cover
Contact Name
Adhitya Yudha Pradhana
Contact Email
buletinpalma@gmail.com
Phone
+62431-812430
Journal Mail Official
buletinpalma@gmail.com
Editorial Address
Jalan Raya Mapanget, Manado 95001
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Buletin Palma
ISSN : 1979679X     EISSN : 25287141     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palma memuat artikel hasil-hasil penelitian kelapa dan palma lainnya. GENERAL REQUIREMENTS Bulletin of Palma is a peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research finding on coconut and other palm research results. SCOPE Scope of Bulletin of Palma are: 1. Scope of science: Agricultural Microbiology, Agricultural Socio-Economics, Agronomy, Bioetechnology, Plant Breeding, Plant pathology, Plant Protection, Plant Physiology, Soil Science, Seed Technology, Primary Post Harvest, Climate science, Genetic resources, Entomology,Farming system, Environment, Agricultural extension 2. Scope of commodities : spice, medicinal, aromatic and industrial crops The journal publishes Indonesian or English articles.
Articles 220 Documents
Pengaruh Suhu dan Waktu Inkubasi Terhadap Bahan Pemantap Nata de Coco HILDA F.G. KASEKE
Buletin Palma Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.261 KB) | DOI: 10.21082/bp.v13n2.2012.74-78

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh suhu dan waktu inkubasi pada proses pembuatan bahan pemantap dari nata de coco. Penelitian menggunakan percobaan faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan ulangan 2 (dua) kali. Perlakuan suhu (00 C, 100 C dan 200 C) dan waktu inkubasi (0, 3, 6, dan 9 hari). Hasil analisis menunjukkan bahwa suhu dan waktu inkubasi memberikan pengaruh nyata terhadap derajat substitusi, kadar CMC, kadar garam, kadar natrium glikolat, kadar NaOH dan viskositas dari produk pemantap, sedangkan suhu proses dan waktu inkubasi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap viskositas. Kombinasi suhu 100 C dan lama inkubasi 6 hari adalah yang terbaik dengan kadar CMC 66,94%, derajat subsitusi 0,656, kadar garam 24,885%, natrium glikolat 1,036% dan viskositas 5,7 cp. Kata kunci : Nata de coco, bahan pemantap, proses.ABSTRACTEffect of Temperature and Time of Incubation on Material Nata de cocoThis research was done to see the effect of the temperature and time of incubation in making materials proces stabilizer of nata de coco.The research using a factorial experiment arranged in a complately randomized design with repeated 2 lines. The treatment that the process temperature (00 C, 100 C and 200 C) and the incubation time 0, 3, 6 and 9 days. Statistical anlysis showed that the treatment temperature and duration of the incubation processes and interactions of the two treatment give significant effect on the degree of substitution, CMC content, salinity, glycolate sodium, NaOH content and stabilizer viscosity of the resulting product Combination temperature 100 C and incubation 6 days old is the best CMC grading 66,94% degree of substitution of 0,656, salinity 24,885, glycolate sodium 1,036% and viscosity of 5,7 cp.
Karakteristik Biodegradable Film Pati Sagu dengan Penambahan Gliserol, CMC, Kalium Sorbat dan Minyak Kelapa [Properties of Sago-Based Biodegradable Film Prepared by Addition of Glycerol, CMC, Potassium Sorbate and Coconut Oil] Steivie Karouw; Rindengan Barlina; Maria L. Kapu’Allo; Jerry Wungkana
Buletin Palma Vol 18, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.645 KB) | DOI: 10.21082/bp.v18n1.2017.1-7

Abstract

The objectives of the research was to evaluate physical properties, color, water vapor transmission rate and antimicrobial activity of sago-based biodegradable film made by adding of glycerol, carboxymethyl cellulose (CMC), potassium sorbate and coconut oil. The research was conducted on two steps which did continuosly. During the first step the research was held on various of concentration of glycerol (1, 1.5, 2.0 and 2.5%) and concentration of carboxymethil cellulose (CMC) (0.75; 1.0; 1.25 and 1.5 %). The formula which produced the best characteristic of biodegardable film was then used in the second step. In the second step of study, the antimicrobial material (coconut oil and potassium sorbate) were utilized in processing of sago-based biodegradable film. The concentration of potassium sorbate and coconut oil were (1.0, 1.5 and 2.0%) and (0, 0.3 dan 0.6%), respectively. The research results showed that, the biodegradable film obtained on 1.0% of glycerol and 1.0% of CMC having lowest elongation around 109.90%. It was then used for the second step for preparation of biodegradable film. Biodegradable film which were resulted by additon of coconut oil having plasticity better than the ones using potassium sorbate. Addition of pottasium sorbate effected the yelllow color of the biodegradable film. The biodegradable film prepared by utilized of potassium sorbate and oil were found not effectively to inhibit Eschericchia coli dan Staphylococcus aureus.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik, warna dan laju transmisi uap air serta sifat antimikroba biodegradable film pati sagu dengan penambahan gliserol, carboxymethyl cellulose (CMC), kalium sorbat dan minyak kelapa. Penelitian ini terdiri atas dua tahap, pada tahap pertama gliserol dan CMC digunakan beberapa konsentrasi berturut-turut, yaitu (1%, 1,5%, 2,0% dan 2,5 %) dan (0,75%, 1,0%, 1,25% dan 1,5%). Kombinasi perlakuan terbaik tahap pertama digunakan untuk penelitian tahap kedua. Pada penelitian tahap kedua dilakukan penambahan bahan antimikroba kalium sorbat dan minyak kelapa pada beberapa konsentrasi, berturut-turut (1,0; 1,5 dan 2%) dan (0,3 dan 0,6%). Hasil penelitian menunjukkan bertambahnya konsentrasi gliserol menghasilkan biodegradable film dengan kuat tarik yang makin tinggi dan daya mulur makin turun. Pada konsentrasi gliserol yang tetap, nilai kuat tarik meningkat dan daya mulur menurun dengan bertambahnya konsentrasi CMC. Biodegradable film yang diproses menggunakan 1,0% gliserol dan 1,0% CMC memiliki daya mulur terendah hanya 109,90%. Kombinasi gliserol dan CMC ini selanjutnya digunakan untuk pembuatan biodegradable film yang ditambahkan minyak kelapa dan kalium sorbat. Biodegradable film yang diproses dengan penambahan minyak kelapa memiliki plastisitas yang lebih baik dibanding dengan penambahan kalium sorbat. Warna biodegradable film cenderung lebih kuning dibanding tanpa penambahan kalium sorbat. Biodegradable film yang dihasilkan dengan penambahan kalium sorbat dan minyak kelapa belum menunjukkan penghambatan terhadap Eschericchia coli dan Staphylococcus aureus. 
Efek Penyadapan Bunga Jantan dan Letak Tandan Bunga Betina Terhadap Mutu Benih Aren (Arenga pinnata (Wurmb.) Merr.) YULIANUS R. MATANA; ENDANG MURNIATI; ENDAH RETNO PALUPI
Buletin Palma Vol 14, No 1 (2013): Vol. 14 No. 1, Juni 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v14n1.2013.6-12

Abstract

Tanaman aren merupakan tanaman serbaguna. Produk utama dari tanaman aren adalah nira yang disadap dari bunga jantan. Tandan bunga betina menghasilkan buah sebagai sumber benih. Nira aren memiliki nilai ekonomi tinggi jika diolah menjadi gula sebagai produk utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyadapan tandan bunga jantan dan posisi tandan bunga betina terhadap mutu benih aren. Penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai April 2012, di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih Leuwikopo, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilakukan dalam bentuk percobaan faktorial dengan dua faktor dan empat ulangan menggunakan Rancangan acak lengkap (RAL). Faktor pertama adalah penyadapan tandan bunga jantan (T) yang terdiri tandan bunga jantan disadap (T1) dan tandan bunga jantan yang tidak disadap (T2). Faktor kedua adalah posisi tandan bunga betina (P), yaitu tandan pertama (P1), tandan ketiga (P2) dan tandan kelima (P3) dari pucuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pohon yang tandan bunga jantan disadap maupun tidak disadap dapat dijadikan sebagai sumber benih dengan daya berkecambah sekitar 79,77-84%. Benih berukuran kecil yang berasal dari pohon yang disadap memiliki mutu fisiologi yang tinggi. Oleh karena itu, petani dapat menggunakan buah dari pohon yang disadap sebagai sumber benih. Kata kunci: Benih, aren, penyadapan, tandan bunga jantan, letak tandan bunga betina.ABSTRACTThe Seed Quality of Sugar Palm Caused by Tapping of Male Inflorescences and Position of Female Inflorescences (Arenga pinnata (Wurmb.) Merr.)Sugar palm is aversatileplant. The main product is neera which tapped from themale inflorescences whereas the female inflorescences produce fruit and seeds. The neera then processed into brown sugar which has a high economic value. This research was aimed to study the effect of tapping of the male inflorescences and the position of the female inflorescences on seed quality. The study was conducted from January to April 2012, in the Laboratory of Seed Science and Technology Leuwikopo IPB Bogor Bogor Agricultural University Department of Agronomy and Horticulture. The research was done in factorial experiment with two factors by using completely randomized block design and four replications.The firstfactorwas tapping i.e the male flower was tapped (T1), The male inflosences was untapped (T2) and the second factoris the position ofthe female flower (P) i.e the first (P1), third (P2) and fifth (P3) female inflorences from the top. The result showed both tapped and untapped sugar palm tree can be used as seed source with viability 79.77-84%. Small seeds from tapped trees have a high physiological quality. Trees that were smaller seeds that untapped trees although they were similary of high physiological quality. Therefore farmers can use the seeds of the tree which is tapped as a source seed tapped from the male inflorencences as seed source. Keywords : Seed;sugar palm;tapping;male infloresences;position female infloresences
Feromon dan Pemanfaatannya Dalam Pengendalian Hama Kumbang Kelapa Oryctes rhinoceros (Coleoptera: Scarabaeidae) Jelfina C Alouw
Buletin Palma No 32 (2007): Juni, 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n32.2007.12-21

Abstract

Feromon berperan dalam monitoring populasi hama sebagai bagian penting dalam pengendalian hama secara terpadu serta dapat digunakan dalam pengendalian hama yang berwawasan lingkungan. Penggunaan feromon dalam pengendalian hama Oryctes rhinoceros sudah dilakukan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa feromon agregasi sintetik dapat menangkap kumbang O. rhinoceros betina lebih banyak dibanding kumbang jantan. Ratarata jumlah kumbang yang terperangkap pada lokasi dengan tingkat serangan ringan adalah 5,6 ekor/ha/bulan sedangkan pada lokasi dengan tingkat serangan berat mencapai 27 ekor/ha/bulan.
Hydrological Processes of Coconut Palm Plantation: Rainwater uptake, Return to the Atmosphere, and The Moisture Conservation Teuku Achmad Iqbal
Buletin Palma No 35 (2008): Desember, 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n35.2008.%p

Abstract

The hydrological processes of coconut palm plantation are briefly reviewed in order to describe their role to provide sustainable way to improve coconut productivity. This review is based upon two distinct influence of coconut plantation on hydrological processes: the impact of coconut palm physiology on rainwater uptake and return to the atmosphere, and the moisture conservation to control runoff. To fully understand relationship between rainfall and coconut plantation, the interception, stemflow, and throughfall patterns are reviewed. Evapotranspiration is used as the indicators to describe potential changes in storage. Insufficient moisture in the soil will reduce nutrient absorption resulting in poor growth in young palms and low nut production. Therefore, some practices are introduced in this paper to maximize the volume of rainwater to be absorbed into the soil sub layers without allowing it to run-off the coconut plantation land.
Analisis Struktur Kendala dalam Pengelolaan Sagu Berkelanjutan di Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau [Structure Analysis of the Contstraint Sago Sustainable Management in Kepulauan Meranti Regency Riau Province] Mamun Murod; Cecep Kusmana; Mochamad H Bintoro; nfn Widiatmaka; Endang Hilmi
Buletin Palma Vol 19, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v19n2.2018.101-116

Abstract

Sago  (Metroxylon sp.) has an important role and society economy in Meranti Island Regency. The development of sago business in the regency in the future has a promising aspect, because the development of the sago industrialization area has not been optimal. Currently the sago platns have wide area around  53.456 ha or 43% from the exist area. Cultivation sago is still conventional, it is only produce starch sago. In 2017 the starch sago has 205,051 ton. The development of downstream still limited that are noodle, vermicelli, and crackers. The by-product are waste from pulp (repu) and peel (uyung) is not be used optimaly yet. In order to develop sago to be sustainable, that required structure constraint design. Those model has done with method Interpretative Structural Modelling (ISM). Method ISM is the strategic model technic that can be seen system condition comprehensively.  This research is purpose to set the appropriate strategy based on structure constraint design that has an effect in sustainable sago development in Meranti Island Regency, Riau Province. The result of ISM analysis shows that sustainable sago development has 6 sub element of key constraint, there are : (1) Waste utilization and management; (2) Ijon system; (3) Availability, distribution, and market segmentation; (4) Water management; (5) processing of derivative product and packaging design, and (6) price stability, (7). To reach the sustainable cultivation sago, it is required support from every stakeholders both governments, academics, entrepreneurs, farmers, financial insitutions and non-governmental organization so that, sago cultivation run well and sustainable. ABSTRAKTanaman sagu (Metroxylon sp.) memiliki peran penting dalam kehidupan dan perekonomian masyarakat di Kabupaten Kepulauan Meranti. Pengembangan usaha sagu di Kabupaten ini pada masa yang akan datang memiliki prospek yang menjanjikan, karena pengembangan industrialisasi sagu belum optimal pelaksanaannya. Tanaman sagu saat ini luasnya 53.456 ha atau 43% dari lahan yang tersedia. Pengolahan sagu masih berjalan secara konvensional, yaitu hanya menghasilkan produk berupa pati sagu. Produksi pati sagu pada tahun 2017 sebesar 205,051 ton. Pengembangan produk hilirnya masih terbatas yaitu hanya mie, sohun dan kerupuk. Produk sampingnya berupa limbah dari ampas (repu) dan kulit (uyung) belum dimanfaatkan secara optimal. Desain struktur kendala diperlukan dalam rangka mengembangkan sagu agar berkelanjutan. Pemodelan struktur kendala dilakukan dengan menggunakan Interpretative Structural Modelling (ISM). ISM adalah teknik pemodelan strategis yang dapat memotret kondisi sistem secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun strategi yang tepat berdasarkan analisis struktur kendala yang berpengaruh dalam pengelolaan sagu berkelanjutan di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Hasil analisis ISM menunjukkan bahwa dalam pengelolaan sagu berkelanjutan terdapat 6 sub elemen kendala kunci, di antaranya: (1) Pemanfaatan dan pengolahan limbah; (2) Sistem ijon ; (3) Ketersediaan, distribusi dan segmentasi pasar; (4) Tata kelola air, (5) Pengolahan produk turunan dan desain kemasan; dan (6) Stabilitas harga. Dukungan dari semua stakeholders terkait baik dari pemerintah, akademisi, pengusaha, petani, lembaga keuangan dan lembaga swadaya masyarakat (LSM), diperlukan agar pengelolaan sagu berjalan secara baik dan berkelanjutan.
Molecular Identification of Bacterial Pathogen Infecting Coconut Leaf Beetle JELFINA C. ALOUW; DIANA NOVIANTI; MELDY L.A. HOSANG
Buletin Palma Vol 16, No 2 (2015): Desember, 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v16n2.2015.147-153

Abstract

ABSTRACT Many species of microorganisms can cause diseases and mortality of insect pests. Accurate detection and identification of the entomophatogens are essential for development of biological control agent to the pest. Brontispa longissima, a serious and invasive pest of coconut, was infected by bacterium causing mortality of the larvae and pupae in coconut field. Objective of the research was to identify bacterium as a causal agent of the field-infected B. longissima using molecular  technique.  Research  was  conducted  between  April  and  August 2011.  Molecular  identification  using polymerase chain reaction (PCR) amplification of 16s ribosomal RNA of the infected larvae and sequencing of the gene showed that Serratia marcescens is the causal agent of the disease.Keywords: Brontispa longissima, coconut, 16s rRNA, Serratia marcescens. Identifikasi Molekular Bakteri Pathogen yang Menginfeksi Hama Daun Kelapa Brontispa longissima(Coleoptera:Chrysomelidae)ABSTRAK Banyak mikroorganisme dapat menimbulkan penyakit pada serangga hama.  Deteksi dan identifikasi yang akurat dari  pathogen  penyebab  penyakit  pada  serangga (entomopathogen)  hama  merupakan  tahap  yang  penting  dalam  pengembangan pengendalian biologi untuk hama tersebut.  Brontispa longissima sebagai hama penting dan bersifat  invasif pada tanaman kelapa diinfeksi oleh sejenis bakteri yang menyebabkan kematian larva dan pupa dari serangga  tersebut di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi organisme penyebab penyakit pada hama B. longissima dengan menggunakan teknik molekuler. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Agustus  2011. Identifikasi bakteri dilakukan dengan mengamplifikasi 16s ribosomal RNA dari larva yang terinfeksi dengan menggunakan PCR (polymerase chain reaction).  Hasil analisis sekuens nukleotida 16s ribosomal RNA dari larva yang terinfeksi menunjukkan bahwa Serratia marcescens adalah bakteri penyebab dari penyakit tersebut.Kata kunci: Brontispa longissima, kelapa, 16s rRNA, Serratia marcescens.
Sexava nubila (Orthoptera: Tettigoniidae): Ledakan dan Kerusakannya pada Tanaman Kelapa Sawit [Sexava nubila (Orthoptera: Tettigoniidae): Outbreak and Its Damage on Oil palm] Jelfina C. Alouw; Meldy L.A. Hosang
Buletin Palma Vol 17, No 2 (2016): Desember, 2016
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v17n2.2016.97-104

Abstract

Oil palm (Elaeis guineensis) is one of the major estate crops in West Papua in terms of total area and production. Thousand hectares of oil palm plantations in Manokwari, West Papua Province, have inflicted serious leaflets damage that only the midrib of the frond remains as reported by The Provincial Estate Crop Agency. The objectives of the research were to determine insect pest causing the leaf damage and its damage level on the oil palm plantations of West Papua Province.  The research was conducted in June 2016 at the oil palm estate of PT Yongjing Investindo and PT. Medco Papua Hijau Selaras, West Papua.  Field observation and identification in the laboratory showed that the causative agent is Sexava nubila (Orthoptera: Tettigoniidae).  S. nubila known as the main pest attacking coconut palm (Cocos nucifera) in several locations in Eastern Indonesia, has invaded oil palms and causing severe damage, 20 to 100% of leaflet damage. Natural enemies found in the Sexava-attacking areas including crow, ant (Oecophylla smaragdina), praying mantids (Orthopthera: Mantidae), and egg parasitoid (Leefmansia bicolor).This is the first report on the invasion of S. nubila to oil palm plantation. Serious attention is urgently needed to prevent further economic yield losses due to the pest on oil palm plantations in West Papua Province. ABSTRAKKelapa sawit (Elaeis guineensis) merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan di Provinsi Papua Barat berdasarkan luas areal dan produksinya. Ribuan hektar tanaman kelapa sawit yang berumur sekitar 25 tahun dilaporkan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Papua Barat mengalami kerusakan berat, yaitu daunnya tinggal lidi-lidi.  Diduga kerusakan tersebut akibat serangan hama. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis hama dan tingkat kerusakannya pada pertanaman kelapa sawit di Provinsi Papua Barat.  Penelitian dilakukan pada Bulan Juni 2016 di perkebunan kelapa sawit milik PT. Yongjing Investindo dan PT. Medco Papua Hijau Selaras. Kegiatan survei dilakukan untuk mendapatkan sampel serangga hama dan mengestimasi tingkat kerusakannya, serta mengoleksi jenis musuh alami yang berasosiasi dengan target hama, dilanjutkan dengan kegiatan laboratorium untuk mengkonfirmasi hasil identifikasi hama dan jenis musuh alaminya. Hasil survei menunjukkan bahwa  penyebab kerusakan pada kelapa sawit di PT Yongjing Investindo dan PT. Medco Papua Hijau Selaras, Papua Barat adalah belalang Sexava nubila Stal. (Orthoptera: Tettigoniidae).  S. nubila merupakan hama kelapa (Cocos nucifera) yang sudah lama ada di beberapa daerah di Papua Barat.  S. nubila merusak  daun kelapa sawit dengan tingkat kerusakan mencapai  20-100% sehingga kerusakannya dikategorikan sangat merusak. Musuh-musuh alami S. nubila yang banyak ditemukan di lapangan adalah burung gagak, semut rangrang (Oecophylla smaragdina), belalang sembah (Orthopthera: Mantidae), dan parasitoid telur (Leefmansia bicolor).  Hasil penelitian ini merupakan  laporan pertama tentang serangan hama S. nubila pada tanaman kelapa sawit.  Perlu upaya  serius dan tindakan pengendalian yang segera  untuk menghindari kerugian ekonomi yang besar pada pertanaman sawit di Papua Barat. 
Efek Zat Pengatur Tumbuh BAP Terhadap Pertumbuhan Planlet Kelapa Genjah Kopyor dari Kecambah yang Dibelah NURHAINI MASHUD
Buletin Palma Vol 14, No 2 (2013): Vol. 14 No. 2, Desember 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v14n2.2013.82-87

Abstract

Kelapa kopyor memiliki buah yang abnormal, yaitu sebagian endospermnya (daging buah) tidak melekat pada tempurung, namun memiliki embrio yang normal. Embrio normal ini dapat tumbuh dalam media tumbuh in vitro (Y3) menggunakan teknik kultur embrio. Namun selama ini, dari satu embrio hanya dihasilkan satu planlet/bibit, sedangkan dari satu embrio kemungkinan dapat dihasilkan lebih dari satu planlet dengan cara menggunakan kecambah embrio kelapa Genjah kopyor yang dibelah. Penelitian bertujuan untuk mendapat konsentrasi Benzyl amyno purine (BAP) dalam media tumbuh in vitro (Y3) yang sesuai untuk pertumbuhan planlet kelapa Genjah kopyor yang berasal dari embrio yang dibelah. Penelitian dilakukan dalam bentuk percobaan tunggal, menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Setiap perlakuan menggunakan 5 kecambah, sehingga jumlah eksplan yang digunakan sebanyak 100 kecambah. Perlakuan yang diuji adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh BAP per liter media yang terdiri atas (1). 1,5 ml, (2). 2,0 mg, (3). 2,5 mg, (4). 3,0 mg, (5). 3,5 mg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan zat pengatur tumbuh BAP mempengaruhi pertumbuhan eksplan kelapa Genjah kopyor yang berasal dari kecambah yang dibelah. Pengaruh ini berbeda menurut konsentrasi BAP yang digunakan dan parameter pertumbuhan yang diamati. Pada konsentrasi 3,5 mg/l terjadi penurunan jumlah daun dan panjang tunas secara nyata, tetapi tidak mempengaruhi panjang akar. Persentase planlet normal yang dihasilkan meningkat dengan menurunnya konsentrasi BAP. Persentase planlet normal tertinggi diperoleh pada media tumbuh in vitro dengan konsentrasi BAP 1,5 mg/l. Kata kunci: Embrio yang dibelah, konsentrasi BAP, planlet, kelapa Genjah kopyor.ABSTRACTThe Effect of BAP Growth Regulator on the Growth of Dwarf Kopyor Coconut Plantlet Derived-Germinated Embryo SplittingCoconut kopyor have an abnormal endosperm, which is almost all the endosperm are not attached to the shell, but it has a normal embryo. The normal embryos can be grown in a in vitro growth medium (Y3) using embryo culture techniques. But over the years, from one embryo is only produced one plantlet/seedling, while from one embryo can be produced more than one plantlets by using splitted germinated embryos of Dwarf coconut kopyor. The study aimed to obtain the concentration of Benzyl amyno purine (BAP) in in vitro growth medium (Y3) which suitable for growth of Dwarf kopyor coconut planlet. The study was conducted in the form of a single experiment , using a randomized block design with 5 treatments and 4 replications. Each treatment using five germinated embryos, so the number of explants were used as much as 100 germinated embryos. The treatment being tested is the concentration of BAP growth regulator per litre medium, consisting of (1). 1.5 ml, (2). 2.0 mg, (3). 2.5 mg, (4). 3.0 mg, (5). 3.5 mg. The results showed that BAP affect the growth of kopyor Dwarf coconut derived from the splitted germinated embryos. The influence of different concentrations of BAP is different depend on the BAP concentration and growth parameters were observed. At a concentration of 3.5 mg/l BAP decline in the number of leaves and the length of shoots, but do not affect the length of root. Percentage of normal plantlets produced increases with decreasing of BAP concentration. The highest percentage of normal plantlets grown in medium Y3 with 1.5 mg/l BAP. Keywords: Embrio splitting;BAP concentration;plantlet;dwarf kopyor coconut.
Kekerabatan Genetik Antar Enam Aksesi Plasma Nutfah Kelapa Asal Provinsi Gorontalo Miftahorrachman Miftahorrachman; Meity Tulalo; Elsje T Tenda
Buletin Palma No 33 (2007): Desember, 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n33.2007.28-36

Abstract

Pengukuran jarak genetik enam aksesi kelapa hasil eksplorasi di Provinsi Gorontalo, bertujuan untuk mengetahui kekerabatan antar enam aksesi tersebut. Jarak genetik diukur dengan menggunakan perhitungan nilai D2 statistik dari Mahalanobis, didasarkan pada 14 karakter. Karakter-karakter yang diamati meliputi lingkar batang pada 20 cm dari  permukaan tanah, lingkar batang pada 1.5 meter dari permukaan tanah, panjang 11 bekas daun, jumlah anak daun, lebar anak daun, panjang anak daun, panjang tangkai daun, lebar tangkai daun, tebal tangkai daun, berat buah, berat buah tanpa sabut, berat buah tanpa air, berat daging buah, dan jumlah buah. Hasil perhitungan nilai D2 menunjukkan bahwa 6 aksesi kelapa asal Gorontalo membentuk 3 kelompok. Kelompok I terdiri dari aksesi-aksesi kelapa Dalam Molombulahe, Dalam Modelomo, Dalam Tahele dan Dalam Molowahu. Kelompok II  adalah kelapa Dalam Kramat, sedangkan kelompok III yaitu kelapa Dalam Limehe. Jarak terjauh terjadi antara kelompok I dan II dengan nilai D2 sebesar 17.069,004, sedangkan jarak terdekat antara kelompok I dan III dengan nilai D2 3.116,71. Jarak antar aksesi hanya terjadi pada Kelompok I dengan nilai D2 sebesar 3.116,71. Karakter penyumbang terbesar terjadinya jarak genetik adalah tebal tangkai daun dengan nilai sumbangan mencapai 60,00 persen diikuti oleh berat buah dan lingkar batang pada 20 cm di atas permukaan tanah, dengan besar sumbangan berturut-turut 26,67 dan 13,33 persen. Hasil ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pemuliaan, terutama kegiatan perakitan untuk perbaikan tanaman kelapa di Gorontalo.

Page 4 of 22 | Total Record : 220