cover
Contact Name
Dr. Purnama Budi Santosa
Contact Email
-
Phone
+62274520226
Journal Mail Official
jgise.ft@ugm.ac.id
Editorial Address
Jl. Grafika No.2 Kampus UGM, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JGISE-Journal of Geospatial Information Science and Engineering
ISSN : 26231182     EISSN : 26231182     DOI : https://doi.org/10.22146/jgise.51131
Core Subject : Engineering,
JGISE also accepts articles in any geospatial-related subjects using any research methodology that meet the standards established for publication in the journal. The primary, but not exclusive, audiences are academicians, graduate students, practitioners, and others interested in geospatial research.
Articles 136 Documents
Pemanfaatan Persistent Scatterer Interferometry Synthetic Aperture Radar (PSInSAR) Untuk Mengidentifikasi Laju Deformasi Permukaan di Lapangan Panas Bumi Ulubelu I Gede Boy Darmawan; Karyanto Karyanto
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.66896

Abstract

Lapangan panas bumi Ulubelu telah diekstraksi sejak tahun 2012 dengan menghasilkan 2 x 55 MW dari PLTP unit 1 & 2 dan meningkat menjadi 4 x 55 MW sejak tahun 2016 dengan beroperasinya unit 3 dan unit 4. Peningkatan eksploitasi energi panas bumi di Ulubelu berpotensi menimbulkan perubahan kondisi geologi dan lingkungan yang salah satunya adalah subsiden. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi laju deformasi permukaan memanfaatkan metode Persistent Scatterer Interferometry Synthetic Aperture Radar (PSInSAR) di lapangan panas bumi Ulubelu. Sebanyak 49 data Sentinel-1 periode Oktober 2014 hingga Maret 2020 dengan mode descending telah diolah dan dianalisis menggunakan tiga software utama yaitu SNAP, StaMPS dan StaMPS-Visualizer. Pembentukan interferogram pada setiap pasangan data (image pair) antara master dengan seluruh slave dilakukan menggunakan SNAP. Seluruh data interferogram kemudian diexport sebagai input data StaMPS untuk mendapatkan nilai piksel yang memiliki koherensi terbaik dan persistent. Hasil pengolahan menunjukkan laju deformasi per titik persistent scatterer (PS) berkisar antara -7,3 hingga +7,5 mm/tahun relatif pada arah Line of Sight (LOS) tanpa validasi lapangan. Pola deformasi berupa penurunan muka tanah berada di sekitar area eksploitasi panas bumi, sedangkan kenaikan muka tanah (uplift) terdeteksi di luar area eksploitasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa kesamaan laju deformasi pada PLTP unit 1 & 2 dengan PLTP unit 3 & 4 mengindikasikan proses subsiden di area Ulubelu didominasi oleh proses ekstraksi fluida panas bumi. Temuan ini juga memperkuat penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa proses subsiden di area panas bumi Ulubelu disebabkan oleh pemadatan batuan alterasi.
Analisis Pengaruh Datum Vertikal Akibat Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Menjadi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Terhadap Penetapan Batas Wilayah Laut Luhur Moekti Prayogo; Sumaryo Sumaryo
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.67794

Abstract

Di Indonesia, aturan mengenai batas wilayah laut diatur oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan kemudian digantikan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 karena sudah tidak relevan dengan kebijakan dan penyelenggaraan pemerintah. Perbedaan kedua undang-undang tersebut salah satunya mengatur mengenai garis pantai yang digunakan sebagai acuan penarikan garis batas. Pada undang-undang yang lama, acuan penarikan garis batas berdasarkan air surut terendah (Low Water), sedangkan pada aturan perundang-undangan yang baru mengacu pada batas pasang air laut tertinggi (High Water). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh datum vertikal sebagai garis dasar dalam penegasan batas wilayah laut akibat perubahan Undang-Undang. Penelitian ini dibatasi dengan studi literatur pada dokumen diantaranya Undang-Undang dan dokumen terkait. Analisis spasial dilakukan untuk mengetahui pengaruh kelerengan terhadap pergeseran garis dasar di lapangan dan di peta. Dari kajian dan analisis spasial yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pergeseran LW ke HW dengan beberapa pendekatan kemiringan wilayah menunjukkan pergeseran-pergeseran tersebut hampir tidak terlihat atau bisa dikatakan tidak signifikan untuk dasar mengukur limit batas maritim. Penentuan garis dasar LW ke HW akan mempengaruhi luas pengelolaan wilayah laut, garis dasar dan titik dasar. Semakin rendah garis dasar maka semakin sempit wilayah pengelolaan laut. Sebaliknya, semakin tinggi garis dasar maka semakin luas wilayah pengelolaan laut. Letak garis dasar LW dan HW akan berdampak pada lokasi SDA khususnya pada wilayah yang berdampingan dekat dengan wilayah lain. Luas wilayah mempengaruhi besaran DBH pada suatu wilayah yang ditentukan dari garis dasar. 
Optimasi Geometri Jaring GNSS dan RTS untuk Pemantauan Deformasi Kontinu Saluran Induk Kalibawang di Jembatan Talang Bowong, Kabupaten Kulon Progo Ghea Ayunda Siami; Bilal Ma'ruf; Dedi Atunggal
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.67795

Abstract

Kegiatan rehabilitasi dan pemeliharaan di Jembatan Talang Bowong membutuhkan pemantauan gerakan massa tanah secara real-time dan kontinu. Penelitian ini berusaha mendesain jaring kontrol pemantauan gerakan massa tanah secara geometrik dengan data simulasi yang diturunkan dari data orthophoto sebagai langkah awal untuk pembangunan jaring kontrol pemantauan. Data simulasi yang didapatkan berupa koordinat distribusi titik kontrol kemudian diturunkan menjadi vektor baseline. Nilai ketelitian pada penelitian ini didapatkan dari alat yang digunakan pada saat pemantauan berlangsung yaitu GNSS Leica seri GM30 dan RTS Leica seri TS16 1”. Jaring kontrol pemantauan didesain berdasarkan integrasi antara GNSS dan RTS. Pembuatan desain jaring kontrol GNSS dilakukan dengan membentuk jaring dengan baseline yang sederhana hingga kompleks. Sedangkan, pembuatan desain jaring kontrol RTS dilakukan berdasarkan variasi jarak antar titik prisma target. Nilai matriks varian-kovarian pengamatan dari estimasi hitung kuadrat terkecil digunakan untuk pemilihan desain geometri jaring terbaik berdasarkan hasil perhitungan kriteria presisi yang terdiri atas kriteria A-Optimality, D-Optimality, E-Optimality, S-Optimality, dan I-Optimality. Nilai matriks kofaktor residu digunakan untuk pemilihan desain geometri jaring terbaik berdasarkan kriteria kehandalan yang terdiri atas aspek redundansi individu, kehandalan dalam, dan kehandalan luar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain jaring GNSS yang paling optimal yaitu jaring DG04. Hal ini ditunjukkan dari nilai kriteria presisi dan kehandalan luar paling kecil serta nilai kriteria redundansi individu paling besar. Desain jaring RTS yang paling optimal yaitu jaring rts01. Hal ini ditunjukkan dari nilai kriteria presisi, kehandalan dalam, dan kehandalan luar paling kecil serta nilai kriteria redundansi individu paling besar.
Analisis Perbandingan Ketelitian Model 3D Menggunakan Lensa Normal dan Lensa Fisheye Adi Nurcahyo; Djurdjani Djurdjani
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.67869

Abstract

Dalam pemodelan 3D, salah satu metode yang umum digunakan adalah close range photogrammetry (CRP). Pada umumnya, metode CRP menggunakan lensa normal akibat distorsinya yang tidak terlalu besar. Lensa fisheye memiliki sudut pandang yang lebih besar dibandingkan lensa normal sehingga dapat mengurangi jumlah foto namun memiliki distorsi yang besar sehingga dapat mempengaruhi ketelitian model 3D yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengujian ketelitian geometrik antara lensa normal dan lensa fisheye. Penelitian dilakukan di Kawasan Candi Ratu Boko. Data yang digunakan adalah foto objek candi, 10 titik GCP dan 10 titik ICP. Hasil model 3D lensa normal dan lensa fisheye sudah dapat memvisualisasikan objek dengan baik dari tingkat kedetilan dari struktur yang dihasilkan. Uji geometrik dilakukan dengan membandingkan jarak pada kedua model dengan jarak di lapangan serta ukuran ICP pada kedua model dengan ukuran ICP hasil akuisisi mengunakan total station reflectorless. Kedua uji tersebut menggunakan uji -t dengan tingkat kepercayaan 95%. Uji ketelitian jarak dan koordinat ICP menghasilkan t hitung < tabel sehingga dapat disimpulkan bahwa ketelitian model 3D lensa fisheye sama dengan ketelitian model 3D lensa normal. Lensa fisheye dapat menggantikan lensa normal untuk pemodelan 3D dalam kondisi lingkungan yang sempit dan terbatas. Distorsi lensa yang besar pada lensa fisheye tidak mempengaruhi ketelitian objek secara signifikan apabila dilakukan proses kalibrasi kamera.
Identifikasi Genangan Banjir di Wilayah DKI Jakarta Menggunakan Citra Satelit Sentinel-1 Ana Mardhiyana Alawiyah; Harintaka Harintaka
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.68353

Abstract

Provinsi DKI Jakarta merupakan wilayah dengan karakteristik topografi yang berada pada kemiringan lereng relatif landai dan terletak pada dataran rendah. Hal ini menyebabkan wilayah Jakarta menjadi semakin rentan tergenang air dan banjir pada musim hujan. Pada awal tahun 2020, Jakarta mengalami banjir yang diakibatkan oleh hujan lebat yang turun sejak 31 Desember 2019 hingga 1 Januari 2020. Untuk keperluan antisipasi dan mitigasi bencana terkait banjir tersebut diperlukan ketersediaan data tentang luas genangan banjir dan letaknya secara cepat. Salah satu teknologi yang potensial untuk diterapkan adalah menggunakan citra satelit Sentinel-1. Berdasarkan kondisi tersebut, telah dilakukan kajian untuk mendeteksi daerah terdampak genangan banjir dari citra satelit Sentinel-1. Adapun teknik yang digunakan adalah metode change detection dan thresholding. Pada kajian ini digunakan citra Sentinel-1 perekaman tahun 2019 dan 2020, DEMNAS, Global Surface Water dan batas administrasi wilayah DKI Jakarta. Adapun tahapan pelaksanaan kajian mencakup proses change detection dengan ratio image dari dua citra Sentinel-1 GRD sebelum dan saat banjir, perhitungan nilai optimum threshold untuk menentukan banjir dan tidak banjir, masking banjir, dan perhitungan luas genangan. Berdasarkan hasil kajian diperoleh luas total daerah yang terkena banjir sekitar 1.156,84 hektar, sedangkan luas area banjir dari data Pemprov DKI sekitar 12.896,35 hektar. Hasil validasi menggunakan data Pemprov DKI dengan membandingan antara citra Sentinel-1 tahun 2019 dan 2020, diperoleh hasil 61 lokasi atau sekitar 28,96% termasuk ke dalam hasil interpretasi kelas banjir dan terdapat 157 lokasi atau sekitar 71,04% termasuk ke dalam hasil interpretasi kelas tidak banjir.
Study of Fluctuations in Surface Area of Lake Haramaya using NDWI and MNDWI Methods Riyaz Khan N H
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 5, No 1 (2022): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.68630

Abstract

Lakes are of great value to human beings and important for various reasons like regulating the flow of river water, to maintain the eco-system and storage of water during the dry seasons. Lake Haramaya, which is situated at 14 km Northwest of Harer town (UNESCO Site) is one of the famous and beautiful lakes of Ethiopia. It acts as a source of life for human beings and animals. The over exploitation of the lake haramaya for water supply and agricultural purposes has led to its extinction in the last two decades. This study attempts to identify the fluctuations in surface area of Lake Haramaya between 1995 to 2020 by using multi-temporal satellite data. The Landsat 5TM images of 1995, 2000 and 2010, Landsat 7ETM+ image of 2005 and Landsat 8 OLI TIRS images of 2015 and 2020 are analyzed using the Normalized Difference Water Index (NDWI) and Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI) methods. These methods are used to quantify the changes in surface area and compared to each other for identifying the suitable method for detecting water bodies. The present study shows that, between 1995 to 2010 the lake lost up to 2.3238 sq.km and almost dried. But, during 2011 to 2020 the lake surface area increased by 2.6946 sq.km. The study states that the lake surface area is fluctuating and MNDWI method is highly reliable in extracting water bodies.
Klasifikasi Digital Tutupan Lahan Berbasis Objek menggunakan Integrasi Data Lidar dan Citra Satelit di Kawasan Tamalanrea Indah, Kota Makassar Bagus Wijanarko; Djurdjani Djurdjani
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 5, No 1 (2022): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.68994

Abstract

Kebutuhan pemerintah daerah akan informasi geospasial menjadi semakin penting saat RTH semakin sulit ditemui di kawasan urban. Informasi tersebut adalah peta tutupan lahan, yang dapat diperoleh dari proses klasifikasi citra satelit resolusi tinggi, tetapi masih memiliki keterbatasan informasi spektral dimana klasifikasi objek juga melibatkan karakteristik spasial hingga tekstur untuk mendapatkan nilai akurasi yang tinggi (Kushardono, 2017). Karakterisitik tersebut sangat minimal pada data sensor pasif, tetapi banyak ditemukan pada data sensor aktif (radar/LiDAR). Dengan diketahuinya potensi kedua sensor (citra satelit dan LiDAR), beberapa peneliti telah melakukan penelitian serupa, di antaranya Awrangjeb dkk., (2013), Uzar dan Yastikli (2013), dan Gilani dkk., (2015). Pada penelitian ini, terdapat 3 data utama yaitu citra Pleiades, nDSM, dan citra intensitas. nDSM merupakan data turunan dari nilai elevasi LiDAR, sementara citra intensitas dibentuk dari nilai pantulan objek pada panjang gelombang NIR, yang masing-masing telah terkoreksi kemudian diinterpolasi menjadi data raster dan diklasifikasi. Proses klasifikasi dilakukan menggunakan metode OBIA dengan algoritma Assign Class melalui proses segmentasi. Skema klasifikasi yang dihasilkan menghasilkan sebanyak 12 subkelas (dalam 4 kelas utama) dari masing-masing hasil klasifikasi data sensor membentuk dataset komposisi. Proses integrasi ini menghasilkan sebanyak 3 dataset komposisi, yaitu dataset A (citra Pleiades), dataset B (Pleiades-intensitas) dan dataset C (Pleiades-nDSM). Dengan analisis SIG dilakukan uji akurasi dan didapat nilai akurasi dataset A sebesar 44,44% dan dataset B dan C keduanya menghasilkan nilai akurasi sebesar 63,89%. Nilai akurasi tersebut sangat rendah jika mengacu pada SNI LU/LC, dikarenakan jumlah 36 titik sampel tidak proporsional (< 20%) terhadap total jumlah objek yang mencapai ribuan. 
Uji Kualitas Data Pengukuran Batimetri Singlebeam Echosounder Berdasarkan SNI-7647 Tahun 2010 (Studi Kasus Survei Batimetri Menggunakan Hi-Target HD 370 di Laguna Pantai Glagah, Kulon Progo) Sarono Sarono; Abdul Basith
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 5, No 1 (2022): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.69749

Abstract

Survei batimetri merupakan kegiatan penting dalam kajian hidrografi untuk mengetahui kedalaman suatu perairan. Metode pengukuran batimetri menggunakan prinsip hidroakustik yaitu memanfaatkan cepat rambat gelombang suara di dalam air. Instrumen untuk melakukan survei batimetri dikategorikan menjadi singlebeam echosounder dan multibeam echosounder. Seiring dengan perkembangan teknologi, semakin beragam pula jenis dan merk dari instrumen untuk melakukan survei dibidang hidrografi. Beberapa instrumen untuk pengukuran kedalaman perairan dengan prinsip hidroakustik telah banyak beredar di kalangan akademisi hingga profesional. Salah satu instrumen adalah Hi-Target HD 370 yang merupakan alat dengan kategori singlebeam echosounder. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan uji analisis kualitas data dari survei batimetri menggunakan singlebeam echosounder Hi-Target HD 370 dengan standar SNI (Standart Nasional Indonesia) yaitu SNI 7646:2010 tentang Survei hidrografi menggunakan singlebeam echosounder. Pengujian pengambilan data batimetri dilakukan di Laguna Pantai Glagah, Kolonprogo, Yogyakarta. Hasil dari pengukuran  menunjukan kedalaman di lokasi kajian maksimal adalah 2,446 meter. Analisis uji kualitas data batimetri yang dilakukan diperoleh nilai dari standart deviasi instrumen ini adalah 0,008 hingga 0,283 meter dengan komposisi 90 % sampel memenuhi standart pengukuran singlebeam echosounder order khusus. Berdasarkan hasil uji kelayakan yang dilakukan instrumen Hi-Target HD 370 layak untuk digunakan dalam batimetri order khusus.
Model Pengadaan Tanah untuk Pembangunan Perumahan di Kabupaten Sleman Djurdjani Djurdjani; Ranisa Amalia Sholikhah; Prijono Nugroho Djojomartono
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 5, No 1 (2022): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.69996

Abstract

Bertambahnya jumlah penduduk di Kabupaten Sleman mengakibatkan naiknya kebutuhan akan ruang untuk tempat tinggal (rumah). Penyediaan rumah dapat dilakukan oleh pengembang perumahan (developer). Namun, ketersediaan tanah yang terbatas menyebabkan diperlukannya pengendalian pertanahan untuk meminimalisir konflik. Oleh karena itu, agar pengendalian dapat dilakukan perlu diketahui cara pengadaan tanah yang dilakukan oleh pengembang untuk pembangunan perumahan. Penelitian ini mengkaji tiga faktor yang berpengaruh terhadap pengadaan tanah yaitu faktor fisik, institusi, dan ekonomi. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dari kuesioner yang ditujukan untuk pengembang perumahan dan data sekunder berupa data spasial serta peraturan terkait. Data primer diolah menggunakan SPSS (Statitical Package for Social science) 16 sehingga diperoleh tabel distribusi frekuensi pada tiap butir faktor. Data sekunder digunakan untuk perolehan data primer dan diolah untuk disajikan dalam bentuk peta persebaran kawasan perumahan menggunakan ArcMap. Hasil pengolahan selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif dan disintesis secara naratif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengembang mengadakan tanah melalui kegiatan jual beli dari tanah individu dengan hak milik yang sebagian besar tanahnya berstatus sawah. Dalam proses pengadaan tanah untuk perumahan kendala utamanya adalah adanya persyaratan zonasi dan koefisien dasar pembangunan (KDB) dan proses memperoleh izin prinsip yang rumit. Dari ketiga faktor yang berpengaruh terhadap pengadaan tanah, aspek ekonomi menjadi pertimbangan utama dalam memilih lokasi dan melaksanakan pembangunan perumahan.
Comparison of Two Corrector Surface Models of Orthometric Heights from GPS/Levelling Observations and Global Gravity Model Ibrahim Olatunji Raufu; Herbert Tata
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 5, No 1 (2022): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.72531

Abstract

The advent of space-based measurement systems such as the Global Positioning System (GPS) offers a new alternative in orthometric height determination over conventional spirit levelling. The ellipsoidal height (h) obtained from GPS observations can be transformed into orthometric height if the geoid undulation (N) is known from a national gravimetric geoid model. However, the lack of a national geoid model in Nigeria hinders the use of the method. This study compares two corrector surface models of orthometric heights from GPS/levelling observations and the Global Gravity Model. Model A (7-parameter) and Model B (8-parameter) are based on the general 7-parameter similarity datum shift transformation.  A network of twenty-one (21) GPS/levelling benchmarks within the study area were used and their geoidal heights were computed using GeoidEval utility software with reference to Global Gravitational Model (EGM08). Least squares adjustment was used to compute the coefficients of the models. Root mean square error (RMSE) was used to assess the accuracy of the models with model A having RMSE=0.171m and model B having RMSE=0.169m. Model B with the lowest RMSE is hence the better of the two models. The t-test and hypothesis test conducted at a 95% confidence level, however, revealed that the two models did not differ significantly. The study shows that the use of corrective surface to combine the gravity field model EGM08 and GPS/levelling significantly improves the determination of heights as observed from GPS in the study area.

Page 8 of 14 | Total Record : 136