cover
Contact Name
Sugeng Maryanto
Contact Email
sugengmaryanto99@gmail.com
Phone
+6281225183599
Journal Mail Official
sugengmaryanto99@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
ISSN : 19780346     EISSN : 25803751     DOI : 10.35473
Jurnal Gizi dan Kesehatan adalah terbitan berkala nasional yang memuat artikel penelitian (research article) di bidang gizi dan kesehatan. Jurnal Gizi dan Kesehatan diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah di bidang gizi dan kesehatan kepada para praktisi di bidang gizi, baik yang bergerak di bidang pendidikan gizi maupun yang bergerak di bidang pelayanan gizi di rumah sakit dan puskesmas, serta para praktisi gizi di dinas kesehatan maupun institusi-institusi lain.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 276 Documents
PENGARUH PEMBERIAN MINUMAN BERBAHAN DASAR LABU KUNING DAN KEDELAI TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PADA PENDERITA PREDIABETES MELLITUS USIA 30-50 TAHUN DI DESA NYATNYONO Amalia, Friska; Maryanto, Sugeng; Purbowati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 24 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v10i24.26

Abstract

Background :Prediabetes mellitus is a metabolic disease characterized by persistent hyperglycemia (high glucose leves), especially after eating due to lack of insulin produced by the pancreas gland or the inability of some cells to use insulin. Isoflavones in soybean and beta-carotene in pumpkin can lower blood glucose levels. Objective :To analyze the effect of drinking pumpkin and soybeanbasedon blood glucose level in prediabetes mellitus patient 30-50 years old in Nyatnyono Village. Method: Research type Quasy Experiment Design with pre and post test randomized group design. The subjects of this study were prediabetes sufferers aged 30-50 years. Respondents were divided into 2 groups, the group were non-intervention group and intervention group. The number of respondents were 13 people in each group. The intervention was done for 7 days. Blood glucose levels were measuredbyusing a glucometer. Feeding intake was measuredbyusing food recall 3x24 hours and analyzedbyusing nutrisurvey. Statistical analysis usedpaired t-test and unpaired t-test (α = 0,05). Results :There was a difference in blood glucose levels before and after treatment in the intervention group with p-value 0.001. Conclusion :The givingofdrink based on pumpkin and soybeancanaffect thedecrease of blood glucose level in prediabetes mellitus patients Abstrak : Latar Belakang : Prediabetes mellitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) yang terus menerus terutama setelah makan karena kekurangan insulin yang diproduksi oleh kelenjar pankreas atau ketidakmampuan beberapa sel untuk menggunakan insulin. Kandungan isoflavon dalam kedelai dan kandungan betakaroten dalam labu kuning dapat menurunkan kadar glukosa darah. Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian minuman berbahan dasar labu kuning dan kedelai terhadap kadar glukosa darah pada penderita prediabetes mellitus usia 30-50 tahun di Desa Nyatnyono. Metode: Jenis penelitian Quasy Experiment Design dengan rancangan pre and post test randomized group design. Subjek penelitian ini adalah penderita prediabetes usia 30-50 tahun. Responden dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok non intervensi dan intervensi. Jumlah responden sebanyak 13 orang pada masing-masing kelompok. Intervensi dilakukan selama 7 hari. Kadar glukosa darah diukur menggunakan glucometer. Asupan makan diukur menggunakan food recall 3x24 jam dan dianalisis menggunakan nutrisurvey. Analisis statistik menggunakan uji paired t-test dan unpaired t-test (α = 0,05). Hasil : Ada perbedaan kadar glukosa darah sebelum dan sesudah diberikan perlakuan pada kelompok intervensi dengan p-value adalah 0,001. Simpulan : Pemberian minuman berbahan dasar labu kuning dan kedelai berpengaruh terhadap penurunan kadar glukosa darah pada penderita prediabetes mellitus.
HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI MINUMAN BERPEMANIS DAN ASUPAN SERAT DENGAN KADAR GULA DARAH PADA DEWASA USIA 30-50 TAHUN DI DESA NYATNYONO KECAMATAN UNGARAN BARAT KABUPATEN SEMARANG Hifayah; Maryanto, Sugeng; Pontang, Galeh Septiar
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 24 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v10i24.27

Abstract

Background :High blood glucose levels can be an indicator of early onset of DM. The absorption of sugar causes an increase in blood sugar levels and increase the secretion of insulin. Fiber consumption may slow gastric emptying and the absorption of blood sugar levels by the intestine. Objective :To know the correlation between sweetened drinks consumption and fiber intake with blood sugar levels in adults aged 30-50 years in the village of Nyatnyono Ungaran Regency. Method :The design of this research was descriptive correlative of cross sectional. The number of samples were 81. Intake eat measured using a food recall 3x24 hour and analyzed using nutrisurvey. Statistical analysis using Pearson Product Moment test (α = 0.05). Results :Low sweetened drink consumption was in 34 adults (42,0%), moderate category was in 42 adults (51,9%) high category was in 5 adults (6,2%). Less fiber intake category was in 78 adults (96,3%) good category was in 3 adults (3,7%). Good blood sugar level was in 53 adults (65.4%), moderate category was in 14 adults (17,3%), high category was in 14 adults (17,3%). There was a correlation between consumption of sweetened drink with blood sugar levels (p = 0,001, r = 0,351), there was no correlation between fiber intake with blood sugar levels (p = 0,739, r = -0,038). Conclusion :There is a correlation between sweetened drink consumption and fiber intake with blood sugar levels Abstrak : Latar Belakang: Tingginya kadar gula darah menjadi indikator awal terjadinya penyakit DM. Penyerapan gula menyebabkan peningkatan kadar gula darah dan meningkatkan sekresi insulin. Konsumsi serat dapat memperlambat pengosongan lambung dan penyerapan kadar gula darah oleh usus halus. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara konsumsi minuman berpemanis dan asupan serat dengan kadar gula darah pada dewasa usia. Metode: Rancangan penelitian adalah dekriptif korelatif menggunakan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel 81 dewasa menggunakan metode Simple Random Sampling. Asupan makan diukur menggunakan food recall 3x24 jam. Analisis statistik menggunakan uji Pearson Product Moment (α = 0,05). Hasil: Konsumsi minuman berpemanis terdiri dari 34 rendah (42,0%) sedang 42 (51.9%) tinggi 5 (6,2%). Asupan serat kurang 78 (96,3%) baik 3 (3,7%). Kadar gula darah baik 53 (65,4%) sedang 14 (17,3%) tinggi 14 (17,3%). Ada hubungan konsumsi minuman berpemanis dengan kadar gula darah (p=0,001, r=0,351), Tidak ada hubungan asupan serat dengan kadar gula darah (p=0,739, r= -0,038). Simpulan: Terdapat hubungan antara konsumsi minuman berpemanis dengan kadar gula darah. Tidak ada hubungan asupan serat dengan kadar gula darah.
ANALISIS INDEKS GLIKEMIK PADA NUGGET AYAM CAMPURAN JAMUR TIRAM PUTIH (PLEUROTUS OSTREATUS) Rahayu, Laksni; Purbowati; Pontang, Galeh Septiar
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 24 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v10i24.28

Abstract

Background :High energy,high fat andlow fiber foodsmay increasethe risk ofoverweight,constipation,hypercholesterolemia,and variousotherdegenarativediseasessuch asdiabetes mellitus.Oyster mushrooms of food low fat and highfiber foods.High fiber foodcan decreaseglycemic indexlevels. Purpose: To Analyzeglycemic indexlevels ofnugget made from chicken mixed white oyster mushrooms (pleurotus ostreatus) Method: True Experiment research of true pretest post test. The objects of this research used male mice of wistar strain with the samples of 28 mice is devided into 4 gramoups: 1 gramoup of reference food (glucose) and 3 gramoup of given product gramoup (chicken nugget, nugget white oyster mushrooms, and chicken nugget made from mixed white oyster mushroom) consiting of 7 rats namely. Blood glucose levels were measured by using the microlab. Statistic analysis used one way anova (α=0.05). Result: Glycemic Index value on the chicken nugget was 66.43 and chicken nugget white oyster mushroom was 68.28 in moderate to GI (55-70) while was the nugget made from white oyster mushroom was in high category of 84.14. There was no difference in the value of the glycemic index on the chicken nugget, chicken nugget made from white oyster mushrooms nugget and chicken nugget made from mixed white oyster mushrooms p-value 0.824. Conclusions: Glycemic Indexvalueon chicken nugget and chicken nugget with oyster mushroom in moderate category was 66,43 and 68,28 andoyster mushroomsin the categoryhigh of84.14andthere is nodifference inthe value oftheglycemic indexonthe chicken nugget made mixed from whiteOyster mushrooms Abstrak : Latar belakang :Makanan tinggi energi, lemak dan rendah serat dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan, konstipasi, hiperkolesterol, dan berbagai penyakit degenartif lainnya seperti diabetes melitus. Jamur tiram merupakan salah satu sumber pangan rendah lemak dan tinggi serat. Bahan makanan tinggi serat dapat menurunkan kadar indeks glikemik. Tujuan : Menganalisis kadar indeks glikemik produk nugget ayam campuran jamur tiram putih (Pleurotus Ostreatus). Metode : Merupakan penelitian True experimental pretest – posttest..obyek penelitian ini menggunakan hewan coba tikus galur wistar jantan dengan jumlah sampel 28 ekor yang dibagi menjadi 4 kelompok dengan pembagian 1 kelompok pangan acuan (Glukosa) dan 3 kelompok yang diberikan produk (nugget ayam, nugget jamur tiram putih, dan nugget ayam campuran jamur tiram putih) masing masing 7 ekor tikus. Kadar glukosa darah diukur menggunakan microlab. Analisis statistik menggunakan uji one way anova (α=0,05). Hasil : Nilai indeks glikemik pada nugget ayam adalah 66,43 dan nugget ayam campuran jamur tiram putih adalah 68,28 dalam kategori sedang IG (55 -70) sedangkan pada nugget jamur tiram putih adalah 84,14 dalam kategori tinggi. Tidak ada perbedaan nilai indeks glikemik pada nugget ayam, nugget jamur tiram putih dan nugget ayam campuran jamur tiram putih p-value 0,824. Simpulan : Nilai indeks glikemik pada nugget ayam dan nugget ayam campuran jamur tiram putih dalam kategori sedang yaitu 66,43 untuk nugget ayam 68,28 untuk nugget ayam campuran jamur tiram putih dan dalam kategori tinggi pada nugget jamur tiram putih yaitu 84,14 serta tidak ada perbedaan nilai indeks glikemik pada nugget berbahan dasar ayam dan jamur tiram putih.
HUBUNGAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO DENGAN LINGKAR LENGAN ATAS (LILA) PADA SISWA PUTRI DI SMA NEGERI 1 BERGAS KABUPATEN SEMARANG Wahyuni, Regina; Pontang, Galeh Septiar; Mulyasari, Indri
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 24 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v10i24.29

Abstract

Background: MUAC is a picture of muscle tissue and a layer of subcutaneous fat that reflects the status of chronic energy deficiency (CED).Carbohydrate, fat and protein intake can affect the energy reserves in the body. Purpose :To determine the correlation between macro nutrientintakewith MUAC in female students at Senior High School 1 Bergas, Semarang Regency. Method :The study was correlation with cross sectional approach with the population of all female students aged 16-18 years at Senior High School 1 Bergas, Semarang Regency and the samples were 92 respondents taken by proportional random sampling method. Carbohydrate, fat and protein intake were measured by using a semiquantitative FFQ questionnaire. The mid upper arm circumferencewas measured by using a metline to the nearest of 0,1cm. The bivariate analysis used Spearman correlation test (α = 0,05). Result :Poor carbohydrate intake category was 16,3%, adequatewas 32,6% and excessive was 51,1%. Poor fat intake category was 70,6%, adequatewas 17,4% and excessive was 12%. Poorprotein intake category was 60,9%, adequate was 23,9% and excessive was 15,2%.There was a correlation between carbohydrate and protein intake andMUAC (p=0,006; p=0,048).There was no correlation between fat intake andMUAC (p = 0,143). Conclusion :There is a correlation between carbohydrate and protein intake and MUAC in female studentsat Senior High School 1 Bergas, Semarang Regency. There is no correlation between fat intake and MUAC in female students at Senior High School 1 Bergas, Semarang Regency Abstrak : LatarBelakang: LILA merupakan gambaran jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit yang mencerminkan status kekurangan energi kronis (KEK). Asupan karbohidrat, lemak dan protein dapat mempengaruhi cadangan energi dalam tubuh. Tujuan :Mengetahuihubungan asupan zat gizi makro dengan LILA pada siswa putri di SMA Negeri 1 Bergas Kabupaten Semarang. Metode :Jenis penelitian ini adalah korelasional menggunakan pendekatan cross sectionaldengan populasi seluruh siswa putri usia 16-18 tahun di SMA Negeri 1 Bergas Kabupaten Semarang dan jumlah sampel 92 responden diambil dengan metode proportional random sampling. Asupan karbohidrat, lemak dan protein diukur menggunakan kuesioner FFQ semi kuantitatif. Lingkar lengan atas diukur menggunakan metlinedengan ketelitian 0,1 cm. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman (α=0,05). Hasil :Asupan karbohidrat kategori kurang yaitu 16,3%, cukup 32,6% dan lebih 51,1%. Asupan lemak kategori kurang yaitu 70,6%, cukup 17,4% dan lebih 12%. Asupan protein kategori kurang yaitu 60,9%, cukup 23,9% dan lebih 15,2%. Ada hubungan asupan karbohidrat dan protein dengan LILA (p=0,006;p=0,048). Tidak ada hubungan asupan lemak dengan LILA (p=0,143). Simpulan :Ada hubungan asupan karbohidrat dan protein dengan LILA pada siswa putri di SMA Negeri 1 Bergas Kabupaten Semarang. Tidak ada hubungan asupan lemak dengan LILA pada siswa putri di SMA Negeri 1 Bergas Kabupaten Semarang.
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ZAT BESI, ASAM FOLAT DAN VITAMIN C DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI USIA 15-18 TAHUN DI SMK BINA NUSANTARA UNGARAN BARAT KABUPATEN SEMARANG Nurwahidah; Mulyasari, Indri; Pontang, Galeh Septiar
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 24 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v10i24.30

Abstract

Background :Femaleadolescents aged 10-19 years who experience anemia increase by 68.24%. Lack of iron intake, folic acid and vitamin C is a factor of theoccurrence of anemia in female adolescents. Objective :to determine the correlationbetween intake of iron, folic acid and vitamin C with hemoglobin level infemale adolescents aged15-18 years at SMK Bina Nusantara, West Ungaran Semarang Regency Methods :This study was acorrelationalcorrelative study using cross-sectionalapproach at SMK Bina Nusantara. Samples were 70 students taken by Proportional Random Samplingmethod. Iron intake, folic acid intake and vitamin C intake were measured by semiquantitative FFQ. Hemoglobin was measured by using hemoglobinometer. Data analysis used Spearman Rank correlation test and Person product moment (α = 0,05). Result : iron intake was included as category severe deficiency 54.3%, mild deficiency 2.9%, moderate deficiency2.9%, normal 32% and excessive intake 7.1%. Folic acid intake was included as category severe deficiency 54,3%, mild deficiency 17,1%, moderate deficiency 8,6%, normal 18,6%, and excessive intake 5,7%. vitamin intake was included as category severe deficiency 25.7%, mild deficiency 2.9%, moderate deficiency 5.7%, normal 12.9%, and excessive intake 52.9%. For the levels of hemoglobin, most of them experiencedanemia as many as 52,9% (37 respondents) and not anemia as many as 47,1% (33 respondents). There was a correlation between iron intake and folic acid intake with hemoglobin level (p = 0.0001; p = 0.0003), there was no correlation between vitamin C and hemoglobin level (p = 0,304). Conclusion :There is a correlation between iron intake and folic acid intake with hemoglobin levels. There is no association between vitamin C and hemoglobin levelsKeywords: iron, folic acid, vitamin C, hemoglobin level Abstrak : Latar Belakang : Remaja putri umur 10-19 tahun yang mengalami anemia mengalami peningkatan sebesar 68,24%. Kurangnya asupan zat besi, asam folat dan vitamin C merupakan salah satu faktor terjadinya anemia pada remaja putri. Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara asupan zat besi, asam folat dan vitamin cdengan kadar hemoglobin pada remaja putri usia 15-18 tahun di SMK Bina Nusantara Ungaran Barat Kabupaten Semarang. Metode : Jenis penelitian studi kolerasi dengan pendekatan cross sectional di SMK Bina Nusantara . Sampel 70 siswa diambil dengan metode Proportional Random Sampling. Asupan zat besi, asupan asam folat dan asupan vitamin C menggunakan FFQ semikuantitatif. Hemoglobin diukur menggunakan Hemoglobinometer. Analisis data menggunakan uji kolerasi Spearman Rank dan Person product moment (α = 0,05). Hasil : Asupan zat besi kategori defisit berat 54,3%, defisit ringan 2,9%, defisit sedang 2,9%, normal 32% dan diatas kebutuhan 7,1%. Asupan asam folat kategori defisit berat 54,3%,defisit ringan 17,1 %, defisit sedang 8,6% normal 18,6%, dan diatas kebutuhan 5,7%. Asupan vitamin C kategori defisit berat 25,7%, defisit ringan 2,9%, defisit sedang 5,7%, normal 12,9%, dan di atas kebutuhan 52,9 %, dan Kadar hemoglobin yang termassuk anemia 52,9% (37) dan tidak anemia 47,1% (33). Ada hubungan antara asupan zat besi dan asupan asam folat dengan kadar hemoglobin (p=0,0001 ; p=0,0003), tidak ada hubungan antara vitamin C dengan kadar hemoglobin (p=0,304). Simpulan : Ada hubungan antara asupan zat besi dan asupan asam folat dengan kadar hemoglobin. Tidak ada hubungan antara vitamin C dengan kadar hemoglobin
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH MENURUT UMUR DAN LINGKAR PINGGANG DENGAN KEBUGARAN JASMANI PADA REMAJA DI SMK WIDYA PRAJA UNGARAN. Arista, Novia; Mulyasari, Indri; Pontang , Galeh Septiar
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 24 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v10i24.31

Abstract

Background: Adolecents needed physical afitness for growth. Some studies mention physical fitness in adolescents is very low. Factors that can affect physical fitness are body mass index based on age and waist circumference. Porpuse :This research was to know the correlation between body mass indexs based on age and waist circumference with physical fitness in the adolescents at the Vocational High School Widya Praja Ungaran. Method: The correlation study used cross sectional approach. The study population of this study was all student at Vocational High School Widya Praja Ungaran. The samples were 122 adolescents by totalsampling. The was measurede metline, weight scales, microtoise and physical fitness was measured by multistage fitness test. Bivariat analysis used spearman test and pearson test (α= 0,05). Results: The avarage body mass index based on age -1.0 ± 1.12 SD, waist circumference average 68.24 ± 7.18 cm, physical fitness scoring for adolecents 26.8 ± 5.97 ml/kg/menit. There was no correlation between body mass index based on with physical fitness (p= 0.77).There was no correlation waist circumference and physical fitness (P=0.41). Conclusion :There is no correlation between body mass index based on age and waist circumference with physical fitness in the adolencents at Vocational High School Widya Praja Ungaran. Abstrak : Latar Belakang : Remaja membutuhkan aktivitas fisik untuk menunjang pertumbuhan. Beberapa penelitian menyebutkan kebugaran jasmani pada remaja sangat rendah. Faktor yang dapat mempengaruhi kebugaran jasmani adalah indeks massa tubuh menurut umur dan lingkar pinggang. Tujuan : Mengetahui hubungan indeks mssa tubuh menurut umur dan lingkar pinggang dengan kebugaran jasmani pada remaja di SMK Widya Praja Ungaran. Metode : Rancangan penelitian ini adalah cross sectional. Populasi penelitian ini sebanyak 122 remaja diambil dengan teknik total sampling. Alat ukur yang digunakan metline, timbangan berat badan, moctotoise, dan kebugaran jasmani diukur dengan menngunakan multi stage fitnes test. Uji yang digunakan adalah uji spearman (α=0,05) Hasil: Rerata indeks massa tubuh menurut umur-1.0 ± 1.12 SD , lingkar pinggang rata-rata 68.24 ± 7.18 cm , skor kebugaran jasmani pada remaja 26.8 ml/kg/menit ± 5.97 ml/kg/menit. Tidak ada hubungan indeks massa tubuh manurut umur dengan kebugaran jasmani (p=0,77). Tidak ada hubungan lingkar pinggang dengan kebugaran jasmani (p=0.41). Simpulan : Tidak ada hubungan indeks massa tubuh menurut umur dan lingkar pinggang dengan kebugaran jasmani pada remaja di SMK Widya Praja Ungaran
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ENERGI DARI MINUMAN RINGAN DENGAN PERSEN LEMAK TUBUH PADA REMAJA DI SMK WIDYA PRAJA UNGARAN Annafi’a, Kun Anis; Purbowati; Mulyasari, Indri
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 24 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v10i24.32

Abstract

Background: Percentage of body fat is to aspect that is used to see whether or not there are nutritional problems and can reflect the composition of a person's body. If a person's percentage of body fat is over the normal amount, meaning that a person has excessive body fat mass. Consuming a drink containing sugar simple carbohydrates (disaccharide)and excessive amounts and each day can be badly genesis of obesity. Obesity can occour because of an imbalance between energy intake and energy expenditure. Objective :To know the correlation between energy intake or soft drinks with percentage body fat in adolescents in SMK Widya Praja Ungaran. Method: This type of research was correlation using crossectional approach. The population was the entire students at SMK Widya Praja Ungaran and the number of samples were 139 students taken by the method of total sampling. Data collecting usedSemi quantitative FFQ to find out the amount of the energy intake of soft drinks, BIA Hand to Food to measure body fat percentange. Results :Bivariat analysis results by using spearman'rho teston the variable in the energy intake got (α=0,05) (p = 0512). Mean energy intake of soft drinks 206.06 and ± 143,004 kcal. Mean body fatpercentage percentile 42.94 and ± 33.08. Conclusion :there is no correlation between energy intake from packages drinks with body fat in adolescents in SMK Widya Praja Ungaran Abstrak : Latar Belakang : Persen lemak tubuh salah satu aspek yang dapat digunakan untuk melihat ada tidaknya masalah gizi seseorang. Jika persen lemak tubuh seseorang lebih dari angka normal,artinya massa lemak tubuh seseorang berlebihan. Konsumsi minuman ringan yang mengandung gula karbohidrat sederhana (Disakarida) dengan jumlah yang banyak dan berlebihan setiap harinya dapat berdampak buruk terhadap kejadian obesitas. Obesitas dapat terjadi karena adanya ketidak seimbangan antara energi yang masuk dan energi yang dikeluarkan. Tujuan : Mengetahui hubungan asupan energi dari minuman kemasan dengan persen lemak tubuh pada remaja di SMK Widya Praja Ungaran. Metode : Jenis penelitian ini adalah korelasi dengan menggunakan pendekatan Crossectional. Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh siswa SMK Widya Praja Ungaran dan jumlah sampel 139 siswa diambil dengan metode total sampling pengambilan data minuman ringan menggunakan FFQ Semi kuantitatif, BIA Hand to Food untuk mengukur persen lemak tubuh. Hasi : Uji bivariat menggunakan spearman’rho (α=0,05) dengan hasil (p=0,512). Maka tidak ada hubungan antara asupan energi dari minuman ringan dengan persen lemak tubuh pada remaja di SMK Widya praja Ungaran. Rata-rata asupan energi minuman ringan 206.06 ±143.004 Kkal. Rata-rata persen lemak tubuh persentil 42,94 ± 33,08. Kesimpulan : Tidak ada hubungan antara asupan energi dari minuman ringan dengan persen lemak tubuh pada remaja di SMK Widya praja Ungaran.
HUBUNGAN KONSUMSI MINUMAN BERPEMANIS DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJADIAN DIABETES MELITUS PADA DEWASA USIA 30-50 TAHUN DI DESA NYATNYONO KECAMATAN UNGARAN BARAT KABUPATEN SEMARANG Astuti, Iga Dila Widuri; Maryanto, Sugeng; Pontang, Galeh Septiar
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 24 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v10i24.33

Abstract

Background : Increased glucose levels are associated with the incidence of diabetes mellitus. The prevalence of diabetes mellitus increased from 2007 by 1.1% to 2.1% in 2013. Factors causing DM are irreversible factors ie age, sex and the factor that can be changed is the consumption of sweetened beverages and physical activities. Objective: The aim of the study was to analyze the correlation between consumption of sweetened beveragesand physical activities with incidence ofdiabetes mellitusin adultsaged30-50years old. Method : The design ofstudywascorrelation with cross sectional. The population was all adultsaged 30-50 years at Nyatnyono Village. The data sampling used simple random sampling and obtained 81 samples as the respondents. The data were taken by using Recall 24 hours to determine the consumption of sweetenedbeverages, GPAQ questionare to determine physical activitiesand glucometer. Bivariat analysis used Chi Square and Kolmogorov-Smirnov. Results: Therespondents with low consumption ofsweetenedbeverageswere 42,0% (n=32), moderate category51.9% (n=42), high category 6,2% (n=5). The respondents with light physical activitiescategorywere19,8% (n=16), moderate 19,8% (n=49), heavy category 119,8% (n=16). There was a correlation between consumption of sweetenedbeverageswith incidence ofdiabetes mellitus (p 0,034 < 0,05) and not a correlation between physical activities with incidence ofdiabetes mellitus (p 0,958 > 0,05). Conclusion : There is a correlation between consumption of sweetenedbeverageswith incidence ofdiabetes mellitusand there is not a correlation between physical activities with incidence ofdiabetes mellitusin adultsaged30-50years old at Nyatnyono Village West Ungaran District Semarang Regency.Keywords : consumption ofsweetened beverages, physical activities, incidence ofdiabetes mellitus Abstrak : Latar Belakang : Peningkatan kadar gula darah dikaitkan dengan kejadian diabetes mellitus. Prevalensi DM meningkat dari tahun 2007 sebesar 1,1% menjadi 2,1% di tahun 2013. Faktor penyebab DM yaitu faktor tidak dapat diubah yaitu umur, jenis kelamin dan faktor dapat diubah yaitu konsumsi minuman berpemanis dan aktivitas fisik. Tujuan : Mengetahui hubungan asupan konsumsi minuman berpemanis dan aktivitas fisik dengan kejadian diabetes melitus pada dewasa usia 30-50 tahun. Metode : Penelitian korelatif pendekatan cross sectional. Populasi 272 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan sampel 81orang. Pengambilan data dengan Recall 24 hours, kuosioner GPAQ dan glucometer. Analisis data menggunakan uji Chi Square dan Kolmogorov-Smirnov. Hasil : Responden dengan konsumsi minuman berpemanis kategori rendah 42,0% (n=32), sedang 51,9% (n=42), kategori tinggi 6,2% (n=5). Responden dengan aktivitas fisik kategori kategori ringan 19,8% (n=16), sedang 60,5% (n=49), kategori berat 19,8% (n=16). Ada hubungan antara konsumsin minuman berpemanis dengan kejadian diabetes mellitus (p 0,034 < 0,05) dan tidak ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian diabetes mellitus (p 0,958 >0,05). Simpulan : Ada hubungan antara konsumsi minuman berpemanis dengan kejadian diabetes mellitus dan tidak ada hubungan aktivitas fisik dengan kejadian diabetes mellitus pada dewasa usia 30-50 tahun di Desa Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang.
HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN HEWANI DAN VITAMIN C DENGAN KEBUGARAN JASMANI PADA REMAJA DI SMK WIDYA PRAJA UNGARAN Yana, Riza Dwi; Mulyasari, Indri; Purbowati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 24 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v10i24.34

Abstract

Background: Good fitness can be achieved by: managing food, arrangeing rest and itsactivity / sport. Nutrition to support fitness consists of macro nutrients (protein) and micronutrients(vitamin C). Objective :To determine the correlationbetween animal protein intake and vitamin C with physical fitness in teenagersat SMK Widya Praja Ungaran. Method :The research design wasdescriptive correlation using cross sectional approach. The population wasall students in SMK Widya Praja Ungaran, the number of sample were 122 students, using total sampling method. Intake of animal protein and vitamin C was measured by using semi quantitative FFQ questionnaires. Physical fitness wasmeasuredbyusing the Multistage Fitness Test method (multi-stage run). Analysis usedSpearman Rank correlation test (α = 0,05). Results :Average intake of animal protein was 44.3%± 25%, mean intake of vitamin C 54.7% ± 34% and average physical fitness test score was 26.8 ml/kg/min± 5.9 ml/kg/min. As many categoriesmoreanimal protein intakeas 44.3%,less vitamin C ingestion categoryas 81.1%, andvery low VO2max score categoryas 52.2%. Bivariate analysis there is acorrelation betweenanimal protein intake with physical fitness (p=0.042) and no correlationbetween vitamin C intake and physical fitness (p=0.864). Conclusion :There is a correlation betweenanimal protein intake with physical fitness and there is correlation betweenvitamin C intake and physical fitness Abstrak : Latar Belakang: Kebugaran yang baik bisa diraih dengan: mengatur makanan, mengatur istirahat, dan melakukan aktivitas/olahraga. Zat gizi untuk menunjang kebugaran terdiri dari zat gizi makro (protein) dan zat gizi mikro (vitamin C). Tujuan: Untuk mengetahui hubungan asupan protein hewani dan vitamin C dengan kebugaran jasmani pada remaja di SMK Widya Praja Ungaran. Metode: Rancangan penelitian adalah deskriptif korelasi menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi seluruh siswa di SMK Widya Praja Ungaran, jumlah sampel 122 siswa, menggunakan metode total sampling. Asupan protein hewani dan vitamin C diukur menggunakan kuesioner FFQ semi kuantitatif. Kebugaran jasmani diukur menggunakan metode Multistage Fitnes Test (lari multi tahap). Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank (α=0,05). Hasil: Rerata asupan protein hewani 44.3% ± 25%, rerata asupan vitamin C 54.7% ± 34% dan rerata skor tes kebugaran jasmani 26.8 ml/kg/min ± 5.9 ml/kg/min. Kategori paling banyak asupan protein hewani lebih 44.3%, asupan vitamin C kurang 81.1%, dan kategori skor VO2max sangat kurang 52.2%. Analisis bivariat menunjukkan ada hubungan asupan protein hewani dengan kebugaran jasmani (p=0,042) dan tidak ada hubungan asupan vitamin C dengan kebugaran jasmani (p=0,864). Simpulan: Terdapat hubungan asupan protein hewani dengan kebugaran jasmani dan tidak terdapat hubungan asupan vitamin C dengan kebugaran jasmani.
HUBUNGAN ASUPAN LEMAK DAN ZINK DENGAN KEBUGARAN JASMANI PADA REMAJA DI SMK WIDYA PRAJA UNGARAN Azimah, Uly; Mulyasari, Indri Mulyasari; Purbowati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 24 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jgk.v10i24.35

Abstract

Background :Physical fitnessis expected to have a dole scence making itable to work effectively and efficiently, easily absorba lesson,not susceptible to the disease and can perform optimally both in the field of education as well as in the field of sport. One of the nutrients that can affect the level of physical fitness that is fat in take and zink. Purpose :This research aims to know the correlation between of fat in take and physical fitness with zink in a dolescence. Methods: The design ofthis researchis a cross-sectional students witha method that is122. Fat intake and zink in size with the method of total sampling method of semiquantitativeFFQ consumptions urveys. Physical fitnessis measured by the method of Multistage Fitness Test(VO2max), analysis using the spearman rank correlation between test(α=0.05). Results: The mean fat in take on adole scence that is 72.2%±0,85%, zinc intake mean 7.64%, ±2,89% and physical fitness 26.59%± 6,31%.Bivariat analysis shows that there is no correlation between fat intake with physical fitness (p=0.493)where asatthe in take bivariate analysis using zink showed no correlation with physical fitness zini intake (p =0,033). Conclussion :There is no correlation between is no of fat intake with physical fitness in youth,and there is correlation between of physical fitness with zinc intake in adolescence Abstrak : Latar Belakang: Remaja diharapkan memiliki kebugaran jasmani sehingga mampu bekerja secara efektif dan efisien, mudah menyerap pelajaran, tidak mudah terserang penyakit dan dapat berprestasi secara optimal baik dibidang pendidikan maupun dibidang olahraga. Salah satu zat gizi yang dapat mempengaruhi tingkat kebugaran jasmani yaitu asupan lemak dan zink. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan lemak dan zink dengan kebugaran jasmani pada remaja. Metode: Rancangan penelitian ini adalah cross-sectional dengan metode total sampling yaitu 122 siswa. Data asupan lemak dan zink di ukur dengan metode survei konsumsi FFQ semi kuantitatif. Kebugaran jasmani diukur dengan metode Multistage Fitnes Test yaitu VO2max. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank (α = 0,05). Hasil: Rerata asupan lemak pada remaja yaitu 72,2%± 0,85%, rerata asupan zink yaitu 7,64% ± 2,89%dan rerata kebugaran jasmani 26,59% ± 6,31%. Tidak ada hubungan antara asupan lemak dengan kebugaran jasmani (p=0,493). Ada hubungan asupan zink dengan kebugaranjasmani (p=0,033). Simpulan:Tidak ada hubungan asupan lemak dengan kebugaran jasmani pada remaja, dan ada hubungan asupan zink dengan kebugaran jasmani pada remaja.

Page 3 of 28 | Total Record : 276


Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 17 No. 2 (2025): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol. 17 No. 1 (2025): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol. 16 No. 2 (2024): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol. 16 No. 1 (2024): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol. 15 No. 2 (2023): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol. 15 No. 1 (2023): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 14 No 2 (2022): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 13 No 2 (2021): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 13 No 1 (2021): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 12 No 27 (2020): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 12 No 1 (2020): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 11 No 26 (2019): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 11 No 25 (2019): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 24 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 10 No 23 (2018): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 9 No 22 (2017): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 9 No 21 (2017): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 8 No 20 (2016): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 8 No 19 (2016): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 8 No 18 (2016): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 8 No 17 (2016): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 7 No 15 (2015): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN0 Vol 7 No 16 (2015): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 7 No 15 (2015): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 7 No 14 (2015): JURAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 7 No 13 (2015): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 6 No 11 (2014): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 5 No 10 (2013): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 5 No 9 (2013): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 4 No 8 (2012): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 4 No 7 (2012): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 3 No 6 (2011): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 3 No 5 (2011): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 2 No 4 (2010): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol 2 No 3 (2010): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN More Issue