cover
Contact Name
Widia Ardias
Contact Email
wee2d.ardias@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltajdid@uinib.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid
ISSN : 14102617     EISSN : 2685466X     DOI : -
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid diterbitkan oleh Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang, sebagai media informasi dan forum pembahasan kajian tentang ilmu ushuluddin yang terkait dalam empat aspek bidang keilmuan yakni, Aqidah dan Filsafat Islam, Studi Agama-Agama, Ilmu Al-quran dan Tafsir (Tafsir Hadis), Psikologi Islam. Majalah ini berisi kumpulan tulisan ringkas hasil penelitian, hipotesa, survey dan karya akademik lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 178 Documents
KARAKTERISTIK PENAFSIRAN MUHAMMAD ‘ALI AL-SHABUNIY DALAM KITAB SHAFWAH AL-TAFÂSÎR Rahmad Sani
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 21, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v21i1.239

Abstract

This simple article describes the characteristics of Muhammad ‘Ali al-Shabuniy's interpretation in the book Safwah al-Tafâsîr. This discussion is qualitative in nature with a focus on his work, especially in the book Safwah al-Tafasir. This paper analyzes the characteristics of Muhammad ‘Ali al-Shabuniy's interpretation in the book Safwah al-Tafâsîr in the form of stages, methods and patterns of interpretation. From the results of the research conducted it can be concluded that Muhammad 'Ali al-Shabuniy used seven stages in interpreting the Qur'an, namely: Explaining the contents of the letter, munasabah, al-lughah, asbâb al-nuzûl, al-tafsîr, balaghah, and lesson or wisdom contained in the verse. The method of interpretation contained in the book Safwah al-Tafâsîr is the method of tahlîlî and the style of interpretation is adabi wa al-ijtimâ'i.
INTEGRASI KEILMUAN DALAM PANDANGAN SYECH AHMAD CHATIB AL MINANGKABAWI Widia Fithri
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 22, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v22i1.287

Abstract

One of the ulamas of the Nusantara whose influence is so wide to date is Syech Ahmad Chatib Al-Minangkabawi. A very broad influence can be seen from the widespread dissemination of ideas and knowledge into the Islamic world, especially in the archipelago (Indonesia, Malaysia, Brunei, the Philippines and other Malay seas) Koto Tuo born scholars of Gurah IV Angkek Agam West Sumatra, besides having expertise in Fiqh religious fields and others also have expertise in science including mathematics. This paper will examine how the relationship between mathematics and other sciences such as the science of religion, culture, philosophy in the view of Sheikh Ahmad Khatib. this article is important as a hidden heritage of Islamic scholarship that is not much revealed to the surface so that this can be used as a reference, a guideline in the development of scientific integration that is being encouraged in the Islamic world, especially in Indonesia. in Syech Ahmad Chatib's own words it is not known as an integration vocabulary, but this paper will explain how the practice of connection between various sciences in Syech Ahmad Chatib's view. the idea of scientific integration emerged and was voiced today considering the specialization of each of the sciences which is feared to create partial and superficial understanding.
DIMENSI PENGALAMAN BERAGAMA Ahmad, Sulthan
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v16i1.87

Abstract

Inti pengalaman keagamaan adalah penyaksian terhadap perkara-perkara yang ghaib. Manusia dalam menjalankan agamanya adakalanya dihinggapi kesadaran akan hadirnya suasana kudus, sacred yang sulit untuk dilukiskan dengan bahasa manusia. Para ahli mencoba memahami hakekat terdalam dari fenomena ini, namun mereka kehabisan kosa kata untuk bisa mewakili semua penyaksian itu. Jangankan peneliti, orang yang mengalami itu sendiri tidak bisa menggambarkan dengan jelas dan sempurna melalui bahasa apapun apa-apa yang telah disaksikannya sendiri.
Menghadapi Komunitas ASEAN 2015: DINAMIKA SOSIAL-BUDAYA DAN PENGUATAN PEMUDA-MAHASISWA Shofwan Karim
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 17, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v17i1.112

Abstract

Para pemuda-mahasiswa mempunyai peluang dan tantangan yang cukup kondusif untuk dijawab dan dieksplorasi bagi kejaayaan masa depan Komunitas ASEAN khususnya dan dunia global pada umumnya hidup dalam satu entitas dalam toleransi serta nilai dan norma ketimuran berbasis Asia yang taat hukum, demokratis dan harmoni dengan lingkungan internal dan eksternal. Oleh karena itu perlu kereatifitas, inisitiatif, tingkatkan skill, illmu pengetahuan dan teknologi, daya saing, disiplin dan nilai menghargai prestasi dan kerja keras serta sungguh-sungguh. Semua itu dalam kerangka menuju kepada komunitas ASEAN dalam satu visi, satu identitas dan satu komunitas
PEMIKIRAN KETUHAN IBN ‘ARABI DAN PENDEKATAN AGAMA-AGAMA Elfi -
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v18i1.127

Abstract

Konsep wahdatul wujud masih belum sepenuhnya diterima di kalangan umat Islam. Satusisi menyebut wahdatul wujud sudah keluar dari Islam namun sisi lain menggambarkan wahdatulwujud sebagai bentuk kesempurnaan hubungan manusia dengan Tuhan. Ibnu Arabi sebagai pencetuskonsep ini adalah seorang yang sufi yang taat. Walaupun konsepnya tentang wahdatul wujud agaksusah dicerna karena pendekatannya yang menekankan aspek esoteric, bukan eksoterik, namunsebenarnya ia tidak bermaksud untuk itu. Ia menginginkan bagaimana rasanya seorang hamba bisaberdekatan sedekat mungkin bahkan menyatu dengan Sang Pencipta, bisa juga dirasakan hambayang lain. Pengalaman inilah menurutnya, pengalaman dan pengetahuan tertinggi tentang Tuhan.Pendekatan yang menekankan aspek esoterik ini agaknya bisa dijadikan salah satu model pendekatandalam memahami agama-agama.
POLITISASI SEJARAH DAN SEJARAH POLITIK Pahlawan dan Ideologi “Merah” dalam Historiografi Orde Baru dan Pasca Orde Baru Muhammad ilham
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 19, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v19i1.151

Abstract

Ciri dari historiografi nasional yang dibentuk selama masa Orde Baru Suharto adalahsentralitas negara yang diejawantahkan oleh militer. Sejarah nasional disamakan dengan sejarahmiliter dan produksi sejarah dikendalikan oleh negara dan militer. Pada akhirnya versi militertentang kejadian di tahun 1965 mendominasi historiografi periode tersebut dan melegitimasinaiknya rezim Orde Baru. Jika rezim sebelumnya membangun sejarah Indonesia sebagai hasil dariperbenturan antara kolonialisme dan imperialisme melawan nasionalisme Indonesia denganSoekarno sebagai pusat, maka Orde Baru melihat sejarah Indonesia sebagai hasil dari perjuanganantara pendukung dan penentang Pancasila dengan menempatkan militer sebagai faktor penentu.Orde Baru hanya menggantikan Soekarno dengan militer, sementara itu para penentang Pancasilakhususnya komunisme dan Islam ekstrimis telah menggantikan posisi kolonialisme danimperialisme sebagai kambing hitam. Setidaknya ada beberapa pertanyaan yang selama inisebenarnya kita telah memiliki "jawaban" nya sendiri, khususnya yang berkaitan dengan dominasimiliter (baca : ABRI) pada masa Orde Baru, diantaranya : ABRI merupakan institusi yang sangatsistematis, loyalis dan cerdas (bahkan hal ini juga "diamini" hingga sekarang oleh publik).Kemudian, ketika kita membaca buku Ketika Sejarah Berseragam tersebut, kita juga akan tahubahwa sejarah akan berbahaya bila berada "ditangan" militer (walaupun di tangan "politisi" jugademikian). Selanjutnya, sejarah berbasiskan senjata, amat sangat ampuh untuk memupuknasionalisme. Namun terlepas dari semua itu, sejarah haruslah dipaparkan apa adanya. Dalambahasa Edmund Husserl, "harus dikembalikan kepada posisi awal perustiwa itu terjadi". Makadari sana akan kita ketahui, apa sebenarnya motif yang melatarbelakanginya. Sejarah harus"ditelanjangi", dan Katherine nampaknya menelanjangi sejarah militer Indonesia masa Orde Baru.Ini bermanfaat bagi perjalanan bangsa ke depan.
SPIRITUALITAS DALAM AGAMA HINDU Ayu Rustriana Rusli
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 20, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v20i1.168

Abstract

Spiritualitas dan agama adalah dua hal yang berbeda namun tak dapat dipisahkan. Karena spiritualitas adalah salah satu cara manusia dalam beragama. Dalam Hindu, jalan spiritualitasnya memberi peluang bagi setiap individu untuk memilih cara yang sesuai dengan potensi dan bentuk penghayatannya serta sesuai dengan situasi dalam kehidupan individu yang bersangkutan. Oleh karena itu ada empat cara atau jalan spiritualitas dalam Hindu yang dapat dipilih yaitu Karma Yoga, Bhakti Yoga, Jnana Yoga dan Raja Yoga
KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA DALAM GERAKAN POLITIK FORMALISASI ISLAM DI INDONESIA Abd. Rahman Abd. Rahman
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 21, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v21i2.220

Abstract

Persoalan ideologi merupakan faktor yang penting memunculkan ekspresi politik berbentuk kekerasan dan teror. Apabila seseorang telah cukup kuat pemahaman yang merasuki pemikiran dan jiwanya, maka akan sulit untuk dilakukan perbaikan pola pikir. Apalagi bila pemahaman agamanya cukup sempit, yakni melihat agama hanya secara tekstual, maka hal ini berpotensi menjadi fanatisme agama yang nantinya bisa mengarah pada tuntutan formalisasi agama dan bentuk ekspresi politiknya berupa kekerasan dan teror. Kenyatan demikian ini tentu sangat merugikan bagi kehidupan rakyat karena hanya akan menimbulkan gejolak yang tiada berakhir. Dakwah-dakwah yang lebih menekankan tentang ‘Islam versi Arab’ harus segera direduksi agar tidak menjadi pemicu timbulnya fundamentalisme dan radikalisme.
KIPRAH DAN KONTRIBUSI JAMALUDDIN Al-AFGHANI DALAM PEMIKIRAN MODERN ISLAM Dwi Sukmanila
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 22, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v22i1.278

Abstract

Jamaluddin al-Afghani as an Islamic warrior figure gave a lot of time in his life as an Islamic service and struggle as long as it was elaborated in the discussion above. in fighting he is uncompromising of the injustice and authoritarian nature of a government. This is a distinctive characteristic of his character who is firm in upholding the truth. His struggle inside was extraordinary, it was seen with his long-running actions in various countries to save Islam from the trap of materialism to divide Muslims. thus, Afghani and Pan Islamism tried to reunite Muslims worldwide, and open the horizons of Islamic societies to be able to live independently without expecting assistance from the West, in various aspects so that there was no dependence between Muslims and the West.
NEOMODERNISME VERSUS NEOTRADIONALISME; FENOMENA KAUM MUDO DAN KAUM TUO PADA AWAL ABAD 20 DI RANAH MINANG Ashadi, Andri
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v16i1.82

Abstract

Kaum Mudo , sebagai kelompok modernis tampak inklusif terhadap nilai-nilai modern Belanda misalnya dalam hal pendidikan, namun sangat anti pada kolonialismenya. Sementara Kaum Tuo, resisten terhadap pembaharuan dan modernitas—mengharamkan pakai dasi dan jas—justru kurang resisten terhadap penjajah Belanda. Apakah sikap ambivalen tersebut, hanya sebagai respon terhadap kehadiran Belanda sebagai satu-satunya kekuatan politik, atau merupakan sebuah dialektika. Apakah sikap tersebut hanya sebagai sikap politik atau sekaligus sikap keagamaan? Artikel ini menguji dan mengelaborasi asumsi tersebut dengan menggunakan pendekatan sejarah..

Page 2 of 18 | Total Record : 178