cover
Contact Name
M Mufit Syakhlani
Contact Email
jurnalaladabiya@gmail.com
Phone
+6285230790616
Journal Mail Official
jurnalaladabiya@gmail.com
Editorial Address
Insuri Ponorogo Jl. Batoro Katong n0.32
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
AL-ADABIYA: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
ISSN : 19071191     EISSN : 25409204     DOI : https://doi.org/10.37680/adabiya
Al-Adabiya merupakan jurnal ilmiah lintas tema sebagai integrasi pendidikan, persoalan kebudayaan dan keagamaan yang terbit dua kali dalam setahun. Jurnal Al - Adabiya merupakan media pemikiran kritis intelektual para civitas akademika yang menggali, meneliti dan mempublisikasi sebagai karya yang dipertanggungjawabkan sebagai ide baru dan gagasan ilmiah. Al - Adabiya berbicara dari berbagai sudut pandang tema beragam sehingga keberadaannya dapat mengalami dinamisasi wacana keislaman dan praktik yang terintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Articles 155 Documents
Kritik Nalar Kausalitas dan Pengetahuan David Hume M Suyudi; Wahyu Hanafi Putra
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 02 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v15i02.569

Abstract

This research aims at explaining David Hume’s logical critique of causality and knowledge. As library research, the method used is descriptive-qualitative. Data and data sources were obtained from his important works Why Cause is Always A Need and A Treatise of Human Nature and several secondary literatures on causality. The data was carried out through documentation, started by the researcher documenting Hume's thoughts, especially criticism of the law of causality (cause-effect) and knowledge of both of Hume's primary works. The study results explained that Hume criticized the performance of the law of causality, which explained that the existence of a second essence and after it was an impact or certainty of the first essence. The second essential is the consequence and legitimacy of the first one. According to Hume, it cannot serve empirically as the law of causality occurs because the sequential process is stagnant. Hume's skepticism and doubts over dogmatic and metaphysical matters then affect that all knowledge can only be explored with the five senses and is empirical. All irrational and non-empirical characteristics cannot be attributed to a belief and truth. In conclusion, real truths in knowledge are those that can be investigated empirically. Keywords: Causality, Hume, Knowledge, The five senses. Penelitian ini bertujuan menjelaskan kritik nalar kausalitas dan pengetahuan David Hume. Sebagai penelitian pustaka, metode yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif. Data dan sumber data didapat dari karya-karya Why Cause is Always Necessary dan A Treatise of Human Nature serta literatur-literatur sekunder yang berkaitan dengan tema kausalitas. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi, yaitu peneliti mendokumentasikan pemikiran-pemikiran Hume terutama kritik atas hukum kausalitas (sebab-akibat) dan pengetahuan dari kedua karya primer Hume tersebut. Hasil penelitian menjelaskan bahwa Hume melakukan kritik atas kinerja hukum kausalitas yang menjelaskan bahwa adanya esensi kedua dan setelahnya merupakan dampak atau keniscayaan atas esensi pertama. Esensi kedua merupakan akibat dan legitimasi dari esensi pertama. Hal demikian yang menurut Hume tidak dapat dijelaskan secara empiris. Menurutnya, hukum kausalitas itu terjadi karena proses keterurutan secara stagnan. Sikap skeptis dan ragu-ragu Hume atas perihal yang sifatnya dogmatis dan metafisik membawa dampak bahwa segala pengetahuan hanya bisa digali dengan panca inderawi dan bersifat empiris. Semua perihal yang sifatnya irasional dan tidak empiris tidak dapat dinisbatkan pada suatu keyakinan dan kebenaran. Pada akhirnya, kebenaran sejati dalam pengetahuan adalah yang dapat diselidiki secara empiris. Kata kunci: Hume, Kausalitas, Pengetahuan, Panca Indera
Implementasi Tasawuf Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Majelis Manakib Al Barokah Ponorogo Moh Ashif Fuadi; Rustam Ibrahim
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 02 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v15i02.576

Abstract

One of the most popular sufi figures in the world is Shekh Abdul Qadir al-Jailani. The significant number of followers is due to his tremendous knowledge in various fields. In the reciting activities of Shekh Abdul Qadir al-Jailani’s manakib explained his life history and grandeurs. In some of his works, he explains the teachings of sufism so that manakib practitioners can live up more to this. Also, he states to what extent the values of sufism are applied. The purpose of writing this article is to find out the sufism teachings of al-Jailani referring to his work and to know the implementation of his Sufism teachings in the Al Barokah Ponorogo manakib assembly with their routine agenda on the 11th night of the Hijri month. This study employs library sources combined with field observation on the assembly’s activities. The results show that the sufism teachings of al-Jailani in the book al-Ghunyah Li Thalib Thariq al-Haq are mujahadah, tawakkal, good morals, gratitude, patience, ridha, honesty, which in its implementation through the explanation and example of kiai have been practiced by the congregation of Al Barokah manakib and manifested in social behaviors. Keywords: al-Jailani, jamaah, manakib assembly, tasawuf. Salah satu tokoh sufi yang terpopuler di dunia adalah Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Banyaknya penggemar tokoh sufi tersebut disebabkan oleh ketinggian ilmunya di berbagai bidang. Dalam kegiatan pembacaan kitab manakib Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dijelaskan sejarah hidup berikut karomah-karomahnya. Dalam beberapa karyanya ia menjelaskan ajaran-ajaran tasawuf sehingga bisa semakin dihayati oleh pengamal manakib serta sejauh mana nilai-nilai ajaran tasawuf diterapkan oleh pengamalnya. Tujuan penulisan artikel ini untuk mengetahui ajaran-ajaran tasawuf al-Jailani merujuk pada karyanya dan mengetahui implementasi ajaran tasawufnya di majelis manakib Al Barokah Ponorogo yang diselenggarakan rutin tiap tanggal 11 bulan Hijriyah. Kajian ini menggunakan sumber pustaka dipadukan dengan pengamatan lapangan pada kegiatan majelis tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ajaran tasawuf al-Jailani dalam kitab al-Ghunyah Li Thalib Thariq al-Haq adalah mujahadah, tawakkal, akhlak baik, syukur, sabar, ridha, jujur yang dalam implemetasinya melalui penjelasan dan keteladanan kiai sudah dipraktekkan oleh jamaah Al Barokah dan terwujud dalam perilaku sosial. Kata kunci: al-Jailani, jamaah, majelis manakib, tasawuf.
Gaya Hidup Nongkrong di Kafe dan Perilaku Gosip sebagai Kontrol Sosial Alwazir Abdusshomad
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 16 No 1 (2021): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v16i1.593

Abstract

This research relates to people's lifestyle generally in big cities, especially in Tangerang, a satellite city of Greater Jakarta. The problem raised here is how the lifestyle of hanging out in cafes can influence on society to practice gossiping behavior. This qualitative research done by case study on a number of targeted adult informants discovered that the lifestyle of hanging out at the cafe has become commonplace among the community, indicating that humans are social creatures. Hanging out activities that are intended to have fun and relax can trigger people to participate in gossiping behavior where the activity cannot be easily avoided from the existing environment. Besides the gossip activities seem to be fun and merely entertaining activities, found that the activities can be a social control for the community. Penelitian ini berkaitan dengan gaya hidup masyarakat pada umumnya di kota-kota besar khususnya di Tangerang yang merupakan kota satelit Jabodetabek. Permasalahan yang diangkat di sini adalah bagaimana gaya hidup menongkrong di kafe dapat mempengaruhi masyarakat untuk mempraktikkan perilaku gosip. Penelitian kualitatif yang dilakukan dengan studi kasus pada sejumlah informan dewasa yang dibidik ini menemukan bahwa gaya hidup menongkrong di kafe sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan masyarakat, menandakan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kegiatan nongkrong yang bertujuan untuk bersenang-senang dan bersantai dapat memicu masyarakat untuk ikut serta dalam perilaku gosip dimana kegiatan tersebut tidak dapat dengan mudah dihindari dari lingkungan yang ada. Selain kegiatan gosip yang terkesan menyenangkan dan hanya sekedar hiburan, ternyata kegiatan tersebut dapat menjadi kontrol sosial bagi masyarakat.
Mendudukkan Kembali Makna Kafir dalam al-Qur’an dan Konteksnya secara Teologis, Sosiologis, dan Politis Moh. Isom Mudin; Nurul Laili Ahmadah; Rahmat Ardi Nur Rifa Da’i; Muhamad Fawwaz Rizaka
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 16 No 1 (2021): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v16i1.619

Abstract

To this day, the word kafir is still a hot topic to be discussed. Lately, the recommendation of the prohibition to mention kafir for non-Muslims to maintain religious harmony and peace in society has reaped pros and cons among Muslims. And in fact today, among the wider community, accusations of being infidels against a person or group are increasingly rife with the concept of kafir which is only understood about someone who believes in God other than Allah. This narrow understanding has given birth to existing conflicts, even though the concept of kafir has actually existed since the time of the Prophet and was not a problem among religious communities. Basically, the Qur'an itself has discussed the meaning of kafir and its levels. So to get a comprehensive understanding requires a relevant and in-depth approach. Through a qualitative library research, the researchers discuss the meanings of kafir contained in the Qur'an and the extent to which a person can be considered as an infidel according to the Qur'an as a guide for Muslims. Sampai saat ini kata kafir masih menjadi perbincangan hangat. Belakangan ini anjuran pelarangan penyebutan kafir bagi non muslim untuk menjaga kerukunan dan ketentraman umat beragama menuai pro dan kontra di kalangan umat Islam. Dan faktanya, dewasa ini di kalangan masyarakat luas tuduhan kafir terhadap seseorang atau kelompok semakin marak dengan konsep kafir yang hanya dipahami tentang seseorang yang beriman kepada Tuhan selain Allah. Pemahaman yang sempit ini telah melahirkan konflik-konflik yang ada, padahal konsep kafir sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi dan tidak menjadi masalah di kalangan umat beragama. Pada dasarnya Al-Qur'an sendiri sudah membahas tentang pengertian kafir dan tingkatannya. Sehingga untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif diperlukan pendekatan yang relevan dan mendalam. Melalui penelitian pustaka kualitatif, peneliti membahas tentang makna kafir yang terkandung dalam Al-Qur'an dan sejauh mana seseorang dapat dianggap kafir menurut Al-Qur'an sebagai pedoman bagi umat Islam.
Evolusi dan Eksistensi Model Abaya pada Masa Modern di Jazirah Arab Ananda Vidyaratri Mega Pratiwi; Rizki Amalia Sholihah
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 02 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v15i02.620

Abstract

Abaya is often known as the loose black clothes worn by Arab women. This kind of fashion is usually worn by Arab women, equipped with a black cloth covering the head, whenever they leave the houses. Sometimes they combine it with the niqab. Abaya is also known as Islamic clothing as it suits the Islamic teaching in clothing norms. But there left a question as to what extent this fashion able to adapt the modernity, especially in the Arabian Peninsula, its “home countries”. This research uses library research methodology where the data are obtained through relevant books and articles. The purpose of this study is to describe how Arabian women hold on to wear the abaya in their modern lives as well as to describe the changes in the current abaya model. Abaya sering dikenal sebagai baju hitam longgar yang dikenakan oleh wanita Arab. Busana seperti ini biasanya dikenakan oleh wanita Arab, dilengkapi dengan kain hitam yang menutupi kepala, setiap kali keluar rumah. Terkadang mereka menggabungkannya dengan nikab. Abaya juga dikenal sebagai pakaian Islami karena sesuai dengan ajaran Islam dalam norma pakaian. Namun masih ada pertanyaan sejauh mana fashion ini mampu mengadaptasi modernitas, terutama di Jazirah Arab, “negara asalnya”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pustaka dimana data diperoleh melalui buku dan artikel yang relevan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana wanita Arab melestarikan abaya dalam kehidupan modern mereka serta untuk mendeskripsikan perubahan model abaya saat ini.
Cinta dan Identitas Agama: Tinjauan Konsep Cinta Erich Fromm dalam Novel Fi Qalbi Untsa ‘Ibriyyah Imam Wicaksono
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 16 No 1 (2021): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v16i1.703

Abstract

This study aims to reveal the symptoms, forms, and purposes of love of the characters in the novel Fi Qalbi Untsa ‘Ibriyyah, and how they behave when their love for fellow human beings is hindered by the boundaries of their religion (Judaism, Islam, and Christianity) thus resulting in conflict and opposition within the novel environment. This research is a literature study by analyzing Arabic literary works in the form of novels and used Erich Fromm's psychosocial approach to the concept of love. The novel Fi Qalbi Untsa 'Ibriyyah presents the characters who initially live in a peaceful atmosphere and love each other, then the love turned into conflict after their different religious identities are unveiled. The characters have two choices: either following their feelings of love for humanity regardless religious identity or leaving their love by reason of obeying religious boundaries as a form of love for God. Research becomes important when it is found that love that departs from feelings of personal liking without seeing social ties can actually lead to many conflicts when it comes to meeting religious identity and its boundaries. Penelitian bertujuan mengungkap gejala, bentuk, dan tujuan perasaan cinta tokoh-tokoh dalam novel Fi Qalbi Untsa ‘Ibriyyah, serta bagaimana mereka bersikap ketika perasaan cinta kepada sesama manusia terhalang oleh batasan agama yang mereka anut (Yahudi, Islam, dan Kristen) sehingga mengakibatkan konflik dan pertentangan di antara mereka. Penelitian ini berbentuk studi pustaka dengan melakukan analisis terhadap karya sastra Arab yang berbentuk novel serta menggunakan pendekatan psikososial Erich Fromm tentang konsep cinta, dimana Fromm berpandangan bahwa cinta merupakan solusi dari semua permasalahan manusia. Fi Qalbi Untsa ‘Ibriyyah menampilkan kehidupan para tokoh yang awalnya dalam suasana damai saling mencintai tanpa melihat identitas agama, tetapi kemudian cinta mereka berubah menjadi konflik setelah mengetahui perbedaan agama di antara mereka. Para tokoh memiliki dua pilihan, antara mengikuti perasaan cinta kepada manusia tanpa memandang identitas agama atau melepaskan rasa cinta tersebut dengan alasan menaati batasan agama sebagai wujud cinta kepada Tuhan. Penelitian menjadi penting ketika ditemukan fakta bahwa cinta yang berangkat dari perasaan suka kepada personal tanpa melihat ikatan sosial ternyata bisa melahirkan banyak konflik ketika bertemu dengan identitas agama beserta batasan-batasannya.
Religious Behavior of Indonesian Muslims as Responses to the Covid-19 Pandemic Mohammad Hidayaturrahman; Husamah Husamah; Sudarman Sudarman; Fitri Yanti; Ita Rahmania Kusumawati
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 16 No 1 (2021): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v16i1.704

Abstract

Covid-19 has become a world pandemic, and Indonesia is among the worse cases. Problems that arise are faced by all parties, including religious elites as well as laypeople. This study was conducted to describe how Muslims in Indonesia responded to and tried to cope with the Covid-19 pandemic. The study uses descriptive qualitative methods to collect data by observation, in-depth interview by phone, and online searching documents. From the research conducted, Islamic mass organizations have a relatively similar opinion that limits religious activities supported by various religious arguments. As for laypeople’s behavior, most are the same as mass organizations and Islamic leaders; very few have different behaviors. In anticipation of the virus spreading, most of them restricted religious activities in full by closing down the mosque and stopping public prayers. Few remained active as before the Covid-19 pandemic. Covid-19 telah menjadi pandemi dunia, dan Indonesia termasuk di antara kasus terparah. Permasalahan yang muncul dihadapi semua pihak, baik elit agama maupun awam. Kajian ini dilakukan untuk mendeskripsikan bagaimana umat Islam di Indonesia menanggapi dan berusaha mengatasi pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam melalui telepon, dan pencarian dokumen secara online. Dari penelitian yang dilakukan, ormas Islam memiliki pendapat yang relatif sama yaitu membatasi kegiatan keagamaan yang didukung oleh berbagai dalil keagamaan. Adapun perilaku orang awam, sebagian besar sama dengan ormas dan tokoh Islam; sangat sedikit yang memiliki perilaku berbeda. Untuk mengantisipasi penyebaran virus, sebagian besar dari mereka membatasi kegiatan keagamaan secara penuh dengan menutup masjid dan menghentikan sholat umum. Beberapa tetap aktif seperti sebelum pandemi Covid-19.
Local Wisdom and Social Change (Roland Barthes' Semiotic Analysis in Advertisement "The Light of Aceh") Rafiqah Yusna Siregar
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 16 No 1 (2021): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v16i1.715

Abstract

This research focuses on answering how Acehnese local wisdom is represented and sees social changes in the community through advertising media. Using Roland Barthes' semiotic analysis to find the meaning of denotation, connotation, and myths in TV commercial "The Light of Aceh", this research employs the constructivism paradigm with qualitative methods. The denotation falls in several objects, such as a traditional house Rumoh Aceh as a place for Acehnese people to live, the customs to honor guests and eat together with them as a symbol of friendship between communities, and the Pacu Kude tradition. The connotation of the local wisdom object has been cultured and become the community's identity, then displayed in the advertisement as the result of the construction of the existing reality. This construction is interpreted as a myth that does not necessarily refer to mythology in the ordinary sense. It is traditional stories, legends, et cetera, but rather an explanation of messages with a connotative dimension. The myths found in the advertisements show the social changes taking place in Acehnese society. Fokus penelitian ini adalah menjawab bagaimana kearifan lokal Aceh direpresentasikan dan melihat perubahan sosial yang terjadi di masyarakat melalui media iklan. Dengan menggunakan analisis semiotik Roland Barthes untuk menemukan makna denotasi, konotasi, dan mitos dalam iklan TV “The Light of Aceh”, penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan metode kualitatif. Makna denotasi terdapat pada beberapa objek, seperti rumah adat Rumoh Aceh sebagai tempat tinggal masyarakat Aceh, adat istiadat untuk menghormati tamu dan makan bersama sebagai simbol persahabatan antar masyarakat, serta tradisi Pacu Kude. Objek kearifan local yang berkonotasi telah membudaya dan menjadi identitas masyarakat, kemudian ditampilkan dalam iklan tersebut sebagai hasil konstruksi dari realitas yang ada. Konstruksi ini dimaknai sebagai mitos yang tidak serta merta mengacu pada mitologi dalam pengertian biasa. Ini adalah cerita tradisional, legenda, dan sebagainya, tetapi lebih merupakan penjelasan tentang pesan dengan dimensi konotatif. Mitos yang ditemukan dalam iklan tersebut menunjukkan perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Aceh.
Makna Kualat dalam Kitab Ta’lim al-Muta’allim sebagai Doktrin Penanaman Karakter Santri Zaenal Arifin; Ikhwan Aziz; Umar Alfaruq A. Hasyim; Nur Alfi Khotamin
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 16 No 1 (2021): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v16i1.722

Abstract

The meaning of kualat in the character cultivation doctrine in madrasah or pesantren (Islamic boarding school) has not been proven scientifically or rationally. Therefore, this descriptive qualitative research conducted at Darul A'mal Islamic boarding school, Metro Lampung, tries to rationally discuss the meaning of kualat using theories or rules in the book Ta'lim al-Muta'allim by Sheikh Tajuddin Nu'man bin Ibrahim bin al-Khalil al-Zarnuji as the analytical tool. By providing the teaching essence of the path as a guide for seekers of knowledge (tariq at-ta’allum), explaining theoretical theories and wisdom, including moral habituation and obedient to the kiai or ustaz, this research is expected to find how the santri in Darul A’mal live the teaching of book Ta'lim al-Muta'allim in their daily lives. Makna kualat dalam doktrin penanaman karakter di madrasah atau pesantren belum dibuktikan secara ilmiah atau rasional. Oleh karena itu, penelitian kualitatif deskriptif yang dilakukan di Pondok Pesantren Darul A'mal Metro Lampung ini mencoba membahas secara rasional makna kualat dengan menggunakan teori atau kaidah dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim karya Syekh Tajuddin Nu'man bin Ibrahim. bin al-Khalil al-Zarnuji sebagai alat analisis. Dengan memberikan esensi ajaran jalan menuntut ilmu sebagai pedoman bagi para pencari ilmu, menjelaskan teori dan hikmah, termasuk pembiasaan akhlak dan taat kepada kiai atau ustaz, penelitian ini diharapkan dapat menemukan bagaimana santri di Darul A'mal menjalani ajaran kitab Ta'lim al-Muta'allim tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Peran Tokoh Agama Islam, Hindu, dan Kristen dalam Menjaga Kerukunan Beragama di Desa Banuroja, Gorontalo Wiliansyah Pikoli; Yosafat Hermawan Trinugraha; Yuhastina Yuhastina
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 16 No 1 (2021): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v16i1.827

Abstract

This study aims to determine the role of Islamic, Christian (Protestant and Catholic) and Hindu religious leaders in maintaining inter-religious harmony in Banuroja Village, Randangan District, Pohuwato Regency, Gorontalo Province. This study uses a qualitative research method with a case study approach. Data collection techniques were carried out through observation, interviews and documentation. The results of this study indicate that the roles of religious leaders are different but the goal is the same, namely maintaining harmony between religious believers, the role of religious leaders is to teach people to help each other without discriminating, teach openness, teach three sacred actions (holy thought, utterance, and behavior), giving understanding in terms of maintaining communication between others, inviting the community to participate in community service, inviting other people to help when they are holding activities, and always warning the public not to be easily provoked by religious issues. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran dari tokoh agama Islam, Kristen (Protestan dan Katolik), dan Hindu dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di Desa Banuroja, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa peran para tokoh agama berbeda-beda tetapi tujuannya sama yaitu menjaga kerukunan antarumat beragama, peran para tokoh agama yaitu mengajarkan masyarakat untuk saling tolong menolong tanpa membeda-bedakan,mengajarkan sikap keterbukaan, mengajarkan tiga perbuatan suci (berfikir suci, berkata suci, dan berperilaku suci), memberi pemahaman dalam hal menjaga komunikasi antar sesama, mengajak masyarakat untuk ikut kerja bakti, mengajak untuk ikut membantu umat lain jika sedang mengadakan kegiatan, dan selalu memperingatkan masyarakat untuk tidak mudah terpancing mengenai isu-isu yang berbau agama.

Page 6 of 16 | Total Record : 155


Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 20 No. 2 (2025): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 20 No. 1 (2025): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 19 No 1 (2024): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan (June 2024) Vol 19 No 2 (2024): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 19 No. 2 (2024): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 19 No. 1 (2024): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 18 No 2 (2023): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 18 No. 2 (2023): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 18 No 1 (2023): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 18 No. 1 (2023): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 17 No. 2 (2022): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 17 No 2 (2022): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 (2022): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 17 No 1 (2022): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 16 No 2 (2021): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 16 No 1 (2021): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 02 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 01 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 14 No 02 (2019): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 14 No 01 (2019): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 13 No 02 (2018): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 13 No 01 (2018): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 12 No 2 (2017): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan More Issue