cover
Contact Name
Yosep Ginting
Contact Email
josep@jurnalvow.sttwmi.ac.id
Phone
+6282114130502
Journal Mail Official
jurnalvow@gmail.com
Editorial Address
Jl. Babakan Madang No. 40, Kec. Babakan Madang, Sentul City, Bogor, Jawa Barat, Indonesia,
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama
ISSN : 25807900     EISSN : 26860198     DOI : https://doi.org/10.36972/jvow
Jurnal Voice Of Wesley, terbit Sejak tahun 2017, Mulai Volume 1 Nomer 1 Tahun 2017 Jurnal ini terbit secara berkala sebanyak dua kali dalam setahun dibulan Mei dan November. Jurnal Voice of Wesley bertujuan untuk kemajuan dan kreatifitas karya tulis ilmiah melalui media penelitian dan pemikiran kritis analistis di bidang kajian musik dan Agama dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan Agama yang di terbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Articles 127 Documents
HIDUP DALAM KERAGAMAN: MASALAH DAN WAWASAN KERAGAMAN Ludji, Barnabas
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 3, No 1 (2019): J.VoW Vol. 3 No. 1 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v3i1.40

Abstract

As God's people, the church needs to realize that diversity is an essential nature of the Unitary State of the Republic of Indonesia. Efforts to homogenize nations that are diverse in race, ethnicity, culture, and religion must be seen as efforts to divide the nation. Therefore religions in Indonesia, especially the Church of God must really be a motivator and encourage their citizens to be truly aware of the diversity of the nation and take part in fostering a lifeof life that respects diversity and tolerates life with fellow human beings with everything attached to himself, including his religion and culture. In connection with the above, the church leaders and theologians must really try to find an understanding of faith that encourages people to accept differences and be able to build a tolerant life together. Efforts in that direction can be built through the perspectives of all fields of theological studies. This paper contains efforts to build a tolerant shared life from a systematic perspective. Theology of Religions and the Biblical (Old Testament). The dogmaticperspective sees two basic needs, namely to nurture and increasingly take root in the faith of church members, and the need to determine attitudes towards the presence of other religious life together. Without forgetting the universal nature of religion as an expression of religious awareness. From an ethical perspective feel the need to develop global ethics that are universal. From the perspective of the science of religions, it is necessary to highlight the verses of the Scriptures possessed by each religion that is universal. While the Biblical perspective sees the importance of Christians understanding their holy books diachronically and holistically. Because improper ways of understanding the Bible make possible the birth of exclusive fundamentalists. Central themes, such as love, justice, truth, peace, redemption, goodness, and life are believed to be from God, all of which are universal. All biblical texts, if understood, diachronically, then the text messages are the central themes already mentioned.
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER KRISTEN MENGATASI KEKERASAN Oditha R. Hutabarat
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 1, No 2 (2018): J.VoW Vol. 1 No. 2 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v1i2.12

Abstract

Artikel ini berjudul: Mendidik anak Berkarakter Kristen Mengatasi Kekerasandalam Tema Agama dan Kekerasan.Data yang terus meningkat tentang peristiwa kekerasan atas nama agama di Indonesia dari Wahid Institut dan sata hasil penelitian dari UIN Jakarta bahwa peristiwa kekerasan jika diurai dari hulu adalah terletak pada pendidikan agama yang intoleran yang diterima anak-anak di sekolah, sehingga Sistem Pendidikan Nasional harus melakukan kontrol dan perbaikan.Penulis meneliti dari sudt Pendidikan Agama Kristen (PAK), apakah peran PAK keluarga sudah juga dibenahi?, keluarga sebagai sel masyarakat demikian juga Gereja tentu patut berperan serta meminimalisir terjadinya kasuskekerasan yang berkaitan dengan agama. PAK Keluarga bukan hanya mengajarkan pengetahuan agama Kristen, tetapi keluarga menanamkan keteladanan dan praktek hidup toleran yang dasarnya Cinta Kasih Yesus Kristus yang sudah rela berkorban di salib untuk menebus dosa manusia.PAK Keluarga adalah upaya-upaya keluarga membentuk karakter Kristen pada diri anak-anaksejak dini dengan menanamlkan nilai-nilai Kristen dalam kehidupan sehari-hari.Kerjasma keluarga dengan gereja dan pendidik PAK di sekolah menjadi penting agar pertumbuhan karakter Kristen pada diri anak semakin kuat berakar.PAK Keluarga yang baik menjadi solusi mengatasi kekerasan yang dapat saja dialami anak-anak dalam kontek kemajemukan dan multikultural di Indonesia. Tokoh Gereja dan PAK dalam sejarah melihat pentingnya asuhan keluarga bagi pembentukan karakter Kristen.Sehingga perlu ada cara berteologi dan melakukan Pekabaran Injil yang baru dan kontekstual sehingga dapat terjalin dialog yang intens dari berbagai pihak.
GEREJAYANG BERTUMBUH TANPA BAALISME Magdalena Tanusaputra; Yanto Paulus Hermanto; Ferry Simanjuntak
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 4, No 2 (2021): J.VoW Vol 4. No. 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v4i2.81

Abstract

ABSTRACT One characteristic of church growth is the increasing number of churches. Churches take a variety of ways to increase the number of their congregations. Some are in a biblical way and some are not. Methods or methods which are not biblical are known as means of baalism. And the church often uses these methods. Therefore, the authors conduct research related to this so that churches use biblical methods in their implementation. The research method used is a descriptive qualitative approach and an approach that is taken from examples in the Bible relating to church development. From the results of this research, it is hoped that churches will make efforts to increase the number of their congregations in biblical ways and not using Baalism.
MENJADIKAN MURID-NYA DI TENGAH MASYARAKAT MAJEMUK Dr. Daniel Stefanus
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 1, No 1 (2017): J.VoW Vol. 1 No. 1 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v1i1.7

Abstract

Artikel ini merupakan ulasan salah satu peranan orang Kristen dalam masyarakat majemuk Indonesia. Salah satu peranan orang Kristen dalam masyarakat majemuk Indonesia adalah menjadi murid Kristus yang menjadikan orang lain menjadi murid Kristus yang toleran, pembawa damai, menjunjung tinggi perbedaan sebagai anugerah Tuhan yang terindah, serta memperlakukan orang lain yang berbeda agama, suku dan bahasanya sebagai sesama.
KEPEMIMPINAN TRANSFORMATIF DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Harun Y. Natonis
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 3, No 2 (2020): J.VoW Vol 3. No. 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v3i2.48

Abstract

juan dari penelitian ini adalah untuk beberapa hal. Pertama, apa sesungguhnya kepemimpinan transformatif dari perspektif Pendidikan Agama Kristen. Kedua, bagaimana karakteristik kepemimpinan transformatif dalam perspektif Pendidikan Agama Kristen. Ketiga, bagaimana strategi dalam mengimplementasikan kepemimpinan transformatif dalam perspektif Pendidikan Agama Kristen?. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perspektif Pendidikan Agama Kristen, kepemimpinan transformatif dilihat dalam karakter kepemimpinan Yesus. Kepemimpinan transformatif Yesus menunjukkan bahwa dalam kepemimpinan, seorang pemimpin harus berwibawa. Dengan kewibawaan, maka pemimpin menjalankan kepemimpinan dengan perencanaan dan strategi yang matang. Strategi yang matang menolong pemimpin dan masyarakatnya menyelesaikan masalah. Pemimpin ini memiliki kompetensi mengetahui karakter setiap individu yang dipimpinnya. Pemimpin juga mampu memandang masa depan masyarakatnya dan menghendaki masyarakatnya dapat berkembang secara mandiri. Dan yang paling utama pemimpin ini adalah pemimpin yang mampu menjadi teladan bagi masyarakatnya.
IMPLEMENTASI GAYA PEMIMPIN ROHANI PADA GENERASI DIGITAL Diany Rita P. Saragih
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 2, No 2 (2019): J.VoW Vol. 2 No. 2 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Generasi Digital dalam tulisan ini mencakup generasi milenial (Generasi Y) yang adalah anak-anak dari generasi Baby Boomers dan generasi X yang tua dan generasi Z yang merupakan anak-anak dari generasi Y. Milenial kadang-kadang disebut sebagai "Echo Boomers" karena adanya 'booming' (peningkatan besar), tingkat kelahiran pada tahun 1980-an dan 1990-an. Terkesan individual, cukup mengabaikan masalah politik, fokus pada nilai-nilai materialistis, dan kurang peduli untuk membantu sesama pribadi yang pemalas, narsis, dan suka sekali melompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Sisi positif nya. pribadi yang pikirannya terbuka, pendukung kesetaraan hak (misalnya tentang LGBT atau generasi minoritas), memiliki rasa percaya diri yang bagus, mampu mengekspresikan perasaannya, pribadi liberal, optimis, dan menerima ide-ide dan cara-cara hidup. Pemimpin rohani merupakan pemimpin yang memiliki pertumbuhan spiritualiatas lebih tinggi dan yang tidak dapat ditimbulkan sendiri. Tidak ada seorang pun yang menjadi pemimpin rohani atas usaha sendiri. Namun pemimpin rohani merupakan panggilan Tuhan dan harus direspon bersikap sebagai pelayan, pemimpin yang melayani. Beberapa gaya yang dapat digunakan seorang pemimpin untuk generasi digital adalah : Behavior, Relationship, attitude, value dan environment. Sedangkan karakter yang harus dimiliki adalah :digital minded, observer and active listener, agile, unbeatable dan brave to be different. Perlu penyesuaian bagi para pemimpin rohani di gereja pada era digital untuk responsif teknologi informasi yang semakin canggih dalam memimpin dan membimbing kaum millenial terutama dalam upaya menanamkan nilai-nilai kristiani yang berdasarkan Firman Tuhan dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
PEMIMPIN YANG MENGHAMBA, BUKAN DIPERHAMBA Dr. Harun Y. Natonis, S.Pd, M.Si
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 2, No 1 (2018): J.VoW Vol. 2 No. 1 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v2i1.17

Abstract

The church and politics in Indonesia are two opposing institutions, but live side by side. On the one hand, the church is prohibited from engaging in various political contexts. But on the other hand, the church also has an obligation to voice the truth in a political context. The church is not involved in the political world, it does not mean that the church turns a blind eye to the political conditions that occur in Indonesia. The church have to give voice its prophethood, so that the political conditions in Indonesia continue to provide a temperature of comfort and justice for all the interests of society.The church is like a small candle which despite its small flame, gives enough light in dark conditions. The Church through its leaders can provide encouragement in actualizing services that are more real amid the development of the nation in competition in the global world.What kind of leader does the church need to survive amid the current political turmoil in Indonesia? This question is the core goal of writing this article in order to address the extent of the role of the church in the midst of a political vortex.The church needs servant leaders, not leaders who are enslaved. Church leaders who are servants are church leaders who want to serve with love, humility and sincere sacrifice. While church leaders who are worshiped are church leaders who are only concerned with personal interests and self-comfort. Church leaders who are able to survive in the midst of political turmoil are church leaders who are servants, not non-worshiped church leaders.Keywords: Church leader who slaves, Jesus Prototype Leader who slaves
MAKNA SYAIR “NYAWA-KU DIBERIKAN BAGIMU NKI 49” YANG IDE SYAIRNYA TERINSPIRASI DARI TULISAN DI BAWAH LUKISAN YESUS BERMAHKOTA DURI KARYA FRANCES RIDLEY HAVERGAL Stepanus Lajan
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 4, No 2 (2021): J.VoW Vol 4. No. 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v4i2.89

Abstract

Nyanyian Nyawa-Ku Di Berikan Bagimu merupakan lagu yang sangat memberkati namun memberi suatu perbincangan yang belum terjawab tuntas dikalangan hamba Tuhan, tentang syair lagu yang memiliki pengajaran yang kurang tepat jika disalah diartikan makna yang terkandung dalam syair. Frasa yang menjadi pertanyaan adalah “nyawa-Ku diberikan bagimu apa kau b’ri pada-Ku”? Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah, Pertama, untuk mengetahui ide syair lagu “Nyawa-Ku Diberikan Bagimu” (NKI 49) terinspirasi dari tulisan di bawah lukisan Yesus bermahkota duri di hadapan Pilatus? Kedua, untuk mengetahui pokok pikiran yang terkandung dalam syair lagu “Nyawa-Ku Diberikan Bagimu.” Metode yang digunakan dalam penelitian karya ilmiah ini adalah metode kepustakaan yang di dalamnya meliputi: Alkitab, buku-buku, kamus, dan jurnal, ditambah dengan jurnal online, ebook, artikel, yang berhubungan dengan topik yang dibahas. Kesimpulan Nyanyian “Nyawa-Ku Diberikan Bagimu” NKI 49, merupakan karya Frances Redley Havergal, yang musiknya digubah oleh komposer Philip Paul Bliss. Ide penulisan syairnya terinspirasi lukisan karya Sternberg yang diberi nama  “Ecco Homo” dalam sebuah galeri seni Dusseldrof Jerman.
MERETAS RANCANG BANGUN TEOLOGI MULTIKULTURAL Gunaryo Sudarmanto
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 1, No 1 (2017): J.VoW Vol. 1 No. 1 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v1i1.6

Abstract

Hubungan budaya dan teologi dipahami secara beragam. Deskripsi budaya secara sempit telah membedakan dan memisahkannya dari teologi. Sebaliknya deskripsi teologi yang sempit juga mengesampingkan budaya. Tulisan ini bermaksud mendeskripsikan budaya dan teologi secara proporsional baik secara umum maupun alkitabiah. Kemudian mendeskripsikan korelasi antara budaya dan teologi serta menetapkan apa peran teologi terhadap budaya. Khususnya dalam konteks paradigma ’multikultur’ yang sarat dengan konflik antar etnis dan religi di dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya, bagaimana teologi berperan memberi alternatif solusi. Untuk itu diusulkan terbentuknya rancang bangun ’Teologi Multikultur’ yaitu suatu teologi yang didisain berbasis prinsipprinsip alkitab yang menjadi pedoman bagi orang kristen dalam membangun hubungan dengan orang lain yang berbeda etnis dan religi. Prinisp-prinsip tersebut bermaksud untukmempertemukan segala perbedaan dalam masyarakat pada tataran etis, yang didasarkan pada prinsip teologis.
EKSEGESIS 1 KORINTUS 11:2-16 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP ETIKA BERBUSANA DALAM IBADAH DARING DI MASA PANDEMI COVID-19 Boydo Rajiv Hutagalung
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 4, No 1 (2020): J.VoW Vol 4. No. 1 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36972/jvow.v4i1.78

Abstract

Ibadah daring merupakan praktik kerohanian yang penting di masa pandemi Covid-19 yang tidak bisa diabaikan. Persoalannya, gaya berbusana umat dalam ibadah sering kali tidak sesuai dengan kaidah berbusana yang baik benar seperti berbusana layaknya dalam ibadah secara langsung. Umat Kristen sepatutnya hidup sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan termasuk ketika berpakain. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kepustakaan dan tafsir naratif berdasarkan nas 1 Korintus 11: 2-16 yang menjadi acuan penulis untuk mengungkapkan etika tentang berpakaian dalam ibadah daring.

Page 4 of 13 | Total Record : 127