cover
Contact Name
Asri Hidayat
Contact Email
asri.hidayat@kemdikbud.go.id
Phone
+628114118474
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin km.7, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora
ISSN : 25024345     EISSN : 26864355     DOI : https://doi.org/10.36869
Core Subject : Social,
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2021)" : 8 Documents clear
JEJAK ARKEOLOGIS DAN ADAPTASI KULTURAL MIGRAN BUGIS DI GORONTALO Rismawidiawati Rusli; Muhammad Subair
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i1.186

Abstract

Orang Bugis yang terkenal gemar berpetualang dapat dijumpai di berbagai wilayah di Nusantara. Salah satu wilayah yang banyak dihuni oleh migran Bugis adalah Gorontalo. Karena itu, tulisan ini diketengahkan untuk mengkaji adaptasi kultural migran Bugis dengan masyarakat Gorontalo sebagai sebuah hasil penelitian kualitatif, melalui pengamatan, kajian dokumen, dan wawancara. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa keberadaan migran Bugis di Gorontalo dimulai sejak tahun 1666 M, yang berkonsentrasi di Kampung Bugis, sebagai hadiah yang diberikan kepada mereka, atas bantuannya dalam mengusir bajak laut yang selalu merugikan penguasa Gorontalo. Migran Bugis yang mendiamitepi sungai Bone Bolango yang dikenal Kampung Bugis, sampai kini masih dapat dijumpai dengan identitas nama belakang (fam) yang berawalan “La”. Seperti La Madilau. Mereka telah beradaptasi dengan orang asli Gorontalo melalui proses kawin-mawin yang terjalin karena persamaan agama, dan membuat mereka melebur dalam budaya dan bahasa Gorontalo. Sebuah peleburan yang kental dengan tidak adanya keturunan migran Bugis itu yang bisa berbahasa Bugis meskipun mereka masih tetap mengakui nenek moyangnya berasal dari Bugis. Selain itu, terdapat juga migran Bugis yang tergabung dalam (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) yang dikenal dengan orang Selatan. Mereka masih bisa berbahasa Bugis dan mengenal baik daerah asal dan keluarganya dari daerah Bugis. Mereka tersebar pada wilayah-wilayah kecamatan di Gorontalo dan berbaur dengan modal kedermawanan dengan prakarsa pembangunan yang diperuntukkan untuk semua kalangan masyarakat tanpa membedakan asalusul suku dan perbedaan bahasa.
TRADISI MAPPALESSO SAMAJA PADA MASYARAKAT LUWU DI DESA PATIMANG SULAWESI SELATAN Ansaar Ansaar
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i1.179

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian lapangan yang bertujuan selain menguraikan awal mula tradisi mappalesso samaja, juga untuk mengungkap nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif menggunakan teknik pengumpulan data berupa pengamatan,wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa awal mula dilaksanakannya tradisi mappalesso samaja adalah karena adanya nazar atau “Samaja” yang pernah diucapkan oleh Datu Luwu Andi Djemma di hadapan para dewan adatnya dan para pemuda pejuang Luwu saat menghadapimomen kritis ketika memimpin perang gerilya mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada saat itu, Datu Luwu bernazar, bahwa kelak apabila perjuangan rakyat Luwu dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia berhasil mencapai tujuan dan cita-cita proklamasi kemerdekaan.Oleh karena itu, sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah SWT, beliau akan melaksanakan acara adat “Manre saperra” atau “Santap bersama” bersama seluruh lapisan masyarakat Luwu. Pelaksanaan tradisi mappalesso samaja secara garis besar terdiri atas tiga tahap, yakni: mallekke wae, maddoja-roja, danmanre saperra. Ada beberapa nilai budaya yang terkandung dalam pelaksanaan tradisi mappalesso samaja, yakni nilai kegotongroyongan, nilai religi, nlai musyawarah, nilai sosialisasi, nilai kepatuhan,nilai solidaritas, nilai estetika/keindahan, dan nilai hiburan.
MERAYAKAN HEDONISME: ANALISIS MULTIMODAL VIDEO “MENSCHEN IM HOTEL DES INDES”, AWAL ABAD XX Adi Putra Surya Wardhana; Fiqih Aisyatul Farokhah; Festa Kurnia Ramadhani
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i1.171

Abstract

Tulisan ini bertujuan mengkaji representasi hedonisme pelancong Eropa dalam video “Menschen im Hotel des Indes” dengan menggunakan analisis multimodal. Beberapa permasalahan yang dibahas adalah mengenai bentuk, fungsi, dan makna video “Menschen im Hotel des Indes” dalam hubungannya dengan citra pariwisata Hindia Belanda. Penelitian ini dibuat karena video tersebut membangun citra kemewahan, hedonisme orang Eropa, eksotisme alam, dan kehidupan masyarakat bumiputra zaman kolonial. Penelitian ini menggunakan metode analisis data kualitatif dengan pendekatan analisis multimodal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa video promosi tersebut secara visual, audio, dan linguistik membangun citra hedonisme, kemewahan, dan keindahan bukan hanya Hotel des Indes, melainkan juga tanah koloni Hindia Belanda. Video ini memiliki fungsi sebagai promosi pariwisata, citra keberhasilan misi pemberadaban bumiputra, dan citra modernitas kolonial. Maknanya, Hindia Belanda merupakan tempat yang indah dan nyaman untuk memuaskan hasrat bersenang-senang para pelancong di tanah koloni.
STRATEGI PELAKU USAHA RESTORAN DALAM MASA PANDEMI COVID-19 DI KABUPATEN GOWA Raodah Hafid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i1.177

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan di masa pandemi Covid-19 di Kabupaten Gowa, berkenaan dengan pelaku usaha restoran. Selama masa pandemi, pelaku usaha restoran mengalami keterpurukan yang berdampak pada berkurangnya omset penjualan dan pengurangan tenaga kerja. Untuk bertahan hidup, pelaku usaha restoran melakukan berbagai macam strategi,agar dapat bangkit dari keterpurukan ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan teknik pengumpulan data, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat strategi pelaku usaha resotaran selama masa pandemi Covid-19, dan secara purposive memilih dua resto yang terkenal di Kabupaten Gowa, yaitu Resto Dewi Sri dan Resto Saung Rindu Alam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa strategi yang dilakukan pelaku usaha restoran untuk bertahan hidup selama masa pandemi, yaitu menerapkan protokol kesehatan, melakukan penjulan online, melakukan renovasi restoran sebagai persiapan re-opening, melakukan berbagai promosi untuk meningkatkan omset penjualan, dan kepedulian terhadap karyawan.
BARONGSAI DAN KELENTENG HOK HIEN BIO DI KUDUS JAWA TENGAH SEBAGAI MEDIA PEMBAURAN Moh Rosyid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i1.172

Abstract

Tujuan naskah ini ditulis adalah mendeskripsikan upaya etnis Tionghoa melestarikan ajaran Konfusius yang diaplikasikan dalam grup seni Barongsai Satya Dharma di Kelenteng Hok Hien Bio, Kudus, Jawa Tengah. Data riset ini diperoleh melalui wawancara dengan pelatih dan peserta ajar, observasi di lokasiriset. Data dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil riset, kelompok Barongsai diwadahi dalam latihan rutin seminggu dua kali secara gratis diikuti oleh anak muda lintas agama dan etnis. Warga Kudus mempercayai kelompok ini dengan mengundangnya dalam acara kirab budaya dan pestarakyat. Pembauran melalui Barongsai dapat mewujudkan pembauran lintas agama dan suku. Kelompok Barongsai hadir bertujuan mempertahankan tradisi Tionghoa di Nusantara dan media pembauran karena umat Khonghucu melaksanakan ajaran pokok Konfusius yang tertuang dalam Kitab Suci Si Shu berupa ajaran berhubungan baik dengan sesama (Ren Dao) dan berhubungan dengan Tuhan (Tian/Shang Di) (Tian Dao). Prinsip dasar ajaran dipraktikkan dalam kelompok Barongsai melibatkan pemain lintas agama dan etnis sehingga pembauran benar-benar terwujud, dilatih oleh pelatih profesional secara gratis, dan difasilitasi oleh pengurus Kelenteng Hok Hien Bio di Kudus sejak Reformasi hingga kini. 
PENGETAHUAN TRADISIONAL PEMBUAT KOPRA DI LANGARA INDAH, SULAWESI TENGGARA Fatmawati P
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i1.162

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sistem teknologi, sistem produksi, dan sistem distribusi di Langara Indah, Kecamatan Wawonii Barat, Provinsi Sulawesi Tenggara. Kajian ini menggunakan jenis penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif melalui teknik pengumpulan data, berupa wawancara terstruktur, pengamatan di lapangan, pencatatan, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi yang dipergunakan oleh pembuat kopra di Wawonii masih sangat sederhana, yaitu dengan menggunakan sistem pengeringan dan pengasapan, dengan kata lain tidak menggunakan mesin. Sedangkan sistem pemasarannya masih menggunakan cara tradisional dan turun-temurun. Adapun faktor pendukung dari usaha tersebut ialah tersedianya pohon kelapa yang cukup. Kemudian faktorpenghambat adalah tidak adanya peremajaan pohon baru sehingga kecenderungan berkurangnnya produksi kelapa setiap tahunnya mengalami penurunan.
KONSEP TATA RUANG BUDAYA PADA RUMAH GADANG KAJANG PADATI DI KOTA PADANG, SUMATERA BARAT Refisrul Refisrul; ROIS LEONARD ARIOS
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i1.185

Abstract

Masyarakat Minangkabau yang mendiami Kota Padang turun temurun memiliki rumah gadang tanpa gonjong pada atapnya, berukuran lebih kecil dari rumah gadang bagonjong di daerah darek (darat) Minangkabau, serta atapnya menyerupai atap (kajang) pedati. Bentuk atapnya yang mirip dengan atap pedati menyebabkan rumah gadang ini lazim disebut dengan rumah Kajang Padati. Dirasakan penting dan menarik untuk mengetahui lebih jauh tentang tata ruang rumah tersebut dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan, wawancara dan observasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa rumah Kajang Padati merupakan rumah gadang masyarakat Minangkabau yang telah mendiami Kota Padang turun temurun. Dilihat dari arsitektur bangunannya, mendapat pengaruh dari Aceh yang pernah menduduki daerah Padang beberapa abad silam. Ruangan dalam rumah gadang Kajang Padati terdiri dari serambi (beranda), ruang tengah (keluarga), bilik (kamar tidur), ruang dalam, dan dapur. Setiap ruangan mempunyai kegunaan (fungsi) yang mencerminkan kehidupan sosial budaya masyarakat setempat (Padang) sejak dahulu.
DAMPAK POLITIK PASIFIKASI BELANDA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL-BUDAYA MASYARAKAT ACEH PADA ABAD XX sudirman sudirman
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i1.182

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan dampak politik pasifikasi di bidang ekonomi dan pendidikan serta sikap masyarakat Aceh terhadap perjuangan melawan Belanda. Dalam penelitian ini digunakan metode sejarah kritis dengan teknik pencarian sumber melalui bacaan sejumlah arsip dan buku. Penelurusuranarsip dilakukan di Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Di antara sumber arsip yang diteliti adalah Algemeen Verslag van Het Onderwijs in Nederlandsch-Indie over 1921 en 1922. De Deli Courant, Koloniaal Verslag, serta Mailr (Mail Rapporten). Arsip ini banyak memberikan informasi tentang pelaksanaan politik pasifikasi di Aceh. Sumber sekunder dikumpulkan melalui sejumlah bacaan diperpustakaan Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Aceh dan buku-buku koleksi penulis. Berdasar pada data yang diperoleh dari kajian ini disimpulkan bahwa politik pasifikasi Belanda berdampak pada kehidupan sosial-budaya masyarakat Aceh karena ekonomi dan pendidikan masyarakat menjadi bertambah baik. Namun, pemerintah Belanda tetap tidak berhasil menguasai Aceh sepenuhnya karena rakyat Aceh tetap melakukan perlawanan hingga Belanda meninggalkan Aceh pada tahun 1942.

Page 1 of 1 | Total Record : 8