cover
Contact Name
Irfan H. Djunaidi
Contact Email
jnt@ub.ac.id
Phone
0341553513
Journal Mail Official
jnt@ub.ac.id
Editorial Address
Jl. Veteran Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Nutrisi Ternak Tropis (JNT)
Published by Universitas Brawijaya
Jurnal Nutrisi Ternak Tropis (JNT) adalah jurnal bebas akses yang diterbitkan oleh Minat Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya. JNT adalah jurnal peer-reviewed yang diterbitkan dua kali setahun pada bulan Maret dan September. JNT bertujuan untuk mempublikasikan hasil penelitian dan ulasan tentang nutrisi ternak ruminansia, nutrisi ternak non-ruminansia dan ilmu makanan ternak.
Articles 133 Documents
Pengaruh Penambahan Fermentasi Kulit Pisang Kepok (Musa Paradisiaca L.) pada Pakan Lengkap Terhadap Kandungan Nutrisi dan Kecernaan Secara In Vitro Gassa Yanuar Putra; Herni Sudarwati; Mashudi Mashudi
Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Vol 2, No 1 (2019): JNT | Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Maret 2019
Publisher : Jurnal Nutrisi Ternak Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jnt.2019.002.01.5

Abstract

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan nutrien dan daya cerna pakan lengkap dengan penambahan fermentasi kulit pisang kepok. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pakan lengkap dengan penambahan fermentasi kulit pisang kepok. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan yang digunakan terdiri dari P0: 0%, P1: 5%, P2: 10%, P3: 15%, dan P4: 20%. Data dianalisis menggunakan analisis ragam dengan pola RAK, diikuti oleh Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan fermentasi kulit pisang kepok berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap serat kasar, protein kasar, dan lemak kasar. Sedangkan terhadap bahan organik dan abu berpengaruh nyata (P<0,05). Kecernaan bahan kering dan bahan organik menunjukkan hasil berpengaruh sangat nyata (P<0,01) dengan penambahan fermentasi kulit pisang kepok. Kesimpulan penelitian ini adalah pakan lengkap tanpa penambahan fermentasi kulit pisang kepok  memiliki kandungan nutrisi dan kecernaan terbaik secara in vitro.
Evaluasi Tepung Daun Katuk Sebagai Feed Additif pada Produktifitas Ayam Petelur Yuli Indriani; Eko Widodo; Muhammad Halim Natsir
Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Vol 2, No 2 (2019): JNT | Jurnal Nutrisi Ternak Tropis September 2019
Publisher : Jurnal Nutrisi Ternak Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jnt.2019.002.02.7

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di peternakan ayam petelur Talang Farm KUD Sari Bumi Desa Talang Suko, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang pada tanggal 23 Januari sampai 26 Februari 2009. Tujuan dari penelitian ini unutk mengetahui pengaruh penambahan tepung daun katuk (Sauropus androgynus L. Merr) atau TDK dalam pakan ayam penyelur terhadap penampilan produksi ayam petelur. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam petelur Strain Isa Brown umur 66-69 minggu produksi PT. Anwar Sierad sebanyak 100 ekor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan antara lain pakan basal tanpa penambahan TDK (P0), Pakan basal+ 1,5 % TDK (P1), pakan basal + 3,0% TDK (P2), pakan basal + 4,5 % TDK (P3). Masing-masing perlakuan diulang 5 kali, sehingga terdapat 20 unit percobaan dan setiap 1 unit percobaan terdiri dari 5 ekor ayam petelur. Variabel yang diamati antara lain konsumsi pakan (g/ekor/hari) Hen Day Production (%), Egg mass (g/ekor/hari), konversi pakan dan Income Over Feed Cost (Rp). Data hasil penelitian ini diolah secara statistik dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Apabila ada perbedaan pengaruh diantara perlakuan,maka akan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan’s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan TDK dalam pakan dengan persentase 0 - 4,5% memberikan perbedaan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan (g/ekor/hari), Hen Day Production (%), Egg mass (%) dan konversi pakan sedangkan pada penambahan TDK sebesar 1,5% dalam pakan ayam petelur dapat memberikan pengaruh yang lebih baik jika dibandingkan perlakuan lainnya.  
Identifikasi Pengaruh Maksimal Level Bekatul Terhadap Penampilan Produksi Ayam Petelur Mohammad Farid; Eko Widodo; Muhammad Halim Natsir
Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Vol 2, No 2 (2019): JNT | Jurnal Nutrisi Ternak Tropis September 2019
Publisher : Jurnal Nutrisi Ternak Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jnt.2019.002.02.5

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi tentang bagaimana pakan yang mengandung bekatul dapat mempengaruhi penampilan produksi ayam petelur. Kandungan serat kasar bekatul sangat tinggi dan bekatul mengandung asam fitat yang merupakan anti nutrisi, sehingga bekatul memiliki batas penggunaan pada level tertentu dalam pakan. Penelitian ini menggunakan 100 ekor ayam petelur betina umur 30 minggu dan bahan pakan perlakuan. Metode yang digunakan adalah percobaan lapang dengan menggunakan empat perlakuan pakan dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Variabel dalam penelitian ini adalah konsumsi pakan, berat telur, hen day production, egg mass, konversi pakan, dan Income Over Feed Cost (IOFC). Metode analisis statistik yang digunakan untuk mengolah data hasil penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan analisis ragam dan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bekatul berbagai level dalam pakan tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan, berat telur, hen day production, egg mass, konversi pakan dan IOFC. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bekatul dapat digunakan dengan level tertinggi 30% dalam pakan dan tidak mempengaruhi perubahan performa produksi ayam petelur.
Pengaruh Penambahan Pollard dan Bekatul dalam Pembuatan Silase Rumput Odot (Pennisetum purpureum, Cv.Mott) Terhadap Kecernaan dan Produksi Gas Secara In Vitro Hartutik Hartutik; Alifia Imtinatul Fajri; Artharini Irsyammawati
Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Vol 1, No 1 (2018): JNT | Jurnal Nutrisi Ternak Tropis September 2018
Publisher : Jurnal Nutrisi Ternak Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jnt.2018.001.01.2

Abstract

The purpose of this research was to evaluate pollard and rice bran in dwarf elephant grass silage (Pennisetum purpureum, cv. Mott) processing on in vitro digestibilty and gas production. The materials were dwarf elephant grass, pollard and rice bran as additives. The research was arranged in randomized block design with 4 treatments and 3 replication based on rumen liquid collection. The treatments were: dwarf elephant grass without additive (T0), dwarf elephant grass + 20% pollard (T1), dwarf elephant grass + 20% rice bran (T2), dwarf elephant grass + 10% pollard + 10% rice bran (T3). Collected data were analyzed by analysis of variance and continued with Duncan’s Multiple Range Test (DMRT).  Variables measured were in vitro dry matter digestibility (DMD) and organic matter digestibility (OMD), cumulative gas production (GP) and degradability from GP residue. The result showed that the treatments didn’t significantly effect (P>0.05) on DMD and OMD but highly significant effect (P<0.01) on cumulative GP and degradability. It could be concluded that dwarf elephant grass + 20% pollard (T1) was the best treatment based on DMD (62.34%), OMD (68.18%) and supported by highly number of cumulative GP and degradability. Thus it was suggested to do further research on fiber composition and in vivo assay.
Pengaruh Lama Fermentasi Ampas Putak (Corypha gebanga) Terhadap Kualitas Fisik dan Kualitas Kimia Menggunakan Aspergillus oryzae Asih Yuliana; Siti Chuzaemi
Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Vol 2, No 1 (2019): JNT | Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Maret 2019
Publisher : Jurnal Nutrisi Ternak Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jnt.2019.002.01.3

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi yang berbeda pada ampas putak (Corypha gebanga) menggunakan Aspergillus oryzae terhadap nilai pH, warna, aroma, tekstur, bahan kering (BK), bahan organik (BO), protein kasar (PK) dan serat kasar (SK). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah percobaan laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 5 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan terdiri dari P0 (ampas putak tanpa fermentasi), P1 (ampas putak + Aspergillus oryzae 0,9% difermentasi 24 jam), P2 (ampas putak + Aspergillus oryzae 0,9% difermentasi 48 jam), P3 (ampas putak + Aspergillus oryzae 0,9% difermentasi 72 jam), P4 (ampas putak + Aspergillus oryzae 0,9% difermentasi 96 jam). Data dianalisis dengan menggunakan metode analysis of variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian terhadap nilai warna P0, P1, P2, P3, dan P4 berturut-turut yaitu (4,00; 2,68; 2,66; 1,74; dan 1,60). Hasil nilai aroma P0, P1, P2, P3, dan P4 berturut-turut yaitu (1,00; 2,98; 2,96; 2,54; dan 2,08). Hasil nilai tekstur P0, P1, P2, P3, dan P4 berturut-turut yaitu (1,00; 3,00; 3,38; 3,62; dan 3,64). Kandungan BK tertinggi pada P0 yaitu 87,29% disusul oleh P1 (46,18%), P2 (38,44%), P3 (33,06%) dan P4 (27,75%). Kandungan BO tertinggi pada perlakuan P0 yaitu 94,73% disusul oleh P1 (92,45%), P2 (89,91%), P3 (88,19%) dan P4 (86,72%). Kandungan PK tertinggi pada perlakuan P4 yaitu 27,04% disusul oleh P3 (24,08%), P2 (21,20%), P1 (16,05%) dan P0 (2,31%). Kandungan SK terendah pada P0 yaitu 7,38% disusul oleh P1 (8,59%), P2 (15,14%), P3 (19,22%) dan terjadi penurunan pada perlakuan P4 yaitu 17,28%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil yang terbaik ditinjau dari peningkatan kualitas fisik, PK, SK dan penurunan pH, BK, BO yaitu dengan fermentasi ampas putak selama 96 jam dengan menggunakan Aspergillus oryzae sebanyak 0,9%.
Pengaruh Silase Rumput Odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) dengan Penambahan Bakteri Lactobacillus plantarum Terhadap Produksi Gas dan Kecernaan Secara In Vitro Alfian Sri Astutik; Artharini Irsyammawati; Poespitasari Hasanah Ndaru
Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Vol 2, No 1 (2019): JNT | Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Maret 2019
Publisher : Jurnal Nutrisi Ternak Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jnt.2019.002.01.2

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Lactobacillus plantarum dengan berbagai perlakuan pada silase rumput odot yang diinkubasi selama 21 hari terhadap produksi gas, nilai Metabolyzable Energy (ME) dan Net Energy (NE) serta nilai Kecernaan Bahan Kering (KcBK) dan Kecernaan Bahan Organik (KcBO). Bahan yang digunakan adalah rumput odot (Pennisetum purpureum cv. Mott), molases dan Lactobacillus plantarum. Metode yang digunakan yaitu percobaan laboratorium dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan apabila hasil menunjukkan perbedaan maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD). Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu P0: Rumput Odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) + Molases 6% + Lactobacillus plantarum 0%; P1: Rumput Odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) + Molases 6% + Lactobacillus plantarum 0,3%; P2: Rumput Odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) + Molases 6% + Lactobacillus plantarum 0,6%; P3: Rumput Odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) + Molases 6% + Lactobacillus plantarum 0,9%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penambahan Lactobacillus plantarum pada silase rumput odot  tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap produksi gas total, nilai potensi produksi gas (b), laju produksi gas (c), nilai Metabolizable Energy (ME), nilai Net Energy (NE), Kecernaan Bahan Kering (KcBK), dan Kecernaan Bahan Organik (KcBO). Nilai produksi gas total 48 jam, nilai c dan nilai ME yang cenderung tinggi pada perlakuan P2 yaitu 94,66, 0,018 ml/jam dan 9,73 MJ/Kg BK. Sedangkan nilai b, Nilai NE dan KcBK serta KcBO yang cenderung tinggi pada perlakuan P3 yaitu 174,47 ml/500 mg BK, 3,89 MJ/Kg BK, 64,88% dan 64,96%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu nilai produksi gas total 48 jam, nilai c dan nilai ME yang cenderung tinggi pada perlakuan P2 yaitu penambahan Lactobacillus plantarum sebanyak 0,6% terhadap silase rumput odot. Sedangkan nilai b, Nilai NE dan Nilai KcBK serta KcBO yang cenderung tinggi pada perlakuan P3 yaitu silase dengan penambahan Lactobacillus plantarum sebanyak 0,9%.
Nilai Kecernaan Bk dan Bo Tepung Gaplek dari Berbagai Jenis Tanaman Singkong (Manihot utilissima) Secara in Vitro Gali Dwi Prasetyo; Aprilia Dwi Kartika; Mashudi Mashudi
Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Vol 2, No 2 (2019): JNT | Jurnal Nutrisi Ternak Tropis September 2019
Publisher : Jurnal Nutrisi Ternak Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jnt.2019.002.02.1

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi nilai kecernaan BK dan BO tepung gaplek dari berbagai jenis tanaman singkong (Manihot utilissima) serta mendapatkan informasi tentang tepung gaplek dari jenis tanaman singkong apa yang paling baik untuk diberikan pada ternak ruminansia. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah tepung gaplek dari berbagai jenis tanaman singkong, cairan rumen dari sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) betina berfistula, serta alat dan bahan kimia untuk mengukur nilai dari kecernaan BK dan BO secara in vitro. Metode dalam penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 3 kelompok berdasarkan perbedaan waktu pengambilan cairan rumen. Perlakuan terdiri dari P1: Tepung Gaplek 100% jenis singkong Gatot Kaca, P2: Tepung Gaplek 100% jenis ketela kuning, P3: Tepung Gaplek 100% jenis singkong Manalagi, P4: Tepung Gaplek 100% jenis singkong Srintil, P5: tepung Gaplek 100 % jenis singkong Ketan. Hasil penelitian tersebut dianalisis menggunakan analisis ragam, apabila hasil uji menunjukkan adanya perbedaan maka dilakukan uji lanjutan menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT). Hasil analisis menunjukkan bahwa setiap jenis singkong mempunyai kandungan nutrien yang tidak berbeda jauh, sehingga menyebabkan perlakuan tidak memberikan perbedaan yang nyata (P>0,05) terhadap nilai dari kecernaan bahan organik (KcBO) dan kecernaan bahan kering (KcBK) secara in vitro. Perlakuan terbaik terdapat pada P2 yaitu jenis singkong Kuning dengan hasil yang menunjukkan nilai tertinggi pada kecernaan bahan kering (KcBK) yaitu 93,78% dan kecernaan  bahan organik (KcBO) yaitu 95,83%.
Substitusi Tepung Bonggol Pisang dan indigofera sp. Sebagai Pengganti Bekatul dalam Ransum untuk Meningkatkan Performa Ayam Broiler Munifatul Lathifah Ulfa; Irfan H Djunaidi
Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Vol 2, No 2 (2019): JNT | Jurnal Nutrisi Ternak Tropis September 2019
Publisher : Jurnal Nutrisi Ternak Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jnt.2019.002.02.6

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat penggunaan campuran tepung bonggol pisang dan Indigofera sp. sebagai pengganti bekatul terhadap performa ayam pedaging. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan dilakukan pada umur 15-35 hari (fase finisher). Perlakuan yang diberikan sebagai berikut: P0 = 50% Jagung + 40% Konsentrat + 10% Bekatul, P1 = 50% Jagung + 40% Konsentrat + 7,5% Bekatul + 2,5% Campuran Tepung bonggol pisang dan Indigofera sp. P2 = 50% Jagung + 40% Konsentrat + 5% Bekatul + 5% Campuran Tepung bonggol pisang dan Indigofera sp. P3 = 50% Jagung + 40% Konsentrat + 2,5% Bekatul + 7,5% Campuran Tepung bonggol pisang dan Indigofera sp. P4 = 50% Jagung + 40% Konsentrat + 10% Campuran Tepung bonggol pisang dan Indigofera sp. Variabel yang diamati yaitu konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, indeks performa, dan Income Over Feed Cost (IOFC). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan penggunaan campuran tepung bonggol pisang dan Indigofera sp. sebagai pengganti bekatul memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) pada konsumsi pakan dan berpengaruh nyata (P<0,05) pada pertambahan bobot badan dan menunjukkan hasil yang tidak berpengaruh nyata pada konversi pakan, indeks perfoma, dan Income Over Feed Cost (IOFC).
Pengaruh Penggunaan Daun Mint (Mentha piperita L.) Bentuk Tepung Sebagai Pakan Tambahan Terhadap Kualitas Karkas Ayam Pedaging Irfan H. Djunaidi; Eko Widodo; Diyanti Ayu Apriana
Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Vol 1, No 1 (2018): JNT | Jurnal Nutrisi Ternak Tropis September 2018
Publisher : Jurnal Nutrisi Ternak Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jnt.2018.001.01.1

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan fitobiotik daun mint (Mentha piperita L.) bentuk tepung sebagai pakan tambahan terhadap karkas ayam pedaging. Materi yang digunakan adalah 200 ekor DOC jantan dengan koefisien keragaman 9,69%. Metode yang digunakan adalah percobaan lapang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 5 ulangan, setiap ulangan menggunakan 8 ekor ayam pedaging. Adapun perlakuan yang digunakan P0+ (pakan basal + 0,01% antibiotik Zn Bacitracin), P0- (pakan basal + 0 % tepung daun mint), P1 (pakan basal + 0,5% tepung daun mint), P2 (pakan basal + 1% tepung daun mint) dan P3 (pakan basal + 1,5% tepung daun mint). Variabel yang diamati meliputi persentase karkas, persentase lemak abdominal dan warna daging. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam dan apabila terdapat perbedaan dilanjutkan uji Jarak Berganda Duncan’s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap persentase karkas, persentase lemak abdominal dan warna daging. Disimpulkan bahwa penambahan tepung daun mint sampai level 1,5% sebagai pakan tambahan belum dapat memperbaiki kualitas karkas ayam pedaging.
Pengaruh Lama Fermentasi Ampas Putak (Corypha gebanga) Terhadap Produksi Gas dan Nilai Kecernaan Secara In Vitro Menggunakan Aspergillus oryzae Oktiya Hariyani; Siti Chuzaemi
Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Vol 2, No 1 (2019): JNT | Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Maret 2019
Publisher : Jurnal Nutrisi Ternak Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jnt.2019.002.01.6

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi ampas putak (Corypha gebanga) menggunakan Aspergillus oryzae terhadap produksi gas dan kecernaan secara in vitro. Metode penelitian yang digunakan adalah metode percobaan laboratorium menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan tersebut adalah P0 (ampas putak tanpa perlakuan), P1 (ampas putak + 0,9% Aspergillus oryzae difermentasi 24 jam), P2 (ampas putak + 0,9% Aspergillus oryzae difermentasi 48 jam), P3 (ampas putak + 0,9% Aspergillus oryzae difermentasi 72 jam), P4 ampas putak + 0,9% Aspergillus oryzae difermentasi 96 jam). Data yang telah diperoleh dianalisis dengan menggunakan metode analisis ragam kemudian dianalisis duncan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil menunjukkan waktu fermentasi ampas putak berpengaruh sangat nyata (P≤0,01) terhadap produksi gas dengan nilai tertinggi 134,54 ml/500 mg BK pada P0 dan nilai terendah 66,37 ml/500 mg BK pada P4. Waktu fermentasi ampas putak menunjukkan hasil perbedaan sangat nyata (P≤0,01) terhadap kecernaan bahan kering dengan nilai tertinggi yaitu 79,66% pada P0 dan nilai terendah yaitu 49,20% pada P4 kemudian kecernaan bahan organik dengan nilai tertinggi yaitu 79,24% pada P0 dan nilai terendah 60,73% pada P4. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dengan fermentasi ampas putak selama 48 jam (P2) memberikan hasil terbaik dengan nilai total produksi gas sebanyak 86,92 ml/500 mg BK, nilai KcBK 64,13% dan nilai KcBO 69,51%. Sehingga waktu fermentasi ampas putak dapat menurunkan produksi gas, kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik.

Page 2 of 14 | Total Record : 133