cover
Contact Name
Farikha Maharani
Contact Email
farikhamaharani@unwahas.ac.id
Phone
+6281325449347
Journal Mail Official
inovasitekim@unwahas.ac.id
Editorial Address
JL. Menoreh Tengah X / 22, Sampangan, Gajahmungkur, Sampangan, Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah 50232
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Inovasi Teknik Kimia
ISSN : 2527614X     EISSN : 25415891     DOI : http://dx.doi.org/10.31942/inteka
Core Subject : Engineering,
The Inovasi Teknik Kimia (INTEKA) journal focuses upon aspects of chemical engineering: chemical reaction engineering, environmental chemical engineering, material and food engineering . The INTEKA is an research journal and invites contributions of original and novel fundamental research. The journal aims to provide a forum for the presentation of original fundamental research, interpretative reviews and discussion of new developments in chemical engineering. Papers which describe novel theory and its application to practice are welcome, as are those which illustrate the transfer of techniques from other disciplines. Reports of carefully executed experimental work, which is soundly interpreted are also welcome. The overall focus is on original and rigorous research results which have generic significance.
Articles 270 Documents
Pengaruh Penambahan Na2CO3 terhadap Peningkatan Kadar Garam Rakyat menjadi Garam Industri dengan Metode Hidroekstraksi Batch Putri Septiara Aji Sasmita; Meyse Linda Susanti; Srie Redjeki
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 3 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i3.9731

Abstract

Pemenuhan kebutuhan garam industri di Indonesia masih ditunjang dengan impor dari negara lain. Hal tersebut dikarenakan garam lokal di Indonesia belum memenuhi standart yang dibutuhkan industri. Menurut SNI garam industri harus memiliki kadar NaCl minimal 97%. Sedangkan garam rakyat yang dihasilkan oleh penduduk lokal memiliki kadar NaCl sebesar 90,10% dengan impurities Ca2+ sebesar 0,22% . Dalam penelitian ini pemurnian garam rakyat untuk dijadikan garam industri dilakukan dengan cara penambahan Na2CO3 dengan variable konsentrasi berlebih sebesar 0%, 5%, 10%, 15% dan 20%.  Penambahan Na2CO3 ini bertujuan untuk mengikat impurities Ca2+ yang terkandung dalam garam rakyat. Sebelum dilakukan penambahan Na2CO3, garam rakyat melalui proses pencucian terlebih dahulu secara hidroekstraksi batch dengan variabel waktu ekstraksi 20, 25, 30, 35 dan 40 menit menggunakan larutan brine. Pencucian garam rakyat secara hidroekstraksi batch ini bertujuan untuk menghilangkan pengotor yang terkandung pada permukaan kristal garam rakyat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengubah garam rakyat menjadi garam industri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar garam tertinggi diperoleh sebesar 99,08 dengan kadar impurities Ca2+ sebesar 0,0001%.
ISOLASI SELULOSA PADA TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT SEBAGAI MATERIAL PENGISI BIODEGRADABLE STYROFOAM Aprilia Nanda Utami; Indah Purnamasari; Jaksen M. Amin
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i2.9277

Abstract

Kadar selulosa yang banyak dan lignin yang sedikit menjadikan tandan kosong kelapa sawit layak dan efisien untuk digunakan sebagai bahan baku pengolahan produk yang berbasiskan selulosa. Penelitian yang telah dilakukan bertujuan untuk menentukan pengaruh konsentrasi hidrogen peroksida dan suhu bleaching terhadap karakteristik selulosa yang dihasilkan dan pengaruh penambahan material pengisi berupa selulosa terhadap karakteristik biodegradable styrofoam. Proses isolasi selulosa dari tandan kosong kelapa sawit dilakukan dengan menggunakan metode hidrolisis alkali menggunakan natrium hidroksida dan dilanjutkan dengan proses bleaching menggunakan hidrogen peroksida dengan variasi konsentrasi hidrogen peroksida sebanyak 5 variasi, yaitu 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50% serta suhu bleaching sebanyak 3 variasi, yaitu 60oC, 80oC, dan 100oC. Melalui proses isolasi selulosa dari tandan kosong kelapa sawit yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa konsentrasi hidrogen peroksida dan suhu bleaching berbanding lurus terhadap kadar selulosa dan berbanding terbalik terhadap kadar hemiselulosa dan lignin yang dihasilkan. Di mana selulosa terbaik diperoleh pada konsentrasi hidrogen peroksida 30% dan suhu bleaching 100oC karena mengandung kadar hemiselulosa terendah, yaitu 17,61%, kadar selulosa tertinggi, yaitu 62,05%, dan kadar lignin terendah, yaitu 10,02%. Selulosa yang digunakan sebagai material pengisi dapat menghasilkan biodegradable styrofoam dengan karakteristik berupa ketahanan air sebesar 11,25%, kemampuan degradasi sebesar 35,68%, dan densitas sebesar 1,11 gr/cm3
KINETIC ANALYSIS OF PHOSPHATE ADSORPTION ON ZEOLITE AND ACTIVATED CARBON IN GREYWATER Devy Cendekia; Dian Ayu Afifah; Yeni Variyana; Evita Karlina
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i1.8896

Abstract

Phosphate is one of the pollutants that exist in greywater. Phosphate pollutant comes from surfactants used in detergent products which are commonly used in household activities. Water phosphate will increase when detergent waste is not managed properly. The presence of phosphate in waters can result in eutrophication which disrupts aquatic life. Some natural adsorbents such as zeolite and activated carbon can adsorb phosphate in greywater. The effectiveness of an adsorbent in removing phosphate in greywater can be analyzed based on the adsorption capacity and adsorption rate. In this research, it is known that zeolite is more effective as an adsorbent in removing phosphate content in greywater. Zeolite and activated carbon follow the Freundilch adsorption mechanism in the adsorption of phosphate in water. Zeolite can adsorb 41.154% with a contact time of 40 minutes, with a Freundilch constant (Kf ) = 8.10 L g-1 and an adsorption rate of K = 0.0038 m-1. For activated carbon it can adsorb 23.330 % with a contact time of 40 minutes, with a Freundilch constant (Kf ) = 1.99 L g-1 and an adsorption rate of K = 0.0013 m-1. Based on these data, activated carbon has a faster phosphate adsorption rate than zeolite, but has a smaller adsorption capacity value than zeolite. So that the zeolite can absorb more phosphate in greywater, with an adsorption rate of 0.0038 per minute.
Karakterisasi Kertas Bungkus Berlapis Bioplastik Berbasis Bahan Alam yang Aman dan Ramah Lingkungan Endah Tri Utami Handhayani; Sri Sutanti; Lucia Hermawati Rahayu; Antonio Asmaranda Putra Kusuma; Jonathan Agung Wicaksono; Elsa Selin Orxellina
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 3 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i3.11467

Abstract

Bahan baku pembuatan kertas yaitu selulosa. Pada penelitian ini digunakan ampas tebu karena mengandung selulosa 37%. Pembuatan kertas bungkus berlapis bioplastik menggunakan metode soda dengan bahan-bahan aditif pati aren, tepung porang, gliserol, NaOH, dan PVA. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari pengaruh penambahan gliserol (1%, 2%, 3%, 4%, dan 5%) terhadap karakteristik kertas, meliputi gramatur, ketebalan, ketahanan air, morfologi, dan tensile strength. Pembuatan kertas diawali pembuatan pulp dari serbuk ampas tebu ditambah larutan NaOH 3% (rasio 1:3) dan dipanaskan dalam autoklaf pada suhu 120°C selama 60 menit. Pulp dikeringkan dalam oven pada suhu 60°C selama 3 jam. Kemudian pati aren 5% dan tepung porang 1% ditambah aquadest dan dipanaskan pada suhu 70°C, diaduk selama 10 menit hingga membentuk gel, kemudian ditambah PVA dan aquadest, diaduk selama 5 menit. Adonan kemudian ditambah pulp ampas tebu 5% dan gliserol (1%, 2%, 3%, 4%, dan 5%), dipanaskan dan diaduk selama 10 menit. Selanjutnya degassing 10 menit. Adonan kertas dicetak dalam nampan plastik dan dikeringkan dalam oven pada suhu 60°C sampai kering. Kertas diuji gramatur, ketebalan, ketahanan air, morfologi, dan tensile strength. Hasil penelitian menunjukkan penambahan gliserol berdampak pada penurunan kualitas kertas terutama ketahanan air dan tensile strength, sehingga harus dibatasi 1 % - 2%.  
SINTESA DAN PEMANFATAAN HIDROGEL: REVIEW Nita Indriyani; Ratnawati Ratnawati; Dyah Hesti Wardhani
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 8, No 4 (2023)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v8i4.9073

Abstract

Hidrogel adalah jaringan viskoelastik ikatan silang hidrofilik tiga dimensi dari rantai polimer. Tautan silang membuat hidrogel memiliki struktur fisik dan elastisitas dalam jaringannya, sehingga memungkinkan untuk meregang atau menyusut. Dalam artikel review ini akan mengulas sintesa hidrogel dan penggunaan hidrogel pada beberapa bidang. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah studi literatur atau kajian pustaka. Pustaka yang digunakan dari berbagai sumber, seperti jurnal, prosiding, buku, paten, dan website resmi. Teknik analisis berupa deskriptif argumentatif. Metode pembuatan hidrogel dapat dibagi dalam dua kelompok besar: ikatan silang kimia dan ikatan silang fisik. Pemanfaatan hidrogel dapat digunakan pada berbagai bidang seperti, pengolahan air limbah, rekayasa jaringan, serta sistem pengiriman obat,  Hidrogel adalah bahan yang cocok digunakan untuk pengolahan pembuangan air limbah, karena batas adsorpsi tidak berkurang setelah beberapa kali pemulihan dan penggunaan kembali. Selain itu, kelebihan hidrogel dalam meniru ikatan yang tepat pada jaringan hidup, dapat digunakan secara serbaguna sebagai biomaterial dalam rekayasa jaringan. Sifat fisik yang unik dari hidrogel telah memicu minat khusus dalam penggunaannya dalam aplikasi pengiriman obat. Strukturnya yang sangat berpori dapat dengan mudah diatur dengan mengontrol kepadatan ikatan silang dalam matriks gel dan afinitas hidrogel untuk lingkungan berair di mana mereka mengembang.
PEMBUATAN SELULOSA ASETAT DARI KULIT BUAH PINANG (ARECA CATECHU) Revita Arendri Vashti; Ikhwanul Muslim; Nurul Widji Triana
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i2.9114

Abstract

Buah pinang memiliki banyak manfaat, sedangkan kulit buah pinang hanya dibuang sebagai limbah. Salah satu penggunaan selulosa dalam jumlah yang relatif besar yang ditemukan dalam kulit pinang adalah produksi selulosa asetat. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh selulosa asetat dari kulit buah pinang dan mencari kondisi terbaik berdasarkan variasi waktu asetilasi dan volume asam asetat glacial. Dua langkah terlibat dalam konversi selulosa menjadi selulosa asetat yaitu selulosa pertama kali diisolasi, dan kemudian diasetilasi. Produksi selulosa terjadi pada awalnya, diikuti dengan pemurniannya. Selulosa dipecah menjadi asam fosfat pada langkah berikutnya, di mana ia diasetilasi dengan asam asetat glasial, dan hasilnya diperoleh kembali melalui penyaringan dan pengeringan. Penelitian dilakukan menggunakan pengaruh waktu asetilasi 5, 10, 15, 20, dan 25 menit dengan pemberian volume asam asetat glacial 98% sebanyak 20 ml, 40 ml, 60 ml, 80 ml dan 100 ml terhadap kadar asetil dari selulosa asetat. Dari hasil penelitian ini didapat kadar asetil terbesar adalah 28,09% pada waktu asetilasi 15 menit dengan pemberian volume asam asetat glacial 60 ml.
OPTIMASI EKSTRAKSI MINYAK BIJI WIJEN DENGAN PELARUT N-HEKSANA DALAM TANGKI BERPENGADUK Farhan Azka Nashuha; Reza Salsabilla Kafy; Ketut Sumada
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i1.9045

Abstract

Wijen merupakan yang dibudidayakan sebagai sumber minyak nabati. Berdasarkan penelitian terdahulu perlu dilakukan metode lain selain menggunakan metode cold press untuk menigkatkan minyak yang didapat dengan menggunakan tangki berpengaduk. Sehingga diharapkan perolehan rendemen yang didapat lebih banyak dibanding menggunakan metode cold press. Oleh karena itu peneliti mencoba melakukan penelitian dengan judul “Optimasi Ekstraksi Minyak Biji Wijen Dengan Pelarut N-Heksana Dalam Tangki Berpengaduk”. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan optimasi proses ekstraksi dalam tangki berpengaduk dengan menggunakan bilangan CAMP. Metode yang digunakan adalah ekstraksi menggunakan alat tangki berpengaduk. Perbandingan jumlah biji wijen dan pelarut Nheksana pada tiap sampelnya sebanyak 1:5. jumlah biji wijen sebanyak 80 gram dan pelarut N-heksana sebanyak 400 ml. untuk variabel yang dijalankan berupa kecepatan pengadukan (rpm) sebesar 100, 200, 300, 400, 500. Dan waktu pengadukan (menit) sebesar 20, 40, 60, 80, 100. Hasil ekstraksi kemudian difiltrasi untuk memisahkan ampas biji wijen dengan filtratnya. Kemudian filtrat tersebut dilakukan proses distilasi untuk pemisahan pelarut dengan minyak wijen murni untuk dihitung perolehan yield nya dan menghitung optimasi bilangan CAMP. Kemudian menganalisa minyak wijen murni dari perolehan optimasi bilangan CAMP. Bilangan CAMP optimum berkisar antara 10,06 x  hingga 11,67 x  dengan perolehan yield sebesar 49,5%  Kata kunci: Biji Wijen, Bilangan Camp, Ekstraksi
Efektivitas Kebutuhan Anaerobic Granule Bacteria terhadap Pengolahan Limbah Cair Domestik pada Penggunaan IPAL Individual SANFAB ST600 di Desa Bendo, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah Joko Waluyo; Paryanto Paryanto; Muhammad Farhan Abrar; Akif Mahrus Ali; Ibnu Singgih Pranoto; Yulinar Pramesti Cahyani
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 8, No 4 (2023)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v8i4.9056

Abstract

EFEKTIVITAS ADSORPSI LOGAM TIMBAL (Pb) DENGAN KARBON AKTIF DARI KULIT PISANG KEPOK TERAKTIVASI CaCl2 TERHADAP KONSENTRASI LARUTAN Pb(NO3)2 Wahyudi Egar Megantoro Saputro; Salma Putri Sekarningrum; Kindriari Nurma Wahyusi
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 8, No 4 (2023)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v8i4.8726

Abstract

Pemanfaatan limbah kulit pisang di Indonesia terhitung belum maksimal. Kandungan kulit pisang kepok dapat dimanfaatkan dalam pembuatan karbon aktif, dimana kandungan selulosa sebesar 60-65%, hemiselulosa 6-8% dan lignin 5-10%. Karbon aktif adalah adsorben yang diaplikasikan cukup luas di industri untuk menghilangkan kontaminan dan polutan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan massa karbon aktif dan konsentrasi larutan Pb(NO3)2 dengan efektivitas penyerapan pada adsorpsi logam timbal menggunakan karbon aktif dari kulit pisang kepok yang telah diaktivasi larutan CaCl2. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh karakteristik karbon aktif kulit pisang kapok berdasarkan syarat mutu oleh Badan Standarisasi Nasional diantaranya kadar air dan kadar abu. Karbon aktif yang telah dihasilkan memiliki nilai kadar air sebesar 4,2% dan kadar abu sebesar 4%, hasil tersebut telah memenuhi standar SII (0258-88) dimana kadar air maksimal sebesar 4,5% dan kadar abu maksimal 2,5%. Diperoleh hubungan antara konsentrasi dari larutan Pb(NO3)2  dengan kapasitas serap adsorben, dimana tingginya konsentrasi dari larutan Pb(NO3)2 menyebabkan semakin tinggi pula logam Pb yang terserap. Selain itu, diperoleh pula hubungan antara massa karbon aktif dengan efektivitas penyerapan dimana semakin banyak massa karbon aktif maka efektivitas penyerapan akan semakin meningkat. Besarnya efektivitas disebabkan oleh banyaknya karbon aktif yang menyerap logam Pb.
PENGARUH METODE EMULSIFIKASI TERHADAP KARAKTERISASI STABILITAS EMULSI MINYAK SACHA INCHI DENGAN PENAMBAHAN XANTHAN GUM Yuniar Arinda Putri Aji; Hermawan Dwi Ariyanto
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 9, No 3 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v9i3.9863

Abstract

Minyak sacha inchi berpotensi untuk dikembangkan penggunaannya dalam bidang pangan maupun kosmetik karena memiliki kandungan asam lemak tak jenuh tinggi yaitu omega-3 (40-50%) dan omega-6 (30-40%). Pada penggunaannya, asam lemak tak jenuh sangat mudah teroksidasi sehingga akan efektif jika digunakan dalam bentuk emulsi. Fokus penelitian ini adalah mengetahui pengaruh metode emulsifikasi terhadap stabilitas emulsi minyak sacha inchi dengan penambahan xanthan gum. Emulsi minyak sacha inchi diformulasi dengan penambahan emulsifier berupa xanthan gum dengan konsentrasi 0,1%, 0,3%, 0,5% dan tween 80 yang dihomogenisasi menggunakan dua metode emulsifikasi: high pressure homogenizer (HPH) pada tekanan 500 bar 3 siklus dan mechanical homogenizer (Ultra-Turrax T 25) pada kecepatan 8.000 rpm selama 3 menit. Stabilitas emulsi diamati pada suhu konstan 40℃ selama 30 hari. Tipe emulsi, viskositas, dan droplet size diuji untuk mengetahui karakteristik emulsi. Sedangkan, creaming index,  kadar free fatty acid, dan pemisahan fasa diuji untuk mengetahui stabilitas emulsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode emulsifikasi dan penambahan xanthan gum sebagai emulsifier mempengaruhi stabilitas emulsi karena berpengaruh terhadap droplet size emulsi. Droplet size emulsi semakin kecil akan menghasilkan stabilitas emulsi yang tinggi. Emulsi dengan stabilitas tertinggi memiliki droplet size terkecil sebesar 140-158 nm yaitu pada sampel dengan metode emulsifikasi high pressure dan penambahan xanthan gum 0,1%. Sampel ini memiliki rata-rata creaming index 0,012%, kadar free fatty acid 1,62%, dan belum terjadi pemisahan fasa pada hari ke-10 yang membuktikan emulsi pada sampel ini memiliki stabilitas tinggi.     Kata kunci: emulsi, high pressure homogenizer, mechanical homogenizer, minyak sacha inchi, xanthan gum