cover
Contact Name
Hery Fajeriadi
Contact Email
heryfaje@gmail.com
Phone
+6285332834301
Journal Mail Official
bioinoved@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl. Brigjend. H. Hasan Basry, Gedung Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat, Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Bio-Inoved : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan
ISSN : 26849062     EISSN : 27149803     DOI : -
Core Subject : Education,
Bio-Inoved: The Journal of Biology-Educational Innovation [p-ISSN 2684-9062] publishes scientific articles on the results of biology education research and innovations (Focus and Scope). Articles are written by following the manuscript writing rules (Author Guidelines). This journal is published twice a year, in April and October.
Articles 287 Documents
Evaluation of biology practicum implementation: Analysis of achievement of science process skills, literacy numeracy and conceptual understanding St. Syahirah; Bambang Supriatno; Nuryani Rustaman
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 3 (2025): October 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i3.22387

Abstract

Science process skills (SPS) are fundamental for 21st-century education, as they foster students’ reasoning, inquiry competence, and conceptual understanding. In biology learning, SPS play a central role in cultivating scientific literacy and preparing students with critical thinking and problem-solving abilities required in the global era. Yet, international assessments such as PISA consistently show that Indonesian students perform below the OECD average in scientific literacy, indicating weaknesses in evidence-based reasoning and application of scientific concepts. This problem is often linked to teacher-centered instruction and limited implementation of inquiry-based laboratory activities in schools. This study investigates the implementation of SPS in biology practicum through interviews with teachers and analysis of laboratory activity documents from five public senior high schools in Makassar. A qualitative descriptive method was applied, focusing on indicators such as observation, classification, prediction, data interpretation, hypothesis formulation, experimental planning, communication, and concept application. The results reveal that observation and interpretation are partially practiced but lack structured guidance and do not encourage student autonomy. Other skills, including classification, prediction, hypothesis formulation, experimental planning, and communication, are rarely emphasized because students mostly follow predetermined procedures. The findings conclude that biology practicum has not effectively supported SPS development, reinforcing students’ low scientific literacy. Strengthening inquiry-based learning and enhancing teacher professional development are recommended to improve laboratory pedagogy and foster meaningful, student-centered science learning.Abstrak. Keterampilan proses sains (KPS) merupakan aspek fundamental dalam pendidikan abad ke-21 karena berperan penting dalam menumbuhkan penalaran, kompetensi inkuiri, dan pemahaman konsep peserta didik. Dalam pembelajaran biologi, KPS menjadi kunci untuk mengembangkan literasi sains sekaligus mempersiapkan siswa dengan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah yang dibutuhkan pada era global. Namun, asesmen internasional PISA secara konsisten menunjukkan bahwa capaian literasi sains siswa Indonesia berada di bawah rata-rata OECD, yang mencerminkan kelemahan dalam penalaran berbasis bukti dan penerapan konsep ilmiah. Kondisi ini sering dikaitkan dengan pembelajaran berpusat pada guru serta keterbatasan penerapan praktikum berbasis inkuiri di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implementasi KPS dalam kegiatan praktikum biologi melalui analisis wawancara dengan guru biologi dan dokumen kegiatan laboratorium (DKL) di lima sekolah menengah atas negeri di Makassar. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan fokus pada kelengkapan dan kedalaman indikator KPS, seperti mengamati, mengklasifikasi, memprediksi, menafsirkan data, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengomunikasikan, dan menerapkan konsep. Hasil menunjukkan bahwa keterampilan mengamati dan menafsirkan sudah diterapkan namun belum terstruktur dan kurang mendorong kemandirian siswa. Sementara itu, keterampilan lain seperti klasifikasi, prediksi, dan perumusan hipotesis masih jarang dilatihkan. Perencanaan eksperimen dan komunikasi ilmiah juga terbatas karena siswa hanya mengikuti prosedur yang tersedia. Disimpulkan bahwa pendekatan praktikum saat ini belum mendukung pengembangan KPS secara menyeluruh. Diperlukan penerapan model pembelajaran berbasis inkuiri serta pelatihan profesional guru untuk meningkatkan pedagogi laboratorium dan pembelajaran yang berorientasi pada siswa.
Parallel curriculum model: An evaluation on students’ academic achievement and motivation in profession of education course Wiwit Artika; Dewi Andayani; Maulida Maulida; Hendra Yulisman
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i1.20920

Abstract

A suitable teaching model and strategy are essential to enhance student motivation and learning in the classroom, following the semester program evaluation meeting results in the biology education department for the 2023/2024 academic year. The Parallel Curriculum Model (PCM) is a curriculum framework designed to provide appropriately challenging and differentiated learning experiences that increase intellectual engagement. This experimental design study explores PCM’s impact on student learning outcomes, identifies the PCM parallel group with the highest achievement, and assesses its effect on student motivation. The participants included 78 students enrolled in the Profession of Education course. Academic avhievement was evaluated through case analysis-based pre- and post-test essays, analyzed using t-tests, while motivation was measured with the ARCS motivation model, then categorized by levels. Findings reveal that PCM positively influenced student performance, and motivation levels were high. This suggests that using PCM as a teaching strategy can be an effective alternative to enhance students’ academic success. Moreover, incorporating ARCS motivation principles into curriculum design can contribute to more dynamic learning environments and improved academic results.Abstrak. Model dan strategi pengajaran yang tepat sangat penting untuk meningkatkan motivasi dan pembelajaran siswa di kelas, sebagai tindak lanjut dari hasil evaluasi program semester di departemen pendidikan biologi tahun akademik 2023/2024. Parallel Curriculum Model (PCM) adalah kerangka kurikulum yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang menantang dan terdiferensiasi secara tepat, yang dapat meningkatkan keterlibatan intelektual siswa. Penelitian dengan desain eksperimen ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak PCM terhadap hasil belajar siswa, mengidentifikasi kelompok paralel PCM dengan pencapaian tertinggi, serta menilai pengaruhnya terhadap motivasi siswa. Partisipan dalam penelitian ini adalah 78 mahasiswa yang terdaftar dalam mata kuliah Profesi Pendidikan. Pencapaian akademik dievaluasi melalui esai pre-test dan post-test berbasis analisis kasus, yang kemudian dianalisis dengan uji t, sementara motivasi diukur dengan model motivasi ARCS dan dikategorikan berdasarkan tingkatannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PCM memiliki pengaruh positif terhadap kinerja akademik siswa, dan tingkat motivasi siswa berada pada kategori tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan PCM sebagai strategi pengajaran dapat menjadi alternatif efektif untuk meningkatkan prestasi akademik siswa. Selain itu, penerapan prinsip-prinsip motivasi ARCS dalam desain kurikulum dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis dan meningkatkan hasil akademik.
Development of SETS e-module on endocrine system material to improve scientific literacy and learning independence of high school students Mahbengi Niate; Paidi Paidi
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.21357

Abstract

The level of scientific literacy, learning independence, and student learning outcomes in the endocrine system material are still relatively low. This indicates the need for the development of teaching materials that are able to produce scientific concepts in everyday life and encourage active student participation. This study aims to develop a SETS (Science, Environment, Technology, and Society)-based e-module that is feasible, practical, and effective in improving scientific literacy and learning independence. The study used the Research and Development (R&D) method with the ADDIE development model consisting of five stages: analysis, design, development, implementation, and evaluation. The subjects of the study consisted of 64 grade XI MIPA students at SMA Negeri 1 Mlati. Data collection techniques included interviews, questionnaires, and tests, with descriptive and inferential data analysis using MANOVA. The results showed that the SETS-based e-module was feasible, practical, and effective. The MANOVA test showed a significance value of 0.00 (p <0.05), while the N-gain results showed an increase in scientific literacy of 0.320 and learning independence of 0.460, both of which were in the moderate category. The results of this study provide scientific evidence that the application of the SETS approach through e-modules has a positive impact on students' science literacy and learning independence in biology. This study recommends that SETS e-modules can be used as alternative teaching materials in biology learning and opportunities for further research to develop SETS e-modules for other subjects.Abstrak. Tingkat literasi sains, kemandirian belajar, dan hasil belajar siswa pada materi sistem endokrin masih tergolong rendah. Hal ini menunjukkan perlunya pengembangan bahan ajar yang mampu menghasilkan konsep sains dalam kehidupan sehari-hari serta mendorong partisipasi aktif siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan e-modul berbasis SETS (Science, Environment, Technology, and Society) yang layak, praktis, dan efektif dalam meningkatkan literasi sains dan kemandirian belajar. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE yang terdiri atas lima tahap: analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Subjek penelitian terdiri dari 64 siswa kelas XI MIPA di SMA Negeri 1 Mlati. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, angket, dan tes, dengan analisis data secara deskriptif dan inferensial menggunakan MANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-modul berbasis SETS tergolong layak, praktis, dan efektif. Uji MANOVA menunjukkan nilai signifikansi 0,00 (p < 0,05), sedangkan hasil N-gain menunjukkan peningkatan literasi sains sebesar 0,320 dan kemandirian belajar sebesar 0,460, keduanya termasuk kategori sedang. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah berupa bukti bahwa penerapan pendekatan SETS melalui e-modul berdampak positif terhadap literasi sains dan kemandirian belajar siswa pada topik biologi. Penelitian ini merekomendasikan bahwa e-modul SETS dapat dijadikan alternatif bahan ajar pada pembelajaran biologi dan peluang untuk penelitian selanjutnya mengembangkan e-modul SETS pada materi lainnya.
Enhancing high school students’ critical thinking skills through the flipped-guided inquiry learning model with concept mapping Sulfahmi Mursalim; Susriyati Mahanal; Hendra Susanto
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.22131

Abstract

Critical thinking is a key 21st century skill vital for students’ academic and professional development. Preliminary studies at SMA Negeri 1 Singosari indicate that students' critical thinking skills are moderate and need improvement. This study examines the effect of the flipped-guided inquiry learning (FGIL) model integrated with concept mapping on the critical thinking skills of 11th-grade students. A quasi-experimental design with a nonequivalent control group was applied, involving pre- and post-tests. The critical thinking test comprised six essay items evaluated using Ennis’s rubric. ANCOVA results (p < 0.05) demonstrated a significant difference in performance among the FGIL-concept map group, FGIL-only group, and guided inquiry group. The FGIL model with concept maps showed the most substantial improvement. These findings suggest the potential of integrating concept mapping into flipped-guided inquiry to enhance students’ critical thinking in biology education.Abstrak. Berpikir kritis merupakan keterampilan utama abad ke-21 yang sangat penting bagi perkembangan akademis dan profesional siswa. Studi pendahuluan di SMA Negeri 1 Singosari menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa tergolong sedang dan perlu ditingkatkan. Studi ini mengkaji pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terbalik (FGIL) yang diintegrasikan dengan pemetaan konsep terhadap keterampilan berpikir kritis siswa kelas 11. Desain kuasi-eksperimental dengan kelompok kontrol non-ekuivalen diterapkan, yang melibatkan tes pra dan pasca. Tes berpikir kritis terdiri dari enam item esai yang dievaluasi menggunakan rubrik Ennis. Hasil ANCOVA (p < 0,05) menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam kinerja antara kelompok peta konsep FGIL, kelompok hanya FGIL, dan kelompok inkuiri terbimbing. Model FGIL dengan peta konsep menunjukkan peningkatan yang paling substansial. Temuan ini menunjukkan potensi mengintegrasikan pemetaan konsep ke dalam inkuiri terbimbing terbalik untuk meningkatkan pemikiran kritis siswa dalam pendidikan biologi.
Evaluating the scientific accuracy and pedagogical approaches in biodiversity content of secondary school textbooks: A cross-publisher study Herawati, Desti; Munandar, Rifki Risma; Ganeswara, Muhamad Ginanjar; Nurafsari, Isna
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 8, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v8i1.22518

Abstract

This study analyzes how biodiversity is represented in secondary school biology textbooks from both government and private publishers. The focus of the research is on evaluating their alignment with the national curriculum, the scientific accuracy of biodiversity concepts, and their ability to foster critical thinking. The research employs a descriptive content analysis approach using the Four Steps Teaching Material Development (4S TMD) method, limited to the selection stage. The sample consists of one government-published and one private-published biology textbook commonly used in Grade X of Secondary School, selected from a survey of 45 schools in Bogor Regency. The results show key differences: government textbooks provide a more accurate, comprehensive view of biodiversity and are better aligned with the curriculum, offering real-world ecological examples. They also promote inquiry-based learning and critical thinking. On the other hand, private textbooks offer more superficial coverage with conceptual errors, focusing on rote memorization and theoretical knowledge. These findings suggest that government textbooks are better suited for fostering a deep understanding of biodiversity, while private textbooks may limit students' ability to engage with the topic. The study calls for improved quality of textbook biodiversity content better to support students' learning and awareness of ecological issues. Future research could explore the impact of these textbook differences on student outcomes.Abstrak. Penelitian ini menganalisis bagaimana keanekaragaman hayati diwakili dalam buku teks biologi sekolah menengah atas yang diterbitkan oleh penerbit pemerintah dan swasta. Fokus penelitian ini adalah mengevaluasi kesesuaiannya dengan kurikulum nasional, akurasi ilmiah konsep keanekaragaman hayati, dan kemampuannya dalam mengembangkan pemikiran kritis. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis konten deskriptif dengan metode Four Steps Teaching Material Development (4S TMD), yang dibatasi pada tahap seleksi. Sampel terdiri dari satu buku teks biologi yang diterbitkan oleh pemerintah dan satu buku teks yang diterbitkan oleh penerbit swasta, yang umum digunakan di Kelas X Sekolah Menengah Atas, dipilih dari survei 45 sekolah di Kabupaten Bogor. Hasil menunjukkan perbedaan signifikan: buku teks pemerintah memberikan gambaran yang lebih akurat dan komprehensif tentang keanekaragaman hayati, serta lebih selaras dengan kurikulum, dengan contoh-contoh ekologi dunia nyata. Mereka juga mendorong pembelajaran berbasis penemuan dan pemikiran kritis. Di sisi lain, buku teks swasta menawarkan cakupan yang lebih permukaan dengan kesalahan konseptual, berfokus pada hafalan dan pengetahuan teoretis. Temuan ini menyarankan bahwa buku teks pemerintah lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman mendalam tentang keanekaragaman hayati, sementara buku teks swasta mungkin membatasi kemampuan siswa untuk terlibat dengan topik tersebut. Studi ini menyerukan peningkatan kualitas konten keanekaragaman hayati dalam buku teks untuk mendukung pembelajaran dan kesadaran siswa terhadap isu-isu ekologi. Penelitian masa depan dapat mengeksplorasi dampak perbedaan buku teks ini terhadap hasil belajar siswa.
Project-based learning on environmental change to enhance numeracy skills and environmental awareness to support SDGs 13 Tari Anjani; Wiwit Artika; Rahmah Johar; Andi Ulfa Tenri Pada; M. Ali Sarong
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 3 (2025): October 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i3.23334

Abstract

Numeracy skills and an environmental care attitude are essential competencies for environmental sustainability, yet both are currently low among students. This study aimed to: (1) analyze the enhancement of students' numeracy skills, (2) evaluate the improvement of their environmental care attitude through a project-based learning model, and (3) determine differences in these competencies based on gender.  A quantitative approach with a pretest-posttest control group experimental design was employed. The sample comprised 32 tenth-grade students selected via purposive sampling. The t-test analysis showed a significant difference between the experimental and control groups (Sig. 2−tailed<0.05), confirming the effectiveness of project-based learning (PjBL) in improving numeracy and environmental care attitude. Furthermore, significant gender differences were observed, males scored higher in numeracy, while females scored higher in environmental care attitude. These findings affirm the importance of integrating numeracy and environmental issues into learning as a tangible strategy to support SDG 13. The project-based learning model is effective in improving environmental data analysis skills and climate mitigation awareness. This model is recommended for fostering students who are critical thinkers and possess pro-environmental behavior.Abstrak. Kemampuan numerasi dan sikap peduli lingkungan merupakan dua kompetensi esensial dalam mendukung keberlanjutan lingkungan, namun keduanya masih rendah di kalangan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis peningkatan kemampuan numerasi siswa, (2) mengevaluasi peningkatan sikap peduli lingkungan melalui model pembelajaran berbasis proyek, dan (3) mengetahui perbedaan kompetensi tersebut berdasarkan gender. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen pretest-posttest control group. Sampel penelitian terdiri atas 32 siswa kelas X SMA Negeri Modal Bangsa yang dipilih melalui purposive sampling. Instrumen penelitian berupa tes numerasi dan angket. Hasil analisis uji-t menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol (Sig. 2-tailed < 0,05), yang menegaskan efektivitas pembelajaran berbasis proyek (PjBL) dalam meningkatkan kemampuan numerasi dan sikap peduli lingkungan. Selain itu, ditemukan perbedaan signifikan berdasarkan gender, yaitu siswa laki-laki memperoleh skor rata-rata lebih tinggi pada kemampuan numerasi, sedangkan siswa perempuan memperoleh skor rata-rata lebih tinggi pada sikap peduli lingkungan. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi numerasi dan isu lingkungan dalam pembelajaran sebagai strategi nyata mendukung SDG 13. Pembelajaran berbasis proyek efektif meningkatkan kemampuan analisis data lingkungan dan kesadaran mitigasi iklim. Model ini direkomendasikan untuk membentuk peserta didik yang berpikir kritis dan berperilaku pro-lingkungan.
Systematic literature review: STEM integrated biology learning based on 21st century learning models Devi Mayuko Saragih; Slamet Suyanto; Nasrianus Sera; Sarah Rapma Kristina Sitanggang
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i1.21061

Abstract

Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) is an integrated approach in the 21st century that aims to develop learners' soft skills and form human resources through 4C skills, namely critical thinking, creative, innovative, communicative and collaborative where the learning process is based on real-life problems. The STEM approach combined with the 21st century learning model can help students in optimising learning outcomes and forming character as human resources with 4C skills. This study aims to examine STEM-integrated biology learning in Problem-Based Learning (PBL) and Project-Based Learning (PjBL) learning models and provide an overview of education in the STEM approach over the past decade at all levels of education in Indonesia. This research used a systematic literature review (SLR) method adapted from the PRISMA model. The results of this study reveal some interesting facts and findings related to the STEM approach in PBL and PjBL models, that student skills and learning outcomes also affect the approach, model and learning media used in biology learning. STEM integration is able to overcome problems in learning biology through scientific phenomena and real-world applications that support the learning process. This research suggests developing and deepening findings in the field of STEM biology in order to achieve optimal, quality and relevant learning outcomes by harmonising the demands of future scientific and technological developments.Abstrak. Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) merupakan pendekatan terintegrasi di abad 21 yang bertujuan untuk mengembangkan soft skill peserta didik dan membentuk sumber daya manusia melalui kecakapan 4C yaitu berpikir kritis, kreatif, inovatif, komunikatif dan, kolaboratif dimana proses pembelajarannya berbasis masalah dalam kehidupan nyata. Pendekatan STEM yang dipadukan dengan model pembelajaran abad 21 dapat membantu peserta didik dalam mengoptimalisasi hasil belajar dan membentuk karakter sebagai sumber daya manusia dengan kecakapan 4C. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pembelajaran biologi terintegrasi STEM dalam model pembelajaran Problem-Based Learning (PBL) dan Project-Based Learning (PjBL) serta memberikan gambaran pendidikan dalam pendekatan STEM selama satu dekade terakhir pada semua jenjang pendidikan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur sistematis (SLR) yang diadaptasi dari model PRISMA. Hasil kajian ini mengungkapkan beberapa fakta dan temuan menarik terkait pendekatan STEM dalam model PBL dan PjBL, bahwa keterampilan dan hasil belajar siswa turut berpengaruh pada pendekatan, model hingga media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran biologi. Integrasi STEM mampu mengatasi permasalahan dalam pembelajaran biologi melalui fenomena ilmiah dan aplikasi dunia nyata yang menunjang proses pembelajaran. Penelitian ini menyarankan untuk mengembangkan dan memperdalam temuan di bidang biologi STEM agar tercapainya hasil belajar yang optimal, berkualitas dan relevan dengan menyelaraskan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan datang.
Revealing the impact of scientific culture understanding on students’ biological literacy: The role of digital mindfulness and local wisdom literacy Asham Bin Jamaluddin; Muhiddin Palennari; Adnan Adnan; Evrialiani Rosba
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 3 (2025): October 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i3.22668

Abstract

The low level of biological literacy among students shows the importance of exploring and integrating the dimensions of scientific, cultural and digital understanding in learning. This study aims to analyze the influence of scientific culture understanding on students' biological literacy, by exploring the mediating role of digital mindfulness and local wisdom literacy. The study used a quantitative approach with an explanatory design and Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) analysis. The sample consisted of 495 biology education students from three universities in Makassar, selected using a purposive sampling technique. The research instrument was a four point Likert scale closed questionnaire to measure four main constructs. The results of the analysis showed that scientific culture understanding had a significant effect on biological literacy directly and indirectly through digital mindfulness and local wisdom literacy. The strongest relationship was found between scientific culture understanding and local wisdom literacy, while the contribution of digital mindfulness was weak but significant. The R² value for biological literacy of 0.440 indicated a moderate model contribution. The conclusion of this study emphasizes the importance of integrating cultural, technological, and scientific approaches in biology learning in higher education. This study provides theoretical contributions to the development of local context based scientific literacy as well as practical recommendations for educators and policy makers in designing quality and effective curricula.Abstrak. Rendahnya tingkat literasi biologi di kalangan mahasiswa menunjukkan pentingnya untuk mengeksplorasi dan mengintegrasikan dimensi pemahaman sains, budaya dan digital dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh scientific culture understanding terhadap literasi biologi mahasiswa, dengan mengeksplorasi peran mediasi dari digital mindfulness dan literasi kearifan lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori dan analisis Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Sampel terdiri dari 495 mahasiswa pendidikan biologi dari tiga universitas di Makassar, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa angket tertutup skala Likert empat poin untuk mengukur empat konstruk utama. Hasil analisis menunjukkan bahwa scientific culture Understanding berpengaruh signifikan terhadap literasi biologi secara langsung, maupun tidak langsung melalui digital mindfulness dan literasi kearifan lokal. Hubungan paling kuat ditemukan antara scientific culture Understanding dan literasi kearifan lokal, sedangkan kontribusi digital mindfulness tergolong lemah namun signifikan. Nilai R² untuk literasi biologi sebesar 0.440 mengindikasikan kontribusi model yang moderat. Kesimpulan penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi pendekatan budaya, teknologi, dan ilmiah dalam pembelajaran biologi di pendidikan tinggi. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis terhadap pengembangan literasi sains berbasis konteks lokal serta rekomendasi praktis bagi pendidik dan pengambil kebijakan dalam merancang kurikulum yang berkualitas dan efektif.
Practicality test of SaLDI biology learning model integrated with TPACK on biology materials Suhardi Aldi; Adnan Adnan; Andi Asmawati Azis
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.22322

Abstract

The existing learning models in biology education still have limitations in practically integrating technology, pedagogy, and content, often resulting in passive student learning and suboptimal critical thinking development. Therefore, it is necessary to explore and test the feasibility of biology learning models, specifically TPACK-integrated SaLDI biology learning model, in creating active and student-centred biology learning that aligns with the demands of the 21st century. The purpose of this study was to test the practicality of the SaLDI learning model integrated with TPACK. This type of research is descriptive quantitative which tests the practicality of the TPACK-integrated SaLDI biology learning model. The population in this study were all students and teachers who participated in Biology learning at SMAN 14 Makassar which became the research location. The sampling technique used was random sampling, as many as 32 students and 2 teachers. The instrument used was student and teacher response questionnaire. The instrument that has been developed is used to collect data on the practicality of the TPACK-integrated SaLDI biology learning model. The data generated was then analysed quantitatively. Based on the results of the study, it can be seen that the practicality of the TPACK-integrated SaLDI learning model, as viewed from the perspective of teachers and students, is very practical. The conclusion of this study is that this learning model is very practical to use by teachers and students. This practicality encourages more effective, interactive, and adaptive Biology learning. The suggestion of this research is that it is still necessary to test the implementation of the TPACK-integrated SaLDI learning model on a wider scale.Abstrak. Model pembelajaran yang ada dalam pendidikan biologi masih memiliki keterbatasan dalam mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan konten secara praktis, seringkali mengakibatkan pembelajaran peserta didik yang pasif dan pengembangan pemikiran kritis yang kurang optimal. Oleh karena itu, perlu untuk mengeksplorasi dan menguji kelayakan model pembelajaran biologi dalam hal ini adalah SaLDI yang terintegrasi dengan TPACK dalam menciptakan pembelajaran biologi yang aktif dan berpusat pada peserta didik sesuai dengan tuntutan abad ke-21. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji kepraktisan model pembelajaran SaLDI terintegrasi TPACK. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif yang menguji kepraktisan model pembelajaran Biologi SaLDI terintegrasi TPACK. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik dan guru yang mengikuti pembelajaran Biologi di SMAN 14 Makassar yang menjadi lokasi penelitian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu random sampling, sebanyak 32 peserta didik dan 2 guru. Instrumen yang digunakan adalah angket respon peserta didik dan guru. Instrumen yang telah dikembangkan digunakan untuk pengumpulan data kepraktisan model pembelajaran Biologi SaLDI terintegrasi TPACK. Data yang dihasilkan kemudian dianalisis secara kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian menggambarkan bahwa tingkat kepraktisan model pembelajaran SaLDI terintegrasi TPACK ditinjau dari kepraktisan guru dan peserta didik tergolong sangat praktis. Kesimpulan penelitian ini yaitu model pembelajaran ini sangat praktis digunakan oleh guru dan peserta didik. Kepraktisan ini mendorong pembelajaran Biologi yang lebih efektif, interaktif, dan adaptif. Saran penelitian ini yaitu masih perlu menguji implementasi model pembelajaran SaLDI terintegrasi TPACK pada skala lebih luas.
Students' collaboration skills and communication skills through research mini project learning Fitri Wijarini; Ibrahim Ibrahim; Nursia Nursia
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 3 (2025): October 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i3.22704

Abstract

Twenty-first century skills require students not only to master theoretical knowledge but also to work effectively and communicate ideas clearly in various contexts. Based on this condition, two key competencies are needed to meet these demands: collaborative skills and communication skills. Collaboration is essential for enabling students to work in teams to solve complex problems, while effective communication supports students in expressing ideas, arguing logically, and building productive professional interactions. This study is important as it aims to examine the extent to which mini research project-based learning can develop students’ collaborative and communication skills. The research employed a quantitative descriptive approach with a sample of 40 students. The study was conducted over three trials. Data on collaborative skills were collected using a questionnaire instrument as the primary data and observation sheets as supplementary data, while communication skills were measured using observation sheets. The results showed that students’ collaborative skills improved from the first to the third trial, and similarly, their communication skills also increased across the three trials. The findings of this study are expected to contribute to the development of more contextual, collaborative, and communicative learning models and serve as a reference for improving the quality of learning processes in higher education.Abstrak. Keterampilan abad 21 menuntut mahasiswa tidak hanya menguasai pengetahuan secara teoritis, namun juga mampu bekerja secara efektif dan dapat menyampaikan ide secara jelas dalam berbagai konteks. Berdasarkan kondisi ini, diperlukan dua kompetensi untuk menjawab kebutuhan tersebut, yakni keterampilan kolaboratif dan keterampilan komunikasi. Kolaborasi diperlukan agar mahasiswa mampu bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah yang kompleks, sedangkan komunikasi yang efektif mendukung mahasiswa dalam menyampaikan gagasan, berargumentasi secara logis, dan membangun interaksi profesional yang produktif. Penelitian ini penting dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji sejauh mana pembelajaran berbasis proyek mini riset dapat mengembangkan keterampilan kolaborasi dan keterampilan komunikasi mahasiswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 40 mahasiswa. Penelitian dilakukan sebanyak tiga kali ulangan. Pengambilan data keterampilan kolaboratif menggunakan instrumen angket sebagai data utama dan lembar observasi sebagai data tambahan. Sedangkan keterampilan komunikasi menggunakan lembar observasi. Hasil penelitian membuktikan bahwa keterampilan kolaboratif mahasiswa mengalami peningkatan dari ulangan ke satu hingga ulangan ke tiga begitu juga dengan keterampilan komunikasi mahasiswa, mengalami peningkatan dari ulangan ke satu hingga ulangan ke tiga. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan model pembelajaran yang lebih kontekstual, kolaboratif, komunikatif, serta menjadi rujukan dalam peningkatan kualitas proses pembelajaran di perguruan tinggi.