cover
Contact Name
Hery Fajeriadi
Contact Email
heryfaje@gmail.com
Phone
+6285332834301
Journal Mail Official
bioinoved@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl. Brigjend. H. Hasan Basry, Gedung Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat, Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Bio-Inoved : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan
ISSN : 26849062     EISSN : 27149803     DOI : -
Core Subject : Education,
Bio-Inoved: The Journal of Biology-Educational Innovation [p-ISSN 2684-9062] publishes scientific articles on the results of biology education research and innovations (Focus and Scope). Articles are written by following the manuscript writing rules (Author Guidelines). This journal is published twice a year, in April and October.
Articles 287 Documents
Needs analysis for the development of ARVR-based teaching materials to support biodiversity literacy in Sebangau National Park Fathul Zannah; Rahmatullah Rahmatullah; Muqor Rama Hasanah; Erni Yaya; Muhammad Noor Fitriyanto; Tety Zelisa
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.20028

Abstract

Central Kalimantan is one of the regions in Indonesia that has high biodiversity, but unfortunately, this biodiversity is now threatened by various human activities and forest fires, which still frequently affect forests in Indonesia. In this study, we focus on analyzing teacher and student perceptions about the development of ARVR-based teaching materials, especially to support biodiversity literacy. The research method used was a qualitative descriptive design. Data collection was carried out by distributing questionnaires to two junior high school teachers and twenty junior high school students in Palangkaraya City, Central Kalimantan. The collected data were analyzed using descriptive analysis. The results of this research show that teachers have never developed their own teaching materials, especially ARVR-based materials that discuss rare plants and animals in Sebangau National Park, while students believe that the use of ARVR-based teaching materials will make learning activities more interesting. This research concludes that the development of ARVR-based teaching materials is a very important effort based on teacher and student perceptions, and it is important to continue in future research to develop the materials and test their effectiveness.Abstrak. Kalimantan Tengah merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, namun sayangnya keanekaragaman hayati tersebut kini mulai terancam oleh berbagai aktivitas manusia dan kebakaran hutan yang masih sering melanda hutan-hutan di Indonesia. Dalam penelitian ini kami fokus untuk menganalisis persepsi guru dan siswa tentang pengembangan bahan ajar berbasis ARVR, khususnya untuk mendukung literasi keanekaragaman hayati. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 2 orang guru SMP dan kepada 20 siswa SMP di kota Palangkaraya Kalimantan Tengah. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru belum pernah mengembangkan sendiri bahan ajar khususnya bahan ajar berbasis ARVR yang membahas tentang tumbuhan dan satwa langka di taman nasional sebangau, sedangkan siswa berpendapat bahwa penggunaan bahan ajar berbasis ARVR akan membuat kegiatan belajar menjadi lebih menarik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengembangan bahan ajar berbasis ARVR sangat penting dilakukan berdasarkan persepsi guru dan siswa dan penting untuk dilanjutkan pada penelitian selanjutnya untuk mengembangkan bahan ajar tersebut dan menguji efektivitasnya pada penelitian selanjutnya.
Development of an e-module for eco-enzyme production in biotechnology learning using the SETS approach oriented toward problem-solving skills Nila Permatasari; Sajidan Sajidan; Umi Fatmawati
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 3 (2025): October 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i3.23689

Abstract

Theoretical and less contextual biotechnology learning often hinders students' problem-solving skills. This research aims to develop and test the feasibility and practicality of an eco-enzyme production e-module with a SETS (Science, Environment, Technology, and Society) approach oriented toward problem-solving skills. Development followed the ADDIE model, but evaluation was limited to expert validation and practicality testing, without conducting a full experimental effectiveness test. The participants consisted of 3 science teachers and 64 ninth-grade students from a public junior high school in Baki District, Sukoharjo. Data were collected using a needs analysis questionnaire, expert validation sheets (for materials and media), user response questionnaires, and problem-solving skills instruments adapted from Polya and Santrock. Quantitative data were analyzed descriptively to determine the feasibility and practicality percentages. Validity testing was conducted using item-total correlation, and reliability was assessed using Cronbach's alpha. Qualitative input from experts and users was analyzed descriptively for product improvement. The results show that the e-module is highly feasible, with scores of 91.1% from content experts and 86.9% from media experts. The practicality test was also very high, with 94.5% from teachers and 86.9% from students. These findings suggest that the e-module is both valid and practical, and is designed to enhance problem-solving skills in biotechnology learning.Abstrak. Pembelajaran bioteknologi yang bersifat teoretis dan kurang kontekstual seringkali membatasi keterampilan pemecahan masalah siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan serta mengevaluasi kelayakan dan kepraktisan e-modul produksi eco-enzyme dengan menggunakan pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society) yang berorientasi pada keterampilan pemecahan masalah. Pengembangan mengikuti model ADDIE dengan evaluasi yang difokuskan pada validasi ahli dan uji kepraktisan, tanpa melakukan uji efektivitas eksperimen secara penuh. Partisipan penelitian terdiri atas 3 guru IPA dan 64 siswa kelas IX dari salah satu SMP negeri di Kecamatan Baki, Sukoharjo. Pengumpulan data menggunakan angket analisis kebutuhan, lembar validasi ahli materi dan media, angket respons pengguna, serta instrumen keterampilan pemecahan masalah yang diadaptasi dari Polya dan Santrock. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif untuk menentukan skor kelayakan dan kepraktisan, dengan validitas diuji menggunakan korelasi item–total dan reliabilitas menggunakan Cronbach’s alpha. Umpan balik kualitatif dari ahli dan pengguna dianalisis secara deskriptif untuk perbaikan produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-modul sangat layak, dengan skor 91,1% dari ahli materi dan 86,9% dari ahli media. Uji kepraktisan juga menunjukkan hasil sangat tinggi, yaitu 94,5% dari guru dan 86,9% dari siswa. Temuan ini menegaskan bahwa e-modul valid dan praktis, serta berpotensi meningkatkan keterampilan pemecahan masalah siswa dalam pembelajaran bioteknologi.
The use of fern herbarium as a project and learning material in project-based learning to improve learning outcome Dea Fitri Natasya; Entin Daningsih; Anisyah Yuniarti
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i1.20826

Abstract

Herbarium is a plant specimen used by experts to identify plants; however, it can also be used as teaching concept. Skill and knowledge are needed in making herbarium to produce standard herbarium giving good description and easy for identification. Unfortunetely, herbarium project is rarely used to improve skill and plant identifications knowledge for students. This study aimed to determine the skills of students in making herbarium and training students to identify plants through the PjBL model. In addition, this study aimed to compare the learning outcomes of students making herbarium taught with the PjBL model (experimental class) with the Direct Instructions model (control class). The method was quasi experiment with Nonequivalent Control Group Design. Instruments were test questions and learning tools such as teaching modules, student worksheet, herbarium, and assessment sheets for the evaluation students' attitudes and skills that have been validated by 2 validators using the Guttman scale. Identification of herbarium made by experimental class students referred to standard herbarium of research results in Hutan Lindung Gunung Raya, as learning material, while the control class used literature such as internet. Implementation of learning was in accordance to the stages PJBL or DI. Herbarium made by experimental class students was more accurate in identification and description compared to those of control class herbarium. PjBL also improved student cognitive, psychomotor, and affective significantly. This indicates that the use of other environment-based projects can be developed in PjBL and provides more opportunities for students to explore ways out of a problem.  Abstrak. Herbarium adalah spesimen tumbuhan yang digunakan oleh para ahli untuk mengidentifikasi tumbuhan; tetapi juga dapat digunakan sebagai konsep pembelajaran.  Keterampilan dan pengetahuan dibutuhkan dalam pembuatan herbarium untuk menghasilkan herbarium standar yang memberikan deskripsi yang baik dan mudah diidentifikasi. Syangnya, proyek herbarium jarang digunakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan identifikasi bagi peserta didik. Studi ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan peserta didik dalam membuat herbarium dan melatih peserta didik untuk mengidentifikasi tumbuhan melalui model PjBL. Selain itu, studi ini bertujuan membandingkan hasil belajar peserta didik diajar dengan model PjBL (kelas eksperimen) dengan model Direct Instructions (kelas kontrol). Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan Nonequivalent Control Group Design. Instrumen adalah soal tes dan perangkat pembelajaran seperti modul ajar, lembar kerja peserta didik, herbarium, dan lembar penilaian untuk evaluasi sikap dan keterampilan peserta didik yang sudah divalidasi oleh 2 orang validator menggunakan skala Guttman. Identifikasi herbarium yang dibuat oleh peserta didik kelas eksperimen mengacu herbarium standar hasil dari penelitian di Hutan Lindung Gunung Raya, sebagai bahan ajar, sementara pada kelas kontrol peserta didik mengacu literatur seperti internet. Implementasi pembelajaran dilakukan sesuai dengan sintaks PJBL atau DI. Herbarium yang dibuat oleh peserta didik pada kelas eksperimen lebih akurat dalam identifikasi dan deskripsi dibandingkan dengan herbarium dari kelas kontrol. PjBL juga meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik secara signifikan.  Ini mengindikasikan bahwa penggunaan proyek lain berbasis lingkungan dapat dikembangkan dalam PJBL dan memberikan kesempatan lebih banyak kepada peserta didik menggali jalan keluar dari sebuah masalah.
The potential of a project-based ethno-STEM biotechnology e-module to promote students’ critical and creative thinking skills Subagja Agustinus; Anna Permanasari; Eni Nuraeni; Indarini Dwi Pursitasari
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 3 (2025): October 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i3.21690

Abstract

ology education in secondary schools is predominantly theoretical, abstract, and lacks relevance to the local context, making it difficult for students to understand the concepts and resulting in weak critical and creative thinking skills. This study investigates the current state of biotechnology education in high schools, focusing on students' critical thinking and creativity, as well as the integration of local wisdom through the Ethno-STEM approach. The objectives of this preliminary study are: 1) to assess students’ critical and creative thinking skills in biotechnology, 2) to identify challenges faced by teachers and students, 3) to explore the integration of local wisdom, and 4) to provide recommendations for developing project-based e-modules. Survey and interview results show that 70% of teachers report students struggling to analyze biotechnology issues, 60% observe low creativity, and 80% note minimal integration of local wisdom. Additionally, 65% of students find it difficult to solve complex problems, and 70% feel the material lacks real-life relevance. These findings were obtained through a descriptive qualitative approach using surveys and interviews, and analyzed through thematic interpretation and descriptive statistics to provide a deeper understanding of the needs and development potential of the e-module. This emphasizes the need for a project-based approach that integrates local wisdom to improve critical and creative thinking skills. This study recommends developing project-based e-modules that integrate local wisdom to engage students and enhance their problem-solving skills, become a foundation for future research and the development of more contextual and creative learning methods.Abstrak. Pembelajaran bioteknologi di sekolah menengah dominan bersifat teoretis, abstrak, dan kurang berkaitan dengan konteks local, sehingga peserta didik kesulitan memahami konsep, serta lemahnya keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Penelitian ini mengkaji kondisi pembelajaran bioteknologi di SMA, dengan fokus pada keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa, serta integrasi kearifan lokal melalui pendekatan Ethno-STEM. Tujuan dari penelitian pendahuluan ini adalah: 1) menilai keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa dalam pembelajaran bioteknologi, 2) mengidentifikasi tantangan yang dihadapi guru dan siswa, 3) mengeksplorasi potensi integrasi kearifan lokal, dan 4) memberikan rekomendasi pengembangan e-modul berbasis proyek. Hasil survei dan wawancara menunjukkan bahwa 70% guru melaporkan kesulitan siswa dalam menganalisis isu bioteknologi, 60% mengamati rendahnya kreativitas, dan 80% mencatat minimnya penerapan kearifan lokal. Selain itu, 65% siswa merasa kesulitan memecahkan masalah kompleks, dan 70% merasa materi tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Temuan ini diperoleh melalui pendekatan deskriptif kualitatif dengan menggunakan survei dan wawancara, serta dianalisis melalui interpretasi tematik dan statistik deskriptif untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai kebutuhan dan potensi pengembangan e-modul. Hal tersebut menegaskan perlunya pendekatan berbasis proyek yang mengintegrasikan kearifan lokal untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan e-modul berbasis proyek yang mengintegrasikan kearifan lokal untuk meningkatkan keterlibatan siswa dan keterampilan pemecahan masalah, menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya dan pengembangan metode pembelajaran yang lebih kontekstual dan kreatif.
Innovation of science student worksheet on biology material to enhance junior high school students’ critical thinking skills Fahmi Fahmi; Hery Fajeriadi; Yudha Irhasyuarna; Yuyun Eka Yulianti; Herman Herman
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.21665

Abstract

Most of the worksheets currently used by students are unable to develop their critical thinking skills due to misconceptions about the content, a lack of meaningful activities, and incompatibility with the demands of the 21st century curriculum. This study aims to test the effectiveness of science worksheets on biology material in improving students' critical thinking skills. The study uses a formative evaluation approach with the Tessmer model, which consists of five stages: self-evaluation, expert review, one-to-one evaluation, small group, and field test. Data collection was conducted using validation instruments, observation sheets, and critical thinking skill tests. The results of the study indicate that the developed student worksheets are very valid, practical, and effective in enhancing students' critical thinking skills in learning science concepts in biology. Thus, these developed student worksheets have the potential to be used in science education for biology topics. These findings highlight the potential of such worksheets as an alternative learning tool aligned with the curriculum and 21st-century competencies, offering conceptual and practical value for enhancing effective science education that improves students' critical thinking skills.Abstrak. Sebagian besar lembar kerja peserta didik yang digunakan saat ini belum mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa karena miskonsepsi konten, minimnya aktivitas bermakna, dan ketidaksesuaian dengan tuntutan kurikulum abad ke-21. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hingga efektivitas lembar kerja peserta didik IPA pada materi biologi dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan evaluasi formatif dengan model Tessmer yang terdiri atas lima tahapan, yaitu self-evaluation, expert review, one-to-one evaluation, small group, dan field test. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen validasi, lembar observasi keterlaksanaan, dan tes keterampilan berpikir kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembar kerja peserta didik yang dikembangkan memperoleh kategori sangat valid, praktis, dan efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik dalam belajar konsep IPA pada materi biologi. Dengan demikian, lembar kerja peserta didik yang dikembangkan ini berpotensi untuk digunakan dalam pembelajaran IPA materi biologi. Temuan ini menyoroti potensi lembar kerja semacam itu sebagai alat pembelajaran alternatif yang selaras dengan kurikulum dan kompetensi abad ke-21, menawarkan nilai konseptual dan praktis untuk meningkatkan pendidikan sains yang efektif meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik.
Enhancing numeracy literacy in embryology: Validity and practicality of augmented reality media for gametogenesis M. Arsyad; Muhammad Zaini; Amalia Rezeki; Ika Wardani; Muhammad Iqbal Trinajah; Muhammad Aldy Nurrachman
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 3 (2025): October 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i3.23741

Abstract

Augmented reality (AR) offers immersive visualization that can transform learning of abstract biological processes. Yet, its pedagogical integration with mathematical thinking in higher education remains limited. This study developed AR media for gametogenesis to enhance students’ numeracy literacy. Integrating mathematical thinking into AR media is essential to strengthen students’ ability to interpret biological data quantitatively. According to OECD’s PISA results, Indonesia’s mathematics score (366) remains below the global average (472), consistent with findings showing that most students’ literacy levels fall within low to moderate categories. This study is a development research using a descriptive quantitative approach adapted from the Lee & Owens model. AR gametogenesis media were developed using Blender and Assemblr EDU, featuring spermatogenesis content and numeracy exercises based on six numeracy literacy indicators. Validation was conducted by three experts (content, language, and media), and practicality testing involved 14 Biology Education students from Lambung Mangkurat University. Data were analyzed using validity and practicality formulas. Results indicated that the media achieved “very valid” ratings in content, presentation, and graphics, and was considered practical in design, ease of use, and usefulness. Therefore, the AR gametogenesis media integrated with mathematical thinking is valid, practical, and beneficial for improving Biology Education students’ numeracy literacy.Abstrak. Augmented reality (AR) menawarkan visualisasi imersif yang dapat mengubah pembelajaran proses biologis yang abstrak. Namun, integrasi pedagogisnya dengan berpikir matematis dalam pendidikan tinggi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengembangkan media AR untuk gametogenesis untuk meningkatkan literasi numerasi siswa. Mengintegrasikan berpikir matematis ke dalam media AR sangat penting untuk memperkuat kemampuan siswa dalam menafsirkan data biologis secara kuantitatif. Menurut hasil PISA OECD, skor matematika Indonesia (366) masih di bawah rata-rata global (472), konsisten dengan temuan yang menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat literasi siswa berada dalam kategori rendah hingga sedang. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif yang diadaptasi dari model Lee & Owens. Media gametogenesis AR dikembangkan menggunakan Blender dan Assemblr EDU, yang menampilkan konten spermatogenesis dan latihan numerasi berdasarkan enam indikator literasi numerasi. Validasi dilakukan oleh tiga ahli (konten, bahasa, dan media), dan uji praktikalitas melibatkan 14 mahasiswa Pendidikan Biologi dari Universitas Lambung Mangkurat. Data dianalisis menggunakan rumus validitas dan praktikalitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tersebut mencapai peringkat "sangat valid" dalam hal konten, presentasi, dan grafis, serta dinilai praktis dalam hal desain, kemudahan penggunaan, dan kegunaan. Oleh karena itu, media gametogenesis AR yang terintegrasi dengan pemikiran matematika valid, praktis, dan bermanfaat untuk meningkatkan literasi numerasi mahasiswa Pendidikan Biologi.
Development of local-based biology teaching modules: Conservation of Tapanuli orangutans (Pongo tapanuliensis) in the Batang Toru area as support for biodiversity material Linawati Linawati; Panut Hadisiswoyo; Syarifah Widya Ulfa; Zulfiana Herni
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 1 (2025): February 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i1.20841

Abstract

In the 21st century, innovation is needed in the development of learning media that is not only academically valid, but also easy to use by teachers and students and effective in increasing understanding of biodiversity and conservation. Tapanuli Orangutan conservation is a field survey activity to find out about the protection of orangutans in their natural habitat. This study aimed to develop a Biology module based on the conservation of the Tapanuli Orangutan (Pongo tapanuliensis) in the Batang Toru area as a support for valid, practical, and effective Biodiversity material. The module was developed with the 4D development model by Thiagarajan (Define, Design, Develop & Disseminate) The instruments used in the study were in the form of a questionnaire sheet analyzing the needs of Biology teachers and students, material expert validation sheet, media expert validation sheet, Biology teacher response questionnaire and students to measure the ability to use presest and posttest. The validation results show that the module is included in the valid criteria with validity in media experts 78.75% and material experts 92.30% so it is feasible to use in Biology learning. The results of the response questionnaire showed that the module was included in the very practical criteria with practicality in the Biology teacher's response of 100% and the students' response of 96%. The module is included in the effective criteria with an N-gain achievement of 0.81. Based on these results it can be concluded that the module that has been developed is declared feasible to use in learning Biology. So that the resulting module can be an innovative teaching material for teachers and can be used in the learning process and future research.Abstrak: Pada abad 21 ini diperlukan inovasi dalam pengembangan media pembelajaran yang tidak hanya valid secara akademik, tetapi juga mudah digunakan oleh guru dan siswa serta efektif dalam meningkatkan pemahaman terhadap biodiversitas dan konservasi. Konservasi Orangutan Tapanuli merupakan kegiatan survei lapangan guna mengetahui tentang perlindungan Orangutan di habitat aslinya. Penelitian ini ditujukan untuk mengembangkan modul Biologi berbasis konservasi Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang ada di daerah Batang Toru sebagai penunjang materi Biodiversitas yang valid, praktis, dan efektif. Modul dikembangkan dengan model pengembangan 4D oleh Thiagarajan (Define, Design, Develov & Disseminate) Instrumen yang digunakan pada penelitian adalah berupa lembar angket analisis kebutuhan guru Biologi dan peserta didik, Iembar validasi ahli materi, lembar validasi ahli media, angket respon guru Biologi dan peserta didik untuk mengukur kemampuan menggunakan presest dan posttest. Hasil validasi menunjukkan bahwa modul termasuk dalam kriteria valid dengen kevalidan pada ahli media 78,75% dan ahli materi sebesar 92,30% sehingga layak digunakan dalam pembelajaran Biologi. Hasil angket respon menunjukkan bahwa modul termasuk dalam kriteria sangat praktis dengan kepraktisan pada respon guru Biologi sebesar 100% dan respon peserta didik sebesar 96%. Modul termasuk dalam kriteria efektif dengan capaian N-gain sebesar 0,81. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa modul yang telah dikembangkan dinyatakan layak digunakan dalam pembelajaran Biologi. Sehingga modul yang dihasilkan dapat menjadi bahan ajar yang inovatif bagi guru serta dapat digunakan dalam proses pembelajaran dan penelitian kedepannya.
Investigating the relationship between metacognitive and critical thinking skills in preservice teachers: Insights from predict-observe-explain and direct instruction learning models Shefa Dwijayanti Ramadani; Bea Hana Siswati; Serafica Btari Christiyani Kusumaningrum
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 3 (2025): October 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i3.23591

Abstract

Metacognitive and critical thinking skills are widely recognized as essential components of higher-order thinking and play a key role in supporting academic success and lifelong learning. However, research exploring the interplay between these skills has often been conducted partially. This study aims to: (1) investigate the relationship between metacognitive and critical thinking skills within the active learning strategy Predict-Observe-Explain (POE) and direct instruction learning models (DI); and (2) analyze differences in the metacognitive and critical thinking skills scores of students taught with POE and DI learning strategies. A quantitative research method with a correlational design was used in this study. Data were collected from essay tests integrated with metacognitive and critical thinking skills rubrics at the end of the implementation of learning in classes that apply POE and DI. The data obtained were then analyzed using regression and t-tests. The results indicate a positive, strong, and significant relationship between metacognitive skills and critical thinking in both learning models. Additionally, the average critical thinking scores were significantly higher in the POE model than in DI, while there was no significant difference in students’ metacognitive skills. These findings suggest that constructivist-based POE learning can effectively promote critical thinking. Consequently, educators are encouraged to incorporate POE into instructional practices to support the development of metacognitive and thinking skills among students.Abstrak. Keterampilan metakognitif dan berpikir kritis telah dikenal luas sebagai komponen penting dari kemampuan berpikir tingkat tinggi, serta memiliki peranan kunci untuk mendukung keberhasilan akademis maupun kemampuan belajar sepanjang hayat. Akan tetapi, penelitian yang mengeksplorasi interaksi antara keterampilan ini sering kali dilakukan secara parsial. Penelitian bertujuan untuk mengkaji hubungan antara keterampilan metakognitif dan berpikir kritis pada strategi pembelajaran aktif Predict-Observe-Explain (POE) dan pembelajaran langsung (DI), serta membandingkan efektivitas kedua strategi pembelajaran dalam menumbuhkan keterampilan tersebut. Metode penelitian eksperimental dengan desain korelasional digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan dari tes esai yang diintegrasikan dengan rubrik keterampilan metakognitif dan berpikir kritis pada akhir pelaksanaan pembelajaran di kelas yang menerapkan POE dan pembelajaran langsung. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan regresi dan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif, kuat, dan signifikan antara keterampilan metakognitif dan berpikir kritis pada implementasi kedua model pembelajaran. Adapun rerata skor keterampilan berpikir kritis secara signifikan lebih tinggi pada pembelajaran yang menerapkan POE dibandingkan model pembelajaran langsung, sementara keterampilan metakognitif mahasiswa tidak berbeda signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi POE yang berbasis konstruktivisme dapat secara efektif meningkatkan pemikiran kritis. Oleh karenanya, pendidik diharapkan untuk mengintegrasikan POE ke dalam praktik pengajaran untuk mendukung pengembangan keterampilan metakognitif dan berpikir kritis siswa.
Problem based learning on wetland socioscientific issue: A pathway to enhance scientific literacy and collaborative skill Nurul Hidayati Utami; Kaspul Kaspul; Aminuddin Prahatama Putra; Bunda Halang; Amalia Rezeki
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.22143

Abstract

Addressing the demands of 21st-century competencies, this study analyzed the influence of integrating Problem-Based Learning (PBL) with Socio-scientific Issues (SSI) on students' cognitive learning outcomes in Biology and examined its effectiveness in enhancing students' collaboration skills, particularly within the context of South Kalimantan's wetland ecosystems. Employing a quasi-experimental pretest-posttest design involving 120 students from MAN 2 and SMA 11 Banjarmasin, data were collected using validated instruments. Results from the Wilcoxon Signed-Rank test indicated a significant improvement in scientific literacy (p < 0.001), while the Mann-Whitney U test revealed a significant enhancement in collaboration skills (p < 0.001) within the PBL-SSI group compared to direct instruction. These findings affirm that PBL-SSI effectively addresses the limitations of traditional models in developing essential 21st-century competencies. This approach specifically fosters active learning, teamwork, and concurrently enhances student engagement and environmental awareness. It is concluded that integrating SSI into PBL creates a more meaningful and impactful learning experience, equipping students to tackle complex socio-scientific problems in the future.Abstrak. Menjawab tuntutan kompetensi abad ke-21, penelitian ini menganalisis pengaruh integrasi Problem-Based Learning (PBL) dengan Socio-scientific Issues (SSI) terhadap hasil belajar kognitif siswa dalam Biologi dan menguji efektivitasnya dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi siswa, khususnya dalam konteks ekosistem lahan basah Kalimantan Selatan. Menggunakan desain kuasi-eksperimen pretest-posttest dengan 120 siswa dari MAN 2 dan SMA 11 Banjarmasin, data dikumpulkan melalui instrumen tervalidasi. Hasil uji Wilcoxon Signed-Rank menunjukkan peningkatan signifikan pada literasi sains (p < 0.001), sementara uji Mann-Whitney U mengindikasikan peningkatan signifikan pada keterampilan kolaborasi (p < 0.001) dalam kelompok PBL-SSI dibandingkan instruksi langsung. Temuan ini menegaskan bahwa PBL-SSI secara efektif mengatasi keterbatasan model tradisional dalam mengembangkan kompetensi abad ke-21. Pendekatan ini secara spesifik mendorong pembelajaran aktif, kerja tim, serta meningkatkan keterlibatan siswa dan kesadaran lingkungan. Disimpulkan bahwa integrasi SSI ke dalam PBL menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan berdampak, menyiapkan siswa menghadapi masalah sosio-ilmiah kompleks di masa depan.
Development of gamification-based e-module on global warming material for grade X Novita Resti; Kusnadi Kusnadi; Amprasto Amprasto
BIO-INOVED : Jurnal Biologi-Inovasi Pendidikan Vol 7, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Master Program of Biology Education, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bino.v7i2.22110

Abstract

Although electronic modules offer interactivity, the integration of gamification remains limited, particularly for topics such as global warming in high school biology. This gap highlights the need for teaching materials that align with the demands of the digital era and the characteristics of modern learners. This study aims to develop a gamification-based e-module on global warming, determine the feasibility of the developed e-module, and assess student responses. This research is of the Research and Development (R&D) type using the 4D model, limited to the development stage. The instruments used in this study include interview sheets and environmental literacy questions in the define stage, the e-module design blueprint in the design stage, content feasibility validation sheets, graphic design and language validation sheets, as well as student response questionnaires in the development stage. The results of this research are as follows: (1) the feasibility of the gamification-based e-module in terms of content has a score of 85.49, categorized as "very feasible," (2) the feasibility in terms of graphic design has a score of 91.16, categorized as "very feasible," (3) the feasibility in terms of language has a score of 87.27, categorized as "very feasible," (4) the average student response score is 91.11, with 89% of students giving a positive response to the e-module, and (5) the gamification-based e-module on global warming is highly feasible to be used in the learning process. This study has both theoretical and practical implications. Theoretically, the gamification-based e-module opens opportunities for the development of more interactive learning materials that can enhance environmental literacy and learning motivation. Practically, this e-module serves as an engaging alternative in science education, particularly in biology, and can be further developed by teachers for various subjects and educational levels.Abstrak. Meskipun modul elektronik menawarkan interaktivitas, integrasi gamifikasi masih terbatas, terutama untuk topik seperti pemanasan global dalam biologi SMA. Kesenjangan ini menyoroti kebutuhan akan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan era digital dan karakteristik pembelajar modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan e-module berbasis gamifikasi pada materi pemanasan global, mengetahui kelayakan dari e-module yang dikembangkan dan respon peserta didik. Jenis penelitian ini adalah Research and Development (R&D) dengan menggunakan model 4D yang dibatasi hanya sampai pada tahap development. Instrumen pada penelitian ini adalah lembar wawancara, lembar validasi kelayakan isi materi, kegrafikan dan bahasa serta angket respon. Hasil penelitian yaitu; (1) kelayakan e-module berbasis gamifikasi pada aspek kelayakan isi adalah 85,49 dengan kategori “sangat layak”, (2) kelayakan pada aspek kegrafikan mendapatkan nilai 91,16 dengan kategori “sangat layak”, (3) kelayakan pada aspek bahasa sebesar 87,27 dengan kategori “sangat layak”, (4) nilai rata-rata respon peserta didik yaitu sebesar 91,11 dengan 89% peserta didik memberikan respon positif terhadap e-module (5) e-module berbasis gamifikasi pada materi pemanasan global sangat layak digunakan dalam proses pembelajaran. Penelitian ini memiliki implikasi baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis, e-module berbasis gamifikasi membuka peluang untuk pengembangan bahan ajar yang lebih interaktif yang dapat meningkatkan literasi lingkungan dan motivasi belajar peserta didik. Secara praktis, e-module ini berfungsi sebagai alternatif menarik dalam pendidikan sains, khususnya biologi, dan dapat dikembangkan lebih lanjut oleh guru untuk berbagai mata pelajaran dan jenjang pendidikan.