cover
Contact Name
Agus Herianto
Contact Email
agusherianto.ummat@gmail.com
Phone
+6287864593560
Journal Mail Official
geography.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jl. KH Ahmad Dahlan No 1 Pagesangan, Kota Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan
ISSN : 23392835     EISSN : 26145529     DOI : https://doi.org/10.31764/geography
Core Subject : Science, Education,
Geography : Jurnal Kajian Penelitian & Pengembangan Pendidikan was founded upon the conviction that the development of learning and teaching was vitally important to higher education. It is committed to promote, enhance and share geography learning and teaching in all institutions of higher education throughout the world, and provides a forum for geographers and others, regardless of their specialisms, to discuss common educational interests, to present the results of educational research, and to advocate new ideas.
Articles 229 Documents
CAGAR BUDAYA RUMAH ADAT SOURAJA SEBAGAI IDENTITAS KULTURAL MASYARAKAT LERE Anindy Putry Salsabila; Haslita Rahmawati Hasan; Abdul Hamid; Nuraedah Nuraedah
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 14, No 1 (2026): APRIL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v14i1.35660

Abstract

Abstrak: Rumah Adat Souraja merupakan simbol penting identitas kultural masyarakat Lere yang merefleksikan nilai historis, sosial, dan filosofi masyarakat Kaili. Namun, perubahan sosial akibat modernisasi memengaruhi tingkat keterlibatan generasi muda sehingga keberlanjutan fungsi dan makna budayanya menghadapi tantangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis fungsi, makna simbolik arsitektur, faktor-faktor yang memengaruhi keberlanjutan, serta persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap pelestarian Souraja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif melalui observasi, wawancara mendalam menggunakan teknik snowball sampling, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Souraja berfungsi sebagai ruang sosial, pusat kegiatan adat, serta media pewarisan nilai budaya. Makna simbolik tercermin melalui elemen arsitektur yang merepresentasikan struktur sosial dan pandangan hidup masyarakat Kaili. Keberlanjutan Souraja dipengaruhi oleh dukungan pemerintah, peran keluarga pewaris, partisipasi masyarakat, dan keterlibatan generasi muda melalui kegiatan budaya. Masyarakat memiliki persepsi positif dan keterlibatan sukarela dalam menjaga Souraja meskipun dihadapkan pada arus modernisasi. Penelitian ini menegaskan bahwa Souraja tetap menjadi penanda identitas kultural masyarakat Lere dan memerlukan strategi pelestarian yang adaptif terhadap perubahan sosial. Abstract:  The Souraja Traditional House serves as a key cultural symbol of the Lere community, embodying the historical, social, and philosophical values of the Kaili people. However, social changes driven by modernization have reduced the engagement of younger generations, raising concerns about the continuity of its cultural functions and meanings. This study aims to examine the functions of Souraja, the symbolic meanings embedded in its architectural elements, the factors influencing its sustainability, and the community’s perceptions and participation in preservation efforts. A qualitative descriptive approach was employed, with data collected through observation, in-depth interviews using snowball sampling, and documentation. The findings reveal that Souraja functions as a social hub, a venue for traditional ceremonies, and a medium for intergenerational transmission of cultural knowledge. Its symbolic meanings are reflected in architectural features that represent social structure and philosophical values of the Kaili community. The sustainability of Souraja is shaped by governmental support, the commitment of hereditary families, community participation, and youth involvement through cultural activities. Despite challenges posed by modernization, the Lere community maintains positive perceptions and voluntary participation in preserving Souraja. Overall, Souraja continues to serve as a vital marker of cultural identity for the Lere community and requires adaptive preservation strategies responsive to contemporary social changes. 
STRATEGI PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA GILI NANGGU DALAM MENDUKUNG PARIWISATA BERKELANJUTAN Sukuryadi Sukuryadi
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 14, No 1 (2026): APRIL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v14i1.39017

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan destinasi wisata Gili Nanggu dalam mendukung pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Lombok Barat. Gili Nanggu merupakan destinasi wisata bahari yang memiliki potensi sumber daya alam pesisir dan laut yang tinggi, namun berada pada kawasan konservasi laut dengan status zona inti sehingga memerlukan pengelolaan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis SWOT untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pengembangan destinasi. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gili Nanggu memiliki kekuatan utama berupa keindahan alam, kondisi perairan yang mendukung wisata bahari, serta keanekaragaman hayati laut. Namun demikian, masih terdapat kelemahan berupa pengelolaan sampah dan limbah yang belum optimal, keterbatasan sumber daya manusia pariwisata, serta promosi destinasi yang masih rendah. Peluang pengembangan didukung oleh tren ekowisata dan lokasi strategis jalur wisata Bali– Lombok, sementara ancaman berasal dari tekanan aktivitas wisata terhadap ekosistem pesisir dan laut. Strategi pengembangan yang direkomendasikan meliputi penguatan pengelolaan lingkungan, peningkatan kapasitas SDM lokal, pengembangan ekowisata berbasis konservasi, serta penguatan promosi dan kemitraan berkelanjutanAbstact: This study aims to formulate development strategies for the Gili Nanggu tourist destination in supporting sustainable tourism in West Lombok Regency. Gili Nanggu is a marine tourism destination with high coastal and marine resource potential, yet it is located within a marine conservation area with core zone status, requiring integrated and sustainable management. This research employed a descriptive qualitative approach using SWOT analysis to identify internal and external factors influencing destination development. Data were collected through field observations, in-depth interviews with relevant stakeholders, and document analysis. The results indicate that Gili Nanggu’s main strengths include its natural beauty, favorable marine conditions for tourism activities, and rich marine biodiversity. However, several weaknesses remain, particularly related to inadequate waste and wastewater management, limited local tourism human resources, and low destination promotion. Development opportunities are supported by the growing trend of ecotourism and the strategic location along the Bali–Lombok tourism route, while threats arise from uncontrolled tourism activities that may exert pressure on coastal and marine ecosystems. The recommended development strategies include strengthening environmental management, enhancing local human resource capacity, developing conservation-based ecotourism, and improving sustainable promotion and partnerships.
EVALUASI KEPATUHAN BAKU MUTU EFFLUENT DAN EFEKTIVITAS PENYISIHAN POLUTAN PADA IPAL KOMUNAL: TINJAUAN LITERATUR SISTEMATIS Wan Azizah; Nurhayati Nurhayati; Joni Safaat Adiansyah
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 14, No 2 (2026): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v14i2.40102

Abstract

Abstrak: Kinerja Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal dalam memenuhi baku mutu air limbah domestik masih menjadi tantangan penting karena efluen yang tidak memenuhi standar berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan risiko kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kepatuhan baku mutu efluen dan efektivitas penyisihan polutan pada IPAL komunal melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Penelitian dilakukan menggunakan pedoman PRISMA dengan sumber data yang berasal dari Google Scholar, Scopus, Elicit, Scite.ai, SciSpace, dan DOAJ. Artikel yang dianalisis merupakan publikasi ilmiah terindeks dan peer-reviewed pada periode 2016–2025 yang memuat data kuantitatif mengenai karakteristik influen-efluen, efektivitas penyisihan polutan, dan tingkat kepatuhan terhadap baku mutu air limbah domestik pada sistem pengolahan air limbah komunal atau terdesentralisasi; status peer-review setiap artikel diverifikasi melalui basis data indeksasi pada tahap full-text review. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknologi Anaerobic Baffled Reactor (ABR) dan biofilter anaerobik merupakan teknologi yang paling banyak digunakan dengan efisiensi penyisihan BOD sebesar 70–99% dan COD sebesar 51–99%. Namun demikian, kepatuhan terhadap baku mutu efluen masih rendah terutama pada parameter amonia, Total Suspended Solids (TSS), total coliform, dan parameter mikrobiologis lainnya. Kinerja pengolahan dipengaruhi oleh karakteristik influen, Hydraulic Retention Time (HRT), kondisi infrastruktur, operasi dan pemeliharaan, serta kapasitas kelembagaan pengelola. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingginya efisiensi penyisihan polutan tidak selalu menjamin terpenuhinya baku mutu efluen. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam optimalisasi teknologi, penguatan pengelolaan operasional, dan peningkatan sistem pemantauan kualitas efluen untuk mendukung keberlanjutan IPAL komunal.  Abstract:  The performance of communal wastewater treatment plants (WWTPs) in meeting domestic wastewater effluent standards remains a critical issue, as non-compliant effluent can contribute to environmental pollution and public health risks. This study aimed to evaluate effluent quality compliance and pollutant removal efficiency in communal WWTPs through a Systematic Literature Review (SLR). The review adopted the PRISMA framework and analyzed peer-reviewed articles retrieved from Google Scholar, Scopus, Elicit, Scite.ai, SciSpace, and DOAJ. Eligible studies were published between 2016 and 2025 and provided quantitative information on influent–effluent characteristics, pollutant removal performance, and compliance with wastewater quality standards in communal or decentralized wastewater treatment systems. The findings indicate that Anaerobic Baffled Reactor (ABR) and anaerobic biofilter technologies are the most widely applied systems, achieving Biological Oxygen Demand (BOD) removal efficiencies of 70–99% and Chemical Oxygen Demand (COD) removal efficiencies of 51–99%. However, compliance with effluent standards remains inconsistent, particularly for ammonia, Total Suspended Solids (TSS), total coliform, and other microbiological parameters. The review further reveals that treatment performance is strongly influenced by hydraulic retention time, influent characteristics, operational management, maintenance practices, infrastructure conditions, and institutional capacity. This study concludes that high pollutant removal efficiency does not necessarily guarantee compliance with effluent standards. The findings provide practical implications for improving operational management, monitoring systems, and technology optimization to enhance the sustainability and environmental performance of communal WWTPs.
VALUASI EKONOMI KARBON PADA VEGETASI PERKOTAAN KOTA MATARAM BERBASIS NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX (NDVI) Ismail Karim; Asirin Asirin
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 14, No 2 (2026): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v14i2.42360

Abstract

Abstrak: Pembangunan infrastruktur perkotaan sering mengeliminasi tutupan hijau, padahal vegetasi sangat krusial dalam penyerapan emisi karbon. Mengikuti transisi kebijakan menuju instrumen Nilai Ekonomi Karbon (NEK), penelitian ini bertujuan mengestimasi cadangan karbon vegetasi Kota Mataram secara spasial dan menakar nilai ekonominya di IDXCarbon sebagai basis data estimasi awal. Metode yang digunakan meliputi ekstraksi Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dari citra Sentinel-2A melalui Google Earth Engine (GEE). Nilai tersebut dikonversi menjadi biomassa menggunakan model regresi eksponensial, cadangan karbon, dan serapan emisi  menurut standar baku IPCC, untuk kemudian divaluasi menggunakan harga proksi pasar IDXCarbon. Meskipun efisien, metode estimasi optik ini memiliki keterbatasan dipengaruhi oleh faktor ekologis lapangan, sehingga menyumbang tingkat ketidakpastian estimasi sebesar 31,52%. Hasil analisis menunjukkan kerapatan vegetasi Kota Mataram didominasi oleh kelas rendah. Secara spasial, Kecamatan Sandubaya bertindak sebagai lumbung karbon tertinggi dengan serapan 93.383,98 ton  yang bervaluasi ekuivalen Rp5,49 miliar hingga Rp13,44 miliar. Sebaliknya, Kecamatan Ampenan mencatatkan serapan terendah sebesar 41.144,39 ton  (Rp2,41 miliar – Rp5,92 miliar). Temuan ini membuktikan besarnya Nilai Guna Tidak Langsung (Indirect Use Value) parsial dari jasa ekosistem vegetasi perkotaan. Oleh karena itu, data dasar ini direkomendasikan sebagai instrumen argumen proteksi peruntukan ruang hijau dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan langkah awal eksplorasi mekanisme pendanaan iklim daerah melalui Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN-PPI). Abstract: Urban infrastructure development often eliminates green cover, even though vegetation is crucial for carbon sequestration. In line with the policy transition toward the Economic Value of Carbon (EVC) framework, this study aims to spatially estimate the vegetation carbon stock in Mataram City and quantify its economic value on IDXCarbon as a baseline for initial estimates. The methods used include extracting the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) from Sentinel-2A imagery via Google Earth Engine (GEE). These values were converted into biomass using an exponential regression model, followed by calculations of carbon stocks and CO₂e absorption according to IPCC standards, and then valued using IDXCarbon’s market proxy prices. Although efficient, this optical estimation method has limitations due to on-the-ground ecological factors, resulting in an estimation uncertainty of 31.52%. The analysis results show that vegetation density in Mataram City is dominated by low-density classes. Spatially, Sandubaya Subdistrict serves as the highest carbon sink with an absorption of 93,383.98 metric tons of CO₂e, valued at the equivalent of Rp5.49 billion to Rp13.44 billion. In contrast, Ampenan Subdistrict recorded the lowest absorption at 41,144.39 metric tons of CO₂e (Rp2.41 billion – Rp5.92 billion). This finding demonstrates the significant partial Indirect Use Value of urban vegetation ecosystem services. Therefore, these baseline data are recommended as a basis for advocating the protection of green space allocations in the Detailed Spatial Plan (RDTR) and as a first step toward exploring regional climate financing mechanisms through the National Climate Change Control Registry System (SRN-PPI).
PERKEMBANGAN KAWASAN TERBANGUN KOTA MATARAM DAN PERI URBAN DALAM KSP MATARAM RAYA Fariz Primadi Hirsan; Febrita Susanti; Agus Kurniawan; Sukuryadi Sukuryadi
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 14, No 2 (2026): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v14i2.40104

Abstract

Abstrak: Kawasan peri urban Kota Mataram mengalami tekanan perkembangan permukiman yang semakin intensif seiring dengan pertumbuhan penduduk dan dinamika penetapan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) Mataram Raya berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi NTB Nomor 5 Tahun 2024. Penelitian ini bertujuan menganalisis arah dan pola perkembangan kawasan terbangun di Kota Mataram dan enam kecamatan peri urbannya di Kabupaten Lombok Barat dalam konteks KSP Mataram Raya. Metode yang digunakan meliputi analisis perubahan penggunaan lahan multitemporal (2015, 2020, 2025) berbasis citra satelit, analisis Shannon Entropy untuk mengukur tingkat kekompakan (sprawl index), Standard Deviational Ellipse (SDE) untuk mengidentifikasi arah dominan perkembangan kawasan terbangun, serta model gravitasi untuk mengukur interaksi spasial antara Kota Mataram dengan wilayah peri urbannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total kawasan terbangun di enam kecamatan peri urban meningkat dari 8.742 ha (2015) menjadi 13.168 ha (2025), atau tumbuh 50,6% dalam satu dekade. Analisis SDE mengungkap bahwa sumbu perkembangan kawasan terbangun berorientasi dominan ke arah Barat Laut–Tenggara (rotation angle ±42°), dengan pusat massa (mean center) yang bergeser sekitar 2,3 km ke arah Barat Laut antara 2015 dan 2025, mengindikasikan arah ekspansi dominan menuju Kecamatan Gunungsari dan Batulayar. Analisis Shannon Entropy mengonfirmasi kecenderungan urban sprawl dengan nilai entropy yang meningkat dari 0,87 (2015) menjadi 1,24 (2025) pada seluruh zona peri urban. Model gravitasi mengonfirmasi persentase indeks interaksi relative spasial tertinggi terjadi antara Kota Mataram dengan Kecamatan Gunungsari (40,78 %) dan Kecamatan Labuapi (23,72 %). Temuan ini memberikan kontribusi baru berupa integrasi tiga metode analisis spasial SDE, Shannon Entropy, dan Model Gravitasi dalam satu kerangka analitik terpadu untuk diagnosis arah dan pola perkembangan kawasan terbangun peri urban, serta implikasinya bagi kebijakan tata ruang KSP Mataram Raya.  Abstract: The peri-urban areas surrounding Mataram City are experiencing increasingly intensive urban development pressures driven by population growth and the designation of the Greater Mataram Provincial Strategic Area (Kawasan Strategis Provinsi, KSP) under West Nusa Tenggara Provincial Regulation No. 5 of 2024. This study aims to analyze the direction and patterns of regional development in Mataram City and its six peri-urban sub-districts in West Lombok Regency within the context of the Greater Mataram KSP. The research employs a combination of multi-temporal land use change analysis (2015, 2020, and 2025) based on satellite imagery, Shannon Entropy analysis to assess the degree of urban compactness (urban sprawl index), the Standard Deviational Ellipse (SDE) to identify the dominant direction of built-up area expansion, and a gravity model to measure the spatial interactions between Mataram City and its peri-urban areas. The results indicate that the total built-up area within the six peri-urban sub-districts increased from 8,742 ha in 2015 to 13,168 ha in 2025, representing a growth of 50.6% over one decade. The SDE analysis revealed that urban expansion was predominantly oriented along the northwest–southeast axis (rotation angle of approximately 42°), with the mean center shifting approximately 2.3 km toward the northwest between 2015 and 2025, indicating a dominant expansion trend toward Gunungsari and Batulayar Districts. The Shannon Entropy analysis further confirmed an increasing urban sprawl trend, with entropy values rising from 0.87 in 2015 to 1.24 in 2025 across the peri-urban zone. The gravity model identified the strongest spatial interactions between Mataram City and Gunungsari District (40.78%), followed by Labuapi District (23.72%). These findings contribute to the existing literature by integrating the Standard Deviational Ellipse, Shannon Entropy, and Gravity Model within a unified spatial analytical framework to diagnose the direction and patterns of peri-urban built-up area development. Furthermore, the proposed framework provides a robust analytical basis for supporting spatial planning and policy formulation within the Greater Mataram Provincial Strategic Area (KSP). 
EFEKTIVITAS GOOGLE SITES DAN FLIPBOOK BERBASIS OUTDOOR LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR MITIGASI BENCANA LONGSOR DI SAMARINDA Imas Maulidiani; Mei Vita Romadon Ningrum; Najma Nur Mawaddah; Yulian Widya Saputra
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 14, No 2 (2026): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v14i2.40156

Abstract

Abstrak: Penelitian ini berfokus pada evaluasi efektivitas pembelajaran di luar ruangan yang didasarkan pada Google Sites untuk membantu siswa di SMA IT Granada Samarinda dalam memahami mitigasi risiko bencana tanah longsor. Metode penelitian yang dipilih adalah kuantitatif dengan desain eksperimen semu, khususnya kelompok kontrol yang hanya diuji setelah pembelajaran. Sampel penelitiannya diambil menggunakan purposive sampling. Ini mencakup kelompok eksperimen yang menerapkan Google Sites yang digabungkan dengan pembelajaran di luar kelas dan kelompok kontrol yang memanfaatkan Flipbook dalam proses pembelajaran luar ruangan. Pengumpulan data dilakukan melalui penilaian (tes pilihan ganda dan esai) serta non-penilaian (observasi dan wawancara), yang selanjutnya dianalisis dengan memakai Independent Sample T-test. Temuan penelitian menunjukkan rata-rata nilai posttest kelas eksperimen mencapai 82,10, sementara kelas kontrol menunjukkan nilai rata-rata sebesar 82,93. Hasil analisis t-test menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) lebih dari 0,05, menandakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara kedua kelas. Meskipun kedua platform digital tersebut mampu mendongkrak capaian posttest siswa secara signifikan, namun integrasi pembelajaran luar kelas bersama Google Sites maupun Flipbook tidak menunjukkan perbedaan efektivitas yang berarti secara statistik. Abstract: This research focuses on evaluating the effectiveness of Google Sites-based outdoor learning in helping students at SMA IT Granada Samarinda comprehend landslide disaster risk mitigation. Choosing a quantitative method within a quasi-experimental framework, the study specifically adopted a posttest-only control group design. The researchers selected the sample using purposive sampling, which included an experimental class combining Google Sites with outdoor learning and a control class utilizing Flipbooks during outdoor lessons. The study gathered data through tests (multiple-choice and essays) as well as non-test instruments (observations and interviews), which were then analyzed using the Independent Samples T-test. The findings show that the experimental class achieved a mean posttest score of 82.10, whereas the control class obtained an average score of 82.93. Furthermore, the t-test yielded a Sig. (2-tailed) value above 0.05, indicating no statistically significant difference between the two groups. However, both digital media formats demonstrated high efficacy in improving student understanding, pushing learning outcomes into the very high category. Although both digital platforms significantly enhanced students' post-test outcomes, the integration of outdoor learning with either Google Sites or Flipbook showed no statistically significant difference in effectiveness.
ANALYSIS OF FLOOD INUNDATION DISTRIBUTION BASED ON METEOROLOGICAL FACTORS AND LAND COVER USING HEC-RAS IN THE TUKAD BADUNG WATERSHED (CASE STUDY: THE BALI FLOODS OF SEPTEMBER 9–10, 2025) Naufal Ilham Habibi; Ania Maulidiah Nisa
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 14, No 2 (2026): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v14i2.41393

Abstract

Abstract:  The September 9–10, 2025, flood in the Tukad Badung Watershed was the most severe event of the past decade, triggered by extreme rainfall that resulted in 16 fatalities and widespread inundation across several regencies and cities in Bali. This study aims to analyze meteorological conditions and land cover during the flood event and to model flood inundation using HEC-RAS software. Data used include meteorological parameters (rainfall, temperature, air pressure, wind speed and direction, and evapotranspiration) and land cover (land use land cover and soil type). Results indicate abnormal meteorological conditions at both observation stations: ARG Abiansemal recorded rainfall of 284.6 mm, temperature of 22.72°C, pressure of 1,004.34 hPa, wind speed of 3.3 m/s, wind direction from the northwest, and evapotranspiration of 0.171–0.172 mm/h; while AWS Tuban recorded rainfall of 116 mm, temperature of 23.59°C, pressure of 993.23 hPa, wind speed of 4.48 m/s, wind direction from the northwest, and evapotranspiration of 0.120–0.121 mm/h. built up area-dominated land cover and clay loam soils from upstream to downstream further intensified the flooding. HEC-RAS simulations produced inundation depths of 1–3 meters, accurately representing actual flood conditions with a hit rate of 83.33%. Abstrak: Banjir yang terjadi pada 9–10 September 2025 di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tukad Badung merupakan peristiwa terparah dalam satu dekade terakhir, yang dipicu oleh curah hujan ekstrem yang mengakibatkan 16 korban jiwa dan genangan luas di beberapa kabupaten dan kota di Bali. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi meteorologi dan tutupan lahan selama peristiwa banjir tersebut serta memodelkan genangan banjir menggunakan perangkat lunak HEC-RAS. Data yang digunakan meliputi parameter meteorologi (curah hujan, suhu, tekanan udara, kecepatan dan arah angin, serta evapotranspirasi) dan tutupan lahan (penggunaan lahan, tutupan lahan, dan jenis tanah). Hasil penelitian menunjukkan kondisi meteorologi yang tidak normal di kedua stasiun pengamatan: ARG Abiansemal mencatat curah hujan sebesar 284,6 mm, suhu 22,72°C, tekanan 1.004,34 hPa, kecepatan angin 3,3 m/s, arah angin dari barat laut, dan evapotranspirasi sebesar 0,171–0,172 mm/jam; sedangkan AWS Tuban mencatat curah hujan sebesar 116 mm, suhu 23,59°C, tekanan 993,23 hPa, kecepatan angin 4,48 m/s, arah angin dari barat laut, dan evapotranspirasi sebesar 0,120–0,121 mm/jam. Tutupan lahan yang didominasi kawasan permukiman dan tanah lempung liat dari hulu ke hilir semakin memperparah banjir. Simulasi HEC-RAS menghasilkan kedalaman genangan 1–3 meter, yang secara akurat menggambarkan kondisi banjir sebenarnya dengan tingkat akurasi sebesar 83,33%.
ANALISIS POLA SEBARAN DAN KESESUAIAN LOKASI KAWASAN BISNIS OLAHRAGA PADEL MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KOTA BANDUNG Aisah Nurcahya; Ardhi Rahman Maulana; Sypa Septiani; Tri Utami; Alnidi Safarach Bratanegara; Lili Somantri
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 14, No 2 (2026): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v14i2.39656

Abstract

Abstrak: Olahraga padel mengalami pertumbuhan pesat di Kota Bandung sejak tahun 2024, seiring meningkatnya gaya hidup rekreasi urban masyarakat kelas menengah atas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi persebaran lokasi persewaan lapangan padel, menganalisis pola sebaran spasialnya, menggali faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan lokasi usaha, serta menilai kesesuaian lokasi tersebut terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung. Data spasial diperoleh melalui scraping Google Maps yang diverifikasi melalui ground checking, sedangkan data RTRW diperoleh dari BAPPEDA Kota Bandung; wawancara semi-terstruktur dilakukan terhadap 7 pengelola lapangan padel pada periode 3-10 April 2026. Pola sebaran dianalisis menggunakan metode Average Nearest Neighbor (ANN), sedangkan kesesuaian lokasi dinilai melalui overlay SIG. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 72 titik persewaan lapangan padel yang terkonsentrasi di wilayah utara, barat, dan pusat Kota Bandung, khususnya di Kecamatan Sukajadi, Cicendo, dan Bojongloa Kaler. Analisis ANN menghasilkan Nearest Neighbor Ratio sebesar 0,927 (z-score -1,187; p-value 0,235), yang menunjukkan pola persebaran bersifat acak dengan kecenderungan mengelompok yang lemah dan tidak signifikan secara statistik. Faktor lokasi usaha yang paling banyak dipertimbangkan pengelola adalah kombinasi kepemilikan lahan pribadi dan kedekatan dengan konsumen, diikuti aksesibilitas. Hasil overlay dengan RTRW menunjukkan 22 dari 72 titik (Y%) berada pada zona perdagangan dan jasa yang sesuai peruntukan, 32 titik (Y%) berada pada zona permukiman yang secara fungsional masih dapat diterima, dan sisanya (Y%) terindikasi berada pada zona yang tidak sesuai peruntukan RTRW. Abstract:  Padel has experienced rapid growth in Bandung City since 2024, driven by the increasing popularity of urban recreational lifestyles among the upper-middle-class population. This study aims to identify the spatial distribution of padel court rental facilities, analyze their spatial distribution patterns, investigate the factors influencing business location selection, and evaluate their conformity with the Bandung City Spatial Plan (RTRW). Spatial data were obtained through Google Maps scraping and verified through ground checking, while the RTRW data were acquired from the Bandung City Regional Development Planning Agency (BAPPEDA). Semi-structured interviews were conducted with seven padel court operators between April 3 and April 10, 2026. The spatial distribution pattern was analyzed using the Average Nearest Neighbor (ANN) method, whereas location suitability was assessed through GIS-based overlay analysis. The results identified 72 padel court rental locations, predominantly concentrated in the northern, western, and central parts of Bandung City, particularly in Sukajadi, Cicendo, and Bojongloa Kaler Districts. The ANN analysis produced a Nearest Neighbor Ratio of 0.927 (z-score = –1.187; p-value = 0.235), indicating a random spatial distribution pattern with a weak tendency toward clustering that is not statistically significant. The primary factors influencing business location selection were the combination of private land ownership and proximity to customers, followed by accessibility. The GIS overlay analysis with the Bandung City Spatial Plan revealed that 22 of the 72 locations (Y%) were situated within commercial and service zones designated for such activities, 32 locations (Y%) were located within residential zones that remain functionally acceptable, while the remaining locations (Y%) were identified as being situated in zones inconsistent with the designated land use according to the spatial plan.
PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE BERBASIS MASYARAKAT SEBAGAI PENUNJANG EKOWISATA BAHARI DI DESA SEKOTONG LOMBOK BARAT Sukuryadi Sukuryadi
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 14, No 2 (2026): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v14i2.41502

Abstract

Abstrak: Ekosistem mangrove di Desa Sekotong Barat memiliki potensi ekologis, edukatif, dan ekonomi untuk dikembangkan sebagai ekowisata bahari berbasis masyarakat. Namun, pengembangan kawasan masih menghadapi persoalan berupa kerusakan fasilitas, sampah yang belum tertangani, akses yang terbatas, dan belum optimalnya koordinasi antaraktor. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi, permasalahan, dan strategi pengelolaan ekowisata mangrove berbasis masyarakat di Desa Sekotong Barat, Kabupaten Lombok Barat. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik observasi lapangan, wawancara, dan studi dokumen. Data dianalisis melalui reduksi, pengelompokan tema, penyajian, dan penarikan kesimpulan, serta diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan memiliki daya tarik berupa lanskap mangrove, aktivitas edukasi penanaman, jalur penelusuran, jasa perahu, dan keterhubungan dengan destinasi wisata bahari di kawasan Sekotong. Meskipun demikian, potensi tersebut belum didukung oleh pemeliharaan sarana, pengelolaan sampah, kelembagaan, pendanaan, promosi, dan pengendalian daya dukung yang memadai. Strategi pengembangan diarahkan pada zonasi kawasan, penguatan kelembagaan pengelola, pelibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan dan distribusi manfaat, perbaikan fasilitas ramah lingkungan, diversifikasi usaha lokal, serta pemantauan ekologis secara berkala. Pengelolaan berbasis masyarakat diharapkan dapat menyeimbangkan kepentingan konservasi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.  Abstract:  The mangrove ecosystem in West Sekotong Village has ecological, educational, and economic potential to be developed as community-based marine ecotourism. Nevertheless, its development is constrained by damaged facilities, inadequate waste management, limited access, and weak coordination among stakeholders. This study aims to analyze the potential, problems, and management strategies of community-based mangrove ecotourism in West Sekotong Village, West Lombok Regency. A descriptive qualitative approach was employed through field observations, interviews, and document analysis. Data were analyzed by reducing and categorizing information, presenting thematic findings, drawing conclusions, and applying source and technique triangulation. The results indicate that the area offers mangrove landscapes, planting education, a tracking route, boat services, and connections to nearby marine tourism destinations. However, these assets have not been supported by adequate facility maintenance, waste management, institutional arrangements, financing, promotion, and carrying-capacity control. Development strategies should prioritize zoning, institutional strengthening, meaningful community participation and benefit-sharing, environmentally friendly facilities, diversification of local enterprises, and periodic ecological monitoring. Community-based management is expected to balance conservation objectives with the welfare of coastal communities.