cover
Contact Name
Adhitya Yudha Pradhana
Contact Email
buletinpalma@gmail.com
Phone
+62431-812430
Journal Mail Official
buletinpalma@gmail.com
Editorial Address
Jalan Raya Mapanget, Manado 95001
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Buletin Palma
ISSN : 1979679X     EISSN : 25287141     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palma memuat artikel hasil-hasil penelitian kelapa dan palma lainnya. GENERAL REQUIREMENTS Bulletin of Palma is a peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research finding on coconut and other palm research results. SCOPE Scope of Bulletin of Palma are: 1. Scope of science: Agricultural Microbiology, Agricultural Socio-Economics, Agronomy, Bioetechnology, Plant Breeding, Plant pathology, Plant Protection, Plant Physiology, Soil Science, Seed Technology, Primary Post Harvest, Climate science, Genetic resources, Entomology,Farming system, Environment, Agricultural extension 2. Scope of commodities : spice, medicinal, aromatic and industrial crops The journal publishes Indonesian or English articles.
Articles 220 Documents
Optimasi Produksi Virgin Coconut Oil dengan Metode Direct Micro Expelling [Production Optimization of Virgin Coconut Oil by Direct Micro Expelling Method] Adhitya Yudha Pradhana; Ismail Maskromo; Nugroho Utomo; Engelbert Manaroinsong; Steivie Karouw; Rindengan Barlina
Buletin Palma Vol 20, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v20n2.2019.91-99

Abstract

Virgin Coconut Oil (VCO) production with dry extraction oils such as copra is time consuming and resulting in quality. The purpose of this study was to optimize the production of VCO using the Direct Micro Expelling-Flat Bed Dried (DME-FBD) method. This research was carried out at the Indonesian Palm Crops Research Institute (IPCRI) on January - March 2019 in the coconut processing unit of the postharvest laboratory using two coconut varieties, namely Mapanget Tall (MTT) and Salak Green Dwarf (SGD), each with 10, 11, and 12 months harvest period. The experimental design used a Completely Randomized Design (CRD) with 3 repetition. The results showed that the yield of VCO oil from coconut 11 months old of MTT was 18.39% (16 nuts/L VCO) with optimum DME-FBD temperature of approximately 40-88°C on plate and 36–72°C on grated coconut meat. VCO obtained from MTT coconut has a quality of 0.07% water content, free fatty acid 0,0017%, fresh aroma coconut, non-rancid with a value of 4.50, a distinctive of coconut oil taste of 4.10, and clear color of 4.30 accordingly with SNI 7381: 2008 and export quality requirements of APCC. Almost the same quality was obtained from SGD coconut with 11 months of harvest with a water content of 0.06%, free fatty acids 0.0018%, a fresh aroma of coconut with a value of 4.30, a distinctive of coconut oil taste of 4.00, and clear color 4.10.ABSTRAKProduksi Virgin Coconut Oil (VCO) dengan ekstraksi kering seperti kopra membutuhkan waktu lama dan metode yang digunakan kurang optimal. Tujuan penelitian adalah untuk melakukan optimasi produksi VCO dengan menggunakan metode Direct Micro Expelling-Flat Bed Dried (DME-FBD). Penelitian dilakukan pada bulan Januari-Maret 2019 di unit pengolahan kelapa laboratorium pascapanen, Balai Penelitian Tanaman Palma menggunakan dua varietas kelapa, yaitu kelapa Dalam Mapanget (DMT) dan kelapa Genjah Salak (GSK), masing-masing dengan umur panen 10, 11, dan 12 bulan. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan rendemen minyak VCO tertinggi dari kelapa DMT umur 11 bulan, sebesar 18,39% (16 butir/L VCO) dengan suhu optimum sekitar 40-88°C di pelat dan 35-72°C pada kelapa parut, sedangkan rendemen VCO kelapa GSK umur 11 bulan sebesar 16,38%, tetapi dengan jumlah buah 26 butir untuk mendapatkan 1 liter VCO, dengan suhu optimum sekitar 42-94°C di pelat dan 36-72°C pada kelapa parut. VCO yang diperoleh dari kelapa DMT mempunyai kualitas kadar air 0,07%, asam lemak bebas 0,0017%, aroma khas kelapa segar, tidak tengik dengan nilai 4,50, rasa normal, khas minyak kelapa 4,10, dan warna jernih 4,30 yang sesuai dengan SNI 7381:2008 dan syarat mutu ekspor APCC. Kualitas yang hampir sama diperoleh dari kelapa GSK dengan umur panen 11 bulan dihasilkan kadar air 0,06%, asam lemak bebas 0,0018%, aroma segar khas kelapa, tidak tengik dengan nilai 4,30, rasa khas minyak kelapa 4,00, dan warna jernih 4,10. 
Identifikasi Komponen Hasil Hidrolisis VCO dengan Kromatografi Lapis Tipis TRIVANA, LINDA; KAROUW, STEIVIE
Buletin Palma Vol 16, No 2 (2015): Desember, 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v16n2.2015.167-171

Abstract

ABSTRAK Fraksinasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk identifikasi hasil hidrolisis. Tujuan penelitian, yaitu  mengetahui eluen yang paling sesuai untuk memisahkan komponen hasil hidrolisis VCO. Metode penelitian melalui  identifikasi komponen hasil hidrolisis VCO secara kualitatif menggunakan kromatografi lapis tipis dengan eluen yang  berbeda. Eluen atau fase gerak yang digunakan adalah heksana:dietil eter:asam asetat (70:30:1 dan 80:20:1) dan  petroleum eter:dietil eter:asam asetat (60:40:1 dan 70:30:1). Silika gel F254 digunakan sebagai fase diam. Variasi eluen dan  rasio pelarut dilakukan untuk mencari sistem eluen yang mampu memberikan pemisahan paling baik dengan waktu  elusi lebih cepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eluen petroleum eter:dietil eter:asam asetat (60:40:1 dan 70:30:1)  menghasilkan 1 spot. Eluen heksana:dietil eter:asam asetat (70:30:1 dan 80:20:1) masing-masing menghasilkan 2 dan 5  spot. Eluen heksana:dietil eter:asam asetat (80:20:1) menghasilkan pemisahan yang lebih baik dengan waktu elusi  tercepat, yaitu 80 menit. Nilai Rf yang diperoleh menggunakan eluen heksana:dietil eter:asam asetat pada rasio 80:20:1  adalah 0,05 (monoasilgliserol) 0,15 (diasilgliserol), 0,42 dan 0,56 (asam lemak bebas), dan 0,86 (triasilgliserol).Kata kunci: Kromatografi lapis tipis, eluen, hidrolisis, VCO. Identification Hydrolyzed Component of VCO using Thin Layer Chromatography ABSTRACT Fractionation can be used to identify the hydrolyzed component of VCO. The objective of the research was to know the  most appropriate eluent to separate hydrolyzed component of VCO. Methodology of the study as follows: the component were identified qualitatively by thin layer chromatography method with various eluent. The eluent which were used for partition as follow: hexane:diethyl ether:acetic acid (70:30:1 and 80:20:1) and petroleum ether:diethyl  ether:acetic acid (60:40:1 and 70:30:1). Silica gel F254 was utilized as stationary phase. The eluent and ratio of solvent were  performed to find the best of eluent system which was capable to separate the hydrolyzed component. The results  showed that 1 spot can be detected by petroleum ether:diethyl ether:acetic acid (60:40:1 and 70:30:1). In contrast,  utilization of hexane:diethyl ether:acetic acid (70:30:1 and 80:20:1) obtained 2 and 5 spot, respectively. According to the  data, hexane:diethyl ether:acetic acid (80:20:1) showed better capability to separate compared than others. Its also having  fastest elution time around 80 minutes. The Rf value of the exane:diethyl ether:acetic acid (80:20:1) were 0.05 (monoacylglycerol), 0.15 (diacylglycerol), 0.42 and 0.56 (Free fatty acid), and 0,86 (triacylglycerol).Keywords: Thin layer chromatography, eluent, hydrolysis, VCO.
Morfologi dan Produksi Beberapa Aksesi Sagu (Metroxylon spp.) di Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, Papua [Morphology and Production of Some Sago Palm Accessions in Iwaka, Mimika District, Papua Province] Ahmad, Fendri; Bintoro, Mochamad Hasjim; Supijatno, Supijatno
Buletin Palma Vol 17, No 2 (2016): Desember, 2016
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v17n2.2016.115-125

Abstract

Sago is a carbohydrate-producing palm witharea about 382.198 ha in Mimika Regency. So far, research on the characterization of sago palm in this area has not existed, therefore it is necessary to do. The diversity of sago accessions in Mimika District is expected to be a source of germplasm and superior sago selection to support sago development. This study aims to obtain information about morphological characters and starch production of some sago accessions. The study was conducted using observation method of seven sago accessions, namely Mbupuri, Monepikiri, Mbapare, Tuwae, Aute, Iyaremeta and Bakaketemeta in Iwaka District, Mimika Regency, Papua Province. The result showed that the seven accessions sago differed based on morphological character namely stem, leaves and spine, and starch production. The Monepikiri accession has the longest stem and large stem diametre, namely 13.75 m and 59.00 cm, respectively. Accession Mbupuri has more leaves and wider leaves than the others. Accession Monepikiri has a production potential of more than 300 kg’s dried starch/palm and accession Mbupuri more than 200 kg’s dried starch/palm. Both accessions of this sago can be further investigated the stability of yield starch to be released as superior varieties. The morphological characters, especially the length of the stem affect the starch production because the starch is present in the pith of the stem.ABSTRAKSagu merupakan tanaman sumber karbohidrat dengan luas areal di Kabupaten Mimika 382.198 ha. Penelitian tentang karakterisasi aksesi sagu di Kabupaten ini belum ada, oleh karena itu perlu dilakukan. Keragaman aksesi sagu di Kabupaten Mimika diharapkan menjadi sumber plasma nutfah sagu, dan untuk seleksi sagu unggul untuk menunjang pengembangan sagu. Penelitian ini bertujuan untuk  mendapatkan informasi mengenai karakter morfologi dan produksi pati beberapa aksesi sagu. Penelitian menggunakan metode observasi terhadap tujuh aksesi sagu, yaitu Mbupuri, Monepikiri, Mbapare, Tuwae, Aute, Iyaremela dan Bakaketemeta. Penelitian dilakukan di Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketujuh aksesi tersebut berbeda karaktermorfologinya, yaitu  batang, daun dan duri. Aksesi Monepikiri memiliki batang yang paling panjang dan diameter paling besar berturut-turut, yaitu 13,75 cm dan 59,00 cm. Aksesi Mbupuri memiliki jumlah daun paling banyak dan daun paling luas.Aksesi Monepikiri memiliki potensi produksi lebih dari 300 kg pati kering/pohon dan aksesi Mbupuri >200 kg pati kering/pohon. Kedua aksesi ini dapat diteliti lebih lanjut kestabilan hasilnya untuk dilepas sebagai varietas unggul. Karakter morfologi khususnya panjang batang mempengaruhi produksi, karena pati terdapat dalam empulur batang.
Ekstraksi Pewarna Makanan dari Akar Kelapa KASEKE, HILDA F.G.
Buletin Palma Vol 14, No 2 (2013): Vol. 14 No. 2, Desember 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v14n2.2013.95-99

Abstract

Persyaratan pewarna untuk makanan harus murni dan tidak membahayakan kesehatan. Pewarna alami aman untuk kesehatan dibanding pewarna sintetis. Akar kelapa bermanfaat untuk kesehatan, namun perlu diteliti manfaat lain dari akar kelapa sebagai pewarna makanan alami. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengekstrak dan identifikasi zat warna pada akar kelapa yang dapat digunakan sebagai pewarna makanan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, yang terdiri dari ekstraksi dan identifikasi. Ekstraksi menggunakan pelarut etanol 90% dan air. Pada proses ekstraksi dihasilkan rendemen pewarna untuk akar kelapa tua 1,21 – 1,43% dan akar kelapa muda 0,32 – 0,57%. Identifikasi serapan maksimum pada akar kelapa tua pada panjang gelombang 307,0 nm dan 231,0 nm, sedangkan akar kelapa muda 307,0 nm. Analisis khromatografi kertas dengan dua jenis pelarut, yakni Butanol : Air : Asam Asetat dan NaCl 2% dalam etanol untuk akar tua dan muda memberikan nilai Reterdation Factor masing–msing 0,208 dan 0,333. Kata kunci : Akar kelapa, ekstraksi identifikasi, pewarna makanan.ABSTRACTFood Coloring Extraction of Roots of Coconut Tree’sRequirements for food coloring should be pure and not harmful to health. Natural dyes is safe for health than synthetic dyes. Coconut roots had to be beneficial to health, but it was necessary to research other benefits of coconut roots are as a natural food coloring. The purpose of this research was to extract and identification of dyes on coconut roots that could be used as a food coloring. The research used descriptive method wich consist of extraction and identification. The extraction used ethanol Solvent 90% and water. The results showed that the dye yield from the roots of an old coconut between 1.21 to 1.43% and the roots of young coconut between 0.32 to 0.57%. Identification of the maximum absorption of old coconut’s root at a wave length of 307.0 nm and 231.0 nm, while the young coconut’s roots 307.0 nm. The results of paper chromatography analysis with two differentsolvent Butanol : Water : Acetic Acid and 2% NaCl in ethanol for young and old roots are given a Reterdation Factor values 0.208 and 0.333 for each.
Keragaan Usahatani dan Analisis Finansial Kelapa Kopyor di Indonesia Hutapea, Ronald T.P; Mashud, Nurhaini; Maskromo, Ismail
Buletin Palma No 33 (2007): Desember, 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n33.2007.%p

Abstract

Kelapa kopyor merupakan komoditas perkebunan yang masih lambat pengembangannya, karena masih diperlakukan sebagai tanaman sekunder diantara tipe tanaman kelapa lainnya.  Keadaan ini mengakibatkan aspek usahatani, pemasaran, serta aspek ekonomi belum banyak diketahui, untuk itu perlu dilakukan analisis ushatani, pemasaran dan kelayakan investasi kelapa kopyor.  Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Kelayakan investasi diukur dengan metode Metode Net Present Value (NVP), dan Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI), dan Pay back Period (PbP). Daerah penelitian ditentukan secara sengaja (purposive) di Kabupaten Sumenep, Propinsi Jawa Timur; Kabupaten Pati, Propinsi Jawa Tengah; dan Kabupaten Lampung Selatan, Propinsi Lampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permintaaan kelapa kopyor bersifat elastis terhadap perubahan pendapatan penduduk. Permintaaan terhadap kelapa kopyor belum dapat dipenuhi (excess demand) dan bersifat inelastic terhadap perubahan harga. Mata rantai perdagangan kelapa kopyor masih panjang dan menimbulkan margin ganda. Analisis investasi kelapa kopyor tipe Genjah menguntungkan untuk dikembangkan dengan skala minimum usahatani seluas 0,10 hektar atau setara dengan mengusahakan 18 pohon per petani, oleh karena itu layak dikembangkan dalam skala rumah tangga.
Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh IBA Terhadap Pertumbuhan Plantlet Kelapa Genjah Kuning Nias (GKN) Mashud, Nurhaini
Buletin Palma No 35 (2008): Desember, 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n35.2008.%p

Abstract

Penelitian pengaruh zat pengatur tumbuh (IBA) Indole-3-Butyric Acid terhadap pertumbuhan plantlet kelapa Genjah kuning  Nias dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain Manado pada tahun 2007. Penelitian dilakukan dalam bentuk percobaan tunggal menggunakan rancangan acak kelompok dengan enam perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang dicoba adalah kon-sentrasi IBA yang terdiri atas  (1). 0 µM (tanpa IBA), (2). 200 µM, (3).  400 µM, (4). 600 µM, (5). 800 µM dan (6). 1000 µM. Hasil penelitian menunjukkan  konsentrasi IBA mempenga-ruhi pertumbuhan plantlet kelapa GKN. Plantlet yang berasal dari media tumbuh yang disupplemen  dengan IBA 200 µM   mem-punyai pertumbuhan yang lebih baik diban-ding perlakuan lainnya.
Stabilitas Santan Kelapa pada Variasi Penambahan Emulsifier Natrium Kaseinat [Stability of Coconut Milk on Various Addition of Sodium Caseinate as Emulsifier] Karouw, Steivie; Santosa, Budi
Buletin Palma Vol 19, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v19n1.2018.27-32

Abstract

Coconut meat is a part of the coconut that has been widely used as a food product. Coconut milk is one of the products that can be processed from coconut meat. The purpose of this study is to evaluate the characteristics of coconut meat and coconut milk stability with the addition of sodium casein as emulsifier. The research was conducted from January to December 2013 at Laboratory of Indonesian Palm Crops Research Institute, Laboratory of Faculty of Agricultural Technology and Laboratory of LPPT, Gadjah Mada University, Yogyakarta and Laboratoty of Pusat Antar Universitas, IPB, Bogor. The main raw materials used are meat of Mapanget Tall coconut variety with fruit age of 11-12 months obtained from KP Kima Atas, North Sulawesi. The results showed that coconut meat of Mapanget Tall which was used as raw materials contained 15 types of amino acids and 10 of them are essential amino acids. Glutamic acid is an amino acid with the highest proportion of 1.22%, followed by arginine and tyrosine respectively 0.89% and 0.62%. Coconut milk produced on the various concentration of sodium caseinate was safe to be consumed until 28 days of storage at 8oC, which indicated by the total of microbes of 100 - 300 cfu. The results of organoleptic testing showed that coconut milk has an ordinary color to like, the aroma was usual to likes and taste was dislikes to likes. Coconut milk produced without addition of sodium casein emulsifier tends to be more stable than that of added sodium caseinate.ABSTRAKDaging buah kelapa merupakan bagian buah kelapa yang telah dimanfaatkan secara luas sebagai produk pangan. Santan kelapa merupakan salah satu produk yang dapat diolah dari daging buah kelapa. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui karateristik daging buah kelapa dan stabilitas santan kelapa dengan penambahan emulsifier natrium kaseinat. Penelitian dilakukan sejak bulan Januari sampai Desember 2013 di Laboratorium Pascapanen Balai Penelitian Tanaman Palma Manado, Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian dan Laboratorium LPPT, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta serta Laboratorium Pusat antar Universitas, Institut Pertanian Bogor(IPB), Bogor. Bahan baku utama yang digunakan yaitu buah kelapa varietas Dalam Mapanget (DMT) dengan umur buah 11-12 bulan yang diperoleh dari KP Kima Atas, Sulawesi Utara. Santan yang diperoleh dari buah kelapa DMT ditambahkan natrium kaseinat 0,6%, 0,8% dan 1,0% kemudian disimpan pada suhu 8C selama 0, 7, 14, 21, dan 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daging buah kelapa dari varietas Dalam Mapanget mengandung 15 jenis asam amino dan 10 di antaranya adalah asam amino esensial. Asam glutamat merupakan asam amino dengan proporsi tertinggi yaitu 1,22%, disusul arginin dan tirosin masing-masing 0,89% dan 0,62%. Santan kelapa yang dihasilkan pada variasi konsentrasi emulsifier natrium kaseinat tahan simpan 28 hari pada suhu 8oC yang ditunjukkan dengan jumlah mikroba sebanyak 100 -300 cfu sampai penyimpanan 28 hari. Hasil pengujian organoleptik menunjukkan bahwa santan kelapa memiliki warna biasa sampai suka, aroma biasa sampai suka dan rasa tidak suka sampai suka. Susu kelapa yang dihasilkan tanpa penambahan emulsifier natrium kaseinat cenderung lebih stabil dibanding yang ditambahkan natrium kaseinat  
Produktivitas Varietas Kelapa Dalam Kelambi Ujung Kubu Spesifik Lahan Rawa Pasang Surut [Productivity of Kelambi Ujung Kubu Tall Coconut Variety As Materia for Development of Coconut on Tidal Land] Weda Makarti Mahayu; Budi Santosa; Elsje Tineke Tenda; Donata S Pandin; Ismail Maskromo
Buletin Palma Vol 20, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v20n2.2019.69-81

Abstract

Tidal land is an alternative land that can be cultivated and functioned as productive agricultural land to respond the main challenge of agricultural sector to increased production which is limited land. Nowadays, the contribution of adaptive high yielding varieties of coconut palm in tidal land is inferior and unable to meet national needs. Therefore, it is necessary to evaluate the accessions of coconut palm that grow adaptively, high yield and stable in tidal land to answer the existing problems. This research was conducted in 2015-2018 in Ujung Kubu Village, Tanjung Tiram District, Batubara Regency, North Sumatra Province using observation method, characterization and yield stability test. Kelambi Ujung Kubu coconut has 648.3 g (38.06%) coir weight, 344.3 g (20.22%) coconut water, 249.4 g (14.64%) shell and 467.2 g (27.08%) fruit flesh. Result showed that the copra production is Kelambi Ujung Kubu 3.05 tons of copra/ha/year with good stability. The potential of Kelambi Ujung Kubu coconut production is 68.250 seed/year, this amount can meet the requirement of seeds for coconut development or rejuvenation of 341 ha/year. Kelambi Ujung Kubu Tall coconut has superior characters, namely high production, high oil content, high protein, high lauric acid and adaptive on tidal land. Kelambi Ujung Kubu variety can be utilized as a good genetic material for the development or rejuvenation of Tall coconut plants in tidal swampy area.ABSTRAKLahan rawa merupakan salah satu lahan alternatif yang dapat diolah dan difungsikan sebagai lahan pertanian produktif dalam menjawab tantangan utama yang dihadapi sektor pertanian terkait peningkatan produksi seperti masalah ketersediaan lahan pertanian. Hingga saat ini, ketersediaan varietas unggul kelapa yang adaptif dan berproduksi tinggi di lahan pasang surut masih sangat terbatas dan belum bisa memenuhi kebutuhan Nasional. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi aksesi kelapa yang tumbuh adaptif, berproduksi tinggi dan stabil di lahan sub optimal tersebut untuk menjawab permasalahan yang ada. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2015-2018 di  Desa Ujung Kubu, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera Utara dengan menggunakan metode observasi, karakterisasi dan uji stabilitas hasil. Kelapa Kelambi Ujung Kubu dalam satu butir memiliki berat sabut 648,3  g (38,06%), air kelapa 344,3 g (20,22%), tempurung 249,4  g (14,64%) dan daging buah 467,2 g (27,08%). Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa potensi produksi kelapa Dalam Kelambi Ujung Kubu sebesar 3,05 ton kopra/ha/tahun dengan stabilitas produksi yang baik. Potensi produksi benih kelapa Dalam Kelambi Ujung Kubu adalah 68.250 butir/tahun, jumlah tersebut dapat memenuhi kebutuhan benih untuk pengembangan atau peremajaan kelapa seluas 341 ha/tahun. Keunggulan kelapa Dalam Kelambi Ujung Kubu yaitu memiliki produksi tinggi, kadar minyak tinggi, protein tinggi, asam laurat tinggi dan adaptif pada lahan pasang surut. Kelapa Dalam Varietas Kelambi Ujung Kubu dapat digunakan sebagai materi ganetik dalam pengembangan tanaman kelapa Dalam di lahan rawa pasang surut.
PENAMPILAN BIBIT DAN TANAMAN BELUM MENGHASILKAN DELAPAN KOMBINASI PERSILANGAN SAWIT [THE APPEARANCE OF SEEDLINGS AND IMMATURE PLANTS EIGHT COMBINATIONS OF OIL PALM CROSSES] Budi Santosa; Yulianus R. Matana; Ismail Maskromo; Donata S. Pandin; Steivie Karouw
Buletin Palma Vol 22, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v22n2.2021.107-118

Abstract

Oil palms in the nursery phase and young oil palms in the Immature Plant (TBM) phaseare one of the important stages to consider so that the plants can grow well. The purpose of this study was to determine oil palm plantations in the nursery phase and oil palm young plants in the Immature Plant phase 8 combination accessions of oil palms. The research was conducted at the Sitiung Experimental Garden, Dharmasraya Regency, West Sumatra from 2017 - 2019 using the Single Block method and Complete Randomized Block Design (CRBD).  The characters observed included: plant height, number of leaves, length of petiole, length of rachis, length of leaves, speed of leaf breaking.The data obtained were analyzed using the SAS program and its genetic diversity. In the nursery phase until the age of 12 months, 8 combination accessions of oil palms were based on statistical analysis and there was no significant difference for the character of plant height and number of leaves. The plant height has moderate genetic diversity, and the plant height increases around 4.95 - 6.50 cm per month. Oil palm accession D2.3 x P 108 (88.80 cm) was the highest combination accession of crossed palms with the highest plant height increase of 6.5 cm per month. The number of leaves ranged from 10.30 - 13.00 leaves with low to moderate genetic diversity. Accession T23.3 x P109 had the highest number of leaves, namely 13.00 leaves with an increase in the number of leaves of 0.81 leaves per month. The eight combined accessions of crossed palms began to break leaves at about 7 months of age.In the Immature Plant (IP) phase, based on the results of statistical analysis for the observed characters, the results were no significant difference. Oil palm plants in the TBM 1 phase have the characters of plant height more than 222 cm, number of leaves more than 15 leaves, and petiol length of more than 33 cm with generally moderate genetic diversity, except for the length of the petiole for oil palm accession T 23.8 x P108, D2.3 x P108 and P108 T23.2 x has a fairly high genetic diversity. Oil palm accession T23.8 x P108 had the highest plant height (241.17 cm), while oil palm accession D91.8 x DL7 / 1 had the highest number of leaves, namely 18.44 leaves, and palm accession T23.2 x P108 has the longest case of 37.72 cm. Oil palm plants in the IP 2 phase have the characters of the number of leaflets, petiol lengths, rachis lengths, and leaf lengths between the combination of palm crossings which have low diversity. The spiny leaf midrib and the position of the leaflets alternate, the number of leaflets between the left and right sides is not the same.Accession D43.7 x P109 has a number of leaflets at most about 86 leaflets. Palm accession T23.3 x P109 has the longest characters for the length of the petiol, the length of the rachis, and the length of the leaves. The fastest combination accession of crossed palms produced the first flowers, namely T23.8 x P108, T23.3 x P109, and T23.3 x P108.Abstrak               Tanaman sawit pada fase pembibitan dan  tanaman muda sawit pada fase Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)  merupakan salah satu tahap yang penting untuk diperhatikan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tanaman sawit pada fase pembibit dan tanaman muda sawit pada fase Tanaman Belum Menghasilkan  8 aksesi kombinasi persilangan sawit. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat sejak tahun 2017 – 2019 dengan menggunakan metode Blok Tunggal dan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Karakter yang diamati antara lain: tinggi tanaman, jumlah daun, panjang petiol, panjang rachis, panjang daun, kecepatan pecah daun. Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan program SAS  dan keragaman genetiknya. Pada fase pembibitan sampai umur 12 bulan, 8 aksesi kombinasi persilangan sawit berdasarkan analisis statistik tidak ada beda nyata untuk karakter tinggi tanaman dan jumlah daun. Tinggi tanaman memiliki keragaman genetik termasuk sedang, dan pertambahan tinggi tanaman sekitar 4,95 – 6,50 cm per bulan. Aksesi sawit D2.3 x P 108 (88,80 cm)  merupakan aksesi kombinasi persilangan sawit paling tinggi dengan pertambahan tinggi tanaman paling tinggi 6,5 cm per bulan. Jumlah daun berkisar 10,30 – 13,00 daun dengan keragaman genetik rendah sampai sedang. Aksesi T23.3 x P109 memiliki jumlah daun paling banyak yaitu 13,00 daun dengan pertambahan jumlah daun 0,81 daun per bulan. Delapan aksesi kombinasi persilangan sawit mulai pecah daun pada umur  sekitar 7 bulan. Pada fase Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), berdasarkan hasil analisis statistik untuk karakter yang diamati hasilnya tidak ada beda nyata.  Tanaman sawit pada fase TBM 1 memiliki karakter tinggi tanaman  lebih dari  222 cm, jumlah daun lebih dari 15 daun, dan panjang petiol lebih dari 33 cm dengan keragaman genetik pada umumnya termasuk sedang, kecuali karakter panjang petiol untuk aksesi sawit T 23.8 x P108, D2.3 x P108, dan T23.2 x P108 memiliki keragaman genetik cukup tinggi. Aksesi sawit T23.8 x P108 memiliki tinggi tanaman paling tinggi (241,17 cm), sedangkan aksesi sawit D91.8 x DL7/1 memiliki jumlah daun paling banyak yaitu 18,44 daun, dan aksesi sawit T23.2 x P108 memiliki  petiol paling panjang 37,72 cm. Tanaman sawit pada  fase TBM 2 mempunyai karakter jumlah anak daun, panjang petiol, panjang rachis, dan panjang daun antar kombinasi persilangan sawit memiliki keragaman rendah. Pelepah daun berduri dan posisi anak daun selang-seling, jumlah anak daun antara sebelah kiri dan kanan tidak sama. Aksesi D43.7 x P109 memiliki jumlah anak daun paling banyak sekitar 86 anak daun. Aksesi sawit T23.3 x P109 memiliki karakter paling panjang untuk  panjang petiol, panjang rachis, dan panjang daun. Aksesi kombinasi persilangan sawit paling cepat keluar bunga pertama yaitu T23.8 x P 108, T23.3 x P109, dan T23.3 x P 108.   
Karakterisasi Bakteri Endofit Kitinolitik sebagai Agens Biokontrol Patogen Ganoderma boninense pada Kelapa Sawit [Characterization of Chitinolytic Endophyte Bacteria as Biocontrol Agents of Ganoderma boninense Pathogen on Oil Palm] Rahma Rahma; Tutik Kuswinanti; Ade Rosmana
Buletin Palma Vol 20, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v20n1.2019.35-43

Abstract

Basal stem rot caused by Ganoderma boninense is one crucial disease in oil palm. The used of chitinolytic bacteria is one part of biological control to suppress G. boninense. This study aimed to isolate and characterize chitinolytic bacteria associated with roots of oil palm which have the potential as agents biocontrol against the pathogens of G. boninense, the caused of basal stem rot disease of oil palm. The study was conducted in North Luwu, East Luwu, and Makassar Districts from January to September 2017. The research was done in  four stages that consist of isolation of endophytic bacterial, testing chitinolytic activity, testing antagonistic and biochemical identification. The results showed that from 14 bacterial isolates obtained, two of them had chitinolytic activity with index of 2,35 and 3,37 respectively. Both of these bacteria can inhibit G. boninense on solid medium by 24,9% and 69,4% respectively and on the liquid medium by 47,5% and 68,5% respectively five days after inoculation. Based on biochemical characterization, these bacteria have similarities with Bacillus sp, and Serratia sp. To be concluded, Serratiasp. is a potential medium to be for controling basal stem rot disease on oil palm.ABSTRAKBusuk pangkal batang yang disebabkan oleh cendawan Ganoderma boninense merupakan salah satu penyakit penting pada kelapa sawit. Pemanfaatan bakteri kitinolitik merupakan salah satu bagian pengendalian hayati untuk mengontrol G. boninense. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri kitinolitik yang berasosiasi dengan akar tanaman kelapa sawit yang berpotensi sebagai agens biokontrol terhadap G. boninense, penyebab penyakit busuk pangkal batang kelapa sawit. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Luwu Utara, Luwu Timur, dan Makassar sejak bulan Januari sampai September 2017. Penelitian ini terdiri atas empat tahap, yaitu isolasi bakteri endofit, uji aktivitas kitinolitik, uji antagonis dan identifikasi secara biokimia. Hasil penelitian diperoleh 14 isolat bakteri dimana dua bakteri diantaranya memiliki aktivitas kitinolitik dengan indeks masing masing 2,35 dan 3,37. Kedua bakteri tersebut dapat menghambat G. boninense pada medium padat masing masing 24,9% dan 69,4% serta pada medium cair masing masing 47,5% dan 68,5% lima hari setelah inokulasi. Berdasarkan karakterisasi secara biokimia, bakteri tersebut memiliki kemiripan dengan Bacillus sp, dan Serratia sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Serratia sp. berpotensi dalam mengendalikan penyakit busuk pangkal batang pada kelapa sawit.