cover
Contact Name
Jurnal Teknik Lingkungan ITB
Contact Email
jurnaltlitb@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltlitb@gmail.com
Editorial Address
http://journals.itb.ac.id/index.php/jtl/about/editorialTeam
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Lingkungan
ISSN : 08549796     EISSN : 27146715     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Teknik Lingkungan ITB merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu Teknik Lingkungan sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): pengelolaan dan pengolahan air bersih, pengelolaan dan pengolahan air limbah, pengelolaan dan pengolahan persampahan, teknologi pengelolaan lingkungan, pengelolaan dan pengolahan udara, kebijakan air, serta kesehatan dan keselamatan kerja.
Articles 428 Documents
STUDI AWAL PEMANFAATAN LIMBAH SANDBLASTING SEBAGAI KOAGULAN Wildaniand, Nila; Sukandar, Sukandar
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.266 KB) | DOI: 10.5614//jtl.2010.16.1.10

Abstract

Abstrak: Limbah sandblasting merupakan sisa hasil kegiatan dari kegiatan sandblasting di industri. Berdasarkan lampiran 2 Peraturan Pemerintah No. 85 Tahun 1999, limbah sandblasting ditetapkan sebagai limbah B3 dari sumber spesifik dengan sumber pencemar berupa logam dan logam berat. Kandungan Al dan Fe yang tinggi pada limbah sandblasting berpotensi untuk di manfaatkan menjadi koagulan berbasis logam. Pemanfaatan limbah sandblasting menjadi koagulan merupakan upaya berarti dalam pencegahan pencemaran limbah B3 dan penghematan sumberdaya alam. Dalam penelitian ini, limbah sandblasting diolah secara kimia menggunakan asam klorida menjadi cairan dengan kandungan Al dan Fe yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai koagulan dalam pengolahan air/ air limbah. Kondisi optimal pembentukan koagulan dicapai dengan penambahan 310.25 kg HCl/ ton limbah sandblasting pada 110°C dengan waktu pelindian selama 3 jam. Hasil analisis ekstrak cair limbah sandblasting pada kondisi optimal menunjukkan perolehan kembali logam Al sebesar 57.86 % dan Fe sebesar 97.28 %.  Abstract: Sandblasting waste is a by-product material from sandblasting activity in industry. Based on lampiran 2 Peraturan Pemerintah No. 85 Tahun 1999, sandblasting waste is regarded as hazardous wastes from specific source with heavy metals as main pollutant. Sandblasting waste contains high amount of Al and Fe, which are potential to be utilized as metals based coagulant. Utilization of sandblasting waste as coagulant is not only prevents hazardous waste pollution but also can save natural resources. In this study sandblasting waste is chemically treated using hydrochloric acid addition into liquid containing high amount of Al and Fe that can be used as coagulant for water/wastewater treatment plant. Optimal condition for the production of coagulant achieved by acid treatment using 310.25 kg HCl/ ton sandblasting waste at 110°C for 3 hour leaching period. Under these condition final extraction and recovery yields of 57.86%Al and 97.28% Fe.  Key words: Sandblasting waste, Coagulant, Aluminum, Iron
PENGARUH PAPARAN GETARAN MESIN TERHADAP KELELAHAN DAN HAND ARM VIBRATION SYNDROME (HAVS) PADA PEKERJA DI INDUSTRI BETON PRACETAK (STUDI KASUS PT SCG PIPE AND PRECAST INDONESIA) Pramuditta, Luke; Kunaefi, Tresna Dermawan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.598 KB) | DOI: 10.5614/j.tl.2016.22.2.5

Abstract

Abstrak: Kegiatan di industri hampir selalu mempunyai faktor-faktor yang mengandung risiko bahaya yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan maupun penyakit akibat kerja, salah satunya bahaya yang disebabkan dari penggunaan mesin atau alat-alat mekanis yang menghasilkan getaran. Getaran dapat mengganggu kenyamanan dalam bekerja, dapat mempercepat terjadinya kelelahan serta dapat menimbulkan masalah kesehatan. Getaran mekanis mencapai lengan tangan operator melalui getaran yang dihantarkan ke tubuh secara lokal melalui tangan. Gangguan akibat getaran yang dirasakan oleh lengan tangan operator diistilahkan sebagai Hand Arm Vibration Syndrome (HAVs). Mesin dan alat-alat yang dipergunakan untuk proses produksi beton di PT X menghasilkan getaran dalam pengoperasiannya. Hal tersebut berpotensi menimbulkan kelelahan dan Hand Arm Vibration Syndrome (HAVs). Hasil dari pengukuran getaran dengan menggunakan Vibration meter adalah sebagai berikut Vibrator table U-A (19,9 m/det2), Vibrator table U-B (19,3m/det2), Impact wrench-A (19,9m/det2), Impact wrench-B (21,0m/det2), Vibrator table (20,3m/det2) dan Grinding wheel (19,9m/det2). Analisa statistik dengan korelasi Spearman dan Pearson dihasilkan p<0,05, yang berarti terdapat terdapat hubungan secara nyata antara getaran mesin dan paparan getaran yang diterima oleh pekerja dengan tekanan darah sistolik dan waktu reaksi sebagai indikator kelelahan fisiologis. Analisa statistik dengan korelasi Spearman dan Pearson diketahui bahwa terdapat hubungan secara nyata antara getaran mesin dan paparan yang diterima pekerja dengan hasil pemeriksaan fisik baik tes vaskuler maupun tes sensorik sebagai diagnosis dalam menentukan tingkat keparahan Hand Arm Vibration Syndrome dengan p<0,05 Kata kunci: getaran, kelelahan, Hand Arm Vibration Syndrome (HAVs). Abstract: Industrial activities will always involve factors contributing to hazardous risks which may cause accidents or occupational disease  to the workers. One of them is the diseases caused by mechanical vibrations produced by mechanical tools transmitted to the body of the workers who directly use the machine. The vibration may cause interruption to the workers, accelerate the fatigue and cause health problems. The mechanical vibration reach the workers' hands as the result of vibrations transmitted to the whole body locally.. Such a disorder is known as Hand Arm Vibration Syndrome (HAVs). The machinery and devices used for producing concrete materials in PT X produce significant vibration when they are under operation. The vibration may, potentially, cause fatigue and Hand Arm Vibration Syndrome (HAVs) to the workers during direct contact with the machinery and devices.The results of measurements of vibrations produced uses Vibration meter are Vibrator table U-A (19.9 m/s2), Vibrator table U-B (19.3 m/s2), Impact wrench-A (19.9 m/s2), Impact wrench-B (21.0 m/s2), Vibrator Table (20.3 m/s2) and Grinding wheel (19.9 m/s2). Analysis calculation with Spearman and Pearson correlation is p<0,05 is that mean there is real relationship exists between the machine vibration and vibration exposure received by workers with systolic blood pressure and reaction time as an indicator of physiological fatigue. Analysis calculation with Spearman and Pearson correlation, it is known that there is real relationship exists between engine vibration and the exposure received by workers with the results of physical examination tests both vascular and sensory tests as diagnostic in determining the severity of Hand Arm Vibration Syndrome with p<0,05. Keywords: vibration, fatigue, Hand Arm Vibration Syndrome (HAVs).
KAJIAN KOMPOSISI, KARAKTERISTIK, DAN POTENSI DAUR ULANG SAMPAH DI TPA CIPAYUNG, DEPOK Zahra, Fatimah; Damanhuri, Tri Padmi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 17, No 1 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.522 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.1.6

Abstract

Abstrak: Pada tahun 2010, penduduk Kota Depok berjumlah 1.738.570 jiwa (BPS Jawa Barat, 2010) dan dengan mengasumsikan timbulan sampah 2,65 liter/orang/hari maka timbulan sampah Kota Depok dapat diperkirakan yaitu sebesar 4.607 m3/hari. Namun, sampah yang masuk ke TPA Cipayung hanya 2.584 m3/hari atau sekitar 56% dari timbulan sampah total. Beberapa jenis sampah yang masuk ke TPA Cipayung masih memiliki potensi untuk didaur ulang.  Sampel sampah yang diteliti merupakan sampah domestik dan sampah non domestik (diambil dari 3 truk dari kawasan perumahan dan 2 truk dari pasar) yang masuk ke TPA Cipayung. Penelitian dilakukan setiap satu bulan sekali selama 3 bulan. Ditinjau dari komposisinya, sampah Kota Depok terbagi menjadi dua kategori besar, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Dari hasil penelitian, komposisi sampah di TPA Cipayung didominasi oleh sampah organik (63,59%), sampah anorganik recyclable (26,70%), dan sampah anorganik non-recyclable (9,70%). Sampah di TPA Cipayung memiliki potensi daur ulang sebesar 26,70%, dengan pembagian sebagai berikut : plastik sebesar 16,66%, kertas sebesar 8,81%, kaca sebesar 1,02% dan logam sebesar 0,21%. Densitas sampah Kota Depok berdasarkan penelitian ini adalah sebesar 256,98 kg/m3. Uji karakteristik kimia dilakukan untuk sampah organik bertujuan untuk mengetahui karakteristik awal dari sampah sebagai acuan teoritis pencampuran bahan untuk pengomposan sebagai alternatif pengolahan sampah organik. Kadar air sampah organik TPA Cipayung telah memenuhi kriteria yang baik untuk dijadikan kompos (65,23%), namun rasio C / N dari sampah organik TPA Cipayung (15,01) terlalu kecil dari kriteria yang disarankan sehingga memerlukan bahan campuran yang memiliki kadar C lebih tingi. Material terdaur ulang di TPA Cipayung telah banyak tereduksi baik kuantitas maupun kualitasnya akibat berbagai aktivitas seperti pemilahan di sumber, aktivitas pemulungan di sumber dan selama perjalanan ke TPA. Selain itu, material terdaur ulang di TPA Cipayung kondisinya sudah banyak yang rusak sehingga harga jualnya relatif lebih rendah.Kata kunci: aktivitas pemulungan, karakteristik, komposisi, potensi daur ulang, tempat pembuangan akhir. Abstract : In 2010, the total population of Depok City is about 1,738,570 people (West Java BPS, 2010). Assuming the estimated generation rate is 2.65 liters/capita/day, the generation of  Depok City waste can be estimated at 4,607 m3/day. However, the waste that goes to Cipayung Final Disposal Site (FDS) only 2,584 m3/day or about 56% of total waste generated. Some type of waste at Cipayung FDS still has the potential to be recycled. The study was conducted by analyzing the composition of domestic waste taken from 3 trucks from residential area and non-domestic waste taken from 2 trucks from market. The research was conducted once a month for 3 months. In terms of composition, the Depok City waste is divided into 2 major categories, organic and inorganic waste. Based from the research, the composition of waste in Cipayung FDS are dominated by organic waste (63.59%), inorganic recyclable waste (26.70%), and inorganic non-recyclable waste (9.70%). Waste in Cipayung FDS has the potential to be recycled of  26.70%, divided of : plastics for 16.66%, paper for 8.81%, glass and metal for 1.02% and 0.21% respectively. Waste density based on this study is 256.98 kg/m3. Laboratory test performed for the chemical characteristics of organic waste in order to determine the baseline characteristics of the waste as a theoretical reference for material mixing for composting process. The organic wastes in Cipayung FDS has an average moisture content of 65.23% and C / N ratio average of 15.01. This condition shows that the organic waste in Cipayung FDS has not fulfilled the optimum criteria for compostion yet. From the research, it can be concluded that recyclable materials have been widely reduced during the transportation to the Cipayung FDS. Waste reduction is a result of various activities such as sorting at source, scavenging activity on the source and during the transportation to the landfill. In addition, recyclable materials at the Cipayung FDS are already in much damaged condition and the economic values are relatively low.  Key words: characteristics, composition, final disposal site, recycling potential, scavenging activity.
LIFE CYCLE ASSESSMENT (LCA) PRODUK SEMEN PORTLAND KOMPOSIT (STUDI KASUS: PT X) Devia, Della; Lestari, Puji; Sembiring, Emenda
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 23, No 2 (2017)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.993 KB) | DOI: 10.5614/j.tl.2017.23.2.1

Abstract

Abstrak: Industri semen dihadapkan pada tantangan dalam mengurangi konsumsi sumber daya alam dan energi, untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. PT X adalah salah satu industri semen di Indonesia yang memiliki produk semen portland komposit yang dianggap lebih ramah lingkungan karena memiliki kandungan klinker yang lebih sedikit dibandingkan dengan semen portland biasa. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi tahapan daur hidup produk yang menghasilkan dampak yang signifikan dan menentukan skenario alternatif perbaikan yang dapat menimbulkan potensi dampak paling minimum pada daur hidup produk semen portland komposit. Metode yang dipakai adalah Life Cycle Assessment (LCA) yang terdiri dari (1) Penentuan tujuan dan lingkup, (2) Analisis inventori, (3) Penilaian dampak dan (4) Interpretasi hasil. Lingkup kajian LCA yang akan dilakukan bersifat ?cradle-to-gate? meliputi tahapan proses ekstraksi bahan baku, proses produksi hingga distribusi semen portland komposit. Potensi dampak lingkungan dari semen portland komposit menggunakan metode ReCiPe 2016 adalah pemanasan global (GWP) sebesar 768,43 kgCO2eq, asidifikasi (AP) sebesar 0,75 kg SO2eq, pembentukan partikulat (PMFP) sebesar 0,26 kgPM2,5eq, pembentukan ozon fotokimia (POFP) sebesar 2,31 kgNOxeq dan toksisitas pada manusia penyebab kanker sebesar 5,11E-03 kg 1,4DCBeq. Potensi dampak terbesar adalah GWP yang memiliki nilai normalisasi terbesar diantara potensi dampak lain, yaitu 1,51E-11 secara total. Kontribusi dampak terbesar ada pada tahapan proses produksi sebesar 88,84% yang disebabkan karena emisi CO2 sebesar 98,63%. Skenario yang direkomendasikan untuk mereduksi potensi dampak GWP adalah teknologi penangkapan karbon yang dapat mereduksi dampak sebesar 57%. Kata kunci: semen portland komposit, life cycle assessment, LCA, cradle-to-gate Abstract : Cement industry facing the challenge in reducing resource material consumption and energy through sustainable development. PT X is one of the cement industry in Indonesia which produced portland composite cement which is considered more environmentally friendly because it contains less clinker than ordinary portland cement. Purpose of this study is to identify the product life cycle stages that have a significant impact and define alternative improvement scenarios which have the least potential impact on the life cycle of portland composite cement. The method used is Life Cycle Assessment (LCA) which consists of (1) goal and scope definition, (2) inventory analysis, (3) impact assessment, and (4) interpretation. Scope of LCA is cradle-to-gate from material extraction, production process and cement distribution. The potential impact from portland cement composite are global warming potential (GWP) about 768.43 kgCO2eq, acidification potential (AP) about 0,75 kgSO2eq, particulate matter formation potential (PMFP) about 0.26 kgPM2,5eq, photochemical ozone formation potential (POFP) about 2,31 kg NOxeq and human toxicity with cancer (HTPc) about 5,11E-03 kg 1,4DCBeq. The biggest potential impact is GWP which has the greatest normalization value among others, about 1.51E-11 in total. The largest contribution is in the production process stage about 88.84%, which caused by CO2 emissions about 98.63%. The recommended scenario for reducing the potential impact of GWP is carbon capture technology with a reduction of 57%. Key words: portland composite cement, life cycle assessment, LCA, cradle-to-gate
STUDI PEMANFAATAN LIMBAH B3 SLUDGE PRODUCED WATER SEBAGAI BAHAN BAKU REFUSE DERIVED FUEL (RDF) Putri, Anggi Pertiwi; Sukandar, Sukandar
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.05 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.1.1

Abstract

Abstrak: Kebutuhan sumber energi terbarukan semakin penting mengingat kebutuhan akan energi yang terus meningkat. ?Waste to Energy? adalah konsep yang sesuai untuk memecahkan masalah ini. Refuse derived fuel (RDF) sebagai salah satu aplikasi dari konsep tersebut yang menggunakan residu memiliki nilai kalor yang tinggi sebagai bahan bakar. Sludge produce water merupakan salah satu limbah industri minyak dan gas bumi kategori limbah bahan berbahaya dan beracun yang memiliki karakteristik kandungan C-organik mencapai 52,03%, total petroleum hidrokarbon sebesar 32,216% dan nilai kalor mencapai 4.100,39 kal/gr yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif aplikasi waste to energi dengan metode RDF. Sementara biomassa seperti kompos, serbuk gergaji, dan tandan kelapa sawit mudah ditemukan namun belum banyak dimanfaatkan juga berpotensi menjadi bahan campuran RDF dalam upaya meningkatkan nilai kalor. Sludge produced water dan biomassa dapat dimanfaatkan menjadi RDF dengan kombinasi yang tepat sehingga menghasilkan nilai kalor yang optimum untuk bahan bakar. Penelitian ini meninjau karakteristik dan nilai kalor bahan dengan proximate analysis dan bom kalorimeter. Penelitian dilakukan dengan mencampurkan biomassa dan sludge produced water dengan rasio 1:3, 2:2, dan 3:1 serta menambahkan bahan perekat berupa tepung kanji dengan konsentrasi 1%, 2%, dan 5%.  Nilai kalor paling baik yang dihasilkan adalah dari kombinasi sludge produced water dan serbuk gergaji perbandingan 1:3 dengan konsentrasi perekat 5% yang menghasilkan nilai kalor sebesar 4.933,95 kal/gram. Waste to energi dalam bentukan RDF ini dapat dijadikan alternatif pemanfaatan limbah B3 sludge produced water.
POTENSI GANGGUAN BAU GAS HIDROGEN SULFIDA (H2S) DI LINGKUNGAN KERJA PT PERTAMINA (PERSERO) RU IV CILACAP Herlianty, Shinta; Dewi, kania
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.017 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.2.9

Abstract

Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui konsentrasi gas hidrogen sulfida (H2S) di udara ambien lingkungan kerja yang berpotensi terhadap pencemaran udara, kesehatan dan kenyamanan para pekerja di lingkungan kerja PT PERTAMINA (Persero) RU IV Cilacap.  Data yang diambil adalah konsentrasi gas H2S pada udara ambien (disampling dengan metode basah), meteorologi, dan jawaban kuesioner oleh pekerja di lokasi yang telah ditentukan.  Hasil seluruh pengukuran konsentrasi H2S pada saat sampling berada di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) PER.13/MEN/X/2011 1 ppm.  Konsentrasi H2S tertinggi sebesar 0,36 ppm terdapat pada kilang FOC I (sore) dan konsentrasi H2S terendah adalah tidak terdeteksi yang terdapat pada LOC III (pagi).  Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukan nilai Hhitung sebesar  0,072< Htabelsebesar5,99 yang berarti konsentrasi H2S tidak berbeda secara nyata di pagi, siang, dan sore hari. Dibandingkan dengan NAB H2S (0,02 ppm) dari KEP. MENLH No. 50/MENLH/11/1996 tentang bau odoran tunggal, lokasi penelitian yang memiliki konsentrasi H2S di atas nilai  tersebut terdapat pada FOC I (sore), LOC III (siang), SRU (pagi), LOC II pagi), LOC I (seluruh waktu sampling), dan FOC II (sore).  Jawaban responden menunjukan sebesar 73,85 % pekerja merasa terganggu bahkan sangat terganggu dengan adanya gas H2S di lingkungan kerja.  26,15 % lainnya merasa biasa saja bahkan tidak terganggu dengan adanya gas H2S di lingkungan kerja.  Hasil uji korelasi linier menunjukkan nilai R2 0,318 yang berarti bahwa 31,8% variabel kebauan memiliki pengaruh terhadap timbulnya gangguan kenyamanan, sedangkan 68,2 % lainnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Para responden mengalami gangguan kesehatan berupa mata perih/merah/berair, sesak napas, pusing dengan masing?masing persentase sebesar 7,82 %, 7,26%, dan 17,32 %.
KESETIMBANGAN DAN KINETIKA PENYISIHAN ORTHOFOSFAT DARI DALAM AIR DENGAN METODE ADSORPSI-DESORPSI Larasati, Amanda; Notodarmodjo, Suprihanto
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.913 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.1.5

Abstract

Abstrak: Ion fosfat sering dikaitkan dengan terjadinya algae blooming dan masalah estetika pada badan air permukaan. Fosfat ini perlu diolah dan dimanfaatkan lebih lanjut. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengolah orthofosfat adalah metode adsorpsi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengadsorpsi ion fosfat ke dalam adsorben yang murah. Tanah (tanah Dago dan tanah Arcamanik) dan bebatuan lokal seperti dolomite hadir sebagai media adsorben yang murah dan mudah diperoleh. Dilakukan percobaan pengaruh pH larutan terhadap proses adsorpsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi penyisihan orthofosfat tertinggi saat pH asam (pH 2). Efisiensi penysihan orthofosfat oleh tanah Dago, tanah Arcamanik, dan dolomite berurutan adalah 65,641%-99,334%, 55,540%-99,12%, dan 50,240%-91,489%. Kemampuan desorpsi dari tanah Dago, tanah Arcamanik, dan dolomite berurutan adalah 0,32%-2,46%, 1,02%-5,337%, and 4,36%-15,703%. Adsorpsi orthofosfat oleh kedua jenis tanah mengikuti model isoterm Temkin dan dolomite mengikuti model isoterm Freundlich. Semua adsorben mengikuti model laju kinetika pseudo-second order. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa mekanisme penyisihan orthofosfat di dalam air oleh tanah Dago dan tanah Arcamanik adalah adsorpsi secara kimia melalui ligand exchange, sedangkan penyisihan oleh dolomite adalah adsorpsi secara fisik dan presipitasi permukaan. Kata kunci: adsorpsi, desorpsi, isoterm, kinetika, orthofosfat Abstract: Phosphate ions are usually considered as the responsible for the algal bloom in receiving water bodies and aesthetic problems in water. From the environmental point of view, management of such contaminant and valuable resource is very important. One method that can be used to remove orthophosphate is the adsorption method. An experimental study on the adsorption or phosphate onto cost effective adsorbents is presented. Cost effective adsorbents named Dago soil, Arcamanik soil, and dolomite.  The effect of pH solution was examined. As a result, it was found that the highest efficiency of phosphate removal is at acidic pH (pH 2). The orthophosphate removal efficiency by Dago soil, Arcamanik soil, and dolomite respectively are 65.641%-99.334%, 55.540%-99.12%, and 50.240%-91.489%. The desorption ability of Dago soil, Arcamanik soil, and dolomite respectively are 0.32%-2.46%, 1.02%-5.337%, and 4.36%-15.703%. Adsorptions of orthophosphate by both soils occur according to the Temkin isotherm model, and for dolomite, the Freundlich isotherm depicted the equilibrium data most accurately. For all adsorbents were well fitted with pseudo-second order kinetics model. The Experimental data further indicated that the removal of orthophosphate by Dago and Arcamanik soil occur by chemisorptions mechanism, while adsorption orthophosphate by dolomite occur by physicsorption mechanism and surface precipitation. Keywords: adsorption, desorption, isotherm, kinetic, orthophosphate
SPREADING ANALYSIS OF PHENOL, OIL AND GREASE OFPRODUCED WATER FROM OIL AND GAS FIELD AND THEIR IMPACTS TO OFFSHORE ENVIRONMENT Ramos M, Yovita; Muntalif, Barti Setiani; Muin, Muslim
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 15, No 1 (2009)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.218 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2009.15.1.3

Abstract

Abstract: Sea is one of natural resources, which has potential to provide human needs. However, due to resident growth and there are many industries have activities, the sea is started to be polluted and negative impact to people and environment is arisen. One of industry, which has potential to pollute Indonesian sea, is oil and gas production in Natuna Sea. Produced water, which is produced by oil and gas production process in PT. Star Energy, may contain few contaminant constituents including phenol, oil and grease. Distribution of phenol and oil and grease is done using MuQual3D software, which includes hydrodynamic model and qualitative water model. Simulation of phenol distribution and oil and grease from produced water is done for a year for each discharge location within two layers of sea water layer which are mean sea water layer and sea bottom layer.  Phenol concentration spreading at the depths of 7 m and 75 m such as 0.012 - 0.14 µg/L, where as oil and grease concentration such as range between 0.15-1.7 µg/L.  These spreading simulations show that produced water discharge have complied the sea water quality standard for aquatic biota.  From laboratory results of aquatic biota for phytoplankton and zooplankton, are indicated that there is occurrence of ecological pressure within the aquatic area, but still in moderate and stable condition, which means that it could be changed according to the surrounding environment. Where as, from Chanos chanos toxicological model simulation about 9.53-10.12% of study area has impacted.  For balancing the ecosystem of Natuna sea, produced water discharge management and other research for aquatic biota in study area are needed.Key words: Produced Water, Phenol, Oil and Grease, Impacts, MuQual3D, Natuna Sea Abstrak: Laut merupakan salah satu sumber daya alam yang berpotensi untuk memenuhi kebutuhan manusia.  Namun seiring dengan pertumbuhan penduduk dan banyaknya industri yang beroperasi, laut mulai tercemar sehingga timbul dampak negatif terhadap manusia dan lingkungan.  Salah satu industri yang berpotensi dalam mencemari laut Indonesia,khususnya Laut Natuna adalah industri minyak dan gas bumi. Air terproduksi yang dihasilkan oleh proses produksi minyak dan gas di PT. Star Energy, mengandung beberapa senyawa kontaminan termasuk fenol dan oil and grease.  Penyebaran fenol dan oil and grease dilakukan menggunakan software MuQual3D yang mencakup model hidrodinamika dan model kualitas air. Simulasi penyebaran fenol, oil and grease dari air terproduksi dilakukan selama 1 (tahun) untuk masing-masing lokasi pembuangan dalam 2 (lapisan air laut) yaitu lapisan permukaan dan lapisan dasar laut.  Penyebaran konsentrasi fenol pada kedalaman 7 m dan 75 m berkisar antara 0.012 - 0.14 µg/L sedangkan konsentrasi oil and grease berkisar antara 0.15-1.7 µg/L.  Hasil simulasi penyebaran tersebut menunjukkan air terproduksi yang dibuang masih berada di dalam baku mutu.  Dari hasil pengukuran plankton, baik fitoplankton maupun zooplankton diperoleh bahwa terdapat tekanan ekologis terhadap struktur komunitas laut, namun masih dalam kondisi yang moderat atau stabil, artinya dapat berubah sesuai dengan keadaan lingkungan sekitarnya.  Sedangkan dari hasil simulasi model toksikologi Chanos-Chanos didapat sekitar 9.53% sampai dengan 10.12% wilayah yang terkena dampak pembuangan air terproduksi.  Untuk menjaga kestabilan ekosistem Laut Natuna diperlukan pengelolaan pembuangan air terproduksi dan penelitian lebih lanjut untuk biota laut di wilayah studi.
AKUMULASI LOGAM TIMBAL (PB) PADA KANGKUNG DARAT (IPOMOEA REPTANS POIR) Rohaningsih, Denalis; Muntalif, Barti Setiani
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.508 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.2.6

Abstract

Abstrak: Timbal, salah satu logam berat yang berbahaya terhadap organisme dan lingkungan, ditemukan dalam limbah yang berasal dari kawasan industri textil Leuwigajah, Cimahi. Selain memiliki kelarutan yang baik dalam air dan dapat terakumulasi di dalam tanah, tanaman yang tumbuh di lahan tercemar dapat menyerap substansi yang berbahaya ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana logam timbal dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Pada penelitian ini hanya dikaji pengaruh akumulasi timbal pada tanaman kangkung darat (Ipomoea retans Poir). Selain konsentrasi timbal, pengaruh kehadiran kromium dalam tanah ikut dikaji pada penelitian ini. Penelitian diawali dengan (1) karakterisasi awal sampel tanah dari lokasi studi, (2) rancangan penanaman, (3) penanaman kangkung darat, (4) panen/pengampilan sampel, dan (5) analisis logam. Konsentrasi timbal mulai dianalisis pada kangkung darat berumur satu minggu. Analisis logam timbal dilakukan menggunakan metode spektrofotometri serapan atom. Dibuat empat variasi media tanam. Berdasarkan hasil pengukuran, logam timbal paling banyak terakumulasi di bagian akar kangkung darat kecuali kangkung darat variasi A dan variasi C yang mengakumulasi lebih banyak di bagian batang. Hingga hari ke-25, konsentrasi timbal dalam jaringan tanaman kangkung darat semua variasi belum melebihi baku mutu, yakni 0,5 mg kg-1. Kangkung darat variasi C memiliki kandungan timbal dengan jumlah tertinggi pada keseluruhan jaringan tanamannya (245,22 mg kg-1). Akumulasi timbal paling banyak terjadi pada bagian batang (89,18 mg kg-1). Adanya kromium di dalam media tanam variasi C dan variasi D menyebabkan akumulasi logam timbal menurun. Penambahan pupuk pada media tanam variasi B dan variasi D terbukti menurunkan akumulasi timbal dalam jaringan tanaman kangkung darat. Pengaruh logam pada pertumbuhan kangkung darat mulai terlihat pada hari ke-10. Terjadi klorosis pada beberapa daun kangkung darat variasi C. Semua variasi kangkung darat memiliki nilai faktor biokonsentrasi < 1 (variasi A = 0,32; variasi B = 0,33; variasi C = 0,34; variasi D = 0,36). Hanya kangkung darat variasi B yang memiliki nilai faktor translokasi < 1. Nilai ini dibuktikan dengan akumulasi timbal yang paling tinggi di bagian akar. Kata kunci: timbal, kromium, kangkung darat, Ipomoea reptans Poir, akumulasi Abstract : Lead, a heavy metal that harms different organisms, has been found in the waste of the garment industry in industrial area of Leuwigajah, Cimahi. As lead accumulated easily in water and soil via waste being discharged into the environment, plants in the contaminated area can absorb this hazardous substance. This situation calls into an assessment of ?to which extent the toxicity of lead can impact the growth of plants?. Within the research scope, only water spinach (Ipomoea reptans Poir) will be studied. Beside the dose of lead, the study also takes the presence of chromium into consideration. The sequences of research include: (1) An initial measurement of soil from sampling site, (2) planting design, (3) plantation of water spinach, (4) havest/sampling, and (5) analysis of metal. Lead concentration analysis begin with one-week-old water spinach. Analysis of lead performed by atomic absorption spectrophotometry method. Four variations of planting medium has been made. The result showed that lead mostly accumulated in root except variant A and variant C which accumulate more lead in stem. Until day 20th, lead concentration in water spinach plant tissues not yet exceed the regulation for maximum lead in vegetables (0.5 mg kg-1). Water spinach variant C has the highest amount of lead in its tissues (245.22 mg kg-1). Lead mostly accumulated in stem part (89.18 mg kg-1). The presence of chromium in planting medium variant C and variant D decreases the accumulation of lead. Addition of fertilizer in planting medium variant B and variant D proven decreases the accumulation of lead in plant tissues. Effect of metal presence on water spinach growth seen at day 10th. There is chlorosis in leaves of water spinach variant C. All of water spinach variations have bioconcentration value below 1 (variant A = 0.32; variant B = 0.33; variant C = 0.34; variant D = 0.36). Only water spinach variant B that has translocation value below 1. This value has proven by highest lead accumulation in its root. Key words: lead, chromium, water spinach, Ipomoea reptans Poir, accumulation
PENGARUH KERAPATAN TANAMAN KIAPU (PISTIA STRATIOTES L) TERHADAP SERAPAN LOGAM CU PADA AIR Nurfitri, Annisa; S. Salami, Indah Rachmatiah
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.662 KB) | DOI: 10.5614//jtl.2010.16.1.5

Abstract

Abstrak : Fitoremediasi merupakan salah satu metode alternatif yang aman dan cukup efektif dalam memperbaiki kualitas air. Salah satu tanaman yang dapat digunakan dalam proses fitoremediasi ialah tanaman Kiapu (Pistia stratiotes). Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui serapan Cu oleh tanaman kiapu (Pistia stratiotes) dalam air serta apakah kerapatan tanaman berpengaruh pada serapan. Penelitian dilakukan dengan membuat model perairan kontrol dan tercemar. Pada model kontrol, media yang digunakan ialah air ledeng yang telah diaerasi sementara pada model tercemar media yang digunakan ialah air ledeng yang telah diaerasi dan dikontaminasi Cu dengan konsentrasi 0,0196 mg/l, 0,0228 mg/l dan 0,0226 mg/l. Variasi kerapatan tanaman yang dilakukan ialah 30 mg/cm2 (kerapatan 1), 40 mg/cm2 (kerapatan 2), dan 50 mg/cm2 (kerapatan 3). Pengukuran konsentrasi logam pada tanaman dan air dilakukan pada hari ke 0, 1, 3, 5, 10, 15 dan 20. Metode analisis logam berat yang dilakukan meliputi ekstraksi logam berat dan pengukuran dengan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Hasil yang didapat dari penelitian ini ialah terjadi penurunan konsentrasi logam Cu pada air dengan konsentrasi terendah terjadi pada hari ke 10 untuk model tercemar kerapatan 1 dan pada hari ke 15 untuk model tercemar kerapatan 2 dan 3. Akumulasi logam berat lebih banyak terdapat di bagian akar. Melalui uji T-berpasangan, disimpulkan bahwa variasi kerapatan yang dilakukan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan dalam serapan  logam Cu. Besarnya faktor biokonsentrasi dalam penelitian berkisar antara 1246,153 l/kg hingga 48014,95 l/kg mengindikasikan bahwa Kiapu merupakan tanaman hiperakumulator yang baik.Abstract : Phytoremediation is one of the alternative methods which is safe and effective enough in improving water quality. One of the plants that can be use in phytoremediation process is Water Lettuce (Pistia stratiotes). Research has been conducted to determine the Cu absorbtion by water lettuce (Pistia stratiotes) and the influence of plant density on the absorbtion. Research was done by creating control and polluted water models. In the control model, the media used is tap water that has been aerated. Meanwhile, in the polluted water model, the media used is tap water that has been aerated and contaminated with Cu with a concentration of 0.0196 mg/ l, 0.0228 mg/ l and 0.0226 mg/l. Plant density variations that conducted are 30 mg/cm2 (density 1), 40 mg/cm2 (density 2) and 50 mg/cm2 (density 3). Measurement of metal concentrations in plants and water carried out on day 0, 1, 3, 5, 10, 15 and 20. Methods of heavy metal analysis consist of the heavy metal extraction and measurement by Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Results obtained from this research are the decreasing of Cu concentration on the water with the lowest concentrations occurred at day 10 to polluted water model-density 1 and on day 15 to polluted water model-density 2 and polluted water model-density 3. Accumulations of heavy metals are more numerous in the root. Through a paired T-test, concluded that the density variations of Pistia stratiotes do not affect significantly on the absorption of Cu. The amount of bioconcentration factor in the study ranged from 1246,153 l/kg up to 48014,948 l/kg indicates that Pistia stratiotes is a good  hyperaccumulator plant.Keywords: Bioconcentration Factor; Cu; Phytoremediation; Pistia stratiotes; Plant density

Page 9 of 43 | Total Record : 428