cover
Contact Name
Narmawan
Contact Email
narmawanfebson@gmail.com
Phone
+6285241962136
Journal Mail Official
OJS.JK1@gmail.com
Editorial Address
Jl. AH. Nasution No. 89 G Anduonohu, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Keperawatan :Jurnal Penelitian Disiplin Ilmu Keperawatan
ISSN : 24074810     EISSN : 26862093     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal keperawatan merupakan hasil publikasi karya ilmiah sebagai media untuk menambah daftar riset evidence based, memberikan tambahan pengetahuan baru pada dunia kesehatan mengenai ilmu keperawataan khususnya dan ilmu kesehatan secara umum, pengembangan penelitian keperawatan serta sebagai sarana untuk berbagi informasi kepada masyarakat luas terkait ilmu keperawatan.
Articles 65 Documents
Hubungan Pendelegasian dan Supervisi dengan Semangat Kerja Perawat Selpi Selpi; Narmi Narmi; Narmawn Narmawan
Jurnal Keperawatan Vol 3 No 03 (2020): JURNAL KEPERAWATAN : JURNAL PENELITIAN DISIPLIN ILMU KEPERAWATAN
Publisher : STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46233/jk.v3i03.243

Abstract

Abstrak.Semangat kerja perawat pada hakekatnya merupakan perwujudan moral kerja yang tinggi. Semangat kerja harus menjadi perhatian, sebab semangat kerja yang tinggi dapat meningkatkan professional kerja dan juga meningkatkan kualitas pelayanan. Semangat kerja perawat banyak mengalami penurunan salah satu penyebabnya yaitu kurang efektif nya pendelegasian dan supervisiyang diterapkan di setiap ruangan perawatan sehingga menjadi permasalahan dalam menjalankan pelayanan keperawatan di Rumah Sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pendelegasian dan supervisi dengan semangat kerja perawat di RSUD Kota Kendari. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan Cross SectionalStudy. Sampel sebanyak 48 perawat. Teknik penarikan sampel menggunakan teknik cluster sampling. Variabel dependent yaitu semangat kerja dan variabel independent yaitu pendelegasian dan supervisi. Analisis statistik menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan pendelegasian dengan semangat kerja perawat (ρ value = 0,001) dan ada hubungan supervisi dengan semangat kerja perawat (ρ value = 0,001). Simpulan pada penelitian ini yaitu ada hubungan pendelegasian dan supervisi dengan semangat kerja pada perawat. Disarankan agar meningkatkan pendelegasian dan supervisi kepala ruangan kepada perawat agar semangat kerja perawat tetap baik dalam melayani pasien di rumah sakit. Absctract.The nurse's work spirit is essentially a manifestation of high work morale.Work spirit must be a concern, because high morale can improve work professionalism and also improve service quality. The morale of nurses has decreased one of the causes is the lack of effective delegation and supervision that is applied in each treatment room so that it becomes a problem in carrying out nursing services at the hospital. The purpose of this study was to determine the relationship between delegation and supervision with the enthusiasm of nurses in Kendari City Hospital. The type of research used is descriptive analytic with Cross Sectional Study approach. A sample of 48 nurses. The sampling technique uses cluster sampling technique. The dependent variable is morale and the independent variable is delegation and supervision. Statistical analysis using the Chi-Square test. The results showed that there was a relationship between delegation and the morale of nurses(ρ value = 0,001)and there is a relationship of supervision with the nurse's morale(ρ value = 0,001).The conclusion of this study is that there is a relationship between delegation and supervision with the work spirit of nurses. It is recommended to increase the delegation and supervision of the head of the room to the nurse so that the nurse's morale remains good in serving patients in the hospital.
Implementasi Health Education Meningkatkan Kesiapan Keluarga Merawat Pasien Stroke Muhammad Syahwal
Jurnal Keperawatan Vol 3 No 03 (2020): JURNAL KEPERAWATAN : JURNAL PENELITIAN DISIPLIN ILMU KEPERAWATAN
Publisher : STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46233/jk.v3i03.255

Abstract

Editor yang terhormat... Stroke merupakan penyakit kardiovaskuler yang diperkirakan 25 juta penderitanya secara global berakhir dengan kematian pada tahun 2030. Angka kejadian stroke di Indonesia pada tahun 2018 adalah 12,1 kasus per 1000 penduduk yang didominasi oleh laki-laki berusia 75 tahun keatas1,2. Stroke terjadi akibat terhentinya aliran darah pada otak, ditandai dengan hilangnya kemampuan motorik dan komunikasi serta kemunduran kognitif sehingga pasien sering mengalami keputusasaan dalam proses penyembuhan3,4. Dukungan keluarga pada fase rehabilitasi sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup pasien pasca stroke16. Penyampaian informasi dankoordinasi antar tim kesehatan yang kurang baik menyebabkan pengetahuan keluarga tentang penanganan penyakit tidak lengkap2.Sebagian keluarga belum sepenuhnya siap dalam melanjutkan perawatan dirumah setelah pemulangan padahal hampir semua penderita stroke yang bertahan hidup mengandalkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya5,6,11. Penyuluhan dan edukasi merupakan salah satu pilar pengelolaan pasienstroke7. Pengetahuan tentang pencegahan decubitus, penanganan nyeri, keberlanjutan terapi, pemenuhan diet serta keterampilan keluarga melakukan Range of motionmenyebabkan keluarga lebih siap dalam merawat anggota keluarganya8,9. Kewajiban perawat memberikan edukasi dan memastikan transisi perawatan kepada keluarga sebagai agen perawatan bagi pasien saat dirumah10. Pemberian edukasi minimal dua kali, pertemuan pertama ditujukan pada fungsi memori jangka pendek dengan substansi materi ringkas dan terarah sedangkan follow up pada pertemuan kedua membantu pasien dan keluarga mengingat kembali materi yang telah disampaikan agar terserap kedalam memori jangka panjangnya11,12.Identifikasi anggota keluarga untuk kepentingan edukasi perlu memperhatikan latar pendidikan dan tingkatan usia produktif sedangkan pemilihan media yang edukasi yang efektif adalah kombinasi komponen audio, visual dan video serta komponen penentunya adalah kemampuan komunikasi terapeutik perawat yang sangat berpengaruh pada fase terminasi proses layanan keperawatan13-15.
Hubungan Pemberian Informed Consent Dengan Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Appendisitis Di Ruang Bedah BLUD Rumah Sakit Konawe Nasir Murdiman; Abdul Aziz Harun; Nur Rachmi Djuhira L; Trivita Putri Solo
Jurnal Keperawatan Vol 2 No 03 (2019): JURNAL KEPERAWATAN : JURNAL PENELITIAN DISIPLIN ILMU KEPERAWATAN
Publisher : STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46233/jk.v2i03.258

Abstract

Abstrak. Pembedahan merupakan salah satu tindakan lanjutan dari penanganan kegawat daruratan berdasarkan keadaan pasien. Kecemasan pasien sering disebabkan oleh tindakan operasi yang dilakukan di rumah sakit. Salah satu tugas perawat adalah mampu mengatasi kecemasan pasien. Informed consent merupakan penjelasan tentang diagnosis dan indikasi prosedur harus menjelaskan perbedaan antara diagnosis pasti, diagnosis kerja, diagnosis banding, dan tidak ada diagnosis serta menerangkan bahwa penegakan diagnosis alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian Informed Consent dengan kecemasan pada pasien pre operasi Appendicitis.Penelitian ini dilaksanakan di BLUD Rumah Sakit Konawe dengan metode Deskriptif Analitik menggunakan rancangan cross sectional study. Sampel dalam penelitian ini adalah 39 responden yang diambil secara total sampling. Variabel independen adalah pemberian Informed Consent dan variabel dependen adalah kecemasan pada pasien pre operasi Appendicitis. Hasil penelitian uji statistik Mann-Whitney diperoleh ρ 0.042 < 0.05, berarti ada hubungan pemberian Informed Consent dengan kecemasan pada pasien pre operasi Appendicitis. Simpulan penelitian ini adalah pemberian Informed Consent berhubungan dengan kecemasan pada pasien pre operasi Appendicitis. Saran diharapkan pihak rumah sakit memberikan penjelasan tentang prosedur tindakan operasi untuk meminimalisir kecemasan. Absctract. Surgery is one of the follow-up actions to deal with emergency emergencies according to the patient's condition. Surgery at the hospital often causes anxiety in patients. Overcoming or reducing patient anxiety is one of the nurses' duties Informed consent is an explanation of the diagnosis and an indication of the procedure must explain the difference between a definite diagnosis, work diagnosis, differential diagnosis, and no diagnosis and explain that an alternative diagnosis is enforced. This study aims to determine the relationship between Informed Consent administration and anxiety in patients with preoperative Appendicitis. This research was carried out at BLUD Konawe Hospital with Analytical Descriptive method using Cross Sectional Study design. The sample in this study were 39 respondents taken in total sampling. The independent variable is the provision of Informed Consent and the dependent variable is anxiety in patients with preoperative appendicitis. Mann-Whitney statistical test research results obtained ρ 0.042 <0.05, meaning that there is a relationship between giving Informed Consent with anxiety in patients with preoperative Appendicitis.The conclusions of this study were the provision of informed consent related to anxiety in patients with preoperative appendicitis. Suggestions are expected the hospital to provide an explanation of surgical procedures to minimize anxiety.
Perbedaan Pengetahuan Pre Dan Post Pendidikan Kesehatan Pada Penghuni Lapas Tentang Risiko Kejadian Viral Hepatitis Di Lapas Perempuan Kelas III Hesmina Puspita Sari; Diah Indriastuti; Muhamad Asrul; Elyasari Elyasari
Jurnal Keperawatan Vol 2 No 03 (2019): JURNAL KEPERAWATAN : JURNAL PENELITIAN DISIPLIN ILMU KEPERAWATAN
Publisher : STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46233/jk.v2i03.259

Abstract

Abstrak. Abstrak. Viral hepatitis di Lapas menjadi masalah bagi kesehatan narapidana. Kurangnya sanitasi dan gaya hidup narapidana terutama wanita seringkali menjadi penyebab mudahnya hepatitis menular di dalam lapas. Upaya kesehatan seperti screening hepatitis maupun pemberian penyuluhan tentang hepatitis belum pernah dilakukan di Lapas Perempuan Kendari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan pre dan post pendidikan kesehatan pada penghuni lapas tentang risiko viral hepatitis di Lapas. Penelitian ini adalah penelitian Pre-Experimental dengan desain one group pre test-post test design. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah 86 orang penghuni lapas perempuan kelas III Kendari. Teknik sampeling menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji wilcoxon sign rank test. Hasil penelitian menunjukan data sebelum pendidikan kesehatan mengenai hepatitis sebesar 52,3% pengetahuan narapidana dalam kategori tinggi dan 47,7% memiliki kategori pengetahuan rendah. Data pengetahuan setelah pendidikan kesehatan sebesar 70,9% pengetahuan tinggi dan hanya 29,1% masih memiliki pengetahuan rendah. Rata-rata skor pengetahuan sebesar 6,33 sebelum pendidikan kesehatan sebesar dan setelah pendidikan kesehatan sebesar 8,56. Hasil uji wilcoxon sign rank test diperoleh nilai p value 0,000. Simpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah ada perbedaan pengetahuan pre dan post pendidikan kesehatan pada penghuni lapas tentang risiko kejadian viral hepatitis. Saran peneliti adalah bagi pihak Lapas perempuan agar menentukan kebijakan tentang risiko kejadian viral Hepatitis dengan rutin memberikan penyuluhan tentang Hepatitis. Bagi narapidana perempuan agar mencegah penyakit Hepatitis dengan menjaga personal higiene. Bagi peneliti selanjutnya, agar menggunakan media yang berbeda dalam upaya peningkatan pengetahuan narapidana tentang viral Hepatitis. Absctract. Viral hepatitis in prisons is a problem for prisoners' health. Lack of sanitation and lifestyles of prisoners, especially women are often the cause of the ease of communicable hepatitis in prisons. Health efforts such as hepatitis screening and counseling about hepatitis have never been done in Kendari Women's Penitentiary. This study aims to determine differences in pre and post health education knowledge among prison residents about the risk of viral hepatitis in correctional institutions. This research is a Pre-Experimental study with one group pre-test-post test design. The population and sample in this study were 86 female class III prison residents in Kendari. The sampling technique uses total sampling technique. Data obtained using a questionnaire and analyzed using the Wilcoxon sign rank test. The results showed data before health education about hepatitis amounted to 52.3% knowledge of prisoners in the high category and 47.7% had a low knowledge category. Knowledge data after health education was 70.9% high knowledge and only 29.1% still had low knowledge. The average knowledge score of 6.33 before health education was equal to and after health education was 8.56. Wilcoxon sign rank test results obtained p value of 0,000. The conclusion obtained from this study is that there are differences in pre and post health education knowledge among prison residents about the risk of viral hepatitis. Researcher's suggestion is for women prison staff to determine policies about the risk of viral hepatitis by routinely providing counseling about hepatitis. For female prisoners to prevent hepatitis by maintaining personal hygiene. For further researchers, to use different media in an effort to increase prisoners' knowledge about viral hepatitis.
Perbedaan Pengetahuan Pre Dan Post Pendidikan Kesehatan Pada Penghuni Lapas Tentang Risiko Kejadian Viral Hepatitis Di Lapas Perempuan Kelas III Sari, Hesmina Puspita; Indriastuti, Diah; Asrul, Muhamad; Elyasari, Elyasari
Jurnal Keperawatan Vol 2 No 03 (2019): JURNAL KEPERAWATAN : JURNAL PENELITIAN DISIPLIN ILMU KEPERAWATAN
Publisher : STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Abstrak. Viral hepatitis di Lapas menjadi masalah bagi kesehatan narapidana. Kurangnya sanitasi dan gaya hidup narapidana terutama wanita seringkali menjadi penyebab mudahnya hepatitis menular di dalam lapas. Upaya kesehatan seperti screening hepatitis maupun pemberian penyuluhan tentang hepatitis belum pernah dilakukan di Lapas Perempuan Kendari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan pre dan post pendidikan kesehatan pada penghuni lapas tentang risiko viral hepatitis di Lapas. Penelitian ini adalah penelitian Pre-Experimental dengan desain one group pre test-post test design. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah 86 orang penghuni lapas perempuan kelas III Kendari. Teknik sampeling menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji wilcoxon sign rank test. Hasil penelitian menunjukan data sebelum pendidikan kesehatan mengenai hepatitis sebesar 52,3% pengetahuan narapidana dalam kategori tinggi dan 47,7% memiliki kategori pengetahuan rendah. Data pengetahuan setelah pendidikan kesehatan sebesar 70,9% pengetahuan tinggi dan hanya 29,1% masih memiliki pengetahuan rendah. Rata-rata skor pengetahuan sebesar 6,33 sebelum pendidikan kesehatan sebesar dan setelah pendidikan kesehatan sebesar 8,56. Hasil uji wilcoxon sign rank test diperoleh nilai p value 0,000. Simpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah ada perbedaan pengetahuan pre dan post pendidikan kesehatan pada penghuni lapas tentang risiko kejadian viral hepatitis. Saran peneliti adalah bagi pihak Lapas perempuan agar menentukan kebijakan tentang risiko kejadian viral Hepatitis dengan rutin memberikan penyuluhan tentang Hepatitis. Bagi narapidana perempuan agar mencegah penyakit Hepatitis dengan menjaga personal higiene. Bagi peneliti selanjutnya, agar menggunakan media yang berbeda dalam upaya peningkatan pengetahuan narapidana tentang viral Hepatitis. Absctract. Viral hepatitis in prisons is a problem for prisoners' health. Lack of sanitation and lifestyles of prisoners, especially women are often the cause of the ease of communicable hepatitis in prisons. Health efforts such as hepatitis screening and counseling about hepatitis have never been done in Kendari Women's Penitentiary. This study aims to determine differences in pre and post health education knowledge among prison residents about the risk of viral hepatitis in correctional institutions. This research is a Pre-Experimental study with one group pre-test-post test design. The population and sample in this study were 86 female class III prison residents in Kendari. The sampling technique uses total sampling technique. Data obtained using a questionnaire and analyzed using the Wilcoxon sign rank test. The results showed data before health education about hepatitis amounted to 52.3% knowledge of prisoners in the high category and 47.7% had a low knowledge category. Knowledge data after health education was 70.9% high knowledge and only 29.1% still had low knowledge. The average knowledge score of 6.33 before health education was equal to and after health education was 8.56. Wilcoxon sign rank test results obtained p value of 0,000. The conclusion obtained from this study is that there are differences in pre and post health education knowledge among prison residents about the risk of viral hepatitis. Researcher's suggestion is for women prison staff to determine policies about the risk of viral hepatitis by routinely providing counseling about hepatitis. For female prisoners to prevent hepatitis by maintaining personal hygiene. For further researchers, to use different media in an effort to increase prisoners' knowledge about viral hepatitis.
Efektivitas Terapi Air terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi Siti Hadrayanti Ananda; Tahiruddin Tahiruddin
Jurnal Keperawatan Vol 4 No 01 (2020): JURNAL KEPERAWATAN : JURNAL PENELITIAN DISIPLIN ILMU KEPERAWATAN
Publisher : STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46233/jk.v4i01.233

Abstract

Latar belakang, Hipertensi sebagai salah satu penyakit pada sistem kardiovaskuler sering kali menjadi pembunuh diam-diam (the silent killer of death). Penyakit ini hanya dapat dikendalikan dengan pengobatan farmakologi dan non-farmakologi.Pengobatan farmakologi membutuhkan waktu lama sehingga membutuhkan biaya yang cukup. Hal tersebut menimbulkan efek samping bagi tubuh. Sedangkan pengobatan non farmakologi tidak menimbulkan efek samping. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas terapi air terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Poasia Kota Kendari. Metode, Penelitian ini menggunakan metode Praeksperiment dengan rancangan one group pretest-postest, kemudian data diolah dengan menggunakanuji t dependen. Sampel, Jumlah populasi 19.786 penderita dan sampel pada penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik puposive sampling, yaitu 30 responden. Hasil Penelitian. Ada perbedaan yang signifikan dari pemberian terapi air terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik. Simpulan. Pemberian terapi air memberikan pengaruh terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik. Kata Kunci: Hidroterapi, tekanan darah, hipertensi
Gambaran Pengetahuan Perawat Mengenai Resiko Kejadian Phlebitis Di Kabupaten Konawe Selatan La Ode Rahmat cahyadi; Abdul Azis Harun; Diah Indriastuti
Jurnal Keperawatan Vol 4 No 01 (2020): JURNAL KEPERAWATAN : JURNAL PENELITIAN DISIPLIN ILMU KEPERAWATAN
Publisher : STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46233/jk.v4i01.238

Abstract

Abstrak. Phlebitis adalah inflamasi vena yang disebabkan oleh iritasi kimia maupun mekanik dari pemberian terapi infus, yang ditandai dengan peradangan pada dinding vena, nyeri kemerahan, dan pembengkakan pada lokasi penusukan. Phlebitis terjadi akibat pengetahuan perawat yang kurang yang menimbulkan dampak yang nyata seperti ketidaknyamanan pasien, menambah kesakitan pada pasien, peningkatan pergantian kateter baru, pintu masuk kuman ke pembuluh darah, dan menambah lama perawatan di rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran pengetahuan perawat mengenai resiko kejadian pblebitis di Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Konawe Selatan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Populasi pada penelitian ini adalah semua perawat yang bertugas di ruang rawat inap Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Konawe Selatan sebanyak 55 orang dengan jumlah sampel sebanyak 55 orang menggunakan total sampling . Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan pengetahuan kurang sebanyak 31 orang (56.4%). Kesimpulan dalam penelitian ini perawat di ruang rawat inap Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Konawe Selatan yang memliki pengetahuan baik mengenai resiko kejadian phlebitis relatif kecil, yaitu berbeda 6,4% dari perawat yang memiliki pengetahuan kurang. Saran peneliti adalah diharapkan untuk menentukan sebuah kebijakan untuk peningkatan pengetahuan mengenai resiko kejadian phlebitis di BLUD RS Konawe Selatan. Absctract. Phlebitis is venous inflammation caused by chemical or mechanical irritation from the administration of infusion therapy, which is characterized by inflammation of the venous wall, reddish pain, and swelling at the location of the puncture. Phlebitis occurs due to nurses' lack of knowledge which has real effects such as patient discomfort, increasing pain in patients, increased replacement of new catheters, entrance of germs to blood vessels, and increasing length of hospital stay. The purpose of this study was to determine the description of nurses' knowledge about the risk of pyebitis in the Regional Public Service Agency of South Konawe Hospital. This research is a quantitative research with a descriptive approach. The population in this study were all nurses who served in the inpatient room of the Regional Public Service Agency of South Konawe Hospital as many as 55 people with a total sample of 55 people using total sampling. The results showed that respondents with less knowledge were 31 people (56.4%). The conclusion in this study nurses in the inpatient room Regional Public Service Agency of South Konawe Hospital who have good knowledge about the risk of the incidence of phlebitis is relatively small, which is 6.4% different from nurses who have less knowledge. Researcher's suggestion is expected to determine a policy to increase knowledge about the risk of phlebitis in BLUD Hospital Konawe Selatan.
Hubungan Pola Hidup Penderita Hipertensi dengan Kejadian Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Batalaiworu Kabupaten Muna Hamria Hamria; Mien Mien; Muhaimin Saranani
Jurnal Keperawatan Vol 4 No 01 (2020): JURNAL KEPERAWATAN : JURNAL PENELITIAN DISIPLIN ILMU KEPERAWATAN
Publisher : STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46233/jk.v4i01.239

Abstract

Abstrak. Hipertensi merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia karena tingginya tingkat prevalensi dan berhubungan dengan peningkatan resiko penyakit kardiovaskular. Secara global, hipertensi telah mencapai angka hingga 74,5 juta jiwa sedangkan di Indonesia berdasarkan pengukuran tekanan darah pada umur ≥18 tahun adalah sebesar 25,8%. Upaya penanganan terhadap penderita hipertensi dititik beratkan pada faktor yang masih bisa dikendalikan seperti mengubah pola hidup yang negatif dari penderita hipertensi itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya hubungan antara pola hidup penderita hipertensi dengan kejadian hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Batalaiworu Kabupaten Muna. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional Study. Sampel dalam penelitian ini adalah 46 penderita hipertensi. Teknik penarikan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Variabel yang diteliti terdiri dari variabel terikat yaitu kejadian hipertensi dan variabel bebas yaitu pola hidup. Analisis yang digunakan adalah univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan pola hidup penderita dengan kejadian hipertensi dengan nilai p value = 0,000. Simpulan pada penelitian ini yaitu.Ada hubungan pola hidup penderita hipertensi dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Batalaiworu Kabupaten Muna,diharapkan masyrakat dapat meningkatkan pola hidup sehat dengan cara melakukan olahraga dan mengurangi makan makanan yang berlemak guna mencegah terjadinya hipertensi. Absctract. Hypertension is the biggest health problem in the world because of its high prevalence and is associated with an increased risk of cardiovascular disease. Globally, hypertension has reached up to 74.5 million, while in Indonesia based on blood pressure measurement at the age of ≥18 years is 25.8%. Efforts to deal with hypertension sufferers focus on factors that can still be controlled, such as changing the negative lifestyle patterns of hypertension sufferers themselves. The purpose of this study was to determine the relationship between the lifestyle of patients with the incidence of hypertension in the Work Area of the Batalaiworu Public Health Center, Muna’s Regency. This type of research is analytic descriptive using the Cross Sectional Study approach. The sample in this study were 46 patients with hypertension. The sampling technique uses purposive sampling technique. The variables studied consisted of the dependent variable, namely the incidence. of hypertension and the independent variable, namely lifestyle. The analysis used is univariate and bivariate. The results showed that there was a relationship between the patient's lifestyle and the incidence of hypertension with a p value = 0,000. The conclusion of this study is that there is a relationship between the lifestyle of people with hypertension and the incidence of hypertension in the work area of ​​the Batalaiworu Health Center in Muna Regency. It is hoped that the community can improve a healthy lifestyle by doing sports and reducing eating fatty foods to prevent hypertension.
Hubungan Kesesuaian Materi Discharged Planning Dengan Tingkat Kepercayaan Pasien Post Operasi Di Singkawang Raju - Kapadia; Nurbani Alamsyah
Jurnal Keperawatan Vol 4 No 01 (2020): JURNAL KEPERAWATAN : JURNAL PENELITIAN DISIPLIN ILMU KEPERAWATAN
Publisher : STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46233/jk.v4i01.260

Abstract

Absctract. :Meningkatnya masalah pasca operasi setelah pasien kembali kerumah berhubungan erat dengan lemahnya proses discharged planning. Kejadian infeksi, immobilisasi, dan nyeri pasca operasi bisa dicegah dengan pemberian discharged planning yang sesuai dengan kebutuhan perawatan. Pelaksanaan discharged planning sering ditemukan tidak terstruktur dan mengabaikan kesesuaian antara pembelajaran yang disampaikan dengan informasi yang sebenarnya dibutuhkan pasien. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi kesesuaian antara materi discharge Planing yang diberikan dengan informasi yang dibutuhkan pasien serta hubungannya terhadap tingkat kepercayaan pasien. Metode penelitian pada studi ini adalah deskriftif korelasional dengan rancangan penelitian cross sectional, pengumpulan data melalui kuesioner terhadap sampel penelitian sejumlah 32 orang, analisa data kuntitatif dengan cara menghitung persentase dan mencari hubungan antar variable dengan menggunakan uji statistik Kolmogorof Smirnov. Hasil penelitian didapatkan kesesuaian tinggi pada materi pembelajaran discharged planning pada pasien post operasi sebanyak 78%, tingkat kepercayaan pasien terhadap perawat didapatkan sebagian besar percaya yaitu sebesar 62,5%. Tidak ada hubungan signifikan antara kesesuaian materi discharged planning dengan tingkat kepercayaan pasien dengan nilai Asym.sig. (2-tailed ) 1,000. Kesimpulan yang didapatkan adalah terdapat kesesuaian materi dan informasi yang diberikan pada pasien post operasi melalui discharged planning,namun hal ini tidak mempengaruhi tingkat kepercayaan pasien terhadap pelayanan perawat Absctract: Increased postoperative problems after the patient's discharged is closely related to the weak discharged planning process. Incidence of infections, immobilization, and postoperative pain can be prevented by providing discharged planning to suit the needs of treatment. The implementation of discharged planning is often found unstructured and ignores the suitability of the learning delivered with the actual information needed by the patient. The purpose of this study is to identify the suitability between the discharge planning material provided with the patient's needed information and its relationship to the patient's level of trust. The research method in this study was a correlational descriftive with a cross sectional research, data collection through questionnaires to research samples of 32 people, analysis of the kuntitular data by calculating the percentage and searching for inter-variable relationships using statistical tests of Kolmogorof Smirnov. The results of the study gained high conformity in the learning materials discharged planning in patients post operations as much as 78%, the level of patient confidence in the nurse obtained most of the trust is at 62.5%. There is no significant link between the conformity of discharged planning materials and the level of patient confidence with the value of Asym. Sig. (2-tailed) 1.000. The conclusion is that there is conformity of material and information provided in post-operative patients through discharged planning, but it does not affect the level of patient confidence in the care of Nurses
Karakteristik Demografi dan Kondisi Kesehatan Sebagai Prediktor Stress pada Pasien Kanker Ashar Prima; Heny Suseani Pangastuti; Sri Setiyarini
Jurnal Keperawatan Vol 4 No 01 (2020): JURNAL KEPERAWATAN : JURNAL PENELITIAN DISIPLIN ILMU KEPERAWATAN
Publisher : STIKes Karya Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46233/jk.v4i01.261

Abstract

Abstrak. Masalah Psikologis termasuk stress berkontribusi lebih dari 80% terhadap progresifitas kanker, dapat juga berdampak pada kondisi medis seperti munculnya efek samping selama proses pengobatan. Identifikasi faktor yang dapat berhubungan dengan stress dapat menjadi pedoman dalam memberi interventi untuk mengurasi stres. Dua faktor yang berhubungan dengan stress yaitu karakteristik demografi dan kondisi kesehatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara karakteristik demografi dan kondisi kesehatan pasien dengan stress pada pasien kanker. Penelitian cross-sectional melibatkan 72 pasien kanker (20-65 tahun). Depression Anxiety Stress Scales (DASS 42) digunakan untuk menilau tingkat stres. Karakteristik demografi (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan dan pendapatan) dan Kondisi kesehatan (Jenis kanker, jenis terapi, dan lama sakit) juga di kumpulkan. Data dianalisis dengan Mann-whitney U test, Kruskal-Wallis test dan Regression test. Hasil penelitian didapatkan prevalensi pasien pada stres ringan (48.6%), stress sedang (50,0%) dan stress berat (1.4%). Uji Statistik menunjukkan terdapat perbedaan signifikan skor stress berdasarkan tingkat pendidikan (ρ=0,045) dan jenis terapi (ρ = 0,0001), hasil regresi didapatkan variabel jenis terapi menjadi faktor paling dominan yang berhubungan dengan stres (β = -0,368; ρ = 0,002). Hasil penelitian didapatkan Prevalensi stress yang tinggi pada pasien kanker membutuhkan perhatian yang lebih karena akan berdampak pada kesehatan mental pasien kanker. Oleh karena ini petugas kesehatan, khususnya perawat bisa lebih memberi perhatian pada faktor yang dapat meningkatkan stres Abstract: Psychological disorder including stress was contributed up to 80% to the progression of cancer, but it also could impact medical outcomes such as the experience of side effects during treatment. Identifying the factor that explains variability in stress would guide future interventions aimed at decreasing stress. Two factors that have been related to stress are Demographic characteristics and health conditions. This study is the first to Investigated related between Demographic characteristics, Health condition, and stress in the cancer patient. A cross-sectional study of 72 patients (20-65 years old) with cancer were enrolled. The patients completed the Depression Anxiety Stress Scales (DASS 42) to assess their levels of stress. Demographic (gender, age, education level, occupation, and income) and health condition (Cancer type, therapy type, and Length of Sickness) were also collected. Data analyzed was the Mann-Whitney U test, Kruskal-Wallis test dan Regression test. The Levels Stress prevalence rate of patients were mild stress (48,6%), moderate stress (50.0%), and severe stress (1.4%). Statistical tests showed that there was a significant difference in stress score based on education level (ρ = 0.045) and type of therapy (ρ = 0.0001), the regression results obtained variable type of therapy to be the most dominant factor related to stress (β =, -0,368; ρ = 0.002 ). The high prevalence of level stress on cancer patients suggests that need more attention should be paid to mental health in these patients. Therefore, health workers, especially nurses should pay close attention to the factor that can to increase level stress in the cancer patient.