Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama
Jurnal Voice Of Wesley, terbit Sejak tahun 2017, Mulai Volume 1 Nomer 1 Tahun 2017 Jurnal ini terbit secara berkala sebanyak dua kali dalam setahun dibulan Mei dan November.
Jurnal Voice of Wesley bertujuan untuk kemajuan dan kreatifitas karya tulis ilmiah melalui media penelitian dan pemikiran kritis analistis di bidang kajian musik dan Agama dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan Agama yang di terbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Articles
127 Documents
PENDIDIKAN POLITIK: TELAAH MATERI AJAR PAK DI PERGURUAN TINGGI UMUM
Sidjabat, Dr. Binsen S.
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 2, No 1 (2018): J.VoW Vol. 2 No. 1 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (168.936 KB)
|
DOI: 10.36972/jvow.v2i1.20
Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki peran penting membimbing peserta didik memahami hubungan iman Kristen dengan beragam aspek kehidupan, termasuk politik. Paparan di bawah ini menerangkan bagaimana materi ajar PAK terkait politik untuk membekali mahasiswa. Telaah terhadap materi PAK di tingkat perguruan tinggi dari empat sumber dipilih, mengajak pendidik Kristen baik dalam konteks sekolah maupun dalam konteks gereja untuk mengembangkan materi kurikulum pembelajaran yang lebih relevan dan kreatif
PERANAN ORANG KRISTEN DALAM PUSARAN POLITIK DI INDONESIA (Suatu Tinjauan Historis -Teologis)
Hakh, Samuel Benyamin
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 2, No 1 (2018): J.VoW Vol. 2 No. 1 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (203.458 KB)
|
DOI: 10.36972/jvow.v2i1.15
This paper is prepared to explain that the struggle for Indonesian independence was carried out for centuries by all people in Indonesia, including Christians, with sweat and tears, even with bloodshed. Therefore, Indonesian independence is not a gift or effort from a particular group, but it is a gift from God which is expressed through the struggle of all groups and tribes throughout Indonesia from Sabang to Merauke and from Sangir to Rote. So, as a nation that is dignified, and who upholds justice and truth, we must be honest with the history of our own nation. With that, the independence of Indonesia as a gift from God, we should be accepted with thanksgiving while we are together to build a just, prosperous, peaceful of Indonesia in the future.
PERAN PEMIMPIN GEREJA TERHADAP AKSI KEKERASAN
M.Th., D.Th, Dr.Heryanto
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 1, No 2 (2018): J.VoW Vol. 1 No. 2 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (420.534 KB)
|
DOI: 10.36972/jvow.v1i2.10
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalau berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil. Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati dan menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah impian setiap insan. Menciptakan dan menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia. Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik. Namun terkadang tidak terelakkan dengan timbulnya masalah kekerasan selalu menarik dan menuntut perhatian yang sungguh serius dari waktu ke waktu. Terlebih lagi, berdasarkan asumsi umum serta beberapa hasil pengamatan dan penelitian berbagai pihak terdapat kecenderungan perkembangan peningkatan dari bentuk dan jenis tindak kekerasan tertentu baik secara kualitas maupun kuantitasnya khususnya terhadap pelayanan ibadah dalam gereja. Untuk itu, perlu dibangun satu persepsi yang holistik prihal kekerasan secara umum beserta faktor dan penyebab timbulnya kekerasan untuk memberikan sebuah worldview bagi pemimpin gereja masa kini dalam mengambil langkah-langkah strategis yang menguntungkan semua pihak dalam mengwujudkan kedamaian dan kesejahteraan. Selanjutnya, berbicara tentang konsep dan pengertian tindak kekerasan itu sendiri, masih terdapat kesulitan dalam memberikan definisi yang tegas karena masih terdapat keterbatasan pengertian yang disetujui secara umum sebab kekerasan juga memiliki arti yang berbeda-beda berdasarkan pendapat para ahli dan para sarjana yang berbeda
IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN KRISTEN
Saragih, Diany Rita P.
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 2, No 2 (2019): J.VoW Vol. 2 No. 2 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (175.965 KB)
|
DOI: 10.36972/jvow.v2i2.27
Kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan pelayan dari Yesus Kristus sedangkan kepemimpinan sekuler duniawi. Meskipun kepemimpinan Kristen meliputi banyak prinsip sama seperti kepemimpinan umum, tetapi kepemimpinan Kristen punya sifat-sifat berbeda yang khusus yang harus dipahami dan dipraktekan.Dalam pelaksanaan hal ini menjadi tantangan bagi kepemimpinan Kristen. Tidak sulit menemukan cerita para pemimpin Kristen jatuh dalam dosa. Moralitas dan etika dalam pelaksanaan tugas sebagai pemimpin menjadi fondasi yang kokoh agar tidak terjerumus pada penyalahgunaan wewenang kekuasaan tersebut.Kepemimpinan Kristen memerlukan arah dan prinsip-prinsip dasar Kristen. Seorang pemimpin Kristen berbeda dengan kepemimpinan sekuler. Karakteristik kepemimpinan Kristen harus memiliki integritas sebagai seorang pelayan. Sadar akan kelemahan dan kekurangan, efektif dan delegasi tugas, menghargai teladan , kerja keras, sebagai pelayan, mendengar suara Tuhan serta hubungan dengan pengikutnya dalam pelaksaananya merupakan hal yang perlu diperhatikan.Oleh karena itu, melalui tulisan ini penulis akan menyampaikan pandangan mengenai kepemimpinan Kristen ditengah-tengah kehidupan sekuler. Tulisan ini berisi Pendahuluan mendeskripsikan tentang latar belakang permasalahan perlunya memahami kepemimpinan Kristen, Pembahasan tentang kepemimpinan Kristen dan kepemimpinan sekuler serta kesimpulan
Pernikahan Lintas Iman Dalam Konteks Masyarakat Majemuk
Borrong, Robert Patannang
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 1, No 1 (2017): J.VoW Vol. 1 No. 1 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (389.482 KB)
|
DOI: 10.36972/jvow.v1i1.3
meninjau persoalan perkawinan campur beda agama yang diistilahkan perkawinan lintas iman, dalam konteks Negara majemuk, terutama dari sudut pandang etika/moral yang dikaitkan dengan sudut pandang hukum dan teologi. Dengan sengaja menggunakan istilah perkawinan lintas iman karena iman adalah sesuatu yang mencerminkan hubungan seseorang dengan Tuhan, apapun agamanya, sedangkan agama adalah institusi yang memfasilitasi iman. Orang yang mau menikah dengan orang yang berbeda agama tetapi suka mempertahankan agama masing-masing seharusnya dilandaskan pada keyakinan iman dan bukan sekedar agama
TEOLOGI POLITIK UNTUK KEADILAN Respons Teologis Gereja di Tengah Menguatnya Politik Identitas
Rantung, Dr. Djoys Anneke
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 2, No 1 (2018): J.VoW Vol. 2 No. 1 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (271.839 KB)
|
DOI: 10.36972/jvow.v2i1.21
Dalam konteks situasi kontemporer gereja hadir dan bergumul dengan tantangan-tantangannya. Ada tiga tantangan sekaligus yang didapati oleh penulis, yakni pertama, gereja berada di tengah situasi menguatnya politik identitas yang muncul pasca orde baru. Kedua, gereja bergumul dengan dirinya sendiri yang juga dibayang-bayangi oleh para politisi dari kalangan umatnya. Ketiga, gereja bergumul dengan idealisme Injil Yesus Kristus dalam menghadirkan keadilan sosial dan perdamaian bagi dunia.Penulisan ini mengangkat pergumulan-pergumulan tersebut dan meletakkan teologi politik sebagai praksis gereja untuk proklamasi Injil Yesus Kristus dalam upaya memahami secara teologis cita-cita Indonesia merdeka, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tulisan ini kemudian berkembang hingga pada pemahaman, bahwa masalah politik identitas yang berorientasi pada kekuasaan hanya untuk kelompok identitas tertentu direspon oleh gereja dengan teologi politik yang berorientasi pada keadilan sosial bagi semua demi perdamaian dan kesejahteraan.Model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, berdasarkan hasil studi pustaka berbagai sumber dalam meneliti teologi politik untuk keadilan sebagai respon gereja di tengah menguatnya politik identitas. Maksud dan tujuan penelitian ini untuk mengetahui tantangan-tantangan yang dihadapi gereja dengan menguatnya politik identitas yang muncul pasca orde baru, pergumulan gereja yang dibayang-bayangi oleh para politisi dari kalangan umatnya dan gereja yang bergumul dengan idealisme injil Yesus Kristus dalam menghadirkan keadilan sosial bagi perdamaian dunia. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini adalah teologi politik untuk keadilan sosial untuk tujuan keadilan sosial. Memperjuangkan hak-hak hidup orang lemah, miskin, tertindas dan mendatangkan keadilan dan kesejahteraan sebagaimana tujuan injil Yesus Kristus dalam menghadirkan keadilan sosial dan menghadirkan perdamaian bagi semua orang.
PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN KRISTIANI
Picanussa, Branckly Egbert
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 3, No 1 (2019): J.VoW Vol. 3 No. 1 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36972/jvow.v3i1.30
Some Christian education experts have expressed their views on how the church should develop a curriculum to educate church members to achieve maturity in the Christian faith. This article purpose to develop a curriculum for Christian education in Church ministry. The method used is a literature study on the opinions of D. CampbellWyckoff and Maria Harris. The characteristics of Wyckoff and Harris's opinions and various responses in "imaginative dialogue", as well as modifications of the Christian education Foundations, Principles andPractices schemes of Robert W. Pazmino became a model to develop a Christian education curriculum in church life. The development of the Christian education curriculum begins with setting the goal of implementing Christian education for a group in the Christian community. Furthermore, curriculum development requires thecontribution of various development foundations, including biblical, theological, philosophical, educational, scientific and technological, historical, socio-cultural, ecclesiological and psychological.
PROFESIONALITAS DAN PERSONALITAS GURU KRISTEN: PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA BERKARAKTER DAN KOMPETEN MENUJU INDONESIA UNGGUL
Napitupulu, Nurasyah Dewi
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 3, No 1 (2019): J.VoW Vol. 3 No. 1 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36972/jvow.v3i1.39
Many studies assume that the professionalism of teachers is influenced by his personality. Personality is a psychological characteristic that contributes to learning outcomes and academic achievement. However, research that proves this assumption is limited in the domain of Christian teachers as part of teachers inIndonesia. This study aims to analyze the correlation between teachers? personality and professionalism obtained through questionnaires and interviews. The analysis was carried out on 16 Christian teachers participated who were attending the Postgraduate Program in "Educational Professional Development" instruction. The results of the correlation test using the SPSS Version 21 program showed that Sig. (2-tailed) = 0.042 <0.05. It concluded that there is a positive correlation between the personality and professionalism of Christian teachers. Qualitative analysis is discovered that the teachers' personality is in the criteria of good and very good, as well as their professionality. The lowest percentage of personality is on the positive self-concept indicator (62.9%) with good criteria, whereas professionality is on the self-confidence indicator (64.5%) with good criteria. The results of interviews as the self-assessment be discovered that Christian teachers with high performance are 18.75%; the adjusted teachers are 43.75%; the teachers hopeless are 43.75%, and not giving answering by 25%. It was concluded that assumptions about teachers? personality and professionalism have a proven correlation for Christian teachers participated. Therefore, to improve professionalism as an Indonesian teachers? competence, it has to develop the personality of Christian teachers sustainable. The personality of the Christian teachers is an entity of Christ's character and professionalism is the existence of ability, attitude, and skills based on common sense. The researcher argues that toward a superior Indonesia is marked by teachers who excel in professionalism and personality.
MISI DAN SPIRIT WESLEYAN: MENUJU MANUSIA INDONESIA UNGGUL
The, Paw Liang Paw
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 3, No 1 (2019): J.VoW Vol. 3 No. 1 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36972/jvow.v3i1.35
Pemerintah Indonesia mencanangkan pembangunan SDM Unggul sebagai program kerja Kabinet Indonesia Maju. Human Capital 0,53 dan Global Competitiveness Index 50/141?yang rendah memberikan indikator kemampuan bertahan bangsa Indonesia di panggung dunia. Artikel ini memakai tiga faktor dalam memeta realita dan tantangan bagi Indonesia: Revolusi Industri Jilid 4 dan Globalisasi, Pergeseran Budaya Generasi, dan Bonus Demografi.Bagaimana gereja-gereja dapat turut berperan-serta dalam pembangunan manusia Indonesia yang seutuhnya. Tulisan ini menelusuri respon John Wesley terhadap kelesuan iman, kehidupan ekonomi dan sosial politik di Inggris pada abad 18 untuk dapat menjadi pembelajaran gereja di Indonesia dalam menghadapi tantangan yang tidak jauh berbeda. Misi dan spirit Wesleyan (kegerakan Methodist) memperhatikan seluruh aspek kehidupan?membangun iman dan kapasitas para anggota melalui pertemuan-pertemuan Methodist (Society, Class Meeting, Band) dan dalamseluruh aspek kehidupan bermasyarakat.
KONSEP SESAMAKU MANUSIA DALAM LUKAS 10: 25-37
SIMANJUNTAK, HORBANUS JOSUA
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 3, No 1 (2019): J.VoW Vol. 3 No. 1 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36972/jvow.v3i1.38
?Siapakah sesamaku manusia?? Pertanyaan seorang ahli Taurat ini dilatarbelakangi oleh adanya pemahamannya tentang ?sesamanya manusia? yang hanya terbatas pada orang Yahudi saja. Pemahaman seperti ini akan cenderung membatasi perilaku untuk mengasihi orang lain di luar satu ikatan hubungan tertentu. Bahkan praktek hidup primordial seperti ini dapat merusak kesKata kunci kurang atuan dan persatuan bangsa. Karena itu, diperlukan suatu kajian eksegetis tentang konsep ?sesamaku manusia? dalam Lukas 10: 25-37, supaya mendapatkan konsep yang benar tentang sesama manusia. Penulis injil Lukas menunjukkan, konsep ?sesama manusia? yang harus dikasihi tidak dibatasi oleh ikatan apapun, bahkan musuh atau yang memusuhipun harus dikasihi, seperti mengasihi diri sendiri. Dengan demikian, diharapkan setiap orang untuk mengasihi sesamanya manusia, seperti dirinya sendiri. Hal ini akan berdampak terhadap harmonisasi hubungan dengan siapa saja, sehingga dapat menjaga keutuhan, kesatuan dan persatuan, seperti satu bangsa.