cover
Contact Name
Rachmat Faisal Syamsu
Contact Email
rachmatfaisal.syamsu@umi.ac.id
Phone
+6285242150099
Journal Mail Official
medicaljournal@umi.ac.id
Editorial Address
Jl. Urip Sumohardjo Km.05 (Kampus II UMI), Makassar, Sulawesi Selatan
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
UMI Medical Journal
ISSN : 25484079     EISSN : 26857561     DOI : -
Umi Medical Journal (UMEDJ) is a field of health in the broadest sense such as medicine, public health, nursing, midwifery, pharmacy, health psychology, nutrition, biomedical sciences.
Articles 161 Documents
Preeklamsia Berat dengan Prematuritas dan Post Sectio Sesarea Ditinjau dari Aspek Medis, Kaidah Dasar Bioetik, dan Perspektif Islam Nasrudin Mappaware; Abd Rahman; Nugraha U P; Nuraini Abidin
UMI Medical Journal Vol 4 No 2 (2019): December 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/umj.v4i2.72

Abstract

Latar Belakang : Tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia yang mencapai 305/100.000 orang (Kemenkes, 2015). Dimana preeklamsia merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya AKI. Selain itu, preeclampsia juga berdampak pada bayi yang dilahirkan seperti berat badan lahir rendah, pertumbuhan janin terhambat serta turut menyumbangkan besarnya angka morbiditas dan mortalitas perinatal. Salah satu upaya untuk meminimalkan faktor resiko preeklamsia terhadap ibu dan bayi dengan melakukan pemeriksaan berkala secara rutin pada ibu hamil. Selain sarana dan prasarana yang belum mamadai, patogenesis yang belum jelas juga menjadi faktor kualitas penanganan preeklampsia masih beragam. Laporan Kasus : Seoarang Perempuan, 25 tahun, G2P1A0 datang ke IGD RS “Ibnu Sina” dengan keluhan nyeri kepala yang dirasakan sejak 1 hari sebelum masuk RS, nyeri perut tembus kebelakang tidak ada, tidak ada pelepasan darah, lendir dan air. Gerakan janin masih dirasakan ibu. BAB normal. BAK lancar. Riwayat SC 1x atas indikasi PEB. Riwayat penggunaan kontrasepsi (-). HPHT 12/05/2017. Tanda Vital TD: 200/100 mmHg, nadi: 87x/m, pernapasan: 20x/m, suhu: 36,5 °c. Pemeriksaan laboratorium dalam protein urin +3. Di Diagnosis dengan Preeklamsia Berat dengan Prematuritas (gravid 31 minggu) dan post operasi sectio cesarea anak pertama. Rencana penatalaksanaan adalah terminasi kehamilan dengan tindakan operasi section cesarean. Pembahasan : Berdasarkan kasus, kondisi tersebu dapat mengancam jiwa ibu dan bayi sehingga ditinjau dari aspek medis maka penanganan yang tepat dilakukan sesuai dengan pedoman terapi preemlamsia berat dan terminasi kehamilan yang preterm. Namun berdasarkan analisa bioetik, dilema etik yang muncul yaitu prinsip beneficience dan non-maleficence dengan pengambilan keputusan etik berdasarkan pendekatan Medical Indication dan Quality of Life. Analisa berdasarkan sudut pandang islam yang terkandung dalam surat Al-Isra ayat 7;Ar-Rahman ayat 60; Al-Mu’minun ayat 61; dan Al-Maidah ayat 32 serta teori etik islam.
Gambaran Faktor Risiko Malnutrisi pada Anak Balita di Wilayah Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar Tahun 2019 Hidro Muhammad Perdana; Darmawansyih Darmawansyih; Andi Faradilla
UMI Medical Journal Vol 5 No 1 (2020): UMI Medical Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/umj.v5i1.74

Abstract

Latar belakang: Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, angka kejadian gizi kurang pada balita sebesar 17,7%. Wilayah Sulawesi Selatan merupakan salah satu wilayah dengan peringkat 10 tertinggi untuk prevalensi gizi kurang/malnutrisi dan gizi buruk pada balita yaitu 25,6%, dan 6,6%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko gizi kurang pada anak balita di Wilayah Kecamatan Tamalanrea. Metode: Jumlah sampel pada penelitian ini 77 anak balita dengan gizi kurang. Adapun pengambilan data pada penelitian ini berdasarkan angka kejadian malnutrisi pada anak balita di beberapa Puskesmas Kecamatan Tamalanrea, data rekam medis dan melakukan interview langsung dengan menggunakan kuisioner. Faktor risiko yang diteliti adalah riwayat pemberian ASI eksklusif, riwayat penyakit infeksi, riwayat berat badan lahir, tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua, dan status sosial ekonomi. Hasil: Dari 77 sampel pasien dengan gizi kurang, terdapat 59 (76,6%) anak balita yang tidak diberikan ASI eksklusif dengan gizi kurang, 39 (50,6%) anak balita yang memilki riwayat penyakit infeksi dengan gizi kurang, 42 (54,5%) anak balita yang memiliki riwayat berat badan lahir rendah dengan gizi kurang, 59 (76,6%) orang tua dari pasien dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang kurang dengan gizi kurang, 48 (62,3%) keluarga dengan status sosial ekonomi yang rendah dengan gizi kurang. Kesimpulan: Anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif, memiliki riwayat penyakit infeksi, memiliki riwayat berat lahir rendah, memiliki orang tua dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah, dan status sosial ekonomi yang rendah lebih banyak mengalami malnutrisi.
Gambaran Faktor Risiko Malnutrisi pada Anak Balita di Wilayah Kecamatan Tamalanrea Kota Makassar Tahun 2019 Perdana, Hidro Muhammad; Darmawansyih, Darmawansyih; Faradilla, Andi
UMI Medical Journal Vol 5 No 1 (2020): UMI Medical Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/umj.v5i1.74

Abstract

Latar belakang: Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, angka kejadian gizi kurang pada balita sebesar 17,7%. Wilayah Sulawesi Selatan merupakan salah satu wilayah dengan peringkat 10 tertinggi untuk prevalensi gizi kurang/malnutrisi dan gizi buruk pada balita yaitu 25,6%, dan 6,6%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko gizi kurang pada anak balita di Wilayah Kecamatan Tamalanrea. Metode: Jumlah sampel pada penelitian ini 77 anak balita dengan gizi kurang. Adapun pengambilan data pada penelitian ini berdasarkan angka kejadian malnutrisi pada anak balita di beberapa Puskesmas Kecamatan Tamalanrea, data rekam medis dan melakukan interview langsung dengan menggunakan kuisioner. Faktor risiko yang diteliti adalah riwayat pemberian ASI eksklusif, riwayat penyakit infeksi, riwayat berat badan lahir, tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua, dan status sosial ekonomi. Hasil: Dari 77 sampel pasien dengan gizi kurang, terdapat 59 (76,6%) anak balita yang tidak diberikan ASI eksklusif dengan gizi kurang, 39 (50,6%) anak balita yang memilki riwayat penyakit infeksi dengan gizi kurang, 42 (54,5%) anak balita yang memiliki riwayat berat badan lahir rendah dengan gizi kurang, 59 (76,6%) orang tua dari pasien dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang kurang dengan gizi kurang, 48 (62,3%) keluarga dengan status sosial ekonomi yang rendah dengan gizi kurang. Kesimpulan: Anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif, memiliki riwayat penyakit infeksi, memiliki riwayat berat lahir rendah, memiliki orang tua dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah, dan status sosial ekonomi yang rendah lebih banyak mengalami malnutrisi.
Patofisiologi Penurunan Kognitif pada Penyakit Parkinson Suharti Suharti
UMI Medical Journal Vol 5 No 1 (2020): UMI Medical Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/umj.v5i1.76

Abstract

Penyakit Parkinson (PD) merupakan penyakit yang mengganggu pergerakan dan merupakan penyakit degeneratif sistem saraf pusat yang paling umum setelah Alzheimer. Parkinson biasanya terjadi pada usia 65 hingga 70 tahun. Kasus sebelum usia 40 tahun terjadi kurang dari 5%. Patologi pada PD ditandai oleh hilangnya intervasi neuron dopaminergik di subsantia nigra. Neurodegerasi PD tidak terbatas hanya pada neuron dopaminergik di substantia nigra, namun juga melibatkan sel-sel yang berlokasi di area otak lain yang saling terkoneksi. Gangguan motorik terjadi pada PD. Namun, seiring dengan perkembangan penyakit, dapat terjadi gangguan non-motorik seperti penurunan indra penciuman, disfungsi otonom, nyeri, kelelahan, gangguan tidur, gangguan kognitif dan psikiatrik. Penurunan kognitif, dalam bentuk penurunan fungsi eksekutif, visuospasial dan memori, serta demensia, merupakan aspek gangguan non-motorik dari penyakit parkinson. Hal tersebut berefek secara signifikan terhadap kualitas hidup penderita PD. Pemahaman terkait patologi yang mendasari penurunan kognitif pada PD memungkinkan dilakukannya intervensi dini dalam pencegahan perkembangan PD yang mengarah pada gangguan non-motorik. Neuropatologis utama PD adalah keberadaan Lewy bodies yang mengandung α-synuclein dan hilangnya neuron dopaminergik di substantia nigra, yang bermanifestasi penurunan fasilitasi gerakan sadar. Sejalan dengan perkembangan PD, patologi Lewy bodies menyebar ke daerah neokortikal dan kortikal. Neurodegenerasi daerah kortikal dan limbik yang luas, deposisi Lewy bodies, neuroinflamasi, small vascular disease (SVD), dan faktor genetik terlibat dalam penurunan fungsi kognitif pada PD.
Patofisiologi Penurunan Kognitif pada Penyakit Parkinson Suharti, Suharti
UMI Medical Journal Vol 5 No 1 (2020): UMI Medical Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/umj.v5i1.76

Abstract

Penyakit Parkinson (PD) merupakan penyakit yang mengganggu pergerakan dan merupakan penyakit degeneratif sistem saraf pusat yang paling umum setelah Alzheimer. Parkinson biasanya terjadi pada usia 65 hingga 70 tahun. Kasus sebelum usia 40 tahun terjadi kurang dari 5%. Patologi pada PD ditandai oleh hilangnya intervasi neuron dopaminergik di subsantia nigra. Neurodegerasi PD tidak terbatas hanya pada neuron dopaminergik di substantia nigra, namun juga melibatkan sel-sel yang berlokasi di area otak lain yang saling terkoneksi. Gangguan motorik terjadi pada PD. Namun, seiring dengan perkembangan penyakit, dapat terjadi gangguan non-motorik seperti penurunan indra penciuman, disfungsi otonom, nyeri, kelelahan, gangguan tidur, gangguan kognitif dan psikiatrik. Penurunan kognitif, dalam bentuk penurunan fungsi eksekutif, visuospasial dan memori, serta demensia, merupakan aspek gangguan non-motorik dari penyakit parkinson. Hal tersebut berefek secara signifikan terhadap kualitas hidup penderita PD. Pemahaman terkait patologi yang mendasari penurunan kognitif pada PD memungkinkan dilakukannya intervensi dini dalam pencegahan perkembangan PD yang mengarah pada gangguan non-motorik. Neuropatologis utama PD adalah keberadaan Lewy bodies yang mengandung α-synuclein dan hilangnya neuron dopaminergik di substantia nigra, yang bermanifestasi penurunan fasilitasi gerakan sadar. Sejalan dengan perkembangan PD, patologi Lewy bodies menyebar ke daerah neokortikal dan kortikal. Neurodegenerasi daerah kortikal dan limbik yang luas, deposisi Lewy bodies, neuroinflamasi, small vascular disease (SVD), dan faktor genetik terlibat dalam penurunan fungsi kognitif pada PD.
Hubungan Kebisingan dan Masa Kerja terhadap Jenis Ketulian dan Stres pada Pekerja PT. Semen Tonasa Rezky Putri Indarwati Abdullah; Sigit Dwi Purnomo; Ida Putri Ihsani
UMI Medical Journal Vol 5 No 1 (2020): UMI Medical Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/umj.v5i1.77

Abstract

Latar Belakang: Kemajuan teknologi sektor industri, telah menciptakan macam produk mesin yang seringkali menghasilkan timbulnya bising di tempat kerja. Gangguan pendengaran disebabkan beberapa faktor diantaranya: umur, intensitas bising, masa kerja, lama kerja dan penggunaan Advanced Package Tool (APT). Maka dari itu penelitian ini ingin mengetahui hubungan kebisingan dan masa kerja terhadap jenis ketulian dan stres pada pekerja. Metode: Penelitian ini adalah analisis observasional dengan metode cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah pekerja pabrik PT. Semen Tonasa yang berjumlah 82 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik pengumpulan data dengan wawancara melalui kuesioner dan pengukuran intensitas kebisingan dengan Sound Level Meter serta data rekam medik. Hasil: Penelitian menunjukkan dari 82 responden, didapatkan yang bekerja pada area bising <80 dB yaitu 30 orang, Yang bekerja pada area bising 80-100 dB yaitu 10 orang dan yang bekerja pada area bising >100 dB yaitu 42 orang. Kemudian didapatkan 30 orang diantaranya memiliki hasil pemeriksaan audiometri normal, 28 orang NIHL, 20 orang BCHL dan 4 orang campuran. Pada pekerja berusia 20-30 tahun yaitu 22 orang, berusia 31-40 tahun 17 sampel, berusia 41-50- tahun yaitu 33 sampel dan berusia >51 tahun yaitu 10 orang. Pada pekerja dengan masa kerja lebih dari 5 tahun yaitu 76 sampel dan 6 sampel dengan masa kerja ≤5 tahun. Pada pekerja tidak stres 30 orang, stres ringan 12 orang, stres sedang 18 orang dan stres berat 22 orang. Kesimpulan: Derajat kebisingan memiliki hubungan signifikan dengan stres. Sedangkan tidak didapatkan hubungan antara masa kerja terhadap jenis ketulian. Masa kerja juga tidak memiliki hubungan signifikan terhadap stres.
Hubungan Kebisingan dan Masa Kerja terhadap Jenis Ketulian dan Stres pada Pekerja PT. Semen Tonasa Abdullah, Rezky Putri Indarwati; Purnomo, Sigit Dwi; Ihsani, Ida Putri
UMI Medical Journal Vol 5 No 1 (2020): UMI Medical Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/umj.v5i1.77

Abstract

Latar Belakang: Kemajuan teknologi sektor industri, telah menciptakan macam produk mesin yang seringkali menghasilkan timbulnya bising di tempat kerja. Gangguan pendengaran disebabkan beberapa faktor diantaranya: umur, intensitas bising, masa kerja, lama kerja dan penggunaan Advanced Package Tool (APT). Maka dari itu penelitian ini ingin mengetahui hubungan kebisingan dan masa kerja terhadap jenis ketulian dan stres pada pekerja. Metode: Penelitian ini adalah analisis observasional dengan metode cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah pekerja pabrik PT. Semen Tonasa yang berjumlah 82 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik pengumpulan data dengan wawancara melalui kuesioner dan pengukuran intensitas kebisingan dengan Sound Level Meter serta data rekam medik. Hasil: Penelitian menunjukkan dari 82 responden, didapatkan yang bekerja pada area bising <80 dB yaitu 30 orang, Yang bekerja pada area bising 80-100 dB yaitu 10 orang dan yang bekerja pada area bising >100 dB yaitu 42 orang. Kemudian didapatkan 30 orang diantaranya memiliki hasil pemeriksaan audiometri normal, 28 orang NIHL, 20 orang BCHL dan 4 orang campuran. Pada pekerja berusia 20-30 tahun yaitu 22 orang, berusia 31-40 tahun 17 sampel, berusia 41-50- tahun yaitu 33 sampel dan berusia >51 tahun yaitu 10 orang. Pada pekerja dengan masa kerja lebih dari 5 tahun yaitu 76 sampel dan 6 sampel dengan masa kerja ≤5 tahun. Pada pekerja tidak stres 30 orang, stres ringan 12 orang, stres sedang 18 orang dan stres berat 22 orang. Kesimpulan: Derajat kebisingan memiliki hubungan signifikan dengan stres. Sedangkan tidak didapatkan hubungan antara masa kerja terhadap jenis ketulian. Masa kerja juga tidak memiliki hubungan signifikan terhadap stres.
Karakteristik Penderita Demam Tifoid di RS. Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2016 - 2017 Zaidan Zaidan; Santriani Hadi; Ilma Khaerina Amaliyah B.
UMI Medical Journal Vol 5 No 1 (2020): UMI Medical Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/umj.v5i1.81

Abstract

Latar Belakang: Demam Tifoid merupakan penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi dan merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) diperkirakan 11-20 juta orang di dunia terkena penyakit demam tifoid dan menyebabkan kematian sekitar 128.000 - 161.000 jiwa. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk melihat karakteristik penderita demam tifoid di rumah sakit Ibnu Sina kota makassar pada tahun 2016-2017. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode total sampling menggunakan data sekunder dari rekam medik. Pada penelitian ini didapatkan jumlah penderita demam tifoid tahun 2016–2017 sebanyak 233 orang. Hasil: Kejadian demam tifoid tertinggi adalah tahun 2016 bulan April sebanyak 26 orang (14,8%) dengan kelompok usia terbanyak yaitu 21-30 sebanyak 80 orang (34,3%), jenis kelamin terbanyak perempuan sebanyak 124 orang (53,2%). Jenis pekerjaan penderita demam tifoid terbanyak yaitu kelompok mahasiswa sebanyak 62 orang (26,6%) dengan gejala subjektif demam sebanyak 233 orang (100%). Pada pemeriksaan lidah kotor positif sebanyak 80 orang (34,3%). Pemeriksaan penunjang diagnosis yaitu pemeriksaan darah rutin didapatkan yang mengalami anemia sebanyak 38 orang (12,5%). Kesimpulan: Gejala subjektif tertinggi yaitu demam dengan pemeriksaan fisis yaitu lidah kotor. Pemeriksaan penunjang diagnosis terbanyak adalah pemeriksaaan darah rutin dan pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan adalah tes widal.
Karakteristik Penderita Demam Tifoid di RS. Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2016 - 2017 Zaidan, Zaidan; Hadi, Santriani; Amaliyah B., Ilma Khaerina
UMI Medical Journal Vol 5 No 1 (2020): UMI Medical Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/umj.v5i1.81

Abstract

Latar Belakang: Demam Tifoid merupakan penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi dan merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) diperkirakan 11-20 juta orang di dunia terkena penyakit demam tifoid dan menyebabkan kematian sekitar 128.000 - 161.000 jiwa. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk melihat karakteristik penderita demam tifoid di rumah sakit Ibnu Sina kota makassar pada tahun 2016-2017. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode total sampling menggunakan data sekunder dari rekam medik. Pada penelitian ini didapatkan jumlah penderita demam tifoid tahun 2016–2017 sebanyak 233 orang. Hasil: Kejadian demam tifoid tertinggi adalah tahun 2016 bulan April sebanyak 26 orang (14,8%) dengan kelompok usia terbanyak yaitu 21-30 sebanyak 80 orang (34,3%), jenis kelamin terbanyak perempuan sebanyak 124 orang (53,2%). Jenis pekerjaan penderita demam tifoid terbanyak yaitu kelompok mahasiswa sebanyak 62 orang (26,6%) dengan gejala subjektif demam sebanyak 233 orang (100%). Pada pemeriksaan lidah kotor positif sebanyak 80 orang (34,3%). Pemeriksaan penunjang diagnosis yaitu pemeriksaan darah rutin didapatkan yang mengalami anemia sebanyak 38 orang (12,5%). Kesimpulan: Gejala subjektif tertinggi yaitu demam dengan pemeriksaan fisis yaitu lidah kotor. Pemeriksaan penunjang diagnosis terbanyak adalah pemeriksaaan darah rutin dan pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan adalah tes widal.
Pengaruh Tingkat Pengetahuan dan Sikap Ibu terhadap Konsumsi Obat Cacing pada Murid Sekolah Dasar MI DDI Gusung Kota Makassar Nur Fitriany Lihawa; Santriani Hadi; Ilma khaerina amaliyah
UMI Medical Journal Vol 5 No 1 (2020): UMI Medical Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/umj.v5i1.84

Abstract

Latar belakang:. Infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah adalah salah satu infeksi paling umum di seluruh dunia. Infeksi cacing dapat berdampak pada tingkat kecerdasan dan produktivitas. Ibu merupakan garis terdepan dalam tahap pencegahan cacingan pada anak yang salah satu perannya adalah memastikan anak mengonsumsi obat cacing secara rutin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Tingkat Pengetahuan dan Sikap Ibu terhadap Konsumsi Obat Cacing pada Murid Sekolah Dasar MI DDI Gusung. Sampel penelitian adalah ibu dari murid SD Kelas 1,2 dan 3 MI DDI Gusung Kota Makassar. Metode: Penelitian merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di MI DDI Gusung Kota Makassar pada bulan Maret - April 2019. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu dari murid di MI DDI Gusung Periode Maret 2019 dan sampel yang diambil adalah ibu dari murid SD kelas 1, 2 dan 3 di MI DDI Gusung Kota Makassar Periode Maret 2019. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan pengetahuan baik memiliki persentase lebih tinggi (66.7%) dalam mengonsumsi obat cacing secara rutin dibandingkan responden dengan pengetahuan kurang (0%). Hasil uji statistik chi-square didapatkan p=0.000 yang berarti terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan konsumsi obat cacing. Untuk variabel sikap menunjukkan bahwa responden dengan sikap yang baik memiliki persentase lebih tinggi (47.5%) dalam mengonsumsi obat cacing secara rutin dibandingkan responden dengan sikap kurang (33.3%). Hasil uji statistik chi-square didapatkan p=0.019, ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara sikap dengan konsumsi obat cacing. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap ibu terhadap konsumsi obat cacing pada murid sekolah dasar MI DDI Gusung Kota Makassar

Page 7 of 17 | Total Record : 161