cover
Contact Name
Adhitya Yudha Pradhana
Contact Email
buletinpalma@gmail.com
Phone
+62431-812430
Journal Mail Official
buletinpalma@gmail.com
Editorial Address
Jalan Raya Mapanget, Manado 95001
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Buletin Palma
ISSN : 1979679X     EISSN : 25287141     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palma memuat artikel hasil-hasil penelitian kelapa dan palma lainnya. GENERAL REQUIREMENTS Bulletin of Palma is a peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research finding on coconut and other palm research results. SCOPE Scope of Bulletin of Palma are: 1. Scope of science: Agricultural Microbiology, Agricultural Socio-Economics, Agronomy, Bioetechnology, Plant Breeding, Plant pathology, Plant Protection, Plant Physiology, Soil Science, Seed Technology, Primary Post Harvest, Climate science, Genetic resources, Entomology,Farming system, Environment, Agricultural extension 2. Scope of commodities : spice, medicinal, aromatic and industrial crops The journal publishes Indonesian or English articles.
Articles 220 Documents
Serangan Cendawan Sclerotium rolfsii Pada Beberapa Varietas Kedelai yang Ditanam di Beberapa Sistem Tanam Kelapa / Damage of Sclerotium rolfsii Fungus on Saveral Varieties of Soybean Planting Under Coconut Palm A. A. Lolong; Salim Salim; N. L. Barri
Buletin Palma Vol 17, No 2 (2016): Desember, 2016
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (863.654 KB) | DOI: 10.21082/bp.v17n2.2016.139-146

Abstract

Patogen of Sclerotium rolfsii  caused of stem blight disease as a major disease of the soyabean plant because of the dead soyabean plant and spread very fast. This study aims to determine the soybean stem blight disease at three cropping (planting distance), namely coconut planting distance 5 x 12 m, 5 x 16 m and open area. The study was conducted using a randomized block design with 3 x 3 factorial experiments with three replications and using of two factors. Each replication consists of 555 trees of soybeans so that the number of plants observed as many as 14.985 tree of soybeans. The first factor is planting distance (A) consisting of three treatments, namely an open area (A0), the planting distance of 5 x 16 m (A1), the planting distance of 5 x 12 m (A2) and the second factor is soybean varieties (B) consists of varieties Kaba (B0), Wilis (B1) and Sinabung (B2). Observations were made each week with a seven-week long observation. Laboratory observations include for color and form of colonies, form of sclerotia. Field observations include the number of diseased plants (%) and symptoms that appear in the diseased plants. The results showed that the soybean stem blight disease really caused by the fungus of S. rolfsii. The symptom with wilting and fungus white hyfa growth at the soybean stem under the soil. The fungus pathogen of S. rolfsii attack the soybean plants grown in the open area and planted as an intercrop under the coconut. The highest attacking was found incoconut planting distance 5 x 12 m compared with a spacing of 16 m x 5 coconut and open area. The level of attacks on soybean varieties Sinabung, Kaba and Wilis are respectively 21.75%, 20.77% and 19.77%. The lowest rate attacking was found is Kaba varieties (5,31%) planted on open area. Future research is needed to select soybean varieties that suitable under coconut.ABSTRAKPatogen Sclerotium rolfsii penyebab penyakit hawar batang kedelai merupakan penyakit penting tanaman kedelai karena serangannya mengakibatkan tanaman mati dan penyebarannya sangat cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat serangan penyakit hawar batang pada tanaman kedelai yang ditanam pada tiga pola tanam (jarak tanam ) kelapa yaitu jarak tanam 5 x 12 m, 5 x 16 m dan areal terbuka. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak  Kelompok (RAK) dengan percobaan   faktorial  3 x 3, dengan  menggunakan dua faktor,faktor pertama adalah jarak tanam kelapa (A)  terdiri atas 3 perlakuan yaitu  lahan terbuka (A0), jarak tanam 5 x 16 m (A1), jarak tanam 5 x 12 m (A2) dan  Faktor kedua   adalah varietas kedelai (B) terdiri atas varietas Kaba (B0), varietas Wilis (B1) dan varietas Sinabung (B2) dengan tiga ulangan. Setiap ulangan terdapat 555 tanaman kedelai yang  diamati sehingga total tanaman yang diamati adalah 14.985 tanaman.  Pengamatan dilakukan setiap minggu dengan lama pengamatan selama tujuh minggu dan meliputi pengamatan laboratorium mencakup warna koloni, bentuk koloni,  dan bentuk  perkecambahan sklerotia. Pengamatan lapangan mencakup jumlah tanaman sakit (%) dan gejala yang muncul pada tanaman sakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit yang menyerang tanaman kedelai adalah penyakit hawar batang kedelai yang disebabkan oleh cendawan Sclerotium rolfsii. Gejala nampak layu dengan  hifa yang berwarna putih halus seperti rambut pada batang dekat dengan tanah. Serangan terjadi pada  tanaman kedelai yang ditanam pada areal terbuka dan yang ditanam sebagai tumpangsari dibawah kelapa. Serangan tertinggi terdapat pada jarak tanam kelapa 5 x 12 m dibandingkan dengan jarak tanam kelapa 5 x 16 m dan lahan terbuka. Tingkat serangan pada varitas kedelai Sinabung, Kaba dan Wilis berturut-turut sebasar 21,75%, 20,77% dan 19,77%. Lahan terbuka tingkat serangan terendah ditemukan pada varietas Kaba, yaitu 5,31%. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk seleksi varietas kedelai yang lebih sesuai di bawah kelapa.
Pengaruh Pemupukan Nitrogen dan Pemangkasan Terhadap Karakter Morfologi Tanaman Sagu (Metroxylon sago Rottb.) ENGELBERT MANAROINSONG; M.H. BINTORO; DWI ASMONO
Buletin Palma Vol 14, No 2 (2013): Vol. 14 No. 2, Desember 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.764 KB) | DOI: 10.21082/bp.v14n2.2013.109-116

Abstract

Nitrogen merupakan salah satu unsur esensial yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pemangkasan pada tanaman sagu selain mengatur jumlah anakan, juga untuk mengurangi kompetisi tanaman mendapatkan unsur hara, cahaya matahari dan untuk menjaga ruang tumbuh tanaman. Penelitian bertujuan untuk mempelajari per-tumbuhan sagu, akibat pemberian pupuk nitrogen dan pemangkasan. Penelitian dilakukan dalam bentuk percobaan faktorial petak terbagi menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Petak utama adalah pemangkasan dengan dua taraf, yaitu (1) pemangkasan dan (2) tanpa pemangkasan. Anak petak adalah dosis pupuk N (urea) rumpun-1 yang terdiri atas empat taraf, yaitu 0 g, 405 g, 810 g, dan 1215 g. Aplikasi pemangkasan dan pemupukan dilakukan tiga kali setahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk nitrogen dan pemangkasan tidak meningkatkan jumlah daun tanaman induk, tetapi meningkatkan jumlah daun anakan sagu. Peningkatan jumlah daun pada anakan dengan pemangkasan secara nyata mulai terlihat pada 9 BSP dan dosis nitrogen pada 7 BSP. Pemangkasan dan pemupukan nitrogen menghasilkan pertambahan daun baru anakan yang dipelihara pada 3 BSP dan 5 BSP. Pemberian pupuk nitrogen meningkatkan kandungan hara nitrogen daun, indeks hijau daun dan kerapatan stomata pada anakan sagu yang dipelihara. Pemangkasan pada anakan yang tidak diinginkan menurunkan jumlah daun, tinggi anakan, biomasa dan persentase hidup anakan. Kata kunci : Tanaman induk, anakan sagu, jumlah pelepah, kandungan nitrogen daun, indeks hijau daun, kerapatan stomata.ABSTRACTEffect Nitrogen Fertilization and Pruning to Ward the Morphology Characters of Sago Palm Metroxylon sago Rottb)Nitrogen is one of essential elements that needed for plant growth and development. Pruning of sago palm aims to regulate the competition between crop plants in terms of nutients and solar radiation, and also to maintain the space for crop plants growth. The objective of this research was to studied the growth of sago due to nitrogen fertilizer and pruning application. The research conducted in the form of split plot design using randomized block design (RBD) with three replicates. The main plot is the pruning application with two levels, that is pruning and without pruning. Sub plot is the nitrogen (urea) fertilizer dosages clump-1 (g clump-1) that consist of four levels; 0 g, 405 g, 810 g and 1215 g. Pruning and fertilizer applications conducted the three times of the year. The result showed that N fertilizer (urea) and pruning does not increase the number of leaves of the mother palm, but increase the number of leaves of sago suckers. Pruning and N fertilizer create a new leaf of sago sucker at 3 and 5 months after application Nitrogen fertilizer application increase the nutrient content of the leaves, leaf green index, and stomatal density of wanted sago sucker. Prunning the unwanted sucker decrease the number of leaves, plant height, biomass and percentage of life of the sucker.
Teknik Budidaya dan Rehabilitasi Tanaman Aren Maliangkay Ronny Bernhard
Buletin Palma No 33 (2007): Desember, 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.971 KB) | DOI: 10.21082/bp.v0n33.2007.67-77

Abstract

Permasalahan pokok tanamaan aren saat ini, yaitu pada umumnya belum dibudidayakan sehingga produktivitas tanaman rendah dan dikuatirkan populasi tanaman makin menurun. Mengingat tanaman aren memiliki fungsi ekonomi, sosial, budaya dan konservasi adalah bijaksana bila dilakukan pembudidayaan aren dan rehabilitasi tanaman yang tumbuh alami dan tidak beraturan agar dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Tindakan budidaya aren yang perlu diperhatikan mencakup persyaratan iklim dan tanah, penentuan pohon induk sebagai sumber benih, teknik persemaian dan pembibitan, penanaman dan pemeliharaan tanaman, sedangkan rehabilitasi adalah mengatur jarak tanam atau penjarangan dan mengganti tanaman tidak produktif, untuk meningkatkan produktivitas lahan, kontiunitas produksi dan pendapatan petani.
Dampak Kelangkaan Tenaga Kerja Pengolahan Kelapa Terhadap Pendapatan Petani dan Tenaga Kerja di Minahasa Tenggara [The Impact of Lack of Coconut Processing Labour on the Income of Farmers and Labour in Southeast Minahasa] Nelson H. Kario
Buletin Palma Vol 17, No 1 (2016): Juni, 2016
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.168 KB) | DOI: 10.21082/bp.v17n1.2016.79-87

Abstract

Coconut is one of the important estate crops in Southeast Minahasa district. However, the development of coconut farming process in the district has problem on the insuffiency of labor. The purpose of this study was to: a) know the labor wage system in coconut processing to copra, and b)  impact of lack of labour in coconut processing to copra on the income of the farmers and labour. The research was carried out as a case study in coconut production center in Liwutung I village, Pasan Subdistrict,  Southeast Minahasa district from August to October 2013. Twenty farmers involved in coconut processing were interviewed to collect primary data.  Secondary data were collected from local goverments. Primary data includes use of equipments and materials during copra processing time, purchase of  staple food for consumption and supporting the work during harvest season. The collected data were analyzed descriptively. The results showed that the labour wage system  in coconut processing to copra were either managed by the owner or by the workers with proportion based on agreement made by the two parties. Labor shortages had led to the decrease of farmer’s income from Rp. 1,539,682 to Rp. 1,053,435 (31.58 %) and the increase of labour income from Rp. 230,955 (negative) to Rp. 657,687 (210,53%). Labor shortages have negative effects on farmers' income but positive impact on the labour. ABSTRAKKelapa merupakan  salah satu komoditas tanaman perkebunan yang sangat penting di Kabupaten Minahasa Tenggara.  Namun, perkembangan usahatani kelapa akhir-akhir ini mengalami  masalah  kelangkaan tenaga kerja.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :  (a)  sistem pengupahan tenaga kerja pada usaha pengolahan kelapa menjadi kopra, dan (b) dampak kelangkaan tenaga kerja pengolahan kelapa menjadi kopra terhadap pendapatan petani dan tenaga kerja. Penelitian ini merupakan studi kasus di Desa Liwutung I Kecamatan Pasan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus sampai Oktober 2013 dengan mewawancarai 20 petani kelapa sebagai responden. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan sekunder. Data  primer  meliputi  belanja bahan pokok untuk konsumsi maupun menunjang pekerjaan selama kegiatan panen berlangsung, upah tenaga kerja dan lain lain, sedangkan data sekunder diperoleh dari dinas atau aparat terkait. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sistem pengupahan tenaga kerja usaha pengolahan kelapa menjadi kopra berdasarkan sumber pembiayaan terbagi dua yaitu ditanggung pemilik kebun dan tenaga kerja dengan proporsi pembagian hasil yang disesuaikan.   Kelangkaan tenaga kerja menurunkan penerimaan petani dari  Rp. 1.539.682 menjadi Rp. 1.053.435 atau menurun sebesar 31,58 persen dan meningkatkan penerimaan tenaga kerja dari Rp. 230.955 (negatif) menjadi Rp. 255.272 atau meningkat sebesar  210,53 persen.  Kelangkaan tenaga kerja memberikan dampak yang negatif terhadap pendapatan petani namun positif terhadap tenaga kerja
Respon Pertumbuhan Bibit Kelapa Genjah Terhadap Berbagai Dosis Pupuk Organik [The Response of Dwarf Coconut Seedling Growth on the Different Dose of Organic Fertilizer] Alfred Pahala Manambangtua, SP; Linda Trivana; Yulianus Rompah Matana
Buletin Palma Vol 19, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.564 KB) | DOI: 10.21082/bp.v19n1.2018.47-56

Abstract

One of the way to reduce the negative impact of the use of inorganic fertilizer is the using of organic fertilizer. Organic fertilizer in compsted form of compos has an important role in the improvement of chemical, physical, and biological of the soil and as a source plants nutriens. The organic fertilizer used in this research comes from coconut coir dust and composting of goat manure. Dust husk contains nutrient elements such as N, P, K, Ca, Fe, Mg, Na, Mn, Cu, Zn and Al. Goat manure contains relatively high nutrients because the goat muck is mixed with urine which also contains nutrients. Coir dust is a waste of coconut fiber. This research aims to determine the response of seedling growth of coconut seedling to organic fertilization. The research was conducted at Greenhouse, Indonesian Palma Plant Research Institute, from September to March 2017. The research used Completely Randomized Design (RAL) with five treatments and six replications to obtain 30 experimental units. The treatment tested was the dosage of organic fertilizer seedlings, consisting of no organic fertilizer (control), 250 g organic fertilizer, 500 g organic fertilizer, organic fertilizer 750 g, organic fertilizer 1.000 g. Organic fertilizer gives a real effect on plant height, stem circumference, and the content of K elements in the plant tissue. However, organic fertilizer fertilization does not affect for the number of leaves, root dry weight, dry weight of stem, the content of N and P elements in plants significantly. The use of organic fertilizer on coconut seeds can reduce the cost of fertilization using inorganic fertilizers and improve soil structure.ABSTRAKSalah satu cara untuk mengurangi dampak negatif dari penggunaan pupuk anorganik adalah penggunaan pupuk organik. Pupuk organik dalam bentuk yang telah dikomposkan berperan penting dalam perbaikan sifat kimia, fisika, dan biologi tanah serta sebagai sumber nutrisi tanaman. Pupuk organik yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari debu sabut kelapa dan pengomposan kotoran kambing. Debu sabut mengandung unsur hara seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe, Na, Mn, Cu, Zn, dan Al. Kotoran kambing mengandung unsur hara yang relatif tinggi karena kotoran kambing tercampur urine yang juga mengandung nutrisi. Debu sabut merupakan limbah dari penyeratan sabut kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit kelapa genjah terhadap pemupukan organik. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca, Balai Penelitian Tanaman Palma, Manado dari bulan September-Maret 2017. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan enam ulangan sehingga diperoleh 30 satuan percobaan. Perlakuan yang diuji adalah dosis pupuk organik perbibit, yang terdiri atas tanpa pemberian pupuk organik (kontrol), pupuk organik 250 g, pupuk organik 500 g, pupuk organik 750 g, pupuk organik 1.000 g. Pemberian pupuk organik memberi pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, lingkar batang, dan kandungan unsur K dalam jaringan tanaman. Namun pemupukan pupuk organik tidak mempengaruhi untuk jumlah daun, berat kering akar, berat kering batang, kandungan unsur N dan P pada tanaman secara nyata. Penggunaan pupuk organik pada bibit kelapa dapat mengurangi biaya pemupukan menggunakan pupuk anorganik dan memperbaiki struktur tanah.   
Analisis Heritabilitas dan Sidik Lintas Karakter Vegetatif dan Generatif . MIFTAHORRACHMAN; EMY SULISTYOWATI
Buletin Palma Vol 16, No 1 (2015): Juni, 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.809 KB) | DOI: 10.21082/bp.v16n1.2015.93-103

Abstract

ABSTRAK Keragaman komponen seleksi yang berpengaruh terhadap kecepatan berbunga dan produksi buah kelapa Genjah Salak belum banyak diketahui. Penelitian bertujuan mendapatkan metode penyerbukan dalam peningkatan produktivitas kelapa Genjah Salak dengan menghitung heritabilitas tiga belas karakter vegetatif dan generatif yang berkaitan langsung atau tidak langsung dengan produksi buah. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Paniki, Manado, Sulawesi Utara, dari 2011 sampai 2014, menggunakan rancangan acak kelompok, tiga perlakuan dan empat ulangan.  Perlakuan terdiri atas tiga sistem penyerbukan, yaitu penyerbukan sendiri (full sib), penyerbukan terkendali (half sib) dan penyerbukan alami (open pollination). Tiga belas karakter yang diukur adalah tinggi batang, lingkar batang, jumlah bekas daun, jumlah daun, panjang daun, panjang petiole, jumlah anak daun, panjang anak daun, jumlah tandan, jumlah spikelet, jumlah bunga betina, kecepatan berbunga, dan jumlah buah per tandan. Analisis heritabilitas menggunakan rumus Singh dan Chaudary. Analisis sidik lintas mengacu pada metoda matriks Singh dan Chaudary. Kelapa Genjah Salak dengan sistem penyerbukan sendiri memiliki waktu berbunga 34,74 bulan dan tinggi batang 51,75 cm, lebih baik dibandingkan dengan kelapa Genjah Salak yang menyerbuk terkendali (waktu berbunga 35,99 bulan; tinggi batang 52,51 cm) dan penyerbukan alami (waktu berbunga 36 bulan; tinggi batang 56,76 cm). Nilai heritabilitas pada kelapa Genjah Salak menyerbuk sendiri yang berkorelasi langsung dengan karakter hasil adalah tinggi batang (r = 0,383; h2 = 84,0%), jumlah bekas daun (r = 0,442; h2 = 63,0 %), dan jumlah bunga betina (r = 0,344; h2 = 75,0%).  Metode terbaik untuk meningkatkan produk- tivitas kelapa Genjah Salak adalah dengan sistem penyerbukan sendiri karena memiliki nilai heritabilitas tinggi dan berkorelasi langsung dengan karakter hasil.Kata kunci: Heritabilitas, koefisien sidik lintas, sistim penyerbukan, kelapa Genjah Salak. Heritability and Path Analysis on Vegetative and Generative Characters of Salak Dwarf Coconut Generated from Three Pollination System  ABSTRACT The diversity of Salak Dwarf components that can be used as a criterion of selection affecting the rate of flowering and yield have not been investigated. The research aims to obtain the best method of pollination in improvement of Salak dwarf coconut productivity by calculating the heritability of thirteen vegetative and generative characters. Twelve characters attributed to the production of fruits were investigated.  The research was arranged in a randomized block design with three pollination system as the treatments, four replications, conducted at the Paniki Experimental Garden, North Sulawesi, from 2011 until 2014.  Treatments consisted of self-pollination system (full sib), controlled pollination system (half sib) and open pollination system. Thirteen characters measured were stem height, girth of stem, number of leaf scars, number of leaves, leaf length, petiole length, number of leaflets, length of leaflet, number of bunches, number of spikelet, number of female flowers, day of flowering, and number of fruit per bunch. Analysis of heritability using the formula of Singh and Chaudary. Path coefficient analysis using matrix model by Shing and Chaudary. Salak dwarf coconut with self-pollination system has better effect of  rate of flowering (34.74 month), and height of stem (51.75 cm) compared to the salak dwarf coconut with controlled pollination (rate of flowering 35.99 months; height of stem 52.51 cm) and Salak dwarf coconut with open pollination (rate flowering 36 months; height of stem 56.76 cm). To improve the productivity of Salak dwarf coconut, the best method of pollination is self-pollinated.  Heritability value on self-pollinate of Salak dwarf coconut which correlates directly with the character of yield was the height of stem (r =0.383; h2=84.0%),  the number of leafscars (r =0.442; h2=63.0%), and the number of female flowers (r =0344; h2=75.0%). The best method to increase the productivity of Salak dwarf coconut through self pollination since it has high heritability values and correlates directly with the character of yield.Keywords : Heritability, coefficient of path analysis, pollination systems, salak dwarf coconut.
Analisis Fungsi Produksi Usahatani Kelapa dan Respon Petani Kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir SABARMAN DAMANIK; DEDI SOLEH EFFENDI
Buletin Palma No 36 (2009): Juni, 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.329 KB) | DOI: 10.21082/bp.v0n36.2009.62-75

Abstract

Production Function Analysis of Coconut Farming System and Coconut Farmers Respose in Indragiri Hilir DistrictThe research is conducted in sub-district Tempuling, Indragiri Hilir, Riau Province for two years February 2004 - February 2006). Technical aspect, economy and social data are taken from 120 coconut base farming community based organization program participant. Farming system analysis is conducted using sutvey method by preparing question-list for the farmers that are participating in Community Base Orga-nization (CBO). The objectives of this research and the interview to 20 farmer respondent are done using random sampling from 120 farmer that are participating in CBO. The objectives of this research are to analyse the functional form ofcoconut farming production and find out farmers response on coconut farming in community base organi-zation. Methodology of this research are production function translog and response analysis. Parameters that being observed are the amount of production, seeds, vertilizer and labor. Typically for response analysis the parameters being observed are income, wide farm, education and participation in CBO group. The result of production function analysis with three input factors (seed, vertilizer and labor) showed that farmer position as aproducer is at increasing return to scale condition which mean that the use of seeds, vertilizers and labors still can be increase to reach maximum profitability. By that result it is still possible to add more input factor. Average elasticity coefficient number for seed is 0.5323, vertilizer input 0.0148 and labor input 4.377. The best elasticity coefficient number is from labor input which indicate for every labor addition will increased production level equal to 0.83 percent. For farmer level of respon to CBO base farming program are affected by level of income and available labors. The higher income and labors level will make the farmer more active in participating CBO based= coconut farming program which will automatically increase the coconut crop production and quality.
Varietas Unggul Sagu Selatpanjang Meranti HENGKY NOVARIANTO; MEITY A. TULALO; JEANETTE KUMAUNANG; CHANDRA INDRAWANTO
Buletin Palma Vol 15, No 1 (2014): Juni, 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.429 KB) | DOI: 10.21082/bp.v15n1.2014.47-55

Abstract

Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau merupakan salah satu daerah penghasil pati sagu utama di Indonesia. Luas tanaman sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti adalah 50.000 ha. Penelitian sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti dilakukan sejak tahun 2011-2013. Tujuan penelitian untuk mengetahui potensi produksi pati sagu lokal. Metode penelitian menggunakan observasi langsung populasi sagu di Pulau Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti. Lokasi penelitian di Kecamatan Tebing Tinggi Barat dan Kecamatan Tebing Tinggi Timur. Rancangan pengujian dengan menetapkan populasi sagu contoh, pohon sagu contoh, dan diamati karakteristik morfologi serta produksi pati dan analisis proksimat pati sagu serta analisis tanah tempat tumbuh sagu. Hasil penelitian jenis-jenis sagu yang tumbuh di Kabupaten Kepulauan Meranti ditemukan tiga aksesi sagu, yaitu Sagu Duri, sagu tidak berduri (sagu Bemban), dan sagu berduri jarang (sagu Sangka). Dari ketiga jenis sagu ini ternyata penyebaran terluas dan terbanyak diolah masyarakat adalah jenis sagu Duri. Hasil penelitian pada jenis sagu Duri di tiga lokasi berbeda selama tiga tahun memperlihatkan bahwa produksi pati sagu beragam antara 134,53 kg – 354,61 kg pati sagu kering/pohon, dengan rata-rata produksi 226,34 (+ 56,03) kg/pohon. Dari tiga lokasi sagu yang diteliti diketahui bahwa populasi sagu di Desa Darul Takzim, Kecamatan Tebing Tinggi Barat, secara umum produktivitas pati sagunya lebih tinggi dibandingkan dengan populasi sagu di Desa Sungai Tohor dan Desa Tanjung. Hasil analisis proksimat memperlihatkan bahwa pati sagu Selatpanjang memiliki kandungan karbohidrat 88,19%, dengan kadar air 10,36%. Kata kunci : Sagu, aksesi, karakter vegetatif, pati sagu, proksimat, varietas unggul.ABSTRACTSuperior Variety Sago Selatpanjang MerantiMeranti Islands Regency, Riau Province is one of the main producing areas of sago starch in Indonesia. Sago palm area in Meranti Islands Regency is 50,000 ha. Research sago in Meranti Islands Regency conducted since 2011-2013. The purpose of the research is to know the starch yield potential of local sago. The method used was direct observation in the Tebing Tinggi island population sago, Meranti Islands Regency. Location of the study in the district of West and East Tebing Tinggi . The observation were done on morphological characteristics and production of sago starch. The other data that observed were sago starch proximate analysis and the analysis of soil where sago grows. The research results on sago variety at Meranti Islands Regency were found three accessions sago, such as Spiny sago, Unspiny sago (sago Bemban), and rarely spiny sago (sago Sangka). Spiny Sago was found spread widest and most cultivated. The results of research on the spiny sago in three different locations over three years showed that sago starch production varied between 134.53 kg - 354.61 kg of dry sago starch /tree, with an average production of 226.34 ( + 56.03 ) kg/tree. Productivity of population Sago in the village of Darul Takzim, District Tebing Tinggi West, was known contain starch higher than sago population in the village of Sungai Tohor and Tanjung. The results of the proximate analysis showed that sago starch of Selatpanjang variety (spiny sago) has 88.19 % carbohydrate , with a water content of 10.36%.
Pengaruh Ukuran Anakan Terhadap Pertumbuhan Bibit Sagu Ronny Bernhard Maliangkay; Nurhaini Mashud; Engelbert Manaroinsong; Yulianus Matana
Buletin Palma No 34 (2008): Juni, 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.211 KB) | DOI: 10.21082/bp.v0n34.2008.%p

Abstract

Salah satu masalah yang dihadapi dalam pengembangan sagu adalah penyediaan bibit dalam jumlah yang banyak. Untuk mendapatkan bibit-bibit tersebut, ukuran anakan sagu akan dijadikan bibit perlu diketahui. Oleh karena itu, telah dilakukan penelitian pengaruh ukuran anakan terhadap pertumbuhan bibit, di desa Tatengesan, Kecamatan Pusomaen, Kabupaten Minahasa Tenggara, Propinsi Sulawesi Utara pada bulan April sampai Juni tahun 2007. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan ukuran anakan sagu yang memiliki daya tumbuh yang tinggi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang dicoba adalah ukuran anakan sagu, yang terdiri atas         (1) ukuran besar (3.1 kg – 5. kg), (2) ukuran sedang (2.1 kg – 3,0 kg) dan (3) ukuran kecil (0.5 kg – 2 kg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa anakan sagu berukuran sedang memiliki daya tumbuh yang tinggi dari pada anakan berukuran besar dan kecil.
Pengaruh Peningkatan Dosis Abu Pengasapan Kopra dan Pengurangan Dosis Pupuk Kalium Terhadap Produksi Ubi Jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam.) J.M. PAULUS; B.R.A. SUMAYKU; R. MEDLAMA
Buletin Palma Vol 13, No 1 (2012): Juni, 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.537 KB) | DOI: 10.21082/bp.v13n1.2012.27-31

Abstract

Nitrogen fosfor dan kalium, merupakan hara makro yang mutlak diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman ubi jalar. Untuk kalium paling banyak dibutuhkan karena berperan penting dalam meningkatkan aktifitas fotosintesis terutama pada periode pembentukan ubi. Abu pengasapan kopra mengandung unsure hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman antara lain kalium. Penelitian ini bertujuan untuk mensubtitusi pupuk kalium anorganik dengan abu pengasapan kopra sebagai sumber kalium organik untuk meningkatkan produksi ubi jalar. Percobaan dilaksanakan di Kelurahan Maesa, Kecamatan Tondano Kabupaten Minahasa, selama 4 bulan pada tahun 2010. Variabel yang diamati, meliputi jumlah ubi/tanaman, jumlah ubi/plot, berat ubi/ tanaman, dan berat ubi/plot. Data dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa abu pengasapan kopra sebagai sumber kalium organik dapat mensubstitusi peranan kalium anorganik terhadap produksi ubi jalar. Dari hasil penelitian ini disarankan kepada petani khususnya di Sulawesi Utara sebagai daerah penghasil kopra, untuk memanfaatkan limbah abu pengasapan kopra dalam budidaya ubi jalar karena harga pupuk kimia di pasaran yang semakin mahal dan juga untuk menunjang penerapan sistem pertanian organik. Kata kunci : Ubi jalar, abu pengasapan kopra, organik.ABSTRACTInfluence of Increasing Copra Ash Remaining Dosage and Decreasing Potassium Fertilizer Dosage on Sweet Potato (Ipomoea batatas (L.) Lam.) ProductionNitrogen, phosphor and potassium are macro essential nutrient for the growth and development of sweet potato. Potassium is needed for the most important role in enhancing the photosynthetic activity, especially in the period of tuber formation. Copra ash remaining contains macro and micro nutrients needed by plants such as potassium. This research aimed to substitute inorganic potassium fertilizer with copra ash remaining as a source of organic potassium to increase sweet potato production. The experiments conducted in the Village Maesa, Tondano District Minahasa regency, during four months in 2010. Observed variables, including the number of tubersplant, number of tubersplot, the weight of tubers/plant and weight of tubers/plot. Data were analyzed using analysis of variance. Results showed that copra ash remaining as a source of organic potassium could substitute the role of inorganic potassium on sweet potato production. From the results of this study was suggest to farmers, especially in North Sulawesi as copra-producing areas to utilize the waste ash in the cultivation of sweet potato, considering the price of chemical fertilizers on the market was getting higher and also to support the implementation of organic farming systems.

Page 2 of 22 | Total Record : 220