cover
Contact Name
Baharuddin
Contact Email
-
Phone
+6285288492636
Journal Mail Official
dirasatjournal@gmail.com
Editorial Address
Jl. I Gusti Ngurah Rai, No. 39, Bulak, Klender, Jakarta Timur
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Dirasat: Jurnal Studi Islam dan Peradaban
ISSN : 19078099     EISSN : -     DOI : -
Dirasat: Jurnal Studi Islam dan Peradaban is an academic journal published twice yearly by Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Indonesia Jakarta. It is a multi-disciplinary publication dedicated to all aspects of Islam and the Islamic world. Contributions from scholars of related disciplines are welcomed.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 44 Documents
Karakter Sufistik Pemikiran Al-Ghazali Tentang Metode Reward dan Punishment dalam Pendidikan Islam Miftahuddin Miftahuddin
DIRASAT: Jurnal Studi Islam dan Peradaban Vol 15 No 01 (2020): Dirasat: Jurnal Studi Islam dan Peradaban
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1001/ds.v15i01.125

Abstract

Pendidikan merupakan instrument yang paling efektif dalam menanamkan dan mewariskan serta mengembangkan nilai-nilai luhur dan peradaban. Di antara unit sistem pendidikan itu ada tersedianya metode yang benar-benar teruji dalam berbagai karakter baik materi maupun subyek pendidikan itu. Ketepatan dalam memilih dan melaksanakan metode menjadi penentu utama keberhasilan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana reward dan punishment dalam perspektif pendidikan Islam berdasarkan karakter sufistik pemikiran Al-Ghazali. Penelitian ini menggunakan kajian kepustakaan atau literature (library research). Yang mana sumber-sumber data diambil dari beberapa buku lalu dianalisis dan diambil kesimpulannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode reward dan punishment merupakan metode yang paling akhir dipergunakan dalam menyampaikan pendidikan akhlak, karena adanya reward dan punishment merupakan akibat dari adanya sebab baik, sedang hukuman adalah akibat dari adanya sebab buruk. Imam al-Ghazali mengatakan: “tidak setuju dengan cepat-cepat menghukum seorang anak yang salah, melainkan berilah kesempatan untuk memperbaiki sendiri kesalahannya, sehingga ia menghormati dirinya dan merasakan akibat perbuatannya. Sanjung dan pujilah pula bila ia melakukan perbuatan-perbuatan yang terpuji yang harus mendapat ganjaran pujian dan dorongan”.
Peran KUA dalam Meminimalisir Kasus Pernikahan Dini Di Kecamatan Sukmajaya Kota Depok Tsania Kareema; Harry Pribadi Garfes
DIRASAT: Jurnal Studi Islam dan Peradaban Vol 15 No 01 (2020): Dirasat: Jurnal Studi Islam dan Peradaban
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1001/ds.v15i01.127

Abstract

Pernikahan dini atau yang biasa disebut sebagai pernikahan di bawah umur yaitu pernikahan yang dijalankan oleh orang yang belum mencapai batas usia minimal yang sudah ditetapkan oleh Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 sebagai pengganti dari Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang batas usia perkawinan. Letak kecamatan Sukmajaya berada di Kota Depok, meskipun berada di Kota tetap tidak menutup kemungkinan terjadinya pernikahan dini. Adapun maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran dari Kantor Urusan Agama dalam meminimalisir pernikahan dini di Kecamatan Sukmajaya, hal ini mengingat kasus pernikahan dini yang terdata atau tidak terdata semakin banyak dilingkungan kecamatan tersebut, sehingga, perlu adanya solusi dan peran yang nyata dalam mengatasi persoalan pernikahan dini yang ditakutkan akan memiliki dampak buruk dalam hubungan rumah tangga, karena pasangan yang menikah dini tersebut belum memiliki kematangan mental serta tidak memiliki pengatahuan yang cukup untuk membina rumah tangga, selanjutnya penelitian ini juga ingin melihat faktor yang mempengaruhi terjadinya pernikahan dini dan bagaimana dampak dari pernikahan dini di Kecamatan Sukmajaya. Jenis penelitian penelitian kualitatif ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan lapangan guna mengumpulkan data-data primer melalui wawancara dengan kepala KUA dan penghulu KUA serta pihak lain yang dirasa perlu, sedangkan data sekundernya yaitu pengumpulan dokumen atau buku referensi yang dapat menunjang penulis dalam menarik kesimpulan. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan yaitu: peran KUA Kecamatan Sukmajaya dalam meminimalisir pernikahan dini sudah baik, mulai dari menerapkan Pembatasan Usia Perkawinan sampai dengan melakukan bimbingan perkawinan bagi calon pengantin. Adapun dampak yang dihasilkan dari pernikahan dini sangat beragam, kebanyakan dampak tersebut memiliki efek yang berbahaya, baik bagi orang tua maupun anak yang dihasilkan dari pernikahan dini. Faktor yang mempengaruhinya pun beragam, baik itu datangnya dari diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya.
Pendidikan Islam Perspektif M. Natsir Ahmad Dahlan Sunardi
DIRASAT: Jurnal Studi Islam dan Peradaban Vol 15 No 02 (2020): Dirasat: Jurnal Studi Islam dan Peradaban
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1001/ds.v15i02.115

Abstract

Mohammad Natsir, kita lebih banyak mengenal tokoh ini sebagai tokoh dakwah dan politik di Indonesia, karena memang pemikiran dan perjuangan beliau lebih banyak dalam ranah tersebut. Tetapi ditelisik lebih jauh, tokoh ini memiliki andil besar juga dalam ranah pendidikan Indonesia yang jarang diketahui banyak orang, sehingga pada tulisan ini mencoba untuk membuka khazanah dalam kaitannya dengan pendidikan Islam menurut pandangan Mohammad Natsir. Tulisan ini bertujuan untuk memperkenalkan salah satu tokoh besar bangsa, Mohammad Natsir dalam kaitannya dengan dunia pendidikan Islam, jenis penelitian kualitatif ini menggunakan metode penelitian kepustakaan, selanjutnya dalam teknik analisis, penulis menggunakan teknik analisis content yang sumber referensi primernya yaitu buku yang membahas tentang pemikiran Mohammad Natsir secara langsung. Setelah penulisan penelitian ini diselesaikan, amak kesimpulan yang di dapatkan yaitu: pemikiran dan perjuangan M. Natsir tidak hanya di bidang dakwah dan politik semata, tetapi beliau juga punya andil yang cukup besar di bidang pendidikan Islam di Indonesia, yang bisa dijadikan rujukan untuk memperbaiki sistem pendidikan yang telah ada. Menurut Mohammad Natsir, pendidikan Islam bukanlah pendidikan yang dikotomi antara jasmani dan rohani, antara dunia dan akhirat, tetapi seharusnya kedua hal itu bisa saling melengkapi, saling bersinergi untuk sama-sama mencapai tujuan pendidikan, yakni tujuan hidup manusia, yaitu menjadi hamba Allah yang berakidah dan berakhlak baik, serta sebagai khalifah Allah ﷻ dalam upaya memelihara dan memakmurkan bumi dengan syariat Allah ﷻ. Islam adalah agama keseimbangan, sebagaimana yang ditemui pada ayat dan hadits- dan sekaligus juga agama yang Rahmatan lil alamin, sehingga, pendidikan Islam harus didesain kurikulumnya sedemikian rupa yang mencakup ilmu agama dan ilmu umum. Sehingga para lulusan pendidikan Islam tidak hanya pandai dalam urusan akhirat, tapi juga bisa dalam urusan dunia, karena untuk bisa hidup di dunia dalam upaya memelihara dan memakmurkan bumi juga membutuhkan ilmu dunia.
Pendidikan Di Masa Pandemi Covid-19 Dian Wahyuni
DIRASAT: Jurnal Studi Islam dan Peradaban Vol 15 No 02 (2020): Dirasat: Jurnal Studi Islam dan Peradaban
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1001/ds.v15i02.116

Abstract

Pandemi Covid-19 sudah satu tahun lebih melanda dunia. Namun, hingga saat ini asal usul virus jenis baru yang menjadi penyebab penyakit Covid-19 masih misteri. Spekulasi awal mula munculnya virus Covid-19 memang masih simpang siur. Secara resmi memang virus Covid-19 ditemukan di Wuhan, Tiongkok, pada Desember 2019. Namun sebagian penelitian mengungkapkan virus ini muncul dari kelelawar atau bahkan adanya spekulasi soal kebocoran laboratorium di Wuhan juga sempat beredar. Penyakit Covid-19 telah menyebar hampir ke seluruh dunia, banyak masyarakat yang terkena penyakit ini dan tidak sedikit pula yang meninggal dunia. Pemerintah dan petinggi-petinggi negara segera mengambil keputusan untuk memutus mata rantai Covid-19 salah satunya dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang di lakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, di mana sekolah, tempat ibadah, pelayanan masyarakat, supermarket dll di batasi. Wabah Covid-19 mempengaruhi dan mengubah segala aspek dalam kehidupan kita. Yang biasa kerja di kantor, kini harus menerapkan work from home, atau bekerja dari rumah. Tidak terkecuali sekolah tinggi bahkan sekolah bagi anak-anak. Sudah beberapa bulan ini mereka melakukan pembelajaran daring dari rumah. Bagi mereka yang menjadi pelaku homeschooling, hal ini tentu tidak terlalu berpengaruh. Berbeda dengan mereka yang selama ini menikmati pembelajaran di ruang kelas bersama guru dan teman-teman. Sebenarnya, apa pembelajaran daring itu? Apa kelebihan dan kekurangan pembelajaran daring? lebih jelas nya akan di bahas dalam artikel dengan judul “Pendidikan Di Masa Covid-19”
Tau×Ôd Ahlussunnah Wal-Jamā’ah: Antara Imām Al-Asy‘Arī dan Ibn Taymiyyah Muhammad Imdad
DIRASAT: Jurnal Studi Islam dan Peradaban Vol 15 No 02 (2020): Dirasat: Jurnal Studi Islam dan Peradaban
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1001/ds.v15i02.118

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana al-Asy'arī dan Ibnu Taymiyyah merumuskan konsep tauÍÊd dengan menguraikan kesamaan dan perbedaan mereka. Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan dan teknik analisis deskriptif, penulis memaparkan hasil tulisan ini secara gamblang dari masing-masing pemikiran para tokoh. Adapun pembahasan dari penelitian ini yaitu: Secara umum, perbedaan antara keduanya tidak mengecualikan keduanya, dan pengikut mereka dari Ahlussunnah. Untuk itu, pemahaman ahlussunnah dan tolok ukurnya akan terlebih dahulu disebarkan. Dan kesimpulannya yaitu: Terdapat beberapa perbedaan yang dapat dicatat dari perbandingan kedua konsep tauÍÊd. Di antaranya, keduanya memberi penekanan berbeda dalam formulasi tauÍÊd. Konsep tauÍÊd Al-Asy‘arī, yang dalam pembentukannya lebih banyak merespon kemunculan aliran-aliran non ahlussunnah saat itu, lebih bersifat intelektual-rasional, suatu kecenderungan yang diwarisi oleh pengikutnya. Ibn Taymiyyah, di sisi lain, yang lebih banyak merespon kondisi internal Ahlussunnah wa ’l-JamÉ’ah pada zamannya, membangun konsep tauÍÊdnya secara relatif lebih detail dan lengkap, dengan menghubungkan aspek kognitif dan praktis. Perbedaan lainnya dapat dilihat dari cara pandang terhadap hubungan antara kata al-ilah dan al-rabb. Konsep tauÍÊd al-Asy‘arī menegaskan bahwa keduanya memiliki makna dasar berbeda tapi memiliki signifikansi (madlËl) yang sama sehingga tidak terbayangkan mengimani salah satunya beserta pengingkaran terhadap yang lain. Namun keduanya sepakat mengimani semua berita yang datangnya dari al-Quran dan hadits yang mendeskripsikan Sifat Allah swt tanpa hal itu berimplikasi pada penyamaan pada makhluk. Keduanya juga sepakat bahwa Allah swt Maha Esa, tak ada yang menyerupai-Nya dalam Sifat dan Nama-Nya, tak ada yang membantunya dalam mencipta dan mengatur seluruh makhluk. Di samping hal-hal lain yang dijelaskan dalam al-Quran dan hadits yang pasti makna dan transmisinya (qath‘iyu ’l-dalÉlah wa ’l-wurËd).
Al-Qur’an Sebagai Wahyu Allah, Muatan Beserta Fungsinya Muhammad Bestari
DIRASAT: Jurnal Studi Islam dan Peradaban Vol 15 No 02 (2020): Dirasat: Jurnal Studi Islam dan Peradaban
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1001/ds.v15i02.124

Abstract

Artikel yang berjeniskan kualitatif ini ditulis berdasarkan hasil studi kepustakaan penulis tentang al-Qur’an sebagai wahyu Allah, muatan beserta fungsinya, adapun tujuan dari penulisan penelitian ini adalah: (1) sebagai salah satu upaya menghilangkan keraguan tentang kemurnian al-Qur’an (2) menambah wawasan bagi umat islam tentang muatan beserta fungsi al-Qur’an (3) untuk memperkokoh keimanan terhadap rukun iman ke-3. Sumber data primernya adalah buku-buku yang mengulas mengenai kemukjizatan al-Qur’an sedangkan teknik analisis data dalam penulisan artikel ini menggunakan pola induktif dan deduktif. Dan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara membaca dan mentelaah seluruh sumber bacaan yang berkaitan dengan pembahasan penelitian kemudian mengklasifikasikan data yang terkumpul dan disusun secara sistematis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai penguat akidah umat Islam dan menjadikan al-Qur’an sebagai kitab tuntunan umat Islam. Secara definitif ulama berbeda pendapat mengenai definisi al-Qur’an, ada yang mengatakan Al-Qur’an termasuk isim musytaq dan ada pula yang mengatakan isim ghairu musytaq atau isim ‘alam. Mereka juga berselisih mengenai jumlah nama-nama Al quran, ada yang mengatakan 55 nama dan ada pula yang mengatakan 90 nama atau julukan. Sementara struktur Al-Qur’an meliputi juz, surat dan ayat sedangkan tinjauan khusus Al-Qur’an terdiri dari kata, huruf, baris, halaman dan qira’at. Al-Qur’an memuat berbagai hal yang berhubungan dengan kepentingan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, baik yang berkaitan dengan Tuhannya maupun dengan sesama manusia. Dengan demikian, Al-Qur’an bagi manusia berfungsi sebagai nasehat (mau’izhah), obat (syifa’), petunjuk (huda), rahmat, dan pembeda (furqan).
Membangun Peradaban Ilmu Al-Attas dan Istac Baharuddin Abd. Rahman
DIRASAT: Jurnal Studi Islam dan Peradaban Vol 15 No 02 (2020): Dirasat: Jurnal Studi Islam dan Peradaban
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1001/ds.v15i02.128

Abstract

Universitas Islam merupakan replika manusia paripurna (al-insān al-kāmil). Manusia paripurna berkulminasi pada diri Rasulullah saw. selanjutnya pada diri para pewaris ilmunya. Penelitian berikut bertujuan untuk mengekspos ide serta konsep institusi pendidikan tinggi Islam (lit. al-jāmi‘ah al-islamiyyah) yang dipropos dan dirangkaibina oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas. Pembahasan penelitian ini menyajikan tentang keunikan ISTAC dari berbagai aspek serta ciri khas dari ISTAC sendiri. Jenis tulisan ini merupakan kualitatif menggunakan pendekatan kepustakaan dengan sumber referensi primernya yaitu buku-buku atau bahan bacaan yang secara langsung mengulas tentang ISTAC yang didirikan Syed Muhammad Naquib al-Attas di Malaysia, sedangkan sumber sekundernya adalah seluruh bentuk referensi baik yang mengulas langsung atau hanya sebagai pelengkap keutuhan data dalam penyimpulannya. Selanjutnya teknik analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dengan memaparkan kejadian yang ada dan dituangkan kedalam tulisan ini. Setelah menyelesaikan tulisan ini, maka kesimpulan yang di dapatkan yaitu: institusi pendidikan tinggi Islam harus memiliki visi, misi, dan objektif yang jelas dimana pada gilirannya dapat melahirkan manusia yang beradab. Oleh karenanya, rangkaian kurikulum yang komprehensif yang di dalamnya memuat kurikulum ilmu fardu ain dan ilmu fardu kifayah harus terbingkai. Berdirinya ISTAC bukanlah semudah membalikkan telapak tangan, melainkan jihad ilmu yang melewati perjalanan panjang. Oleh karena ianya memerlukan desain, perenungan mendalam serta landasan filosofis yang jelas, terlebih visi dan misi serta objektif penubuhannya, baik secara fisik maupun spiritual. Keunikan ISTAC patut dijadikan sebagai epitome dari institusi pendidikan tinggi, khususnya yang berbasis Islam, mulai dari konsep fisik, struktur, konsep ilmu maupun tujuan, Sebagai epitome dari universitas Islam, ISTAC berhasil mencetak cendikia-cendikia Muslim melalui program kurikulum ilmu fardu ain dan ilmu fardu kifayah, dan ISTAC merupakan garda intelektual dalam membendung arus deras sekularisme dan sekularisasi melalui proyek besarnya yang dikenal dengan islamisasi ilmu kontemporer.
Pemikiran Yusuf Al-Qardhawi Mengenai Etika Ekonomi Islam Desy Mustika Ramadani; Sania Rakhmah
DIRASAT: Jurnal Studi Islam dan Peradaban Vol 15 No 02 (2020): Dirasat: Jurnal Studi Islam dan Peradaban
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1001/ds.v15i02.129

Abstract

Konsep ekonomi Islam sudah ada sejak kehadiran agama Islam di dunia ini. Menurut Yusuf al-Qardhawi : Ekonomi Islam adalah ekonomi yang berlandaskan ketuhanan. Sistem ini bersumber dari Allah SWT, bermaksud kepada Allah SWT, dan menggunakan hukum dari syariat Allah SWT. Kegiatan ekonomi seperti produksi, distribusi, konsumsi, impor, ekspor selalu berkaitan dengan ketuhanan dan bertujuan untuk Tuhan . Etika Ekonomi sangat perlu untuk disampaikan dalam era globalisasi yang seringkali mengabaikan nilai-nilai moral dan etika. Yusuf al-Qrdhawi dalam pandangannya yang moderat terlihat bahwa etika ekonomi yang beliau katakan merupakan bentuk pengetahuan ekonomi yang akan senantiasa menjaga keberlangsungan ekonomi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, definisi dari penelitian kualitatif menurut Saryono (2010), merupakan penelitian yang digunakan untuk mencari tahu, mengevaluasi, menemukan, menggambarkan, menjelaskan kualitas, atau keistimewaan dari pengaruh sosial yang tidak bisa dijelaskan, digambarkan melalui pendekatan kuantitatif. Sedangkan metode ilmiah yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (Library research), yaitu penelitian yang menggunakan data dan informasi yang didapatkan dari bermacam-macam materi yang ada dalam kepustakaan. Ekonomi Islam ditinjau dari aspek produksi bahwa semua manusia haruslah bekerja, berusaha sekuat tenaga dan juga berlomba-lomba dalam mencari kerja, karena kerja itu merupakan sebuah kewajiban dan juga merupakan kehormatan bagi dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat lainnya. Bekerja juga merupakan hak setiap manusia. Ditinjau dari aspek konsumsi, dalam menggunakan harta wajib dengan secukupnya, karena kepemilikan harta bukan menjadi tujuan yang utama melainkan merupakan jalan untuk menikmati karunia Allah SWT. Allah mewajibkan hambanya untuk membelanjakan hartanya dijalan yang baik. Ekonomi Islam yang ditinjau dari aspek distribusi, yang paling penting adalah kebebasan dan keadilan. Dalam hal kebebasan Islam menolak penindasan yang selalu membuat rakyat kecil sulit bernafas dan selalu mengendalikan rizki mereka. Yang kedua adalah keadilan, artinya menempatkan sesuatu pada tempat yang seharusnya.
Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jamā‘Ah A Semantic Analysis Baharuddin Abd Rahman
DIRASAT: Jurnal Studi Islam dan Peradaban Vol 16 No 01 (2021): Dirasat: Jurnal Studi Islam dan Peradaban
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1001/ds.v16i01.130

Abstract

Understanding about the meaning of “Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah” in the hadith which reads: "sa-Taftariqu 'Ummatī' alā Tsalātsatin wa Sab'īna Firqatin al-Nājiyatun Minhā Wāhidatan wa al-Bāqūna halkā," Qāla wa Man al-Nājiyah? Qāla: "Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah," Qīla wa Mā al-Sunnah wa al-Jamā‘ah ,? Qāla: "Mā Anā 'Alayhi wa Ashhābī" caused a polemic among Muslim scholars, not only among hadits scholars, but also among the kalām scholars. Using semantic analysis, this study found that the expression “ahl al-sunnah wa al-jamā‘ah” no longer refers to one of the groups of the kalām sect, it refers to those who follow the institutions of the prophet Muḥammad (may peace be upon him) and his shaḥābah. The breakers and heretics, they are no longer considered ahl al-sunnah wa al-jamā‘ah and gain salvation.
Pelatihan Dakwah Sebagai Metode Aktivitas Dakwah Di Majelis Taklim Babul Ibad Tg. Priok Jakarta Utara Endang Nurjanah; Yuni Ratna Dewi
DIRASAT: Jurnal Studi Islam dan Peradaban Vol 16 No 01 (2021): Dirasat: Jurnal Studi Islam dan Peradaban
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1001/ds.v16i01.131

Abstract

Dinamika keagamaan di tengah masyarakat mendorong berkembang nya lembaga kajian agama. Kondisi ini menuntut adanya sumberdaya da’i yang mumpuni baik secara kuantitas maupun kualitas. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan pelatihan dakwah. Dari pelatihan dakwah ini akan tersedia sumberdaya da’I dalam jumlah yang banyak dan jika dilaksanakan dengan baik maka akan tersedia sumberdaya da’i yang berkualitas. Majelis Taklim Babul Ibad merupakan salah satu penyelenggara pelatihan dakwah di tengah masyarakat sebagai respon dari meningkatnya jumlah remaja putri yang mengikuti pengajian rutin majelis taklim dan bercampur dengan ibu-ibu jamaah majelis taklim. Program pelatihan dakwah yang dilakukan telah direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa agar mencapai tujuan yang di tetapkan dari program pelatihan dakwah tersebut.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan pelatihan dakwah sebagai metode aktivitas dakwah serta mengeksplorasi hasil yang telah dicapai oleh program pelatihan dakwah di Majelis Taklim Babul Ibad. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan sifat dan jenis deskriftif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode observasi, dokumentasi dan wawancara dengan sumber penelitian penurus dan jamaah majelistaklim. Data yang terhimpun diperiksa kredibitilas sumber, teknik, dan waktu untuk kemudian dianalisis secara induktif dengan melakukan reduksi data, penyajian data hingga penarikan kesimpulan. Data yang ditemukan menunjukkan bahwa pelatihan dakwah yang dilaksanakan sangat terukur dan terencana dengan baik. Hal ini nampak dari dan ya visi, misi, dan tujuan, serta proses pelatihan yang berjenjang dengan materi-materi pelatihan yang disesuaikan pada setiap jenjangnya, yaitu: 1) Tingkat dasar dengan materi-materi dasar agama Islam disertai pelatihan untuk ceramah dan MC. 2) Tingkat persiapan dengan materi-materi agama Islam lainnya disertai pelatihan berpidato atau ceramah lebih intensif. 3) Tingkat lanjutan dengan materi pengembangan serta mulai diterjunkan kelapangan baik sebagai penceramah, MC, qari’, amil zakat, dan sebagainya.Pelatihan dakwah di Majelis Taklim Babul Ibad merupakan metode aktivitas dakwah yang nampak dari tiga metode pelatihan dakwah yang diterapkan, yaitu dalam dakwah dengan lisan, dakwah dengan tulisan, dan dakwah dengan tindakan. Pelatihan dakwah yang diselenggarakan belum mencapai hasil yang optimal, menimbang bahwa peserta pelatihan masih dalam tingkat dasar meskipun telah dilibatkan dalam kegiatan dakwah di lapangan. Hasil pelatihan paling nampak yang telah dicapai peserta pelatihan adalah meningkatnya keberanian dan percaya diri mereka untuk berbicara di depan umum.