cover
Contact Name
James Maramis
Contact Email
jmaramis@unklab.ac.id
Phone
+6281248012266
Journal Mail Official
jmaramis@unklab.ac.id
Editorial Address
Kampus Universitas Klabat, Jl. Arnold Mononutu, Airmadidi, Kab. Minahasa Utara, Sulawesi Utara
Location
Kab. minahasa utara,
Sulawesi utara
INDONESIA
Klabat Journal of Nursing
Published by Universitas Klabat
ISSN : -     EISSN : 26857154     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Klabat Journal of Nursing (KJN) is the official peer-reviewed research journal of Faculty of Nursing, Universitas Klabat (UNKLAB). This journal aims to promote advancement in nursing and health care through the dissemination of the latest research findings. KJN covers a wide range of nursing topics such as nursing education, clinical practice, advanced nursing issue and policy related to the nursing profession. This journal publishes two issues per year in April and October. KJN intended readership includes nurse educator, researcher, manager, and nurse practitioner at all levels. KJN accepts submission from all over the world. All accepted articles will be published on an open-access basis and will be freely available to all readers with worldwide visibility and coverage.
Articles 165 Documents
POLA ASUH ORANG TUA DENGAN EMOTIONAL QUOTIENT PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Mandias, Reagen Jimmy; Sante, Marcel Manuel
Klabat Journal of Nursing Vol. 6 No. 1 (2024): Nursing Overarches All Clinical Setting
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v6i1.1109

Abstract

Salah satu hal yang membantu individu membangun hubungan yang lebih kuat, berhasil di sekolah dan pekerjaan, dan mencapai karier dan tujuan pribadi adalah Emotional quotient, yang merupakan kemampuan untuk memahami, menggunakan, dan mengelola emosi dengan cara yang positif untuk menghilangkan stres, berkomunikasi secara efektif, berempati dengan orang lain, mengatasi tantangan dan meredakan. Pola asuh orang tua dipercaya membentuk Emotional quotient dari seorang anak, walaupun hal ini masih diperdebatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang significan antara pola asuh orang tua dengan Emotional quotient pada siswa SMP Advent Palu. 43 Siswa SMP Advent Palu menjadi sampel dalam penelitian ini. Sedangkan analisis data menggunakan rumus presentase dan anova. Kuesioner pola asuh dan Emotional qoutient memiliki cronbach alpha di atas 0,70. Hasil penelitian menunjukan jenis pola asuh orang tua yang dominan di SMP Advent Palu yaitu demokratis (81%), sedangkan tingkat Emotional qoutient siswa di SMP Advent Palu mayoritas berada pada kategori sedang dengan presentase 69,8 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P value = 0,068 > 0,05 yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara Pola asuh orang tua dengan Emotional quotient pada siswa SMP Advent Palu. Direkomendasikan kepada peneliti selanjutnya untuk menambahkan responden penelitian yang lebih banyak serta seimbang antara ketiga pola asuh dalam menentukan sample. Selain itu dinjurkan juga untuk meneliti faktor - faktor lain yang dapat mempengaruhi pola asuh orang tua terhadap Emotional quotient. One of the things that helps individuals build stronger relationships, succeed in school and work, and achieve career and personal goals is the emotional quotient, which is the ability to understand, use, and manage emotions in a positive way to relieve stress, communicate effectively, empathize with others, overcome challenges and mitigate. Parenting styles are believed to shape a child's emotional quotient, although this is still debated. This research aims to find out whether there is a significant relationship between parenting patterns and the Emotional quotient of Palu Adventist Middle School students. 43 Palu Adventist Middle School students were the sample in this research. Meanwhile, data analysis uses percentage and ANOVA formulas. The parenting style and Emotional quotient questionnaires have Cronbach alpha above 0.70. The research results show that the dominant type of parenting style at Palu Adventist Middle School is democratic (81%), while the majority of students' emotional quotient level at Palu Adventist Middle School is in the medium category with a percentage of 69.8%. The results of the research show that P value = 0.068 > 0.05, which means there is no significant relationship between parenting style and Emotional quotient in Palu Adventist Middle School students. It is recommended that future researchers add more research respondents and balance the three parenting styles in determining the sample. Apart from that, it is also recommended to research other factors that can influence parents' parenting patterns regarding the emotional quotient. KEYWORDS: Emotional quotient, Parenting Patterns
HUBUNGAN KECANDUAN MEDIA SOSIAL DENGAN KESEHATAN MENTAL REMAJA DI SMA NEGERI 1 PARONGPONG Siburian, Tio Riumta Dewi; Ricky, Denny Paul
Klabat Journal of Nursing Vol. 6 No. 1 (2024): Nursing Overarches All Clinical Setting
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v6i1.1084

Abstract

World Health Organization (WHO) menyatakan remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun. WHO menjelaskan bahwa, remaja adalah orang-orang yang berada dalam fase transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa. Media sosial adalah aplikasi yang memungkinkan siapa saja membuat halaman web pribadi sehingga terhubung dengan banyak orang yang bergabung dengan media sosial sejenis untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Kecanduan media sosial adalah masalah kesehatan mental yang sangat memerlukan perawatan profesional. Kesehatan mental adalah keadaan dimana seseorang terbebas dari segala gejala gangguan jiwa. Seseorang yang sehat secara mental dapat berfungsi secara normal dalam kehidupannya, terutama jika mereka menggunakan manajemen stres untuk menyesuaikan masalah yang muncul dalam kehidupannya. Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif korelasi. Sebanyak 421 orang siswa di SMA Negeri 1 Parongpong bersedia menjadi responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner Kuesioner Social Media Addiction Scale-Student Form (SMASSF) dan kuesioner Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Data di analisis menggunakan analisis Bivariat. Tingkat kecanduan media sosial responden masuk dalam kategori rendah. Tingkat kesehaan mental responden masuk dalam kategori abnormal. Ada hubungan yang rendah antara tingkat kecanduan media social dengan kesehatan mental remaja dengan nilai (Pv = 0.000). The World Health Organization (WHO) states that adolescents are residents in the age range 10-19 years. WHO explains that teenagers are people who are in a transition phase between childhood and adulthood. Social media is an application that allows anyone to create a personal web page so that it connects with many people who join similar social media to share information and communicate. Social media addiction is a mental health problem that really requires professional treatment. Mental health is a condition where a person is free from all symptoms of mental disorders. A mentally healthy person can function normally in life, especially if they use stress management to adjust to problems that arise in their life. The research method that will be used in this research is quantitative correlation. A total of 421 students at SMA Negeri 1 Parongpong were willing to become respondents. Data collection was carried out using the Social Media Addiction Scale-Student Form (SMASSF) questionnaire and the Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) questionnaire. Data were analyzed using Bivariate analysis. The respondent's level of social media addiction is in the low category. The respondent's mental health level is in the abnormal category. There is a low relationship between the level of social media addiction and the mental health of adolescents with a value (Pv = 0.000). KEYWORDS: Addiction, Social Media, Mental Health, Teens
TINGKAT KEPATUHAN PERAWAT DALAM MELAKSANAKAN TEKNIS CUCI TANGAN FIVE MOMENT DENGAN KEJADIAN INFEKSI NOSOKOMIAL DI RUMAH SAKIT ADVENT BANDUNG Situmorang, Ruth Wulandari; Widiyarti, Sapti Heru
Klabat Journal of Nursing Vol. 6 No. 1 (2024): Nursing Overarches All Clinical Setting
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v6i1.1065

Abstract

Cuci tangan merupakan salahsatu proses yang digunakan oleh masyarakat untuk membersihkan tangan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial di Rumah Sakit. Dilakukan baik dengan menggunakan air mengalir dan sabun serta menggunakan alcohol. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui hubungan tingkat kepatuhan perawat dalam melaksanakan teknis cuci tangan five moment terhadap kejadian infeksi nosokomial di Rumah Sakit Advent Bandung. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Subjek dalam penelitian ini adalah perawat yang bekerja di Gedung Cipaganti Rumah Sakit Advent Bandung. Hasil dari penelitian ini adalah tingkat kepatuhan perawat dalam melaksanakan teknis cuci tangan five moment di Rumah Sakit Advent Bandung memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi sebanyak 35 orang (100%), angka kejadian infeksi nosokomial dari bulan Januari – Oktober mempunyai nilai rata-rata 1.16%. Hasil akhir penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel dalam penelitian ini. Saran yang dapat peneliti sampaikan untuk perawat adalah kiranya five moment cuci tangan menjadi budaya yang mengalir dalam kehidupan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Introduction: Hand washing is one of the processes used by the public to clean their hands as an effort to prevent and control nosocomial infections in hospitals. This is done using running water and soap and using alcohol. The aim of this research is to determine the relationship between the level of nurse compliance in implementing the five moment hand washing technique and the incidence of nosocomial infections at the Bandung Adventist Hospital. The research method used is descriptive correlation with a cross sectional approach. The subjects in this research were nurses who worked in the Cipaganti Building, Bandung Adventist Hospital. The results of this research are that the level of compliance of nurses in implementing the five moment hand washing technique at Bandung Adventist Hospital has a high level of compliance of 35 people (100%), the incidence of nosocomial infections from January - October has an average value of 1.16%. The final result of this research is that there is no significant relationship between the two variables in this research. The advice that researchers can convey to nurses is that the five moments of hand washing become a culture that flows in the lives of nurses in providing nursing care. KEYWORDS: Five Moment, Hands Washing, Infection Nosocomial
PENGETAHUAN DAN PERILAKU VULVA HYGINE SAAT MENSTRUASI PADA SISWI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Shintya, Lea Andy; Kasenda, Gincya
Klabat Journal of Nursing Vol. 6 No. 1 (2024): Nursing Overarches All Clinical Setting
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v6i1.1113

Abstract

Pengetahuan remaja putri tentang perawatan kesehatan organ reproduksi sangalah penting, karena pada usia remaja akan terjadi perkembangan baik secara biologis maupun psikologis yang berpengaruh pada kegiatan sehari-hari, ada juga faktor-faktor yang bisa mempengaruhi remaja seperti informasi yang diterima orang tua, orang terdekat, dan seringnya diskusi. Perilaku Vulva hygiene upaya merawat kebersihan organ kewanitaan bagian luar atau bibir vagina, perilaku vulva hygiene yang buruk dapat mengakibatkan gangguan kesehatan reproduksi remaja putri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan perilaku vulva hygiene saat menstruasi pada siswi SMP SLA Tompaso. Metode penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional pada 61 siswi SMP sebagai responden dan menggunakan metode total sampling. Hasil penelitian didapati 19 responden (31,1%) kategori perilaku baik dan 42 responden (68,9%) perilaku cukup. Pengetahuan vulva hygiene didapati 27 responden (44,3%) perilaku baik, 33 responden (54,1%) cukup dan 1 responden (1,6%) perilaku kurang. Hasil uji korelasi pearson correlation menunjukkan p-value = 0,947 > 0,05. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan pengetahuan dengan perilaku vulva hygiene saat menstruasi pada siswi SMP SLA Tompaso. Rekomendasi kepada remaja untuk lebih memiliki pengetahuan dan perilaku yang baik dan untuk peneliti selanjutnya bisa menambahkan variabel yang lain seperti sikap, keyakinan remaja, emosi dan pengalaman remaja. Knowledge of adolescent about reproductive health care is vital, because in adolescence there will be both biological and psychological developments that influence daily activities, there are also factors that can influence adolescents such as information received by parents, close people, and frequent discussion. Vulva hygiene is an attempt to treat the hygiene of the external female organs or vagina lips, poor hygienic behavior of the vulva can lead to disorders of the reproductive health of adolescent. The purpose of this study is to find out the relationship between knowledge and vulva hygiene behavior during menstruation in high school students SLA Tompaso. Descriptive research methods correlated with cross sectional approaches in 61 high school students as respondents and used total sampling methods. The results of the study found 19 respondents (31.1%) in the category of good behavior and 42 respondents (68.9%) in sufficient behaviour. Pearson correlation test results showed p-value = 0.947 > 0.05. It can be concluded that there is no significant association of knowledge with vulva hygiene behavior during menstruation in high school students SLA Tompaso. Recommendations to adolescents to have better knowledge and good behavior and for future researchers can add other variables such as attitudes, adolescent beliefs, emotions andadolescentexperriences. KEYWORDS: Behavior, Menstruation, Knowledge, Vulva Hygiene
AKTIVITAS ANGGOTA GERAK, KEMANDIRIAN, DAN SISTEM PEMANTAUAN KEGAWATAN PASIEN Anderson, Elisa
Klabat Journal of Nursing Vol. 6 No. 1 (2024): Nursing Overarches All Clinical Setting
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v6i1.1087

Abstract

Sistem pemantauan kegawatan merupakan pedoman yang dapat digunakan untuk memonitor kondisi pasien khususnya di ruang intensif, seperti aktivitas anggota gerak dan kemandirian pasien. Tujuan dalam studi ini untuk menganalisis korelasi aktivitas anggota gerak, kemandirian pasien, dan sistem pemantauan kegawatan di ruang intensif medikal dan bedah. Metode yang dipilih dalam studi ini adalah kuantitatif melalui pendekatan observasional analitik dengan desain cross-sectional. Teknik pengambilan sampelnya ialah non-probability sampling dengan pendekatan convenience sampling, sampel yang dilibatkan dalam penelitian ini berjumlah 51 pasien. Temuan hasil dari 51 responden yang terlibat dalam penelitian ini adalah adanya hubungan yang bermakna antara aktivitas anggota gerak, kemandirian, serta sistem pemantauan kegawatan pasien (p<0,05) dengan keeratan hubungan yang bervariasi, dari lemah hingga kuat. Direkomendasikan kepada petugas kesehatan khususnya perawat untuk membudayakan penggunaan sistem pemantauan kegawatan pasien khususnya pada pasien yang terancam nyawanya agar dapat diberikan pertolongan yang cepat dan akurat sehingga terhindar dari perburukan kondisi. The emergency monitoring system is a guide that can be used to monitor patient conditions, especially in the intensive care unit, such as limb activity and patient independence. The aim of this study is to analyze the correlation of limb activity, patient independence, and the emergency monitoring system in the medical and surgical intensive care unit. The method chosen in this study is quantitative through an analytical observational approach with a cross-sectional design. The sampling technique was non-probability sampling with a convenience sampling approach. The sample involved in this study was 51 patients. The findings from the 51 respondents involved in this research were that there was a significant relationship between limb activity, independence, and the patient emergency monitoring system (p<0.05) with varying degrees of relationship, from weak to strong. It is recommended for health workers, especially nurses, to cultivate the use of a patient emergency monitoring system, especially for patients whose lives are threatened so that they can be given quick and accurate help to avoid worsening of their condition. KEYWORDS: Emergency monitoring system, independence, limb activity
SELF-EFFICACY DAN KECEMASAN PADA MAHASISWA KEPERAWATAN DALAM MENGHADAPI UJIAN PRAKTIK LABORATORIUM Sanger, Ailine Yoan; Bernic, Yesnat
Klabat Journal of Nursing Vol. 6 No. 1 (2024): Nursing Overarches All Clinical Setting
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v6i1.1066

Abstract

Ujian praktikum laboratorium merupakan hal yang sering menimbulkan perasaan tidak tenang berupa kecemasan bahkan dapat mempengaruhi pola tidur/istirahat mahasiswa karena dihadapkan dengan tuntutan untuk melakukan berbagai prosedur medis. Adapun self-efficacy didapati mampu menekan kecemasan, karena self-efficacy merupakan keyakinan diri yang tinggi akan kemampuan seseorang dalam mengatasi sesuatu yang sulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara self-efficacy dengan kecemasan dalam menghadapi ujian praktik laboratorium pada mahasiswa keperawatan tingkat satu semester satu di Universitas Klabat. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelatif. Data yang dikumpulkan diolah menggunakan rumus frekuensi, persentasi serta analisis Pearson Correlation. Terdapat 68 mahasiswa fakultas keperawatan berpartisipasi dalam penelitian ini dengan teknik pengumpulan data convenience sampling. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas 50 (73.5%) mahasiswa memiliki self efficacy yang tinggi dan mayoritas 35 (51.5%) mahasiswa berada pada kategori kecemasan sedang. Terdapat p-value = 0.000 < nilai signifikansi α = 0.05 dan r = -0.506 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan dengan arah negatif antara self-efficacy dengan kecemasan dalam menghadapi ujian praktik laboratorium dengan tingkat korelasi yang sedang. Artinya, semakin tinggi self-efficacy maka semakin rendah tingkat kecemasan begitu pun sebaliknya. Rekomendasi diberikan bagi mahasiswa agar dapat melatih pola pikir optimis terhadap kemampuan diri dalam menghadapi ujian praktik laboratorium dengan tenang dan percaya diri. Bagi penelitian selanjutnya juga disarankan untuk menyusun studi yang lebih terperinci terkait dengan pengembangan self-efficacy sebagai strategi proaktif dalam mengingkatkan kesejahteraan mental, dalam mengatasi kecemasan dengan menggunakan metode serta teknik dan lokasi yang berbeda. Laboratory practical exams are things that often cause feelings of unease in the form of anxiety and can even affect students’ sleep/ rest patterns because they are faced with demands to carry out various medical procedures. Self-efficacy was found to be able to suppress anxiety. It defines as high self-confidence in one’s ability to overcome something difficult. This study aims to identify the relationship between self-efficacy and anxiety in facing laboratory practical exams among level one nursing students. This research used a correlative descriptive design. The data collected was processed using frequency formulas, percentages and Pearson Correlation analysis. There were 68 level one nursing students participated in this research with the use of convenience sampling data collection techniques. The research results showed majority of 50 (73.5%) nursing students had high self-efficacy and the majority of 35 (51.5%) students were in moderate anxiety category. There was a significant relationship in a negative direction between self-efficacy and anxiety in facing laboratory practical exams with the p value = 0.000 < significance value α = 0.05 and r = -0.506. This means that the higher the self-efficacy, the lower the level of anxiety and vice versa. For further research, it is recommended to prepare a more detailed study related to self-efficacy involving mental well-being in overcoming anxiety, using different methods, techniques and locations. KEYWORDS: Anxiety, Laboratory practical exams, Nursing Students, Self-efficacy
BALANCE EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN KESEIMBANGAN DINAMIS PADA LANSIA DI RANOMUT MANADO Dwisetyo, Bayu; Dareda, Kristine; Sabentar, Fiona V.I
Klabat Journal of Nursing Vol. 6 No. 1 (2024): Nursing Overarches All Clinical Setting
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v6i1.971

Abstract

Kapasitas untuk menjaga keseimbangan selama bergerak dikenal sebagai keseimbangan dinamis. Kemunduran fisik banyak dialami oleh lansia. Latihan keseimbangan dirancang untuk memperkuat otot-otot di tungkai bawah dan untuk meningkatkan fungsi vestibular, atau keseimbangan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh latihan keseimbangan terhadap keseimbangan dinamis penghuni panti jompo Damai Ranomut Manado. Desain penelitian yang digunakan adalah pendekatan quasi eksperimen one-group pretest-posttest. Ada dua puluh tiga warga lanjut usia dalam populasi penelitian. Dengan sampling kecelakaan, terdapat 12 responden yang dijadikan sampel. Lembar observasi digunakan untuk pengumpulan data, dan uji Repeated Measures Anova dilakukan untuk mengevaluasi data. Temuan: Penelitian ini menunjukkan bahwa latihan keseimbangan dapat meningkatkan keseimbangan dinamis dalam lansia di Panti Damai Ranomut Manado dengan nilai P value= 0,001 kurang dari nilai α=0.05. Kesimpulan ada pengaruh antara balance exercise dengan tingkat keseimbangan dinamis pada lansia. Saran di harapkan pihak panti dapat menerapkan latihan balance exercise kepada lansia. The ability to remain stable while moving is referred to as dynamic balance. People typically experience a physical decrease as they age. Exercises for balance are advised to improve vestibular function and lower limb muscular strength. This study aims to investigate the effects of balancing exercises on the dynamic balance of senior residents of the Damai Ranomut orphanage located in Manado. The research design for the study is a one-group pretest-posttest, with a quasi-experimental methodology. population in this study amounted to 23 elderly. Samples were taken as many as 12 respondents using accidental sampling. data collection using observation sheets, then the collected data is analyzed using the Repeated Measures Anova test. Results In this study, there is an effect of balance exercise on increasing dynamic balance in the elderly at Panti Damai Ranomut Manado with P value = 0.001 less than = 0.05. The conclusion: There is a connection between senior citizens' dynamic balance and their amount of balancing training. Suggestions; are expected to the Nurse House to apply The balance exercises to the elderly. KEYWORDS: Balance Exercise,Dynamic Balance, Elderly
PERILAKU CARING MAHASISWA KEPERAWATAN DI UNIVERSITAS ADVENT INDONESIA Sihotang, Angelica Aprilianti; Rantung, Gilny Aileen Joan
Klabat Journal of Nursing Vol. 6 No. 1 (2024): Nursing Overarches All Clinical Setting
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v6i1.1088

Abstract

Pendahuluan: caring merupakan pokok dan fondasi dari profesi keperawatan. Untuk dapat membangun perilaku caring maka perlu dibentuk sedari dini guna meningkatkan kompetensi mahasiswa keperawatan dalam menjalankan asuhan keperawatan. Faktanya, beberapa studi menunjukkan bahwa mahasiswa perawat memiliki tingkat kepedulian yang rendah. Tujuan: penelitian memiliki tujuan untuk mengidentifikasi perilaku caring mahasiswa keperawatan di UNAI. Metode: penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian terdiri dari mahasiswa S1 dan D3 keperawatan dari tingkat 1 hingga 4 di Universitas Advent Indonesia. Sebanyak 229 responden terlibat dalam penelitian ini, dipilih melalui metode purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Caring Behavior Inventory 42 yang dikembangkan oleh Wolf (CBI-42). Hasil: analisa menunjukkan bahwa berdasarkan ke lima kategori Wolf , Professional Knowledge and Skill mendapat rata-rata tertinggi sebagai mahasiswa terhadap perilaku caring (3.700 ± 0.3669) dan yang terendah pada kategori Attentiveness To The Other's Experience (3.539 ± 0.3806). Tingkat perilaku caring mahasiwa keperawatan berdasarkan masing-masing karakteristik seperti jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, tingkat jurusan dan status anak pertama, kedua dan ketiga menunjukkan tinggi peduli yang tinggi. Kesimpulan: baik tingkat peduli mahasiswa keperawatan terhadap 5 aspek caring Wolf dan berdasarkan tiap karakteristik responden dalam kategori caring yang tergolong tinggi karena memiliki mean lebih dari nilai median (Me =2,5). Dengan mempertimbangkan dampak yang signifikan dari perilaku caring tersebut, disarankan kepada semua mahasiswa untuk terus mempertahankan dan meningkatkan perilaku caring mereka. Hal ini bertujuan agar perilaku caring yang mereka tunjukkan selama menjalani praktik maupun dalam ranah pekerjaan nantinya dapat memberikan kepuasan kepada masyarakat. Selanjutnya, diharapkan bahwa gambaran tentang perilaku caring mahasiswa ini dapat menjadi acuan bagi lembaga pendidikan dalam merancang kurikulum pembelajaran dan kompetensi sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien. Introduction: caring is the core and foundation of the nursing profession. to be able to build caring behavior, it needs to be formed early in order to improve the competence of nursing students in carrying out nursing care. In fact, some studies show that nursing students have low levels of caring. Objective: The study aimed to identify the caring behavior of nursing students at UNAI. Methods: This study used a quantitative descriptive approach. The research subjects consisted of S1 and D3 nursing students from level 1 to 4 at Universitas Advent Indonesia. A total of 229 respondents were involved in this study, selected through purposive sampling method. The instrument used was the Caring Behavior Inventory 42 developed by Wolf (CBI-42). Results: The analysis shows that based on Wolf's five categories, Professional Knowledge and Skill gets the highest average as a student towards caring behavior (3.700 ± 0.3669) and the lowest in the Attentiveness To The Other's Experience category (3.539 ± 0.3806). The level of caring behavior of nursing students based on each characteristic such as gender, age, education level, major level and the status of the first, second and third child shows a high level of caring. Conclusion: both the level of caring of nursing students towards Wolf's 5 aspects of caring and based on each respondent's characteristics in the caring category which is classified as high because it has a mean of more than the median value (Me = 2.5). Considering the significant impact of caring behavior, it is recommended that all students continue to maintain and improve their caring behavior. This is so that the caring behavior they show during practice and in the realm of work can later provide satisfaction to the community. Furthermore, it is hoped that this description of student caring behavior can be a reference for educational institutions in designing learning curricula and competencies so as to improve the quality of service to patients. KEYWORDS: CBI-42, Nursing Students, Caring Behavior
HUBUNGAN FATIGUE DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI TERAPI HEMODIALISA DI RUMAH SAKIT SWASTA BANDAR LAMPUNG Wahyudi, Fransisco Febrian Nafes; Rantung, Jeanny
Klabat Journal of Nursing Vol. 6 No. 1 (2024): Nursing Overarches All Clinical Setting
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v6i1.1067

Abstract

Proses hemodialisa harus dilakukan oleh pasien dengan teratur sejumlah 1 hingga 3 kali dalam seminggu dan menghabiskan waktu sekitar 4 sampai dengan 5 jam dalam setiap pertemuan. Efek negatif yang mencolok pada pasien hemodialisa ialah fatigue. Fatigue yang tidak ditangani pada pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani hemodialisa juga dapat mengakibatkan gejala-gejala seperti hipotensi, badan yang terasa lemas, kram pada otot, mual muntah, dan pusing, selain itu hal ini juga akan berdampak pada proses berpikir, konsentrasi, gangguan hubungan sosial dan kualitas hidup dari pasien. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien dengan mengurangi energi dan kemampuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari dengan optimal yang memberi dampak kualitas hidup pasien hemodialisa menjadi menurun. Penelitian ini bertujuan untuk memahami korelasi tingkat fatigue dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa. Metode studi ini menerapkan pendekatan kuantitatif korelasi. Teknik pengambilan sampel menerapkan purposive sampling sejumlah 40 responden. Alat ukur yang diterapkan ialah kuesioner Fatigue Assessment Scale (FAS) dan kuesioner WHOQOL-BREF. Data dianalisa menggunakan pearson correlation. Perolehan studi memperlihatkan adanya hubungan signifikan dari tingkat fatigue dengan kualitas hidup pasien GGK yang menjalani Hemodialisa dengan nilai p 0.048 dimana nilai p < dengan nilai α. Keeratan hubungan mempunyai nilai 0.314 yang berarti memiliki keeratan hubungan rendah dengan arah hubungan negatif, yang mempunyai arti saat tingkat fatigue tinggi menyebabkan kualitas hidup buruk. Saran untuk peneliti selanjutnya bandingkan tingkat fatigue dengan kualitas hidup pasien GGK yang menjalani terapi hemodialisa 1x /minggu, 2x /minggu, 3x /minggu, serta faktor yang menyebabkan fatigue pada hemodialisa. The hemodialysis process must be performed by patients regularly 1 to 3 times a week and takes about 4 to 5 hours per appointment. A notable negative effect on hemodialysis patients is fatigue. Untreated fatigue in chronic renal failure (CKD) patients undergoing hemodialysis can also lead to symptoms such as hypotension, weakness, muscle cramps, nausea and vomiting, and dizziness. In addition, this will also have an impact on the patient's thought process, concentration, impaired social relationships and quality of life. This can affect the patient's quality of life by reducing energy and the ability to carry out daily activities optimally, which results in a decreased quality of life for hemodialysis patients. This study aims to understand the correlation of fatigue levels with the quality of life of chronic renal failure patients undergoing hemodialysis therapy. This study method applies a quantitative correlation approach. The sampling technique applied purposive sampling of 40 respondents. The measuring instruments applied were the Fatigue Assessment Scale (FAS) questionnaire and the WHOQOL-BREF questionnaire. Data were analyzed using Pearson correlation. The results of the study showed a significant relationship between the level of fatigue and the quality of life of GGK patients undergoing hemodialysis with a p value of 0.048 where the p value was < the α value. The closeness of the relationship has a value of 0.314 which means that it has a low relationship closeness with a negative relationship direction, which means that when the level of fatigue is high, it causes poor quality of life. Suggestions for further researchers compare the level of fatigue with the quality of life of GGK patients undergoing hemodialysis therapy 1x / week, 2x / week, 3x / week, as well as factors that cause fatigue in hemodialysis. KEYWORDS: Chronic Kidney Disease, Fatigue, Hemodialysis, Quality Of Life
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA YANG BEKERJA DENGAN KEMANDIRIAN ANAK PRASEKOLAH DI WATULINEY Tendean, Angelia Friska; Kaligis, Marbella Ivana
Klabat Journal of Nursing Vol. 6 No. 1 (2024): Nursing Overarches All Clinical Setting
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v6i1.986

Abstract

Pola asuh orangtua adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kemandirian anak; kemandirian merupakan bagian dari perilaku anak yang harus dikembangkan sejak dini sebagai dasar keterampilan kehidupan kelak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuai hubungan antara pola asuh orangtua yang bekerja dan kemandirian anak prasekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini melihat orangtua yang bekerja sebagai subjeknya, dan metode pengambilan sampelnya adalah total sampel, dengan 41 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan jenis pola asuh orangtua terbanyak yaitu pola asuh demokratis sebanyak 37 orangtua (90,2%), sedangkan kemandirian anak prasekolah ada pada kategori cukup 18 (43,9%) dan tinggi juga sebanyak 18 anak (43,9%). Hasil uji statistik menggunakkan rumus ANOVA didapati nilai p-value = 0,629 > 0,05 yaitu tidak ada hubungan antara pola asuh orangtua yang bekerja terhadap kemandirian anak prasekolah di Watuliney. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu baik pola asuh ototriter, demokratis dan permisif tidak mempengaruhi kemandirian anak. Direkomendasikan bagi peneliti selanjutnya untuk mencari tahu faktor lain yang mempengaruhi kemandirian anak prasekolah seperti sistem pendidikan anak di sekolah. Independence is part of a child's behavior that must be developed from an early age as a foundation for future life skills. One of the factors that can influence independence is the parenting style of parents. This research aims to determine the relationship between parenting patterns of working parents and the independence of preschool children. The research design used in this research is descriptive analytic with a cross sectional approach. The population in this study were working parents, while the sampling technique used total sampling with the number of samples 41 respondents. The results of this study show that the most common type of parenting style is democratic parenting style with 37 parents (90.2%), while the independence of preschool children is in the moderate category with 18 (43.9%) and high with 18 children (43.9%). The results of statistical tests using ANOVA p-value = 0.629 > 0.05, there is no relationship between the pattern of foster parents working and the independence of students in Watuliney. The conclusion in this research is that good authoritarian, democratic and permissive parenting does not affect children's independence. It is recommended for future researchers to find out other factors that influence children's independence, such as the children's education system at school. KEYWORDS: Children, Independence, Parents, Parenting, Preschool

Page 11 of 17 | Total Record : 165