cover
Contact Name
Indar Sabri
Contact Email
indarsabri@unesa.ac.id
Phone
+6281357970529
Journal Mail Official
getersendratasik@unesa.ac.id
Editorial Address
Prodi Pendidikan Sendratasik, Jurusan Sendratasik, FBS, Universitas Negeri Surabaya
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik
ISSN : -     EISSN : 26552205     DOI : -
Core Subject : Art,
Jurnal Gétér adalah Jurnal Seni Pertunjukan yang mewadahi pikiran kritis dan akademis melalui berbagai pendekatan maupun perspektif.
Articles 189 Documents
KREATIVITAS PERTUNJUKAN TEK TOK DI PULAU BALI SEBAGAI DAYA TARIK PARIWISATA Widiastuti, Ni Made Dian
GETER Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v1n1.p23-31

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang (1) struktur pertunjukan Tek Tok dalam pariwisata, (2) unsur kebaruan dalam Tari Tek Tok sebagai daya saing, (3) kostum dan properti Tari Tek Tok, (4) fungsi Tari Tek Tok, (5) Peran Tari Tek Tok bagi masyarakat, serta (6) nilai dalam pertunjukan Tek Tok. Metode yang dipergunakan adalah metode penelitian kualitatif, yaitu penelitian tentang risert yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan (observation), wawancara, teknik rekam dan mencatat. Hasil dari penelitian ini adalah (1) Tari Tek Tok terdiri dari 6 babak, (2) unsur kebaruan dalam Tari Tek Tok yaitu adanya penggunaan teknologi seperti api (fire) sebagai pendukung pertunjukan, tidak menggunakan instrumen musik tetapi menggunakan vokal, Tari Tek Tok menggabungkan antara perempuan dan laki-laki dalam pementasannya dan hanya menggunakan vokal “Tek dan Tok”, (3) tata rias dan busana (kostum) yang digunakan dalam Tek Tok berbeda-beda antara tokoh satu dengan yang lainnya, hal ini dilakukan untuk mengetahui karakter masing-masing tokoh. Properti yang digunakan antara lain gada, panah, api, dan dadu, (4) Tari Tek Tok berfungsi sebagai tari balih-balihan yang tidak ada kaitannya dengan agama, melainkan sebagai hiburan, (5) Tari Tek Tok berperan dalam industri pariwisata, penunjang ekonomi pelakunya, dan pengikat solidaritas seniman/masyarakat, (6) dalam pertunjukan Tek Tok terkandung nilai-nilai yang terdiri dari nilai kesetiaan, nilai pendidikan, serta nilai korban suci/ yadnya.Kata kunci: Tari Tek Tok, pariwisata, Bali
Tradisi Sastra Lisan Mamaca di Kabupaten Pamekasan Rifqi, Faizur
GETER Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v1n1.p39-45

Abstract

Kehidupan seni pertunjukan tradisi lisan yang sehat pada hakikatnya ditandai oleh hubungan yang saling memerlukan antara seniman, pengamat seni/pendidikan, dan masyarakat penikmat. Akan tetapi, dalam kenyataannya, selain tidak mampu mempertahankan pelaku dan penikmatnya, seni tradidi kurang memiliki peluang untuk memberikan peningkatan yang bernilai ekonomi. Akibatnya perkembangan yang diharapkan menjadi terbatas, baik dalam hal perkembangan wujud dan wilayah persebaran. Tradisi sastra lisan Mamaca merupakan kesenian tradisional Madura yang memiliki keunikan dalam pertunjukannya. Dalam penyajiannya, sastra lisan Mamaca diiringi oleh seperangkat gamelan dan suling. Selain itu, keunikan dalam kesenian Mamaca ini terdapat pada bahasa yang digunakan yakni bahasa Jawa arab yang kemudian diterjemakan dalam bahasa Madura. Dalam kepercayaan masyarakat Madura,, tradisi sastra lisan Mamaca berfungsi sebagai sarana ritual sebagai penghilang sial dalam menjalani kehidupan, namun disamping itu kesenian Mamaca juga dijadikan sebagai sarana hiburan.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang mengungkapkan tentang pertunjukan kesenian Mamaca dalam rangkaian upacara ritual Rokat Pandhâbâ pada masyarakat di Pamekasan. Pandangan penelitian kualitatif bahwa gejala itu bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisah-pisahkan), sehingga peneliti kualitatif tidak akan menetapkan penelitiannya hanya berdas arkan variabel penelitian, tetapi keseluruhan situasi sosial yang diteliti yang meliputi aspek tempat (place), pelaku (actor) dan aktifitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis Hasil pembahasan dalam penelitian ini meliputi bentuk pertunjukan kesenian Mamaca, serta bentuk akulturasi kesenian Mamaca. Kesenian Mamaca difungsikan sebagai sarana upacara ritual ruwatan atau rokat (bahasa Madura) untuk menghilangkan sial bagi orang yang mendapat sebutan Pandhâbâ. Kitab atau Layang yang dibacakan dalam kesenian Mamaca bertuliskan bahasa Jawa Arab, namun kemudian ditafsirkan oleh panegghâs ke dalam bahasa Madura, sehingga akulturasi budaya Jawa, Arab, dan Madura sangat melekat di dalamnyaKata kunci: sastra lisan, fungsi pertunjukan, akulturasi budaya
Strategi Aktor Menafsir Naskah RE Faishal, Ahmad; Hariyanto, Moh.
GETER Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v2n2.p22-34

Abstract

Minimnya kajian tentang teater khususnya aktor dan upaya kerja aktor, mendorong peneliti mengkaji hubungan antara naskah aktor dan pertunjukan. Aktor sebagai elemen terpenting dalam pertunjukan teater tidak serta merta begitu saja bisa hadir dan bermain diatas pangung. Aktor membutuhkan serangkaian modal (kehendak, pemikiran, tubuh dan perasaan) disertai dengan kecanggihan teknik dan metode yang tepat untuk bisa bermain dan ‘menjadi’ aktor yang baik. Memahami naskah drama membutuhkan strategi khusus (pembacaan Dekonstruksi) untuk dapat menangkap makna, menemukan gagasan, peran, karakter, hubungan antar tokoh, konflik, setting, alur, artistik dan penyelesaian. Bahkan sampai pada upaya melakukan pemberontakan terhadap naskah itu sendiri (entah adaptasi atau inspirasi).Penelitian ini difokuskan pada naskah RE Karya Akhudiat, menggunakan metode content analysis dengan pendekatan dekonstruksi. Dekonstruksi memaparkan tiga langkah metodologis, yakni pertama tahap verbal, yaitu tahap pembacaan kritis dengan pencarian paradok dan kontradiktif. Kedua, tahap tekstual yaitu mencari makna yang lebih dalam pada keseluruhan teks. Ketiga, pencarian makna pada tahap linguistik.Dengan menggunakan strategi dekonstruksi, berpikiran kritis bahkan sampai pada hal yang tak mungkin (nalar) diluar naskah, aktor dapat memahami naskah semaksimal mungkin dan dapat bermain dengan baik. Aktor telah memiliki modal pemikiran yang maksimal.
ANALISA VARIASI MELODI DALAM KARYA MUSIK PRELUDE IN E MINOR (OP. 28 NO. 4) KARYA FREDERIC FRANCOIS CHOPIN ARANSEMEN TRIO ZINGARA Annur, Bima Atyaasin; Winarko, Joko
GETER Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v4n1.p72-90

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan variasi melodi pada karya musik Prelude In E Minor (Op. 28 No. 4) karya Frederic Francois Chopin aransemen Trio Zingara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Tindakan analisis dilakukan dengan tiga tahapan yaitu tahapan deskripsi, tahapan reduksi, dan tahapan seleksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa karya musik Prelude In E Minor (Op. 28 No. 4) karya Frederic Francois Chopin aransemen Trio Zingara merupakan lagu berbentuk 1 (satu) bagian. Terdiri dari 5 (lima) kalimat tanya dan 1 (satu) kalimat jawab. Komposisi Prelude In E Minor (Op. 28 No. 4) menggunakan tangga nada E minor, yang disajikan dengan tempo Largo, kemudian menggunakan sukat 4/4, dan diolah dengan menggunakan dinamika piano, espressivo, crescendo, decrescendo, pianissimo, smorzando, diminuendo, dan fortesimo. Karya musik Prelude In E Minor (Op. 28 No. 4) yang disajikan oleh kelompok Trio Zingara berdurasi 2 menit 41 detik, dan terdiri dari 25 birama. Trio zingara dalam mengaransemen karya musik Prelude In E Minor (Op. 28 No. 4) menggunakan format trio dengan instrumen Violin, Cello, dan Piano. Terdapat 7 (tujuh) variasi melodi dalam karya musik Prelude In E Minor (Op. 28 No. 4) aransemen Trio Zingara. Yang terdiri dari 3 (tiga) variasi melodi Counter Melody, 1 (satu) variasi melodi Obbligato, 1 (satu) variasi melodi Dead Spot Filler, 1 (satu) variasi melodi Melodic Variation and Fake, dan 1 (satu) variasi melodi Rhytmyc Variation and Fake.
UPAYA MENGATASI KRISIS PEGIAT LUDRUK DI KOTA SURABAYA Jindan, Rudlofuddin
GETER Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v2n1.p70-77

Abstract

Ludruk adalah seni pertunjukan teater (sandiwara) rakyat khas Jawa Timur, yang di dalamnya mengandung unsur tari remo, bedayan, dagelan, lakon dan dibawakan dalam bahasa setengah lisan. Ludruk merupakan pertunjukan yang mampu menyajikan cerita dengan berbagai informasi serta nilai-nilai positif, menggelitik dan menghibur. Kesenian ini dulunya tumbuh dengan baik di Surabaya dan selalu dinanti-nanti kehadirannya. Namun, keadaan tersebut berbanding terbalik dengan keadaannya pada masa sekarang. Ludruk tidak hanya sepi penonton, tapi juga mulai ditinggal bahkan hampir sebagaian besar generasi muda kini tidak mengenalnya. Sebagai warisan budaya yang luhur, Ludruk mencoba bertahan ditengah-tengah krisisnya penikmat. Pelaku Ludruk yang menjadi pendukung keberadaan Ludruk ini pun kian berkurang oleh karena semakin menghilangnya jumlah Ludruk. Hal itu karena Ludruk tidak dapat lagi menjadi tempat mereka mencari nafkah atau mata pencaharian. Melihat mirisnya kondisi ini, perlu mendapat tindakan perhatian secara serius dari semua pihak. Upaya itu dapat dimulai dari pemerintah kota Surabaya harus memberi tindakan perhatian dengan memberi wadah untuk turut berpatisipasi pada setiap kegiatan sosial yang diadakan. Selanjutnya, diajarkan di sekolah agar di kenal dan untuk menumbuhkan kecintaan pada kesenian ini, serta membuat kemasannnya agar menjadi kemasan pertunjukan kekinian (agar lebih menarik). Untuk mencapai semua itu  perlu adanya kesadaran bersama baik pelaku Ludruk sendiri, pemerintah, maupun masyarakat untuk mewujudkannya, sehingga kesenian inipun tetap dapat dikenal sebagaimana Ludruk adalah salah satu ikon seni di Surabaya. Kata kunci: upaya, krisis, pegiat, ludruk, Surabaya.
SENI MUSIK ETNIK HADRAH NUR MUHAMMAD DI KECAMATAN JAYALOKA KABUPATEN MUSIRAWAS KAJIAN BENTUK SAJIAN DAN STRUKTUR MUSIK Kurniawan, Arif; Firmansyah, Dedy
GETER Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v3n1.p52-63

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk dan struktur seni musik etnik  Hadrah yang ada di Kecamatan Jayaloka Kabupaten Musirawas. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk musik etnik  Hadrah yang ada di Kecamatan Jayaloka Kabupaten Musi Rawas adalah jenis musik ansambel yang dilengkapi dengan struktur lirik (syair) lagu, alat musik, teknik permainan, pemain dan vokal. Alat musik yang digunakan adalah alat musik ritmis seperti Genjringan, Kentam, Keprak, Darbuka, Gendang Bass, Ketiplak dan Kemplingan, Simbal serta Tamborin. Teknik permainan yang digunakan adalah teknik permainan pola dasar, pola ningkah dan pola variasian. Jumlah keseluruhan anggota adalah 15 anggota termasuk pelatih, terbagi menjadi 10 pemain musik dan 5 orang penyanyi (vokal)
Revitalisasi Cangget Bakha Festival Di Kabupaten Lampung Utara Saputri, Amelia Hani; Devi Lestari, Goesthy Ayu Mariana; Ningrum, Widyawati Retna
GETER Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v4n1.p47-57

Abstract

Cangget Bakha merupakan tradisi upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Lampung beradat Pepadun pada saat bulan purnama selepas panen. Cangget Bakha dahulu penyelenggaraannya terikat dalam rangkaian adat Begawi Cakak Pepadun dan yang menarikan terbatas hanya dilakangan anak-anak Penyimbang, maka dalam konteks kekinian fungsi tersebut disesuaikan dengan perubahan zaman melalui proses revitalisasi. Revitalisasi Cangget Bara Festival merupakan upaya pembaharuan penampilan sebuah tarian tradisi yang biasanya ditarikan pada acara adat, menjadi tari yang dipentaskan dalam acara festival. Hasil penelitian menunjukan bahwa revitalisasi dilakukan melalui tahapan; 1) Tahap Reformulasi yaitu pengembangan gagasan awal pelaksanaan Cangget Bara Festival antara praktisi seni, tokoh adat, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Utara, hingga Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan; 2)  Tahap Komunikasi bergabungnya CBF dalam Festifal Indonesiana; 3) Tahap Organisasi dengan membagi tim kerja berdasarkan tugas dan fungsi; 4) Tahap Adaptasi dan Tahap Transformasi yaitu tahap koordinasi antara pemerintah, budayawan, tokoh adat, pemuda untuk saling bekerjasama mensukseskan acara; 5) Tahap Rutinitas melalui kegiatan latihan rutin di Sanggar Cangget Budayo.
“RONDO” KARYA SOLO GITAR: MAURO GIULIANI (ANALISIS BENTUK MUSIK) suwahyono, agus
GETER Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v2n1.p19-23

Abstract

Rondo berasal dari bahasa Perancis ‘Rondeau’ (diucapkan ‘Rondo) dan berarti lagu berputar: maksudnya ‘refren’. Maka Rondo mirip dengan bentuk lagu refren-solis, seperti lazim dipakai dalam lagu pantun dsb. Rondo karya M. Giuliani yang merupakan suatu karya untuk musik instrumental yaitu  solo gitar, setelah didengarkan selanjutnya dianalisis maka  bentuk Rondo  untuk musik instrumen gitar karya M. Giuliani adalah termasuk tipe Rondo Perancis/Rondo Rantai yang memiliki bentuk Rondo dengan dua sisipan,al: A-B-A-C-A.  Artinya kalimat (A) mulai birama (1-16); Kalimat (B) mulai birama (16-32); berikutnya kalimat (A) lagi dengan divariasi mulai birama (32-48); kalimat (C) mulai (48-80); kemudian kembali kalimat (A) dengan divariasi muncul lagi mulai birama (80-96) karena kalimat diulang dua kali.  Kata Kunci : Rondo, Bentuk Musik
TARI KIPAS CHANDANI: GERAK, RUANG, DAN WAKTU Rochayati, Rully
GETER Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v3n2.p12-25

Abstract

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui sejauh mana tari Kipas Chandani dapat dianalisa tentang konsep gerak, ruang, dan waktu. Penulisan ini dirasa penting karena  hadirnya bentuk tari tidak terlepas dari konsep yang mendasarinya, proses terbentuknya tari, hingga bagaimana tarian tersebut dapat dianalisa dari berbagai aspek.  Latar belakang  dari penulisan ini memuat diskripsi dari hasil temuan pada saat proses penggarapan dalam bentuk penjabarannya dari tiga elemen koreografi. Metode penelitian diskriptif kualitatif yang melibatkan observasi, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil temuannya adalah secara menyeluruh gerak, ruang, waktu dalam tari Kipas Chandani merupakan satu bagian yang utuh. Elemen gerak dalam tari ini terbagi atas ragam yang terdiri dari ragam pokok, ragam kembangan, ragam sendi atau penghubung. Elemen  ruang nyata yang digunakan adalah area terbuka. Ruang imajiner pada tarian ini mencakup ruang positf-negatif, arah, level, pola lantai, dimensi yang terwujud menjadi satu dalam ragam  gerak. Elemen waktu yaitu tempo, ritme, dan durasi turut menjadi satu bagian dari ragam yang diwujudkan. Keterikatan antara ruang dan waktu terwujud dalam gerak yang tersaji secara utuh.
SANGGAR TRAJUWENING: POSISI DAN PERAN EDUKATIFNYA TERHADAP PERKEMBANGAN WAYANG JEKDONG DI KABUPATEN GRESIK Kurniawati, Andini Shinta
GETER Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v1n1.p46-52

Abstract

Wayang jek dong merupakan Wayang kulit gaya atau gagrak Jawa Timuran yang memiliki daerah persebaran terutama wilayah budaya arek. Masing-masing daerah tersebut memiliki upaya pelestarian dalam mengembangkan wayang jek dong, salah satunya di Kabupaten Gresik. Di Kabupaten Gresik tepatnya di Desa Kandangan Kecamatan Cerme terdapat sanggar kesenian yang dinamakan Trajuwening. Keberadaan Sanggar Trajuwening di Kabupaten Gresik sudah tidak diragukan lagi, lembaga kesenian yang bergerak di bidang seni pertunjukan wayang kulit khas Jawa Timuran atau Jek Dong tersebut sangat diperhitungkan, selalu berinovasi terhadap karya dan selalu konsisten menjaga kualitas dalam berproses kesenian. Pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah Bagaimana latar belakang berdirinya dan posisi Sanggar Trajuwening dalam perkembangan wayang jek dong di Kabupaten Gresik. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisa dan mendeskripsikan posisi dan peran edukatif sanggar trajuwening dalam perkembangan wayang jek dong di Kabupaten Gresik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan sumber data dari informan, peristiwa atau aktifitas, lokasi, kata-kata atau tindakan, sumber tertulis dan foto diperoleh dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa posisi Sanggar Trajuwening dewasa ini berada di tingkat tertinggi karena dianggap mampu bersaing dengan sanggar kesenian wayang kulit di daerah sekitarnya. Sedangkan peran edukatif yang dilakukan sanggar adalah mendukung dengan mencari jago atau mencari bibit-bibit sebagai generasi penerus seni karawitan dan pedalangan gagrak Jawa Timuran.Katakunci: Posisi, Peran Edukatif, Sanggar Trajuwening, Wayang Jek Dong

Page 5 of 19 | Total Record : 189