cover
Contact Name
Agus Budiharto
Contact Email
phpbun_2006@yahoo.co.id
Phone
+622518313083
Journal Mail Official
deciyantos@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1 Bogor 16111, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Perspektif, Review Penelitian Tanaman Industri
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Articles 201 Documents
KAKAO FERMENTASI : PELEPASAN PEPTIDA BIOAKTIF DAN MANFAATNYA BAGI KESEHATAN Fermented Cocoa: The Release of Bioactive Peptides and Their Health Benefits Winda Haliza; Endang Yuli Purwani; Dedi Fardiaz; Maggy Thenawidjaja Suhartono
Perspektif Vol 18, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.552 KB) | DOI: 10.21082/psp.v18n2.2019.104-119

Abstract

ABSTRAKProses fermentasi diperlukan untuk mendapatkan biji kakao berkualitasi tinggi. Fermentasi biji kakao melibatkan beragam mikrobia dan enzim endogen yang mampu merombak komponen di dalamnya menjadi prekursor citarasa dan aroma bahkan komponen bioaktif.  Protein termasuk salah satu komponen yang mengalami perombakan yang memicu pelepasan bioaktif peptida. Proses proteolitik selama fermentasi kakao menyediakan asam amino dan peptida yang melimpah dimana lebih dari 800 peptida dapat diidentifikasi secara jelas. Peptida tersebut memiliki manfaat kesehatan karena mampu berfungsi  sebagai antioksidan, antihipertensi, antitumor dan sebagainya.  Hal ini mengindikasikan bahwa biji kakao terfermentasi memiliki keunggulan sebagai sumber bioaktif peptida. Ketentuan fermentasi biji kakao di Indonesia secara jelas telah diatur oleh Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia No.67/Permentan/Ot.140/5/2014 tentang Persyaratan Mutu dan Pemasaran Biji Kakao. Fermentasi spontan biji kakao bersifat unik dan berkaitan erat dengan keragamanan jenis mikroba  dan enzim serta metabolit yang dihasilkannya. Pemahaman yang baik terhadap fermentasi spontan telah mendorong dikembang-kannya beragam teknologi fermentasi biji kakao yang sifatnya terkendali untuk menghasilkan produk dengan standar tertentu yang dikehendaki. Selanjutnya, proses fermentasi seharusnya menjadi strategi dalam meningkatkan daya saing biji kakao.  ABSTRACTThe fermentation process is needed to get high-quality cocoa beans. Fermentation of cocoa beans involves a variety of microbes and endogenous enzymes that are able to remodel the components inside to become the precursors for flavor and aroma and even bioactive components. Protein is one component that has undergoes a change that triggers the release of bioactive peptides. Proteolytic processes during cocoa fermentation provide abundant amino acids and peptides from which more than 800 peptides can be clearly identified. The peptide has health benefits because it is able to function as an antioxidant, antihypertensive, antitumor and so on. This indicates that fermented cocoa beans have the advantage of being a source of bioactive peptides. The provisions on the fermentation of cocoa beans in Indonesia have clearly been regulated by Regulation of the Minister of Agriculture of the Republic of Indonesia No.67/Permentan/Ot.140/5/2014 concerning Quality and Marketing Requirements for Cocoa Beans. Spontaneous fermentation of cocoa beans is unique and is closely related to the variety of microbial types and the enzymes and metabolites that they produce. A good understanding of spontaneous fermentation has led to the development of a variety of cocoa bean fermentation technologies that are controlled to produce products with certain desired standards. Furthermore, the fermentation process should become a strategy to improve the competitiveness of cocoa beans. 
Status Teknologi dan Prospek Beauveria bassiana Untuk Pengendalian Serangga Hama Tanaman Perkebunan DECIYANTO SOETOPO; INDRAYANI INDRAYANI
Perspektif Vol 6, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.071 KB) | DOI: 10.21082/p.v6n1.2007.%p

Abstract

ABSTRAKPengendalian hama dengan insektisida kimia telah menimbulkan banyak masalah lingkungan, terutama rendahnya  kepekaan  serangga  terhadap  insektisida kimia, munculnya hama sekunder yang lebih berbahaya, tercemarnya tanah dan air, dan bahaya keracunan  pada  manusia yang melakukan kontak langsung dengan insektisida kimia. Salah satu alternatif pengendalian yang cukup potensial adalah penggunaan patogen serangga, khususnya cendawan B. bassiana.  Mekanisme infeksinya yang secara kontak melalui kutikula dan tidak perlu tertelan oleh serangga menyebabkan  B.  bassiana  menjadi  kandidat  utama untuk digunakan sebagai agen pengendalian berbagai spesies serangga hama, baik yang hidup pada kanopi tanaman maupun yang di dalam tanah.  Rata-rata patogenisitasnya terhadap hama sasaran cukup tinggi, sehingga pemanfaatannya dalam pengendalian serangga  hama  perkebunan,  seperti  kapas,  kelapa sawit, lada, kelapa dan teh memiliki prospek sangat baik. Untuk pengendalian ulat penggerek buah kapas, Helicoverpa armigera telah ditemukan dua strain isolat, yaitu Bb4a dan BbEd10 yang efektif membunuh 80-87,5% ulat H. armigera hasil uji di laboratorium, dengan masing-masing LT50 mencapai 8,96-9,62 hari dan 19,69-22,27 hari dibanding strain B. bassiana yang lain (19-48 hari).  B. bassiana juga efektif untukm pengendalian serangga   hama kelapa sawit(Darna  catenata), penggerek batang lada (Lophobaris piperis), dan ulat pemakan tanaman teh (Ectropis bhurmitra). Konidia B. bassiana dapat diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada kanopi tanaman, ditaburkan pada permukaan tanah, atau dicampur dengan tanah atau kompos. Temperatur dan kelembaban adalah faktor abiotik yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan konidia B. bassiana, tetapi cahaya melalui panjang gelombang sinar ultraviolet juga berpotensi merusak konidia sehingga aplikasi pada pagi (< pkl. 08.00) atau sore hari (> pkl. 15.00) dapat menghindari kerusakan. B. bassiana aman bagi serangga bukan sasaran, terutama serangga berguna dan musuh alami. Temperatur dan kelembapan yang lebih stabil pada ekosistem tanaman perkebunan akan sangat mendukung peran B. bassiana dalam pengendalian hama utama tanaman perkebunan sehingga prospek pengembangannya sangat baik.Kata   kunci:   Beauveria   bassiana,   status   teknologi, prospek, hama perkebunan.  ABSTRACTStatus, technology and prospect of ecofriendly entomopathogenic fungus B. bassiana against insect pests of estate cropsChemical insecticides for pests control are causing environmental    problems,    such    as    reducing susceptibility of insect pests to a number of chemical insecticides, outbreaks of secondary pest, air and soil pollution, and human poisoned due to directly contact with the pesticides. Insect pathogen, a pest control bioagent, can be used as an alternative component control for reducing of chemical insecticide usage.  The entomopathogenic fungi, B. bassiana (Bals.) Vuill. is currently being developed as a potential of alternative bioinsecticide. Mode of action of the fungi is initially started  by  adhesion  and  penetrating  of  the  spore through insect cuticule, and its mycelium then develop inside the insect body prior the insect death. Its conidia will grow soon after the insect die. High pathogenicity will show when B.  bassiana expose to appropriate target pests.  Several Indonesian strains and isolates of B. bassiana have been proven to be pathogenic against several major insect pests of cotton, oil palm, pepper, coconut and tea. Two B. bassiana isolates, viz. Bb4a and BbEd10  were  found  to  be  effective  against  cotton bollworm, H. armigera with the average percentage of mortality by 80-87.5% based on laboratory study.  Both the LT50  and LT90 of the two isolates were 8.96-9.62 days and 19.69-22.27 days, respectively and these LT were shorter than that of other isolate, Fb4 (19-48 days).  B. bassiana  was also effective for control of the oil palm larvae (D. catenata), pepper stem borer (L. piperis),  and  tea  leaf  caterpillar (E.  bhurmitra).    B. Status, Teknologi, dan Prospek B. Bassiana  Untuk Pengendalian Serangga Hama (D.Soetopo dan IGAA Indrayani) bassiana can be applied by spraying method over the plant canopy, applied as soil treatment, or by mixing the conidia with compost. Temperature and humidity are the abiotic factors that able to influence the growth of conidia. B. bassiana spore is less active or even inactive when directly exposed to ultraviolet, therefore spraying conidia in the early morning (< 08.00 a.m) or in the evening (> 15.00 p.m) may avoid the reduction of conidia activity. B. bassiana is also safe to non-target insect including beneficial insect and natural enemies. Temperature  and  humidity  are  more  stabil  within estate plantation ecosystem and both will support the fungus  epizootic  development.  Therefore  using  B. bassiana seems to hold great promise in controlling the major insect pests of estate crops.Key words: Beauveria bassiana, status of technology, prospect, insect pest, estate crops.
Nitrogen management on sustainable patchouli production Setiawan Setiawan
Perspektif Vol 14, No 1 (2015): Juni, 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.553 KB) | DOI: 10.21082/p.v14n1.2015.51-59

Abstract

Patchouli (Pogostemon cablin Benth.) one of plant which is producing essential oil called patchouli oil. The oil produced by destilation herbage. The crops are responsive to fertilizers especially nitrogen and N concentration in leaves 5.58%. The condition is potentially to decline of soil fertility. Urea is N source commonly used to increase yiled. N fertilizer was not at all to used by the crops, partly of N loss to the environment by leacing, denitrification, and volatilization to the atmosphere as ammonia gaseous. Threre are several technology potentialy to prevent the losses of N and maintain of soil fertility such as provide N fertilizers corresponding growth phase reffer to “5th right” (right time, right doses, right type, right place and right method), provide N Stabilizer and N crops fixing by cropping patern with legumes. This paper aims to review the results of fertilization on patchouli as an effort to support sustainable agriculture.Keywords: Patchouli, fertilizer, nitrogen, N used efficiency Pengelolaan Nitrogen pada Budidaya Nilam BerkelanjutanRINGKASANNilam (Pogostemon cablin Benth.) salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang dikenal sebagai minyak nilam. Tanaman nilam responsif terhadap pemupukan terutama Nitrogen. N yang terkandung dalam daun sebesar 5,58%. Urea merupakan sumber pupuk N yang umum diberikan untuk meningkatkan hasil pertanian. Pemberian N ke dalam tanah tidak saja untuk menghasilkan produksi yang optimal juga untuk mengembalikan tingkat kesuburan tanah. N yang diaplikasikan ke tanah tidak semuanya dimanfaatkan oleh tanaman, sebagian N hilang karena pencucian, denitrifikasi dan menguap ke atmosfer sebagai gas amonia. Beberapa teknologi yang dapat atau berpotensi untuk mencegah kehilangan N dari tanah antara lain memberikan pupuk N sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman dengan mengacu pada 5 tepat (tepat waktu, tepat dosis, tepat jenis, tepat tempat dan tepat cara), mengembalikan limbah hasil penyulingan nilam dalam bentuk kompos, memberikan penstabil pada pupuk N dan fiksasi N dari udara melalui pola tanam nilam dengan kacang-kacangan. Makalah ini bertujuan untuk mereview hasil-hasil penelitian pemupukan nilam sebagai upaya mendukung budidaya nilam berkelanjutan.Kata kunci: Nilam, pemupukan, nitrogen, efisiensi pemupukan N
Patchouli Seeds Production and Handling to Provide Good Quality of Seed . SUKARMAN; SRI WAHYUNI
Perspektif Vol 12, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v12n1.2013.%p

Abstract

Patchouli (Pogostemon cablin Benth.) is a primary essential oil plant of Indonesia.  It produces patchouli oil, and provides almost 90 % of world essential oil.  To  maintain the stability of market demand, it is necessary to develop sustainable production system of patchouli plantation. For the purpose, providing high quality seeds supply is required.  In order to meet the seed standard, some requirement should be considered e.q. superior variety used,  the suitability of land and climate for production area, cultivation technique, diseases and pest management control. Plant materials are developed by cuttings.  The storage of cuttings are very limited, but they are voluminous and voluminous characters.  Distributing the seeds need high cost due to packaging system and has limited time to keep the high seed viability.    Packaging technique to keep cuttings remain fresh should be developed.  To overcome the avaibility of seed supply at patchouli area development,  in the seed production should be developed in the same area.   Further more, high seed quality should be guaranted by certification process. This paper aims to inform  technology production and handling system in order to get the high quality of patchouli. Key word: Pogostemon cablin,  patchouli, seed production, seed handling.
POTENSI JAMUR Metarhizium anisopliae (METSCH.) SOROKIN UNTUK PENGENDALIAN SECARA HAYATI HAMA URET TEBU Lepidiota stigma (COLEOPTERA:SCARABAEIDAE)/Potency of Metarhizium anisopliae (Metsch.) Sorokin for biocontrol of sugarcane white grub, Lepidiota stigma I Gusti Agung Ayu Indrayani
Perspektif Vol 16, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.124 KB) | DOI: 10.21082/psp.v16n1.2017.24-32

Abstract

ABSTRAK Tebu (Saccharum officinarum L) adalah komoditas penting di Indonesia yang beberapa tahun terakhir mengalami penurunan produktivitas, yang disebabkan oleh cara-cara budi daya yang tidak sesuai prosedur dan adanya serangan hama uret, Lepidiota stigma. Hama uret berkembang sangat cepat dan stadia yang paling merusak adalah instar 3. Serangan yang terjadi pada tanaman tebu muda mengakibatkan tanaman layu kemudian mati. Hama uret sulit dikendalikan karena sebagian besar hidupnya (stadia larva) ada di dalam tanah. Umumnya hama uret dikendalikan secara intensif dengan pestisida kimia yang diaplikasikan ke dalam tanah dan berpotensi mengakibatkan pencemaran, sehingga diperlukan alternatif pengendalian yang ramah lingkungan. Uret tebu dapat dikendalikan dengan musuh alami, yaitu jamur Metarhizium anisopliae. Jamur M. anisopliae efektif mengendalikan berbagai spesies serangga hama yang hidup di atas dan di bawah permukaan tanah. Satu isolat unggul jamur M. anisopliae (JTMa-2) telah diperoleh melalui isolasi sampel tanah dari pertanaman tebu di Jawa Timur. Setelah melalui pengujian di laboratorium dan rumah kasa selama dua tahun berturut-turut, terbukti bahwa isolat JTMa-2 sangat patogenik terhadap hama uret. Upaya pengembangan JTMa-2 menjadi biopestisida di masa depan memerlukan dukungan teknik perbanyakan massal yang mudah dan efisien, serta perlu disempurnakan dengan teknik formulasi yang tepat, sehingga dapat melindungi bahan aktif inokulum jamur dari pengaruh radiasi ultraviolet ketika diaplikasikan di lapangan. Untuk mengoptimalkan potensi jamur M. anisopliae dalam pengendalian uret diperlukan pula kajian mengenai sinergisme dengan cara-cara pengendalian yang lain, terutama penggunaan varietas tahan dan musuh alami (parasitoid dan predator). Kata kunci: Tebu, uret, isolat, patogen serangga, inokulum ABSTRACT Sugarcane is an important crop in Indonesia, however its productivity is decrease currently due to insect pests mainly white grub, Lepidiota stigma.  The white grub is one of the pests limiting the production of sugarcane. The grub grows rapidly and the third instar is very destructive when feeding the root of the plant. The root damage can be very severe when grub feeding on younger plants of sugarcane that cause the plant die.  White grub is difficult to control because they live in soil. The control method of this grub is usually by using chemical pesticides applied into soil that harm the soil environment due to insecticides residues. Therefore, an alternative control method should be found.  Sugarcane white grub can be controlled biologically using their natural enemies, including entomopathogenic fungi Metarhizium anisopliae. The most pathogenic isolate of M. anisopliae (JTMa-2) has been isolated from soil collected in sugarcane plantation in East Java. Through laboratory and screen house studies this isolate showed highly pathogenic against L. stigma. Based on those studies, the most pathogenic isolate of M. anisopliae is promising to be a biological control agents against sugarcane white grub. To develop the most promising isolate to become a biopesticide, it can be massively produced easily using local materials for low cost and support by an appropriate formulation method in order to maintain its virulence against the insect host when applied in the field. To optimize the potential of this entomopathogenic fungi, its synergism with other control methods, especially resistant varieties of sugar cane and natural enemies, e.g. parasitoids or predators need to be studied. Key words: Sugar cane, white grub, isolate, entomopathogen, inoculum
BUDIDAYA TANAMAN KOPI UNTUK ADAPTASI DAN MITIGASI PERUBAHAN IKLIM HANDI SUPRIADI
Perspektif Vol 13, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.237 KB) | DOI: 10.21082/p.v13n1.2014.%p

Abstract

ABSTRAKPerubahan  iklim  yang  ditandai  dengan  berubahnya musim dan pola hujan, meningkatnya intensitas anomali iklim  El­Nino  dan  La­Nina  serta  meningkatnya  suhu udara  mengakibatkan  kerusakan  pada  tanaman  kopi, sehingga  produksi  menurun.    Akibat  EL­Nino  terjadi bulan kering (curah hujan di bawah 60 mm per bulan) yang  berkepanjangan  mengakibatkan  produksi  kopi menurun sebesar 34  79%, begitu juga bulan basah (curah hujan di atas 100 mm per bulan) yang merata sepanjang tahun  akibat  La­Nina  mengakibatkan  produksi  kopi menurun 98,5%.  Bulan kering yang berkepanjangan (di atas 3 bulan) akibat dari kejadian El­Nino menyebabkan kualitas biji kopi menurun. Setiap kenaikan suhu 1C, maka  akan  menurunkan  produksi  biji  kopi  sebesar 30,04%.  Namun  suhu  udara  yang  sangat  rendah  (­3 0 sampai ­5         C) dapat mematikan daun kopi. Upaya untuk mengatasi  perubahan  iklim  pada  tanaman  kopi  dapat dilakukan melalui penerapan teknologi budidaya yang bersifat adaptif dan mitigatif terhadap perubahan iklim yaitu penerapan tanpa olah tanah, penggunaan mulsa, pembuatan  rorak,  penanaman  dan  peramajaan  kopi dengan  bahan  tanam  unggul,  penanaman  penaung, pemangkasan,  penanaman  tanaman  penutup  tanah, penggunaan  pupuk  organik,  pembuatan  embung, irigasi dan sistem drainase.Kata kunci:  Tanaman  kopi,  perubahan  iklim,  dampak, mengatasi, budidaya Cultivation of Coffee plant for Adaptation and Mitigation of Climate ChangeABSTRACTClimate change marked by the shift in rainfall patterns and  season  as  well  as,  increasing  intensity  of  climate  anomaly  El­Nino  and  La­Nina  and  the  rising temperatures are causing damage to the coffee plant so that production is declining. As a result of the EL­Nino occurs  Months  dry  (rainfall  below  60  mm  per  month) prolonged resulted in coffee production declined by 34­ 79%, as well as in wet (rainfall above 100 mm per month) are evenly distributed throughout the year due to the La­ Nina in production of coffee dropped 98,5%. Besides the dry months of prolonged (over 3 months) as a result of the  El­Nino  events  lead  to  decreased  quality  of  coffee beans.  Every  1 0 c  temperature  rise  then  it  will  lose production of coffee beans by 30,04%. However at very low temperatures (­3 to­5 0 c) can turn off coffee leaves. Efforts to address climate change on coffee plants can be done through the application of cultivation technology both  are  adaptation  as  well  as  mitigation  to  climate  change, namely the application of no­tillage, mulching, making  rorak,  planting  and  rejuvenating  coffee  with superior planting material, shade tree planting, pruning, feeding  ground  cover  plants,  fertilizing  the  organic fertilizers,  the  making  of  dam,  irrigation  and  drinase system.Keyword :  Coffea sp., climate change, impact, overcome, cultivation
PENINGKATAN PRODUKSI JAMBU METE NASIONAL MELALUI PERBAIKAN TEKNOLOGI BUDIDAYA BERBASIS EKOLOGI "Increasing national cashew production through improved ecology-based cultivation technology Rosihan Rosman
Perspektif Vol 17, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.675 KB) | DOI: 10.21082/psp.v17n2.2018.166-174

Abstract

ABSTRAK Jambu mete (Anacardium occidentale L.) telah berkembang luas di 24 provinsi di Indonesia. Namun pengembangannya belum diikuti dengan meningkatnya produktivitas tanaman. Rata-rata produktivitas jambu mete nasional adalah 432 kg/ha, sedangkan hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas varietas unggul dapat mencapai lebih dari 1000 kg gelondong kering/ha. Produksi jambu mete Indonesia hanya memberikan kontribusi sebesar 2,86% dari produksi dunia yang berarti berpeluang untuk bersaing dengan negara lain, agar menjadi terbesar di dunia. Mengingat nilai ekonominya yang cukup tinggi, perlu adanya dorongan untuk meningkatkan produksi nasional dan bersaing dengan negara lain. Untuk itu, dalam mendukung pengembangan tanaman jambu mete di Indonesia diperlukan berbagai upaya, antara lain dengan meningkatkan produksi melalui perluasan wilayah pengembangan ke daerah-daerah yang sesuai persyaratan tumbuhnya dan meningkatkan produktivitas melalui dukungan  teknologi yang tepat dan  berbasis ekologi.  Lahan yang sesuai untuk jambu mete adalah ketinggian 1-500 m dpl, curah hujan 1300-2900 mm/tahun, bulan kering 4-5 bulan, drainase baik, pH 5,6-7,3, kedalaman air tanah >1,5 m. Teknologi yang tepat adalah teknologi spesifik lokasi, mulai dari kesesuaian lahan, varietas unggul, pemupukan hingga pola tanam. ABSTRACT Cashew (Anacardium occidentale L.) has grown widely in 24 provinces in Indonesia, but its development has not been followed by increasing crop productivity. Everage national of cashew productivity is still low (432 kg/ha), but result of varieties research show that the productivity of varieties in more than >1000 kg dried cashew nut/ha. Contribution of production cashew of Indonesia only 2,86 % in the world. Economy value of cashew is high. The oppotunity to compete with other contries is very possible, in order to become the biggest in the world. Considering its high economic value, there needs to be an encouragement to increase national production and compete with other countries. Therefore, in supporting the development of cashew in Indonesia, various efforts are needed, including increasing production through expantion of development areas, to areas that are in line with growing requirement and increasing productivity, through appropriate technology support and ecology-based.  Land suitable for cashew i.e. altitude 1-500 m above sea level, rain fall 1300-2900 mm/year, dry month 4-5 months, good drainage, pH 5,6-7,3, and ground water depth above 1,5 m. The right technology is location-specific technology, starting from land suitability, superior varieties, fertilization to cropping patterns.
Peranan Morfologi Tanaman untuk Mengendalikan Pengisap Daun, Amrasca biguttula (Ishida) pada Tanaman Kapas I G.A.A. INDRAYANI
Perspektif Vol 7, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.073 KB) | DOI: 10.21082/p.v7n1.2008.%p

Abstract

ABSTRAKVarietas  tahan  merupakan  salah  satu  komponen penting  dalam  pengendalian  hama  terpadu (PHT). Mekanisme   ketahanan   tanaman   terhadap   hama meliputi:    antibiosis,    antixenosis,    dan    toleran. Ketahanan  melalui  faktor  fisik/morfologi  tanaman merupakan  bagian  dari  ketahanan  antixenosis  dan digunakan untuk mendeterminasi tingkat ketahanan atau  kepekaan  varietas    kapas  terhadap  Amrasca biguttula.   Bulu   daun   sebagai   salah   satu   sifat fisik/morfologi tanaman kapas mempunyai hubungan erat   dengan   ketahanan   terhadap   A.   biguttula. Kerapatan   bulu   daun   berperan   penting   pada ketahanan kapas terhadap A. biguttula, terbukti adanya korelasi  negatif  antara  kerapatan  bulu  daun  dan tingkat   kerusakan   tanaman.   Varietas   kapas   yang berbulu cenderung lebih tahan terhadap serangan A. biguttula   dibanding   varietas   yang   tidak   berbulu. Penggunaan varietas kapas tahan terhadap A. biguttula dapat mengurangi penggunaan insektisida kimia dan berpotensi    meningkatkan    keanekaragam    hayati, sehingga mempertinggi peran musuh alami.Kata  kunci:    Kapas,  morfologi  tanaman,  Amrasca biguttula, pengendalian hama terpadu ABSTRACTRole of plant morphological characteristics for controlling sucking insect pest, amrasca biguttula (ishida) on cottonThe use of resistant variety is one of the important component  of  Integrated  Pest  Management (IPM). Plant resistance against insect pests consists of three different mechanisms, e.g. antibiosis, antixenosis, and tolerance.    Resistance  to  insect  pests  that  involves physical/morphological characters of plant, is part of antixenosis, which is used to determine the resistance or  susceptibility  of  cotton  varieties  against  sucking insect pest, Amrasca biguttula.  Leaf hairs (trichomes) as a  physical/morphological characters  of  cotton plant have  a  close  relationship  to  jassid  (A.   biguttula) resistance. Leaf hair density has an important role in the resistance of A. Biguttula. It is showed by negative correlation   between   leaf   hair   density   and   jassid damage.  The hairy variety of cotton is more resistant to A. biguttula than those of glabrous (smooth leaf). The use   of      resistant   varieties   lead   to   reduction   in insecticide application in pest control and increase the biodiversity in order to enhance the role of natural enemies.Key words: Cotton, morphological characters, Amrasca biguttula, integrated pest management
Diversifikasi Usahatani Kelapa Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Pendapatan Petani DOAH DEKOK TARIGANS
Perspektif Vol 4, No 2 (2005): Desember 2005
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.119 KB) | DOI: 10.21082/p.v4n2.2005.%p

Abstract

ABSTRAKKomoditas kelapa bagi masyarakat Indonesia memiliki peranan multiguna dan strategis, karena terkait dengan berbagai segi kehidupan. Dari segi peranan ekonomi tanaman kelapa secara nasional belum mencapai tingkat yang optimal terutama apabila dilihat dari segi pendapatan petani, pemenuhan kebutuhan bahan baku industri dalam negeri dan pendapatan devisa negara. Pendapatan usahatani kelapa yang  dikelola petani, belum mampu menunjang kehidupan keluarga petani secara layak sehingga  petani kelapa secara nasional masih hidup di bawah garis kemiskinan.  Suatu kenyataan dimana proporsi pendapatan petani hanya 20%  dari  total pendapatan keluarga. Diversifikasi usahatani secara horizontal merupakan salah satu bentuk usahatani kelapa dimana tanaman sela semusim dan tanaman tahunan atau keduanya dirakit menjadi pola usahatani campuran sehingga dalam usahatani dikembangkan  beberapa tanaman yang prospektif sebagai sumber pendapatan. Tanaman sela yang diintrodusi diseleksi berdasarkan pada peluang pasar sehingga mampu berperan sebagai sumber pendapatan yang potensial. Diversifikasi usahatani secara vertikal berarti menganeka ragamkan produk usahatani secara efisien  disertai  dengan  peningkatan  mutu  sehingga produk lebih kompetitif dan memberikan nilai tambah. Penganeka ragaman produk olahan usahatani yang berpeluang  memberikan  tambahan pendapatan antaranya pengolahan air kelapa menjadi nata de coco, pengolahan tempurung, pengolahan sabut kelapa menjadi berbagai bentuk produk seperti tali, karpet, jok mobil, kursi atau geotextile, pembuatan berbagai kerajinan tangan berbahan baku tempurung, pengolahan minyak kelapa murni (virgin coconut oil) dan pengolahan gula kelapa. Pada tingkat petani yang memiliki produk olahan yang prospektif untuk dikembangkan adalah minyak kelapa murni (VCO) dan gula kelapa. Namun demikian, pengembangan produk olahan minyak kelapa murni terbatas dapat diterapkan pada daerah-daerah sentra produksi yang mampu mendukung tersedianya fasilitas pengolahan yang sederhana, terjangkau dan peluang pemasaran produk yang dihasilkan, sedangkan produk gula kelapa mudah diproses pada tingkat petani karena tekhnik pengolahannya sederhana serta pemasaran dan harganya yang mendukung disemua sentra produksi kelapa. Pengembangan  produk  olahan gula kelapa pada tingkat petani mampu memberikan kontribusi pendapatan 69-96% terhadap total pendapatan usahatani, dan lebih kompetetif dibandingkan dengan produk olahan kopra. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan di negara-negara produsen kelapa dunia (India, Filipina, Sri Langka) termasuk Indonesia menunjukkan bahwa penerapan diversifikasi usahatani kelapa mampu meningkatkan produktifitas usahatani dan pendapatan petani secara signifikan.Kata kunci  : Kelapa, Cocos  nucifera,  diversifikasi usahatani, peningkatan pendapatan ABSTRACTCoconut Farm Diversification As Attempt to Increase Farmers IncomeThe coconut commodity in Indonesia has multiple roles and strategic because it is closely related  to the human life nation wide. Considering the current farmer income level, the lack of fulfillment  for the demand of industry row material and the foreign exchange, it can be said that the economic role of coconut in national scale has not yet reached the optimum  level. The income  from the coconut farm are not able to support properly their family income. Diversification of farming system horizontally mean an introduction annual or perennial intercrop or both which are arranged in the same farming systems. The introduced intercrop are able to play a roles a potential  income resource. Meanwhile, the application of diversification of farming systems vertically means to broader the farm product efficiently, followed by the quality enhancement, hence, ultimately it produces more competitive product and give the value added. Furthermore, diversification  of coconut processed product that has opportunity  to give addition income, among other things, are processing of coconut water become nata de coco, processing of coconut-shell char cool, processing of the fibre for rope, carpet, car set, geotextile, handy-craft, processing of virgin coconut oil (VCO), and processing of brown sugar. At the farmers level the promising processing product to develop in Indonesia are virgin coconut oil and brown sugar. However, the development  of  virgin  coconut  oil  is  only  can be applied in the production centre area which may be able to support the availability of the simple, inexpensive processing facility and the product marketing. Whereas, the brown sugar basically is easy to make at the farmer level as the processing technique is simple, and so for the marketing  as well as the price are favorable  at all coconut production centre. Other study reported that contribution of brown sugar product was higher compared with that of copra to farmers  income.  The  development  of  brown  sugar product at farmer level was able to contribute 69-96% of the total farm income. Furthermore, the results of the research activities  in most of the coconut producing country such as India, Philippines, Sri Lanka including Indonesia showed that adoption farm diversification not only affected to the increment  farm productivity but also to the increment  of coconut farmers income.Key words :  Coconut, Cocos nucifera, farming system diversification, income increase
Polemik Kapas-Bt di Indonesia nFN HASNAM
Perspektif Vol 1, No 1 (2002): Juni 2002
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1966.533 KB) | DOI: 10.21082/p.v1n1.2002.1-8

Abstract

Dalam makalah ini disajikan informasi ilmiah dengan adanya perdebatan mengenai manfaat dan risiko penanaman kapas-Bt di Sulawesi Selatan. Masyarakat mempertanyakan isiko kapas-Bt terhadap kesehatan tnanusia dan keaneka ragaman hayati dengan pelepasan tanaman hasil konstruksi yang mengandung bahan-bahan geneik dari bakteria, virus serta parasit-parasit lainnya. Bukti-bukti menunjukkan bahwa kapas-Bt tidak berpotensi menyebabkan allergi atau menghasilkan bahan beracun, demikian juga penggunaan gen penanda yang menyebabkan ketahanan terhadap antibiotik tidak perlu dikuatirkan. Efeknya terhadap parasit-parasit, predator-predator dan mikroba tanah sangat kecil. Gen-gen penghasil toksin tersebut idak tersebar melalui tepung sari, karena gen-gen plastid hanya dapat diwariskan melalui tetua beina. Manfaat utama penggunaan kapas-Bt di Amerika Serikat adalah pengurangan pemakaian insekisida dan peningkatan produkivitas. Berkembangnya resistensi serangga terhadap protein yang dihasilkan gen Cry IA(c), akan menggagalkan manfaat tersebut di atas. Untuk itu perlu pengaturan dan pemantauan untuk menjaga keberlanjutan penggunaan kapas-Bt. Menghadapi keidakpasian ilmiah dalam pemanfaatan tanaman transgenik, pemerintah Indonesia menganut prinsip kehati-haian yang mensyaratkan dilakukannya penilaian dan pengeIolaan risiko sebelum penggunaan tanaman transgenik.Kata kunci : Bacillus thuringiensis, kapas, Gossypium hirsutum, transformasi, penilaian risiko, ketahanan serangga hama

Page 10 of 21 | Total Record : 201