cover
Contact Name
Baiq Lily Handayani
Contact Email
baiq.fisip@unej.ac.id
Phone
+6281237134801
Journal Mail Official
Entitas@unej.ac.id
Editorial Address
Jl. Kalimantan 37 Kampus Tegalboto Jember 68121
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Entitas Sosiologi
Published by Universitas Jember
ISSN : 20888260     EISSN : 27213323     DOI : https://doi.org/10.19184/jes
Jurnal Entitas Sosiologi (JES) merupakan ruang bagi diseminasi gagasan dalam lingkup kajian Sosiologi. Jurnal ini juga memberi ruang pada berbagai perspektif dalam sosiologi khususnya dalam mengembangkan ide-ide yang dapat mendorong transformasi masyarakat menuju masyarakat yang manju dan berkelanjutan. Jurnal Entitas Sosiologi (JES) menerima artikel berupa hasil riset, kajian, dan review buku yang mendukung penyebaran gagasan dan pengkayaan pengetahuan berbasis sosiologi.
Articles 117 Documents
Arisan Thalia: Gaya Hidup Para Sosialita Jember (Thalia Social Gathering: The Lifestyle of Jember Sociality) Purnamsari, Ita; Arifiyanti, Jati
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 9 No 1 (2020)
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v9i1.20788

Abstract

Thalia social gathering is the first upper-middle-class social gathering group in the Jember district. Their motivation for participating in social gathering activities is to expand social networks, add friends, and build symbols of self-existence. As members of the upper-middle-class social gathering, members of the Thalia group are very concerned about their appearance and fashion. They maintain their self-image and social class by using branded goods. The study wants to describe and analyze the meaning of social gathering activities as a lifestyle for socialites in Jember. This study uses a qualitative method with an ethnographic approach. The technique for determining informants is purposive sampling. This research found that the fulfillment of fashion needs sometimes makes them trapped in impulse buying, which causes them to be unable to put the brakes on shopping habits. It makes them trapped in a hedonic and wasteful lifestyle. Keywords: A Social Gathering, Jember Upper Middle Class, Fashion, Lifestyle, Hedonism. Arisan Thalia merupakan kelompok arisan kelas menengah atas pertama di Kabupaten Jember. Motivasi mereka untuk mengikuti kegiatan arisan yaitu untuk memperluas jaringan sosial, menambah teman dan membangun simbol eksistensi diri. Sebagai anggota arisan kelas menengah atas, para anggota kelompok Thalia sangat memperhatikan penampilan diri dan fashion yang dikenakan. Mereka menjaga citra diri dan kelas sosial mereka dengan menggunakan barang bermerek. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis makna kegiatan social gathering sebagai gaya hidup para sosialita di Jember. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik penentuan informan adalah purposive sampling. Penelitian ini menemukan bahwa adanya pemenuhan atas kebutuhan fashion terkadang membuat mereka terjebak dalam impulse buying yang menyebabkan mereka tidak dapat mengerem kebiasaan berbelanja. Hal ini membuat mereka terjebak dalam sebuah gaya hidup hedonis dan konsumtif.Kata Kunci: Arisan, Kelas Menengah Atas Jember, Fashion, Gaya Hidup, Hedonisme.
Rasionalitas Petani Ubi Jalar di Dusun Tlogosari Banyuwangi Anggara, Derry
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 10 No 01 (2021)
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v10i01.26957

Abstract

This study aims to determine and describe the rationality of farmers in improving the household economy by making sweet potato the main commodity in Tlogosari Banyuwangi Hamlet. This research uses a descriptive qualitative approach. Data collection techniques used was observation, in-depth interview, and literature study. Then, the determination of informants is using purposive sampling techniques. At the same time, the technique of testing the validity of the data uses source triangulation. The results showed that the rationality of farmers to switch to sweet potato commodities is its superiority compared to planting rice. These advantages are the ease of planting and maintaining, relatively short harvest time, making various products, and so forth. In addition, farmers cooperating with sauce factories in Sidoarjo and Bali as the last reason. The transition of farmers' commodities was initiated by one of the farmers, Mr. Ali, who succeeded in developing sweet potato farming while marketing its production. So that many farming communities follow Mr. Ali to plant sweet potatoes but not all farmers succeed. Such conditions are due to various factors namely the simultaneous harvest season, weather changes, and others. The conclusion in this research is that the various farmers' rationality is a strategy to increase the community's economy. Keywords : rationality, farmers, economy Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendiskripsikan rasionalitas petani dalam meningkatkan perekonomian rumah tangga dengan menjadikan ubi jalar sebagai komoditi utama di Dusun Tlogosari Banyuwangi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Kemudian, penentuan informan mengunakan teknik purposive sampling. Sedangkan Teknik menguji keabsahan data mengunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukan bahwa rasionalitas petani beralih ke komoditas ubijalar adalah keunggulannya dibanding menanam padi. Keunggulan tersebut adalah dari kemudahan menanam dan perawatannya, waktu panen yang relative singkat, dapat dibuat menjadi berbagai produk, dan lain sebagainya. Selain itu, juga disebabkan petani bekerjasama dengan pabrik saos di Sidoarjo dan Bali. Peralihan komoditas petani tersebut diprakarsai oleh salah satu petani yakni Pak Ali yang berhasil dalam mengembangkan pertanian ubi jalar sekaligus memasarkan hasil produksinya. Sehingga masyarakat petani banyak yang mengikuti pak Ali untuk menanam ubijalar. Akan tetapi tidak semua petani berhasil. Kondisi demikian disebabkan berbagai faktor yakni musim panen secara bersamaan, perubahan cuaca, dan lainnya. Kesimpulan dalam penelitian adalah berbagai rasionalitas petani merupakan strategi untuk meningkatkan perekonomiaan masyrakat. Kata kunci : rasionalitas, petani, ekonomi
Volunter Goes To School (Vogetos) : Sarana Kampanye Mitigasi Bencana di Sekolah Holidi, Holidi; Hidayat, Nurul
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 9 No 02 (2020)
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v9i02.26943

Abstract

This article discusses a new social movement carried out by Volunteers in Jember. In this case, the new social movement Volunteer goes to school. Volunteer Nusantara Jember is a disaster and humanitarian organization, making disaster and humanity the basis of its movement. Nusantara volunteers as an alternative solution to non-structural disaster mitigation and support for education and non-structural disaster mitigation, which is still lacking and is only seen from a budget perspective, an obstacle to disaster mitigation, especially in Jember and its surroundings. This article uses a qualitative descriptive participatory method to provide a detailed explanation of how the movement patterns carried out by Nusantara Jember Volunteers, using the theory of new social movements, to analyze data. This study provides an overview of how Jember Nusantara Volunteers have their campaigns in carrying out the process. Jember archipelago volunteers raised activities on education by making children aware of non-structural disaster mitigation. Focuses its movement on Sociopreneurship-based disaster mitigation applied in the work program, namely Volunteer goes To School (VOGETOS).Keywords: New Social Movements, Sociopreneurship, Disaster Mitigation, Volunteer Goes To School Artikel ini membahas tentang gerakan sosial baru yang dilakukan oleh Relawan di Jember. Dalam hal ini, gerakan sosial baru Volunteer goes to school. Relawan Nusantara Jember adalah organisasi Kebencanaan dan kemanusiaan yang menjadikan 2 aspek tersebut, yakni kebencanaan dan kemanusiaan sebagai basis gerakannya. Relawan Nusantara hadir sebagai solusi alternatif permasalahan mitigasi bencana non struktural dan pendukung pendidikan. Mitigasi bencana non struktural yang selama ini masih kurang dan hanya dilihat dari prespektif anggaran, menjadi kendala mitigasi bencana terutama di Jember dan sekitarnya. Artikel ini menggunakan metode kualitatif deskriptif partisipatif, karena bertujuan untuk memberikan penjelasan detail bagaimana pola gerakan yang dilakukan oleh Relawan Nusantara Jember. Penelitian ini menggunakan Teori gerakan sosial baru untuk menganalisa data dan memberikan gambaran tentang bagaimana Relawan Nusantara Jember memiliki gerakan tersendiri dalam melakukan proses kegiatan. Relawan nusantara Jember mengangkat kegiatan tentang pendidikan, dengan membuat kesadaran terhadap anak-anak tentang mitigasi bencana non struktural. Memfokuskan gerakannya pada mitigasi bencana berbasis Sociopreneurship yang diaplikasikan dalam Program kerja yakni Volunter goes To School ( VOGETOS ).Kata Kunci: Gerakan Sosial Baru, Sociopreneurship, Mitigasi Bencana, Volunteer Goes To School
Jaringan Distribusi dan Relasi Pasar Petani Kubis di Dataran Tinggi Ijen Zulfa, Qorina; Yuswadi, Hary
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 10 No 01 (2021)
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v10i01.26952

Abstract

The study entitled "Distribution Network and Market Relations of Cabbage Farmers in the Ijen Plateau" was motivated by Ijen farmers as the largest producer of cabbage vegetable commodity in the Horseshoe area (Jember, Lumajang, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso). Lack of market access, market information, and capital make it difficult for farmers to increase income. Access or distance from the city center or market also influences the difficulty of Ijen highland farmers to interact and relate with market actors. As a result, farmers are reluctant to connect and choose their marketing channel with the selling system to Traders who come before the harvest. It causes some farmers to experience dependence and passivity in attempting to maintain relations with market actors, even though in this felling system, as much as 40% of the farmers' harvest sales results become the property of Traders. The method used in this research is the descriptive qualitative method, using purposive informant retrieval techniques. Data collection techniques using observation, in-depth interviews, documentation, and literature study. Data validity test uses data triangulation. Overview of social capital theory from Puntu (1993) and rational choice theory from Jame S Coleman (1990). The results obtained from this study are that farmers can have a superior economic position if they have good marketing relations and are willing to sacrifice time and energy, and have sufficient funds for distribution. Hence, farmers have the opportunity to establish relationships with market actors so that they will get more profits. Keywords : Cabbage farmers, market relations, distribution Penelitian dengan judul “Jaringan Distribusi dan Relasi Pasar Petani Kubis di Dataran Tinggi Ijen” dilatarbelakangi oleh petani Ijen sebagai penghasil komoditi sayur kubis terbesar pada wilayah Tapal Kuda. Kurangnya akses pasar, informasi pasar dan modal membuat petani sulit meningkatkan penghasilan. Akses atau jarak tempuh yang jauh dari pusat kota atau pasar turut mempengaruhi kesulitan petani dataran tinggi Ijen untuk berinteraksi dan berelasi dengan aktor pasar. Akibatnya petani enggan berelasi dan memilih jalur pemasaran sendiri dengan sistem tebang jual kepada pedagang yang datang menjelang masa panen. Hal ini menyebabkan sebagian petani mengalami ketergantungan dan pasif dalam bersikap mengusahakan relasi dengan aktor pasar, padahal pada sistem tebang jual ini sebanyak 40% hasil penjualan panen petani menjadi hak milik pedagang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, dengan menggunakan teknik pengambilan informan purposive. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Uji keabsahan data menggunakan Triangulasi data. Tinjauan teori modal sosial dari Puntu (1993), dan teori pilihan rasional dari Jame S Coleman (1990) dijadikan acuan dalam penelitian ini. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah petani dapat memiliki posisi perekonomian yang unggul apabila memiliki relasi pemasaran yang baik serta bersedia untuk berkorban waktu dan tenaga, juga memiliki dana yang cukup untuk distribusi, maka petani memiliki peluang untuk dapat menjalin relasi dengan aktor pasar, sehingga keuntungan yang didapatkan akan lebih banyak. Kata kunci : Petani kubis, relasi pasar, distribusi.
Dampak Sosial dan Ekonomi Kunjungan Wisata di Desa Wisata Organik Lombok Kulon, Bondowoso Cahyani, Larasati Tiara; Ganefo, Akhmad
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 9 No 02 (2020)
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v9i02.26944

Abstract

This research is motivated by the development of the management of the Lombok Kulon Organic Tourism Village using the CBT concept and the presence of both local and foreign tourist visits, which then has several impacts on the lives of the local community. The existence of a visit from tourists to Lombok Kulon Village caused several impacts on the lives of the local community. This article will discuss the social and economic impacts of tourist visits in the Lombok Kulon Organic Tourism Village for local people. The theory used in this research is the theory of tourism impact proposed by Erik Cohen. This research also uses descriptive qualitative methods with data collection techniques such as observation, interviews, documentation, and literature study. The findings in this study are the emergence of social and economic impacts of tourist visits in the Lombok Kulon Organic Tourism Village, Bondowoso for local people. The social and economic impacts caused include: (1) Increased handicraft production in Lombok Kulon Village, (2) Opening of new jobs for the community, (3) Impact on social stratification and mobility, (4) Emerging community enthusiasm to preserve local arts, (5) Impacts based on the organization, and (6) Public enthusiasm for English.Keywords: Social Impact, Economic Impact, Tourism Impact, Tourism Village Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berkembangnya pengelolaan Desa Wisata Organik Lombok Kulon yang menggunakan konsep CBT dan mampu menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara, serta menimbulkan beberapa dampak dalam kehidupan masyarakat setempat. Adanya kunjungan dari wisatawan ke Desa Lombok Kulon tersebut jelas menimbulkan beberapa dampak bagi kehidupan masyarakat setempat. Artikel ini akan membahas tentang dampak sosial dan ekonomi dari kunjungan wisata di Desa Wisata Organik Lombok Kulon bagi masyarakat setempat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori dampak pariwisata yang dikemukakan oleh Erik Cohen. Penelitian ini pun menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dokumentasi, serta studi pustaka. Temuan dalam penelitian ini adalah munculnya dampak sosial dan ekonomi kunjungan wisata di Desa Wisata Organik Lombok Kulon, Bondowoso bagi masyarakat setempat. Dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan antara lain : (1) Meningkatnya produksi kerajinan Desa Lombok Kulon, (2) Terbukanya lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat,(3) Dampak terhadap stratifikasi dan mobilitas sosial, (4) Munculnya antusias masyarakat untuk melestarikan kesenian lokal, (5) Dampak terhadap dasar organisasi, dan (6) Munculnya antusias masyarakat terhadap Bahasa Inggris.Kata Kunci: Dampak Sosial, Dampak Ekonomi, Dampak Pariwisata, Desa Wisata
Petani dan Politik: Perspektif Pemimpin Ideal bagi Masyarakat Petani di Desa Randuagung, Kabupaten Lumajang Firdaus, Rony Zamzam; Yuswadi, Hary
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 10 No 01 (2021)
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v10i01.26954

Abstract

This research focuses on the ideal leader for farmers in Randuagung Village, Lumajang Regency, East Java. With the background of the life of farmers with a relatively heavy burden of life financially or economically, it makes farmers seem unable to escape from matters relating to politics. The position of farmers suddenly became very influential in the efforts of political figures to find support to realize their interests. Seeing this, the responses of the farmers also varied. Some immediately believe in one of the figures and those who choose based on specific considerations. These considerations certainly include the influence of wealthy farmers, advice from religious leaders, namely the Kyai, and political figures in the presence of 'sangu.' Using Rational Choice theory from James S. Coleman explains the rational choice of farmers in choosing the ideal leader. The research method in this paper is qualitative. Keywords : Farmer, Rational, Leader, Ideal, Village. Penelitian ini berfokus pada sosok pemimpin ideal bagi para petani di desa Randuagung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Dilatarbelakangi oleh kehidupan petani dengan beban hidup yang lumayan berat secara finansial atau ekonominya, menjadikan petani seakan tidak bisa lepas dengan hal yang berkaitan dengan politik. Posisi petani mendadak menjadi sangat berpengaruh dalam upaya para tokoh politik untuk mencari dukungan demi mewujudkan kepentingan mereka. Melihat hal ini respon para petani pun bermacam-macam. Ada yang langsung percaya pada salah seorang tokoh dan adapula yang memilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut tentu meliputi pengaruh dari petani kaya, saran dari tokoh agama yaitu Kyai, dan tokoh politik dengan adanya ‘sangu’. Dengan menggunakan teori Pilihan Rasional dari James S. Coleman yang menjelaskan tentang pilihan rasional petani dalam memilih sosok pemimpin yang ideal. Metode penelitian dalam tulisan ini adalah metode penelitian kualitatif. Kata kunci: Petani, Rasional, Pemimpin, Ideal, Desa
Daya Lenting Masyarakat Pasca Bencana Banjir Bandang di Desa Alasmalang, Banyuwangi Priambudi, Pramudia; Mulyono, Joko
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 9 No 02 (2020)
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v9i02.26945

Abstract

The research entitled "People Resilience Post Flash Flood Disaster in Alasmalang Village, Banyuwangi" was based on the occurrence of the Banjir Bandang disaster in the village, which had occurred three times. Banjir Bandang disasters have consequences that affect the economy, the environment, and also humans. The Banjir Bandang disaster caused many material and non-material losses, but the people's resilience, which could later become "habitus," was good. The strength of the Alas Malang community after the flash flood disaster did not just happen. Still, it requires a long time, experience, and a critical awareness process not only by its strength but also through networks, space, and time. The formulation of the problem in this study is "How is the process of habitus built which then forms the resilience of Alasmalang Village Singojuruh Subdistrict Banyuwangi Regency after the occurrence of flash flood disaster?". The theory used in this study is the theory of habitus proposed by Pierre Bourdieu. Using a qualitative method with a case study approach, the results obtained in this study were forming a habitus process in the community. Firstly, habitus was constructed for a long time through the experience of dealing with floods or often referred to as the realm of time and time. Secondly, in the community, there are economic, social, cultural, and symbolic capital forces that are intertwined and form the capacity of the community.Keywords: Disaster, Flash Flood, Resilience, Habitus Penelitian dengan judul “Daya Lenting Masyarakat Pasca Bencana Banjir Bandang di Desa Alasmalang, Banyuwangi” didasari oleh terjadinya bencana Banjir Bandang di desa tersebut sebanyak 3 kali. Bencana Banjir Bandang menimbulkan konsekuensi yang berdampak pada ekonomi, lingkungan, dan juga manusia. Terjadinya bencana Banjir Bandang menimbulkan banyak kerugian baik materiil maupun non materiil, namun kemampuan bertahan / daya lenting masyarakat yang kemudian bisa menjadi “habitus”dikatakan baik. Daya lenting masyarakat Alas Malang pasca bencana banjir tidak begitu saja terjadi, akan tetapi membutuhkan waktu panjang, pengalaman, dan proses kesadaran kritis yang tdak hanya dengan kekuatan sendiri, akan tetapi juga melalui jaringan, ruang dan waktu. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana proses habitus terbangun yang kemudian membentuk daya lenting masyarakat Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh Kabupaten Banyuwangi pasca terjadinya bencana Banjir Bandang?”.Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana habitus dikonstruksi atau terbentuk dalam masyarakat yang kemudian memperkuat daya lenting masyarakat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori habitus yang dikemukakan oleh Pierre Bourdieu. Metode yang digunakan yakni metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini adalah terbentuknya proses habitus dalam masyaraka. Pertama, bahwa habitus dikonstruk dengan waktu lama melalui pengalaman menghadapi bencana banjir atau sering disebut adanya ranah dan waktu. Kedua, di masyarakat terdapat kekuatan modal ekonomi, sosial, kultural, dan simbolik yang saling berkelindan membentuk kapasitas masyarakat.Kata Kunci: bencana, banjir bandang, daya lenting, habitus
Mobilitas Sosial Vertikal Petani Kopi di Desa Kebonrejo Kecamatan Kalibaru Banyuwangi Cahyono, Aprilian Dwi; Ganefo, Akhmad
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 10 No 01 (2021)
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v10i01.26955

Abstract

Social mobility is a movement from one social class to another, and there are two types of social mobility, namely vertical and horizontal. By defining the definition of social mobility, this article examines the vertical social mobility in coffee farmers. The problems farmers face today are still struggling with low welfare; here, farmers begin to mobilize themselves to achieve a higher status. This study uses a skin-active approach with a research location in Kebonrejo Village, Kalibaru Banyuwangi District. In this study, the researcher obtained data and information through participant observation, interviews, and documentation. The data and information obtained are then tested using data triangulation techniques. The results showed that the social life of the Kebonrejo Village community before becoming a coffee farmer was relatively low. Most of them worked only as laborers. After becoming coffee farmers, their welfare slowly began to rise. The status that was an inferior class of workers has now become an owner. Several factors are underlying the social mobility of coffee farmers. They see other villages succeeding with their coffee crops, and there is a desire from the community to become successful and advanced farmers. Keywords: Farmer, Social Mobility, Social Status Mobilitas sosial merupakan perpindahan dari suatu kelas sosial ke kelas sosial yang lain, ada dua tipe mobilitas sosial yaitu vertikal dan horizontal. Dengan mendefinisikan pengertian mobilitas sosial, artikel ini mengkaji tentang mobilitas sosial vertikal yang terjadi pada petani kopi. Permasalahan yang dihadapi petani saat ini masih saja berkutat pada kesejahteraan yang rendah, disini petani mulai memobilisasi dirinya untuk mencapai status yang lebih tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kulitatif dengan lokasi penelitian di Desa Kebonrejo Kecamatan Kalibaru Banyuwangi. Dalam penelitian ini, data dan informasi diperoleh melalui observasi partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Data dan informasi yang didapat kemudian diuji menggunakan teknik trianggulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehidupan sosial masyarakat Desa Kebonrejo sebelum menjadi petani kopi relatif rendah, kebanyakan mereka bekerja hanya sebagai buruh. Setelah menjadi petani kopi perlahan kesejahteraan mereka mulai terangkat. Status yang sebelumnya kelas rendahan buruh atau pekerja kini sudah menjadi petani pemilik. Ada bebrapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya mobilitas sosial petani kopi yaitu mereka melihat desa lain sukses dengan tanaman kopinya selain itu ada keinginan dari masyarakat untuk menjadi petani yang sukses dan maju. Kata Kunci : Petani, Mobilitas Sosial, Status Sosial
Praktik Agensi Masyarakat Desa Nglurup Dalam Program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) Handayani, Baiq Lily; Akhbar, Bobby
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 9 No 02 (2020)
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v9i02.26939

Abstract

Argo Mulyo Forest Village Community Organization has existed since 2006. Perhutani formed this institution through the Community Based Forest Management Program (PHBM). This study aims to find out and explain the practices of Ngurup Village community institutions in managing forests together with the community. The research method used is qualitative with a descriptive narrative approach. For the research location, the researchers took Nglurup Village, Tulungagung Regency. The informant determination technique used by researchers uses a purposive technique that is considered relevant to the research problem. Data collection methods using interviews, field observations, and documentation. The data validity test used is the data triangulation technique. The study results are the involvement of community institution practices in forest land planting activities, and the community played a role in this activity voluntarily as their efforts to conserve forests through seed planting activities on forest land. The practice of community institutions in managing forest land is that they generally work on Perhutani's production forest land. Keywords: PHBM, forest conservation, agency practices. Lembaga Masyarakat Desa Hutan Argo Mulyo sudah ada sejak tahun 2006 lalu, lembaga tersebut dibentuk oleh pihak Perhutani melalui program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui serta menjelaskan tentang praktik agensi masyarakat Desa Nglurup dalam pengelolaan hutan bersama masyarakat. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan deskriptif naratif. Untuk lokasi penelitian, peneliti mengambil setting di Desa Nglurup Kabupaten Tulungagung. Teknik penentuan informan yang dipakai oleh peneliti menggunakan teknik purposive yang dianggap relevan dengan masalah penelitian tersebut. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi lapangan serta dokumentasi. Adapun uji keabsahan data yang dipakai yakni teknik triangulasi data. Hasil penelitian tersebut keterlibatan praktik agensi masyarakat dalam kegiatan penanaman lahan hutan, masyarakat berperan dalam kegiatan tersebut secara sukarela sebagai upaya mereka untuk melestarikan hutan melalui kegiatan penanaman bibit di lahan hutan. Praktik agensi masyarakat dalam pengelolaan lahan hutan yakni mereka pada umumnya menggarap lahan hutan produksi milik Perhutani. Praktik agensi masyarakat dalam pengelolaan kawasan wisata hutan.Kata kunci: PHBM, pelestarian hutan, praktik agensi.
Pertukaran Sosial: Studi Tentang Tata Kelola Air di Desa Ampelan Kecamatan Wringin Kabupaten Bondowoso Prastika, Yhurika; Yuswadi, Hary
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 9 No 02 (2020)
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v9i02.26947

Abstract

Penelitian ini berfokus pada praktik pertukaran sosial yang terjadi dalam tata kelola air untuk mempertahankan posisi ulu-ulu. Lebih mikro dan fokus pada satu desa yang memiliki kelangkaan sumber daya air. Peneliti menggunakan metode fenomenologi. Informan ditentukan dengan menggunakan teknik purposive dengan kriteria informan yang terlibat langsung dengan tata kelola air, dan memiliki pengalaman seputar air bersih di desa Ampelan selama minimal dua tahun. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Uji validitas data menggunakan teknik triangulasi. Teknik analisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Sebagai acuan untuk menganalisis fakta-fakta dilapangan, maka dibingkailah dengan teori pertukaran sosial George C. Homans. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa terdapat pembuatan tandon pada sumber mata air dan pipanisasi yang dikelola oleh pengurus yang telah ditunjuk yaitu ulu-ulu dengan wadah organisasi HIPPAM. Terdapat kelemahan dalam tata kelola air di Desa Ampelan seperti ketidak jelasan rekruitmen pengurus, ketidak jelasan struktur dalam organisasi, serta ketidak jelasan pembagian keuntungan. Hal tersebut mendorong ulu-ulu seolah merasa memiliki sumber daya air dan menjadikan sumber daya air mejadi komoditas, sehingga mengelola air dengan semaunya sehingga menyebabkan perebutan wilayah kekuasaan dan konflik internal. Ulu-ulu tidak dapat bekerja dalam kelompok dan berjalan secara individual, sehingga kelemahan dalam tata kelola tersebut menguatkan terjadinya pertukaran-pertukaran antara ulu-ulu dengan konsumennya maupun sesama ulu-ulu. Jadi, terjadi pertukaran-pertukaran yang dilakukan dalam tata kelola yaitu pertukaran air dengan dukungan sosial, pertukaran air dengan hubungan kekerabatan, dan pertukaran air dengan privilege dalam masyarakat. Kata Kunci: pertukaran sosial, tata kelola air, pipanisasi, komoditas sumber daya air.

Page 6 of 12 | Total Record : 117