cover
Contact Name
M Mufit Syakhlani
Contact Email
jurnalaladabiya@gmail.com
Phone
+6285230790616
Journal Mail Official
jurnalaladabiya@gmail.com
Editorial Address
Insuri Ponorogo Jl. Batoro Katong n0.32
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
AL-ADABIYA: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
ISSN : 19071191     EISSN : 25409204     DOI : https://doi.org/10.37680/adabiya
Al-Adabiya merupakan jurnal ilmiah lintas tema sebagai integrasi pendidikan, persoalan kebudayaan dan keagamaan yang terbit dua kali dalam setahun. Jurnal Al - Adabiya merupakan media pemikiran kritis intelektual para civitas akademika yang menggali, meneliti dan mempublisikasi sebagai karya yang dipertanggungjawabkan sebagai ide baru dan gagasan ilmiah. Al - Adabiya berbicara dari berbagai sudut pandang tema beragam sehingga keberadaannya dapat mengalami dinamisasi wacana keislaman dan praktik yang terintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Articles 155 Documents
Sunnah Perspektif Muhammad Syahrur Nurul Hakim; Tantin Puspita Rini
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 01 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v15i01.264

Abstract

The purpose of this writing is for tracing the nature of the Sunnah according to the Syah}ru>r. This study uses literature with a qualitative approach. The results of the study are the concept of sunnah according to Syah}ru>r: (1) to maintain the dynamism of hadith three basic concepts are needed, namely the condition of being, the process of being, and the condition of being. (2) All the words and deeds of the Prophet are not revelations. (3) In the compilation and modification of the hadith, politics becomes a factor of chaos. Reconstruction of the Sunnah of the Syah}ru>r: (1) The Sunnah is what was done by the Prophet in the seventh century and is the first model of how to interact with Islam at a certain time and space, not the only and not the last. (2) Sunnah is divided into two, namely sunnah risa>lah and sunnah nubuwwah. (3) The Prophet was not a maʻs}u>m in all things. The conclusion of this study is that the Prophet's sunnah is the Prophet's interaction with al-Tanzi>l al-H}aki>m, which in this case has the meaning that the content of the Prophet's sunnah is a derivative of the laws contained therein. Tujuan penulisan ini untuk menelusuri hakikat sunnah menurut Syah}ru>r. Kajian ini menggunakan pustaka dengan pendekatan kualitatif. Hasil kajian adalah konsep sunnah menurut Syah}rur: (1) untuk menjaga kedinamisan hadis dibutuhkan tiga konsep dasar, yaitu kondisi berada, kondisi berproses, dan kondisi menjadi. (2) Segala perkataan dan perbuatan Nabi bukan merupakan wahyu. (3) Dalam penghimpunan dan pengkodifikasian hadis, politik menjadi faktor kekacauan. Rekonstruksi sunnah Syah}ru>r: (1) Sunnah ialah apa-apa yang—telah—diperbuat oleh Nabi di semenanjung Arab pada abad ketujuh masehi dan ia merupakan model pertama bagaimana berinteraksi dengan Islam pada penggal ruang dan waktu tertentu, bukan satu-satunya dan bukan yang terakhir. (2) Sunnah terbagi menjadi dua, yaitu sunnah risa>lah dan sunnah nubuwwah. Sunnah risa>lah terbagi menjadi dua; ketaatan yang tersambung (wajib ditaati) dan ketaatan yang terputus (tidak wajib ditaati). Sunnah nubuwwah tidak perlu ditaati. (3) Nabi bukan seorang yang maʻs}u>m dalam semua hal. Kesimpulan kajian ini adalah sunnah Nabi dalam pandangan Syah}ru>r merupakan interaksi Nabi terhadap al-Tanzi>l al-H}aki>m, yang dalam hal ini mempunyai makna bahwa kandungan sunnah Nabi merupakan turunan hukum-hukum yang terkandung di dalam al-Tanzi>l al-H}aki>m.
Peran Ormawa dalam Membentuk Nilai-nilai Karakter di Dunia Industri (Studi Organisasi Kemahasiswaan di Politeknik Negeri Balikpapan) Basri Basri; Nawang Retno Dwiningrum
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 01 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v15i01.273

Abstract

Campus has a strategic role in the development of human resources through the implementation of Tridharma (three higher education roles), namely the implementation of education and teaching, research, and community service. In addition to this role, vocational colleges have the responsibility of equipping students with values according to the needs of the industry. To be able to work according to the needs of the workplace, not only to mastering hard skills, but also mastering soft skills, because in carrying out his profession in addition to using technological tools also conduct social interaction with fellow colleagues, supervisors, and partners in a professional manner. To train students in developing intra-personal and interpersonal skills, in addition to being obtained in lecture halls, also through student organization activities (ormawa) on campus such as BEM, MPM, HMJ and UKM. This study aims to examine the role of ormawa in shaping character values, by analyzing the character indicators of the implementation of ormawa's work program. Among the findings are the growth of independence, creativity, responsibility, honesty, budget accountability, and time management. The results of this study indicate that ormawa has a role in shaping character values through student activities independently. Keywords : character values, industry workplace, students organization Kampus memiliki peran strategis dalam pengembangan sumber daya manusia melalui penyelenggaraan tridharma pendidikan tinggi, yaitu pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Selain peran tersebut, perguruan tinggi vokasi memiliki tanggung jawab membekali peserta didik dengan nilai-nilai sesuai kebutuhan dunia kerja dan industri.Untuk dapat bekerja sesuai kebutuhan dunia kerja, selain penguasaan hard skill, juga penguasaan soft skill, karena dalam menjalankan profesinya selain menggunakan alat-alat teknologi juga melakukan interaksi sosial dengan sesama rekan kerja, atasan, dan mitra secara profesional. Untuk melatih mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan intra personal dan interpersonal, selain diperoleh di ruang kuliah, juga melalui aktifitas organisasi kemahasiswaan (ormawa) yang ada di kampus seperti BEM, MPM, HMJ, dan UKM. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran ormawa dalam membentuk nilai-nilai karakter, dengan menganalisis indikator karakter dari pelaksanaan program kerja ormawa yang dilaksanakan. Di antara temuannya adalah tumbuhnya kemandirian, kreatifitas, tanggung jawab, kejujuran, akuntabilitas anggaran, dan manajemen waktu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ormawa memiliki peran dalam membentuk nilai-nilai karakter melalui aktifitas mahasiswa secara mandiri. Kata kunci : dunia industri, nilai-nilai karakter, ormawa
Kekuatan Nilai-nilai Pancasila dalam Membangun Kepribadian Masyarakat Indonesia Muhammad Mona Adha; Erwin Susanto
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 01 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v15i01.319

Abstract

This study aims to explore the role of Pancasila values in building the personality of the Indonesian people. Building and awakening human resources with Pancasila personality is done together with more peace, mutual respect, respect, understanding one culture with another culture, loving others, creating kinship and kinship. This research is a literature review by gathering various sources of information and facts from several literatures and documents directly related to the discussion. The results of this study Pancasila has provided a strong bond of unity in the midst of changes in people's lives in the era of globalization, Pancasila provides the power to deliver the Indonesian people to the era of glory as a dignified nation in civilization. Pancasila is able as a pillar of life such as economic, social, political, cultural, and defense and security directed towards the Unitary State of the Republic of Indonesia which has a personal Pancasila that embodies an advanced and religious Indonesia. Keywords: Indonesia, National values, Pancasila values Penelitian ini bertujuan untuk menggali peran nilai-nilai Pancasila dalam membangun kepribadian masyarakat Indonesia. Membangun dan membangkitkan sumber daya manusia yang berkepribadian Pancasila dilakukan secara bersama dengan lebih damai, saling menghargai, menghormati, memahami satu budaya dengan budaya yang lain, menyayangi sesama, menciptakan kekerabatan dan kekeluargaan. Penelitian ini adalah review literature dengan mengumpulkan berbagai sumber informasi dan fakta dari beberapa literatur dan dokumen yang terkait langsung dengan pembahasan. Hasil penelitian iini Pancasila telah memberikan ikatan persatuan dan kesatuan yang kuat ditengah-tengah perubahan kehidupan masyarakat dalam era globalisasi, Pancasila memberikan kekuatan untuk mengantarkan bangsa Indonesia menuju era kejayaan sebagai bangsa yang bermartabat dalam peradaban. Pancasila mampu sebagai pilar kehidupan seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, dan pertahanan keamanan diarahkan untuk menuju Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki diri pribadi Pancasila yang mewujudkan Indonesia yang maju dan religius. Kata Kunci: Indonesia, kepribadian bangsa, nilai-nilai Pancasila
Scriptural Reasoning: Peran Kitab Keagamaan dalam Pendidikan Agama Multikultural di Young Interfaith Peacemaker Community Indonesia Gabriel James Angkouw; Iky Sumarthina Putri Prayitno
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 01 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v15i01.410

Abstract

Abstrak : Artikel ini bertujuan untuk melihat keberadaan Kitab keagamaan yang mampu menjadi landasan pendidikan agama multikultural bagi generasi muda. Peran kitab keagamaan dalam dialog lintas iman khususnya bagi generasi muda Kristen dan Islam, terwujud melalui Scriptural Reasoning (SR), yang menjadi kegiatan rutin Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) Indonesia. SR mampu menjadi ruang interaksi lintas iman dengan menjadikan kitab keagamaan (Alkitab dan Al-Qur’an) sebagai landasan yang juga didukung dengan nilai-nilai dasar YIPC, 12 Nilai Perdamaian, serta dokumen A Common Word (ACW). Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa, pertama, Kitab keagamaan mampu melegitimasi dialog. Kedua, Kitab keagamaan mampu membangun identitas bersama diantara generasi muda Kristen dan Islam. Artikel ini menjadi bagian dalam kajian menggunakan metode kualitatif dengan menyajikan data secara deskriptif-analitis terkhususnya berkaitan dengan pendidikan agama multikultural yang dikembangkan oleh Hope S. Antone guna menunjukkan peran kitab keagamaan dalam membangun solidaritas generasi muda lintas agama sebagai pembentuk identitas bersama serta sumber legitimasi dialog. Metode pendidikan agama multikultrual berbasis kitab keagamaan dalam bentuk SR ini, diharapkan mampu menjadi tawaran dalam penerapan pendidikan agama di Indonesia guna menumbuhkan rasa saling menerima dan menghargai perbedaan. This article is aimed at seeing the existence of religious Scriptures, that is able to be the basis of multicultural religious education for young people. The role of religious Scriptures in the interfaith dialogue especially for Christian and Muslim youngsters is embodied in Scriptural Reasoning (SR), a regular activity of Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) Indonesia. SR is able to be a medium for interfaith interaction by making religious Scriptures (Holy Bible and Koran) the foundation that is also supported by YIPC principles, 12 Peace Values, and A Common Word (ACW) document. The results of this study show that, firstly: Religious Scriptures are able to legitimate the dialogue. Secondly: Religious Scriptures are able to build collective identity among Christian and Muslim youngsters. This article is a part of qualitative research that shows the data with descriptive analytics method, especially on multicultural religious education developed by Hope S. Antone in order to show the role of religious Scriptures in building solidarity of interfaith youngsters as the shaper of collective identity as well as the source of dialogue legitimacy. This Scriptures-based multicultural religious education in the form of SR is expected to be an offer in the application of religious education in Indonesia to foster mutual acceptance and tolerance.
Pendidikan Anak Supernormal dengan Pendekatan Living Values Education Program (Studi Kasus Kelas Akselerasi MAN 2 Kota Madiun) Asfahani Asfahani; Wiwin Rif’atul Fauziyati
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 01 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v15i01.413

Abstract

The purpose of this study was to determine the strategies, approaches, stages and results of the life value education program in the education of supernormal children in MAN 2 Madiun City. Qualitative research method was conducted by direct observation and gained the results of this study which were that the Living Values Education Program (LVEP) acceleration class of MAN 2 in Madiun City is done by habituation, lecture, hands-on practice, discussion, performance, assignments, and visits to religious places, and uswah hasanah. The holistic approach (integrated and synchronized) in which the development of character values is integrated and interconnected in all aspects of the madrasa environment. The stages of reviving the value in children accelerated starting with the quarantine process. Through this LVEP, it is certain that children have personalities based on religious and cultural noble values. The conclusion of this research is that the LVEP approach has delivered supernormal children of MAN 2 Madiun City to have an awareness of high values, virtuous character and aware of the importance of exemplary and practice of values themselves in appreciating "good value" in children, as well as reflect on it. Keywords: Value and Value Education, Living Values Education Program, Supernormal Children. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi, pendekatan, tahapan dan hasil program pendidikan nilai kehidupan dalam pendidikan anak-anak supernormal di MAN 2 Kota Madiun. Metode penelitian kualitatif dilakukan dengan observasi langsung dan diperoleh hasil penelitian ini yaitu bahwa kelas akselerasi Living Values Education Program (LVEP) MAN 2 di Kota Madiun dilakukan dengan pembiasaan, kuliah, praktik langsung, diskusi, kinerja, tugas, dan kunjungan ke tempat-tempat relijius, dan uswah hasanah. Pendekatan holistik (terintegrasi dan tersinkronisasi) di mana pengembangan nilai karakter terintegrasi dan saling berhubungan dalam semua aspek lingkungan madrasah. Tahapan menghidupkan kembali nilai pada anak dimulai dengan proses karantina. Melalui LVEP ini, dapat dipastikan bahwa anak-anak memiliki kepribadian berdasarkan nilai-nilai luhur agama dan budaya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pendekatan LVEP telah menjadikan anak-anak supernormal dari MAN 2 Kota Madiun untuk memiliki kesadaran akan nilai-nilai tinggi, karakter berbudi luhur dan menyadari pentingnya teladan dan praktik nilai-nilai itu sendiri dalam menghargai "nilai baik" pada anak. Kata kunci: Nilai dan Pendidikan Nilai, Program Pendidikan Living Values, Anak Supernormal
Islamisasi Ilmu Pengetahuan: Pergulatan Pemikiran Cendekiawan Kontemporer Mustofa Hilmi
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 02 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v15i02.268

Abstract

The debate of experts regarding the perspective of science in Islam is still ongoing. The paradigm of the islamization of science emerged due to the feeling of the Muslims backwardness from advanced Western civilization. This study aims to elaborate on various views of Muslim scholars on the concept of islamization of science. Employing a literature study using descriptive qualitative research, this study indicates that some religious experts assume that there should be no dichotomy between religious and science in general. Religion must be the foundation of every science because they believe that everything, including science, is sourced from Allah. In essence, there is no separation between religion and every scientific discipline. But the Western thinkers have other views that they focus on the development of science in a positive-empirical aspect. The object of knowledge must be observable. They do not recognize the source and method of development of science in which Muslims use the senses, reason, and intuition. The author argues that somebody must support the idea of the islamization of science to restore knowledge according to its nature. The advancement of modern science must lead a Muslim to increase faith in Allah. Perdebatan para pakar mengenai cara pandang konsep ilmu pengetahuan dalam Islam masih belum berakhir. Paradigma islamisasi ilmu pengetahuan muncul di tengah kondisi tertinggalnya umat Islam dari peradaban Barat yang sudah maju. Tulisan ini bertujuan untuk mengelaborasi berbagai pandangan cendekiawan kontemporer tentang konsep islamisasi ilmu pengetahuan. Kajian ini merupakan studi kepustakaan dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agamawan menganggap tidak boleh ada dikotomi antara ilmu pengetahuan agama dan umum. Agama harus menjadi landasan setiap ilmu pengetahuan yang ada karena mereka meyakini bahwa segala sesuatu yang ada termasuk ilmu pengetahuan adalah bersumber dari Allah Swt., sehingga pada hakikatnya tidak ada sekularisme antara agama dengan setiap cabang disiplin ilmu pengetahuan. Namun para pemikir Barat memiliki tinjauan lain. Mereka hanya menitikberatkan pengembangan ilmu pengetahuan secara positif-empiris. Objek pengetahuan harus dapat diobservasi. Mereka tidak mengakui sumber dan metode pengembangan ilmu pengetahuan muslim yang menggunakan panca indra, akal, dan intuisi. Penulis berpendapat gagasan islamisasi ilmu pengetahuan ini harus didukung sebagai upaya mengembalikan ilmu sesuai fitrahnya. Kemajuan sains modern harus mengantarkan umat manusia pada peningkatan iman kepada Allah Swt.
Dakwah yang Menyelamatkan: Memaknai Ulang Hakikat dan Tujuan Da’wah Islamiyah Agus Setyawan
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 02 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v15i02.487

Abstract

Lately, the Indonesian public has been obsessed with the phenomenon of Islamic preachers who always invoke hate speech, slander, and deception in the name of Islam. Islam then comes as frightening not only towards non-Muslims but also fellow Muslims. The Islamic teachings of “salvation” suddenly seemed to be hated, leading to propaganda to “harm” human beings and their natural environment. Much of the Islamic material comes down to the Jihadist war's sole teachings against the “enemies of Islam.” This situation must be stopped by evoking Islam's eternal teachings, namely the “salvation”. This article complements a discussion of recent phenomena and aims to reinforce arguments about the importance of conducting “social media jihad” to counter existing radical drownings. By conducting a method to understand a thick description of the dakwah phenomenon on social media that surfaces lately, especially of those with elements of violence and radicalism, shown that the conservatism of the Y generation in social networks and their real movements has been strengthened. The relevant stakeholders must challenge the trend consecutively by enforcing relevant regulations. Keywords: Da'wah Islamiyah, dakwah, Islam, social media jihad, salvation. Belakangan ini publik Indonesia ramai dengan fenomena dai yang lantang selalu menyerukan pada ujaran kebencian, fitnah dan hoax yang mengatasnamakan Islam. Tampilan Islam menjadi seram tidak hanya bagi umat non Muslim, tapi juga di kalangan Islam sendiri. Ajaran Islam yang seharusnya “menyelamatkan” tiba-tiba tampil dengan penuh kebencian yang mengarah menjadi propaganda “mencelakakan” manusia dan alam sekitarnya. Banyak materi keislaman tereduksi menjadi hanya ajaran dakwah - jihadi berupa perang melawan “musuh-musuh Islam”. Keadaan ini perlu diurai dengan mengetengahkan lagi ajaran perennial Islam yaitu “keselamatan”. Artikel ini melengkapi diskusi fenomena dakwah mutakhir dan bertujuan memperkuat argumen betapa pentingnya melakukan “jihad medsos” dalam rangka melawan dakwah-dakwah radikal yang ada. Melalui metode penggambaran kental (thick description) untuk membaca fenomena dakwah di medsos yang marak belakangan ini, khususnya yang mengandung unsur kekerasan dan radikalisme, tampak penguatan konservatisme kaum milenial dalam medsos dan gerakan-gerakan nyatanya. Para pemangku kebijakan, baik dari unsur pemerintah ataupun kelompok Islam moderat, pun diharapkan untuk mampu melakukan penegakan regulasi dan keberanian dalam melakukan kontranarasi dakwah radikal dengan sungguh-sungguh. Kata kunci: Da'wah Islamiyah, dakwah, Islam, jihad media sosial, keselamatan.
The Role of Mosque for Internalizing Pancasila through Ngaji Filsafat in MJS Yogyakarta Ambiro Puji Asmaroini; Ardhana Januar Mahardhani; Muhammad Afif Mahrus
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 02 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v15i02.510

Abstract

The purpose of this research were, first, to describe the role of Jendral Sudirman Mosque (MJS), and second, to find out human value internalization in Pancasila through Ngaji Filsafat (Philosophy Discussion) at MJS. The research used a qualitative method with a descriptive type where the data collection was conducted through observation, interviews, and documentation. The informants were the administrator of MJS and participants of Ngaji Filsafat. The research showed that MJS has a vital role through its spiritual, intellectual, and socio-cultural functions. Furthermore, through the Ngaji Filsafat held in MJS, it is a place of worship and has potential in the realm of scholarship that could be utilized not only by academics and Muslims but also by the broader community of interreligious groups by promoting humanitarian awareness. Internalization of Pancasila's human values explicitly also existed through Ngaji Filsafat, such as respecting opinions, caring for others, and respecting other people's rights and obligations. Tujuan penelitian ini adalah, pertama, mendeskripsikan peran Masjid Jendral Sudirman (MJS), dan kedua, mengetahui internalisasi nilai kemanusiaan dalam Pancasila melalui Ngaji Filsafat di MJS. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tipe deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informannya adalah Takmir MJS dan peserta Ngaji Filsafat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, masjid berperan untuk kemakmuran melalui tiga fungsi, yaitu spiritual, intelektual, dan sosial budaya. Kedua, melalui Ngaji Filsafat yang dilaksanakan di masjid, tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga memiliki potensi di bidang keilmuan yang dapat dimanfaatkan tidak hanya dari kalangan akademisi dan umat Islam tetapi oleh masyarakat luas dan semua golongan serta antar agama dengan mempromosikan nilai humanitarianisme. Internalisasi nilai-nilai kemanusiaan dalam Pancasila secara eksplisit juga ada melalui Ngaji Filsafat seperti menghargai pendapat, peduli kepada sesama, dan menghormati hak dan kewajiban orang lain.
Pengembangan Model Ulul Ilmi dalam Pembelajaran PAI untuk Pembentukan Karakter Mahasiswa Era Revolusi Industri 4.0 Aam Abdussalam; Udin Supriadi; Muhamad Parhan; Nurti Budiyanti
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 02 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v15i02.529

Abstract

This paper aims to develop an Ulul Ilmi model in Islamic Education learning for the character of 21st-century students, which, of course, can help. Realize these national education goals—the research method used using a qualitative approach and literature study techniques in collecting data. Based on the findings, the Ulul Ilmi Model is very supportive in Islamic Religious Education learning because it has extreme divine values to achieve ma'rifatullah goals to shape 21st-century students' character. The method used is the method (1) the uswah hasanah method, an exemplary method that must be applied to an educator and passed on to students, (2) the ibrah mauidzah method, which is a learning method that must be delivered in the classroom, and (3) the targhib tarhib method, a method of strengthening for character building. Thus this pattern is later called the Ulul Ilmi model. Tulisan ini bertujuan untuk mengembangkan model Ulul Ilmi dalam pembelajaran PAI untuk pencapaian karakter mahasiswa abad 21, yang tentunya dapat membantu merealisasikan tujuan pendidikan Nasional. Metode penelitian yang digunakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teknik studi pustaka dalam pengumpulkan data. Berdasarkan hasil temuan, model Ulul Ilmi ini sangat memungkinkan untuk diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, karena memiliki nilai Ilahiyyah yang sangat kuat mencapai tujuan ma’rifatullah dalam rangka membentuk karakter mahasiswa abad 21. Metode yang digunakan ialah (1) metode uswah hasanah, yang merupakan metode keteladanan yang wajib diterapkan bagi seorang pendidik dan diwariskan kepada para peserta didik, (2) metode ibrah mauidzah, merupakan metode pembelajaran yang wajib untuk disampaikan di dalam kelas, dan (3) metode targhib tarhib, yakni metode penguatan untuk penanaman karakter. Dengan demikian pola inilah yang kemudian disebut sebagai model Ulul Ilmi.
Urgensi Penguatan Kesadaran Pelajar tentang Perannya sebagai Hamba untuk Mengatasi Perilaku Tercela Dera Nugraha; Nurwadjah Ahmad; Andewi Suhartini
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 02 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v15i02.539

Abstract

This study aims to find the causes of akhlak madzmumah (despicable behavior) among students as well as to present the idea of a solution. By employing the literature review method, the results of this study indicate that the cause of the many occurrences of such morals is due to Tauhid (Islamic monotheism) education that has not touched the awareness of students, especially about the nature of their main role as a servant of Allah. Humans as special creatures have provisions as well as additional tasks, namely fitrah and ibadah. Fitrah cannot guarantee that humans become good people by themselves, because some negative things around them can cover them up, so that the education is needed to help humans to always cling to and develop their nature. It is also important to strengthen ibadah so that one can act as a true servant of Allah. Thus, despicable behavior can be avoided by students on the basis of this awareness. Keywords: Consciousness, fitrah, role, servant of Allah, student. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan penyebab timbulnya akhlak madzmumah (perilaku tercela) di kalangan pelajar sekaligus menyuguhkan gagasan solusinya. Dengan menggunakan metode kajian pustaka, hasil penelitian ini menunjukan bahwa penyebab masih banyak terjadinya perilaku tercela adalah karena pendidikan Tauhid yang belum menyentuh kesadaran peserta didik, utamanya tentang hakikat peran utama mereka sebagai seorang hamba Allah. Manusia sebagai makhluk istimewa memiliki bekal sekaligus tugas tambahan, yakni fitrah dan ibadah. Fitrah tidak dapat menjamin manusia menjadi orang baik dengan sendirinya, karena beberapa hal negatif di sekelilingnya bisa menutupi, maka di sanalah pendidikan diperlukan untuk membantu manusia agar selalu berpegang teguh dan mengembangkan fitrahnya. Penting juga untuk memperkuat ibadah dan menjauhi segala perbuatan yang menimbulkan dosa agar dapat berperan sebagai hamba Allah yang sesungguhnya. Dengan demikian, perilaku tercela dapat dihindari para pelajar atas dasar kesadaran tersebut. Kata kunci: Fitrah, hamba Allah, kesadaran, pelajar, peran.

Page 5 of 16 | Total Record : 155


Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 20 No. 2 (2025): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 20 No. 1 (2025): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 19 No 1 (2024): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan (June 2024) Vol 19 No 2 (2024): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 19 No. 2 (2024): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 19 No. 1 (2024): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 18 No 2 (2023): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 18 No. 2 (2023): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 18 No 1 (2023): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 18 No. 1 (2023): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 17 No. 2 (2022): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 17 No 2 (2022): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 (2022): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 17 No 1 (2022): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 16 No 2 (2021): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 16 No 1 (2021): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 02 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 15 No 01 (2020): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 14 No 02 (2019): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 14 No 01 (2019): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 13 No 02 (2018): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 13 No 01 (2018): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 12 No 2 (2017): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan More Issue