cover
Contact Name
Jurnal Teknik Lingkungan ITB
Contact Email
jurnaltlitb@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltlitb@gmail.com
Editorial Address
http://journals.itb.ac.id/index.php/jtl/about/editorialTeam
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Lingkungan
ISSN : 08549796     EISSN : 27146715     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Teknik Lingkungan ITB merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu Teknik Lingkungan sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): pengelolaan dan pengolahan air bersih, pengelolaan dan pengolahan air limbah, pengelolaan dan pengolahan persampahan, teknologi pengelolaan lingkungan, pengelolaan dan pengolahan udara, kebijakan air, serta kesehatan dan keselamatan kerja.
Articles 428 Documents
UJI PENDAHULUAN PEMANFAATAN LIMBAH SLUDGE CPO (CRUDE PALM OIL) SEBAGAI BAHAN BAKU RDF (REFUSED DERIVED FUEL) Fitriany, Inna Arumsari; Sukandar, Sukandar
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 15, No 2 (2009)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.327 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2009.15.2.5

Abstract

Abstrak : Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan industri minyak kelapa sawit terbesar, bahkan akan menjadi produsen utama dunia 2010, yang akan memiliki sumber daya yang belum tersentuh lebih dari 50 juta ton pertahun. Oleh karena itu, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam memanfaatkan produk samping biomassa berupa limbah sludge dari sisa pengolahan kelapa sawit yaitu sebagai sumber energi dalam bentuk briket arang. Kebun dan pabrik kelapa sawit menghasilkan limbah padat dan cair dalam jumlah besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Pertumbuhan produksi CPO (Crude Palm Oil) sebesar 5-6 % per tahun berarti pula peningkatan ketersediaan produk samping berupa limbah sludge dari sisa pengolahan kelapa sawit. Pertumbuhan areal kebun kelapa sawit di Indonesia akan terus meningkat sehingga meningkatkan sumber produk samping berupa limbah sludge dari sisa pengolahan kelapa sawit. Ini berarti bahan baku untuk membuat bio-bahan bakar akan tersedia dalam jumlah yang lebih besar. Dari produksi minyak kelapa sawit tahun 2004 dapat diperkirakan produksi POME (Palm Oil Mill Effluent) sebanyak 32.257 ? 37.633 juta ton. Jumlah ini sangat melimpah dan berpotensi besar sebagai sumber energy terbarukan. Oleh karena itu, Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan produk samping dari kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan. Jenis-jenis sludge yang dapat termanfaatkan yaitu biosludge, spent bleaching earth, first aid cake, glycerin, dan scum cake. Pada penelitian ini dilakukan variasi pencampuran untuk mencapai nilai kalor yang optimum.Abstract: Indonesia is a country with the growth of the largest palm oil industry, even going to be a major world producer in 2010, which will have the untapped resources of more than 50 million tons per year. Therefore, Indonesia has huge potential in using biomass byproducts from the remaining sludge in the form of palm oil as a source of energy in the form of charcoal briquettes. Gardens and palm oil mills produce solid and liquid wastes in large numbers that have not been used optimally. Production growth of CPO (Crude Palm Oil) at 5-6% per year will also mean increasing the availability of sludge byproduct from the remaining mills. The growth of oil palm plantation acreage in Indonesia will continue to increase thereby increasing source of sludge byproduct from the remaining mills. This means the raw material for making bio-fuels will be available in larger quantities. From the production of palm oil production in 2004 can be estimated POME (Palm Oil Mill Effluent) counted 32.257-37.633 million tons. This amount is very gorgeous and huge potential as a source of renewable energy. Therefore, Indonesia has great potential to utilize by products from the oil palm as a source of renewable energy. The types of sludge that can be utilized ie biosludge, spent bleaching earth, first aid cake, glycerin, and Scum cake. In this study the variation of mixing has been  done to achieve optimum heating value. Key words: biomass, sludge, heating value, crude palm oil
DEGRADASI ZAT WARNA PADA AIR GAMBUT MENGGUNAKAN METODE KOMBINASI KOAGULASI DAN FOTOKATALITIK ZNO Juhra, Fatimah; Notodarmodjo, Suprihanto
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 22, No 1 (2016)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (955.572 KB) | DOI: 10.5614/j.tl.2016.22.1.5

Abstract

Abstrak: Telah dilakukan penelitian tentang degradasi intensitas zat warna air gambut dengan fotokatalis ZnO. Penelitian ini meliputi proses pre-treatment dengan koagulasi dan post treatment dengan penentuan jumlah optimum fotokatalis ZnO, pH optimum dan konstanta laju reaksi (k). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pre-treatment menggunakan koagulasi dengan koagulan aluminium sulfat pada dosis 110 ppm dan pH 6,5 dengan persentase penyisihan kekeruhan, warna dan TSS, masing-masing 89%, 78% dan 98%. Pada proses fotokatalis menunjukkan bahwa kondisi optimum proses degradasi intensitas zat warna pada air gambut memerlukan 0,5 g/L katalis ZnO, pH 4 dan wakti radiasi sinar UV selama 120 menit. Konstanta laju fotodegrdasi intensitas zat warna sebesar 0,0209 menit-1 dengan persentase degradasi sebesar 20,54 %. Air gambut sebelum perlakuan memiliki konsentrasi intensitas zat warna sebesar 527 Pt.Co dapat disisihkan menjadi 10 Pt.Co dengan kombinasi koagulasi dan fotokatalis ZnO.  Kata kunci: Air Gambut, Aluminium Sulfat, Fotokatalis, Koagulasi, ZnO Abstract : Has done research on the degradation of color substances in peat water with photocatalysts ZnO. This study includes pretreatment process with coagulation and post treatment to determine the optimum dose of ZnO photocatalyst, optimum pH and the reaction rate constant (k). The result showed that the pretreatment process using coagulation with Al2SO4 at 110 ppm dose, and pH 6,5 with the percentage of removal for turbidity, color and TSS are 89%, 78%, and 98%, respectively. Photocatalysts process showed that the optimum condition of color substance degradation in peat water requires 0,5 g/L ZnO, pH 4 and UV radiation for 120 minutes. Photodegradation rate constant of 0,0209 min-1 and the percentage of degradation is 20,54%. The peat water before treatment has color substance concentration can be set aside for 527 Pt.Co to 10 Pt.Co with the combination of coagulation and ZnO photocatalyts process. Key words: Aluminum Sulfate, Coagulation, Peat Water , Photocatalyst,  ZnO
EVALUASI KINERJA INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) DI WADUK MELATI, KOTA JAKARTA PUSAT Saputra, Mahardika; Hartati, Etih; Halomoan, Nico
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.759 KB) | DOI: 10.5614/j.tl.2016.22.2.6

Abstract

Abstrak: Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Waduk Melati berfungsi untuk mengurangi beban pencemaran air limbah yang masuk ke dalam waduk yang dapat berpotensi menyebabkan adanya pencemaran air dan berdampak pada kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja IPAL Waduk Melati dengan membandingkan  efisiensi dan kriteria desain unit pengolahan. Data kualitas air dibandingkan dengan baku mutu Permen LH No. 68 Tahun 2016, sedangkan kriteria desain dibandingkan dengan literatur menurut Qasim (1985). Hasil evaluasi terhadap efisiensi unit pengolahan menunjukan parameter total coliform tidak memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan. Berdasarkan hasil evaluasi unit pengolahan terhadap kriteria desain diketahui bahwa pada unit bar screen yang tidak memenuhi kriteria desain adalah jarak antar bar coarse screen dan jarak antar bar fine screen. Sedangkan pada unit RBC yang tidak memenuhi kriteria desain adalah waktu detensi organic loading rate dan hydarulic loading rate. Pada tangki aerasi yang tidak memenuhi kriteria desain yaitu volumetric loading, rasio makanan terhadap mikroorganisme dan waktu detensi. Dan pada bak sedimentasi yang tidak memenuhi kriteria desain yaitu overflow rate  dan solid loading. Kata kunci: air limbah domestik, IPAL Waduk Melati., RBC, tangki aerasi,Abstract: Wastewater Treatment Plant (WWTP)  Waduk Melati serves to reduce of wastewater pollution loading goes into Waduk Melati that can potentially cause pollution and impact to health. This study aims to evaluate the performance of WWTP, compare againts efficiency and design criteria of the processing unit. Water quality data compared to the quality standard  from Minister of  Environment Regulations No. 68 Year 2016, while the design criteria are compared with the literature according to Qasim (1985). The result of evaluation of treatment units showed the total coliform parameter did not meet the regulation. Based on the evaluation of the processing unit on the design criteria, it is known that on bar screen unit that do not meet the design criteria are the distance between the coarse screen barand the distance between the fine screen bar. While the RBC unit that does not meet the design criteria is the detention time, organic loading rate and hydarulic loading rate. In aeration tanks that do not meet the design criteria of volumetric loading the ratio of food to microorganisms and detention time. And on the sedimentation basin that does not meet the design criteria of overflow rate and solid loading.  Keywords: domestic wastewater, WWTP Waduk Melati, RBC, aeration tank,.
KAJIAN PEMANFAATAN LIMBAH AMPAS TAHU MENJADI KOMPOS DI INDUSTRI TAHU X DI KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT Yulianis Pertiwi, Icha; Sembiring, Emenda
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 17, No 1 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.064 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.1.7

Abstract

Abstrak: Limbah yang ditimbulkan dari industri tahu, 70%  limbah padat berupa ampas tahu. Dalam penelitian ini dilakukan kajian tentang pemanfaatan limbah ampas tahu mejadi kompos. Metode yang digunakan dalam  proses pengomposan adalah metode takakura secara aerob. Bahan baku yang dipakai adalah limbah ampas tahu dengan campuran daun kering. Pada penelitian ini dibuat tiga variasi antara limbah ampas tahu dengan daun kering yaitu : satu banding empat, satu banding tiga, dan satu banding dua dengan jumlah limbah ampas tahu lebih banyak.Proses pengomposan berlangsung selama 40 hari. Untuk memantau proses pengomposan yang berlangsung, dilakukan monitoring harian terhadap beberapa parameter yaitu : temperatur, PH, dan kadar air. Selain monitoring harian diperlukan juga analisis laboratorium terhadap beberapa parameter yaitu : kadar abu dan kadar volatil. Analisis laboratorium dilakukan setiap tiga hari sekali selama pengomposan berlangsung.Hasil penelitian pengomposan pada kompos jadi menunjukkan bahwa pada ketiga variasi telah sesuai dengan standar ,berdasarkan parameter  yaitu : PH, kadar air, kadar abu, dan kadar volatil. Sedangkan untuk parameter temperatur, ketiga variasi tidak memenuhi teori pengomposan selama proses berlangsung. Hal ini disebabkan karena temperatur tertinggi yang dicapai kurang dari temperatur optimum yaitu 550C.  Untuk variasi satu banding empat adalah 350C dan 340C untuk variasi satu banding tiga dan satu banding dua.Kata kunci: ampas tahu,  pengomposan, dan Takakura. Abstract : An Industry, such as tofu industrygenerates solid waste, and 70% of the solid waste is tofu pulp. This study focuses on the utilization of waste pulp into compost. The method used in the composting process is the Takakura method with aerob process. The raw material used is tofu pulp waste with a mixture of dry leaves. In this study created three variations of the tofu pulp waste with dry leaves, namely: 1:4, 1:3, and 1:2  with the amount of tofu pulpis higher than the leaves.The composting process took 40 days. To monitor the composting process is underway, conducted daily monitoring of several parameters are: temperature, pH, and water content. In addition to daily monitoring, laboratory analysis is required also to some of the parameters :ash content and volatile content. Laboratory analysis done every three days during the composting takes place.The results showed that the mature compost in all three variations are in accordance with the standards and quality that exist, based on the parameters are: pH, water content, ash content, and volatile content.for the parameters of temperature, the three variations do not meet quality standard. This is because the highest temperature for all variations reach below the optimum standard which is 550C. For 1:4 the highest temperature is 350C, and for others, 1:3 dan 1:2 are 340C.  Key words: composting, pulp of tofu, and Takakura
MODEL SPASIAL SEBARAN PENCEMAR UDARA DARI SUMBER TRANSPORTASI DAN PENGARUHNYA PADA KUALITAS UDARA DI DALAM RUMAH DI SEKITAR JALAN RAYA (STUDI KASUS DI WILAYAH KAREES DAN CIBEUNYING KIDUL, BANDUNG) Sidjabat, Filson Maratur; Driejana, Driejana
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 23, No 2 (2017)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1719.756 KB) | DOI: 10.5614/j.tl.2017.23.2.2

Abstract

Abstrak: Sektor transportasi, sebagai salah satu kontributor terbesar untuk gas rumah kaca, menjadi tantangan besar di abad 21 ini. Banyak juga pencemar udara lainnya yang diemisikan dari sektor ini, berdampak pada kesehatan manusia. Pengembangan pembangunan di sektor transportasi harus diarahkan menjadi pengembangan transportasi yang berkelanjutan dan memperhatikan aspek lingkungan dan kesehatan manusia. Oleh karena itu, di perlukan penelitian untuk mengembangkan metode dalam mengkuantifikasi dampak terhadap kesehatan manusia, di Indonesia dengan segala keterbatasan data yang ada. Tujuan dari makalah ini adalah mengembangkan pendekatan untuk memprediksi konsentrasi di dalam rumah yang berasal dari aktivitas transportasi terdekat. Dalam jurnal ini, analisa spasial akan dilakukan terhadap hasil model konsentrasi NO2 dan PM10, Model dispersi konsentrasi outdoor NO2 dan PM10 diperoleh dengan menggunakan CALINE4. Data input CALINE4 diantaranya data sekunder aktivitas transportasi dari 6 jalan, dihitung dengan faktor emisi UK-NAEI, data meteorologis, kordinat UTM reseptor ? data penderita asma - dari penelitian sebelumnya. Persentase nilai kesalahan rata-rata dari model NO2, dari 120 reseptor di kawasan Cibeunying Kidul, adalah 33,3 % dan Nilai RMSE 18,5 µg/m3. Dari 3 reseptor di sekitar kawasan Karees, persentase nilai kesalahan rata-rata dari model PM10 adalah 29,89 % dan RMSE 1,02 µg/m3. Model konsentrasi NO2 dan PM10 adalah model ?factor of two?. Peta prediksi konsentrasi dalam rumah diperoleh menggunakan ArcGISd dengan metode interpolasi IDW. Persentase nilai kesalahan rata-rata dari model konsentrasi NO2 dalam rumah, dari 100 reseptor di kawasan Cibeunying Kidul, adalah 41,44 % dan Nilai RMSE 16,32 µg/m3. Dari 3 reseptor di sekitar kawasan Karees, persentase nilai kesalahan rata-rata dari model konsentrasi PM10 dalam rumah adalah 26,41 % dan RMSE 1,80 µg/m3. Model ini dapat digunakan untuk memprediksi konsentrasi NO2 dan PM10 dalam rumah di setiap reseptor untuk penelitian selanjutnya.)  Kata kunci: polusi udara, sektor transportasi, CALINE4, analisis spasial Abstract : Transportation sector as one of the biggest contributors of greenhouse gas emission, becoming one of the biggest challenges in the 21st century. Many other air pollutants emit from this sector and have the human health effect. The development in this sector need to aims the sustainable transportation development, which concern the environment and human health aspects. Thus, need some research to develop the method to quantify the impact on human health, in Indonesia, where many data are limited and not available. This paper aims to develop an approach to estimate the pollutant concentration inside the house that is contributed by nearby transportation. In this paper, spatial analysis for the result modeling of NO2 and PM10. Outdoor NO2 and PM10 concentration dispersion model are obtained from CALINE4 software. Input data for CALINE4 are secondary data of transportation activiy from 6 road, calculated by UK-NAEI emission factor, meteorological data, the UTM coordinate of receptor -data of people with asthma - from previous study. The average percentage of error value from NO2 model, based on 120 receptor in Cibeunying Kidul area, is 33.3 % and RMSE is 18.5 µg/m3. From the 3 receptor around Karees area, the average percentage of error value from PM10 model is 28.89 % and RMSE is 1.02 µg/m3. NO2 and PM10 concentration model is a ?factor of two? model. The map of indoor concentration prediction are obtained using ArcGIS with IDW interpolation method,. The average percentage of error value from NO2 indoor concentration model, based on 100 receptor in Cibeunying Kidul area, is 41.44 % and RMSE is 16.32 µg/m3. From the 3 receptor around Karees area, the average percentage of error value from PM10 indoor concentration model is 26.41 % and RMSE is 1.80 µg/m3. The model can be used to predict the NO2 and PM10 indoor concentration in all receptors for further research..  Key words: . air pollution, transportation sector, CALINE4, spatial analysis
STUDI PAPARAN GAS KARBON MONOKSIDA DAN DAMPAKNYA TERHADAP PEKERJA DI TERMINAL CICAHEUM BANDUNG Fitriana, Dara; Oginawati, Katharina
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 18, No 1 (2012)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (867.652 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2012.18.1.3

Abstract

Abstrak: Terminal Cicaheum merupakan terminal tipe A dengan luas lahan 11.000 m2 yang terletak di Kota Bandung. Terdapat berbagai aktivitas di Terminal Cicaheum  yang dapat menghasilkan polusi udara. Pekerja yang bekerja di Terminal Cicaheum adalah yang paling rentan untuk terpapar zat polutan tersebut. Salah satu zat polutan yang paling banyak dihasilkan di lingkungan sekitar terminal adalah karbon monoksida (CO). Karbon monoksida dapat berasal dari asap rokok dan juga emisi yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor. Dilakukan pengukuran konsentrasi CO yang terpapar pada responden dengan menggunakan Personal Dosimeter Tube dan pengukuran kadar karboksihemoglobin dalam darah responden. Dalam hal ini, responden yang dipilih adalah pengurus bis. Hasil dari pengukuran konsentrasi CO terhirup menghasilkan 3,58 ? 7,24 ppm. Hasil dari pengukuran karboksihemoglobin dalam darah menghasilkan selisih dari sebelum dan sesudah sampling sebesar 0,066 ? 1,26 %.  Hasil dan analisis dari pengukuran tersebut kemudian dibandingkan dengan Nilai Ambang Batas berdasarkan National Institute for Occupational Safety and Health untuk CO terhirup dan American Conference of Governmental Industrial Hygienists untuk kadar karboksihemoglobin kemudian dilakukan analisis korelasi untuk melihat hubungan antara CO terhirup dan kadar karboksihemoglobin pada responden menggunakan program SPSS 16. Hasil dari analisis korelasi menghasilkan R = 0,506. Hal ini menunjukkan terdapat korelasi yang kuat antara kedua variabel.Kata kunci: Carbon monoksida, kaboksihemoglobin,  Personal dosimeter tubeAbstract: Cicaheum Terminal is a type A terminal with an area of 11.000 m2 of land that is located in Bandung City. There are various activities in Cicaheum Terminal that can produce air pollution. Workers working in Cicaheum Terminal are the most suspectible to be exposed by that pollutant substances. One of the the most pollutant substances that is being produced around Cicaheum Terminal area is carbon monoxide (CO). Carbon monoxide can be produced by cigarette smoke and also emission  from engine vehicle. Measurements are being done to determine CO concentration exposed to respondents by using Personal Dosimeter Tube, and measuring carboxyhemoglobin value in the respondents? blood. In this content, bus boarders are choosen as the respondent. Results from the CO inhaled concentration measurement are between 3,58 ? 7,24 ppm. Results from carboxyhemoglobin value in blood difference before and after sampling are between 0,066 ? 1,26 %. Results and analysis from the measurement then conducted with Treshold Limit Value based on National Institute for Occupational Safety and Health for CO inhaled and American Conference of Governmental Industrial Hygienists for carboxyhemoglobin value then doing correlation analysis to see the connection between CO inhaled and carboxyhemoglobin value in respondents using SPSS 16 software. The result from correlation analysis is R = 0,506. This shows that there is a strong correlation between the two variables.Key words: Carbon monoxide, carboxyhemoglobin, Personal Dosimeter Tube
PENELITIAN METODE ESTIMASI UNTUK INVENTARISASI EMISI SHORT LIVED CLIMATE FORCERS (SLCFS) PADA SEKTOR TRANSPORTASI DARAT (STUDI KASUS : KOTA SURABAYA) Tomo, Haryo Satriyo; Haryoputro, Nugroho; Sofyan, Asep
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.563 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.1.8

Abstract

Abstrak: Inventarisasi emisi merupakan bagian yang penting dalam usaha pengelolaan kualitas udara. Sayangnya, usaha inventarisasi emisi yang kontinu di negara-negara berkembang seperti Indonesia seringkali mengalami stagnasi akibat ketidaktersediaan data yang sesuai dengan metode-metode yang sudah ada. Inventarisasi yang akhirnya berjalan pun tak jarang berakhir dengan hasil yang memiliki ketidakpastian yang tinggi. Metode yang saat ini ada untuk inventarisasi emisi antara lain adalah pendekatan dengan traffic counting, dengan perhitungan VKT (vehicle kilometers travelled) serta perkiraan dengan data jumlah kendaraan yang terdaftar. Metode yang diperkenalkan dalam penelitian ini menggabungkan perhitungan data jumlah kendaraan yang terdaftar dengan data panjang jalan yang telah dipetakan dalam grid, disertai dengan validasi dengan data ATTN dan pemetaan proporsional beban emisi tiap jenis kendaraan dengan proporsi panjang jalan di suatu grid terhadap panjang jalan total. Hasil yang diperoleh berupa data inventarisasi emisi yang telah dipetakan secara spasial.
PENYISIHAN BESI DAN ZAT ORGANIK MENGGUNAKAN KARBON AKTIF DARI KULIT DURIAN SEBAGAI MEDIA FILTRASI REMOVAL OF IRON AND ORGANIC MATTER BY ACTIVATED CARBON FROM DURIAN PEELS AS FILTRATION MEDIA Maesara, Sausan Atika; Kunaefi, Tresna Dermawan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 18, No 2 (2012)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.318 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2012.8.2.7

Abstract

Abstrak: Permasalahan yang sering muncul pada air tanah adalah tingginya kandungan besi dan zat organik sebagai akibat dari topografi suatu daerah. Diperlukan teknologi yang dapat menyisihkan kandungan besi dan zat organik seperti filtrasi menggunakan media karbon aktif. Berdasarkan penelitian Ismadji et al. (2009), kulit durian dapat dijadikan sebagai karbon aktif. Produksi sampah durian sendiri terus meningkat sehingga berpotensi menimbulkan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan sampah durian menjadi karbon aktif sebagai alternatif media filtrasi. Reaktor dioperasikan secara kontinyu dengan arah aliran upflow. Waktu sampling dilakukan setiap lima jam. Sumber air berasal dari Kecamatan Babakan Ciparay yang mengandung besi sebesar 4,693 mg/l, mangan sebesar0,6906 mg/l, dan zat organik 19,354 mg/l KMnO4. Reaktor filtrasi diisi dengan empat jenis media yaitu karbon kulit durian, karbon aktif kulit durian, karbon tempurung kelapa, dan karbon aktif tempurung kelapa.  Media yang memberikan nilai rata-rata efisiensi penyisihan besi terbesar hingga terkecil adalah karbon aktif tempurung kelapa, karbon aktif kulit durian, karbon tempurung kelapa, dan terakhir karbon kulit durian. Media yang memberikan nilai rata-rata efisiensi penyisihan zat organik terbesar hingga terkecil adalah karbon aktif kulit durian, karbon aktif tempurung kelapa, karbon tempurung kelapa, dan terakhir karbon kulit durian. Kulit durian dapat menjadi alternatif media filtrasi dalam bentuk karbon aktif.
PENGEMBANGAN KRITERIA GOOD-QUALITY HOUSING DENGAN WHOLE SYSTEM APPROACH DALAM KESATUAN ECO-SETTLEMENTS DI KAWASAN PERDESAAN Zahiya, Afifa; Sudjono, priana
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.2.1

Abstract

Abstrak: Rumah merupakan salah satu kebutuhan primer manusia yang digunakan sebagai tempat untuk tumbuh dan berkembang, baik secara jasmani, rohani, dan sosial. Untuk dapat memenuhi hal tersebut, dibutuhkan persyaratan tertentu yang dikenal sebagai good-quality housing. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan kriteria good-quality housing dengan menggunakan Whole System Approach dalam kesatuan eco-settlements di kawasan perdesaan. Hasilnya, elemen yang mempengaruhi kualitas sebuah rumah dikelompokkan ke dalam empat komponen utama, yaitu komponen rumah, komponen sosial ekonomi penghuni rumah, komponen penyediaan air bersih, dan komponen penanganan limbah domestik. Komponen rumah dinilai terpenuhi apabila kriteria pencahayaan alami, ventilasi, drainase, keberadaan tikus dalam rumah, dan jarak dengan kandang hewan terpenuhi. Adapun kriteria dari komponen rumah adalah sebuah rumah harus memiliki luas jendela ? 10% dari luas lantai, lubang ventilasi silang ? 5% dari luas lantai, dan mengatur penempatan kandang ternak agar terpisah dengan rumah. Komponen sosial ekonomi dinilai terpenuhi jika penghuni rumah tidak memiliki angka kejadian penyakit diare. Komponen penyediaan air  bersih  dinilai terpenuhi apabila terdapat sarana  air  bersih  yang  memenuhi syarat kesehatan di sebuah rumah, tidak menggunakan sungai untuk mandi dan cuci, memenuhi standar kualitas air bersih, dan menggunakan air bersih minimum 40-60 liter per orang per hari. Sedangkan komponen penanganan limbah domestik dinilai terpenuhi jika terdapat jamban pribadi yang sesuai dengan standar kesehatan dan teknologi pengolah air buangan, serta terdapat pewadahan, pemilahan, dan dau r ulang sampah. Diantara seluruh komponen good-quality housing, komponen rumah memiliki bobot paling besar dengan bobot 27,48% dari 100%. Kata kunci: good-quality housing, komponen, kriteria, rural-housing, whole system approach Abstract : House is one of the primary needs of human beings which used as a place to grow and develop physically, spiritually, and also socially. To fulfill all those needs, some requirements which known as good- quality housing is needed. This study was conducted to obtain good-quality housing criteria by using the Whole System Approach in the unity of eco-settlements in rural areas. As a result, elements that affect quality of housing are divided into four major components, namely the house, the socio-economic of the household, water supply, and domestic waste handling. House component will be fulfilled if the natural lighting, ventilation, drainage, presence of rats in the house, and the distance to the animal cages meet their own criterion. The criteria of the components of the house are a home must have a window width ?10% of the floor area, cross ventilation holes ? 5% of the floor area, and adjust the placement of livestock pens to separate the house. The assessment of socioeconomic of household component will be fulfilled if the residents do not have the incidence of diarrheal disease. Water supply component will be fulfilled if there is any good access of clean water in a house, do not use the river for bathing and washing, water quality standards, and uses a minimum of 40-60 liters of clean water per person per day. Domestic waste component will be fulfilled if there is any good individual septic tank in accordance with the standards andwastewater handling technology and there is a lug, sorting, and waste recycling. Among all components ofgood-quality housing, house component has the largest weight with 27.48% of 100%. Key words: component, criteria, good-quality housing, rural-housing, whole system approach
KINETIKA DEGRADASI LIGNIN DARI LIMBAH CAIR INDUSTRI PULP AND PAPER MENGGUNAKAN ADVANCED OXIDATION PROCESS (AOP) DENGAN KOMBINASI OZON DAN HIDROGEN PEROKSIDA Ristiawan, Ardhi; Syafila, Mindriany
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.925 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.1.6

Abstract

Abstrak: Secara umum, air limbah industri pulp and paper mengandung produk ekstraktif, karbohidrat, dan lignin. Lignin dan senyawa chlorinated organic merupakan senyawa utama yang menjadi concern dalam potensi pencemaran lingkungan. Pengolahan biologi secara konvensional hanya dapat mengolah sebagian senyawa organik yang terkandung dalam air limbah karena beberapa senyawa dalam air limbah industri pulp and paper merupakan senyawa persisten. Advanced oxidation process (AOP) merupakan alternatif dalam mendegradasi senyawa resistan yang terdapat dalam limbah cair industry pulp and paper. Prinsip pada proses AOP adalah pembentukan hidroksil radikal (OH*) yang merupakan molekul dengan kemampuan oksidasi yang sangat kuat sehingga dapat mendegradasi senyawa organik kompleks menjadi CO2 dan H2O. Salah satu teknologi AOP adalah O3/H2O2 (peroxone). Penggunaan metode ini lebih efektif jika dibandingkan dengan penggunaan O3 atau H2O2 secara sendiri-sendiri Pada penelitian ini akan dilakukan proses AOP menggunakan O3/H2O2 untuk mendegradasi lignin. Variasi feeding rate ozon, H2O2, dan waktu dilakukan pada sampel limbah cair untuk mengetahui kondisi optimal. Hasil menunjukkan bahwa penambahan dosis H2O2 pada proses ozonasi dapat meningkatkan efisiensi proses. Namun pada konsentrasi H2O2 berlebih dapat menjadi scavenger sehingga menurunkan efisiensi proses. Kondisi optimum diperoleh pada feeding rate ozon 26,7 ppm/dtk dan dosis H2O2 selama 2 jam pada pH asli limbah (7-8). Penyisihan COD pada kondisi tersebut sebesar 28% dan penyisihan lignin sebesar 88%. Biodegradabilitas air limbah menunjukkan peningkatan. Rasio BOD/COD meningkat dari 0,11 menjadi 0,33. Kata kunci: Advanced Oxidation Process (AOP), ozon, hidrogen peroksida, lignin Abstract: In general, pulp and paper wastewater contain extractive products, carbohydrates and lignin. Lignin and chlorinated lignin are the main compounds that could be potentially pollute environment. Conventional biological treatments only treat organic compounds partially because some organic compounds in pulp and paper wastewater are persistent organic compounds. Advanced oxidation process (AOP) is an alternative to degrade resistant compounds that contained in wastewater from pulp and paper industry. The principle of AOP is formation of hydroxyl radicals (OH*) which is a molecule with a very strong oxidizing ability that can degrade complex organic compounds to CO2 and H2O. O3/H2O2 (peroxone) is one of AOP?s technologies. This method is more effective then uses O3 or H2O2 alone. This study conducted AOP process using O3/H2O2 for lignin removal. Variations of ozone feeding rate, H2O2, and reaction time conducted to determine the optimal condition. Results showed that the addition of H2O2 doses on ozonation process can improve the efficiency of the process. But the excedd concentration of H2O2 could be a scavenger thus reducing the efficiency of the process. The optimum condition obtained in the ozone feeding rate of 26.7 ppm/sec and 100 mg/l dose of H2O2 for 2 hours at the original pH of wastewater (7-8) with 28% COD removal and 88% lignin removal. Ozonation combined by H2O2 increased biodegradability of wastewater. BOD/COD ratio increased from 0.11 to 0.33. Keywords: Advanced Oxidation Process (AOP), ozone, hydrogen peroxide, lignin

Page 11 of 43 | Total Record : 428