cover
Contact Name
Moebari
Contact Email
moebari54@yahoo.com
Phone
(0274) 587677
Journal Mail Official
lppmkaryahusada@gmail.com
Editorial Address
Jl. Tentara Rakyat Mataram No. 11 B
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Karya Husada
ISSN : 2337649X     EISSN : 26558874     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Karya Husada merupakan Jurnal kesehatan yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Akademi Kesehatan Karya Husada pada tahun 2013. Jurnal Kesehatan Karya Husada terbit 2 kali setahun pada bulan Januari dan Agustus.
Articles 335 Documents
LATIHAN "SALAM TRENDI" TERHADAP KEKUATAN OTOT DAN KECEPATAN BERJALAN LANSIA PASKA STROKE DI KOTA DEPOK Emmelia Ratnawati
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 9 No 2 (2021): Jurnal Kesehatan Karya Husada (JKKH)
Publisher : LPPM Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36577/jkkh.v9i1.432

Abstract

Stroke in the elderly resulted in limited autonomy. Exercise Salam Trendy consists of deep breathing exercises, stretching, and range of motion is one exercise to reduce limitations. Exercises done at home and individual 2x / week for 4 weeks. This study aimed to identify the effects of exercise "Salam Trendy" against muscle strength and walking speed of elderly post-stroke in Depok. Quasi-Experimental research design using pre and post test design. Total sample of 44 respondents consisting of the treatment group and the control group were selected with consecutive sampling technique. Evaluation studies conducted on the first and fourth week. The results showed that the arm muscle strength (p = 0.042) and legs (p = 0.005); walking speed (p = 0.002) increased significantly after being given a workout. This means that the exercise “Salam Trendy “ affect the increase in muscle strength and walking speed. The study recommends the need for this exercise as one of the interventions of nurse elderly post-stroke in the community. Keyword: Stroke; the elderly; exercise Salam Trendy; muscle strength, walking speed.
KARAKTERISTIK WANITA USIA SUBUR (WUS) AKSEPTOR KELUARGA BERENCANA (KB) INTRA UTERINE DEVICE (IUD) DI PUSKESMAS BOGOR TENGAH TAHUN 2019 Lala Jamilah
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 7 No 2 (2019): Jurnal Kesehatan Karya Husada
Publisher : LPPM Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36577/jkkh.v7i2.434

Abstract

Menurut World Population Data Sheet (2013) Indonesia merupakan Negara ke-5 di dunia dengan estimasi jumlah penduduk terbanyak, yaitu 249 juta. Menurut World Health Organization (WHO), KB adalah suatu tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan kelahiran yang diinginkan, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, dan menentukan jumlah anak dalam keluarga, Oleh sebab itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Karakteristik Wanita Usia Subur (WUS) di Puskesmas Bogor Tengah Tahun 2019. Jenis penelitian ini menggunakan desain penelitian survei deskriptif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan oleh peneliti adalah teknik random sampling. Variabel yang diteliti yaitu Usia, Pendidikan, Pekerjaan, dan Paritas. Populasi sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menggunakan KB IUD di Puskesmas Bogor Tengah yang berjumlah 95 responden. Hasil Penelitian menunjukan pasien yang menggunakan KB IUD berdasarkan Usia tertinggi kelompok usia 20-35 tahun sebanyak 65 responden (68%), berdasarkan Pendidikan tertinggi kelompok pendidikan sedang (SMA) sebanyak 51 responden (54%), berdasarkan Pekerjaan tertinggi kelompok Tidak Bekerja sebanyak 48 responden (51%), berdasarkan Paritas tertinggi kelompok Multipara sebanyak 65 responden (69%). Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa karakteristik WUS Akseptor Keluarga Berencana Intra Uterine Di Puskesmas Bogor Tengah Tahun 2019 yang tertinggi adalah usia 20-35 tahun, pendidikan SMA, pekerjaan tidak bekerja dan paritas Multipara. Untuk itu tenaga kesehatan diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan dalam penanganan deteksi dini keluarga berencana intra uterine device dengan memberikan pelayanan yang konsisten.
Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Siswi SMA Kelas XI Tentang Kanker Payudara Di SMA Al-Hikmah Desa Tapos 2 Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor Tahun 2016 Lia Indria Sari
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 5 No 1 (2017): Jurnal Kesehatan Karya Husada
Publisher : LPPM Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut data Globocon 2012, diperkirakan jumlah kasus baru kanker payudara sebesar 40,3% per 100.000 atau sekitar 48.998 orang. Sementara angka kematian akibat kanker payudara 16,6% per 100.000 atau sekitar 19.750 orang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi dan mengetahui Gambaran Pengetahuan Siswi SMA Kelas XI tentang Kanker Payudara di SMA Al-Hikmah Desa Tapos 2 Kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor tahun 2016 yang ditinjau dari segi gambaran pengetahuan tentang kanker payudara berdasarkan umur, pendidikan terakhir orangtua dan sumber informasi pada bulan desember 2016. Metode penelitian menggunakan desain bersifat deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswi SMA kelas XI di SMA Al-Hikmah Desa Tapos 2 kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor tahun 2016 dengan jumlah 50 responden. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer yang didapatkan langsung dari siswa kelas XI di SMA Al-Hikmah dengan cara membagikan kuesioner. Pengambilan sampel menggunakan total sampling yaitu sebanyak 50 responden. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa Pengetahuan Siswi Kelas XI Tentang Kanker Payudara Di SMA Al-Hikmah Desa Tapos 2 kecamatan Tenjolaya Kabupaten Bogor Tahun 2016 yang berjumlah 50 responden (100%), dengan pengetahuan Baik 11 responden (22%), sedangkan yang pengetahuan Cukup 30 responden (60%), lalu yang pengetahuan Kurang 9 responden (18%). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan serta ilmu pengetahuan siswi mengenai pentingnya pengetahuan tentang kanker payudara, serta siswi bisa mencegah sedini mungkin agar terhindar dari penyakit kanker payudara.
FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGETAHUAN AKSEPTOR KB TENTANG KB IMPLAN DI BPM BIDAN "A” KAB. BOGOR Lia Indria Sari
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 6 No 1 (2018): Jurnal Kesehatan Karya Husada
Publisher : LPPM Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peserta baru KB menurut metode kontrasepsi di Indonesia BKKBN (2014) pada tahun 2013, yaitu pengguna implant di Indonsia ada sejumlah 784.215 jiwa (9,23%), alat kontrasepsi bawah kulit (AKDK) atau implant adalah alat kontrasepsi yang disusupkan dibawah kulit. Preparat yang terdapat saat ini adalah implant dengan nama NORPLANT, JADELLE dan IMPLANON. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan Akseptor KB Tentang KB Implan berdasarkan usia, paritas dan pekerjaan. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode deskriptif. Data yang di ambil adalah data primer dengan kuesioner. Tehnik yang di gunakan adalah total sampling dan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi, dianalisa dan disusun secara narasi.Jumlah populasi yang terdapat di BPM Bidan A sebanyak 50 populasi dan sampel yang diambi oleh peneliti sebanyak 50 sampel atau keseluruhannya. Berdasarkan hasil penelitian ini dengan mengambil 50 responden di dapat bahwa pengetahuan tetinggi ada pada kategori kurang baik yaitu, sebanyak 30 responden (60%). Pada kategori usia responden tertinggi ada pada usia 20 – 35 tahun dengan pengetahuan kurang 16 responden (32%), pada kategori paritas rsponden terbanyak dengan pengetahuan kurang ada pada kategori akseptor multigravida yaitu, sebanyak 19 responden (38%). Dan pada kategori pekerjaan responden terbanyak ada dengan pengetahuan kurang ada pada akseptor yang tidak bekerja, yaitu sebanyak 16 responden (32%). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk penelitian khusunya tentang KB implan dan sebagai bahan untuk memudahkan dalam pembelajaran penelitian selanjutnya dan sebagai sarana pengembangan dan penerapan ilmu dalam pembelajaran khususnya dalam penelitian kebidanan.
KARAKTERISTIK IBU YANG MEMBERIKAN MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU PADA BAYI USIA KURANG DARI 6 BULAN DI PUSKESMAS BOGOR TENGAH TAHUN 2019 Lia Indria Sari
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 7 No 2 (2019): Jurnal Kesehatan Karya Husada
Publisher : LPPM Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36577/jkkh.v7i2.437

Abstract

Air susu ibu (ASI) mengandung semua zat gizi yang diperlukan bayi dalam enam bulan pertama setelah dilahirkan. Pemberian pengganti susu ibu (PASI) sebelum anak berumur enam bulan tidak dianjurkan, karena dapat meningkatkan kemungkinan terkontaminasi dan meningkatkan risiko terkena penyakit, khususnya diare. Angka pemberian ASI ekslusif di Indonesia masih tergolong rendah. Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan 2017, pemberian ASI ekslusif di Indonesia hanya 35%. Angka tersebut masih jauh di bawah rekomendasi WHO (Badan Kesehatan Dunia) sebesar 50%. WHO dan UNICEF merekomendasikan standar emas pemberian makan pada bayi yaitu menyusui bayi secara eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan didahului dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) segera setelah lahir, mulai umur 6 bulan berikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki bayi usia kurang dari 6 bulan di Wilayah Puskesmas Bogor Tengah, pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling dengan jumlah sampel sebanyak 65 orang dan alat ukur yang digunakan adalah angket. Berdasarkan pengetahuan pemberian MP-ASI paling besar diberikan oleh ibu yang pengetahuannya kurang baik atau ibu yang berpendidikan SD dengan jumlah 30 orang, lalu di Tingkat Usia 20-35 tahun sebanyak 65 orang, lalu di Tingkat Pekerjaan Ibu Rumah Tangga sebanyak 39 orang, lalu diTingkat Paritas Multipara sebanyak 44 orang. Saran : a. Petugas kesehatan di Puskesmas harus memberikan dukungan penuh kepada ibu agar memberikan ASI saja pada bayi hingga bayi berusia 6 bulan pada saat kunjungan-kunjungan yang dilakukan ibu hamil dan menyusui. Selain kepada ibu, petugas kesehatan juga perlu melakukan penyuluhan kepada orang-orang terdekat ibu untuk memberikan informasi seputar praktek pemberian ASI Eksklusif dan pemberian ASI yang benar, hal ini dikarenakan pengetahuan yang benar tentang pemberian ASI Eksklusif dan pemberian MP-ASI dari orang terdekat ibu juga sangat mempengaruhi keberhasilanibu dalam mempraktekkan kedua hal tersebut.
HUBUNGAN USIA DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN PERSALINAN PRETERM DI RSUD CIBINONG KABUPATEN BOGOR TAHUN 2017 Lia Indria Sari
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 6 No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Karya Husada
Publisher : LPPM Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persalinan preterm dapat didefinisikan sebagai persalinan yang terjadi antara usia kehamilan 20 - <37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir. Persalinan prematur merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatal, yaitu 60-80% di seluruh dunia. Di Indonesia angka kejadian partus prematur sebanyak 73 %. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan usia dan paritas ibu dengan kejadian persalinan preterm di RSUD. Cibinong Kabupaten Bogor Tahun 2014. Penelitian ini bersifat analitik dengan data sekunder, populasinya yaitu seluruh ibu bersalin preterm di RSUD Cibinong Kabupaten Bogor tahun 2014 yang berjumlah 65 Ibu dan sampel ibu bersalin preterm di RSUD Cibinong Kabupaten Bogor tahun 2014 yang berjumlah 65 ibu, dengan teknik total sampling. Hasil penelitian didapatkan adanya hubungan usia ibu dengan kejadian persalinan preterm menggunakan uji chi-square dengan hasil X² hitung (5,688) > X² tabel (5,591), maka X² hitung (5,688) dan didapatkan nilai C = 0,058. Hal ini menunjukan bahwa 0,058 < 0,05. Sedangkan pada Paritas didapatkan hasil X² hitung (0,773) < X² tabel (5,591) dan nilai C = 0,679 hal ini menunjukan tidak adanya hubungan paritas dengan kejadian persalinan preterm. Sebagian besar ibu bersalin preterm di RSUD Cibinong adalah idiopatik 63,1%. ibu berusia 20-35 tahun 78,5% paling banyak mengalami persalinan preterm dan ibu grandemultipara mengalami persalinan preterm paling sedikit yaitu sebanyak 12,3%. Hasil penelitian ini menunjukan adanya hubungan usia ibu dengan kejadian persalinan preterm sedangkan pada paritas tidak adanya hubungan paritas ibu dengan kejadian persalinan preterm.
Karakteristik Ibu Bersalin dengan Induksi Persalinan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibinong Kabupaten Bogor Tahun 2015 Riana Ulfah
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 5 No 1 (2017): Jurnal Kesehatan Karya Husada
Publisher : LPPM Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

WHO menemukan di Indonesia dari 500.000 ibu bersalin dengan risiko, 200.000 diantaranya dilakukan induksi persalinan. Di Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong tahun 2015 induksi persalinan berjumlah 86 orang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik ibu bersalin dengan induksi persalinan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibinong Kabupaten Bogor Tahun 2015 berdasarkan umur, pendidikan, pekerjaan dan paritas. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Data didapatkan dari rekam medik RSUD Cibinong Kabupaten Bogor Tahun 2015 dengan cara menelusuri data-data sesuai dengan variabel-variabel penelitian yang ada dalam status pasien. Populasi pada penelitian ini adalah data rekam medik ibu yang bersalin dengan induksi persalinan di RSUD Cibinong pada tahun 2015 sebanyak 86 dan didapatkan 57 orang sampel. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampel Consecutive Sampling. Instrumen ceklist register rekam medik, mengunakan analisis univariat. Hasil penelitian terhadap 57 sampel didapatkan hasil ibu yang bersalin tertinggi yaitu umur 20-35 tahun yaitu, 37 orang (65%). Pendidikan yang tertinggi yaitu pada kelmopok pendidikan dasar 34 orang (60%). Pekerjaan tertinggi pada ibu yang tidak bekerja 49 orang (86%), paritas tertinggi pada paritas multipara sebanyak 30 orang (52%). Dari hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab ibu bersalin dengan induksi persalinan tertinggi terdapat pada usia 20-35 tahun, pendidikan dasar (SD-SMP), ibu yang tidak bekerja dan paritas pada ibu multipara. Diharapkan untuk peneliti dapat dijadikan sarana mengembangkan dan menerapkan ilmu yang telah diberikan dan diterima dalam rangka kemampuan diri dan sebagai syarat dalam menyelesaikan studi di Akademi Kebidanan Bogor Husada.
Karakteristik Ibu Hamil Yang Mengalami Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) di RSUD Cibinong Kabupaten Bogor Tahun 2017 Riana Ulfah
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 5 No 1 (2017): Jurnal Kesehatan Karya Husada
Publisher : LPPM Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehamilan Ektopik adalah kehamilan dimana setelah fertilisasi implantasi terjadi diluar endometrium kavum uteri. Berdasarkan data dari (RSUD) Cibinong Kabupaten Bogor Tahun 2017 didapatkan data pada ibu hamil dengan Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) yaitu 47 kasus. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desktitif. Data yang diambil adalah data sekunder dengan rekam medis. Teknik yang digunakan adalah total sampling dan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi, di analisa dan disusun secara naratif, dengan jumlah populasi 47 orang yang juga menjadi sample penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ini dengan mengambil 47 responden di temukan proporsi terbanyak kelompok usia 20-35 tahun sebanyak 36 orang (76,6%) , berdasarkan paritas responden terbanyak pada kelompok Grande multigravida 24 orang (51%) , berdasarkan pendidikan terbanyak terdapat SMP-SMA 37 orang (78,7%), berdasarkan pekerjaan terbanyak tidak bekerja sebanyak 38 orang (81%). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kehamilan ektopik masih banyak terjadi. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan bagi petugas kesehatan agar dapat lebih meningkatkan pemberian penyuluhan tanda bahaya kehamilan sehingga kehamilan ektopik bisa terdeteksi secara dini.
Karakteristik Pekerja Seks Komersial (PSK) Yang Mengalami Penyakit Menular Seksual (PMS) Di Kota Bogor Tahun 2017. Riana Ulfah
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 6 No 1 (2018): Jurnal Kesehatan Karya Husada
Publisher : LPPM Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian di Dinas Kesehatan Kota Bogor menunjukan bahwa Penyakit Menular Seksual (PMS) pada tahun 2014 sejumlah 2.385 kasus orang yang terinfeksi penyakit menular seksual. Pada tahun 2014 tertinggi diantara Sifilis, Gonore dan Kondiloma terdapat penyakit Gonore yaitu 724 (79%), dan terendah terdapat pada penyakit Sifilis yaitu 76 (8%) pada usia tertinggi terdapat pada kelompok usia 20-35 yaitu 537 (59%), dan terendah terdapat pada kelompok usia < 20 tahun yaitu 117(13%), jika dibedakan dalam kategori gender atau jenis kelamin tertinggi terdapat pada kelompok perempuan dengan 536 (58%) dan terendah pada laki- laki 347 (38%) dan rata-rata kempok tertinggi terdapat pada kelompok tidak menikah yaitu 479 (25%) terendah pada kelompok menikah yaitu 431 (47%) . Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah Karakteristik Pekerja Seks Komersial (PSK) yang mengalami Penyakit Menular Seksual (PMS) di Kota Bogor tahun 2017 sejumlah 5.718 kasus.eknik sampling yang digunakan adalah total sampling yaitu seleruh populasi menjadi anggota yang akan diamati sebagai sampel yakni seluruh pekerja seks komersial yang mengalami penyakit menular seksual. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dengan cara pengumpulan data sekunder tentang Karakteristik PSK Yang Mengalami PMS Di Dinas Kesehatan Kota Bogor Tahun 2014-2017: Gonore menjadi penyakit Menular Seksual tertinggi dengan jumlah 1.699 orang (30%). Berdasarkan usia tahun 2017 tertinggi pada kelompok usia 20-35 yaitu 4.813 (84%)..Berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2017 tertinggi terdapat pada kelompok perempuan 4.339 (75%).Berdasarkan status pernikahan tahun 2017 tertinggi pada kelompok tidak menikahyaitu 3.980 (69%).
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN SIKAP REMAJA TERHADAP PENCEGAHAN HIV/AIDS DI SMK GLOBAL INDONESIA KOTA BOGOR TAHUN 2017 Yuanita Viva Avia Dewi
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 7 No 2 (2019): Jurnal Kesehatan Karya Husada
Publisher : LPPM Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36577/jkkh.v7i2.443

Abstract

HIV merupakan virus yang menyerang dan merusak sistem kekebalan tubuh.Kumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh disebut AIDS. Data dari Dinas Kesehatan Kota Bogor dalam Riskesdas 2013 mencatat bahwa jumlah penderita HIV 2.136 dan AIDS 1.300 jiwa. Secara global, AIDS merupakan penyebab kematian kedua pada remaja umur 10-19 tahun. Kurangnya pengetahuan dan sikap remaja tentang HIV/AIDS dapat memengaruhi tindakan pencegahan terhadap HIV/AIDS.Tujuan Penelitian Untuk mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Sikap Remaja Terhadap Pencegahan HIV/AIDS di SMK Global Indonesia Kota Bogor Tahun 2017. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 75 siswa dan sampel sebanyak 50 responden. Menggunakan Purposive Sampling. Instrument penelitian menggunakan kuisioner. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pengetahuan HIV/AIDS responden yaitu cukup sebanyak 28 responden (56%) dan sikap remaja terhadap pencegahan HIV/AIDS yaitu positif sebanyak 26 responden (60%). Hasil analisis hubungan pengetahuan dengan sikap terhadap pencegahan HIV/AIDS dengan uji chi square p value 3,411. Sehingga X2 hitung > X2 table, selain itu diperoleh p value 0,000 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap pencegahan HIV/AIDS. Diharapkan sekolah bekerja sama dengan tenaga kesehatan, puskesmas dan yang lainnya untuk meningkatkan pelaksanaan pemberian pendidikan HIV/AIDS khususnya pada usia remaja.

Page 9 of 34 | Total Record : 335