebagai pentiter dengan indikator ammonia dalam KI. Sebelum penetapan kadar, dilakukan validasi metode presisi dan akurasi. Hasil analisis KCN dalam sampel air rendaman dengan perbandingan 1 kg singkong : 2 liter air kelapa memiliki kadar KCN sebesar 2,229 mg/20 mL. Dengan kadar tersebut, pemberian sebanyak 20,6 mL sediaan pada tikus berbobot 200 g setara dengan dosis 11,5 mg/kg BB, yang merupakan nilai LD50 KCN pada tikus dewasa.
AKTIVITAS ANTIMIKROBA FRAKSI DAUN PUCUK MERAH Syzygium myrtifolium (Roxb.) Walp. TERHADAP Escherichia coli dan Staphylococcus aureus DENGAN METODE MIKRODILUSI M07-A6 CLSI Shendi, Suryana; Belya Anindia, Hermawan; Dea Aulia, Ramadhanty
Pharmacoscript 2025: Special Issue Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v1iSpecial.2433

Abstract

Tanaman pucuk merah (Szygium myrtifolium) memiliki kandungan metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini mengevaluasi aktivitas antimikroba fraksi daun pucuk merah (Syzygium myrtifolium) terhadap bakteri patogen Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% dilanjutkan dengan fraksinasi cair-cair menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan air. Aktivitas antibakteri diuji melalui metode difusi cakram dan mikrodilusi 96-sumur dengan tiga kali replikasi untuk menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat memiliki aktivitas paling efektif, menghasilkan zona hambat terbesar mencapai 16,5 mm terhadap S. aureus dan 16,3 mm terhadap E. coli pada konsentrasi 40%. Nilai KHM terendah diperoleh sebesar 3,12% pada fraksi etil asetat dan n-heksana terhadap S. aureus, sedangkan KHM untuk E. coli pada seluruh fraksi adalah 6,25%. Fraksi etil asetat merupakan fraksi yang paling efektif, memberikan penghambatan yang lebih kuat pada kedua bakteri uji dibandingkan fraksi lainnya. Penelitian lebih lanjut sangat disarankan untuk fokus pada isolasi senyawa aktif spesifik dari fraksi ini dan melakukan uji toksisitas untuk memastikan keamanannya untuk pengembangan farmasi.