cover
Contact Name
Muhrisun Afandi
Contact Email
risonaf@yahoo.com
Phone
+6282242810017
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat
ISSN : 25983865     EISSN : 26143461     DOI : https://doi.org/10.14421/panangkaran
Jurnal Panangkaran merupakan jurnal Assosiasi Peneliti Agama-agama yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai media komunikasi hasil penelitian para peneliti, ilmuwan dan cendekiawan. Tujuannya adalah untuk mewadahi, menyebarluaskan dan mendialogkan wacana ilmiah di bidang penelitian sosial keagamaan. Naskah yang dimuat dalam jurnal berasal dari hasil-hasil penelitian maupun kajian-kajian kritis para peneliti agama atau akademisi yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan sosial keagamaan, kelekturan, pendidikan dan keagamaan, agama dan sains. Jurnal terbit setahun 2 kali pada bulan Juni dan Desember.
Articles 161 Documents
Analisis Komunikasi pada Aplikasi MiChat sebagai Sarana Media Prostitusi Online di Pontianak Zakaria Efendi
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2020.0402-06

Abstract

Nearly all of social media provide a GPS feature that allows users to find each other around them. One of them is MiChat. In Pontianak this application is one of the social media that is widely misused as a means of communication for online prostitution. This study is trying identify and describe the communication process tha is occured in the MiChat application, as a means of online prostitution, and figure out some cases of online prostitution in Pontianak using MiChat. This study draw upon communication analysis and descriptive qualitative methods by collecting data that are obtained by interviews, observations, and literature exploration from online and print news. Furthermore, the supporting data comes from books and scientific articles. The results of the study indicate the fact that being a prostitute is considered a promising job for the perpetrators because they can earn money easily. Economic and lifestyle factors are the reasons behind the perpetrators to become prostitutes. Many sex workers are turn out to be underage and not only from the area around Pontianak but also comes from Java, Sumatra, Sulawesi and other country. Running MiChat application for prostitution transactions is only a negative use of social media, because of its privation that is considered more secure. The conclusion of this research is that serious action is necessary from the regional and central governments to review the operational permits of social media that consist of potential to be used as a means of online prostitution. Law enforcers must seriously monitor and regulate prostitution activities in Pontianak which are carried out via offline and online. Serious attention is necessary for parents to children. Moral cultivating and character education needs to be considered since an early age so that children grow up with strong religious provisions so they don't fall into promiscuity and prostitution.[Hampir semua media sosial menyediakan fitur GPS yang dapat mempertemuka penggunanya dengan pengguna lain disekitarnya. Salah satunya adalah MiChat. Di Pontianak aplikasi ini menjadi salah satu aplikasi chatting yang banyak disalahgunakan sebagai sarana komunikasi prostitusi online. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan proses komunikasi yang digunakan dalam aplikasi MiChat, penyalahgunaan MiChat sebagai sarana prostitusi online, dan kasus prostitusi online di Pontianak menggunakan MiChat. Penelitian ini menggunakan analisis komunikasi dan metode kualitatif deskriptif dengan mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, dan eksplorasi literatur dari berita online maupun cetak. Data pendukung berasal dari buku dan artikel ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan fakta bahwa menjadi PSK dianggap menjadi pekerjaan yang menjanjikan bagi para pelaku karena dapat memperoleh uang dengan mudah. Faktor ekonomi dan gaya hidup melatarbelakangi para pelaku untuk menjadi PSK. Banyak ditemukan, para PSK masih di bawah umur dan tidak hanya berasal dari daerah sekitar Pontianak melainkan juga berasal dari Jawa, Sumatera, Sulawesi dan daerah lain. Penggunaan aplikasi MiChat untuk prostitusi merupakan sebuah pemanfaatan media sosial secara negatif, karena keamanan aplikasi ini dinilai lebih terjamin. Oleh karenanya, perlu tindakan serius dari pemerintah daerah dan pusat untuk meninjau kembali izin operasional media sosial yang berpotensi digunakan sebagai sarana prostitusi online. Penegak hukum harus serius memantau dan menertibkan kegiatan prostitusi di Pontianak yang dilakukan via offline maupun online. Perlu perhatian serius dari orangtua kepada anak-anak. Pendidikan akhlakul karimah dan pendidikan karakter perlu ditanamkan sejak dini agar anak-anak tumbuh dengan bekal agama yang baik agar tidak terjerumus pada pergaulan bebas dan prostitusi.]
Fadilah Kidung Rumeksa Ing Wengi dalam Tinjauan Hizib Wali Tarekat Nusantara Arif Muzayin Arif Muzayin Shofwan
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v5i2.2631

Abstract

Kidung Rumeksa Ing Wengi is the work of Sunan Kalijaga which has literary, philosophical, mystical, and practical dimensions. Sunan Kalijaga as a writer and humanist create this poem in Javanese to make it easy to understand, live and practice by the Javanese people. This study aims to review the Kidung Rumeksa Ing Wengi in the hizib perspective composed by the wali of the tarekat in archipelago. This paper is a literature research. The technique of data analysis uses content analysis by sorting and grouping similar data and then analyzing its contents. This study found that the Kidung of Rumeksa Ing Wengi is believed to contain the same fadilah (practical virtues) and is in harmony with the hizibs composed by the founders of the tarekat in archipelago, such as Hizib Nashar by Shaykh Abul Hasan As-Syadzili, Hizib Nawawi by Shaykh Imam An-Nawawi, Hizib Ghazali by Shaykh Imam Al-Ghazali, and several other hizibs which are believed to be able to provide protection from various magical disorders, spirits, evil, and the fulfillment of any other wish. [Kidung Rumeksa Ing Wengi merupakan karya Sunan Kalijaga yang memiliki kandungan sastrawi, filosofis, mistis, dan praktis. Sunan Kalijaga sebagai sastrawan dan budayawan meramu kidung ini dengan bahasa Jawa agar mudah dimengerti, dihayati, dan dilaksanakan oleh masyarakat Jawa. Penelitian ini bertujuan meninjau Kidung Rumeksa Ing Wengi dalam prespektif hizib para wali pendiri tarekat di nusantara. Tulisan ini merupakan penelitian literatur. Teknik analisa datanya menggunakan content analisis dengan memilah dan mengelompokkan data yang sejenis kemudian menganalisis isinya. Dalam studi ini ditemukan bahwa Kidung Rumeksa Ing Wengi karya Sunan Kalijaga diyakini mengandung fadilah (keutamaan praktis) yang sama dan selaras dengan hizib-hizib yang disusun para wali pendiri tarekat di nusantara, seperti Hizib Nashar karya Syaikh Abul Hasan As-Syadzili, Hizib Nawawi karya Syaikh Imam An-Nawawi, Hizib Ghazali karya Syaikh Imam Al-Ghazali, dan beberapa hizib lainnya yang diyakini dapat memberi penjagaan dari berbagai gangguan sihir, makhluk halus, kejahatan, dan pemenuhan berbagai macam hajat.]
Otoritas Keagamaan di Era Media Baru: Dakwah Gusmus di Media Sosial Arnis Rachmadhani
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v5i2.2636

Abstract

This article examines religious authority and new media, with a case study on Gus Mus' da'wah model. The research question of this research is how the authority of religious sources changes from the analog to digital era; how is the map of the authority of traditional religious sources in the era of disruption; and how is the strategies of traditional religious source authorities in the era of new media. To answer this question, this study combines ethnographic and netnographic data. Ethnographic data was carried out through interviews and following Gus Mus' da'wah activities on several social media. Meanwhile, netnographic data was carried out by searching online data and observing online participants. The results of this study indicate that the presence of social media as a form of new da'wah model does not shift traditional religious authority, but instead strengthen this authority. Thanks to the social media. Traditional Islam would always become the authoritative source of public religious understanding. Therefore, new religious authorities or known as charismatic dai also come from the circle of dais who have a formal Islamic education background or pesantren which comprehend the pesantren classical books and other Islamic religious sciences. Gus Mus, who was originally a traditional religious authority, massively disseminated his da'wah to online spaces, especially Instagram, YouTube, Facebook, Podcasts, and WhatsApp. Therefore, Gus Mus' authority as a preacher persisted and even strengthened, thanks to the charismatic clerical culture that was obtained from the new media. Finally, thanks to the combination of traditional culture and the role of new media, Gus Mus' charisma is distinguishing and different from other new religious authorities. Thanks to the support of his media team, his religious universal message can be more widely spread in every level of society. [Artikel ini mengkaji tentang otoritas keagamaan dan media baru, dengan studi kasus pada model dakwah Gus Mus. Pertanyaan yang diajukan adalah bagaimana pergeseran otoritas sumber keagamaan dari era analog ke digital?; bagaimana peta otoritas sumber keagamaan tradisional di era disrupsi?; dan bagaimana strategi otoritas sumber keagamaan tradisional di era media baru? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini mengkombinasikan data etnografi dan netnografi. Data etnografi dilakukan melalui wawancara dan mengikuti kegiatan dakwah Gus Mus di beberapa media sosial. Sedangkan data netnografi dilakukan melalui penelusuran data-data online dan observasi partisipan online. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kehadiran media sosial sebagai bentuk model dakwah baru tidak menggeser pengaruh otoritas keagamaan tradisional, tetapi justru semakin memperkuatnya. Berkat media sosial, Islam tradisional tetap menjadi sumber otoritatif pemahaman keagamaan mayoritas umat. Oleh karena itu, figur otoritas Islam tetap berasal dari lingkaran dai yang memiliki latar belakang pendidikan Islam formal ataupun pesantren yang menguasai kitab-kitab klasik (turath) pesantren dan menguasai ilmu-ilmu agama Islam lainnya. Sebagai figur otoritatif keagamaan tradisional, Gus Mus secara masif mendiseminasikan dakwahnya ke ruang online, utamanya Instagram, YouTube, Facebook, Podcasts, maupun WhatsApp. Oleh karena itu, otoritas Gus Mus sebagai seorang dai tetap bertahan dan bahkan menguat berkat media baru. Berkat perpaduan antara kultur tradisional dan peran media baru, Gus Mus tampil sebagai figur karismatik otoritas Islam tradisional yang khas dan berbeda dari figur otoritas keagamaan baru lainnya. Berkat dukungan tim medianya, pesan universal dakwahnya dapat lebih luas tersebar ke setiap lapisan masyrakat.]
Strategi Dakwah Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI) di Kota Bukittinggi Arinil Haq
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v5i2.2637

Abstract

This research is based on the problem that some youths and adolescents in the City of Bukittinggi behave in a deviant manner and far from being religious. Therefore, an appropriate da'wah strategy is needed, as carried out by the Indonesian Mosque Youth and Youth Network (JPRMI). The purpose of this study was to describe the da'wah strategy carried out by JPRMI in Bukittinggi City. This research was conducted with a descriptive approach, using the theory of Abu Al-Fath Al-Bayanuni on the Da'wah Strategy. The results showed that JPRMI's da'wah strategy in Bukittinggi City included sentimental strategies, rational strategies and sensory strategies which were implemented in the form of da'wah programs. However, the da'wah strategy implemented by JPRMI did not work well because of the inhibiting factors. [Penelitian ini didasari oleh permasalahan bahwa sebagian pemuda dan remaja di Kota Bukittinggi memiliki perilaku yang jauh dari nilai moral agama. Maka dari itu dibutuhkan strategi dakwah yang tepat, sebagaimana dilakukan oleh Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan strategi dakwah yang dilakukan oleh JPRMI di Kota Bukittinggi. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dekskriptif, dan dikaji dengan menggunakan teori dari Abu Al-Fath Al-Bayanuni tentang Strategi Dakwah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi dakwah JPRMI di Kota Bukittinggi meliputi strategi sentimentil, strategi rasional dan strategi indrawi yang diimplementasikan dalam bentuk program dakwah. Meski demikian, strategi dakwah yang dilaksanakan JPRMI kurang berjalan dengan baik karena adanya faktor-faktor penghambat.]
Islam Progresif Farish A. Noor: Telaah atas Karya Islam Progresif: Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara Fahmi Mubarok
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v5i2.2638

Abstract

This study focuses on the Farish A. Noor's thought on Progressive Islam set out in his book entitled Islam Progresif: Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara. Besides trying to introduce a new understanding of Progressive Islam from outside Indonesian figures such as Farish A. Noor, it also aims to gives critical review on Progressive Islam. It is showed that Farish A. Noor is a pioneer of Progressive Islam in archipelago who emphasizes a positive radicalism attitude towards reality by reviving the dynamics of the social evolution of society, not being blind and sticking to old ideas, especially old ideas that are no longer compatible with the current era, opening the door for ijtihad to think about complicated issues with open minded to new ideas and nature, and also not doubting or suspicious of Western technology and ideas. [Penelitian ini memfokuskan pada pemikiran Islam progresif Farish A. Noor dalam bukunya Islam Progresif: Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara. Selain berupaya untuk mengenalkan pemahaman baru tentang Islam progresif dari tokoh luar Indonesia seperti Farish A. Noor, kajian ini juga bertujuan untuk memberikan tinjauan kritis atas aliran Islam progresif. Kajian ini menunjukkan bahwa Farish A. Noor merupakan pionir dari Islam progresif di nusantara yang menekankan sikap radikalisme positif terhadap realitas dengan menghidupkan dinamika evolusi sosial masyarakat, tidak taklid buta maupun berpegang pada ide-ide lama terlebih pada ide-ide lama yang sudah tidak lagi kompetibel dengan masa saat ini, terbukanya pintu ijtihad untuk memikirkan isu-isu rumit dengan pemikiran yang terbuka terhadap ide dan hakikat yang baru, dan juga tidak ragu atau curiga dengan teknologi dan ide-ide Barat.]
Etika Utilitarianisme dalam Pluralisme Husein Muhammad Isfaroh Isfaroh
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v5i2.2641

Abstract

This study discuses pluralism from the perspective of ethics. Pluralism is not only a matter of attitude or behavior with respect to interactions between groups and religions, but also covers the problems of the rules, boundaries, values, and norms that held where the attitude of pluralism goes on. Husein Muhammad is a Muslim thinker who pays attention to the ethical and practical aspects of pluralism. This research is a descriptive-analytic library research using interpretation method. The data was collected from two sources, namely the primary one which came from Husein Muhammad's works, and the secondary one which came from supporting works on pluralism and utilitarian ethics. The approach this study conduct is ethics of utilitarianism. This article discovers two dimensions of pluralism based on perspective of utilitarianism ethics, namely, action pluralism and regulatory pluralism. According to Husein Muhammad, action pluralism designates to the advantage that society will acquire from pluralism, while regulatory pluralism designates to the acceptability and restrictions of attitudes and behavior where pluralism goes on. [Penelitian ini bertujuan untuk melihat pluralisme dari sudut pandang etika. Pluralisme tidak hanya persoalan sikap atau perilaku dalam interaksi antar golongan maupun agama, melainkan juga menyangkut masalah peraturan-peraturan, batasan, nilai, dan norma yang berlaku dimana sikap pluralisme itu berlangsung. Husein Muhammad merupakan salah satu tokoh muslim yang memperhatikan aspek etis dan praktis dari pluralisme. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research) yang bersifat deskriptif-analitik. Analisis data menggunakan metode interpretasi. Pengumpulan datanya dari dua sumber, yaitu sumber primer berupa karya-karya Husein Muhammad, dan sumber skunder berupa karya-karya pendukung seputar pluralisme dan etika utilitarianisme. Adapun pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan etika ulitarianisme. Artikel ini mengungkapkan dua dimensi pluralisme dalam tinjauan etika utilitarianisme, antara lain, pluralisme tindakan dan pluralisme peraturan. Menurut Husein Muhammad, pluralisme tindakan berimplikasi pada manfaat yang akan didapatkkan masyarakat dari sikap pluralisme, sedangkan pluralisme peraturan berimplikasi pada pembatasan-pembatasan sikap maupun perilaku dimana pluralisme masih dapat diterima.]
Metode Kritik Sejarah dan Double Movement sebagai Alternatif Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Muhammad Nabil Fahmi
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v5i2.2655

Abstract

This study aims to analyze historical criticism and double movement methods as alternative paradigms and methods that can be used in learning of Islamic Civilizations History (Sejarah Kebudayaan Islam). This method is intended to maximize the learning objectives of SKI, likewise, it can be relevant and contextual to the needs and developments of the times. Through literature review and content analysis methods, this study concludes that using historical criticism and double movement methods can be an alternative for implementing SKI learning. The history of the past is seen as dynamic and progressive-transformative. So that SKI learning does not stop at historical facts or is trapped in the romanticism of the past. Learning methods that can be used and developed include creative and meaningful learning, critical reasoning in understanding history, and integrative-interconnective SKI learning. [Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan metode kritik sejarah dan double movement sebagai alternatif paradigma dan metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Penggunaan metode tersebut ditujukan sebagai upaya untuk memaksimalkan tujuan pembelajaran SKI, agar tetap relevan dan kontekstual dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Melalui kajian pustaka dan metode analisis isi, penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan metode kritik sejarah dan double movement dapat menjadi alternatif penyelenggaraan pembelajaran SKI. Sejarah masa lalu dipandang sebagai sesuatu yang dinamis serta progresif-transformatif, sehingga pembelajaran SKI tidak berhenti pada fakta sejarah saja maupun terjebak pada romantisme masa lalu. Metode pembelajaran yang dapat digunakan dan dikembangkan antara lain: pembelajaran yang kreatif dan bermakna; pengembangan nalar kritis dalam memahami sejarah; serta pembelajaran SKI yang integratif-interkonektif.]
Eksistensi Pesantren Salaf di Tengah Arus Modernisasi: Peran Pondok Pesantren Islam Putra Ar-Raudloh Kebonsari Kecamatan Sukodadi Kabupaten Lamongan Zuhriyyah Hidayati; Muhammad Fuat Humam
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v5i2.2674

Abstract

Pesantren Salaf is one of the traditional institutions that was born from the culture of Nusantara. Their educational systems do not experience significant changes from the ancient times to this modern era. They even maintained the Salafiyah system that tends to be conservative. Therefore, this study aims to find out the factors that make Pesantren Salaf persist with their traditional systems in the midst of this modern era, and to understand what efforts they need to struggle with to face the challenges. This is a qualitative research using a case study approach. Based on the data analysis results, conclusions are obtained regarding the survival of the Pesantren Salaf, which is caused by several factors: 1) the roles that are in accordance with the socio-cultural conditions of the community. 2) The existence of kiai figures who are devout, pious, and have deep religious knowledge so that they have their own charisma sustained. 3) The ability to generate quality alumni in mastering the yellow book (kitab kuning) that recognized as true, due to the curriculum used. In addition to the survival factors of Pesantren Salaf, this research also studies about the efforts of Pesantren Salaf in facing modernization. [Pesantren salaf merupakan salah satu lembaga tradisional yang lahir dari budaya Nusantara. Sistem pendidikan yang diselenggarakan tidak mengalami perubahan secara signifikan dari zaman dahulu hingga di era modern ini, bahkan tetap mempertahankan sistem salafiyah yang cenderung konservatif. Maka dari itu dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang menjadikan pesantren salaf tetap bertahan dengan sistem tradisionalnya di tengah era modern ini, dan juga untuk mengetahui bagaimana upaya yang dilakukan untuk menghadapi tantangan di era modern ini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan terkait kebertahanan pesantren salaf, yaitu di sebabkan beberapa faktor: 1) Memiliki peran yang sesuai dengan keadaan sosio-kultiral masyarakat. 2) Keberadaan sosok kiai yang ‘alim dan memiliki pengetahun agama yang mendalam, serta memiliki kepribadian yang saleh sehingga menjadikan lestarinya karisma kiai. 3) Menghasilkan alumni yang berkualitas dalam penguasaan kitab kuning yang diakui kebenarannya, hal ini disebabkan kurikulum yang digunakan. Selain faktor kebertahanan pesantren salaf, juga terdapat upaya pesantren salaf dalam menghadapi modernisasi.]
Konsep Memanusiakan Alam dalam Kosmologi Tri Hita Karana Syahriyah, Ummi Ulfatus; Zahid, A
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v6i1.2754

Abstract

Natural problems are often ignored by humans, because nature is considered to have no influence on what humans could have done. However, when a natural disaster occurs, not many realize that it is a consequence of what humans have done. Let say, the environmental problems that occur in Indonesia regarding deforestation, massive exploitation under the pretext of development. Nature are considered to be an inanimate object that is could be treated inhumanely. In fact, nature provides a lot of life, protection, even thank to nature, human life is maintained. This article is a qualitative research, with a literature study approach. The data comes from several journals and books as well as previous research related to the concept of Tri Hita Karana. The results of the study show that the concept of Tri Hita Karana offers a guide for humans in humanizing nature by balancing the concepts of Prajapati (God), Praja (humans), and Kamadhuk (nature). By understanding and applying the concept of Tri Hita Karana, it will build awareness to protect nature, because nature is part of human beings. [Persoalan alam sering kali diabaikan oleh manusia, karena alam dianggap tidak memberikan pengaruh terhadap apa yang dilakukan oleh manusia. Namun, saat terjadi bencana alam, tidak banyak yang menyadari bahwa hal tersebut adalah konsekuensi dari apa yang diperbuat oleh manusia. Sebut saja persoalan lingkungan yang terjadi di Indonesia mengenai penebangan hutan, eksploitasi besar-besaran dengan dalih pengembangan. Alam seakan-akan menjadi objek mati yang diperlakukan tidak manusiawi. Padahal, alam memberi banyak kehidupan, perlindungan, bahkan dengan alam kehidupan manusia tetap terjaga. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif, dengan pendekatan studi pustaka. Data berasal dari beberapa jurnal dan buku serta penelitian terdahulu yang berhubungan dengan konsep Tri Hita Karana. Hasil telaah menunjukan bahwa konsep Tri Hita Karana menawarkan satu panduan bagi manusia dalam memanusiakan alam dengan menyeimbangkan konsep Prajapati (Tuhan), Praja (manusia), dan Kamadhuk (alam). Dengan memahami dan menerapkan konsep Tri Hita Karana, maka akan terciptalah kesadaran untuk menjaga alam, karena alam adalah bagian dari diri manusia.]
Dakwah Ulama Dayah Aceh di Masa Pandemi: Gerakan Da’i Tastafi di Masa Karantina fikar, Zulfikar
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v6i1.2788

Abstract

This study features the da'wah movement of the Acehnese dayah ulama during the quarantine period. Tasauf Tauhid and Fiqh (Tastafi) is a da'wah movement for Acehnese dayah clerics in the midst of limited movement during the Covid-19 pandemic. This research is a phenomenological study with a descriptive-analytical approach to the Tastafi da'wah movement during the Covid-19 pandemic in Aceh. The data collection techniques were carried out through observation, documentation, and in-depth interviews. The data analysis technique is descriptive-qualitative, which aims to explain the strategy of the Acehnese dayah ulama movement in Tastafi da'wah during the quarantine period. This study found that during the pandemic, the Tastafi da'wah movement conducts the preaching through limited offline meetings, and take social media and live streaming to reach the widest possible audience, hence all levels of Acehnese society could access it anywhere. The purpose of the Tatstafi da'wah movement is to protect the dayah or pesantren, study halls, taklim assemblies, remembrance councils, and the Acehnese people from heretical teachings, and the negative impacts of liberalism, secularism, radicalism, modernism, and all forms of understanding that are contrary to Islamic teachings, as well as to sustain a civil society order. [Penelitian ini bertujuan untuk memahami gerakan dakwah ulama dayah Aceh di masa karantina. Tasauf Tauhid dan Fikih (Tastafi) merupakan sebuah gerakan dakwah para ulama dayah Aceh di tengah keterbatasan gerak di masa pandemi Covid-19. Penelitian ini merupakan sebuah kajian fenomenologis dengan pendekatan deskriptif-analisis terhadap gerakan dakwah Tastafi di masa pandemi Covid-19 di Aceh. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam (in-depth interview). Teknik analisis data bersifat diskriptif-kualitatif, yang bertujuan untuk menjelaskan strategi gerakan ulama dayah Aceh dalam dakwah Tastafi di masa karantina. Penelitian ini menemukan bahwa pada masa pandemi, gerakan dakwah Tastafi berdakwah melalui pertemuan luring terbatas, dan memanfaatkan media sosial dan live streaming untuk menjangkau seluas-luasnya jamaah, sehingga semua lapisan masyarakat Aceh dapat mengaksesnya di mana saja. Tujuan dari gerakan dakwah Tatstafi adalah untuk melindungi dayah atau pesantren, balai pengajian, majelis taklim, majelis zikir, dan masyarakat Aceh dari ajaran sesat, dampak negatif liberalisme, sekularisme, radikalisme, modernisme, dan segala bentuk paham yang bertengangan dengan ajaran Islam, serta untuk mewujudkan tata kehidupan masyarakat yang madani.]

Page 10 of 17 | Total Record : 161