Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama
Jurnal Voice Of Wesley, terbit Sejak tahun 2017, Mulai Volume 1 Nomer 1 Tahun 2017 Jurnal ini terbit secara berkala sebanyak dua kali dalam setahun dibulan Mei dan November.
Jurnal Voice of Wesley bertujuan untuk kemajuan dan kreatifitas karya tulis ilmiah melalui media penelitian dan pemikiran kritis analistis di bidang kajian musik dan Agama dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan Agama yang di terbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Articles
127 Documents
MISI DAN SPIRIT WESLEYAN: MENUJU MANUSIA INDONESIA UNGGUL
Paw Liang Paw The
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 3, No 1 (2019): J.VoW Vol. 3 No. 1 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36972/jvow.v3i1.35
Pemerintah Indonesia mencanangkan pembangunan SDM Unggul sebagai program kerja Kabinet Indonesia Maju. Human Capital 0,53 dan Global Competitiveness Index 50/141—yang rendah memberikan indikator kemampuan bertahan bangsa Indonesia di panggung dunia. Artikel ini memakai tiga faktor dalam memeta realita dan tantangan bagi Indonesia: Revolusi Industri Jilid 4 dan Globalisasi, Pergeseran Budaya Generasi, dan Bonus Demografi.Bagaimana gereja-gereja dapat turut berperan-serta dalam pembangunan manusia Indonesia yang seutuhnya. Tulisan ini menelusuri respon John Wesley terhadap kelesuan iman, kehidupan ekonomi dan sosial politik di Inggris pada abad 18 untuk dapat menjadi pembelajaran gereja di Indonesia dalam menghadapi tantangan yang tidak jauh berbeda. Misi dan spirit Wesleyan (kegerakan Methodist) memperhatikan seluruh aspek kehidupan—membangun iman dan kapasitas para anggota melalui pertemuan-pertemuan Methodist (Society, Class Meeting, Band) dan dalamseluruh aspek kehidupan bermasyarakat.
LEADING BY SERVING: MEMIMPIN DENGAN MELAYANI
Yacob T. Tomala
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 2, No 2 (2019): J.VoW Vol. 2 No. 2 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36972/jvow.v2i2.23
Pokok pikiran Leading by Serving atau “Memimpin dengan Melayani,” adalah kebenaran tentang kepemimpinan yang bersumber dari Kitab Suci Alkitab. Gagasan “Leading by Serving” ini dibangun berlandaskan ajaran dan praktik kepemimpinan Yesus Kristus. Dalam penelitian, ditemukan bahwa memimpin dengan melayani merupakan pola atau model kepemimpinan yang unik Alkitab, yang menjelaskan bahwa model kepemimpinan pelayan atau servant leadership ini adalah otentik Alkitab dan Kristen, karena diarsiteki oleh Yesus Kristus. Model atau pola kepemimpinan pelayan ini terbukti relevan, pas untuk segala situasi serta semua organisasi, karena sesungguhnya “memimpin sejatinya adalah melayani”. Sebagai upaya mengembangkan gagasan penelitian ini, maka pokok-pokok yang akan dikembangkan adalah antara lain: Pertama, Dasar-dasar Memimpin dengan Melayani; Kedua, Pola Memimpin dengan Melayani; yang diakhiri dengan suatu kesimpulan.
KRISTOLOGI KETUHANAN YESUS PADA ISU SLAVERY GAYA BARU: SUATU USAHA KONTEKSTUALISASI INJILI
Togardo Siburian
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 1, No 2 (2018): J.VoW Vol. 1 No. 2 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36972/jvow.v1i2.13
Tulisan ini adalah refleksi kontemporer atas doktrin ketuhanan Yesus pada situasiperbudakan gaya baru dewasa ini. Studi doktrinal Injili selama ini mengalamikemandegan dogmatisme, karena hanya pengulangan tema-tema abstrak tanpaterkait dengan kehidupan riil. Khususnya dalam pengaplikasian kristologi ketuhanan Yesus pada konteks segar, di mana kekristenan berada. Refleksi Injili sekarang terlalu menekankan kristologi “from above”dalam tema keilahian-Nya seperti: supremasi, keunikan, dan finalitas Kristus, tetapi melalaikan perspektif “from afore” pada dampak penebusan Kristus dalam kehidupan Kristen secara aktual. Kecenderungan hasilnya adalah pemisahan kejuruselamatan dari ketuhanan-Nya sampai pada pemisahan pengakuan dan praktik ketuhanan Yesus. Pada kondisi ini, tulisan aplikatif kontekstual Kristologi Injili hanya konsep superiorisme Kristus di atas oknum dan melawan isu-isu ideologis di sekitar kegerejaan masa kini. Di sini pentingnya reformulasi Kristologi Injili yang seimbang antara tematema keilahian dan isu kemanusiaan yang berfokus pada ketuhanan dan kejuruselamatan-Nya, keprihatinan apologetis dengan etis, kepercayaan konseptual dengan praktika, juga implementasi kristologis Injili yang parenialisme dalam kontekstualisme. Lalu mereartikulasikan ketuhanan Yesus yang teraplikasi dalam isu-isu kemanusiaan sekarang, berdasarkan hubungan hubungan komprehensif tema ketuhanan-Nya. Pada konteks ini ada kesempatan bagi kaum Injili untuk mengkontekstualisasikan doktrin Kristus (Kristologi) pada soal khusus, seperti perbudakan masa kini yang muncul lagi dalam gaya baru.
MAKNA "LETIH LESU DAN BERBEBAN BERAT" DALAM INJIL MATIUS 11:28 BERDASARKAN PRINSIP HERMENETIKA INJIL
Yosua Sibarani
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 4, No 2 (2021): J.VoW Vol 4. No. 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36972/jvow.v4i2.82
AbstractA reader of the Bible should know that ancient copies of the Old and New Testaments sometimes use different or inexact wordings regarding certain texts. This fact shows that the Bible needs to be interpreted based on the principle of correct interpretation so that today's readers understand the meaning of the text that is being read. The text of the Gospel of Matthew 11:28 is one of the many biblical texts that Christians have misunderstood as a result of the preacher's error in presenting it. This study aims to describe the concept of "tired and heavy laden" in Matthew 11:28 based on the interpretive principle that places Matthew specifically as one of the Gospels in the New Testament canon using qualitative research methods. As a result of this research, the phrase “weary and laden with weight” refers to Jews who are exhausted from carrying out the demands of the law for salvation, not to people who experience problems or problems of daily life of a physical nature. AbstrakSeorang pembaca Alkitab perlu mengetahui bahwa salinan kuno dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru kadang-kadang menggunakan susunan kata yang berbeda atau tidak sama persis mengenai teks tertentu. Fakta tersebut menunjukkan bahwa Alkitab perlu ditafsirkan berdasarkan prinsip penafsiran yang benar agar pembaca masa kini memahami makna teks yang sedang dibaca. Teks Injil Matius 11:28 adalah salah satu dari sekian banyak teks Alkitab yang disalahpahami oleh orang Kristen sebagai akibat dari kekeliruan pengkhotbah menyampaikannya. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan konsep “letih lesu dan berbeban berat” dalam Matius 11:28 berdasarkan prinsip penafsiran yang menempatkan Matius secara khusus sebagai salah satu dari Injil dalam kanon Perjanjian Baru menggunakan metode penelitian kualitatif. Sebagai hasil dari penelitian ini, frase “letih lesu dan berbeban berat” merujuk kepada orang-orang Yahudi yang mengalami kelelahan karena melakukan tuntutan hukum Taurat untuk mendapatkan keselamatan, bukan orang-orang yang mengalami masalah atau persoalan hidup sehari-hari yang bersifat jasmani.
DIPENUHI DI DALAM KRISTUS PERSPEKTIF SURAT KOLOSE SEBAGAI LANDASAN BAGI GEREJA DALAM MELAYANI MASYARAKAT
Alberth Darwono Sarimin
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 3, No 2 (2020): J.VoW Vol 3. No. 2 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36972/jvow.v3i2.47
The existensi of the church in this world because of mandate mission of Jesus Christ. To know how the church can serve community well, in this paper the Colossians become a focus of research and the reason to choose this letter was the collosians consist of plural community.The purpose of this paper is to look at how religion sociology influences social life and theology can drive social change system. While the research method that was used is library researchSocial structure that is formed in Colossian community provides an opportunity for the growth of false teaching and seeing this social structure strongly built in Colossian Paul raised a theology of fullness of God in Christ and belivers are fulfilled in Christ. In other words that the supremacy of Christ in everything and over everythingThe existence of the church has a role to drive social system and to apply that system Christ should be supremed, supremacy of Christ is above the mission and the church has a strategy to carry out its mission. In other words, to be able to serve community, the church should place Christ over everything and have a strategy in carrying out its mission so that the church which is a sub system in the community able to move a larger system Keywords: Fulllness, fulfilled, supremacy, Christ
Aspek Eskatologis dalam Ekaristi sebagai Dasar untuk Membangun Masa Depan Bersama di Masyarakat yang Majemuk
Binsar Jonathan Pakpahan
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 1, No 1 (2017): J.VoW Vol. 1 No. 1 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36972/jvow.v1i1.2
Harapan atau ketakutan akan masa depan membuat orang melakukan berbagai hal di masa kini, yang positif maupun negatif. Bayangan masa depan sering kali menghantui sikap dan identitas seseorang di masa kini. Politik identitas yang terjadi akibat perkembangan filsafat postmodern membawa politik ketakutan yang melawan kemajemukan. Bagaimana kita bisa memiliki landasan teologis yang kuat dalam ekspektasi masa depan, dengan tetap memelihara perilaku positif akan masa kini? Bagaimana kita bisa membangun harapan bersama di tengah masyarakat majemuk? Makalah ini akan membahas bagaimana kita bisa membangun harapan masa depan dimulai dari mengingat masa lalu dan mengaktualisasikannya dalam identitas masa kini. Dalam teologi Kristen, identitas dan proses mengingat tidak pernah dapat dipisahkan, seperti yang ditunjukkan oleh Israel. Pusat dari perayaan ingatan ada dalam Ekaristi, di mana kita mengingat Kristus dan kehidupannya di masa lalu, sambil berharap akan pertolongan Allah di masa depan. Dengan ingatan sekaligus harapan ini, komunitas orang percaya dapat membangun masa depannya tanpa ketakutan akan ketidakpastian masa depan atau trauma yang dialami di masa lalu.
Menjadi Pemimpin Musik Gereja Yang Handal
Jonathan Tanujaya
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 2, No 2 (2019): J.VoW Vol. 2 No. 2 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36972/jvow.v2i2.28
Beberapa tahun terakhir ini, pertumbuhan jemaat gereja-gereja ( khususnya gereja Injili ) semakin hari semakin lambat dan bahkan merasa tidak dapat bertumbuh baik secara kuantitas maupun kualitas. Sehingga pemimpin-peminpin gereja mulai mencari penyebab dari lambatnya pertumbuhan jemaat mereka. Disaat yang bersamaan, ada gereja-gereja yang tiba-tiba bertumbuh dengan pesat dalam jumlah jemaat yang banyak dalam kurun waktu yang singkat. Sehingga banyak gereja lainnya ingin meniru dan belajar dari gereja tersebut, salah satunya yaitu melalui corak-corak ibadah khusus didalam musik dan lagunya.Apa yang terjadi didalam ibadah mereka? Ternyata mereka beribadah dengan puji-pujian yang diiringi dengan alat-alat musik ( guitar elektrik, keyboard, drum set dan bass ). Sehingga membangkitkan suasana dan semangat ibadah mereka. Hal ini sangat menarik perhatian pemuda dan pemudi gereja-gereja yang masih bersifat konservatif ( Injili ). Sehingga mulai meniru dan menghilangkan tata ibadah tradisi yang ada. Apa kah ini benar dan pasti berhasil?Penulis tidak menyangkal dan menolak cara ibadah mereka, tetapi penulis ingin bertanya kepada Hamba Tuhan, majelis, penatua serta tim ibadah yang ada saat ini, apakah kita sudah memiliki Pemimpin Musik Gereja yang Handal yang benar-benar mengerti musik gerejawi yang dapat membangun kerohanian jemaat. Dan membimbing pelayan-pelayan musik dalam ibadah dengan baik dan benar. Penulis menulis tema ini karena penulis sejak kecil sudah dipimpin dan dibina oleh pembimbing kami dengan belajar musik gereja yang baik dan benar, mengerti setiap lagu yang dinyanyikan bahkan menceritakan tokoh-tokoh penulis lagu tersebut.Berharap tulisan ini dapat dipelajari oleh pemimpin-peminpin gereja baik pendeta ( Hamba Tuhan) , majelis, penatua maupun tim musik ibadah. Sehingga kita dapat menbina dan mendidik jemaat dengan musik gereja yang benar melalui seorang Pemimpin Musik Gereja yang handal.
ENTITAS GEREJA DALAM BERPOLITIK DI INDONESIA (TINJAUAN SUDUT ETIKA KRISTEN)
Ni Nyoman Fransiska M.Th
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 2, No 1 (2018): J.VoW Vol. 2 No. 1 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36972/jvow.v2i1.18
This paper discusses the political attitudes of Christians towards politics in Indonesia. Christians have been actively involved in the resistance movement against the Dutch colonialists, participated in establishing the country, formulated ideology and ratified the 1945 Constitution, participated in maintaining Indonesia's independence through the war of independence and played an active role in building the Indonesian nation. The state was created by God to carry out its function of creating justice, protecting and serving society. Therefore Christians are also called to participate in the creation of Peace (Welfare) in the country, because in a prosperous and peaceful country, the church can live better (Jer.29: 7).
PENDAMPINGAN PASTORAL TERHADAP PENYESUAIAN DIRI MAHASWA IAKN KUPANG DALAM MENGHADAPI PANDEMI COVID-19
Anggreani N. Paat
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 4, No 1 (2020): J.VoW Vol 4. No. 1 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36972/jvow.v4i1.79
Pada awal tahun 2020, dunia dihebohkan dengan merebaknya jenis virus baru yaitu Coronavirus disease 2019 (COVID-19). Dampak mewabahnya virus ini dirasakan oleh dunia pendidikan. Dampak yang paling dikhawatirkan adalah efek jangka panjang. Kondisi demikian mengganggu pencapaian kematangan mahasiswa dalam meraih tujuan belajarnya, baik secara akademis, psikologis, dan spiritualitas. Dampak tersebut juga dialami mahasiswa Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empirik mengenai pendampingan pastoral terhadap penyesuaian diri pada mahasiswa IAKN Kupang dalam menghadapi pandemi Covid-19 serta untuk mengetahui seberapa besar sumbangan efektif pastoral terhadap penyesuaian diri. Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan mengambil subyek 10 orang mahasiswa IAKN Kupang. Hasil dari penelitian ini bahwa kesepuluh mahasiswa cukup mampu menyesuaikan diri terhadap pandemic Covid 19. Hal tersebut tidaklah lepas dari peran orangtua, kampus, gereja, dan pemerintahan sebagai pendamping. Pendampingan yang diberikan orang-orang yang ada disekitar mahasiswa berupa nasihat dan saran untuk hidup sehat, mematuhi protokol kesehatan, dan tetap bersemangat dalam menjalani perkuliahan online. Orangtua dan pendamping dapat sebagai seorang penolong dan pendengar bagi mahasiswa untuk bertahan dan melewati suatu keadaan yang di alaminya, khususnya di saat pandemi Covid-19
ECOTHEOLOGY DAN ECOPEDAGOGY: UPAYA MITIGASI TERHADAP EKSPLOITASI ALAM SEMESTA
Nurasyah Dewi Napitupulu;
Achmad Munandar;
Sri Redjeki;
Bayong Tjasyono
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama Vol 1, No 2 (2018): J.VoW Vol. 1 No. 2 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologia Wesley Methodist Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36972/jvow.v1i2.9
Eksploitasi lingkungan hidup merupakan bentuk kekerasan terhadap alam semesta yang berkontribusi pada fenomena ekologis yang terjadi dewasa ini secara lokal dan global. Kerusakan lingkungan yang terjadi merupakan isu “sekuler” dan isu “religius” atau “teologis” terintegrasi yang memerlukan perspektif ecotheology dan ecopedagogy dalam mitigasinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan sikap etis-teologis mahasiwa terhadap berbagai fenomena ekologis seperti pemanasan global, deforestasi, dan penggunaan sumber-sumber energi yang dieksplorasi melalui angket sebagai instrumen penelitian. Dengan sampel berjumlah 60 orang mahasiswa dengan latar belakang agama yang berbeda, hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase rata-rata sikap mahasiswa adalah 61,2% dengan kategori kurang. Tidak ada perbedaan yang signifikan rata-rata sikap mahasiswa terhadap fenomena lingkungan berdasarkan agama. Disimpulkan bahwa latar belakang agama tidak berkontribusi membentuk sikap mahasiswa terhadap fenomena ekologis. Untuk meningkatkan dan memperbaharui sikap mahasiwa terhadap fenomena lingkungan perlu dipertimbangkan integrasi ecotheology dan ecopedagogy untuk mengkonstruksi pemahaman konsep mahasiswa terhadap fenomena ekologi