cover
Contact Name
Suci
Contact Email
suci@gmail.com
Phone
+6281333040494
Journal Mail Official
suci@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Prima JODS
ISSN : -     EISSN : 26151235     DOI : 10.1234
Core Subject : Health,
Prima Jods merupakan kumpulan jurnal yang dikelola oleh fakultas kedokteran gigi Universitas Prima Indonesia yang mencakup bidang obat gigi termasuk dalam perawatan gigi dan mulut, kebijakan publik, sistem Fakultas Ke dok teran gigi, analisa gigi, analisa mulut, analisa obat-obatan
Articles 73 Documents
Tingkat pengetahuan, status kesehatan gigi dan mulut, dan Program UKGS Jessey Graldine Olivia Siahaan Siahaan; Suci Erawati; Astari Dwi Jayanti; Kelvin Kelvin
Prima Journal of Oral and Dental Sciences Vol. 1 No. 2 (2018): Edisi Oktober
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/primajods.v1i2.2679

Abstract

Salah satu program puskesmas dalam meningkatkan kesehatan gigi dan mulut dengan program UKGS yang ditujukan bagi anak usia sekolah di lingkungan sekolah dari tingkat pelayanan promotif, promotif-preventif, hingga pelayanan paripurna UKGS. Penelitian ini bertujuan ntuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan dan status kesehatan gigi dan mulut siswa pada SD yang aktif menjalankan program UKGS dengan SD yang tidak aktif menjalankan program UKGS. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Rejo Kabupaten Deli Serdang pada bulan Juni sampai bulan Desember 2017 dengan pertimbangan di wilayah kerja puskesmas tersebut ditemukan SD yang aktif menjalankan program UKGS dengan SD yang tidak aktif menjalankan program UKGS. Dari seluruh SD yang terdapat di wilayah Puskesmas Tanjung Rejo, dipilih 2 SD yang mewakili pencapaian program UKGS yang aktif (SD MIS Al-Barkah) dengan UKGS tidak aktif (SD Negeri No.101777). Setelah mendapatkan sekolah yang mewakili UKGS aktif dengan UKGS tidak aktif, lalu dilakukan penentuan jumlah sampel yang diperlukan. Penentuan besar sampel menggunakan rumus uji hipotesis satu populasi dan diperoleh besar sampel sebanyak 90 responden. Pengumpulan data dilakukan secara langsung dengan memberikan kuesioner dan pemeriksaan klinis kepada sampel. Alat dan bahan yang digunakan adalah kaca mulut, sonde, pinset, ekskavator, nirbeken, gelas, air, alkohol, betadine, kapas. Pemeriksaan klinis dilakukan dengan pemeriksaan karies gigi dan dilakukan penilaian berdasarkan skor DMF-T. Analisis data menggunakan Mann-Whitney U test. Berdasarkan analisis data menggunakan Mann-Whitney U test menunjukkan ada perbedaan yang signifikan dari nilai rata-rata pengetahuan kesehatan gigi dan mulut antara sekolah program UKGS aktif dengan sekolah program UKGS tidak aktif (0,000). Ada perbedaan yang signifikan dari nilai rata-rata skor DMF-T antara sekolah program UKGS aktif dengan sekolah program UKGS tidak aktif (0,000). Nilai rata-rata pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada sekolah UKGS aktif sebesar 7,867 ± 1,517 dengan UKGS tidak aktif sebesar 5,822 ± 1,403. Nilai rata-rata skor DMF-T pada sekolah UKGS aktif sebesar 1,356 ± 0,679 dengan sekolah UKGS tidak aktif sebesar 3,778 ± 1,259.
Perbedaan efektivitas sikat gigi elektrik dengan sikat gigi manual dalam penurunan indeks plak pada anak-anak tunanetra Carina Carina; Monang Panjaitan; Irene Anastasia; Alya Adhana
Prima Journal of Oral and Dental Sciences Vol. 3 No. 2 (2020): Edisi Oktober
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/primajods.v3i2.2681

Abstract

Perawatan gigi dan mulut bagi anak tunanetra terkendala oleh keterbatasan dalam visualisasi teknik penyikatan gigi yang efektif, pada anak tunanetra, desain sikat gigi konvensional dianggap tidak memenuhi syarat ideal karena ukuran gagang yang tidak bisa digenggam dengan baik sedangkan sikat gigi elektrik mempunyai kepala sikat yang lebih kecil sehingga dapat membersihkan daerah-daerah dalam mulut yang sulit dicapai. Sikat gigi elektrik umumnya dianggap lebih efisien daripada sikat gigi konvensional dalam menghilangkan plak. Studi ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas sikat gigi elektrik dengan sikat gigi konvensional dalam penurunan indeks plak pada anak tunanetra. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu (quasi eksperimen) dengan desain pretest and postest dan comparative design. Sampel terdiri dari 34 anak yang terbagi dalam dua kelompok perlakuan yaitu kelompok penyikatan dengan sikat gigi manual dan sikat gigi elektrik. Sampel melakukan penyikatan selama 7 hari menggunakan sikat gigi manual dan elektrik. Indeks plak sampel dicatat sebelum dan sesudah penyikatan dalam tabel skor plak menggunkan indeks plak Lӧe & Silness. Dari hasil analisis statistik uji t-berpasangan diperoleh adanya perbedaan yang signifikan dari nilai rata-rata indeks plak sebelum menyikat dan sesudah menyikat gigi dengan sikat gigi manual dan elektrik dengan nilai p=0,000 atau p<0,05. Hasil uji independent-t-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari rata-rata penurunan indeks plak sebelum menyikat gigi dan sesudah menyikat gigi dengan sikat gigi elektrik dan sikat gigi manual, nilai p=0.000 (p<0.05). Rata-rata penurunan indeks plak lebih signifikan pada anak tunanetra yang menggunakan sikat gigi elektrik dibanding dengan sikat gigi manual. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari rata-rata penurunan indeks plak sebelum menyikat gigi dan sesudah menyikat gigi dengan sikat gigi elektrik dan sikat gigi manual.
Perbandingan pertumbuhan Candida albicans pada air susu ibu (ASI) dan susu formula Sonia Nduma Nola Padang; Mangatas Halomoan Parluhutan Hutagalung; Juwita Isabella Siregar; Tara Suryantika
Prima Journal of Oral and Dental Sciences Vol. 3 No. 2 (2020): Edisi Oktober
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/primajods.v3i2.2682

Abstract

Oral kandidiasis merupakan infeksi opurtunistik pada rongga mulut dan banyak dijumpai pada usia lanjut dan muda. Selain itu, neonates dan bayi yang diberikan susu formula dapat menjadi target infeksi Candida karena tingkat kolonisasi Candida yang tinggi di rongga mulut meredakan kurangnya efek perlindungan imun yang menguntungkan dari pemberian ASI alami terhadap infeksi ini. Ditambah lagi, tingginya kesempatan bayi-bayi neonatus dan bayi terpajan pemberian antibiotic spektrum luas ini untuk mengobati infeksi bersamaan yang dapat terjadi akibat pemberian susu botol, terutama infeksi telinga tengah, yang dapat menyebabkan pertumbuhan berlebih Candida dibandingkan dengan flora oral lainnya, dan ini bermanifestasi sebagai sariawan oral dan dapat menjadi predisposisi usus terhadap kolonisasi oleh Candida dengan peningkatan risiko infeksi sistemik invasive pada pasien immunocompromised. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menghitung jumlah Candida albicans secara semi kuantitatif menggunakan perbandingan standar Mcfarland. Adapun rancangan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan pertumbuhan Candida albicans pada ASI dan susu formula. Berdasarkan hasil penelitian ini, didapati bahwa dari setiap media cair yang dipaparkan sampel susu formula didapati bahwa kekeruhannya sama keruh dibandingkan dengan ASI pada media yang telah dipaparkan susu formula terdapat bakteri dengan jumlah 26.6250 bakteri/mL. Pada media cair yang dipaparkan dengan ASI terdapat 10.8750 bakteri/mL dengan perbandingan Larutan McFarland. Susu formula menunjukkan kekeruhan yang lebih keruh dibandingkan ASI menggunakan standar Mc Farland.
Pengaruh perilaku dan tingkat pengetahuan tentang kebersihan gigi mulut terhadap terjadinya halitosis pada mahasiswa Dinisya Camila; Suci Erawati; Natasya Soraya; Tiffany Leomandra
Prima Journal of Oral and Dental Sciences Vol. 3 No. 2 (2020): Edisi Oktober
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/primajods.v3i2.2684

Abstract

Halitosis disebut juga dengan fetor ex ore, fetor oris, atau oral malodor merupakan istilah umum untuk menunjukkan bau nafas tidak sedap. Komponen utama senyawa gas pada halitosis adalah volatile sulfur compounds (VSCs). Halitosis dapat menimbulkan kerugian tidak hanya pada penderita, tetapi juga orang lain dan dapat mempengaruhi kehidupan sosial seseorang seperti rasa malu dan penurunan rasa percaya diri. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut masyarakat di negara berkembang adalah sikap dan perilaku serta pengetahuan. sedangkan rendahnya pengetahuan mengenai kesehatan merupakan faktor predisposisi dari perilaku kesehatan yang mengarah kepada timbulnya penyakit dan masalah keadaan rongga mulut. Peneliian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perilaku dan tingkat pengetahuan tentang kebersihan gigi mulut terhadap terjadinya halitosis pada mahasiswa. Sebanyak 20 mahasiswa STIKes Siti Hajar melakukan pengisian kuesioner, lalu dilakukan pemeriksaan OHI-S melalui indeks OHI-S setelah itu pemeriksaan halitosis menggunakan alat Breathron II melalui parameter halitosis Breathron II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh perilaku dan tingkat pengetahuan tentang kebersihan gigi mulut terhadap terjadinya halitosis pada mahasiswa STIKes Siti Hajar. Persentase pengetahuan mahasiswa tentang halitosis adalah sebesar 85% kategori sedang dan 15% kategori baik. Sedangkan persentase perilaku mahasiswa tentang terjadinya halitosis adalah sebesar 65% kategori buruk dan 35% kategori sedang. Perilaku buruk seperti menyikat gigi dengan prosedur yang salah, merokok, tidak rutin kontrol ke dokter gigi, adalah penyebab yang sangat kuat terhadap terjadinya halitosis.
Hubungan perubahan nilai posisi dan sudut interinsisal gigi insisivus terhadap bibir melalui garis estetik Noviah Anjani Sitio; Zulfan Muttaqin; Wilvia Wilvia; Silvia Tiara Dewi
Prima Journal of Oral and Dental Sciences Vol. 3 No. 2 (2020): Edisi Oktober
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/primajods.v3i2.2688

Abstract

Jaringan lunak wajah merupakan faktor penting yang berperan dalam membentuk estetika wajah. Penilaian terhadap adanya perbaikan estetika wajah akibat perawatan ortodonti masih menjadi perdebatan yang menarik di kalangan ortodontis karena banyaknya aspek yang menjadi ukuran dalam penilaian estetika wajah. Perubahan pada penampilan wajah terjadi karena adanya perubahan posisi gigi anterior yang dapat mempengaruhi perubahan profil jaringan lunak wajah terutama pada daerah bibir, sehingga penelitian mengenai perubahan posisi bibir dan posisi gigi anterior menjadi sangat penting untuk mempertimbangkan kebutuhan estetika wajah pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan nilai perubahan posisi bibir akibat dari perubahan posisi dan sudut interinsisal gigi insisivus pada kasus gigi protrusif menggunakan analisis sefalogram lateral sebelum dan sesudah perawatan ortodonti. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik dengan metode cross sectional dengan pengambilan sampel secara purposive sampling sebanyak 16 sampel sefalometri sebelum dan sesudah perawatan ortodonti yang memenuhi kriteria inklusi.pengumpulan data kemudian dianalisis menggunakan korelasi Pearson’s Product Moment. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan perubahan posisi dan sudut interinsisal terhadap bibir melalui garis estetik (p<0,05). Terdapat hubungan bermakna cukup kuat dari nilai perubahan posisi dan sudut interinsisal gigi insisivus terhadap bibir melalui garis estetik sebelum dan setelah dilakukan perawatan ortodonti.
Pengaruh kadar pH air kolam renang terhadap kesehatan rongga mulut atlet renang Doni Aldi Lumbantobing; Mangatas Halomoan Parluhutan Hutagalung; Suci Erawati
Prima Journal of Oral and Dental Sciences Vol. 5 No. 2 (2022): Edisi Oktober
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/primajods.v5i2.2822

Abstract

Kadar pH dibawah 7 mengakibatkan air kolam renang bersifat asam sehingga menyebabkan erosi gigi, iritasi mata, merusak bagian kolam renang yang terbuat dari besi, dan merusak dinding kolam renang. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh kadar pH air kolam renang terhadap kesehatan rongga mulut atlet renang di Kota Medan Tahun 2022. Penelitian ini dilakukan di kolam renang Primbana kota Medan dengan menggunakan disain cross sectional pada bulan November 2021 sampai dengan Februari 2022. Hasil penelitian pH air kolam renang Primbana Kota Medan adalah 6,8 dan erosi gigi sebesar 70%. Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pH air kolam renang dengan tingkat erosi gigi pada atlet renang di kolam renang Primbana Kota Medan. Sehingga dibutuhkan peningkatan pemahamanan bahaya keasaman pada pengelola kolam renang dan upaya perawatan gigi yang intensif bagi atlet agar mencegah erosi  gigi.
Gambaran pengetahuan dokter mengenai karsinoma sel skuamosa rongga mulut dan human papillomavirus William Limbong; Gusbakti Rusip; Firdha Muharraran; Wilvia Wilvia; Gary Wijaya
Prima Journal of Oral and Dental Sciences Vol. 5 No. 2 (2022): Edisi Oktober
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/primajods.v5i2.2865

Abstract

Karsinoma sel skuamosa rongga mulut atau oral squamous cell carcinoma (OSCC) lazim di seluruh dunia dan merupakan salah satu penyebab paling banyak pada kanker. Faktor etiologi yang paling dikenal untuk OSCC adalah penggunaan tembakau.  Penelitian terbaru menunjukkan bahwa infeksi Human papillomavirus (HPV) juga merupakan faktor risiko penting untuk OSCC. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan dokter umum di lingkungan Universitas Prima Indonesia mengenai OSCC terkait HPV. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner online kepada 80 dokter umum di lingkungan Universitas Prima Indonesia. Responden dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Dari hasil peneilitian ini, sebanyak 63 responden atau 78,8% memiliki gambaran pengetahuan baik,  dan sebanyak 17 responden atau 41,1 % memiliki gambaran pengetahuan yang cukup. Pengetahuan dokter umum di lingkungan Universitas Prima Indonesia  mengenai OSCC terkait HPV sudah terbilang baik.
Perbandingan efektifitas berkumur air garam konsentrasi 0.9% dengan topikal anestesi benzocaine 20% terhadap terjadinya gag reflex saat pencetakan rahang Susiani Tarigan; Irene Anastasia Tampubolon; Stanley Lieasdy
Prima Journal of Oral and Dental Sciences Vol. 5 No. 1 (2022): Edisi April
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/primajods.v5i1.2878

Abstract

Background: Orthodontics and prosthodontic treatment requiring impression againts the patients, the impression step always causes an obstacle for operator or dentist because there some patients which have vomiting sensation (gag reflex). Gag reflex can be discribe as a normal mechanism to prevent foreign bodies from entering the trachea, pharynx, or larynx. Gag reflex can be prevented with several ways, one of it is topical anesthetic benzocaine 20%. Aim: to compare the effectiveness of gargling salt water concentration of 0.9% with a topical anesthetic benzocaine 20% in reducing the levels of gag reflex, some studies show that 20% benzocaine can inhibit the nerve receptors that influence its happening gag reflex. Methods: This research is cross-sectional with pre test and post test design. The research was conducted on students of Faculty of dentistry in Prima Indonenesia Univeristy the number of samples obtained as many as 54 people. Data analysis using SPSS 17.0 by using chi square analysis test. Result: Topical anesthetic benzocaine 20% is more effective to reduce the level of gag refelx than gargling with brine solution concentration of 0.9%. Conclusion: Based on the result of statistics test that conducted, can be conluded this research showed that topical anesthetic benzocaine 20% is more effective than gargling with brine solution concentration of 0.9% to reduce the level of gag reflex.
Laporan kasus: Gigi tiruan cekat Sopan Sinamo; Dinda Caesarina; Vivi Maghfira; Susanna Halim
Prima Journal of Oral and Dental Sciences Vol. 5 No. 1 (2022): Edisi April
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/primajods.v5i1.2879

Abstract

Kehilangan gigi permanen dapat berpengaruh pada penampilan seseorang dan kesehatan secara keseluruhan yang akan berdampak pada kualitas hidupnya, gigi tiruan metal porselen masih menjadi pilihan karena secara klinis dapat digunakan dalam jangka waktu lama dan bersifat biokompatibel. Keuntungan gigi tiruan metal porselen antara lain penampilan struktur yang dapat diprediksi, estetis yang lebih baik dan biaya yang relatif terjangkau. Laporan kasus: seorang perempuan berumur 22 tahun, pekerjaan wiraswasta, datang ke klinik Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Unpri dengan keluhan tidak adanya gigi geraham kiri bawah yang sudah dicabut sekitar 1 tahun yang lalu dan merasa tidak nyaman dengan kondisi giginya dan ingin dibuatkan gigi tiruan. Penataksanaan kasus: Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis dan pertimbangan permintaan pasien, ditetapkan dibuatkan gigi tiruan cekat keramik-logam untuk gigi 36 yang hilang. Prosedur pembuatan gigi tiruan cekat keramik-logam yaitu: retraksi gingiva, preparasi gigi penyangga, pencetakan fisiologis, pemilihan warna, pembuatan mahkota sementara, pembuatan coping di laboratorium, try-in coping, pemasangan sementara GTC, pemasangan tetap GTC dan control 1. Pembahasan: tujuan utama perawatan prostodonsia adalah mengembalikan pasien pada keadaan dan fungsi yang normal. Dari hasil pemeriksaan klinis maupun anamnese pada kasus ini, pasien menginginkan dibuatkan gigi tiruan yang cekat agar fungsi pengunyahannya dapat kembali normal. Pontik yang digunakan pada gigi 36 adalah modified ridge lap dengan pertimbangan estetik karena gigi 36 terlihat saat pasien tersenyum. Kesimpulan: gigi tiruan metal porselen merupakan pilihan untuk mengganti beberapa gigi posterior yang hilang dan keberhasilan perawatan ini membutuhkan pemilihan kasus yang selektif, perencanaan desain tepat, dan prosedur perawatan yang benar.
Laporan kasus: Gigi tiruan sebagian lepasan Mourent Miftahullaila; Stanley Lieasdy; Vincent Hartanto; Wilvia Wilvia
Prima Journal of Oral and Dental Sciences Vol. 4 No. 2 (2021): Edisi Oktober
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/primajods.v4i2.2880

Abstract

Jaringan lunak wajah merupakan faktor penting yang berperan dalam membentuk estetika wajah. Penilaian terhadap adanya perbaikan estetika wajah akibat perawatan ortodonti masih menjadi perdebatan yang menarik di kalangan ortodontis karena banyaknya aspek yang menjadi ukuran dalam penilaian estetika wajah. Perubahan pada penampilan wajah terjadi karena adanya perubahan posisi gigi anterior yang dapat mempengaruhi perubahan profil jaringan lunak wajah terutama pada daerah bibir, sehingga penelitian mengenai perubahan posisi bibir dan posisi gigi anterior menjadi sangat penting untuk mempertimbangkan kebutuhan estetika wajah pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan nilai perubahan posisi bibir akibat dari perubahan posisi dan sudut interinsisal gigi insisivus pada kasus gigi protrusif menggunakan analisis sefalogram lateral sebelum dan sesudah perawatan ortodonti. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik dengan metode cross sectional dengan pengambilan sampel secara purposive sampling sebanyak 16 sampel sefalometri sebelum dan sesudah perawatan ortodonti yang memenuhi kriteria inklusi.pengumpulan data kemudian dianalisis menggunakan korelasi Pearson’s Product Moment. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan perubahan posisi dan sudut interinsisal terhadap bibir melalui garis estetik dimana dihasilkan nilai p=0,000 (p<0,05). Terdapat hubungan bermakna cukup kuat dari nilai perubahan posisi dan sudut interinsisal gigi insisivus terhadap bibir melalui garis estetik sebelum dan setelah dilakukan perawatan ortodonti.