cover
Contact Name
Zainuddin Nasution
Contact Email
zainuddin.nasution@kemdikbud.go.id
Phone
+6287877488487
Journal Mail Official
zainuddin.nasution@kemdikbud.go.id
Editorial Address
Pusdatin, Kemendikbud. Jl. R.E. Martadinata, Ciputat, Tangerang Selatan, Telepon (021) 7418808; Faksimilie (7401727; Tromol Pos 7/CPA Ciputat 15411
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Teknodik
ISSN : 20883978     EISSN : 25794833     DOI : 10.32550
Core Subject : Science, Education,
Scope: The scope of TEKNODIK Journal is about Educational Technology (Learning), as a discipline, subject material, or profession. The process of activities includes Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation (ADDIE). The scope of TEKNODIK Journal is not only in the form of study, research, or development, but also book review on education technology. Focus: 1. Distant and Open Learning; 2. Information and Communication Technology (ICT) for Education; 3. Learning Strategy; 4. Learning Media; 5. Innovative Learning System or Model; 6. Development of Digital Learning Content; 7. Utilization of ICT and other media for Education (Learning)
Articles 406 Documents
IDENTIFIKASI KESULITAN CALON GURU TAMAN KANAK-KANAK DALAM MEMPELAJARI MUSIK Marwati Mansyur
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 10 No. 18, Juni 2006
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.829 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.553

Abstract

Tujuan penelitian untuk memperoleh gambaran tentang kesulitan mahasiswa calon guru TK dalam mempelajari musik, terutama untuk mengenali bekal mahasiswa belajar musik, mengetahui letak kesulitan mahasiswa dalam belajar musik, mengetahui penguasaan mahasiswa terhadap alat musik, dan mengetahui tinggi rendahnya kreativitas mahasiswa dalam belajar musik. Penelitian menggunakan metode survai, dilaksanakan pada bulan Mei 2005 sampai dengan November 2005 di Program Studi PGTK, Jurusan Pendidikan Anak, FIP, UNJ. Populasi penelitian adalah mahasiswa Program Studi D-II PGTK yang sedang menempuh mata kuliah Musik. Pengambilan sampel dilakukan dengan simple random sampling. Sampel penelitian berjumlah 40 responden. Hasil penelitian adalah: (1) Bekal belajar musik yang dimiliki mahasiswa masih rendah, ditunjukkan dengan rerata skor tidak lebih dari 2,5; dengan skor tertinggi 4,0. Bekal paling rendah adalah membaca not balok, sedangkan bekal tertinggi adalah bergerak sesuai dengan isi lagu, (2) Membaca not angka merupakan yang paling sulit, sedangkan mahasiswa hampir tidak mengalami kesulitan ketika bergerak sesuai dengan isi lagu, (3)  Alat musik yang paling dikuasai mahasiswa PGTK adalah tamborin, sedangkan yang kurang dikuasai adalah castanyet, dan (4) tingkat kreativitas mahasiswa PGTK belajar musik dalam katagori tinggi, ditunjukkan dengan rerata skore 3,575.
EKSISTENSI RADIO EDUKASI DENGAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Innayah Innayah
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.18 No.1 April 2014
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.129 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v18i1.112

Abstract

Abstrak:Tujuan kajian ini yaitu untuk mengidentifikasi: 1) perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada dua puluh tahun terakhir di Indonesia; dan 2) pengaruh perkembangan TIK terhadap eksistensi dan operasional siaran radio edukasi. Dalam kajian ini menggunakan motode deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa: a) perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah berhasil mengubah lingkungan penyiaran radio di seluruh dunia, termasuk di Indonesia; 2) model siaran radio yang interaktif semakin populer yaitu siaran radio yang menggunakan teknologi internet, sekaligus menggantikan model siaran analog dan siaran satu arah. Radio Edukasi yang dikelola oleh Balai Pengembangan Media Radio Pendidikan (BPMRP) Yogyakarta telah berpengalaman dalam memberikan siaran edukasi dalam format analog dan telah melakukan inovasi dengan membuka streaming pada www.radioedukasi.com.Kata kunci: radio edukasi, Teknologi Informasi dan Komunikasi, radio, analog, dan digital Abstract:The purpose of this paper is to determine: 1) the development of information and communication technologies (ICT) in Indonesia in the last 20 years; and 2) the effect of ICT development to the existency and operational hours of educational radio (radio edukasi). This paper uses descriptive method. The results of the study show: a) The development of information and communications technology has changed the environment of radio broadcasting in the world, including Indonesia; b) The use of internet and interactive model of broadcasting have become more popular in which it has replaced analog and one way model. Radio Edukasi operated by BPMRP Yogyakarta has had many experiences in analog format, and now has done an innovation to provide a streaming service through www.radioedukasi.comKey words: educational radio, information and communication technology, radio, analog, and digital..
EKSPLORASI E-SURVEI: REKONSILIASI PERSYARATAN METODOLOGI DENGAN DAYA JANGKAU TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Bambang Indriyanto
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.18 No. 3 Desember 2014
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.569 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.135

Abstract

Abstrak:Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengajukan suatu proposisi yang menyatakan bahwa daya jangkau TIK dalam suatu pelaksanaan survai tidak dapat meniadakan prinsip metodologi dari suatu survei. Hal ini bukan dimaksud untuk mengecilkan peran TIK dalam suatu survai. Dalam tulisan ini peran TIK adalah untuk menunjang dua fungsi yaitu pengumpulan data dan analisis data. Kedua fungsi tersebut dapat menunjang efisiensi dalam pelaksanaan suatu survai; kriteria metodologi adalah untuk menjamin efektivitas pencapaian dilaksanakannya suatu survai.Kata kunci: metodologi, TIK, survai, efisiensi dan efektivitas Abstract:The objective of this article is to purpose a proposition stating that the coverage ability of ICT in facilitating a survey shall not negate the methodology adopted from a survey. This does not mean to disparage the role of ICT in a survey. This article, instead, argues that the use of ICT is to facilitate data collection and data analysis. These two functions are intended to enhance the efficiency of survey activities, while methodological criterion is intended to enhance the effectiveness of a survey.Keywords: methodology, ICT, survey, efficiency and effectiveness.
SEPUTAR SERTIFIKASI GURU Sudirman Siahaan; Rr. Martiningsih
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 12 No. 1, Juni 2008
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.672 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v12i1.423

Abstract

Kata-kata “Guru berarti digugu dan ditiru” sering kita dengar diungkapkan. Guru dinilai sebagai seseorang yang dapat dipercaya, berdedikasi, dan berjasa bagi kemajuan masyarakat. Oleh karena itu, guru layak ditiru dan dijadikan sebagai panutan. Sebagai guru seharusnya memperlihatkan perilaku yang bisa dipercaya dan diteladani. Sebagai profesional yang berkualitas, guru bukan hanya mampu mentransfer ilmu pengetahuan dan menerapkan sistem tertentu dengan berbagai seluk-beluknya tetapi memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan dan secara terus-menerus berupaya meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya dalam membelajarkan peserta didiknya. Mengingat kualifikasi guru yang bervariasi dan mengacu pada Undang-Undang tentang Guru dan Dosen, Departemen Pendidikan Nasional menetapkan kebijakan di bidang sertifikasi tenaga pendidik di mana salah satu persyaratan untuk mengikutinya adalah memiliki kualifikasi akademik Strata-1 (S-1) atau Diploma IV (D-IV). Melalui tulisan ini, penulis mencoba berbagi pemikiran tentang sertifikasi guru, yang antara lain mencakup konsep sertifikasi, berbagai pendapat/ tanggapan guru, kendala atau kesulitan guru mengkuti kegiatan sertifikasi melalui jalur portofolio, dan saran-saran guru mengenai sertifikasi.
PROFESIONALISME GURU DALAM PENERAPAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF PADA RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL Nyayu Khodijah
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.XVI No.3 September 2012
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1351.723 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.27

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui profesionalisme guru dalam penerapan model-model pembelajaran inovatif pada RSBI dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dilakukan di SMPN 9 Palembang. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penggabungan kualitatif dan kuantitatif, sedangkan metode penelitiannya adalah metode deskriptif. Responden penelitiannya meliputi wakil kepala sekolah, kaur kurikulum, dan para guru. Teknik pengumpulan datanya adalah dengan wawancara, angket, dan studi dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) profesionalisme guru dalam penerapan model-model pembelajaran inovatif masih belum sesuai harapan. Hal ini terlihat baik dari aspek pengetahuan maupun keterampilan sebagian guru yang masih rendah dalam menerapkan model-model pembelajaran inovatif, dan 2) ada dua faktor yang mempengaruhi penerapan model-model pembelajaran inovatif, yaitu rendahnya kualitas pelatihan/workshop yang diikuti dan rendahnya komitmen dan motivasi guru untuk menerapkan model-model pembelajaran inovatif. Karenanya, direkomendasikan pada pemerintah agar pemerintah meningkatkan kualitas penyelenggaraan pelatihan/workshop bagi guru dan melakukan upaya upaya nyata dalam meningkatkan komitmen dan motivasi guru untuk menerapkannya.
UJICOBA KELAYAKAN PROGRAM MULTIMEDIA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MAHASISWA DALAM MENULIS PARAGRAF Sri Hapsari Wijayanti; Maria Triwarmiyati; Heru Prasadja
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.175 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v19i3.167

Abstract

Abstrak:Penelitian ini bertujuan mengujicobakan kelayakan CD multimedia yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Menulis Paragraf” untuk mahasiswa perguruan tinggi. Ujicoba kelayakan ini mencakup pemahaman mengenai konsep paragraf, proses penulisan, dan kualitas desain multimedia. Responden penelitian ini adalah lima belas mahasiswa Fakultas Ekonomi, Unika Atma Jaya. Data dikumpulkan dengan cara observasai, pengisian kuesioner, dan diskusi kelompok berfokus (FGD). Data dianalisa secara deskriptif kualitatif. Dari ujicoba ini ditemukan bahwa setelah belajar dengan alat bantu multimedia, responden lebih memahami bagaimana menulis paragraf secara efektif. Namun demikian, mereka masih perlu berlatih menggunakan transisi pengait antarkalimat yang menghubungkan satu gagasan dengan gagasan berikutnya. Responden juga mendapat pengalaman baru dan menyenangkan sebagai teman sejawat di antara mereka yang dapat saling memberikan koreksi dan umpan balik. Dalam hal desain, ditemukan bahwa jenis huruf, warna teks, waktu perpindahan antarslide, serta musik pengiring dalam CD multimedia ini perlu direvisi.Kata kunci: multimedia, paragraf, teman sejawat, koreksi, umpan balikAbstract:This study aims to carry out a feasibility trial of multimedia-based learning content “Improving Paragraph Writing Competency” for university students. The feasibility includes the understanding on the concept of paragraph, writing process, and the multimedia design quality. Respondents of this study were fifteen students at Faculty of Economics, Atma Jaya Catholic University. The data were collected through observation, questionnaire, as well as focus group discussion, and they were analyzed by using qualitative descriptive method. This study found that after studying by multimedia-based learning content, respondents understood more on how to write effective paragraph. However, they still just need some exercises on how to use transition words to connect one idea in a sentence to another idea in the following sentence. The students also had a new and interesting experience in which they became peers and gave each other correction as well as feedback. Regarding to the design, the multimedia-based learning content still need some improvement in terms of letter type, text color, transition-slide timing, and background music.Keywords: multimedia, paragraph, peers, correction, feedback
PENERAPAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN IMPLIKASINYA PADA STRATEGI PEMBELAJARAN TEMATIK DI SEKOLAH DASAR KELAS RENDAH Bambang Warsita
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 11 No. 3, Agustus 2007
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.872 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v21i3.468

Abstract

Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diharapkan dapat menggerakkan mesin utama pendidikan yaitu pembelajaran. Pembelajaran merupakan suatu upaya untuk menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar. Sedangkan penerapan KTSP di Sekolah Dasar (SD) menuntut proses pembelajaran yang menantang dan merangsang otak (kognitif), menyentuh dan menggerakkan hati (afektif), dan mendorong peserta didik untuk melakukan kegiatan (motorik) serta bila memungkinkan peserta didik mempraktekkan pengetahuan dan keterampilan dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu implementasi KTSP di kelas I, II, dan II SD disarankan dikelola dalam pembelajaran terpadu dan bermakna (meaningfull learning) melalui strategi pembelajaran tematik. Penerapan pembelajaran tematik di kelas I, II, dan II SD berimplikasi pada guru, peserta didik, sarana dan prasarana, sumber belajar dan media pembelajaran, pengaturan ruangan, dan pemilihan metode pembelajaran.
WAHANA JELAJAH ANGKASA BERBASIS WORLD WIDE TELESCOPE SEBAGAI LINGKUNGAN BELAJAR ILMU ASTRONOMI Nur Arfah Mega Nur Arfah Mega
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.XVII No.1 Maret 2013
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.684 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.71

Abstract

diterima: 26 Januari2013; dikembalikan untuk revisi: 6 Februari 2013; disetujui: 18 Februari2013.Abstrak: Wahana Jelajah Angkasa merupakan salah satu layanan yang ada di Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan. Layanan ini hadir sebagai alternatif sumber belajar untuk menemukan segala keajaiban dan keindahan luar angkasa. Didukung dengan sebuah software yang dikembangkan laboratorium Microsoft Research bernama World Wide Telescope (WWT), Jelajah Angkasa hadir sebagai layanan pendidikan bagi siapa saja yang berminat dalam bidang astronomi. Sebagai sumber belajar yang berbasis WWT, Jelajah Angkasa memungkinkan pengguna untuk mengeksplorasi dan melihat semua image luar angkasa tanpa harus memiliki teleskop yang relatif mahal. Selain itu, kehadiran WWT dimaksudkan untuk merangsang minat dalam ilmu astronomi di kalangan generasi muda, dengan menyediakan dasar yang kuat untuk bahan belajar astronomi. Potensi pengembangan wahana Jelajah Angkasa sangat terbuka. Mengingat ilmu Astronomi dan berbagai fenomena yang ada di alam semesta tidak pernah habis untuk digali. Untuk itu, pengembangan wahana Jelajah Angkasa menjadi sebuah lingkungan belajar ilmu Astronomi sangat strategis. Arah pengembangan menjadi Knowledge Integration Environment (KIE) membuat wahana Jelajah Angkasa lebih dari sekedar sarana fasilitasi untuk melihat benda luar angkasa, tetapi juga lingkungan belajar yang dapat memfasilitasi terjadinya serangkaian aktivitas. Aktivitas yang ditawarkan antara lain eksplorasi, analisis, pemecahan masalah, dan proses pembelajaran sepanjang hayat, yang secara substansi dapat meningkatkan pemahaman terhadap ilmu astronomi khususnya dan sains pada umumnya.Kata Kunci: lingkungan belajar, worldwide telescope, knowledge integration environment.Abstract: Jelajah Angkasa is one of the services available at the ICT Center for Education. This service comes as an alternative learning resource to find all the magic and beauty of the space. Powered by a laboratory developed software Microsoft Research called World Wide Telescope (WWT), Jelajah Angkasa comes as learning resource for anyone interested in astronomy. As a learning resource based on WWT, Jelajah Angkasa allows users to explore and see all the images of space without a telescope of their own. In addition, the presence of WWT is intended to stimulate interest in astronomy among young people, by providing a solid foundation for learning materials astronomy. Potential of the development of Jelajah Angkasa is widely open, regarding that the science of Astronomy and various phenomena exist in nature have not been exhaustively explored. Thus, the development of Jelajah Angkasa as a learning environment of Science and Astronomy is very strategic. Towards the development of a Knowledge Integration Environment (CIE)Space Exploration makes spacecraft more than just a means to see space objects, but also a learning environment that facilitates a series of activities. Activities offered include exploration, analysis, problem solving, and life-long learning process, which can substantially improve the understanding of the science of astronomy in particular and science in general.Keywords: learning envirentment, worldwide telescope, knowledge integration environment.
PENERIMAAN INFORMASI MELALUI DIGITAL TALKING BOOK OLEH SISWA TUNANETRA Tuti Alawiyah
Jurnal TEKNODIK Juni
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.984 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v21i1.268

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana penerimaan informasi melalui media pembelajaran digital talking book untuk siswa tunanetra. Penerimaan informasi pada intinya adalah mengubah pesan ke dalam bentuk yang dapat digunakan untuk memandu perilaku manusia. Proses penerimaan informasi terdiri dari tiga elemen, yaitu penyeleksian informasi, interpretasi informasi, dan retensi informasi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode studi kasus. Informan adalah salah satu siswa tunanetra di MTsN 19 Jakarta. Sekolah ini adalah salah satu sekolah inklusi, sekolah yang memberikan layanan pendidikan yang menyertakan semua anak termasuk siswa berkebutuhan khusus, salah satunya siswa tunanetra dengan metode pembelajaran yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerimaan informasi melalui digital talking book di kalangan siswa tunanetra mempunyai tantangan tersendiri. Dalam tahapan penyeleksian informasi, informan menggunakan sumber informasi dari braille dan digital talking book secara bergantian sesuai dengan kebutuhan. Perbedaan cara mengakses dari braille (indera peraba) menjadi digital talking book (indera pendengaran) menjadi persoalan tersendiri. Selain itu, dibutuhkan kemampuan khusus untuk menguasai tombol-tombol navigasi pada alat pemutar digital talking book. Dalam tahapan interpretasi informasi, informan menafsirkan konten digital talking book dibantu dengan catatan dalam huruf braille. Dalam tahapan retensi memori, informan mampu mengingat secara baik informasi yang bersifat sementara, seperti kata-kata istilah, angka-angka, dan penjelasan tentang definisi, namun memiliki keterbatasan untuk memori jangka panjang sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan informasi, di antaranya tujuan, cara bagaimana pesan itu disampaikan, dan peran keluarga. Dalam proses penerimaan informasi melalui digital talking book, pilihan untuk tetap menggunakan braille cukup tinggi. Kecenderungan informan untuk memilih untuk menggunakan braille dibandingkan dengan digital talking book karena dianggap lebih mudah, ekonomis, dan cepat, merasa berinteraksi langsung dengan tulisan, dan  indera peraba dapat optimal digunakan sehingga mengingat lebih cepat.
PEMBELAJARAN SAINS PADA PROGRAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Asep Saepudin Asep Saepudin
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. XV No.2 Desember 2011
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.906 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.103

Abstract

Abstrak:Substansi pembelajaran sains pada program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diorientasikan pada proses pengenalan dan proses penguasaan tentang sains sesuai dengan tingkat usianya, sehingga kedua proses tersebut diharapkan menjadi titik awal penguasaan sains untuk level selanjutnya. Oleh karena itu, wilayah garapan pembelajaran sains bagi anak usia dini meliputi dua dimensi besar, pertama dilihat dari isi bahan kajian dan kedua dilihat dari bidang pengembangan atau kemampuan yang akan dicapai. Langkah-langkah pembelajaran sains diawali dengan: 1) perumusan tujuan, 2) penentuan material, 3) setting lingkungan, 4) pengembangan kegiatan, 5) pemberian penghargaan, dan 6) tindakan pengayaan. Penerapan langkah-langkah tersebut, secara umum dibagi menjadi tiga pendekatan, yaitu: 1) pendekatan yang bersifat situasional, 2) pendekatan yang bersifat terpisah atau tersendiri, dan 3) pendekatan yang bersifat terintegrasi. Evaluasi akhir kegiatan pembelajaran sains pada PAUD dilakukan untuk menelusuri tingkat keberhasilan pembelajaran sains, sehingga diketahui upaya upaya selanjutnya, baik tindakan perbaikan, pengayaan, maupun pengembangan lainnya. Kata kunci: anak usia dini, pendidikan, dan pembelajaran sains.Abstract:Substance of science learning in early childhood education programs is directed at the introduction and mastery of science process in accordance with his age level, so that both processes are expected to be the starting point of mastery of science at the next level. Therefore, the claim of science learning for early childhood children includes two major dimensions, first seen from the content and study materials and second visits of the field of development or the ability to be achieved. The scope of the content of study materials includes materials related discipline or field of study. While the scope of the aspects of the development or ability, consists of three dimensions of product mastery of science, the mastery of science processes and mastery of science attitudes. The procedure in learning science begins with:(1) formulation of objectives, (2) determination of the material, (3) the environmental setting,(4) development activities, (5) award, and (6) enrichment action. Application of the procedure, generally divided into three approaches, namely: 1) a situational approach, 2) an approach that is separate or distinct, and 3) the approaches that are merged or integrated with other disciplines. Final  evaluation of science learning activities in early childhood education is conducted in a systematic and sustainable way for the purpose of tracking and determining the level of success of science learning, so the next efforts will be recognized whether they are improvement, correction, enrichment or other development efforts. Keywords: Early Childhood, Education, Science Learning.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Jurnal Teknodik Vol. 29 No. 1, Juni 2025 Jurnal Teknodik Vol. 28 No. 2, Desember 2024 Jurnal Teknodik Vol. 28 No. 1, Juni 2024 Jurnal Teknodik Vol. 27 No. 2, Desember 2023 Jurnal Teknodik Vol. 27 No. 1, Juni 2023 Jurnal Teknodik Vol. 26 No. 2, Desember 2022 Jurnal Teknodik Vol. 26 No. 1, Juni 2022 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.4 Desember 2012 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.3 September 2012 Jurnal Teknodik Vol. 25 No. 2, Desember 2021 Jurnal Teknodik Vol. 25 No. 1, Juni 2021 Jurnal Teknodik Vol. 24 No. 2, Desember 2020 Jurnal Teknodik Vol. 24 No. 1, Juni 2020 Jurnal Teknodik Vol. 23 No. 2, Desember 2019 Jurnal Teknodik Vol. 23 No. 1, Juni 2019 Jurnal Teknodik Vol. 10 No. 18, Juni 2006 Jurnal Teknodik Vol. 09 No. 16, Juni 2005 Jurnal Teknodik Vol. 8 No. 14, Juni 2004 Jurnal Teknodik Vol. 17 No. 4, Desember 2013 Jurnal Teknodik Vol,17 No. 3, September 2013 Jurnal Teknodik Vol. 12 No. 2, Desember 2008 Jurnal Teknodik Vol. 10 No. 19, Desember 2006 Jurnal Teknodik Vol. 8 No. 15, Desember 2004 Jurnal Teknodik Vol. 22 No. 2, Desember 2018 Jurnal Teknodik Vol. 22 No. 1, Juni 2018 Jurnal Teknodik Vol. 14 No. 1, Juni 2010 Jurnal Teknodik Vol. 13 No. 1, Juni 2009 Jurnal Teknodik Vol. 12 No. 1, Juni 2008 Jurnal Teknodik Vol. 11 No. 3, Agustus 2007 Jurnal Teknodik Vol. 21 No. 2, Desember 2017 Jurnal Teknodik Vol. 20 No. 2, Desember 2016 Juni Jurnal Teknodik Vol. 20 No. 1 Juni 2016 Jurnal Teknodik Vol.19 No. 2 Agustus 2015 Jurnal Teknodik Vol.19 No. 1 April 2015 Jurnal Teknodik Vol.18 No. 3 Desember 2014 Jurnal Teknodik Vol.18 No. 2 Agustus 2014 Jurnal Teknodik Vol.18 No.1 April 2014 Jurnal Teknodik Jurnal Teknodik Vol.XVII No.2 Juni 2013 Jurnal Teknodik Vol.XVII No.1 Maret 2013 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.2 Juni 2012 Jurnal Teknodik Vol. XV No.2 Desember 2011 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.1 Maret 2012 Jurnal Teknodik Vol.XV No.1 Juli 2011 More Issue