cover
Contact Name
Indar Sabri
Contact Email
indarsabri@unesa.ac.id
Phone
+6281357970529
Journal Mail Official
getersendratasik@unesa.ac.id
Editorial Address
Prodi Pendidikan Sendratasik, Jurusan Sendratasik, FBS, Universitas Negeri Surabaya
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik
ISSN : -     EISSN : 26552205     DOI : -
Core Subject : Art,
Jurnal Gétér adalah Jurnal Seni Pertunjukan yang mewadahi pikiran kritis dan akademis melalui berbagai pendekatan maupun perspektif.
Articles 189 Documents
FENOMENOLOGI PENUBUHAN MEMBANGUN TOKOH DALAM TEATRIKAL Zaidah, Nuning
GETER Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teater modern maupun tradisional adalah dunia imajinasi, maka kebenaran ditampilkan adalah kebenaran yang tercipta atas imajinasi yang terbangun. Pengalaman ketubuhan dalam membangun karakter tokoh dapat di selidiki melalui bagaimana manusia mengalami pengalaman terhadap ruang, waktu, benda, getaran suara, aroma, gerak, suhu, dan sensasi dalam tubuhnya. Tubuh adalah media tak tergantikan untuk mengalami dan berinteraksi dengan dunia material, dunia sosial maupun dunia mental spiritual. Pendekatan fenomenologi pada tubuh mencermati peristiwa memungkinkan munculnya pengertian bahwa sensasi terhadap gerak dan teknik ketubuhan diluar keseharian akan hadir baik pada tokoh pemeran maupun penonton. Keterpaduan pertunjukan teater beserta komponen inilah yang menjadikan alat pengalaman penubuhan. Kata kunci : fenomenologi, penubuhan, teater
WAYANG KULIT WONG LAKON MENJUNJUNG LANGIT MENCIUM BUMI: TEKS PERTUNJUKAN DALAM SEMIOTIKA TEATER Arisyanto, Prasena
GETER Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis makna pertunjukan Wayang Kulit Wong dalam lakon Menjunjung Langit Mencium Bumi. Sebagai analisis adalah konsep semiotika teater Tadeus Kowzan yang di fokuskan pada analisis teks pertunjukan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan semiotika teater. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menjelaskan bahwa Wayang Kulit Wong lakon menjunjung langit mencium bumi yang ditampilkan dalam acara peringatan sumpah pemuda mempunyai makna pada pertunjukannya yang dianalisis dari 13 sistem tanda Tadeus Kowzan, yaitu tanda kata, nada, mimik, gerak isyarat, gerakan-gerakan, tata rias, gaya rambut, kostum, properti, seting, tata cahaya, musik, dan pengaruh bunyi. Inti makna pertunjukan Wayang Kulit Wong pada lakon menjunjung langit mencium bumi sesuai dengan makna sumpah pemuda yaitu agar para pemuda harus menghargai berbagai perbedaan yang dimiliki bangsa Indonesia sebagai kekayaan bangsa dan memanfaatkan berbagai perbedaan tersebut untuk menjaga persatuan dan kesatuan negara Indonesia.
TRANSFORMASI KARAKTERISTIK TOKOH GUNUNGSARI PADA WAYAG TOPENG DI MALANG JAWA TIMUR Hidajat, Robby
GETER Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengarahkan secara khusus tentang transformasi karakter tokoh pada seni pertunjukan tradisional, mengingat kajian tentang transformasi karakter masih dibutuhkan pendalaman secara intensif, utamanya untuk kegiatan kreatif dan pengetahuan tentang identitas tokoh dalam sebuah lakon pertunjukan. Karakteristik tokoh pada seni pertunjukan wayang topeng di Malang Jawa Timur hingga saat ini masih belum dikaji secara mendalam. Beberapa tulisann hanya sebatas pada diskripsi informatif, utamanya yang dilakukan oleh para mahasiswa untuk penelitian skripsi. Penelitian menggunakan ancangan kualitatif dengan pendekatan transformasi. Data yang dikumpulan sepenuhnya berbasis pada keterangan berupa kata-kata hasil wawancara, sikap dan tindakan pelaku yang diamati dan dinterpertasikan maknanya,, dan kajian dokumen berupa foto dan literatur, baik yang berbentuk cetak atau catatan pribadi dari pelaku kesenian. Nara sumber kunci penelitian ini adalah Moch Soleh Adi Pramono (64 th) seorang dalang wayang topeng dari Tumpang, Kariyono (78 th.) penari anggota wayang topeng Karya Bakti dari Jabung (sekarang mendukung perkumpulan Dharmo Langgeng), dan Sumantri (63 th.) pengendang wayang topeng dan kompeser karawitan Malang. Analisis data menggunakan interpertasi dan hermeneutik. Hasil penelitian ini menunjukan (1) identitas tokoh Gunungsari, (2) kedudukan dan peran dalam lakon Panji, (3) karakteristik tokoh Gunungsari. Kesimpulan menunjukan tanda-tanda karakteristik Gunungsari merupakan transformasi dari Dewa Wisnu, yaitu sebagai pelindung, penjaga, dan memberikan berkah. Apabila diperhatikan melalui pertunjukan wayang purwa, Bethara Kresna (titisan Wisnu) selalu muncul menjadi pada bagian akhir pertunjukan, berfungsi sebagai tokoh pelerai. Tokoh yang mengatasi berbagai persoalan. Masing-masing tokoh yang bertikai dapat dikembalikan pada kedudukan semula, dan semuanya didoakan dengan dongo slamet tolak balakKata kunci: Transformasi, Karakteristik Tokoh, Wayang Topeng.
PROFESIONALISME GURU SENI BUDAYA DI SEKOLAH Alam, Samsul; Nur Zuama, Shofiyanti
GETER Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Profesi guru merupakan suatu bidang pekerjaan yang wajib dikerjakan dengan kualifikasi keahlian yang sesuai dengan pekerjaan guru. Sebagai sebuah profesi, guru harus mahir, cakap serta memenuhi standard mutu minimal yang didapatkan melalui pendidikan profesi guru. Oleh karena itu guru harus professional. Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan kompetensi professional guru seni. Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan yaitu penulis menggunakan berbagai sumber rujukan baik yag berasal dari hasil penelitian maupun hasil pemikiran penulis lainnya yang dirumuskan kembali oleh penulis. Sehingga melahirkan konsep baru dalam penulisan artikel ini. Guru seni yang profesional bukan hanya ahli dalam menguasai ilmu seni namun harus memiliki keahlian dalam mengajarkan ilmunya kepada para peserta didik. Keahlian guru seni dalam dalam menguasai bidang ilmu seni harus diiringi dengan kemampuan memahami keadaan peserta didik, analisis dan pengembangan kurikulum, merencanakan pembelajaran seni, melakukan penilaian dan evaluasi.
GAYA PUKULAN KENDHANG GROUP MUSIK DANGDUT PALAPA M.Pd, Jarmani
GETER Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dangdut merupakan aliran musik yang sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Irama dangdut identik dengan seni musik kalangan kelas bawah merupakan cerminan dari aspirasi kalangan masyarakat yang mempunyai ciri khas kelugasan dan kesederhaannya. Suara kendhang yang membuat semua orang berjoget menjadi tolok ukur pupolaritas dari musik dangdut itu sendiri. Penelitian ini  berpijak pada pendekatan kualitatif dengan hasil akhir dari penulisannya dibuat secara diskriptif. Objek penelitian dalam penelitian ini group musik dangdut Koplo yaitu group musik dangdut Pallapa.  Hasil penelitian ini yaitu mendeskripsikan pukulan  kendang Koplo dalam masing-masing pukulan Slamet group musik Pallapa dengan kesamaan dan pererbedaan dalam teknik pukulnya dengan pengendang yang lain
TARI REMO (NGREMONG): SEBUAH ANALISIS TEORI SEMIOTIKA ROLAND BARTHES TENTANG MAKNA DENOTASI DAN KONOTASI DALAM TARI REMO (NGREMONG) Basri, Syaiful; Sari, Ethis
GETER Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semiotik aims to look for the production and consumption of meaning that is on the mark. In this case the sign system can be used as one of the frame of mind that helps one in interpreting a meaning. One example is the study of semiotics. Semiotics represents a wide range of field studies, ranging from art, literature, anthropology, mass media, and so on. Semiotic study is a way or method to analyze and give meanings to the symbols contained in a symbol of message or text. The substance of dance is motion. The purpose of motion here, not the motion of everyday man, but the motion in a certain sense and process so that it changes from the natural form. Remo dance is one of the traditional dance form of East Java which is expressed from the vibration of soul and emotion of East Java society. Remo dance movement is obtained from the vibrations of the soul and emotions of East Java. The main characteristic of dance Remo is a dynamic dance movement. In this case the motion of remo dance will be analyzed using Barthes' semiotic theory. Keywords: semiotics, signs, dance, motion, remo.
RELEVANSI TARI TOPENG BAPANG TERHADAP KREATIVITAS GERAK dwi, jajuk; Sugito, Bambang; Kristiandri, Dhani
GETER Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap mahasiswa tari memiliki kesulitan dalam mengembangkan gerak tari tradisi dalam karya tari. Tari tradisi merupakan dasar gagasan gerak yang bisa dikembangkan dalam sebuah kekaryaan. Gerak tari topeng Bapang memiliki keunikan tersendiri baik secara karakter bentuk dan teknik yang bisa dijadikan pijakan untuk dikembangkan dalam sebuah kekaryaan. Gerak tari topeng Bapang sudah memiliki ketentuan gerak yang telah ditentukan baik secara bentuk dan teknik geraknya namun jarang digunakan sebagai pengembangan keativitas untuk dijadikan gagasan maupun ide kekaryaan. Pertimbangan gerak sebagai dasar kreativitas memiliki relevansi terhadap bentuk dan teknik dalam sebuah kekaryaan yang terkait dengan pemilihan tema atau tokoh yang dikembangkan melalui aktivitas pengembangan gerak oleh mahasiwa sendiri. Berbagai kendala dalam proses kekaryaan yang dihadapi mahasiswa terkait dengan matakuliah karya tari memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Berpijak dari paparan tersebut Tari Topeng Bapang sebenarnya memiliki relevansi untuk dikembangkan sebagai dasar pemilihan teknik dan bentuk ke dalam kekaryaan untk membantu ke berbagai pencapaian dan permaslahan pencarian ide dan gagasan dalam kreativitas gerak. Semua aspek dalam pencapaian eksplorasi gerak bisa menggunakan tari Topeng Bapang sebagai dasar eksplorasi dalam teknik dan bentuk untuk menunjang proses dalam kekaryaan. Sebagai penunjang kreativitas bisa berpijak dari salah satu motif gerak dari topeng Bapang kemudian dieksplorasi melalui berbagai kemungkinan dalam mengembangkan gagasan atau ide kreativitas pada proses kekaryaan. Pembekalan materi tari etnik diberbagai wilayah daerah etnik di Jawa Timur jarang digunakan sebagai dasar proses kreatif dalam menunjang karya tari oleh mahasiswa Kata kunci: Relevansi, Tari Topeng Bapang, Kreativitas.
TARI NGABULING SEBAGAI PENERAPAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN Sayekti, Alif Lintang
GETER Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Ngabuling merupakan tari yang berakar pada gerak budaya Malangan kemudian dikembangkan dengan gerak yang lebih dinamis dan kreatif. Tari Ngabuling ciptaan Tri Idha Rochana merupakan tari yang dilombakan pada event FLS2N dan mendapat peringkat 5 penyaji terbaik pada tingkat kota, provinsi dan nasional. Namun belum cukup banyak informasi mengenai nilai-nilai yang bermanfaat untuk guru maupun pelajar. Tari ini memiliki alasan yang cukup untuk menjadi pertimbangan dalam lomba. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan alasan pentingnya tari Ngabuling untuk dipelajari. Dengan menggunakan data wawancara, observasi, dan dokumentasi sebagai metode untuk mencari tahu fungsi dari tari Ngabuling. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik yang selanjutnya dikonfirmasi dengan teori nilai-nilai pendidikan. Hasil dari penelitian ini ada empat nilai dalam tari Ngabuling yang menjadikan tari ini layak untuk dipertimbangkan.
TRADISI SASTRA LISAN MAMACA DI KABUPATEN PAMEKASAN Rifqi, Faizur
GETER Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehidupan seni pertunjukan tradisi lisan yang sehat pada hakikatnya ditandai oleh hubungan yang saling memerlukan antara seniman, pengamat seni/pendidikan, dan masyarakat penikmat. Akan tetapi, dalam kenyataannya, selain tidak mampu mempertahankan pelaku dan penikmatnya, seni tradidi kurang memiliki peluang untuk memberikan peningkatan yang bernilai ekonomi. Akibatnya perkembangan yang diharapkan menjadi terbatas, baik dalam hal perkembangan wujud dan wilayah persebaran. Tradisi sastra lisan Mamaca merupakan kesenian tradisional Madura yang memiliki keunikan dalam pertunjukannya. Dalam penyajiannya, sastra lisan Mamaca diiringi oleh seperangkat gamelan dan suling. Selain itu, keunikan dalam kesenian Mamaca ini terdapat pada bahasa yang digunakan yakni bahasa Jawa arab yang kemudian diterjemakan dalam bahasa Madura. Dalam kepercayaan masyarakat Madura,, tradisi sastra lisan Mamaca berfungsi sebagai sarana ritual sebagai penghilang sial dalam menjalani kehidupan, namun disamping itu kesenian Mamaca juga dijadikan sebagai sarana hiburan.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang mengungkapkan tentang pertunjukan kesenian Mamaca dalam rangkaian upacara ritual Rokat Pandhâbâ pada masyarakat di Pamekasan. Pandangan penelitian kualitatif bahwa gejala itu bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisah-pisahkan), sehingga peneliti kualitatif tidak akan menetapkan penelitiannya hanya berdas arkan variabel penelitian, tetapi keseluruhan situasi sosial yang diteliti yang meliputi aspek tempat (place), pelaku (actor) dan aktifitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis Hasil pembahasan dalam penelitian ini meliputi bentuk pertunjukan kesenian Mamaca, serta bentuk akulturasi kesenian Mamaca. Kesenian Mamaca difungsikan sebagai sarana upacara ritual ruwatan atau rokat (bahasa Madura) untuk menghilangkan sial bagi orang yang mendapat sebutan Pandhâbâ. Kitab atau Layang yang dibacakan dalam kesenian Mamaca bertuliskan bahasa Jawa Arab, namun kemudian ditafsirkan oleh panegghâs ke dalam bahasa Madura, sehingga akulturasi budaya Jawa, Arab, dan Madura sangat melekat di dalamnyaKata kunci: sastra lisan, fungsi pertunjukan, akulturasi budaya
STRATEGI AKTOR MENAFSIR NASKAH RE Faishal, Ahmad; Hariyanto, Moh.
GETER Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minimnya kajian tentang teater khususnya aktor dan upaya kerja aktor, mendorong peneliti mengkaji hubungan antara naskah aktor dan pertunjukan. Aktor sebagai elemen terpenting dalam pertunjukan teater tidak serta merta begitu saja bisa hadir dan bermain diatas pangung. Aktor membutuhkan serangkaian modal (kehendak, pemikiran, tubuh dan perasaan) disertai dengan kecanggihan teknik dan metode yang tepat untuk bisa bermain dan ?menjadi? aktor yang baik. Memahami naskah drama membutuhkan strategi khusus (pembacaan Dekonstruksi) untuk dapat menangkap makna, menemukan gagasan, peran, karakter, hubungan antar tokoh, konflik, setting, alur, artistik dan penyelesaian. Bahkan sampai pada upaya melakukan pemberontakan terhadap naskah itu sendiri (entah adaptasi atau inspirasi).Penelitian ini difokuskan pada naskah RE Karya Akhudiat, menggunakan metode content analysis dengan pendekatan dekonstruksi. Dekonstruksi memaparkan tiga langkah metodologis, yakni pertama tahap verbal, yaitu tahap pembacaan kritis dengan pencarian paradok dan kontradiktif. Kedua, tahap tekstual yaitu mencari makna yang lebih dalam pada keseluruhan teks. Ketiga, pencarian makna pada tahap linguistik.Dengan menggunakan strategi dekonstruksi, berpikiran kritis bahkan sampai pada hal yang tak mungkin (nalar) diluar naskah, aktor dapat memahami naskah semaksimal mungkin dan dapat bermain dengan baik. Aktor telah memiliki modal pemikiran yang maksimal.

Page 3 of 19 | Total Record : 189