cover
Contact Name
Indar Sabri
Contact Email
indarsabri@unesa.ac.id
Phone
+6281357970529
Journal Mail Official
getersendratasik@unesa.ac.id
Editorial Address
Prodi Pendidikan Sendratasik, Jurusan Sendratasik, FBS, Universitas Negeri Surabaya
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik
ISSN : -     EISSN : 26552205     DOI : -
Core Subject : Art,
Jurnal Gétér adalah Jurnal Seni Pertunjukan yang mewadahi pikiran kritis dan akademis melalui berbagai pendekatan maupun perspektif.
Articles 189 Documents
PERFORMING ART’S SEBAGAI AJANG EKSPRESI DAN KREATIVITAS ANAK-ANAK DI DESA BATAH BARAT DAN KARANGANYAR BANGKALAN Fitriyono, Angga
GETER Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v3n2.p100-108

Abstract

Seni pertunjukan di desa Batah barat dan Karanganyar, Kabupaten Bangkalan, Madura dirasa masih kurang. Hal ini terlihat dari anak-anak sampai para warga masih belum terlalu antusias dengan seni. Hal ini dikarenakan tidak adanya fasilitas seperti sanggar maupun pengajar di kedua desa tersebut. Selain itu seni pertunjukan jarang sekali diadakan dalam acara-acara desa.Melihat situasi tersebut peneliti beserta para mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Trunojoyo Madura berusaha menumbuhkan minat dan bakat berkesenian anak-anak di desa Batah Barat dan Karanganyar, Bangkalan dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan Performing Art’s melalui beberapa tahap yakni (i). Melaksanakan pendataan awal terhadap minat dan bakat anak di desa tersebut dan menetapkan minat dan bakat yang di diklasifikasikan pada bidang musik, tari dan drama (ii). Pemberian materi dan keterampilan dasar dalam berkesenian (iii). Evaluasi penguasaan materi dan pengembangan dalam gelar karya seni. Setelah pelaksanakan serangkayan tahapan mulai dari pendataan hingga pelatihan, kemudian produk yang dihasilkan berupa karya pertunjukan di tampilkan pada tanggal 23 januri 2019. Terlihat ekspresi dan unjuk kreativitas anak-anak sangat total dan sangat mencerminkan performer yang sesungguhnya dalam suguhan seni pertunjukan  yang berkualitas.
REINTERPRETASI TOKOH EMBAN DALAM KARYA TARI TOPENG MBANMBAN Yanuartuti, Setyo; Winarko, Joko
GETER Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v4n1.p105-120

Abstract

Tokoh emban merupakan tokoh abdi yang dimaknai sebagai pembantu atau pengasuh seorang pangeran dan atau putri. Dalam pertunjukan Wayang Topeng Jatidhuwur tokoh Emban dihadirkan dalam setiap adegan kerajaan atau keputren. Tokoh emban ini memiliki karakter gecul, dan endel (orang Jatidhuwur menyebutnya dengan jalang). Gerak-gerik dan penampilan tokoh emban ini menarik peneliti untuk dijadikan sebuah tari. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses reinterpretasi dan bentuk tari topeng Mbanmban sebagai wujud visual tokoh Emban dalam pertunjukan Wayang Topeng Jatidhuwur. Penelitian ini merupakan penelitian penciptaan seni, adapun metode penciptaan enggunakan konstruksi. Hasil penelitian berupa satu karya seni tari yang diberi judul Topeng Mbanmban. Proses konstruksi tari dilakukan dengan tahapan penggalian ide, eksplorasi, komposisi, dan perwujudan tari. Bentuk visual tari topeng Mbanmban dibangun melalui wujud topeng berwarna putih dengan bentuk wajah bulat, dengan ornamen rambut hitam disisir rapi di atas dahi, bentuk alis kecil yang bersambung antara alis kiri dan kanan. Bentuk hidung pesek bentuk mata kecil seperti kolikan, dan bentuk bibir senyum dengan mulut terkatup. Topeng ini dilengkapi dengan anting-anting kayu yang dibuat terpisah berbentuk seperti palu kecil. Disamping wujud topeng, pengembangan gerak tari juga diambil dari gaya gerak tokoh emban, seperti gaya jalan lembeyan, cara duduk, dan gerakan-gerakan ekspresi yang selalu muncul ketika dalang melakukan dialog. Elemen pendukung gaya gerak tari Topeng Mbanban ini adalah tata busana dengan pendekatan warna kuning kecoklatan dalam bentuk kebaya dan kain motif bledag. Penataan gending yang dinamis memperkuat wujud karakter tokoh emban yang endel.
Kreativitas dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Sebagai Strategi Pemasaran Kesenian Tradisional di Indonesia Eli Irawati
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Sendratasik FBS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v1n1.p1-8

Abstract

Pemberdayaan sumber daya manusia dalam kreativitas dan pemasaran memegang peranan penting ketika membahas praktik dan pengelolaan seni pertunjukan lokal-tradisional Indonesia. Pemberdayaan sumber daya manusia berlaku saat pengorganisasian atau produksi suatu seni pertunjukan sedangkan kreativitas yang menjadi salah satu tolak ukur menarik-tidaknya suatu karya seni dan akhirnya berpengaruh pada nilai jual karya itu. Aktivitas pemasaran akan mempertimbangkan hal-hal berupa produk apa yang ingin kita buat, berapa nilainya, bagaimana strategi/cara, dimana produk akan dipasarkan, dan siapa target dari produk yang akan dipasarkan. Produksi karya seni pertunjukan merupakan suatu kerja kolektif akan melibatkan berbagai dimensi pekerjaan dan tentunya harus ada sinergi antara œyang di depan layar dengan œyang di belakang layar, antara œyang dijual dan œyang menjual. Hal ini semestinya dipertimbangkan oleh para pengelola organisasi seni tradisional karena pengemasan pertunjukan yang tetap memaknai esensi kekhasan suatu kesenian tradisional, tentunya tidak terlepas dari sumber daya manusia yang handal dan kreatif dalam mengelola organisasi atau produksi seni pertunjukan lokal-tradisional. Sebaiknya tidak hanya terpaku pada individu yang tampil di panggung atau produknya saja, melainkan juga harus mempertimbangkan pentingnya individu-individu yang bekerja œdi belakang layar, yaitu divisi promosi/pemasaran dan sebagainya. Konsep mengenai kreativitas juga semestinya diterapkan diaplikasikan dalam strategi pemasaran produk tersebut. Sehingga suatu sajian multi aspek pertunjukan dapat diolah secara kreatif baik pada unsur utamanya maupun unsur-unsur pendukungnya.Keyword: kreativitas, pemberdayaan, sumber daya manusia, strategi pemasaran, kesenian tradisional.
ROKAT PANḌHÂBÂ SEBAGAI PERTUNJUKAN BUDAYA MASYARAKAT MADURA DI KABUPATEN SUMENEP Eko Wahyuni Rahayu; Wisma Nugraha Ch.R.; A.M Hermien Kusmayati
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Sendratasik FBS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v1n1.p9-22

Abstract

Rokat panḍhâbâ adalah ritual tradisi dalam kehidupan masyarakat Madura yang diselenggarakan bagi orang panḍhâbâ, yaitu orang-orang yang kelahirannya identik dengan pandawa (Jawa: wong sukerta). Dalam mitos masyarakat Madura, orang-orang yang termasuk dalam kategori orang panḍhâbâ diyakini dalam perjalanan kehidupannya akan mendapatkan kesialan atau tertimpa kemalangan. Rokat panḍhâbâ dilaksanakan pada intinya bertujuan untuk membebaskan orang panḍhâbâ dari ancaman yang dapat mengganggu kehidupan, baik kehidupan secara individu maupun keluarga. Tulisan ini akan mengungkap keunikan penyelenggaraan rokat panḍhâbâ sebagai peristiwa budaya masyarakat Madura khususnya di wilayah Kabupaten Sumenep. Hasil analisis menunjukkan, bahwa pelaksanaan rokat panḍhâbâ dalam tradisi masyarakat Madura di Sumenep dilakukan dengan rangkaian bermacam ritual dan perlengkapan sesaji baik berupa bahan-bahan makanan yang masih mentah, makanan siap saji, perlengkapan rumah tangga dan perlengkapan busana, serta menghadirkan seni pertunjukan sebagai sarana ritual utama. Adapun rangkaian kegiatan ritual secara inti meliputi empat tahap yaitu, (1) pergelaran topèng ḍhâlâng lakon Murwakala (Bathara Kala), (2) ritual bersuci, (3) ritual pembayaran ijab kabul, dan (4) ritual penebusan. Penyelenggaraan rokat panḍhâbâ dengan berbagai elemen pendukung dan segala tata cara pelaksanaannya merupakan gejala sosial atau sebuah peristiwa œpertunjukan atau lebih tepatnya sebagai œpertunjukan budaya sebagaimana yang terkonsepsikan oleh Milton Singer.Kata kunci: rokat panḍhâbâ, pertunjukan budaya, Madura.
KREATIVITAS PERTUNJUKAN TEK TOK DI PULAU BALI SEBAGAI DAYA TARIK PARIWISATA Ni Made Dian Widiastuti
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Sendratasik FBS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v1n1.p23-31

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang (1) struktur pertunjukan Tek Tok dalam pariwisata, (2) unsur kebaruan dalam Tari Tek Tok sebagai daya saing, (3) kostum dan properti Tari Tek Tok, (4) fungsi Tari Tek Tok, (5) Peran Tari Tek Tok bagi masyarakat, serta (6) nilai dalam pertunjukan Tek Tok. Metode yang dipergunakan adalah metode penelitian kualitatif, yaitu penelitian tentang risert yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan (observation), wawancara, teknik rekam dan mencatat. Hasil dari penelitian ini adalah (1) Tari Tek Tok terdiri dari 6 babak, (2) unsur kebaruan dalam Tari Tek Tok yaitu adanya penggunaan teknologi seperti api (fire) sebagai pendukung pertunjukan, tidak menggunakan instrumen musik tetapi menggunakan vokal, Tari Tek Tok menggabungkan antara perempuan dan laki-laki dalam pementasannya dan hanya menggunakan vokal œTek dan Tok, (3) tata rias dan busana (kostum) yang digunakan dalam Tek Tok berbeda-beda antara tokoh satu dengan yang lainnya, hal ini dilakukan untuk mengetahui karakter masing-masing tokoh. Properti yang digunakan antara lain gada, panah, api, dan dadu, (4) Tari Tek Tok berfungsi sebagai tari balih-balihan yang tidak ada kaitannya dengan agama, melainkan sebagai hiburan, (5) Tari Tek Tok berperan dalam industri pariwisata, penunjang ekonomi pelakunya, dan pengikat solidaritas seniman/masyarakat, (6) dalam pertunjukan Tek Tok terkandung nilai-nilai yang terdiri dari nilai kesetiaan, nilai pendidikan, serta nilai korban suci/ yadnya.Kata kunci: Tari Tek Tok, pariwisata, Bali
Transformasi Karakteristik Tokoh Gunungsari Pada Wayag Topeng Di Malang Jawa Timur Robby Hidajat
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Sendratasik FBS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v1n1.p32-38

Abstract

Penelitian ini mengarahkan secara khusus tentang transformasi karakter tokoh pada seni pertunjukan tradisional, mengingat kajian tentang transformasi karakter masih dibutuhkan pendalaman secara intensif, utamanya untuk kegiatan kreatif dan pengetahuan tentang identitas tokoh dalam sebuah lakon pertunjukan. Karakteristik tokoh pada seni pertunjukan wayang topeng di Malang Jawa Timur hingga saat ini masih belum dikaji secara mendalam. Beberapa tulisann hanya sebatas pada diskripsi informatif, utamanya yang dilakukan oleh para mahasiswa untuk penelitian skripsi. Penelitian menggunakan ancangan kualitatif dengan pendekatan transformasi. Data yang dikumpulan sepenuhnya berbasis pada keterangan berupa kata-kata hasil wawancara, sikap dan tindakan pelaku yang diamati dan dinterpertasikan maknanya,, dan kajian dokumen berupa foto dan literatur, baik yang berbentuk cetak atau catatan pribadi dari pelaku kesenian. Nara sumber kunci penelitian ini adalah Moch Soleh Adi Pramono (64 th) seorang dalang wayang topeng dari Tumpang, Kariyono (78 th.) penari anggota wayang topeng Karya Bakti dari Jabung (sekarang mendukung perkumpulan Dharmo Langgeng), dan Sumantri (63 th.) pengendang wayang topeng dan kompeser karawitan Malang. Analisis data menggunakan interpertasi dan hermeneutik. Hasil penelitian ini menunjukan (1) identitas tokoh Gunungsari, (2) kedudukan dan peran dalam lakon Panji, (3) karakteristik tokoh Gunungsari. Kesimpulan menunjukan tanda-tanda karakteristik Gunungsari merupakan transformasi dari Dewa Wisnu, yaitu sebagai pelindung, penjaga, dan memberikan berkah. Apabila diperhatikan melalui pertunjukan wayang purwa, Bethara Kresna (titisan Wisnu) selalu muncul menjadi pada bagian akhir pertunjukan, berfungsi sebagai tokoh pelerai. Tokoh yang mengatasi berbagai persoalan. Masing-masing tokoh yang bertikai dapat dikembalikan pada kedudukan semula, dan semuanya didoakan dengan dongo slamet tolak balakKata kunci: Transformasi, Karakteristik Tokoh, Wayang Topeng.
Tradisi Sastra Lisan Mamaca di Kabupaten Pamekasan Faizur Rifqi
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Sendratasik FBS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v1n1.p39-45

Abstract

Kehidupan seni pertunjukan tradisi lisan yang sehat pada hakikatnya ditandai oleh hubungan yang saling memerlukan antara seniman, pengamat seni/pendidikan, dan masyarakat penikmat. Akan tetapi, dalam kenyataannya, selain tidak mampu mempertahankan pelaku dan penikmatnya, seni tradidi kurang memiliki peluang untuk memberikan peningkatan yang bernilai ekonomi. Akibatnya perkembangan yang diharapkan menjadi terbatas, baik dalam hal perkembangan wujud dan wilayah persebaran. Tradisi sastra lisan Mamaca merupakan kesenian tradisional Madura yang memiliki keunikan dalam pertunjukannya. Dalam penyajiannya, sastra lisan Mamaca diiringi oleh seperangkat gamelan dan suling. Selain itu, keunikan dalam kesenian Mamaca ini terdapat pada bahasa yang digunakan yakni bahasa Jawa arab yang kemudian diterjemakan dalam bahasa Madura. Dalam kepercayaan masyarakat Madura,, tradisi sastra lisan Mamaca berfungsi sebagai sarana ritual sebagai penghilang sial dalam menjalani kehidupan, namun disamping itu kesenian Mamaca juga dijadikan sebagai sarana hiburan.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang mengungkapkan tentang pertunjukan kesenian Mamaca dalam rangkaian upacara ritual Rokat Pandhâbâ pada masyarakat di Pamekasan. Pandangan penelitian kualitatif bahwa gejala itu bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisah-pisahkan), sehingga peneliti kualitatif tidak akan menetapkan penelitiannya hanya berdas arkan variabel penelitian, tetapi keseluruhan situasi sosial yang diteliti yang meliputi aspek tempat (place), pelaku (actor) dan aktifitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis Hasil pembahasan dalam penelitian ini meliputi bentuk pertunjukan kesenian Mamaca, serta bentuk akulturasi kesenian Mamaca. Kesenian Mamaca difungsikan sebagai sarana upacara ritual ruwatan atau rokat (bahasa Madura) untuk menghilangkan sial bagi orang yang mendapat sebutan Pandhâbâ. Kitab atau Layang yang dibacakan dalam kesenian Mamaca bertuliskan bahasa Jawa Arab, namun kemudian ditafsirkan oleh panegghâs ke dalam bahasa Madura, sehingga akulturasi budaya Jawa, Arab, dan Madura sangat melekat di dalamnyaKata kunci: sastra lisan, fungsi pertunjukan, akulturasi budaya
SANGGAR TRAJUWENING: POSISI DAN PERAN EDUKATIFNYA TERHADAP PERKEMBANGAN WAYANG JEKDONG DI KABUPATEN GRESIK Andini Shinta Kurniawati
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Sendratasik FBS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v1n1.p46-52

Abstract

Wayang jek dong merupakan Wayang kulit gaya atau gagrak Jawa Timuran yang memiliki daerah persebaran terutama wilayah budaya arek. Masing-masing daerah tersebut memiliki upaya pelestarian dalam mengembangkan wayang jek dong, salah satunya di Kabupaten Gresik. Di Kabupaten Gresik tepatnya di Desa Kandangan Kecamatan Cerme terdapat sanggar kesenian yang dinamakan Trajuwening. Keberadaan Sanggar Trajuwening di Kabupaten Gresik sudah tidak diragukan lagi, lembaga kesenian yang bergerak di bidang seni pertunjukan wayang kulit khas Jawa Timuran atau Jek Dong tersebut sangat diperhitungkan, selalu berinovasi terhadap karya dan selalu konsisten menjaga kualitas dalam berproses kesenian. Pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah Bagaimana latar belakang berdirinya dan posisi Sanggar Trajuwening dalam perkembangan wayang jek dong di Kabupaten Gresik. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisa dan mendeskripsikan posisi dan peran edukatif sanggar trajuwening dalam perkembangan wayang jek dong di Kabupaten Gresik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan sumber data dari informan, peristiwa atau aktifitas, lokasi, kata-kata atau tindakan, sumber tertulis dan foto diperoleh dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa posisi Sanggar Trajuwening dewasa ini berada di tingkat tertinggi karena dianggap mampu bersaing dengan sanggar kesenian wayang kulit di daerah sekitarnya. Sedangkan peran edukatif yang dilakukan sanggar adalah mendukung dengan mencari jago atau mencari bibit-bibit sebagai generasi penerus seni karawitan dan pedalangan gagrak Jawa Timuran.Katakunci: Posisi, Peran Edukatif, Sanggar Trajuwening, Wayang Jek Dong
PERUBAHAN SISTEM ADAT PADA RITUAL ADAT SEBLANG DI DESA OLEHSARI, KECAMATAN GLAGAH, KABUPATEN BANYUWANGI Yolandha Intan Pranitisari
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Sendratasik FBS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v1n1.p53-60

Abstract

Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) Mendeskripsikan perubahan sistem adat pada ritual adat seblang saat ini di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, (2) Mendeskripsikan dampak dari perubahan sistem ritual adat seblang di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap pengumpulan data, tahap reduksi, tahap penyajian data, serta tahap penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber, dan triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) perubahan sistem adat seblang, yaitu pada penentuan hari pelaksanaan yang berubah karena saat ini ritual adat seblang di atur oleh Pemerintah Daerah Banyuwangi menjadi sajian pariwisata. Penentuan hari pelaksanaan tidak lagi ditentukan oleh Roh halus yang diyakini masyarakat Desa Olehsari, melainkan sudah dikelola oleh Pemerintah Daerah Banyuwnagi, (2) perubahan sistem adat pada ritual adat seblang dapat dilihat dari salah satu hal yang utama. Hal tersebut yakni, semakin berkurangnya pengetahuan masyarakat mengenai sistem adat yang pakem atau tidak boleh dilanggar karena adanya pengaruh birokrasi yang sudah mengatur jalannya ritual adat seblang menjadi sebuah sajian pariwisata. Dampak lainnya bisa dilihat sekarang ini, bahwa ritual adat seblang sudah banyak dikenali oleh masyarakat hampir seluruh kalangan di Banyuwangi. Pengaruh birokrasi juga memberikan dampak positif pada ritual adat seblang Olehsari, karena dengan adanya sajian pertunjukkan yang berbau pariwisata, akhirnya ritual adat seblang tidak di anggap primitif melainkan pertunjukkan modern yang sudah banyak dikenal masyarakat dan ramai dikunjungi oleh penonton termasuk wisatawan asing.Kata Kunci : Ritual adat seblang, perubahan sistem adat ritual adat seblang.
Monolog Musikal Pendekatan Teori dan Praktek Welly Welly Suryandoko
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Sendratasik FBS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v1n1.p61-65

Abstract

AbstrakMonolog musikal merupakan jenis pertunjukan teater monolog yang dimainkan oleh satu orang pemain dengan menggunakan teknik musikal dalam aspek pertujukannya. Praktik monolog ini memaksimalkan keaktoran dengan berbagai spektrum dalam pertunjukan monolog musikal. Keaktoran, menari, bernyanyi dan kemampuan musik. Konsentrasi aktor lebih kompleks pada jenis ini sebab selain kemampuan keaktoran yang kuat juga unsur penguat lain yang telah disebut diatas diolah dengan baik oleh aktor saat melakukan eksplorasi secara berkelanjutan. Tujuan kajian monolog musikal dengan pendekatan teori dan praktik ini agar penulis dapat mensekemakan secara teoritik dan praktik monolog musikal, sebagai jenis pertunjukan monolog yang tidak diperhatikan di Jawa Timur bahkan di Indonesia. Monolog musikal dikaji secara mendalam dalam sebuah pendekatan teoritik yang meliputi esensi monolog musikal, spektrum monolog musikal, dan naskah monolog musikal. Sedangkan, pendekatan praktek monolog musikal terdiri dari, aktor monolog dan keaktoran, aktor monolog dan nyanyian, dan aktor dan tarian. Dua dimensi pendekatan teori dan praktik monolog musikal ini melihat pada pertunjukan monolog musikal yang dilakukan oleh penulis pada pementasan monolog. Terdapat dua macam pertunjukan monolog musikal yang dikaji dalam pendekatan praktek monolog musikal ini yaitu monolog musikal berjudul Selamat Ulang Tahun dan Minto, keduanya merupkan karya naskah dan pertunjukan monolog musikal dipentaskan pada Tahun 2017 dan 2018. Hasil pada teori dan praktik monolog musikal melalui analisis mendalam terhadap dua karya tersebut menghasilkan pendekatan praktik yang tertuang diatas dengan melampirkan dokumentasi pertunjukan monolog musikal ini sebagai penguat kajian.Kata kunci: monolog musikal, teori, praktik

Page 8 of 19 | Total Record : 189