cover
Contact Name
Elsi Dwi Hapsari
Contact Email
elsidhapsari2@gmail.com
Phone
+6287839259788
Journal Mail Official
elsidhapsari2@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat DPP PPNI Graha PPNI Jl. Lenteng Agung Raya No 64, Kec. Jagakarsa, RT 006 RW O8, Jakarta Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)
ISSN : 25031376     EISSN : 25498576     DOI : http://dx.doi.org/10.32419/jppni.v4i3
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) merupakan jurnal resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini merupakan jurnal dengan peer-review yang diterbitkan secara berkala setiap 4 bulan sekali (April, Agustus, Desember), berfokus pada pengembangan keperawatan di Indonesia. Tujuan diterbitkan JPPNI adalah untuk mewujudkan keperawatan sebagai suatu profesi yang ditandai oleh kegiatan ilmiah yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh perawat di Indonesia, dikomunikasikan melalui media jurnal yang dikelola oleh organisasi profesi, dan didistribusikan ke kalangan perawat, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Articles 205 Documents
ANALISIS PENGARUH PENGGANTIAN RUTIN PENUSUKAN KATETER INTRAVENA DAN PENGGANTIAN SET INFUSE TERHADAP TERJADINYA PLEBITIS DI RS SINT CAROLUS JAKARTA Niluh Widani
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v3i1.48

Abstract

ABSTRAKPemasangan infus adalah prosedur  umum  pada pasien di rumah sakit dimana komplikasi yang umum terjadi adalah plebitis. Tujuan penelitian untuk menganalisa pengaruh penggantian rutin penusukan dan penggantian set infuse terhadap kejadian phlebitis. Metoda  penelitian   kuntitatif, desain Kohort, sample pasien dewasa diambil secara purposif sebanyak 247 sample, dilakukan pengamatan  tusukan infuse sejak pemasangan sampai   pencabutan. Data dikumpulkan menggunakan lebar observasi dan VIP score (Visual infusion phlebitis score). Hasil analisa mayoritas responden perempuan 140 (56.7%), rata-rata berusia 48.9 tahun, penyakit noninfeksi 151 (61.1%), nomor kateter iv 22: 193 (78.1%), lokasi penusukan di tangan 173 (70%), pemberian cairan isotonik 181 (73.3%), pemberian terapi bolus satu jenis 89 (36%), mendapat terapi drip 142 (57.5%), lama pemasangan 4 hari 63 (25.5%), tidak ada penggantian tusukan iv 169 (68.4%), set infuse drip diganti setiap pemberian 91 (36.8%) dan skala plebitis satu 12,6%. Analisa bivariateKendal’s tau C ada hubungan  pemberian terapi iv bolus (p=0.03), lama pemasangan kateter iv (p=0.00) terhadap terjadinya plebitis (p<0.05). Uji   Regresi logistik  didapatkan variabel independen  memberikan kontribusi kejadian plebitis sebesar 24.5%. Uji probabilitas disimpulkan responden yang tidak diganti tusukan infuse  rutin dan set drip secara rutin berisiko plebitis sebesar 100%. Diskusi: Hasil penelitian ini menyimpulkan pentingnya penggantian kateter intravena perifer  dan penggantian set infuse untuk pemberian terapi drip secara rutin untuk mencegah terjadinya plebitis. Kesimpulan: penelitian lebih lanjut menganalisa faktor risiko plebitis diluar faktor yang telah diteliti seperti faktor tetesan dan ketrampilan perawat dalam pemasangan infuse. Kata kunci :Penggantian Kateter Intravena, Set Infus, Plebitis ABSTRACTThe insertion of peripheral intravenous catheters  is a common practice in hospitals, where Phlebitis is the main local complication. This study attempts to analyze relationship of routine replacement Intravenous catheter insertion and routine replacement Intravenous infusion set to phlebitis. A quantitative-cohort design was used in this study.  Purposive sampling was utilized involving 247 adult patients.  The observation was conducted from insertion until intravenous catheters was retracted and the data was assessed using observation tool and VIP score (Visual infusion phlebitis score). The results found that the majority respondents were female (56.7%),  average age of 48.9 years old, diagnosed with noninfectious diseases (61.1%), utilized intravenous catheter number 22 (78.1%), hand insertion location  (70%), received isotones fluid (73.3%) with single bolus therapy (36%), received drip infusion (57.5%), duration of intravenous catheter of 4 days (25.5%), no intravenous replacement (68.4%), infusion drip replaced after therapy  (36.8%) and a  phlebitis scale of 12.6%. Kendal’s tau C statistical analysis revealed that there issignificant relationship between phlebitis  and intravenous therapy (p = 0.03), duration of intravenous catheter  (p = 0.00).  Logistic regression test showed that independent variable contributed 24.5% to phlebitis. The probability test concluded that respondents who were not replacing Intravenous catheter insertion and Intravenous infusion setregularly may develop phlebitis risk of 100%. It is implied the importance of replacement intravenous catheter and Intravenous infusion setroutinely to prevent phlebitis. For further research, it is suggested to analyze the risk factors of phlebitis such as nurse skills for intravenous catheter insertion.Keyword:  replacement Intravenous catheter insertion,  infusion set, Phlebitis
PENGALAMAN PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA PADA MASA KEHAMILAN Nursanti, Irna; Aprilya, Dea; Anggraini, Dewi; Widakdo, Giri
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v5i2.227

Abstract

Kekerasan dalam rumah tangga adalah perbuatan yang dilakukan terhadap seseorang dalam bentuk fisik, verbal, seksual, dan psikologis yang menyebabkan penderitaan dan penelantaran rumah tangga. Tujuan: Mengetahui lebih dalam tentang pengalaman perempuan korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada masa kehamilan di wilayah kerja Puskesmas Kampung Kawat, Kalimantan Barat. Metode: Desain penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi. Penentuan partisipan menggunakan purposive sampling dan snow ball.  Sebanyak 8 partisipan terlibat dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan cara in-depth interview dengan menggunakan catatan lapangan dan perekam suara.  Data dianalisis dengan metode Colaizzi.  Hasil: Penelitian ini menghasilkan 6 tema yaitu bentuk kekerasan yang diterima oleh responden selama menjadi korban KDRT pada masa kehamilan, Masalah yang timbul pada kehamilan akibat KDRT, Mekanisme koping yang dilakukan korban KDRT, Perasaan yang dirasakan responden sebagai korban KDRT, Penyebab terjadinya KDRT pada masa kehamilan, Hal-hal yang diinginkan responden terhadap pelayanan kesehatan. Diskusi: pengalaman perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga pada masa kehamilan memberikan dampak buruk terhadap ibu maupun janin. Hal-hal tersebut terlihat pada ungkapan-ungkapan yang diberikan partisipan bahwa perbuatan yang mereka terima masih membekas hingga saat ini, meskipun sudah tidak membekas pada fisik, namun masih membekas pada batin. Kesimpulan: Hasil penelitian ini dapat dikembangkan pada penelitian lebih lanjut dan menjadi tambahan informasi dalam dunia pendidikan, serta menambah wawasan dan motivasi perawat maternitas dalam memberikan asuhan keperawatan, misalnya pendampingan pada pasangan yang menikah di usia muda dengan memberikan edukasi terkait kesiapan pasangan dalam memasuki kehidupan berumah tangga.Kata Kunci: Kehamilan, kekerasan dalam rumah tangga, perempuanExperience of Women Suffering from Domestic Violence During PregnancyABSTRACTDomestic violence is a physical, verbal, sexual, and psychological act committed against a person which causes suffering and neglect of the household. Objective: To reveal further the experience of women suffering from Domestic Violence during pregnancy in the working area of the Kampung Kawat Public Health Center, West Kalimantan. Methods: This research employed a phenomenological approach. Participants were taken using purposive sampling and snow ball. 8 participants were involved in this research. Data was collected by means of in-depth interviews using field notes and voice recorders. Data were analyzed by using the Colaizzi method. Results: This research resulted in 6 themes, namely forms of violence received by respondents while being victims of domestic violence during pregnancy, problems arising in pregnancy due to domestic violence, coping mechanisms performed by victims of domestic violence, feelings experienced by respondents as victims of domestic violence, causes of domestic violence during pregnancy, things that respondents wanted from health services. Discussion: The experience of women suffering from domestic violence during pregnancy has a negative impact on the mother and fetus. These can be seen in their expressions that the actions they receive are still imprinted today. Although no longer physically imprinted, but they are still imprinted on the mind. Conclusion: The research results can be developed in further research and serve as additional information in education, as well as add insight and motivation for maternity nurses in providing nursing care, for example mentoring couples who marry at a young age by providing education about the readiness of couples to enter a married life.Keywords: Pregnancy, domestic violence, women
EXPERIENCE OF SEXUAL DISFUNCTION IN MEN CLIENTS WITH DIABETIC ULCERS maulida, haifah
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 3 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v4i3.133

Abstract

The prevalence of diabetes mellitus in the world is getting increased either developed or developing countries, it will lead the complication toward one of sexual activity. The aim of this research to find in depth about sexual disfunction with Diabetic ulcers patient experiance. This research used a qualitative method with a phenomenological approach and interview as collacting data technique. Therewere 7 informants, with 6 item of experiance question those are (1) sexual views in men, (2) description of sexual changes, (3) the impact of sexual change, (4) how to overcome problems, (5) expectations of condition, (6) response from system support. The results of this study are known that diabetes mellitus clients who experience sexual dysfunction that affects themselves and couple, clients look for ways to deal with their perceptions, expect conditions for sexual change in themselves and couple, and expect support from spouses and families to improve sexual function.
Tingkat Kecemasan dan Stres Pada Mahasiswa yang Mengikuti OSCE Vina Rachmawati; Mustikasari -
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v3i3.141

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai tingkat kecemasan dan stres yang dialami oleh mahasiswa yang mengikuti OSCE. Tujuan: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan tujuan untuk menggambarkan tingkat kecemasan dan stres pada mahasiswa yang mengikuti OSCE. Metode: Penelitian ini melibatkan 109 responden dengan kriteria inklusi yaitu mahasiswa aktif dan sudah mengikuti ujian OSCE praktikum anak. Penelitian ini sudah berhasil melewati uji etik. Instrumen yang digunakan yaitu Hamilton Rating Scale Anxiety (HRS-A) dan Perceived Stress Scale (PSS). Uji reabilitas instrumen HRS-A memiliki nilai Cronbanch’s Alpa yaitu 0,752 dan uji reabilitas instrumen PSS memiliki nilai Cronbanch’s Alpa yaitu 0,706. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan dari 109 responden didapatkan mahasiswa mengalami kecemasan ringan yaitu 71 (65,1%), kecemasan sedang 19 (17,4%) dan kecemasan berat 17 (15,6%) dan panik 2 (1,8%.  Hasil penelitian menunjukkan dari 109 responden didapatkan mahasiswa yang mengalami stres ringan 1 (0,9%), stres sedang 78 (71,6%) dan stres berat 30 (27,5%). Kesimpulan: Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi bagi institusi pendidikan mengenai gambaran tingkat kecemasan dan stres pada mahasiswa yang mengikuti OSCE. Peneliti lain dapat mengembangkan penelitian dengan meneliti faktor faktor yang mempengaruhi tingkat stres dan kecemasan serta strategi koping yang digunakan dalam mengatasi kondisi stres yang muncul saat melaksanakan OSCE.Kata kunci: Kecemasan, stres, mahasiswa keperawatan dan OSCE
PENGARUH PEMBERIAN PENDIDIKAN KESEHATAN MENGGUNAKAN BOOKLET SPINAL ANESTESI TERHADAP KECEMASAN PADA PASIEN SECTIO CAECAREA Agus Sarwo Prayogi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v2i2.40

Abstract

Abstract Preoperative anxiety often associated with incorrect understandings of the surgery or the lack of information about the events that will be experienced by the patient before, during and even after the surgical procedure. Surgery is sectio caesarea a potential or actual threat to the integrity of the person who can evoke physiological stress reactions and psychological health education is needed on spinal anesthesia to patients sectio caesarea pre-anaesthesia using the booklet. The purpose of research known effect of health education using booklet spinal anesthesia to anxiety in patients sectio caesarea. This type of research quasi-experiment without a control group. The sampling techniques in this study using purposive sampling, using questionnaires APAIS sample of 24 respondents. Data were analyzed using paired t-test. Before the results are given health education using booklet spinal anesthesia most respondents experiencing severe anxiety before undergoing anesthesia. After being given health education using booklet spinal anesthesia most respondents experiencing mild anxiety. Results of paired t-test p-value 0,000 <0,05. There was a significant effect of health education using booklet giving spinal anesthesia to anxiety in patients sectio caesarea.Keywords: booklets, anxiety, sectio caesarea, health education.
PERBEDAAN TINGKAT KESIAPAN MENGHADAPI MENOPAUSE ANTARA WANITA YANG BEKERJA DENGAN YANG TIDAK BEKERJA Andini, Lia Woro; Trisetiyaningsih, Yanita
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v5i1.160

Abstract

Wanita menjelang menopause akan mengalami penurunan berbagai fungsi tubuh, sehingga akan berdampak pada ketidaknyamanan dalam menjalani kehidupannya. Untuk itu diperlukan sikap positif dengan diimbangi oleh informasi atau pengetahuan yang cukup, sehingga wanita lebih siap dalam menghadapi menopause baik siap secara fisik, mental, dan spiritual. Kesiapan sangat penting dimiliki wanita menjelang menopause baik pada wanita yang bekerja maupun yang tidak bekerja namun sejauh ini masih sedikit laporan terkait perbedaan tingkat kesiapan menghadapi menopause antara wanita yang bekerja dengan yang tidak bekerja. Tujuan Penelitian: mengetahui perbedaan tingkat kesiapan menghadapi menopause antara wanita yang bekerja dengan yang tidak bekerja. Metode: Penelitian ini menggunakan desain komparatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 57 responden. Instrumen penelitian ini adalah kuesioner kesiapan menghadapi menopause yang diadopsi dari penelitian Hidayatiningtyas yang valid dan reliabel. Hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan uji Mann Whitney. Hasil: 58,6% wanita tidak bekerja memiliki kesiapan cukup dan 27,6% memiliki kesiapan kurang. Sedangkan pada wanita yang bekerja, 60% memiliki kesiapan cukup dan 32,1% memiliki kesiapan baik. Ada perbedaan bermakna pada kesiapan menghadapi menopause antara wanita yang bekerja dengan yang tidak bekerja (p=0,022). Diskusi: Pada wanita yang bekerja memiliki kesiapan yang lebih baik dibandingkan dengan wanita yang tidak bekerja.  Hal ini karena wanita yang bekerja cenderung memiliki pandangan dan cara berpikir yang lebih luas sehingga akan memiliki pengetahuan yang cukup, salah satunya dalam hal kesiapan menghadapi menopause.  Kesimpulan: Petugas kesehatan disarankan dapat memberikan pendidikan kesehatan dalam rangka menyiapkan wanita pra menopause menghadapi masa menopause.  Bagi wanita, khususnya yang tidak bekerja, diharapkan mempersiapkan diri menghadapi menopause dengan aktif mencari informasi.Kata Kunci: Menopause, wanita bekerja Differences in Menopause Readiness Levels Between Working and Non-Working WomenABSTRACTMenopause-approaching women will experience a decrease in various body functions, which will cause discomfort in living their lives. Therefore, it requires a balance between a positive attitude and sufficient information or knowledge so that women are better prepared to face menopause physically, mentally, and spiritually. Readiness is crucial for women before menopause, both for working and non-working women. However, to date, there are few reports related to differences in the levels of readiness to face menopause between working and non-working women. Objective: to reveal the difference in readiness levels to face menopause between working and non-working women. Methods: This research employed a comparative design with a cross-sectional approach. Samples were taken using the purposive sampling technique with a sample size of 57 respondents. The instrument used in this research was a valid and reliable questionnaire of readiness to face menopause adopted from Hidayatiningtyas. The results of the research were analyzed using the Mann-Whitney test. Results: 58.6% of non-working women had sufficient readiness and 27.6% had insufficient readiness. Meanwhile, 60% of working women had sufficient readiness and 32.1% had good readiness. There was a significant difference in readiness to face menopause between working and non-working women (p = 0.022). Discussion: Working women are more prepared to face menopause than non-working women. This is because working women tend to have broader views and ways of thinking so that they will have sufficient knowledge, one of which is in terms of readiness to face menopause.  Conclusion: It is advised that health workers provide health education to prepare pre-menopausal women to face menopause. Moreover, it is expected that women, particularly those who do not work, prepare for menopause by actively seeking information.Keywords: Menopause, working women
PERSEPSI PERAWAT MENGENAI KEBUTUHAN SPIRITUAL DAN PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL PASIEN DI INSTALASI GAWAT DARURAT Ita Yuni Asih
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v4i1.148

Abstract

Patient overcrowding and rapid patient turnover in emergency department cause nurses to be less than optimal in providing patients spiritual needs. This condition can affect the emergency nurses' perceptions of spirituality and fulfill the patient's spiritual needs. A good fulfillment of the emergency patients spiritual needs can also improved a good treatment results. Nurses who have a good spiritual perception will have the ability to fulfill the patient's spiritual needs. Objective: describe nurses’ perception of spiritual needs and fulfill the spiritual needs of patients in the emergency department. Methods: This study was used descriptive survey research. Samples were taken using total sampling technique and obtained 75 participants. Data were taken using the Spiritual Care Giving Scale (SCGS) questionnaire and analyzed by univariate analysis. Results: more than a half of emergency nurses considered spiritual needs and fulfilled the patient’s spiritual needs as very important (57,3%). Every aspect of fulfilling spiritual needs is also perceived to be very important by emergency nurses. Conclusion: An aspect that need to be improved are values in fulfilling spiritual needs. The value of spirituality is interpreted as a very important part of holistic nursing. Consequently, emergency nurses need to improve their understanding of spirituality so that the implementation of fulfilling patients spiritual needs in emergency department can be positively reinforced.
PENGUATAN FUNGSI MANAJEMEN KEPALA RUANGAN DALAM PENGENDALIAN MUTU KEPERAWATAN: MINI PROJECT DI RUMAH SAKIT MILITER DI JAKARTA Nurdiana Nurdiana; Rr. Tutik Sri Hariyati; Siti Anisah
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v2i3.54

Abstract

Tujuan: Mengidentifikasi masalah penerapan fungsi pengendalian mutu di ruang rawat inap dan mengembangkan solusi pemecahan masalah. Metode: Metode yang digunakan berupa mini project serta analisis hasil dan gap implementasi dengan pembahasan berdasarkan kajian literatur. Permasalahan dianalisis menggunakan diagram fishbone. Penyelesaian masalah menggunakan tools Plan Do Study Action (PDSA) dimulai dari Plan of Action (POA), implementasi, evaluasi, dan tindak lanjut. Data diambil melalui wawancara terstruktur, survei, dan observasi lapangan dengan responden 11 Kepala Ruangan dan 88 Staf Perawat. Hasil: Fungsi pengendalian mutu keperawatan belum dilaksanakan optimal pada tahap perencanaan, pemantauan dan tindak lanjut masalah (45,45%). Implementasi penyelesaian masalah berupa sosialisasi dan workshop penyusunan panduan, prosedur, kamus dan instrumen pemantauan indikator mutu keperawatan. Hasil evaluasi menunjukkan 62% Kepala Ruangan meningkat pengetahuannya tentang pengendalian mutu dengan rata-rata skor pre-post test meningkat 1,33 poin dari 6,10 menjadi 7,43. Survei pasca implementasi menghasilkan persepsi yang baik dari 86,67% Kepala Ruangan mengenai pengendalian mutu keperawatan. Diskusi: Pengendalian mutu merupakan salah satu fungsi utama Kepala Ruangan. Rumah sakit telah memiliki program pengendalian mutu yang dipersyaratkan oleh standar akreditasi rumah sakit, namun compliance penerapannya masih perlu dipertahankan. Rumah sakit dipersyaratkan secara mutlak untuk dapat mempertahankan kepatuhan dan kesinambungan pengendalian mutu untuk mengevaluasi proses kerja secara berkelanjutan. Kesimpulan: Sosialisasi, workshop, dan simulasi langkah-langkah dalam penerapan pengendalian kualitas keperawatan cukup efektif meningkatkan pengetahuan Kepala Ruangan dan membuka wawasan yang lebih luas tentang pemantauan mutu yang dipersyaratkan akreditasi rumah sakit. Persepsi yang baik dari Kepala Ruangan tentang pentingnya fungsi pengendalian mutu menjadi modal awal dalam menjalankan fungsinya dengan baik. Kata Kunci: management function, nurse manager, nursing quality, quality control.
PENURUNAN INTENSITAS NYERI DENGAN MASASE KLASIK PADA PEREMPUAN DENGAN KANKER PAYUDARA YANG MENJALANI KEMOTERAPI Masliha, Masliha; Nursanti, Irna; Widagdo, Giri
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v5i2.229

Abstract

Kanker payudara memberikan masalah ketidaknyamanan klien, dimana klien akan mengalami nyeri sedang atau continue sehingga dapat menurunkan kualitas dan produktifitas hidupnya. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pijat klasik terhadap intensitas nyeri pada klien perempuan dengan kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Metode: Desain penelitian kuantitatif dengan metode quasi-experimental dengan pendekatan one-group pretest dan posttest without control. Penelitian ini melibatkan sampel sebanyak 26 orang. Intervensi yang dilakukan berupa masase klasik, pada bagian area punggung bagian atas, bahu, kedua tangan sampai punggung tangan.  Masase klasik ini dilakukan 10-15 menit. Instrumen menggunakan Numeric Rating Scale. Analisis data menggunakan uji statistik paired T test dengan tingkat signifikansi 0,05 dan tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Didapatkan sebagian besar responden mengalami nyeri berat (73,1%). Setelah diberikan intervensi, responden mengalami penurunan intesitas nyeri sedang (88,5%). Hasil analisis menunjukkan ada hubungan yang signifikan pemberian masase klasik dengan penurunan intesitas nyeri (p-value 0,000). Diskusi: Pemberian masase klasik merangsang pengeluaran hormon endorfin yaitu hormon yang merupakan penekan atau penghilang rasa nyeri alami sehingga menurunkan intensitas nyeri. Kesimpulan: perlunya menciptakan rasa aman dan nyaman bagi pasien kanker payudara selama menjalani kemoterapi, salah satunya dengan pemberian masase klasik. Bagi pihak rumah sakit dapat membuat kebijakan dimana pada pasien kanker payudara sebelum mendapatkan obat penghilang nyeri dilakukan tindakan masase klasik untuk mengurangi efek samping zat kimia jika obat penghilang nyeri tersebut diminum terus menerus.Kata Kunci: kanker payudara, masase klasik, nyeri.Reducing Pain Intensity with Classical Massage in Women with Breast Cancer Receiving ChemotherapyABSTRACTBreast cancer makes clients uncomfortable, due to which they will experience moderate or continuous pain. As a result, quality and productivity of their life decline. Objective: This research aims to reveal the effect of classical massage on pain intensity in female clients with breast cancer receiving chemotherapy. Methods: It employed a quantitative research design using a quasi-experimental method with a one-group pretest and posttest without control approach. It involved a sample of 26 people. The intervention was given in the form of classical massage on the upper back area, shoulders, both hands to the back of the hand. The classic massage was performed for 10-15 minutes. The instrument used a Numeric Rating Scale. Data were analyzed using statistical paired T test with a significance level of 0.05 and a 95% confidence level. Results: Most of the respondents experienced severe pain (73.1%). After the intervention was given, pain intensity decreased to a moderate pain (88.5%). The results of the analysis indicated that there was a significant correlation between classical massage and a decrease in pain intensity (p-value 0.000). Discussion: Giving classical massage stimulates the release of endorphins, hormones for natural pain suppressants or pain relievers, which then reduce pain intensity. Conclusion: It is necessary to create a sense of security and comfort for breast cancer patients during chemotherapy, one of which is by giving classical massage. The hospital can make a policy that breast cancer patients should receive classical massage before getting painkillers to reduce the side effects of chemicals if the painkillers are taken continuously.Keywords: breast cancer, classical massage, pain.
EFFECT OF WOUND CARE ON WOUND HEALING PROCESS OF POST OPERATION IN PATIENTS APENDEKTOMY IN RS DUSTIRA CIMAHI Marlin Sutrisna; Vega M Tusyanawati
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v4i1.60

Abstract

ABSTRACTVega M. Tusyanawati1, Marlin Sutrisna2, Tonika Tohri3  Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Rajawali Bandung IndonesiaEmail : vegatusyanawati@gmail.comBackground: Appendicitis is one of the emergency  cases in the abdominal area with a major complaint of persistent lower abdominal pain that develops and increased pain. An appendectomy is a surgical intervention that has the purpose of ablative surgery or removal of body parts that contain problems or have disease. One of the postoperative treatments of apendectomy is with wound care. The current wound care treatment is modern and conventional wound care. Objective: This study was to investigate the effect of treatment of postoperative wound healing apendectomy. Methodology: The design used in this research is Quasi Experiment, with posttest-only design approach. The number of samples taken is 18 respondent. Taking sampling with accidental sampling technique. Result: The result shows that p-value 0.001, with mean value in intervention group was 5.50 and in control group 13.50. Conclusion: There is a significant difference in the wound healing process using conventional and modern wound care.Keywords                    : type of wound care, post operative apendectomy 

Page 10 of 21 | Total Record : 205