Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid diterbitkan oleh Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang, sebagai media informasi dan forum pembahasan kajian tentang ilmu ushuluddin yang terkait dalam empat aspek bidang keilmuan yakni, Aqidah dan Filsafat Islam, Studi Agama-Agama, Ilmu Al-quran dan Tafsir (Tafsir Hadis), Psikologi Islam. Majalah ini berisi kumpulan tulisan ringkas hasil penelitian, hipotesa, survey dan karya akademik lainnya.
Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"Vol 18, No 1 (2015)"
:
8 Documents
clear
RADIKALISME, ISLAM TRANSNASIONAL DAN DINAMIKA POLITIK BINGKAI UKHUWAH
Shofwan Karim
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/tajdid.v18i1.137
Radikalisme selalu dihubungkan dengan gerakan dan perjuangan melalui cara ekstrim dalam idelogi, pemikiran dan fisik. Akan tetapi di dalam kenyataan tidak selalu benar seperti itu . Radikalisme pemikiran dan ideologi yang tidak merusak lingkungan sosial tetapi dikembangkan dengan cara persuasi, maka secara umum lebih bisa diterima oleh kalangan tertentu di kalangan kaum muslimin. Di masa sekarang ada gerakan salafi yang dikaitkan dengan gerakan radikal fisik itu.Padahal keadaan itu tidak semua berlaku secara umum. Tulisan ini menjelaskan hubungan antara radikalisme yang bermula di Timur Tengah menjadi gerakan transnasional Islam dan pada tingkat tertentu masuk ke Indonesia. Antara lain dapat pula melalui partai politik. Untuk melawannya maka haruslah dibangun pagar sebagai bentengi dengan memperkokoh nilai-nilai kebajikan Islam untuk menghindari timbulnya kerusakan bagi umat islam dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.
PEMIKIRAN KETUHAN IBN ‘ARABI DAN PENDEKATAN AGAMA-AGAMA
Elfi -
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/tajdid.v18i1.127
Konsep wahdatul wujud masih belum sepenuhnya diterima di kalangan umat Islam. Satusisi menyebut wahdatul wujud sudah keluar dari Islam namun sisi lain menggambarkan wahdatulwujud sebagai bentuk kesempurnaan hubungan manusia dengan Tuhan. Ibnu Arabi sebagai pencetuskonsep ini adalah seorang yang sufi yang taat. Walaupun konsepnya tentang wahdatul wujud agaksusah dicerna karena pendekatannya yang menekankan aspek esoteric, bukan eksoterik, namunsebenarnya ia tidak bermaksud untuk itu. Ia menginginkan bagaimana rasanya seorang hamba bisaberdekatan sedekat mungkin bahkan menyatu dengan Sang Pencipta, bisa juga dirasakan hambayang lain. Pengalaman inilah menurutnya, pengalaman dan pengetahuan tertinggi tentang Tuhan.Pendekatan yang menekankan aspek esoterik ini agaknya bisa dijadikan salah satu model pendekatandalam memahami agama-agama.
KORELASI INFORMASI TEKNOLOGI DENGAN SIKAP INTOLERANSI BERAGAMA
-, Susilawati
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/tajdid.v18i1.140
Sikap intoleransi beragama di Indonesia sudah sangat sering terjadi bahkan ada yang tanpa penyelesaian secara hukum oleh pemerintah, sehingga para penganut agama yang saling berbeda aliran dan keyakinan menyelesaikan permasalahan mereka dengan cara mereka sendiri-sendiri, kekerasan-kerasan antar umat beragama menjadi ajang yang sering kita, baru-baru ini terjadi kekerasan antar Islam dan muslim di Tolikara Papua dan di Aceh Singkil yang menyebabkan jatuh korban jiwa dan materi. Lemahnya sistim pengawasan dan aturan hukum oleh pemerintah menciptakan celah sikap intoleransi di tengah masyarakat serta penggunaan teknologi informasi dan komunikasi sebagai alat provokasi yang cukup efektif, sehingga daerah-daerah yang rawan untuk terjadinya konflik agama menjadi sasaran. Dampak-dampak negatif dari media teknologi informasi dan komunikasi menjurus kepada pembentukan pola hidup dan tingkahlaku yang negatif seperti sifat individualis, konsumtif, hedonis, dan materialistis dimana sikap-sikap negative ini sangat bertentangan dengan azas dan falsafah bangsa Indonesia.yang ada.
PEMAHAMAN HADITS SAINS : MENGUJI VALIDITAS HADIS DENGAN KEBENARAN ILMIAH
-, Faizin
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/tajdid.v18i1.130
Apakah secara formal kritik matan dengan kebenaran fakta ilmiah memiliki korelasidalam pembuktian autentitas hadits atau hanya legitimasi kebenaran materi hadits. Apakahpembuktian ilmiah atas hadits nabi merupakan varian kritik matan yang dapat memperkuat validitashadits. Apakah hadits yang dinilai maqbul secara keimuan ahl al-hadits kemudian terbukti secarailmiah dapat memperkuat validitas hadits. Sebaliknya, apakah hadits yang dinilai secara keilmuanahl al-hadits mardud kemudian terbukti secara ilmiah dapat dikategorikan sebagai hadits yang dapatditerima. Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan ungkapan akademis yang senantiasa mengemukaketika pembahasan mengenai pengujian validtas hadis dengan kebenaran ilmiah diapungkan.Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan representasi dari studi hadis, khusunya menyangkutpemahaman hadits sains yang kemudian didorong oleh adanya al-‘Ijaz al-‘Ilmi. Tulisan ini akanmengelaborasi secara detail benang merah antara pemahaman hadis dan sains modern dalamhubungannya dengan keshahihan hadits.
CORAK TEOLOGI IBNU TAIMIYAH
Syafrial. N -
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/tajdid.v18i1.142
Dalam sejarah umat Islam telah muncul di kalangan u1ama mazhab Hanbali yang dikenal dengan Gerakan Salafiyah. Aliran ini tampil lagi pada abad ke-7 H yang digagas oleh Syekh al-Islam Ibn Taimiyah. Ibn Taimiyah dalam pemikiran teologis mempunyai tujuan untuk mengajak umat Islam agar kembali kedasar agama dalam bentuk yang murni yakni al-Qur an dan Sunnah. Dari hal ini, penting untuk melihat tawaran Ibn Taimiyah secara komprehensif melalui corak teologinya. Setelah itu, dilanjutkan dengan melihat perbandingan dengan teologi yang sudah mapan sebelumnya.
EPISTIMOLOGI BAYANI, TA’LILI DAN ISTISLAHI DALAM PENGEMBANGAN DAN PEMBAHARUAN HUKUM
Bakhtiar -
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/tajdid.v18i1.131
Bayani, ta’lili dan istislahi merupakan model epistimologi yang selalu dan sudah sejaklama digunakan ulama ushul fiqh dalam menyingkap, menemukan dan merumuskan hukum yangbertumpu pada kemaslahatan. Hal ini sangat relevan dalam menyelesaikan dan menjawab persoalanpersoalankontemporer yang semakin komplit dan rumit. Teori bayani dilakukan dengan pendekatanteks nash melalui kaidah-kaidah kebahasaan. Sedangkan ta’lili menggunakan penggalian terhadapsuatu sifat yang dapat dijadikan sebagai tambatan untuk dihubungkan antara dua peristiwa hukumsehingga hukum yang sudah ada dapat diterapkan pada kasus baru. Begitu pula pada saat qiyas biasatidak diterapkan karena faktor lain yang lebih kuat, dapat beralih kepada qiyas yang pengaruhnyalebih kuat. Dalam hal, teori bayani dan ta’lili tidak dapat diterapkan pada kasus-kasus yanghukumnya tidak tidak terdapat pada nash, maka teori istislahi dapat menjadi alternatif. Melalui teorimaslahah al-mursalah dan dzari’ah persoalan-persoalan kontemperer akan dapat diselesaikan denganbaik dan dinamis.
IBRAHIM MUTAFARRIKA DAN SULTAN MAHMUD II (Modernisme Islam Awal Di Turki)
Eliana Siregar
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/tajdid.v18i1.133
Modernisme dalam Islam menjadi suatu keharusan bilamana dinamika situasi dan kondisisocial yang mengitarinya menghendaki adanya perubahan social. Modernisme,meskipun ia lahir danberkembang pertama kalinya di Barat,kemudian menyeberang ke dunia Islam misalnya lewat ekspedisiNapoleon Bonavarte ke Mesir,namun setelah mengalami proses modifikasi di sana-sini,ternyatamodernisme Barat tersebut bagi banyak kalangan bisa diterima atau ditolerir dan semakinmempercepat proses modernisme Islam, yang cepat atau lambat diyakini secara teologis misalnya olehHarun Nasution (Almarhum) di Indonesia,akan berkembang pesat di dunia Islam sendiri. Hal inidikarenakan bahwa Islam itu sendiri yang mengajarkan bahwa Islam itu adalah agama yang rasionaldan berperadaban tinggi. Sultan Mahmud II di berbagai bidang kehidupan publik secara struktural danpenuh sukses. Proses modernisme Islam awal di Turki ini bila dicermati secara intens,di kemudianhari ternyata sangat berperan pro-aktif menjadi lahan penyuburan bagi diproklamirkannya Turkisebagai negara republik sekuler nan modern di tangan Kemal, dimana euphoria ini masih tetapmemberi nuansa bagi masa depan Turki hingga detik ini,sekaligus juga banyak komunitas muslimlainnya di dunia yang menjadikannya sebagai sumber inspirasi untuk bangkit dari ketertinggalannya.
RESPONS TOKOH PEMIKIR KONTEMPORER INDONESIA TERHADAP MODERNISASI
Ermagusti -
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/tajdid.v18i1.134
Pemikir Kontemporer Indonesia yang muncul dengan gagasan baru terhadapperkembangan pemikiran Islam Indonesia yang menimbulkan kontroversial bagi tokoh Islam lainnya,antara lain Nurcholish Madjid dengan gagasannya “Sekularisasi”. Yang dimaksudkan adalahmenduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi dan melepaskan umat Islam darikecenderungan mengukhrawikannya. Selanjutnya Abdul Rahman Wahid, dengan gagasan“Pribumisasi Islam” yang dilatarbelakangi oleh keinginan Gus Dur untuk mempertemukan budayadengan Islam, agar umat Islam menjunjung tinggi toleransi dan menghargai orang lain. MunawirSjadzali dengan gagasannya “ Reaktualisasi Hukum Islam” yang telah menyumbangkan pemikirannyabagi dunia Ijtihad, sekaligus membuktikan bahwa pintu Ijtihad masih terbuka.