cover
Contact Name
Asri Hidayat
Contact Email
asri.hidayat@kemdikbud.go.id
Phone
+628114118474
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin km.7, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora
ISSN : 25024345     EISSN : 26864355     DOI : https://doi.org/10.36869
Core Subject : Social,
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan.
Articles 139 Documents
TARI PATTENNUNG DI SULAWESI SELATAN tini suryaningsi
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i1.128

Abstract

Tulisan ini menjelaskan tentang tari pattennung yang terdapat di Sulawesi Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, pengamatan, dan wawancara.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari pattennung merupakan tari yang menggambarkan aktivitas menenun wanita-wanita Bugis dalam mengisi waktu senggang mereka. Tarian ini tercipta melalui penghayatan yang mendalam oleh penciptanya dan menciptakan gerakan gemulai yang indah. Setiap gerakan memiliki makna yang dapat diketahui dengan menghubungkan gerak para penari dengan aktivitas menenun yang dikerjakan oleh para penenun. Setiap unsur dalam gerakan memiliki nama sesuai dengan aktivitas budaya mulai dari awal proses menenun hingga selesai pekerjaan menenun yaitu terciptanya kain tenun sutera. Dalam tari pattennung, dapat menggambarkan kegesitan, keuletan, dan kesabaran para menenun ketika mereka mengerjakan pekerjaannya. Dibutuhkan konsentrasi dan fokus sehingga menghasilkan kain sutera yang indah. Oleh sebab itu, instrument musik sangat penting dalam mengiringi para penari untuk dapat mengekpresikan setiap gerakan ketika cepat atau lambat, gerakan ketika membutuhkan kesabaran dan ketekunan, dan gerakan yang menandakan terjadinya perpindahan tempat atau perpindahan gerakan para penari. Tari yang ditampilkan akan indah dilihat ketika gerakan para penari serasi, seragam, dan kompak.
PERTAMBANGAN EMAS DI PALELEH, 1985 - 1930 Hasanuddin Anwar; Retno Sekarningrum
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i2.196

Abstract

Saat kandungan emas yang besar ditemukan di Paleleh dan sekitarnya pada pertengahan abad ke-19, pemerintah Hindia-Belanda mulai menekan Madika Buol agar dapat memonopoli eksploitasi emas di sana. Pada perkembangannya, pihak swasta juga diberi hak-hak konsesi untuk membuka dan melakukan penambangan emas di Paleleh. Ramainya aktivitas penambangan emas di Paleleh kemudian berdampak pada pembangunan daerah tersebut. Sayangnya, masa kejayaan Paleleh mulai meredup saat memasuki awal abad ke-20 akibat krisis yang dialami perusahaan. Artikel ini bertujuan untuk merekonstruksi bagaimana kehidupan masyarakat Paleleh telah mengalami kemajuan atau kemunduran melalui proses sejarahnya. Adapun metode yang digunakan adalah metode sejarah yang mencangkup pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber, interpretasi, dan penulisan (historiografi). Artikel ditulis dengan menggunakan deskripsi analitik. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah Hindia-Belanda di Buol tidak dapat dipisahkan dari kepentingannya untuk memonopoli sumber daya emas di sana. Perkembangan perusahaan tambang di Paleleh dan sekitarnya berdampak pada kemajuan infrastruktur, pembangunan jalur kereta api, dan pertumbuhan jumlah serta keragaman penduduk karena masuknya tenaga kerja dari luar. Meskipun demikian, kemajuan aktivitas penambangan di Paleleh kemudian mengalami kemunduran hingga banyak perusahaan tambang yang ditutup/dilikuidasi.
PERAN KELAPA DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT SELAYAR Lenrawati Lenrawati
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i1.114

Abstract

ABSTRACTCoconut is a versatile plant in life. Almost all of its parts are beneficial to humans. Coconut is also a strategic commodity that has a socio-cultural role in people's lives. The purpose of this study, namely to determine the extent of the role of coconut in the social cultural life of the Selayar Island’s local people. The research method used is qualitative descriptive type, the fact-based on the field research. The method is divided into two working steps namely data collection and data processing. The results of this study indicate that the role of coconut is very big to the life of the local people in Selayar Island. The role of coconut is seen in the fulfillment of daily needs, either as a source of livelihood, food, medicine, dowry and traditional ceremonies. The role of the coconut contains the value of cultural values in the form of values of trust, moral values, aesthetics, sacred, and education. The value of this cultural value has colored all aspects of the life of the Selayar Islands community. ABSTRAKKelapa merupakan tanaman serbaguna dalam kehidupan. Hampir seluruh bagiannya bermanfaat bagi manusia. Kelapa juga merupakan komoditas strategis yang memiliki peran sosial budaya dalam kehidupan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini, yaitu untuk mengetahui sejauh mana peran kelapa dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Kepulauan Selayar. Metode penelitian yang digunakan termasuk jenis deskriptif kualitatif, yaitu penelitian berdasarkan fakta yang ada di lapangan. Metode tersebut dibagi atas dua langkah kerja yaitu pengumpulan data dan pengolahan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran kelapa sangat besar terhadap kehidupan masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar. Peran kelapa terlihat dalam pemenuhan kebutuhan sehari hari, baik sebagai sumber mata pencaharian, makanan, pengobatan, mas kawin atau mahar dan upacara adat. Peranan kelapa tersebut mengandung nilai nilai budaya yang berupa nilai kepercayaan, nilai moral, estetis, sakral, dan pendidikan. Nilai nilai budaya ini telah mewarnai segala aspek kehidupan masyarakat Kepulauan Selayar.
KURIKULUM DAN GURU SEJARAH TINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DI TAKALAR, SULAWESI SELATAN 2004-2018 Rismawidiawati Rusli
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i2.212

Abstract

Pembelajaran sejarah Indonesia telah mengalami perjalanan panjang seiring dengan perubahan kurikulum pendidikan serta perubahan sosial politik dalam konteks lebih luas. Sejak tahun 2004 sampai 2013, telah terjadi perubahan kurikulum sebanyak tiga kali sehingga muncul suatu ungkapan “ganti menteri ganti kurikulum”. Ungkapan ini tidak sepenuhnya keliru karena memang pemerintah cenderung menerapkan “uji coba dan gagal” dalam penyusunan kurikulum. Kondisi ini berimplikasi pada pembelajaran sejarah di tingkat SMA, dimana para guru menghadapi permasalahan terhadap perubahan kurikulum. Penelitian ini mengurai masalah yang dihadapi oleh guru sejarah dalam proses pembelajaran di tingkat lebih praktis, yaitu di kelas dengan mengambil kasus Sekolah Menengah Atas (SMA) di Takalar, Sulawesi Selatan. Dengan menggunakan metodologi sejarah, menekankan pada proses, penelitian ini akan melihat respon guru terhadap perubahan kurikulum dan sejauhmana peran Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sejarah dalam mengatasi setiap masalah yang dihadapi oleh guru-guru sejarah di Kabupaten Takalar, Hasil penelitian menunjukkan bahwa para guru sejarah terkendala serius dalam memenuhi unsur administrasi pembelajaran pada kurikulum K13, mereka lebih disibukkan dengan tuntutan administratif sehingga konten pembelajaran sering terabaikan. Secara konseptual guru tidak keberatan dengan situasi perubahan kurikulum yang dapat dijelaskan argumentasinya dengan kapasitas pengetahuan sejarah yang mereka miliki. Tetapi perubahan kurikulum yang ada hanya menekankan target pencapaian administrasi dibandingkan dengan pencapaian tingkat pemahaman siswa terhadap suatu materi pelajaran. MGMP sejarah di Takalar secara aktif membantu para guru sejarah dalam pemenuhan administrasi maupun upaya peningkatan skill mengajar. MGMP telah cukup banyak membantu guru-guru dalam bertukar informasi, pengalaman, bahan ajar, dan lainnya yang berkaitan tugas-tugas pembelajaran.
REPRESENTASI BURUH PELABUHAN TANJUNG PRIOK DALAM MUSEUM MARITIM INDONESIA Syafaat Rahman Musyaqqat
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i1.136

Abstract

Museum Maritim Indonesia adalah salah satu museum yang bertujuan untuk melestarikan identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim di masa lalu. Selain itu, museum ini juga dimaksudkan untuk mengenalkan dunia pelabuhan kepada khalayak. Dengan demikian, museum itu menjadi ruang representasi segala hal mengenai budaya bahari Indonesia  dan kepelabuhan, termasuk buruh pelabuhan. Artikel ini bertujuan menganalisis representasi buruh pelabuhan Tanjung Priok dalam Museum Maritim Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan interdisiplin, studi ini menunjukkan bahwa representasi buruh pelabuhan Tanjung Priok dalam museum sangat minim dan hanya menjadi komplementer dari koleksi lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa museum itu belum memperlihatkan tujuannya secara proporsional. Alih-alih mengenalkan aspek kepelabuhan secara komprehensif, museum justru menjadi ruang yang memarginalkan peran buruh pelabuhan Tanjung Priok, sebagaimana realitas historisnya. Kecenderungan ini mencerminkan adanya bentuk warisan rezim Orde Baru, di satu sisi. Di lain sisi, keadaan itu juga memperlihatkan sikap skeptis dari pihak pengelola museum. Meskipun demikian, ketiadaan kolaborasi antara buruh pelabuhan Tanjung Priok dan pihak pengelola museum turut mempengaruhi kondisi tersebut.
MA’BURA KAMPUNG: RITUAL TRADISIONAL PADA MASYARAKAT BATETANGNGA DI KABUPATEN POEWALI MANDAR PROVINSI SULAWESI BARAT Abdul Hafid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i2.198

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendekripsikan tentang tradisi ritual Mabbura Kampung, yang merupakan salah satu tradisi ritual yang dilakukan pada masyarakat Suku Pattae tepatnya Dusun Baruga dan Dusun Passembaran di Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi (pengamatan langsung terhadap berbagai aktivitas dan perilaku pada masyarakat Suku Pattae di Desa Batetangnga), wawancara mendalam terhadap tokoh masyarakat, budayawan, pelaku ritual dan pemerintah setempat serta dokumentasi. Tradisi ritual Mabbura Kampung ini, mencerminkan karakter dan jati diri masyarakat Suku Pattae di Desa Batetangnga sehingga perlu dikaji dalam upaya melestarikan budaya lokal, sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. Dari hasil penelitian ini diketahui, bahwa pelaksanaan tradisi ritual Mabbura Kampung merupakan warisan nenek moyang terdahulu yang diyakini sebagai pencucian diri atau tolak bala’ dari berbagai gangguan bencana alam, baik gangguan tanaman, gangguan di sungai maupun gangguan wabah penyakit yang dapat membahayakan kehidupan masyarakat pendukungnya. Tradisi ritual Mabbura Kampung  tersebut hingga saat ini masih tetap bertahan dan dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat pendukungnya yang bermukim di Desa Batetangnga dan masyarakar Suku Pattae pada umunya. Tradisi ritual ini dipimpin oleh dua orang, yaitu  sando banua baine (dukun kampung perempuan), dan seorang Imam kampung, dan  kedua pemimipin ritual ini  mempunyai tugas masing-masing.          
ADAPTASI EKOLOGI PENDUDUK TRANSMIGRASI DI DESA RASAU JAYA SATU Efriani Efriani
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i1.124

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan adapatasi lingkungan yang dilakukan oleh transmigran di Desa Rasau Jaya Satu. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena keberhasilan transmigran dalam bertahan hidup pada lahan dan lingkungan sosial di tempat yang berbeda dengan lokasi asal mereka di Pulau Jawa. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif, data-data diperoleh dari wawancara dan observasi. Fenomena lapangan dianalisis dengan konsep ekologi budaya dalam memahami adaptasi para transmigran.  Hasil penelitian menunjukan bahwa transmigran di desa Rasau Jaya Satu bertahan pada lokasi transmigrasi dengan beradaptasi terhadap lingkungan alam dan lingkungan sosial. Beberapa hasil adaptasi adalah (1) beradaptasi dengan lahan gambut dengan cara mengadopsi sistem pengetahuan ladang berpindah pada suku Dayak, (2) Beradaptasi dengan hutan hujan tropis yang renta wabah penyakit malaria dengan sistem pengobatan tradisonal menggunakan buah maoni; (3) mengadaptasikan pengetahuan berkebun suku Jawa dengan mengolah lahan gambut menjadi lahan perkebunan sayuran, umbi-umbian dan jagung, (4) mengadaptasikan budaya Jawa dalam interaksi dengan penduduk lokal.
MENGUNGKAP NILAI-NILAI BUDAYA DALAM RITUAL AKDANGANG PADA KOMUNITAS ADAT KAJANG DI KABUPATEN BULUKUMBA Ansaar Ansaar
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i2.213

Abstract

Tulisan yang disajikan ini merupakan hasil penelitian lapangan yang bertujuan selain untuk mengungkapkan prosesi pelaksanaan Akdangang sebagai suatu upacara ritual kematian pada komunitas adat Kajang di Kabupaten Bulukumba, juga untuk mengkaji nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriktif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, pengamatan dan kajian pustaka. Hasil pembahasan menunjukkan, bahwa pelaksanaan upacara kematian ini memilki tahap kegiatan yang cukup panjang, dimulai dari prosesi penguburan hingga hari keseratus (puncak ritual). Dalam setiap kelipatan sepuluh harinya, dipertunjukkan pula acara yang dinamakan akbasing-basing, yaitu suatu acara yang  dimainkan oleh dua orang laki-laki sebagai pakbasing-basing dan dua orang perempuan sebagai pelantun syair. Acara ini biasanya mulai dimainkan pada sekitar pukul 20.00 malam hingga dini hari. Syair-syair yang dilagukan pun, semuanya bernada sendu sesuai yang menceritakan alam “sana”. Bahkan kadang-kadang si pelantun syair mengalami kesurupan akibat masuknya roh si mati. Dengan ucapan yang hanya bisa diterjemahkan oleh kammikkale atau tupparuru (orang yang menguasai mantera dan doa), dapatlah diketahui keadaan si mati di alam “sana”, apakah menempati bola tepu (surga) atau bola campali (neraka).
REPRESENTASI WARISAN KARAENG PATTINGALLOANG DI MUSEUM andini perdana
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i1.137

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk memaparkan dan menganalisis penyajian informasi Karaeng Pattingalloang di Museum Karaeng Pattingalloang. Ia adalah seorang mangkubumi dan cendekiawan Kerajaan Gowa-Tallo yang namanya termashur hingga Eropa. Ia juga menjadi inspirasi dalam pemberian nama museum, yaitu Museum Karaeng Pattingalloang. Akan tetapi, informasinya masih minim dikomunikasikan oleh museum, bahkan belum dikaitkan dengan koleksi museum. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan studi pustaka, pengolahan data dengan analisis SWOT, serta penarikan kesimpulan sesuai dengan konsep museologi. Hasil kajian menunjukkan bahwa museum harus mengomunikasikan informasi yang lebih detail secara menyeluruh terkait Karaeng Pattingalloang. Pengembangan penyajian informasi tersebut didasarkan atas konsep alur cerita, yang di dalamnya menjelaskan konten pameran, metode penyampaian informasi, dan deskripsi ide, koleksi, dan media informasinya. Alur cerita juga membantu museum untuk menghubungkan pesan pameran dengan pengunjung, sehingga mereka dapat memahami secara keseluruhan cerita warisan budaya Karaeng Pattingalloang. Kajian ini bertujuan untuk memaparkan dan menganalisis penyajian informasi Karaeng Pattingalloang di Museum Karaeng Pattingalloang. Ia adalah seorang mangkubumi dan cendekiawan Kerajaan Gowa-Tallo yang namanya termashur hingga Eropa. Ia juga menjadi inspirasi dalam pemberian nama museum, yaitu Museum Karaeng Pattingalloang. Akan tetapi, informasinya masih minim dikomunikasikan oleh museum, bahkan belum dikaitkan dengan koleksi museum. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan studi pustaka, pengolahan data dengan analisis SWOT, serta penarikan kesimpulan sesuai dengan konsep museologi. Hasil kajian menunjukkan bahwa museum harus mengomunikasikan informasi yang lebih detail secara menyeluruh terkait Karaeng Pattingalloang. Pengembangan penyajian informasi tersebut didasarkan atas konsep alur cerita, yang di dalamnya menjelaskan konten pameran, metode penyampaian informasi, dan deskripsi ide, koleksi, dan media informasinya. Alur cerita juga membantu museum untuk menghubungkan pesan pameran dengan pengunjung, sehingga mereka dapat memahami secara keseluruhan cerita warisan budaya Karaeng Pattingalloang. 
SONGKA BALA: PENGETAHUAN LOKAL DALAM MITIGASI BENCANA ALAM, SOSIAL DAN WABAH PENYAKIT PADA KOMUNITAS ADAT TABBANGA DI KABUPATEN GOWA iriani sarah; raodah hafid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i2.202

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan lokal masyarakat komunitas Tabbanga dalam mitigasi bencana, baik bencana alam, sosial dan wabah penyakit. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif,dengan proses pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menujukkan, bahw masyarakat Tabbanga yang berada di Kecamatan Pallangga, desa Julukanaya sampai saat ini dalam hal mitigasi bencana masih mengandalkan pengetahuan tradisional, dengan mengadakan ritual-ritual yang dianggap dapat menolak bencana. Oleh sebab itu komunitas Tabbanga setiap tahun melakukan ritual untuk mengatasi bencana, salah satu ritual yang dilaukkan adalah songka bala atau dalam bahasa Indonesia, disebut penolak bala. Dalam proses ritual, banyak bahan-bahan yang digunakan yang berupa simbol-simbol mengandung makna penolak bencana.  Baik itu benda-benda, maupun makanan yang ditampilkan berupa pisang,kue-kue dan makanan tradisional selalu bermakna menolak bencana. Pada proses ritual pemimpin adat tabbangalah yang melakukan komunikasi dengan roh-roh yang dianggap dapat menolak bencana yang akan menimpa masyarakat komunitas Tabbanga. Ritual untuk menolak bencana pada umumnya dilakukan di rumah pemimpin adat Tabbanga, sebab di rumah tersebut juga terdapat benda-benda pusaka yang dianggap sangat terkait dalam melakukan ritual yang tentunya akan mempengaruhi dikabulkan tidaknya permohonan doa mereka

Page 9 of 14 | Total Record : 139