cover
Contact Name
Hery Fajeriadi
Contact Email
heryfaje@gmail.com
Phone
+6285332834301
Journal Mail Official
bioinoved@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl. Brigjend. H. Hasan Basry, Gedung Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat, Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Bio-Inoved : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan
ISSN : 26849062     EISSN : 27149803     DOI : -
Core Subject : Education,
Bio-Inoved: The Journal of Biology-Educational Innovation [p-ISSN 2684-9062] publishes scientific articles on the results of biology education research and innovations (Focus and Scope). Articles are written by following the manuscript writing rules (Author Guidelines). This journal is published twice a year, in April and October.
Articles 287 Documents
Advancing biology education through HOTS-based learning on digestive system concepts: A systematic literature review Tiffany Safitri; Didit Ardianto; Irvan Permana; Surti Kurniasih; Eni Nuraeni
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.21669

Abstract

Developing higher-order thinking skills—critical thinking, creative thinking, and problem-solving—is essential for preparing students to address complex, real-world problems. This systematic literature review, conducted using the PRISMA 2020 guidelines and qualitative content analysis, explores how HOTS is integrated into teaching the human digestive system in secondary education by addressing three key questions: (1) which HOTS are most frequently developed, (2) which instructional strategies are most effective, and (3) what challenges and opportunities exist in implementation. Fourteen peer-reviewed articles published between 2020 and 2024 were analyzed. Results show that critical thinking is the most emphasized skill, followed by creative and problem-solving abilities. Problem-Based Learning (PBL) emerged as the most widely used strategy (21.4%), with STEM, the discovery learning model, and the contextual teaching learning model contributing significantly. Key challenges include curriculum transitions, limited scaffolding, and uneven student participation. Conversely, opportunities arise from integrating technology, applying real-world contexts, and promoting collaboration. While the search included international databases, most studies meeting the inclusion criteria were authored by Indonesian researchers, which may limit cross-contextual generalization. This review underscores the value of combining student-centered learning models with contextual and technological support to enhance HOTS in biology education.Abstrak. Pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi—berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah—merupakan hal penting untuk mempersiapkan siswa menghadapi permasalahan kompleks di dunia nyata. Studi tinjauan literatur sistematik ini dilakukan berdasarkan pedoman PRISMA 2020 dan menggunakan pendekatan analisis isi kualitatif untuk mengeksplorasi integrasi HOTS dalam pembelajaran sistem pencernaan manusia di jenjang pendidikan menengah, dengan menjawab tiga pertanyaan utama: (1) HOTS apa yang paling sering dikembangkan, (2) strategi pembelajaran apa yang paling efektif, dan (3) tantangan serta peluang apa yang muncul dalam implementasinya. Sebanyak 14 artikel terbitan tahun 2020–2024 ditelaah. Hasil menunjukkan bahwa berpikir kritis merupakan keterampilan yang paling dominan, diikuti oleh berpikir kreatif dan pemecahan masalah. Problem-Based Learning merupakan strategi paling banyak digunakan (21,4%), disusul pendekatan STEM, model discovery learning, dan model contextual teaching learning. Tantangan utama meliputi transisi kurikulum, kebutuhan scaffolding, dan partisipasi siswa yang tidak merata. Di sisi lain, peluang muncul melalui integrasi teknologi, penerapan konteks nyata, dan kolaborasi aktif. Meskipun pencarian dilakukan melalui basis data internasional, sebagian besar artikel yang memenuhi kriteria inklusi ditulis oleh peneliti Indonesia, yang dapat membatasi generalisasi lintas konteks. Kajian ini menegaskan pentingnya kombinasi pendekatan kontekstual, teknologi, dan pembelajaran berpusat pada siswa dalam meningkatkan HOTS di pendidikan biologi.
Implementation of project-based learning in developing a human anatomy and physiology practical guidebook with analysis of the nutritional content of local NTT ingredients Florentina Yasinta Sepe; Maria Novita Inya Buku; Vinsensia H. B. Hayon; Hildegardis Missa; Getrudis Wilhelmina Nau; Aloysius Djalo
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 3 (2025): October 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i3.22400

Abstract

Practical learning that is relevant to local potential is needed so that students understand human physiology concepts theoretically and are able to relate them to real life. This can support the improvement of 21st century skills while also supporting the utilization of local resources in education and community empowerment. This study aims to develop a practical guidebook for the Human Anatomy and Physiology course based on Project-Based Learning (PJBL) with the integration of nutritional content analysis of local food ingredients from East Nusa Tenggara (NTT). The problem faced is the limited availability of practical teaching materials that are relevant to local conditions, specifically linking anatomy and physiology topics with an understanding of the nutritional content of local food ingredients. The method used is research and development with the ADDIE model, which consists of five stages: analysis, design, development, implementation, and evaluation. The results of the study show that the developed practical guidebook is relevant and effective in enhancing students' understanding of human anatomy and physiology concepts and the nutritional content of local food ingredients. Evaluation of the product indicates positive responses from students, with improvements in active involvement, critical thinking skills, and significant learning outcomes. This guidebook also helps students to better understand scientific concepts in the context of everyday life. In conclusion, the application of PJBL with a focus on local food ingredients from NTT proves to be effective in improving students' understanding and 21st-century skills.Abstrak. Pembelajaran praktikum yang relevan dengan potensi lokal dibutuhkan agar mahasiswa memahami konsep fisiologi manusia secara teoritis dan mampu mengaitkan dengan kehidupan nyata. Hal ini dapat mendukung peningkatan keterampilan abad ke-21 sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya lokal dalam pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan buku petunjuk praktikum mata kuliah Anatomi dan Fisiologi Manusia berbasis Project-Based Learning (PJBL) dengan integrasi analisis kandungan gizi bahan pangan lokal Nusa Tenggara Timur (NTT). Permasalahan yang dihadapi adalah terbatasnya ketersediaan bahan ajar praktikum yang relevan dengan kondisi lokal, khususnya yang mengaitkan topik anatomi dan fisiologi dengan pemahaman kandungan gizi bahan pangan lokal. Metode yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan dengan model ADDIE, yang terdiri dari lima tahap yaitu analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku penuntun praktikum yang dikembangkan relevan dan efektif untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap konsep anatomi dan fisiologi manusia serta kandungan gizi bahan pangan lokal. Evaluasi terhadap produk menunjukkan adanya respon positif dari mahasiswa, dengan peningkatan keterlibatan aktif, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar yang signifikan. Buku panduan ini juga membantu mahasiswa untuk lebih memahami konsep-konsep ilmiah dalam konteks kehidupan sehari-hari. Kesimpulannya, penerapan PJBL dengan fokus pada bahan pangan lokal NTT terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan abad ke-21 mahasiswa.
Group investigation inquiry online learning model for empowering students' metacognitive abilities and creative thinking Sriyanti I. A Salmanu; Kristin Sangur; Sintje Liline; Dominggus Rumahlatu; Mery Pattipeilohy
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i1.20806

Abstract

Numerous educational models have been developed to enhance students' aptitudes in online learning. Therefore, this study aimed to analyze the effect of the group investigation inquiry online learning model (GINO) on the metacognitive and creative thinking abilities of students in Senior High Schools (SHS) in Ambon, Indonesia. The method employed a pretest-posttest control group design, with a sample comprising 116 students from Senior High Schools 1, 4, and 12 Ambon. Validity and reliability tests were also conducted to measure metacognitive abilities and creative thinking. Furthermore, the data analysis encompassed descriptive and inferential approaches, employing ANCOVA. The results showed that the GINO learning model effectively enhances the metacognitive abilities and creative thinking of SHS students in Ambon (p=0.000<α=0.05). To foster a distinct online learning environment, the model was subjected to modifications in its learning stages through the integration of the group investigation learning model and inquiry strategies, providing valuable variations in the learning process. This research contributes to showing how varied learning is very important in providing a more interesting learning climate compared to conventional learning carried out by teachers and this learning model can be applied to other concepts in learning.Abstrak. Berbagai model pembelajaran telah dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran daring. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran group investigation inquiry online (GINO) terhadap kemampuan berpikir metakognitif dan kreatif siswa pada Sekolah Menengah Atas (SMA) di Ambon, Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan desain kelompok kontrol pretest-posttest, dengan sampel yang terdiri dari 116 siswa dari SMA 1, 4, dan 12 Ambon. Uji validitas dan reliabilitas juga dilakukan untuk mengukur kemampuan metakognitif dan berpikir kreatif. Selanjutnya, analisis data menggunakan statistik deskriptif dan inferensial, dengan menggunakan ANCOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran GINO secara efektif meningkatkan kemampuan metakognitif dan berpikir kreatif siswa SMA di Ambon (p=0.000<α=0.05). Untuk menumbuhkan lingkungan belajar online yang berbeda, model ini mengalami modifikasi dalam tahapan pembelajarannya melalui integrasi model pembelajaran investigasi kelompok dan strategi inkuiri, sehingga memberikan variasi yang berharga dalam proses pembelajaran. Penelitian ini berkontribusi untuk menunjukkan bagaimana pembelajaran yang bervariasi sangat penting dalam memberikan iklim pembelajaran yang lebih menarik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional yang dilakukan oleh guru dan model pembelajaran ini dapat diterapkan pada konsep-konsep lain dalam pembelajaran.
The relationship of learning motivation and higher-order thinking skills with students scientific literacy ability Yusril Haq Ismail; Firdaus Daud; Rachmawaty Rachmawaty
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.22503

Abstract

Scientific literacy is a key 21st-century competency that students must possess. However, assessment results show Indonesian students’ science literacy remains low. This study aims to determine the relationship between learning motivation and higher-order thinking skills (HOTS) toward students’ scientific literacy. A quantitative approach with an ex post facto design was used. The sample consisted of 350 twelfth-grade science students selected through cluster random sampling from four public high schools in Maros Regency. Instruments included a learning motivation questionnaire, a HOTS test, and a scientific literacy test. Results showed average scores for learning motivation (67.41), HOTS (64.29), and scientific literacy (66.70), all in the moderate category. Correlation analysis revealed significant relationships between learning motivation (r = 0.626) and HOTS (r = 0.430) with scientific literacy. Simultaneously, both variables contributed 22.6% to science literacy (R² = 0.226; sig. = 0.00). These findings emphasize the importance of integrating affective and cognitive aspects to improve students’ scientific literacy in science education. It is recommended that efforts to improve science literacy focus on strengthening students' affective and cognitive aspects through contextual, project-based, and inquiry-based learning approaches that are relevant to real life. Abstrak. Literasi sains merupakan kompetensi penting abad ke-21 yang harus dimiliki peserta didik. Namun, hasil asesmen menunjukkan tingkat literasi sains siswa Indonesia masih rendah. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui hubungan antara motivasi belajar dan keterampilan berpikir tingkat tinggi terhadap literasi sains peserta didik SMA. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex post facto. Sampel terdiri dari 350 siswa kelas XII IPA yang dipilih secara cluster random sampling dari empat SMA di Kabupaten Maros. Instrumen berupa angket motivasi belajar, tes HOTS, dan tes literasi sains. Hasil menunjukkan nilai rata-rata motivasi belajar sebesar 67,41, HOTS sebesar 64,29, dan literasi sains sebesar 66,70 (kategori sedang). Uji korelasi menunjukkan motivasi belajar berhubungan signifikan dengan literasi sains (r = 0,626), demikian pula HOTS (r = 0,430). Secara simultan, kontribusi kedua variabel terhadap literasi sains sebesar 22,6% (R² = 0,226; sig. = 0,00). Temuan menekankan pentingnya penguatan aspek afektif dan kognitif dalam pembelajaran untuk meningkatkan literasi sains. Direkomendasikan upaya peningkatan literasi sains difokuskan pada penguatan aspek afektif dan kognitif siswa melalui pendekatan pembelajaran kontekstual, berbasis proyek, dan inkuiri yang relevan dengan kehidupan nyata.
Phytochemical screening of Balinese grape (Vitis vinifera L. var. Alphonso Lavallee) peel extract: Resources local plant-based lessons in biology Ida Ayu Manik Damayanti; Ni Wayan Sukma Antari
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.22239

Abstract

The utilization of local natural resources for contextual and practical-based learning is an innovative approach in biology education. This study aimed to conduct a phytochemical screening of Balinese grape (Vitis vinifera L. var. Alphonso Lavallee) peel extract and integrate the findings into plant-based biology lessons. A mixed-method approach with a one-group pretest–posttest design was applied. Phytochemical tests identified the presence of flavonoids, phenols, alkaloids, tannins, and terpenoids. The integration of results into laboratory-based lessons led to an increase in students’ average scores from 66.70 to 78.48, as well as improvement in laboratory skills, cultural awareness, and appreciation of local biodiversity. These findings demonstrate that Balinese grape peel extract is a valuable educational tool for enhancing understanding of secondary metabolites and promoting scientific literacy. The future impact of this research includes the potential for in vitro and in vivo studies to assess the extract’s biological activity, and the implementation of local plant-based learning models that support sustainable education and preservation of indigenous knowledge.Abstrak. Pemanfaatan sumber daya alam lokal untuk pembelajaran kontekstual berbasis praktikum merupakan pendekatan inovatif dalam pendidikan biologi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan skrining fitokimia kulit anggur Bali (Vitis vinifera L. var. Alphonso Lavallee) serta mengintegrasikan hasilnya ke dalam pembelajaran berbasis sumber daya tumbuhan lokal. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan desain pra-eksperimen one-group pretest–posttest. Skrining fitokimia dilakukan terhadap senyawa flavonoid, fenol, alkaloid, tanin, dan terpenoid melalui uji pereaksi spesifik. Hasil skrining menunjukkan adanya kelima senyawa aktif tersebut, Integrasi hasil ke dalam pembelajaran laboratorium meningkatkan nilai rerata siswa dari 66,70 menjadi 78,48, serta memperkuat keterampilan laboratorium, kesadaran budaya, dan apresiasi terhadap biodiversitas lokal. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak kulit anggur Bali dapat meningkatkan literasi sains dan pemahaman peserta didik terhadap metabolit sekunder. Dampak jangka panjang dari penelitian ini mencakup potensi pengembangan studi in vitro dan in vivo untuk mengeksplorasi aktivitas biologis ekstrak serta penerapan pembelajaran berbasis sumber daya lokal yang mendukung pendidikan berkelanjutan dan pelestarian kearifan lokal.
The effect of the SM2CL learning model on students’ critical thinking skills in the digestive system topic Pratama, Lisra; Taiyeb, Mushawwir; Rachmawaty, Rachmawaty; Daud, Firdaus; Mu’nisa, Andi
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 8, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v8i1.24915

Abstract

The demands of 21st-century education emphasize critical thinking in learning. Critical thinking is essential in learning biology, especially in the topic of the human digestive system. However, the limited use of varied learning models reduces opportunities to develop students' critical thinking skills. Therefore, an appropriate learning model is needed, namely the SM2CL model. This model is appropriate because it combines learning models, strategies, and methods. This study aims to analyze the effect of the Synectics, Mind Mapping, and Cooperative Learning (SM2CL) learning model on critical thinking skills among class XI students in the digestive system material at MAN 3 Bone. This study used a quasi-experimental method with a pretest-posttest control group design. The study consisted of 60 samples, comprising 2 classes of students. The study, using ANCOVA to test the hypothesis, showed a significant effect of the SM2CL model (p < 0.05). Furthermore, the LSD test indicated a significant difference between students taught using the SM2CL model and those taught using the direct instruction model. These findings suggest that the SM2CL model is more effective in enhancing students' critical thinking skills in biology learning, particularly in the digestive system topic. This study contributes to biology education by providing empirical evidence on the effectiveness of integrated learning models in promoting critical thinking skills.Abstrak. Tuntutan pendidikan abad ke-21 menekankan pemikiran kritis dalam pembelajaran. Pemikiran kritis sangat penting dalam pembelajaran biologi, khususnya pada topik sistem pencernaan manusia. Namun, penggunaan model pembelajaran yang beragam yang terbatas mengurangi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Oleh karena itu, dibutuhkan model pembelajaran yang tepat yaitu model SM2CL. Model ini tepat karena memadukan model, strategi dan metode pembelajaran Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran Synectics, Mind Mapping, dan Cooperative Learning (SM2CL) terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI pada materi sistem pencernaan di MAN 3 Bone. Penelitian ini menggunakan metode quasi-eksperimental dengan desain kelompok kontrol pretest-posttest. Penelitian ini terdiri dari 60 sampel yang terdiri dari dua kelas siswa. Hasil penelitian, menggunakan uji ANCOVA untuk menguji hipotesis, menunjukkan pengaruh signifikan model SM2CL dengan nilai signifikansi p < 0,05. Selanjutnya, uji LSD menunjukkan perbedaan signifikan antara siswa yang diajar menggunakan model SM2CL dan siswa yang diajar menggunakan model pengajaran langsung. Temuan ini menunjukkan bahwa model SM2CL lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran biologi, khususnya pada topik sistem pencernaan. Studi ini berkontribusi pada pendidikan biologi dengan memberikan bukti empiris tentang efektivitas model pembelajaran terintegrasi dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
Digital literacy of biology education students: Trends and differences based on semester level Sri Wahyuni Sumadi; Nurhayati B; Faisal Faisal
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 3 (2025): October 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i3.22361

Abstract

Twenty-first century skills are an important aspect in developing student competencies, one of which is digital literacy competency. Proficient digital literacy is needed in education, especially to support the technology-based learning process. This study aims to identify differences in the level of digital literacy of Biology Education students based on semester level. The research method used is a quantitative survey with a cluster random sampling technique. The sample of this study was biology education study program students in semesters 2, 4, and 6, with a total sample of 232 students. Data were analyzed using descriptive and inferential statistics, namely the ANOVA test, to determine whether there were significant differences in students' digital literacy skills between semesters. The results showed that the average digital literacy skills of students increased from semester 2 to semester 6, with consecutive scores of 41.20, 44.32, and 45.21. Despite the increase, the overall average is still very low. The results of the inferential statistical test, namely the ANOVA test, obtained a significance value of p = 0.000 (p < 0.05), which shows that there are differences in the digital literacy skills of students in different semesters. Therefore, a more optimal technology integration strategy in learning is needed, as well as lecturer competence in utilizing digital technology to strengthen student digital literacy.Abstrak. Keterampilan abad 21 merupakan aspek penting dalam pengembangan kompetensi mahasiswa, salah satunya yaitu kompetensi literasi digital. Literasi digital yang mumpuni sangat diperlukan dalam dunia pendidikan, terutama untuk mendukung proses pembelajaran berbasis teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan tingkat literasi digital mahasiswa Pendidikan Biologi berdasarkan tingkat semester. Metode penelitian yang digunakan adalah survei kuantitatif dengan teknik random sampling. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa program studi pendidikan biologi semester 2, 4 dan 6, tahun akademik 2023/2024 dengan jumlah sampel sebanyak 232 mahasiswa. Data dianlisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial yaitu uji anova untuk menentukan terdapat perbedaan signifikan keterampilan literasi digital mahasiswa antar semester. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata keterampilan literasi digital mahasiswa mengalami peningkatan dari semester 2 ke semester 6 dengan perolehan nilai berturut-turut sebesar 41,20, 44,32, dan 45,21. Meskipun terjadi peningkatan, rata-rata keseluruhan masih tergolong sangat rendah. Hasil uji statistik inferensial yaitu uji anova diperoleh nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan keterampilan literasi digital mahasiswa pada semester yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengintegrasian teknologi yang lebih optimal dalam pembelajaran, serta kompetensi dosen dalam pemanfaatan teknologi digital guna memperkuat literasi digital mahasiswa.
Integrating of permaculture system with eco-gamification systems in biodiversity learning to promote SDG-12 Najira Najira; Saefudin Saefudin; Taufik Rahman; Rahmat Baharuddin; Zuliande Zidan
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i1.21321

Abstract

The achievement of biodiversity learning in schools has only reached 60% classical completeness, with low student understanding: 10.1% demonstrated full comprehension, 48.7% experienced misconceptions, and 41.2% showed no conceptual understanding. This highlights the need to improve biodiversity education. This study aims to enhance students' understanding by integrating permaculture systems and eco-gamification into the learning process, aligning with Sustainable Development Goal (SDG) 12 on responsible consumption and production. Using a quantitative experimental design, 25 10th-grade students from a high school in Bandung were selected through cluster sampling. Data were collected via Likert scale questionnaires, expert observation sheets (0–1 scale), and direct observations. The study was conducted in three stages: preparation, implementation, and data analysis. The implementation achieved an 82% success rate (Good category), indicating high student engagement. Student responses showed 48.7% strongly agreed (Fair), 33.1% agreed (Poor), and 18.2% disagreed (Poor), reflecting varying acceptance levels. Key challenges included difficulties in memorizing scientific names and understanding binomial nomenclature. Enhancing strategies, such as hands-on practice and optimized gamification, is essential to maximize learning outcomes while fostering awareness of ecosystem balance.Abstrak. Pencapaian pembelajaran keanekaragaman hayati di sekolah hanya mencapai 60% ketuntasan klasikal, dengan tingkat pemahaman siswa yang rendah: 10,1% menunjukkan pemahaman penuh, 48,7% mengalami miskonsepsi, dan 41,2% tidak memahami konsep sama sekali. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan pendidikan keanekaragaman hayati. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa dengan mengintegrasikan sistem permakultur dan eco-gamification dalam proses pembelajaran, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen kuantitatif dengan melibatkan 25 siswa kelas X dari salah satu SMA di Bandung yang dipilih melalui teknik cluster sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert, lembar observasi ahli (skala 0–1), dan observasi langsung. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap: persiapan, pelaksanaan, dan analisis data. Implementasi pembelajaran mencapai tingkat keberhasilan sebesar 82% (kategori Baik), menunjukkan tingginya keterlibatan siswa. Respon siswa menunjukkan 48,7% sangat setuju (Cukup), 33,1% setuju (Kurang), dan 18,2% tidak setuju (Kurang), mencerminkan tingkat penerimaan yang bervariasi. Tantangan utama yang dihadapi adalah kesulitan dalam menghafal nama ilmiah dan memahami tata nama binomial. Oleh karena itu, peningkatan strategi seperti praktik langsung dan optimalisasi elemen gamifikasi diperlukan untuk memaksimalkan hasil belajar sekaligus meningkatkan kesadaran menjaga keseimbangan ekosistem.
Emotions and learning motivation of high school students in biotechnology learning under the Merdeka Curriculum Rina Karwatisari; Adi Rahmat; Sariwulan Diana
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 3 (2025): October 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i3.23433

Abstract

Research on students' emotions and motivation in biotechnology learning is very important as key input for considering the development of appropriate learning strategies. This study aims to determine the emotions and motivations of high school students in biotechnology learning. Using a quantitative descriptive method, data on students' emotions and motivations collected from 69 respondents are presented in representative graphs. The student respondents were selected using cluster random sampling. The emotion questionnaire instrument used amounted to 20 items based on indicators from PANAS-GEN. Meanwhile, the motivation questionnaire instrument used amounted to 15 items based on indicators from SALES. Descriptive statistical analysis shows that students' emotions toward biotechnology learning are dominated by positive emotions with an average score of 60 points. The positive emotions among students are more prevalent in the moderate category, accounting for 44% of students. The highest positive emotional values are found in students' enthusiasm for biotechnology learning. Meanwhile, negative emotions among students are dominated by the moderate category, accounting for 34%. The highest negative emotion scores were found in the aspect of fear in biotechnology learning. On the other hand, the results of students' motivation in biotechnology learning mostly fall into the low and moderate categories. The highest motivation indicator value was found in the ‘learning goal orientation’ indicator. Of the three, positive and negative emotions toward motivation showed a significant relationship with moderate levels of relationship quality. These findings provide empirical evidence that positive emotions and motivation play a significant role in supporting the development of 21st-century skills in learning.Abstrak. Penelitian mengenai emosi dan motivasi siswa dalam pembelajaran bioteknologi sangat penting sebagai masukan utama untuk mempertimbangkan pengembangan strategi belajar yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui emosi dan motivasi siswa SMA dalam pembelajaran bioteknologi. Dengan menggunakan metode deskriptf kuantitatif, data hasil emosi dan motivasi siswa yang diambil dari 69 responden disajikan dalam bentuk grafik yang representatif. Responden siswa dipilih dengan teknik cluster random sampling. Instrumen kuesioner emosi yang digunakan terdiri dari 20 item berdasarkan indikator dari PANAS-GEN. Sementara itu, instrumen kuesioner motivasi yang digunakan terdiri dari 15 item berdasarkan indikator dari SALES. Analisis dengan statistik deskriptif menunjukkan bahwa emosi siswa terhadap pembelajaran bioteknologi didominasi oleh emosi positif dengan rata-rata nilai 60 poin. Emosi positif siswa lebih banyak pada kategori sedang sebanyak 44% siswa. Nilai emosi positif tertinggi ada pada aspek antusias siswa dalam pembelajaran bioteknologi. Kemudian, emosi negatif siswa didominasi kategori sedang sebanyak 34% dan kategori tinggi sebanyak 30%. Nilai emosi negatif tertinggi ada pada aspek takut dalam pembelajaran bioteknologi Disisi lain, hasil motivasi siswa dalam pembelajaran bioteknologi paling banyak termasuk dalam kategori rendah dan sedang. Nilai indikator motivasi siswa tertinggi ada pada indikator ‘learning goal orientation’. Dari ketiganya, antara emosi positif dan negatif terhadap motivasi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan taraf hubungan yang sedang. Temuan ini menjadi dasar empiris bahwa emosi positif dan motivasi berperan signifikan dalam mendukung pengembangan keterampilan abad 21 dalam pembelajaran.
Contextual learning using Balinese salak (Salacca zalacca) probiotic drink to enhance science literacy in microbiology Nadya Treesna Wulansari; I Putu Gede Sutrisna; Ni Wayan Kesari Dharmapatni
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.22246

Abstract

The implementation of microbiology learning in higher education is still dominated by conventional, lecture-based methods that emphasize rote memorization rather than critical thinking and problem-solving. This limits students’ ability to develop scientific literacy, particularly in applying microbiological concepts to analyze real-world environmental and health-related issues. Studies that specifically explore the utilization of probiotic products made from local plants as learning media in an effort to improve science literacy, especially in the field of biology, are still relatively limited. This study aims to investigate the effect of implementing contextual based learning through the utilization of probiotic drinks made from Balinese salak fruit (Salacca zalacca) on improving students science literacy in microbiology topics. This research is a pre-experimental study with One Group Pretest-Posttest design with a total sample of 60 people. Data analysis in this study was Paired Sample T-Test. The results of the analysis showed a significant increase in the average value of the pretest (65.91) and posttest (80.75). Contextual approach through the integration of Balinese salak fruit probiotic drink in microbiology learning proved effective in improving students’ science literacy significantly (p < 0.001). This approach contributes significantly to the improvement of student’s literacy, connection with the local context, and the ability to apply scientific concepts in everyday life.Abstrak. Pembelajaran mikrobiologi di pendidikan tinggi masih didominasi oleh metode konvensional berbasis ceramah yang menekankan hafalan dibandingkan pemikiran kritis dan pemecahan masalah. Hal ini membatasi kemampuan mahasiswa dalam mengembangkan literasi sains, terutama dalam mengaplikasikan konsep mikrobiologi untuk menganalisis permasalahan nyata di bidang lingkungan dan kesehatan. Kajian yang secara spesifik mengeksplorasi pemanfaatan produk probiotik berbahan dasar tanaman lokal sebagai media pembelajaran dalam upaya meningkatkan literasi sains, khususnya dalam bidang biologi, masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan pembelajaran berbasis pendekatan kontekstual dengan memanfaatkan minuman probiotik dari buah salak Bali (Salacca zalacca) terhadap peningkatan literasi sains mahasiswa pada topik mikrobiologi. Penelitian ini merupakan studi pre-eksperimen dengan desain One Group Pretest-Posttest dengan jumlah sampel sebanyak 60 orang. Analisa data dalam penelitian ini adalah Paired Sample T-Test. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada nilai rata-rata pretest (65,91) dan posttest (80,75). Pendekatan kontekstual melalui integrasi minuman probiotik buah salak Bali dalam pembelajaran mikrobiologi terbukti efektif dalam meningkatkan literasi sains mahasiswa secara signifikan (p < 0,001). Pendekatan ini memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan literasi mahasiswa, keterkaitan dengan konteks lokal, serta kemampuan mengaplikasikan konsep ilmiah dalam kehidupan sehari-hari.