cover
Contact Name
Richa Mardianingrum
Contact Email
j.pharmacosript@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
j.pharmacosript@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pembela Tanah Air No.177, Kahuripan, Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat 46115
Location
Kota tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Pharmacoscript
ISSN : 26224941     EISSN : 26851121     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Pharmacoscript merupakan jurnal penelitian yang dikelola oleh Prodi Farmasi dibawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Perjuangan Tasikmalaya (P-ISSN: 2622-4941 E-ISSN: 2685-1121) Jurnal ini merupakan media publikasi penelitian dan review artikel pada semua aspek ilmu farmasi yang bersifat inovatif, kreatif, original dan didasarkan pada scientific yang diterbitkan 2 kali dalam 1 tahun yakni pada bulan Agustus dan Februari. Jurnal ini memuat bidang khusus di farmasi seperti kimia farmasi, teknologi farmasi, farmakologi, biologi farmasi, farmasi klinik, dan bioteknologi farmasi.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
FORMULASI LIKUISOLID TABLET ASAM MEFENAMAT DENGAN VARIASI PROPILEN GLIKOL DAN AVICEL PH 102 TERHADAP PENINGKATAN LAJU DISOLUSI Putri Yola Desnera; Anugrah Muhammad Rifqie Satria; Rahmi Kamilia; Andriyannto Adit
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2756

Abstract

Asam mefenamat merupakan obat antiinflamasi dan analgesik yang termasuk dalam Biopharmaceutical Classification System (BCS) kelas II, sehingga memerlukan upaya peningkatan kelarutan untuk memperoleh absorpsi yang optimal. Likuisolid merupakan salah satu teknologi formulasi baru yang dapat digunakan untuk meningkatkan laju disolusi obat yang sukar larut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi perbandingan propilen glikol dan Avicel PH 102 terhadap sifat fisik tablet likuisolid asam mefenamat. Metode penelitian meliputi pengumpulan bahan baku, pencampuran dengan teknik likuisolid, evaluasi massa cetak asam mefenamat, pembuatan tablet dengan metode kempa langsung, evaluasi tablet, serta analisis data menggunakan uji ANOVA satu arah. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi persyaratan mutu fisik massa cetak yang ditetapkan. Pada evaluasi tablet, terdapat perbedaan bermakna antar formula, sedangkan uji disolusi menunjukkan bahwa F1 dan F2 mencapai nilai Q >80% pada menit ke-20, F3 pada menit ke-30, dan tablet pembanding (asam mefenamat film-coated) pada menit ke-30, (asam mefenamat non film-coated)  pada menit ke-35. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa formula F2 dengan perbandingan 1:11 merupakan formula terbaik.
FORMULASI SEDIAAN MASKER GEL PEEL OFF DARI EKSTRAK DAUN GEDI (Abelmoschus manihot L.) DENGAN VARIASI HUMEKTAN Timburas Mitra Wynne; Tatuh Heru; Buloglabna Markus
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2810

Abstract

Penyakit inflamasi kulit atau jerawat, utamanya dipicu oleh hiperaktivitas kelenjar sebaceous yang terinfeksi bakteri Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acnes. Daun gedi (Abelmoschus manihot L.) diketahui mengandung metabolit sekunder berupa flavonoid, alkaloid, saponin, serta tanin yang memiliki khasiat antibakteri terhadap kedua bakteri tersebut. Studi eksperimental ini dilakukan untuk menganalisis dampak penggunaan variasi humektan—yakni propilen glikol, gliserin, dan sorbitol—pada konsentrasi 15% terhadap kualitas fisik sediaan masker gel peel off berbahan dasar ekstrak etanol daun gedi. Pengujian fisik mencakup evaluasi organoleptis, homogenitas, nilai pH, daya lekat, daya sebar, viskositas, durasi pengeringan, serta uji stabilitas (cycling test). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa seluruh formula memiliki karakteristik visual berupa warna coklat yang seragam, homogen, serta nilai pH 5 yang masuk dalam standar sediaan topikal. Secara rinci, Formula III (sorbitol) menunjukkan daya lekat optimal (8,25 ± 0,18 detik), Formula I (propilen glikol) memberikan daya sebar terluas (5,57-6,43 ± 0,43cm) dengan waktu kering tercepat (24,66±0,42menit), dan Formula II (gliserin) menghasilkan viskositas terbaik (3,1186 ± 385 cPs) yang paling sesuai dengan standar. Selain itu, seluruh formula terbukti stabil melalui uji cycling test. Sebagai simpulan, perbedaan jenis humektan memberikan pengaruh signifikan terhadap sifat fisik sediaan, di mana Formula II (gliserin) terpilih sebagai formula yang paling unggul berdasarkan parameter viskositasnya.
POTENSI FITOKIMIA DAN AKTIVITAS FARMAKOLOGIS KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) DAN ARABICA (Coffea arabica) SEBAGAI AGEN ANTI-INFLAMASI: TINJAUAN SISTEMATIS DAN ANALISIS BIBLIOMETRIK Lesmana Citra; Susetyarini Rr. Eko; Iffan Mochamad
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2823

Abstract

Peradangan kronis merupakan pemicu utama berbagai penyakit degeneratif yang memerlukan intervensi nutrisi strategis. Kopi diyakini memiliki potensi farmakologis sebagai agen anti-inflamasi, namun perbandingan efikasi antar spesies dan mekanisme molekulernya perlu dipetakan secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi anti-inflamasi kopi melalui desain metode campuran yang mengintegrasikan Systematic Literature Review (SLR) dan analisis bibliometrik. Mengacu pada protokol PRISMA 2020, pencarian literatur dilakukan pada basis data Scopus (periode 2016–2026), yang kemudian diekstraksi menjadi 11 artikel eksperimental utama  mencakup studi spesies-spesifik maupun studi pendukung mekanistik pada senyawa bioaktif kunci dan divisualisasikan menggunakan perangkat lunak VOSviewer. Hasil pemetaan bibliometrik menunjukkan pergeseran tren riset menuju pembuktian mekanistik tingkat molekuler. Sintesis kualitatif mengindikasikan bahwa kopi Robusta (Coffea canephora) berpotensi memiliki efikasi terapeutik yang lebih unggul dibandingkan Arabika (Coffea arabica) berkat densitas asam klorogenat (CGA) yang lebih tinggi, meskipun bukti bioaktivitas langsung pada Robusta masih terbatas dibandingkan Arabika. Secara mekanistik, matriks senyawa kopi bekerja sinergis dengan menekan aktivasi kompleks TLR4/MyD88 dan menghambat jalur persinyalan Nuclear Factor-kappa B (NF-κB), sekaligus mengaktivasi pertahanan antioksidan Nrf2. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa ekstrak kopi utuh, khususnya dari spesies Robusta, berprospek tinggi sebagai terapi anti-inflamasi alami, meskipun uji klinis lanjutan pada manusia dan studi bioaktivitas Robusta yang lebih banyak mutlak diperlukan untuk standarisasi dosis dan penguatan generalisasi.Mengacu pada protokol PRISMA 2020, pencarian literatur dilakukan pada basis data Scopus (periode 2016–2026), yang kemudian diekstraksi menjadi 11 artikel eksperimental utama dan divisualisasikan menggunakan perangkat lunak VOSviewer. Hasil pemetaan bibliometrik menunjukkan pergeseran tren riset menuju pembuktian mekanistik tingkat molekuler. Sintesis kualitatif mengonfirmasi bahwa kopi Robusta (Coffea canephora) memiliki efikasi terapeutik yang lebih unggul dibandingkan Arabika (Coffea arabica) berkat densitas asam klorogenat (CGA) yang lebih tinggi. Secara mekanistik, matriks senyawa kopi bekerja sinergis dengan menekan aktivasi kompleks TLR4/MyD88 dan menghambat jalur persinyalan Nuclear Factor-kappa B (NF-κB), sekaligus mengaktivasi pertahanan antioksidan Nrf2. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa ekstrak kopi utuh, khususnya dari spesies Robusta, berprospek tinggi sebagai terapi anti-inflamasi alami, meskipun uji klinis lanjutan pada manusia mutlak diperlukan untuk standarisasi dosis.
EFFECTS OF THE ETHANOL EXTRACT OF Coleus scutellarioides ON BODY WEIGHT GAIN, ABDOMINAL CIRCUMFERENCE, AND LIVER INDEX IN HIGH-FAT DIET-FED MICE Ligarsari Dwi Lista; Halimah Eli; Sumiwi Sri Adi; Levita Jutti
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2834

Abstract

Insulin resistance (IR) is characterized by a reduced responsiveness of insulin-sensitive tissues to endogenous insulin. Excessive caloric intake promotes the accumulation of free fatty acids in skeletal muscle and the liver, resulting in the formation of lipotoxic metabolites that impair insulin signaling and glucose uptake. Although Coleus scutellarioides has demonstrated antihyperglycemic activity, its potential to ameliorate obesity-associated metabolic disturbances, particularly high-fat diet-induced insulin resistance, remains largely unexplored. IR is also associated with visceral fat accumulation, which is strongly correlated with increased body weight. Flavonoids such as quercetin have been reported to ameliorate IR in high-fat diet-fed mice. This study aimed to evaluate the effects of ethanolic extract of C. scutellarioides on body weight gain, abdominal circumference, and liver index in high-fat diet-induced mice. Twenty-five male Swiss Webster mice were randomly divided into five groups (n = 5/group), including normal control, negative control, metformin-treated, EECS 250 mg/kg, and EECS 500 mg/kg. Data were analyzed using one-way ANOVA followed by the LSD post hoc test. EECS at doses of 250 mg/kg and 500 mg/kg significantly attenuated body weight gain by 15.06% and 13.34%, respectively, while also reducing abdominal circumference and liver index compared with the negative control group (p < 0.05). These findings suggest that EECS possesses anti-obesity activity and may ameliorate metabolic alterations associated with high-fat diet feeding.
ANALISIS UTILITAS BIAYA REGIMEN CHOP DIBANDINGKAN RCHOP PADA PASIEN LIMFOMA NON-HODGKIN DI RSUP DR. SARDJITO MENGGUNAKAN EQ-5D-5L: STUDI KOHORT Ma&#039;rifah Ma&#039;rifah; Supadmi Woro; Irham Lalu Muhammad; Muliawati Retno; Gustinanda Rizky; Khair Riat El
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2842

Abstract

Secara global Limfoma Non-Hodgkin (LNH) merupakan salah satu keganasan hematologi dengan angka kejadian tertinggi dan menempati urutan ke-13 di dunia. Prevalensi di Asia selama lima tahun terakhir mencapai 710.721 kasus (40,9%) dengan 235.442 kasus baru (42,5%). Regimen Cyclophosphamide, Doxorubicin, Vinkristine, dan Prednisone (CHOP) merupakan kemoterapi konvensional, sedangkan RCHOP (Rituximab Cyclophosphamide, Doxorubicin, Vinkristine, dan Prednisone) merupakan imunokemoterapi dengan penambahan rituximab sebagai antibodi monoklonal anti-CD20 yang telah terbukti meningkatkan luaran klinis namun juga meningkatkan biaya terapi, sehingga diperlukan evaluasi farmakoekonomi. Penelitian ini bertujuan menganalisis biaya terapi medis langsung, kualitas hidup, dan utilitas biaya regimen CHOP dan RCHOP pada pasien LNH di RSUP Dr. Sardjito. Penelitian observasional kohort prospektif ini dilakukan dari perspektif rumah sakit dengan periode pengamatan selama satu siklus kemoterapi. Biaya medis langsung diperoleh dari rekam medis dan sistem pembiayaan rumah sakit. Kualitas hidup diukur menggunakan EQ-5D-5L dan dikonversi menjadi nilai utilitas menggunakan Indonesian EQ-5D-5L Value Set, kemudian dihitung Quality-Adjusted Life Years (QALYs) dan Incremental Cost-Utility Ratio (ICUR). Efektivitas biaya dinilai berdasarkan ambang batas cost-effectiveness sebesar satu kali Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Indonesia, tanpa dilakukan analisis sensitivitas. Sebanyak 60 pasien dianalisis, masing-masing 30 pasien pada kelompok CHOP dan RCHOP. Kelompok RCHOP memiliki kualitas hidup yang lebih baik (p<0,05), dengan nilai utilitas 0,97 dibandingkan 0,71 pada CHOP. Rata-rata biaya medis langsung terapi CHOP sebesar Rp 1.794.838 dan RCHOP sebesar Rp 7.930.518. Nilai ICUR sebesar Rp 316.762/QALY menunjukkan bahwa penambahan rituximab pada regimen CHOP memiliki cost-utility yang baik meskipun meningkatkan biaya terapi.
ANALISIS PERBANDINGAN KADAR AKRILAMIDA PADA PRODUK OLAHAN AYAM BERBUMBU DAN TIDAK BERBUMBU HASIL PEMBAKARAN MENGGUNAKAN METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI (KCKT) Azahra Risma; Tuslinah Lilis; Fathurrohman Mochamad
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2848

Abstract

Senyawa akrilamida diketahui dapat muncul pada pangan yang diproses pada temperatur tinggi akibat terjadinya reaksi Maillard, yang melibatkan interaksi antara asam amino asparagin dengan gula pereduksi. Senyawa ini menjadi perhatian karena bersifat neurotoksik, genotoksik, dan berpotensi karsinogenik. Penelitian ini bertujuan membandingkan kadar akrilamida pada ayam bakar berbumbu dan tanpa bumbu menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Sampel yang digunakan berupa tiga bagian dada ayam dengan tiga kali ulangan analisis. Ayam bakar berbumbu dimarinasi menggunakan bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, garam, dan kecap, sedangkan sampel tanpa bumbu dibakar tanpa marinasi. Metode analisis divalidasi melalui uji linearitas, presisi, akurasi, batas deteksi (LOD), dan batas kuantifikasi (LOQ). Hasil validasi menunjukkan metode memenuhi kriteria dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,9996, presisi (%RSD) 0,370%, akurasi (% recovery) 85,63–108,34%, LOD 0,121 ppm, dan LOQ 0,367 ppm. Hasil analisis menunjukkan kadar akrilamida pada ayam bakar tanpa bumbu sebesar 7,12 ppm dan ayam bakar berbumbu sebesar 15,80 ppm. Kadar yang lebih tinggi pada ayam bakar berbumbu diduga berkaitan dengan penambahan kecap yang mengandung gula pereduksi sehingga berpotensi meningkatkan pembentukan akrilamida selama pembakaran. Secara deskriptif, penggunaan bumbu marinasi yang disertai kecap tidak menunjukkan penurunan kadar akrilamida pada ayam bakar. Kadar akrilamida pada kedua sampel melebihi batas acuan FDA sebesar 2 ppm sehingga menjadi perhatian dalam aspek keamanan pangan.
THE ETHANOL EXTRACT OF Piper sarmentosum Roxb. IMPROVES METABOLIC PARAMETERS IN HIGH-FAT DIET-INDUCED MICE Khoiroh Itsna Rofiidatul; Levita Jutti; Sumiwi Sri Adi
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2851

Abstract

A high-fat diet (HFD) is a major risk factor for insulin resistance (IR), obesity, and metabolic disorders. Flavonoids have been reported to attenuate IR and obesity-related metabolic alterations in experimental animal models. As Piper sarmentosum Roxb. leaves are rich in flavonoids and phenolic compounds, this study aimed to evaluate the effects of the ethanol extract of P. sarmentosum leaves (EEPS) on body weight, abdominal circumference, and liver index in HFD-fed mice. Mice were fed an HFD to induce IR and treated with EEPS at different doses. EEPS at 250 mg/kg significantly attenuated HFD-induced increases in body weight gain (12.80%), abdominal circumference (8.44%), and liver index (6.87%) compared with the negative control group (p < 0.05). These findings suggest that EEPS attenuates HFD-induced increases in body weight, abdominal adiposity, and liver index in mice.
PENGGUNAAN MEROPENEM PADA PASIEN RAWAT INAP: RASIONALITAS BERDASARKAN METODE GYSSENS DAN BIAYA MEDIS LANGSUNG Saputra Erwin Yuliana; Sukmawati Ika Kurnia; Fatin Mia Nisrina Anbar
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2886

Abstract

Penggunaan meropenem sebagai antibiotik golongan karbapenem perlu dilakukan secara rasional untuk menekan resistensi antimikroba dan mengoptimalkan penggunaan antibiotik di rumah sakit. Namun, bukti mengenai ketepatan penggunaan meropenem serta hubungannya dengan biaya medis langsung pada pasien yang menjalani perawatan inap masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi rasionalitas penggunaan meropenem menggunakan metode Gyssens serta menganalisis hubungannya dengan biaya medis langsung. Penelitian observasional analitik dengan desain retrospektif melibatkan 297 pasien dewasa dengan berbagai diagnosis klinis yang mendapatkan terapi meropenem selama menjalani perawatan di rumah sakit. Rasionalitas penggunaan antibiotik dievaluasi menggunakan metode Gyssens, sedangkan biaya medis langsung dihitung dari perspektif rumah sakit. Perbedaan biaya antara kelompok rasional dan tidak rasional dianalisis menggunakan uji Mann–Whitney, sedangkan faktor-faktor yang berkaitan dengan total biaya medis langsung dianalisis menggunakan regresi linear multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 226 pasien (76,1%) menerima terapi meropenem secara rasional, sedangkan 71 pasien (23,9%) tergolong tidak rasional, terutama akibat ketidaktepatan pemilihan antibiotik, durasi terapi yang melebihi rekomendasi, dan ketidaktepatan dosis. Pada analisis bivariat, kelompok rasional memiliki median biaya antibiotik yang lebih rendah (Rp378.000 [IQR:331.154] vs Rp590.292 [IQR:615.390]), tetapi median total biaya medis langsung lebih tinggi (Rp12.719.782 [IQR:20.364.548] vs Rp8.608.013 [IQR:13.705.190]). Namun, setelah penyesuaian terhadap faktor perancu, rasionalitas penggunaan meropenem tidak berhubungan secara independen dengan total biaya medis langsung (p=0,446). Penggunaan meropenem yang rasional berkaitan dengan biaya antibiotik yang lebih rendah, tetapi tidak berhubungan secara independen dengan total biaya medis langsung, yang lebih dipengaruhi oleh tingkat keparahan penyakit, kebutuhan tindakan medis, dan kompleksitas pelayanan.
UJI AKTIVITAS INHIBISI EKSTRAK ETANOL BUNGA TELANG (Clitoria ternatea) TERHADAP ISOLAT Burkholderia cepacia MULTIDRUG-RESISTANT Suhartati Rochmanah; Malika Fazkia Nur; Permana Azhar Jati
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2910

Abstract

Infeksi yang disebabkan oleh bakteri multidrug-resistant (MDR) merupakan tantangan utama dalam penatalaksanaan antimikroba karena semakin terbatasnya pilihan antibiotik yang efektif. Salah satunya adalah bakteri Burkholderia cepacia yang memiliki resistensi intrinsik terhadap berbagai antibiotik. Kondisi tersebut mendorong perlunya penelusuran bahan alam sebagai sumber kandidat antimikroba alternatif. Bunga telang Clitoria ternatea diketahui mengandung antosianin dan sejumlah metabolit sekunder yang berpeluang memberikan aktivitas antioksidan serta antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan antibakteri ekstrak etanol bunga telang terhadap isolat Burkholderia cepacia MDR secara in vitro. Ekstrak diperoleh melalui maserasi dengan etanol 70%, kemudian dilakukan skrining fitokimia untuk mengidentifikasi kandungan metabolit sekundernya. Aktivitas antibakteri diuji menggunnakan metode difusi cakram Kirby-Bauer pada beberapa kadar ekstrak (% b/v). Kloramfenikol 30 µg/disk digunakan sebagai kontrol positif, sedangkan akuades steril sebagai kontrol negatif. Diameter zona hambat diukur dalam satuan milimeter, dan dianalisis menggunakan uji statistik sesuai karakteristik data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol bunga telang Clitoria ternatea mengandung flavonoid, fenol, alkaloid, tanin, dan saponin. Seluruh konsentrasi ekstrak mampu menghambat pertumbuhan Burkholderia cepacia dengan diameter zona hambat terbesar diperoleh pada konsentrasi 100% dengan diameter 13,1 ± 0,35 mm. Diameter zona hambat yang dihasilkan masih lebih kecil dibandingkan dengan kontrol positif kloramfenikol. Hasil penelitian menunjukkan adanya aktivitas inhibisi ekstrak etanol bunga telang terhadap Burkholderia cepacia MDR, meskipun efektivitasnya masih terbatas dan diameter zona hambat yang diperoleh juga dapat dipengaruhi oleh kemampuan difusi senyawa aktif pada media agar. Tahap fraksinasi, pemurnian, dan penentuan senyawa aktif masih perlu dilakukan untuk mengevaluasi lebih lanjut potensi antibakteri ekstrak etanol bunga telang.
CHEMOINFORMATICS ANALYSIS OF TRITERPENOID DERIVATIVES AS ANTI-MELANOMA AGENTS Amir Nur Insani; Toba Nur Indah Dg; Nurfadillah Arafah; Amir Nurdzakirah
Pharmacoscript Vol. 9 No. 2 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i2.2914

Abstract

Melanoma is an aggressive skin cancer with high mortality rates, necessitating the development of novel therapeutic agents. This study aims to identify potential anti-melanoma candidates from triterpenoid derivatives through an integrated chemoinformatics approach. A dataset of 35 triterpenoid compounds was analyzed using KNIME to build a Quantitative Structure-Activity Relationship (QSAR) model. The model demonstrated good predictive ability with R² = 0.842, RMSE = 0.38, and MAE = 0.30, validated through 5-fold cross-validation (Q² = 0.78). QSAR analysis identified five best candidates: cucurbitacin B (IC₅₀ = 0.015 µM), betulin (15.61 µM), lupeol (66.59 µM), oleanolic acid (75 µM), and ursolic acid (75 µM). Lipinski's Rule of Five analysis revealed LogP violations in most compounds, though these are common for natural triterpenoids and can be addressed through formulation strategies. Molecular docking showed oleanolic acid had the best binding affinity against BCL-2 (-8.2 kcal/mol), while lupeol showed the highest affinity against BRAF (-8.9 kcal/mol). Based on the balance of predicted activity, pharmacokinetic profiles, and binding affinity, oleanolic acid and lupeol emerged as the most promising candidates for further experimental validation. This integrative approach demonstrates the efficiency of computational screening in prioritizing lead compounds for melanoma drug discovery.