Articles
6 Documents
Search results for
, issue
"Vol 4 No 1 (2013)"
:
6 Documents
clear
Pengaruh Latihan Plaiometrik terhadap Hasil Lompat Jauh Ditinjau dari Daya Ledak Otot Tungkai pada SMP Negeri 3 Sawan
I Komang Bagiasa
LAMPUHYANG Vol 4 No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v4i1.134
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara hasil lompat jauh pada siswa yang mengikuti pelatihan plaiometrik dengan siswa yang mengikuti pelatihan konvensional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Sawan semester II tahun ajaran 2010/2011 berjumlah 221 orang. Sampel diambil dengan cara random, jumlah sampel 76 orang dengan rincian putra 40 orang dan putri 36 orang. Sampel dibagi sebanyak dua kelas yaitu 38 orang pada kelas eksperimen (VIIIB), dan 38 orang pada kelas kontrol (VIIIF). Rancangan penelitian menggunakan post test only control group design. Pengumpulan data menggunakan metode tes dan pengukuran.Setelah eksperimen berakhir data dianalisis dengan analisis statistik anakova satu jalur. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan ditemukan 1) Sebelum dikendalikan oleh kovariabel daya ledak otot tungkai, terdapat perbedaan hasil lompat jauh antara siswa yang mengikuti pelatihan plaiometrik dan pelatihan konvensional (Fhitung 84.006 > Ftabel 3.98).Dan rata-rata hitung pelatihan plaiometrik diketahui 36.55 sedangkan pelatihan konvensional 34.55 ini berarti bahwa hasil lompat jauh siswa yang mengikuti pelatihan plaiometrik lebih baik dari siswa yang mengikuti pelatihan konvensional. 2) Setelah dikendalikan oleh kovariabel daya ledak otot tungkai terdapat perbedaan hasil lompat jauh antara siswa yang mengikuti pelatihan plaiometrik dan pelatihan konvensional (Fhitung 71.60 > Ftabel 3,98). Dan rata-rata residu yang diperoleh untuk pelatihan plaiometrik 266.96 sedangkan pelatihan konvensional 262.63 ini berarti bahwa hasil lompat jauh siswa yang mengikuti pelatihan plaiometrik lebih baik dari siswa yang mengikuti pelatihan konvensional. 3) Kontribusi daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh pada siswa yang mengikuti pelatihan plaiometrik sebesar 39.80% dan pada pelatihan konvensional sebesar 10.80% sedangkan secara keseluruhan kontribusi daya ledak otot tungkai terhadap hasil lompat jauh adalah sebesar 26.80%. Berdasarkan temuan tersebut diatas, disimpulkan bahwa pelatihan plaiometrik berpengaruh terhadap hasil lompat jauh, baik sebelum maupun setelah dikendalikan oleh kovariabel daya ledak otot tungkai.
Bahasa Bali sebagai Penopang Kehidupan Beragama pada Masyarakat Hindu di Bali
I Ketut Jaten
LAMPUHYANG Vol 4 No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v4i1.135
Bahasa Bali memiliki peranan penting dalam berbagai kehidupan termasuk dalam kehidupan beragama. Bahasa Bali yang memiliki sistem tingkat-tingkat bahasa dalam bentuk bahasa alus, bahasa madia, dan bahasa kasar, membuat peranan dan fungsi bahasa Bali menjadi semakin eksis dan mendominasi pemakaiannya dalam kehidupan bermasyarakat terutama dalam kegiatan keagamaan. Hal ini sangat layak karena dengan adanya sistem tingkat-tingkatan bahasa seperti bahasa alus, bahasa madia, bahasa kasar dimaksud, maka dalam kehidupan keagamaan masyarakat pendukung dan pemakai bahasa Bali akan dapat memilih nilai bahasa terutama bahasa alus baik dalam pemakaian secara vertikal yakni dalam konteks hubungan antara manusia dengan Tuhan, maupun dalam konteks hubungan antara manusia dengan sesama manusia. Pemakaian seperti ini dilakukan terhadap seluruh kegiatan keagamaan , termasuk dalam kegiatan kesenian sebagai pendukung kegiatan keagamaa itu sendiri. Inilah yang dimaksudkan bahasa Bali sebagai penopang kehidupan beragama. Jadi bahasa Bali dalam hal ini bersifat sosio religius
Budaya Magibung Kearifan Lokal Masyarakat Karangasem dalam Menanamkan Rasa Kekeluargaan dan Persaudaraan
I Wayan Gama
LAMPUHYANG Vol 4 No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v4i1.136
Bali terkenal dengan adat istiadatnya. Setiap kabupaten memiliki budaya dan tardisi yang unik. Begitu pula Kabupaten Karangasem memiliki budaya yang unik yaitu megibung. Megibung pada dasarnya merukan makan secara bersama-sama pada satu wadah yang beranggotakan maksimal delapan orang dan minimal dua orang. Megibung dilaksanakan ketika masyarakat melaksanakan yadnya. Bagi masyarakat yang tidak terbiasa dengan megibung tentu akan melihat cara amakan ini terasa aneh dan terkesan berebutan. Akan tetapi pada bila dicermati lebih jauh kesen kesen berebutan itu tidak pernah terjadi pada budaya makan megibung. Megibung sangat sarat dengan nilai filosopi. Anggota megibung berjumlah delapan orang yang duduk melingkar sesuai dengan arah dewata nawa sanga. Posisi ini melambangkan keseimbangan. Megibung dapat menciptakan keseimbangan dalam hidup. Dengan budaya megibung menanamkan rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Tidak jarang peserta mengibung baru kenel ketika itu kareana sama – sama menghadiri undangan. Megibung sarat dengan sejumlah nilai seperti nilai disiplin, pendidikan sosial, toleransi. Semua anggota duduk bersama tanpa membedakan warna dan status sosial. Sehungga megibung merupakan media menanamkan konsep menyama braya. Seiring dengan perubahan zaman budaya megibung juga mengalami perubahan misalnya dari olahan yang disajikan. Seiring zaman ada kesan megibung ingin ditinggalakan karena sejumlah faktor antara lain: kurang efisien, bertele-tele, kurang ekonomis, dan terkesan makanan tidak higienis. Berdasarkan kenyataan ini maka penulis dapat menyarankan hendaknya budaya megibung pada masyarakat Karangasem tetap dilestarikan dan pelaksanaannya disesuikan dengan kondisi zaman. Disamping itu pengolahan dalam penyiapan gibungan lebih memperhatikan kebersihan dan kesehtan makanan yang akan disajikan dalam acara megibung.
Sanggah Luh Perspektif Perkawinan dan Gender di Desa Pakraman Lebah Kecamatan Kubu Kabupaten Karangasem Provinsi Bali
I Made Regeg
LAMPUHYANG Vol 4 No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v4i1.137
Penelitian bertujuan untuk: 1) mengetahui pengemponSanggah Luh, 2) mengetahui hak dan kewajiban laki-laki yang menikahi Luh/gadis dari keturunan Sanggah Luh, 3) mengetahui hubungan antara hak dan kewajiban sanggah Luh dengan Gender.Untuk menjawab atau memecahkan permasalahan tersebut maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Jenis Penelitian; Penelitian ini adalah termasuk dalam penelitian Kualitatif. Metode penentuan subjeknya adalah : Emperis. Subjek peneltiannya adalah semua krama desa Pakraman Lebah dan karena banyak subjek peneltian maka ditentukan sampel. Sampel yang digunakan adalah Purvusive Sampling. Metode pengumpulan datanya adalah: wawancara dan Pencatatan dokumen. Analisis data adalah Deskriftif dan induktif serta argumentatif.Dari analisis data, maka dapat disimpulkan hasil penelitian sebagai berikut :1) Pengempon dari sanggah Luh adalah semua daris garis keturunan Kumpi Ngatah dan kumpi Turut serta dari hasul pernikahan Luh/gadis yang nikah keluar garis keturuanan tetapi wajib menjadi pengempon di Sanggah Luh. 2) Hak dari Laki-laki yang menikahi gadis dari Sanggah Luh adalah 1) diberikan menggarap tanah pertanian yang dimiliki oleh keluarga istri, 2) diijinkan membangun rumah dilahan kelurga apabila suami sepakat, 3) Apabila ada Piodalan, krama mendapat bagian lungsuran Guling babi. Sedangkan kewajibannya adalah 1) Membayar peturunan pada saat piodalan dan pada saat membangun sanggah.2) ikut ngayah dalam membuat sanggah dan juga ngayah pada saat ada piodalan di Sanggah Luh.3) membuat banten untuk upacara di Sanggah Luh.3) ada hubungan antara hak dan kewajiban laki-laki yang menikahi gadis dari keturunan Sangah Luh dengan Gender.Para krama agar memperhatikan hukum adat yang berlaku di sanggah Luh dalam melaksanakan perkawinan agar tidak terjadi kesalahan di kemudian hari. Bagi Kantor Kementrian Agama RI dan PHDI agar selalu memberikan Dharma wacana yang ada kaitannya dengan perkawinan adan hukum adat.
Modernitas dalam Upacara Bhatara Turun Kabeh di Pura Besakih.
Ida Made Pidada Manuaba
LAMPUHYANG Vol 4 No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v4i1.138
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui dan memahami keberlangsungan modernitas dalam upacara Bhatara Turun Kabeh di Pura Besakih, (2) Untuk mengetahui dan memahami implikasinya modernitas terhadap Upacara Bhatara Turun Kabeh.Dalam melakukan kajian terhadap permasalahan yang diteliti dilakukan dengan pendekatan (1) Teori Hegomoni (Antonio Gramsci, 1891-1937) dan (2) Teori Perubahan Sosial. Sumber data diperoleh melalui penelitian lapangan dan prosudur pengumpulan data ditempuh dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan Stadi dokumen. Selanjutnya data yang diperoleh dari analisis teks maupun hasil wawancara disajikan secara deskriptif. Dalam analisis data dilakukan dengan analisis interpretatif.Berdasarkan hasil penelitian dapat ditemukan bahwa penyebab moderitas dalam upacara Bhatara Turun Kabeh antara lain : (1) Perubahan budaya tradisional yang relatif statis dan konservatif menuju budaya modern yang progresif; (2) Perubahan budaya klasik yang spiritual menuju budaya pasar komersial; (3) Perubahan budaya teknologi klasik yang sederhana menuju teknologi kontemporer yang canggih; (4) Perubahan budaya estetik yang klasik menuju budaya estetis yang modern; (5) Perubahan budaya energi dan makanan masyarakat Bali Hindu yang klasik menuju budaya energi dan makanan modern. Sementara implikasi yang ditimbulkan akibat adanya modernitas dalam upacara Bhatara Turun Kabeh tahun 2011 di Pura Besakih dapat dijelaskan antara lain : (1) Pengikisan nilai ngayah; (2) Terjadi komersialisasi atas nama agama; (3) Terputusnya pola pendidikan upacara bagi generasi muda bali hindu; (4) Terjadinya sekulerisasi dan rasionalisasi ajaran agama hindu; (5) Perilaku menyimpang yang menggoyahkan sendi religiusitas masyarakat Bali Hindu.
Rta, Dharma dan Ritual untuk Keharmonisan Alam
Wayan Yanik Yasmini
LAMPUHYANG Vol 4 No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v4i1.140
Tujuan dari penulisan artikel ini adalah unruk mendeskripsikan Hukum Rta, Dharma dan ritual dalam mengendalikan alam.Mendiskripsikan ketundudukan manusia pada hukum Rta. Rta sering diterjemahkan dengan Orde atau Hukum, tetapi dalam arti hukum yang kekal dan tidak pernah berubah. Di dalam Weda diterangkan bahwa mula-mula Tuhan menciptakan alam semesta, kemudian menciptakan hukum yang mengatur hubungan-hubungan antara yang diciptakanya itu. Oleh karena tuhan menciptakan hukum dan sekalian sebagai pengendali atas hukunya itu, maka Tuhan juga disebut Ritawan. Dalam perkembangan kesusastraan sansekerta istilah Rta ini kemudian diartikan Widhi yang maknanya sama pula dengan aturan-aturan yang ditetapkan oleh Tuhan.Dari kata Widhi lahir istilah Sang Hyang Widhi atau Sang Hyang Widhi Wasa dengan arti Tuhan yang Maha Esa atau penguasa atas hukumnya. Dalam sloka Bhagavadgita disebutkan bahwa Tuhan mengawasi alam semesta dilakukan oleh prakerti- Nya.Rta merupakan hukum Tuhan yang bersifat abadi, murni dan bersifat absolut. Rta sebagai pengatur kegiatan manusia yang tidak tampak. Rta sebagai pengatur hanya dapat dilihat berdasarkan keyakinan atas adanya kebenaran. Karena Rta bersifat absolut maka semua ciptaan Tuhan tidak bias lepas dari hukum Rta.Hukum Tuhan yang disebut Rta tersebut dijabarkan dalam amalan manusia yang disebut Dharma. Dharma sebagai hukum agama yang di sebut dharma bersifat relative karena sealu dikaitkan dengan pengalaman manusia dan karena itu bersifat mengatur tingkah laku manusia untuk mencapai kebahagian di dalam hidup. Ajaran Rta dan Dharma menjadi landasan ajaran karma dan phala. Rta dan dharma mempunyai ruang lingkup yang sangat luas yang meliputi pengertian hukum abadi sebagi ajaran kesusilaan yang mengandung estetika dan mencangkup pula pengertian sosial. Dan oleh karena itu Rta selalu menjadi dasar pemikiran yang idil dan diharapkan akan dapat terujud dalam kehidupan didunia ini.Manusia tunduk dan tidak bisa lepas dari Rta karena manusia merupakan bagian dari kosmos. Semua ciptaan Tuhan di atur melaui hukum absolute yang disebut Rta.