cover
Contact Name
Dr. Purnama Budi Santosa
Contact Email
-
Phone
+62274520226
Journal Mail Official
jgise.ft@ugm.ac.id
Editorial Address
Jl. Grafika No.2 Kampus UGM, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JGISE-Journal of Geospatial Information Science and Engineering
ISSN : 26231182     EISSN : 26231182     DOI : https://doi.org/10.22146/jgise.51131
Core Subject : Engineering,
JGISE also accepts articles in any geospatial-related subjects using any research methodology that meet the standards established for publication in the journal. The primary, but not exclusive, audiences are academicians, graduate students, practitioners, and others interested in geospatial research.
Articles 136 Documents
Pembuatan Sistem Informasi Irigasi dan Kebutuhan Air dengan Standar dan Mekanisme Akses Berbasis Infrastruktur Data Geospasial untuk Irigasi Pertanian di Kabupaten Karanganyar Dimas Uga Perceka; Trias Aditya
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 1 (2021): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.61438

Abstract

Manajemen irigasi diperlukan dalam mendukung tatakelola dan penentuan kebutuhan air, khususnya pada lahan pertanian. Manajemen irigasi tersebut dapat dioptimalkan dengan melakukan inventarisasi data irigasi di dalam sebuah web map. Inventarisasi data tersebut bertujuan agar skenario tukar guna data spasial khususnya terkait manajemen irigasi dapat berjalan optimal. Skenario tukar guna data dapat optimal apabila diseminasi informasi yang ada dapat saling terintegrasi. Permasalahan utama yaitu diseminasi informasi ataupun data terkait kebutuhan air untuk lahan pertanian ada pada sumber yang terpisah sehingga sulit untuk menganalisis hasil integrasi dari data tersebut. Permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan menyelaraskan data (curah hujan efektif, evapotranspirasi, porositas, total kehilangan air, efisiensi irigasi, petak irigasi, saluran irigasi dan petak irigasi) sehingga data dapat diintegrasikan dan dapat dimanfaatkan oleh pengguna. Pada tulisan ini dilakukan 5 tahapan kegiatan yaitu perencanaan dan pengumpulan data, analisis, desain sistem, implementasi dan evaluasi. Hasil yang didapat yaitu berupa web map yang digunakan untuk memfasilitasi ketersediaan dan akses data spasial yang di dalamnya terdapat data irigasi dan klimatologi. Dalam web map yang dibangun terdapat fasilitas-fasilitas diantaranya pembacaan data, penambahan data, pembaruan data, penghapusan data dan pengunduhan data. Web map yang dinamakan Sistem Informasi Irigasi dan Kebutuhan Air (SIRISKA) ini merupakan sebuah web map dinamis yang menggunakan fungsi Create Read Update and Delete (CRUD) ke basis data. Web map dibangun berdasarkan integrasi antara komponen back-end yang terdiri atas PostgreSQL (basisdata), PHP (server-side scripting), Apache (web server) dan komponen front end yang terdiri atas JavaScript, HTML dan CSS. Web map SIRISKA dievaluasi dengan beberapa parameter diantaranya efektifitas, kebergunaan, konsistensi, kejelasan arsitektural dan visual, dan kemampuan data sharing. Berdasarkan evaluasi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem informasi yang dibuat dapat memudahkan pengguna untuk melakukan tukar guna data dan mendapatkan informasi kebutuhan air irigasi untuk setiap petak irigasi.
Analisis Tingkat Ketersediaan dan Cakupan dari Continuously Operating Reference Station (CORS) di Pulau Jawa Novie Chiuman; Dedi Atunggal; Nurrohmat Widjajanti
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 1 (2021): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.63277

Abstract

Ketersediaan layanan dan cakupan Continuously Operating Reference Station (CORS) sangat penting untuk kegiatan yang membutuhkan ketelitian level sentimeter atau lebih baik. Penelitian ini menganalisis ketersediaan layanan CORS Indonesia berdasar data web scraping server InaCORS pada Desember 2018. Cakupan CORS diestimasi dengan asumsi performansi Real Time Kinematic (RTK) single base hingga radius 30 kilometer dan untuk RTK network base hingga 50 kilometer dari masing-masing stasiun yang kemudian dipadukan dengan data cakupan jaringan komunikasi selular Telkomsel, Indosat dan 3 dari opensignal.com. Hasil web scraping menunjukkan terdapat 51 stasiun CORS dengan ketersediaan layanan di atas 80%, empat dengan ketersediaan layanan di bawah 80%, dua dengan ketersediaan layanan di bawah 50%, dan 14 yang tidak memiliki ketersediaan layanan. Cakupan CORS untuk metode RTK single base dan network base masing-masing adalah 72,942% dan 98,299%. Luas cakupan CORS terbesar diperoleh provider Telkomsel baik untuk metode RTK single base maupun network base yaitu masing-masing sebesar 34,622% dan 45,180%. Cakupan riil dari estimasi tersebut mungkin lebih besar karena hasil uji lapangan membuktikan bahwa tingkat ketepatan data dari OpenSignal hanya sebesar 69,444% dan masih banyak area tanpa data sinyal. Hasil analisis tingkat duplikasi cakupan CORS menunjukkan bahwa luas duplikasi cakupan CORS untuk metode RTK single base dan network base masing-masing sebesar 37,076% dan 82,382% dari luas total cakupan CORS. Hasil dari penelitian juga menunjukkan setidaknya ada 20 stasiun CORS yang perlu ditingkatkan ketersediaan datanya.
Kajian Perbandingan Luas Hasil Pengukuran Bidang Tanah Menggunakan GPS RTK-Radio dan RTK-NTRIP Rizki Irianto; Farouki Dinda Rassarandi
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 1 (2021): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.63947

Abstract

Dengan berkembangnya teknologi dalam survei pemetaan seperti halnya penggunaan GPS Geodetik, maka penerapan dari teknologi untuk kebutuhan survei perlu memperhatikan faktor-faktor tertentu seperti ketersediaan alat, sumber daya manusia hingga kondisi lapangan. GPS atau biasa dikenal dengan Global Positioning System merupakan teknologi/alat atau sistem yang memberikan informasi berupa posisi kepada pengguna secara global dan real-time di permukaan bumi yang berbasis data satelit. Dengan teknologi tersebut diperoleh ketelitian yang tinggi dengan waktu yang singkat dalam penentuan sebuah posisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketelitian hasil pengukuran luas bidang tanah menggunakan teknologi GPS RTK-Radio dan GPS RTK NTRIP sebagai sikap pengambilan keputusan. Penelitian dilakukan terhadap daerah dengan obstruksi dan tanpa obstruksi fisik. Nantinya, dari penelitian ini diperoleh nilai-nilai koordinat (X,Y) dari GPS RTK-NTRIP maupun RTK-Radio, yang kemudian dihitung luasnya dan dibandingkan dari hasil pengukuran menggunakan ETS (Electronic Total Station) terhadap standar ketelitian luas dari BPN. Hasil perhitungan selisih luas lahan baik dengan obstruksi secara fisik maupun tidak, masih masuk dalam toleransi ketelitian BPN, walaupun untuk lahan yang terdapat obstruksi fisik memiliki selisih antara pengukuran menggunakan GPS dan ETS yang cukup besar yaitu hampir mencapai 5 m2.
Monitoring Land Encroachment and Land Use & Land Cover (LULC) Change in The Pachhua Dun, Dehradun District Using Landsat Images 1989 and 2020 Rahul Thapa; Vijay Bahuguna
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 1 (2021): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.64857

Abstract

Remote sensing and G.I.S help acquire information on changing land use and land cover (LULC), and it plays a pivotal role in measuring and monitoring such local and global changes. The present analysis has been executed on Landsat 5 TM, 1989 and Landsat 8 OLI/TIRS, 2020 images of Pachhua Dun, including Dehradun & Mussoorie urban agglomeration. The present study aims to detect the land encroachment or area of change; rate of change and monitoring spatio-temporal variation in LULC change between 1989-2020 using change detection technique, supervised maximum likelihood classification, and Overall accuracy & Kappa Coefficient (K) was applied as an accuracy assessment tool. The results derived from the change detection analysis exhibits that the highest growth rate was recorded in built-up areas +247.75% (110 km2) and revealed the annual rate of change of 3.55 km2. or  7.99%, the highest among all LULC class during the overall study period of 31 years. The result also found that among all LULC class, the most significant LULC conversion took place from agricultural land to built-up areas followed by open/scrubland and vegetation/forest cover; approximately 69.9km2 of the area under agricultural land was found to be converted into built-up areas. At the same time, 38.9 km2 area of vegetation/forest cover and 36.3 km2 of the area of open/scrubland have converted into agricultural land. Rising anthropogenic influence and unsustainable land-use practices in the study area have led to a large-scale human encroachment and rapid transformation of the natural landscape into the cultural landscape. This analysis provides the essential long-term Geospatial information related to LULC change for making optimum decision-making process and sustainable land-use planning in the Pachhua Dun-Dehradun District, Uttarakhand, India. 
Evaluasi Penetapan Batas Desa Terhadap Segmen Batas Daerah di Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan Joko Eddy Sukoco; Heri Sutanta
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 1 (2021): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.65171

Abstract

Batas wilayah merupakan informasi geospasial dasar yang penting dan berguna dalam pembangunan suatu wilayah. Kabupaten Tabalong telah melaksanakan kegiatan penetapan dan penegasan batas desa dengan mengesahkan batas desa definitif sebanyak 117 dari 131 desa/kelurahan. Terdapat 51 desa yang berbatasan dengan daerah (kabupaten/provinsi) lain. Berdasarkan hierarki peraturan perundang-undangan, segmen batas desa yang berbatasan dengan daerah lain harus sesuai dengan segmen batas daerah yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penetapan batas desa definitif yang berbatasan dengan daerah lain pada tahun 2012-2020. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis geospasial. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan studi dokumen data sekunder dari instansi terkait.  Metode analisis geospasial menggunakan sistem Informasi Geografis (SIG) yaitu teknik tumpang susun terhadap data-data geospasial format digital. Teknik analisis terebut digunakan untuk menganalisis perbedaan posisi segmen batas, pergeseran segmen batas dan perbedaan luas wilayah. Hasil penelitian menunjukan terdapat 14 dari 51 desa yang mengalami perbedaan posisi segmen batas wilayah dengan pergeseran segmen maksimal batas berada pada rentang 35 – 4.300 m. Perbedaan posisi segmen batas juga mempengaruhi luas wilayah Kabupaten Tabalong, dimana terdapat perbedaan luas berdasarkan Perbup dan Permendagri sebesar 1.415,63 hektar. Penetapan lebih awal batas desa yang berbatasan dengan daerah lain dibanding penetapan batas daerah serta perbedaan sumber data  segmen batas yang digunakan berpotensi menghasilkan perbedaan posisi segmen batas dan luas wilayah. Berdasarkan hasil ini, evaluasi terhadap penetapan batas desa definitif yang berbatasan dengan daerah lain perlu dilakukan, untuk memastikan kualitas informasi batas wilayah yang handal dan dapat dipertanggungjawabkan.
Perbandingan Posisi Tiga Dimensi Pengukuran GNSS Menggunakan Metode Diferensial Statik dengan Berbagai Variasi Epoch Rate Syafril Ramadhon
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 1 (2021): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.66327

Abstract

Salah satu faktor yang mempengaruhi ketelitian posisi yang dihasilkan pada pengukuran Global Navigation Satellite Syatems (GNSS) dengan metode diferensial statik yaitu epoch rate. Penelitian difokuskan dalam menganalisis seberapa besar pengaruh variasi epoch rate pada data koordinat tiga dimensi yang dihasilkan pada pengukuran GNSS dengan metode diferensial statik. Metode yang digunakan yaitu membandingkan data koordinat tiga dimensi lima titik pengamatan dari pengukuran GNSS dengan metode diferensial statik dalam moda radial dengan variasi epoch rate sebesar 1”, 5” 10”, dan 15” yang ditetapkan sama pada receiver GNSS yang ditempatkan di base dan rover. Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil koordinat tiga dimensi pada setiap variasi epoch rate di setiap titik pengamatan di sumbu easting, northing, data tinggi, dan jarak datar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata sebesar 0,005 m pada sumbu easting, northing dan data tinggi pada setiap variasi epoch rate. Adapun pada perbedaan jarak, terdapat perbedaan rata-rata sebesar 0,008 m pada setiap variasi epoch rate. Adapun berdasarkan hasil uji signifikansi, tidak ada perbedaan yang signifikan pada variasi epoch rate di sumbu easting, northing, dan data tinggi.
Hasil Studi Pola Kebakaran Lahan Gambut melalui Citra Satelit Sentinel-2 dengan Pengimplementasian Machine Learning Metode Random Forest : Kajian Literatur Annisa Rizky Kusuma; Fauzan Maulana Shodiq; Muhammad Faris Hazim; Dany Puguh Laksono
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.60828

Abstract

Kebakaran lahan gambut merupakan peristiwa yang sulit diprediksi perilakunya. Karakteristik tanah gambut yang kompleks dan faktor-faktor alam lain seperti arah angin, status vegetasi, dan kandungan air membuat kasus ini menjadi salah satu kasus menarik yang masih menjadi objek penelitian yang belum tuntas hingga saat ini. Ketika memasuki musim kemarau kondisi kadar air di dalam tanah gambut akan semakin berkurang, maka potensi terjadinya kebakaran akan semakin tinggi. Pada studi ini dilakukan analisis faktor penyebab kebakaran dengan area cakupan yang luas melalui satelit Sentinel-2. Citra satelit yang diperoleh nantinya akan diolah oleh machine learning untuk memprediksi penyebaran api. Hasil literatur yang telah dilakukan diperoleh bahwa Ground Water Level (GWL), kematangan gambut, suhu, curah hujan dan kelembaban, serta kerapatan vegetasi dapat diidentifikasi melalui perhitungan indeks. Indeks yang digunakan diantaranya indeks Differenced Normalized Difference Vegetation Index (dNDVI) dan Normalized Difference Water Index (NDWI) yang diolah dengan algoritma machine learning metode Random Forest memilki akurasi mencapai 96%.
Klasifikasi Jenis dan Sebaran Sedimen Menggunakan Data Multibeam Echosounder Multi-Temporal di Alur Pelayaran Barat dan Timur Surabaya Fadilla Ivana Ayuningtyas; Bambang Kun Cahyono
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.62741

Abstract

Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya merupakan salah satu pelabuhan utama di Indonesia yang memiliki peran penting dalam transportasi laut Indonesia. Survei batimetri rutin diperlukan untuk mengidentifikasi kedalaman alur akses pelabuhan dan kondisi sedimentasi yang terjadi. Kondisi sedimen dapat dikarakterisasi berdasarkan sifat alaminya: ukuran butir, berat jenis, kecepatan jatuh, komposisi, porositas, bentuk, dll. Kondisi sedimen juga dapat dikarakterisasi berdasarkan nilai hamburan balik sonar, menggunakan instrumen Multibeam Echosounder (MBES) . Data mentah nilai hamburan balik kemudian dikoreksi dengan mengadopsi persamaan regangan kontras linier ke kisaran tertentu. Data masukan penelitian ini diukur menggunakan ODOM MB2 dengan instrumen Applanix oleh The Surabaya Navigational District (DISNAV) pada bulan Februari 2019 (Lokasi 2) dan Oktober 2018 (Lokasi 1) untuk alur akses barat Surabaya (APBS) dan Agustus 2017 ( Lokasi 3) untuk jalur akses timur Surabaya (APTS). Uji kualitas data batimetri dilakukan dengan mengikuti IHO S-44 2008 untuk spesifikasi pesanan khusus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data batimetri memiliki akurasi yang baik pada lokasi 1, 2, dan 3 dengan nilai 0,0862; 0,1317; dan 0,1072. Hubungan antara tipe sedimen dan hamburan balik menunjukkan bahwa tipe sedimen pasir memberikan hamburan balik yang kuat. Semakin kecil nilai hamburan balik maka jenis sedimennya semakin lunak. Klasifikasi di APBS dan APTS menunjukkan bahwa di APBS terdiri dari empat jenis sedimen (lempung, lanau lempung, lanau berpasir, dan pasir) sedangkan di APTS hanya terdapat tiga jenis sedimen (lanau lempung, lanau berpasir, dan pasir).
Pemodelan 3D Lapisan Dasar Laut Dan Identifikasi Ketebalan Sedimen Berdasarkan Kombinasi Data Pengukuran Sub-Bottom Profiler Dan Single Beam Echosounder (Studi Kasus: Alur Akses Timur Surabaya) Windy Hapsari; Bambang Kun Cahyono
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.63756

Abstract

Pelabuhan merupakan salah satu fasilitas umum yang memiliki peran penting dalam keselamatan navigasi pelayaran. Shipping yang aman harus didukung dengan pemantauan dan pemeliharaan secara berkala untuk mendapatkan informasi terkini tentang kedalaman, dasar laut, dan sedimentasi. Jika sedimentasi terakumulasi secara terus menerus dalam waktu singkat di alur akses (jalur pelayaran), maka dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan kapal. Kajian ini mencoba memetakan dan menganalisis kondisi batimetri dan sedimentasi untuk mendukung pemantauan dan pemeliharaan rutin alur akses Timur Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei akustik berdasarkan data pengukuran Sub-Bottom Profiler (SBP) dan Single Beam Echosounder (SBES). Data yang diperoleh kemudian dikoreksi oleh Sound Velocity Profiler (SVP), data pasang surut, dan draft transduser. Kualitas data kemudian diuji berdasarkan IHO SP-44 2008 dan uji t-studentized dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil dari penelitian ini adalah model 3 dimensi, profil kedalaman, ketebalan, dan volume lapisan sedimen dasar laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alur akses Timur Surabaya memiliki empat lapisan dasar laut yaitu permukaan dan tiga lapisan sedimen di bawahnya. Kedalaman lapisan bervariasi antara 3 m sampai 16,8 m. Kualitas data kedalaman lapisan atas dikontrol oleh IHO S-44 2008 dengan nilai uji hitung 0,509 (nilai toleransi ± 0,509), sedangkan kualitas data SBP (diukur menggunakan t-studentized uji) mendapatkan nilai hitung sebesar -1,287 dengan toleransi ± 1,96. Artinya kualitas datanya bagus. Berdasarkan model 3d, rata-rata ketebalan lapisan secara berurutan adalah 5,84 m, 1,072 m, 0,758 m, dan 6.355 m, sedangkan total volume sedimen adalah 24.894.422,949 m3.
Pemetaan Transaksi Jual Beli Tanah Tahun 2015, 2017, dan 2019 di Kabupaten Sleman Rossa Purnama Dewi; Djurdjani Djurdjani
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.65848

Abstract

Kabupaten Sleman merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi DIY memiliki luas  574,82    km2, jumlah penduduk 1,075 juta jiwa (hasil registrasi) dan pertambahan penduduk sekitar 1,12% per tahun berdasar Kabupaten Sleman dalam angka tahnun 2020. Bertambahnya jumlah penduduk akan meningkatkan kebutuhan tanah sebagai ruang untuk usaha maupun papan yang selanjutnya berpengaruh terhadap tingkat transaksi jual beli tanah. Peta transaksi jual beli tanah yang berisi distribusi dan frekuensi transaksi jual beli serta harga pasar tanah akan dibutuhkan baik oleh pemerintah mapun investor dalam menentukan kebijakan dalam rangka memenuhi kebutuhan ruang bagi penduduk Sleman dan menganalisis arah pertumbuhan wilayah. Tulisan ini akan menyajikan dan mengevaluasi transaksi jual beli tanah di daerah Sleman untuk tahun 2015, 2017 dan 2019. Data transaksi diperoleh dari laporan PPAT tiap bulan kepada Kantor BPN Kabupaten Sleman. Analisis dilakukan dengan metode analisis deskriptif berdasar kecenderungan perubahan nilai, distribusi transaksi dan kesesuaian terhadap RTRW. Hasil yang diperoleh adalah bahwa dari tahun ke tahun jumlah transaksi jual beli tanah cenderung naik. Dari aspek luas tanah, transaksi terbesar terjadi pada tanah yang memiliki luas <200m dengan lokasi yang mendekati wilayah Kota Yogyakarta. Sebagian lokasi tanah yang dijual belikan sebgaian besar sesuai dengan RTRW Kabupaten Sleman tahun 2011-2031.

Page 7 of 14 | Total Record : 136