cover
Contact Name
Agus Budiharto
Contact Email
phpbun_2006@yahoo.co.id
Phone
+622518313083
Journal Mail Official
deciyantos@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1 Bogor 16111, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Perspektif, Review Penelitian Tanaman Industri
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Articles 201 Documents
Inventarisasi Hama dan Penyakit Penting Pada Tanaman Kelapa LULUK SUTJI MARHAENI
Perspektif Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.002 KB) | DOI: 10.21082/p.v7n2.2008.112-117

Abstract

Hama dan penyakit (OPT) merupakan salah satu faktor penghambat dalam peningkatan produksi kelapa bahkan berbagai OPT dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar antara lain Oryctes rhinoceros; Sexava sp., Artona catoxantha, Bronstispa longissima sedangkan penyakit yang sangat merugikan adalah penyakit busuk pucuk (PBP), penyakit gugur buak (PGB) yang disebabkan Phytophthora sp dan penyakit layu kelapa (PLK) serta penyakit layu natuna. Beberapa OPT telah luas penyebaran hampir di seluruh wilayah Indonesia, namun ada juga penyebaran hanya di daerah tertentu seperti Sexava dan penyakit layu natuna, oleh karena itu inventarisasi OPT kelapa dapat memberikan gambaran tentang penyebarannya sehingga dapat mengantisipasi bagi wilayah tertentu yang rentan terhadap OPT tersebut sehingga dapat mengambil tindakan prefentif untuk mencegah keluar masuknya bahan tanaman atau media lainnya yang berpotensi menyebarkan OPT ke daerah yang baru.Kata kunci: Kelapa, hama, penyakit, inventarisasi ABSTRACTInventarization of important pest and diseases on coconut treePest and disease ( OPT) is known as a limiting factor in increase coconut production. Even though several pest and diseases like: Oryctes rhinoceros, Sexava sp., Artona catoxantha, Brostispa longissima participate in a large scale in destroy coconut palm. In term of disease several names recognized attack the coconut because of phytophthora sp and unknown disease by mycoplasm. Several pest and diseases have been widely spreading throughout The country, but another only in certain region like Sexava and natuna disease. It is suggested for inventarization programmed to know the spreading of pest and diseases throughout. The country base an level of incident. Preventive curements for crops material should be determine an priority number one especially from abroad.Key word: Cocos nucivera, pest, disease, inventarization.
Perbaikan Mutu Lada Dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing di Pasar Dunia NANAN NURDJANNAH
Perspektif Vol 5, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.231 KB) | DOI: 10.21082/p.v5n1.2006.%p

Abstract

ABSTRAKIndonesia   merupakan   salah   satu   produsen   lada terbesar di dunia, dimana sebagian besar produknya diekspor dalam bentuk lada hitam dan lada putih serta dalam jumlah kecil dalam bentuk lada bubuk dan minyak  lada.  Persaingan  komoditas  lada  di  pasar dunia  pada  saat ini semakin kompetitif karena besarnya penawaran relative seimbang dengan permintaan.  Selain  itu,  persyaratan  yang  diminta negara-negara   konsumen   semakin   ketat   terutama dalam  hal  jaminan  mutu,  aspek  kebersihan  dan kesehatan. Disamping itu, muncul  negara-negara penghasil lada baru yang menaikkan produksi dengan cepat. Untuk memperbaiki mutu lada, Indonesia telah melakukan beberapa usaha di antaranya menghasilkan teknologi yang lebih baik dalam aspek penanganan bahan dan cara  pengolahannya.  Sebagian dari teknologi tersebut sudah dicoba diterapkan, namun belum  dilakukan  dan  diterapkan  secara  baik  dan terintegrasi   sehingga  hasilnya  tidak memuaskan. Beberapa negara produsen lada telah mengantisipasi keadaan ini di antaranya dengan menaikkan mutu produk  sejak  di  tingkat petani. Keberhasilan memperbaiki mutu di negara-negara tersebut  tercapai karena  dilakukan  dari  segala  aspek, dari  mulai budidaya,  pengolahan   sampai   pemasaran   dan kelembagaannya. Meskipun teknologinya tersedia, perbaikan  mutu lada di  Indonesia, tidak dapat diwujudkan  tanpa  dukungan  aspek-aspek  lainnya. Karena itu perbaikan mutu lada harus dilakukan dari tingkat petani, mulai dari aspek budidaya, pengolahan, distribusi dan pemasarannya secara terintegrasi. Selain itu  perlu  dibenahi  faktor  kelembagaannya  supaya dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.Kata kunci : Lada, Pepper nigrum, lada putih, lada hitam, mutu, pengolahan ABSTRACTImprovement  of  Pepper  Quality  to  Increase  The Competitiveness In The World MarketIndonesia is  one of the biggest  pepper producing countries. Most of the products are exported in the form of black and white pepper, and only a small amount in the form of ground pepper and pepper oil. The competition of pepper commodity in the world market becomes more stringent because the demand is relatively balanced with the supply. Moreover, the consumers   ask   for   more   stringent   condition   of products, especially quality assurance, hygienic and healthy  aspects.  Besides,  there  are  new  producing countries which increase the pepper production very fast. Indonesia has conducted some efforts to improve the  quality  of  pepper,  such  as  good  processing technology. The improved processing technology has been implemented, but it has not done correctly and integratedly with other aspects, so that the results are unsatisfactory. Some producing countries have already anticipated this condition by improving the quality of pepper products from the farmer level. The succeess in improving quality in these countries has been achieved because the improvement is done at all levels, from pepper berries production, processing until marketing and  its  organization.  The  improvement  of  pepper quality  cannot  be  done  only   by  improving   the processing technology, but it should also include other aspects, from pre harvest, postharvest to marketing, and distribution. Moreover, an organization is needed to organize all aspects involved in order to maintain the  consistency  and  sustainability  of pepper production and quality.Key words : Pepper, Piper nigrum L., white pepper, black pepper, quality, processing
Status Helicoverpa armigera (Hiibner) dan Peran Musuh Alaminya pada Ekosistem Kapas di Indonesia nFN NURINDAH
Perspektif Vol 2, No 1 (2003): Juni 2003
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2153.101 KB) | DOI: 10.21082/p.v2n1.2003.11-19

Abstract

Helicoverpa armigera merupakan herbivora polifag. Pada petanaman kapas, serangga hama ini dianggap sebagai hama utama, terutama pada awal pengembangan Intensifikasi Kapas Rakyat. Usaha pengendalian hama ditujukan untuk hama ini dengan mengandalkan insektisida kimia yang disemprotkan secara berjadwal. Dalam pengembangan sistem PHT kapas, teknik pengendalian ditekankan pada pengendalian non-kimiawL Penelitian pengendalian H. armigera dengan teknik pengendalian non-kimiawi telah banyak dilakukan, meliputi pemanfaatan musuh alami yang potensial (pelepasan parasitoid telur dan penyemprotan patogen serangga), penggunaan insekisida botani (serbuk biji mimba), dan penggunaan tanaman perangkap. Penggunaan varietas tahan wereng kapas, yang merupakan salah satu komponen PHT, merupakan kunci dari keberhasilan pengendalian H. armigera. Penggunaan varietas tahan wereng mengakibatkan pertanaman kapas terhindar dari aplikasi insektisida kimia pada awal petumbuhan, sehingga populasi musuh alami yang mempunyai peran penting sebagai faktor mortalitas biotik bagi H. armigera dapat berkembang dan menjaga populasi penggerek buah ini selalu di bawah ambang kendali. Opimalisasi pean musuh alami melalui konservasi merupakan salah satu penyebab perubahan status H. armigera dai hama utama menjadi hama potensial. Perubahan status ini berdampak positif terhadap pengembangan kapas di Indonesia. Dampak tersebut melipui aspek institusi, ekonomi dan ekologi. Aspek insitusi, perlu pemikiian adanya suatu insitusi yang bertanggung jawab dalam penyediaan benih vaietas tahan wereng yang bermutu dan dalam jumlah yang cukup. Aspek ekonomi, adanya pengurangan penyediaan dana untuk insektisida, sehingga mengurangi biaya input yang berakibat meningkatnya daya saing komoditas. Aspek ekologi, adanya pengurangan pencemaran lingkungan sebagai akibat berkurangnya penggunaan insektisida Semua dampak tersebut akhirnya memungkinkan dapat berkembangnya sistem petanian yang berkelanjutan.Kata kunci: Helicoverpa armigera, Gossypium hirsutum, konservasi, status hama.
Prospect of Natural Fiber as Source of Currency Paper . SUDJINDRO
Perspektif Vol 10, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v10n2.2011.%p

Abstract

Several types of plants producing natural fiber, such as fruit fiber (cotton), stems (kenaf, roselle, yute, flax, linum), and leaf (abaca, agave) have long been cultivated in Indonesia. They have even a solid status as raw material for industry nationally and internationally, such as cotton, kenaf, abaca, and flax. Plants of these natural fibers are potential for use as raw material for pulp and paper, and other industrial raw materials. Each year, Indonesia imports about 1.7 reem of currency paper worth of ± US$ 50 million or equivalent to ± Rp475 billion. High quality raw materials for currency paper are from cotton fibers (linters) mixed with other natural fibers, such as abaca, ramie, kenaf, and linum in a particular composition. Local natural fibers have great potential to be utilized as an alternative to meeting the needs of the domestic currency paper material. Balai Besar Pulp dan Kertas has carried out many research on the currency paper materials. Bank of Indonesia in collaboration with LIPI, Balittas, ITS, and the Ministry of Industry and Trade (Kemperindag) has considered that the genetic material of plants, land and human resources are already highly supportive to conduct the business of natural fibers plantation. If the business can maximally be empowered domestic sources, it may be able to improve farmers’ welfare through agribusiness of natural fiber commodities. This business in turn may reduce the imports of currency paper and save foreign exchange, as well. Empowerment of flooded and acidic lands outside Java, by planting high yielding varieties, is a positive effort to improve farmers’ welfare on these marginal lands.Keywords : Raw material, currency paper, natural fibers, pulp and paper, farmers’ prosperity.
PENGELOLAAN KOMUNITAS SERANGGA HAMA DAN SERANGGA BERGUNA UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS JAMBU METE Management of Pest and Benefit Insects For Increasing Cashew Productivity Siswanto Siswanto; Molide Rizal
Perspektif Vol 17, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.517 KB) | DOI: 10.21082/psp.v17n1.2018.01-14

Abstract

ABSTRAKJambu mete (Anacardium occidentale L) merupakan komoditas perkebunan yang cukup potensial sebagai komoditas ekspor Indonesia. Tanaman jambu mete  adaptif pada kondisi lahan kering dengan curah hujan rendah dan telah dikembangkan secara luas di Indonesia, terutama di kawasan Timur. Tahun 2015  luas tanaman jambu mete di Indonesia tercatat seluas 522.863  ha dengan produksi 137.580  ton dan produktivitas sekitar 431 kg/ha/th. Produktivitas lahan pertanaman jambu mete tersebut tergolong masih rendah dibandingkan dengan potensinya yang bisa mencapai 800-1000 ton gelondong/ha/th. Salah satu faktor penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di Indonesia  berasal dari  komunitas serangga yang berasosiasi pada tanaman jambu mete antara lain  serangga hama, serangga penyerbuk dan serangga musuh alami. Tercatat lebih dari 100 jenis serangga berasosiasi dengan pertanaman jambu mete terutama pada musim pembungaan, meliputi serangga hama, serangga musuh alami, serangga penyerbuk, serangga vektor penyakit,dan serangga berguna lainnya yang mempengaruhi produktivitas dan perkembangan jambu mete. Kenyataan tersebut menunjukkan komunitas serangga jambu mete cukup berperan terhadap perkembangan dan produktivitas jambu mete. Berkaitan dengan keberadaan serangga tersebut perlu upaya pengelolaan habitat atau lingkungan yang tepat dan sesuai untuk pengendalian serangga hama dan peningkatan produktivitas jambu mete.Cashew (Anacardium occidentale L) is a potential plantation commodity as an Indonesian export commodity. Cashew nut plants are adaptive to dry land conditions with low rainfall and have been widely developed in Indonesia, especially in Eastern part of Indonesia. In 2015, the area of cashew nut plant in Indonesia is 522,863 ha with production of 137,580 tons and productivity around 431 kg / ha / year. The productivity of cashew plantation is relatively low compared to the potential that can reach 800 - 1000 tons of nut / ha / yr. One of the factors causing the low productivity of cashew in Indonesia, comes from insect communities associated with cashew plants such as insect pest attacks, pollinating insects and natural enemy insects. It was recorded more than 100 species of insects associated with cashew crops, especially during the flowering season, including insect pests, natural enemy insects, pollinating insects, disease vector insects, and other useful insects which affect the cashew production and growth. This fact shows cashew insects community contribute to the development and productivity of cashew nuts in a positive or negative sense. In relation to the presence of these insects, it is necessary an effort to manage appropriates habitat / environment to control insect pests and increase the productivity of cashew.  
Pengendalian Terpadu Busuk Pangkal Batang Lada DONO WAHYUNO
Perspektif Vol 8, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.733 KB) | DOI: 10.21082/p.v8n1.2009.%p

Abstract

ABSTRAKLada (Piper nigrum L) merupakan komoditi rempah yang penting untuk meningkatkan pendapatan petani di  Indonesia.    Daerah  pusat  pengembangan  lada, banyak terdapat di Lampung, Bangka dan akhir-akhir ini berkembang di Kalimantan. Penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora capsici merupakan kendala dalam budidaya lada di Indonesia. Penyakit ini telah tersebar luas hampir di semua pertanaman lada di Indonesia. Naskah  ini  menguraikan  kemajuan  penelitian  dan pengalaman di lapang terhadap usaha pengendalian BPB.  Pengendalian yang lazim dilakukan oleh petani adalah menggunakan fungisida sintetik.  Pengendalian dengan cara kimia sering dilakukan saat harga lada tinggi, dan sebaliknya petani tidak memelihara kebunnya dengan baik saat harga lada turun. Akibatnya, BPB menjadi masalah yang serius pada banyak  pertanaman  lada  untuk  saat  ini.  P.  capsici mempunyai spora yang dapat bergerak dan berenang secara aktif pada lapisan air yang terdapat pada tanah. Hal tersebut membuat Phytophthora mudah tersebar melalui tanah yang terkontaminasi, bagian tanaman yang terserang atau terbawa oleh aliran air yang ada dipermukaan tanah. Phytophthora asal lada mempunyai dua tipe kawin, yaitu A1 dan A2 yang memungkinkan mereka untuk melakukan reproduksi secara seksual di daerah-daerah dimana kedua tipe kawin tersebut ada. Hasil perkawinan seksual memungkinkan Phytophthora lada menghasilkan turunan yang lebih ganas daripada induknya  yang  sudah  ada.  Usaha  untuk  mengembangkan   komponen   teknologi   pengendalian   telah dilakukan dengan mengedepankan pengendalian BPB yang ramah lingkungan, murah dan dapat dilakukan oleh  petani  lada. Komponen teknologi yang telah dikembangkan meliputi kultur teknis, aplikasi agen hayati  dan  kimia apabila  terjadi ledakan serangan, serta usaha untuk menciptakan tanaman tahan. Memadukan komponen teknologi  tersebut tidak dapat memusnahkan semua P. capsici yang ada di dalam tanah,  tetapi  mampu  menekan  perkembangan  dan penyebarannya  apabila  dilakukan secara baik dan benar, sehingga kehilangan hasil dapat ditekan dan penggunaan fungisida   dapat diminimalkan. Saran implementasi  IPM meliputi peningkatan keragaan vigor tanaman dengan menerapkan budidaya anjuran,menekan  perkembangan  populasi  P.  capsici melalui aplikasi agen hayati, seperti Trichoderma; sedangkan pemakaian fungisida hanya dilakukan sebagai pilihan terakhir kalau perkembangan penyakit semakin serius, serta peningkatan pengetahuan petani melalui berbagai  pelatihan teknis,  Untuk memaksimalkan implementasi  IPM  memerlukan  keterlibatan  secara aktif semua pihak terkait, termasuk petani, departemen terkait, dan peneliti.Kata kunci: Busuk pangkal  batang, lada, IPM, Phytophthora, Piper nigrum ABSTRACTIntegrated  Control  of  Foot  Rot  Disease  of Black PepperBlack  pepper  (Piper  nigrum)  is  important  crop  for increasing  farmer  income  in  Indonesia.  Traditional pepper  planting  areas  are  Lampung  and  Bangka-Belitung provinces, as well as new planting areas in Kalimantan  provinces.  Foot  rot  disease  caused  by Phytophthora capsici is the main constraint in pepper cultivations  in  these  areas.  The  disease  is  widely distributed  in  almost  all  pepper  cultivations.  This paper describes information on the research progresses on   foot   rot   disease   control   methods   and   field experiences on controlling the disease on black pepper. Control method of the foot rot disease by farmers is commonly using synthetic fungicides.  This practice was only applied when the price of pepper is high. Otherwise, farmers only applied minimal cultivation practices.  As the result, the foot rot disease becomes more   serious   problem   on   pepper   plantations throughout Indonesia. Spores of P. capsici is actively swiming on water film, therefore, the fungus is easily disseminates   through   contaminated   soil,   diseased planting materials or running water of soil surface. The fungus has two mating types, A1 and A2 that makes  sexual  reproduction  possible  in  some  areas where   both   mating   types   exist.   The   sexual reproduction may produce progenies that are more virulent than their parents. Therefore, it is important to minimize    distribution    of    planting    materials contaminated with the different matting types into a certain location to prevent new strain of P. capsici. Attempts to control the disease have been conducted with  focusing  on  technologies  that  is  eco-friendly, cheap and simple (easy to be handled and adopted by farmers).   The   eco-friendly   technologies   included improving cultural practices, application of biological control   agents,   and   fungicide   is   applied   when necessary.  An initial effort to find resistant or tolerant black   pepper   varieties   had   also   been   studied. Integrated pest management (IPM) by combining those available  technologies  will  not  eradicate  P.  capsici totally, but it will reduce the population of the fungus to a certain level that lessens the damage or yield lost. Implementation of the IPM includes increasing plants vigor through conducting proper planting activities followed by suppressing of fungal population through incorporating  of  biological  control  agent,  such  as Trichoderma;  while  fungicide  application  is  the  last resort,  as  well  as  improving  farmers  knowledge various  technical  trainings.  To  maximize  the  IPM implementation   by   farmers,   it   requires   active participation    from    all    involved    stakeholders, government official services and researchers.Keywords: Foot rot disease, black pepper, Phytophthora, Piper nigrum, IPM
Potensi Buah Kelapa Muda Untuk Kesehatan dan Pengolahannya RINDENGAN BARLINA
Perspektif Vol 3, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.907 KB) | DOI: 10.21082/p.v3n2.2004.46-60

Abstract

Buah kelapa muda merupakan salah satu produk pertanian yang bernilai ekonomi tinggi. Air kelapa mengandung bermacam-macam vitamin dan mineral dan gula sehingga dapat dikategorikan sebagai minuman ringan yang bergizi. Pemanfaatan buah kelapa muda harus diikuti dengan penanganan setelah panen, seperti pengawetan, pengemasan dan penyimpanan karena buah mudah rusak. Beberapa hasil penelitian untuk mempertahankan mutu buah kelapa muda, baik dalam bentuk buah utuh atau sebagian sabut dikupas, serta pengolahan daging dan air buah kelapa menjadi berbagai produk, telah dilaporkan. Disamping untuk mempertahankan mutu, diharapkan dengan diolah menjadi produk baru, dapat diperoleh nilai tambah untuk menunjang peningkatan pendapatan petani. Hasil-hasil penelitian yang sudah diperoleh diharapkan mudah diaplikasikan kepada petani ataupun industri rumah tangga yang memanfaatkan bahan baku kelapa. Peluang dalam pengembangannya, tentu saja dipengaruhi oleh ketersediaan sumber bahan baku yang bermutu, modal, pemasaran, dan SDM. Faktor-faktor tersebut sangat menentukan dalam upaya mencapai dampak yang diharapkan seperti terciptanya lapangan kerja, peningkatan pendapatan petani, peningkatan gizi dan kesehatan masyarakat.Kata kunci : Kelapa, Cocos nucivera L., kelapa muda, nilai gizi, kesehatan, pengolahan ABSTRACT Potency of tender coconut for health and its processingTender coconut fruit is an agricultural product which has high value. Coconut water contains various kinds of vitamins, minerals, and sugar, so that it can be classified as nutritious soft drink. Since the fruit is easily decayed, picking up the young fruits should be followed by post harvest management, such as preservation, packing and storage. Some research activities have been conducted to maintain tender coconut quality either in the whole fruit or in the fruit with some parts of the husk peeled; and processing tender coconut meat and coconut water into various kinds of products. Beside that, processing tender coconut to new product will improve the farmers’ income. The techniques are expected to be easily applied by the farmers or home industry using coconut as raw material. The opportunity for developing them was affected by the availability of qualified raw materials, capital, market and skill. These factors strongly influenced the expected impacts like creating job opportunity, improving farmers’ income, improving nutrition and public health.Key words : Coconut, Cocos nucifera L., tender coconut, potency, nutrition, health, processing
STRATEGIES AND IMPLEMENTATION OF DEVELOPMENT OF FUTURE COCONUT PRODUCTS ABNER LAY; PATRIK M. PASANG
Perspektif Vol 11, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v11n1.2012.%p

Abstract

In line with problems, alternative solutions, and issues on national coconut, as well as the determinants factors on development, it is required practical strategy that can be implemented to gain success in future coconut product development. The development strategy may consist of the direction, goals, objectives, priorities, and development phases. Implementation includes the optimalization of farming, development and marketing products. Improvement of coconut products, that can be executed massively to the farmers group level and industry for local/domestic market, are young coconut products, coconut coktail, coconut jam, baby food supplements, soft drinks, nata de coco, coconut water sauce, coconut flour, virgin coconut oil, coconut shell charcoal, charcoal briquette, liquid smoke of coconut shell, coconut wood, and organic fertilizer. While the exporting goods are such as copra, white copra, raw coconut oil, coconut cake, desiccated coconut, and active charcoal.   Key words:  Coconut, farm business, industry, product diversification, farmers group
PENGANGKATAN AIR TANAH OLEH JAMBU METE DAN PROSPEK PEMANFAATANNYA / Hydraulic Lift on Cashew and Its Utilization Prospect Joko Pitono
Perspektif Vol 16, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1023.274 KB) | DOI: 10.21082/psp.v16n1.2017.%p

Abstract

ABSTRAK Jambu mete dikembangkan secara luas di wilayah berlahan kering dan beriklim kering karena memiliki kemampuan adaptasi yang baik pada kondisi kekeringan, khususnya di wilayah timur Indonesia. Nilai ekonomi jambu mete utamanya diperoleh dari produk kacang mete, buah semu, dan CNSL dari cangkang biji mete. Namun praktek budidaya yang dilakukan masyarakat umumnya terbatas dalam pemberian input produksi khususnya pupuk yang menyebabkan penampilan produktivitas jambu mete di wilayah tersebut masih tergolong rendah. Agar pengembangan jambu mete tetap menarik, maka selain memberikan nilai ekonomi dari kacang mete dan produk ikutannya, diharapkan juga bisa memberikan nilai tambah untuk konservasi ekologi pada lahan kering. Sebagaimana hasil dari beberapa studi ekologi pada beberapa spesies tanaman hutan dan gurun tertentu yang terbukti dapat mengkonservasi lengas tanah di sekitar titik tumbuhnya. Kemampuan menyeimbangkan defisit lengas tanah yang hilang pada siang hari akibat evapotranspirasi yang tinggi, diketahui berasal dari proses hydraulic lift, yaitu proses jaringan akar yang mampu membasahi kembali partikel tanah di lapisan atas saat potensial air di jaringan akar tinggi dan laju transpirasi pada periode malam hari sangat rendah. Hasil dari beberapa studi terakhir menunjukkan bahwa tanaman jambu mete juga berindikasi memiliki kemampuan hydraulic lift, baik pada uji skala rumah kaca maupun skala lapangan. Tentunya, adanya kemampuan fungsi ekologis yang demikian memberikan nilai yang lebih strategis bagi tanaman jambu mete untuk mendukung pengembangan pertanian lebih lanjut di lahan kering beriklim kering. Tulisan ini mengulas perkembangan terkini hasil evaluasi fungsi ekologis pada tanaman jambu mete, terutama yang terkait dengan kemampuan hydraulic lift dan perspektif potensi pemanfaatannya bagi pengembangan pertanian lahan kering ke depan. ABSTRACT Cashew is widely cultivated in dry land with dry climates, especially in eastern Indonesia, due to its good adaptability to drought conditions. The economic value of cashew nuts is primarily from kernel, apple fruits, and CNSL from nut shells. However, the cultivation practices commonly done by the farmers rarely apply input production, especially fertilizer, resulting in low cashew productivity in the region. Thus, to maintain cashew nut development, in addition to improving the economic value of cashew nuts and its products, is also expected to provide ecological conservation in the dry land.  Several studies on certain species of forest and desert plants indicated their ability to conserve moisture around the growing point. The ability to balance the soil moisture deficit lost during the day due to high evapotranspiration is identified as the result of the hydraulic lift process.  Hydraulic lift process occurs when the root tissue is capable to moisten the soil particles in the upper layer because the water potential in the root tissue is high while the transpiration rate at night is very low. Recent studies at greenhouse and field trial also indicated the capabilities of hydraulic lift on cashew.  This particular ecological function capability improves strategic value of cashew trees to support the further development of agriculture in dry land with dry climates. This paper reviewed the latest developments in the evaluation of ecological functions of cashew trees, especially related to its hydraulic lift capability and the perspectives of its potential utilization to develop agriculture in the dry land in the future.
Penanda DNA Untuk Pemuliaan Tanaman Kelapa (Cocos nucifera L.) DONATA S. PANDIN
Perspektif Vol 9, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.289 KB) | DOI: 10.21082/p.v9n1.2010.%p

Abstract

ABSTRAKKegiatan pemuliaan pada tanaman kelapa merupakan proses   yang   sangat   lama   dan   mahal.   Pemuliaan tanaman kelapa di Indonesia telah dilakukan melalui eksplorasi,   koleksi,   dan   hibridisasi.   Inventarisasi populasi kelapa yang dilakukan oleh COGENT, CGR (The  International  Coconut  Genetic  Resources  Network, Coconut Genetic Resources) dari 17 negara, dilaporkan sebanyak 936 populasi dan 105 populasi diantaranya berasal dari Indonesia atau setara dengan 11.22% dari seluruh   populasi   kelapa   di   dunia   yang   telah dilaporkan.   Beberapa   dari   koleksi   yang   ada   di BALITKA telah digunakan sebagai materi persilangan baik antara kelapa Genjah dengan Dalam, maupun kelapa  Dalam  dengan  Dalam.  Dari  koleksi  plasma nutfah kelapa tersebut, telah berhasil dilepas sebagai Kelapa unggul sebanyak 15 varietas kelapa Dalam, 4 varietas kelapa Genjah, dan 5 varietas kelapa Hibrida. Kemajuan dibidang genetika terutama pada penanda DNA  telah  banyak  merubah  pola  penelitian  pada disiplin   ilmu   genetika   dan   pemuliaan   tanaman. Ditemukan banyak penggunaan penanda DNA dalam pemuliaan  tanaman.  Beberapa  penanda  DNA  yang telah digunakan pada tanaman kelapa adalah  analisis variasi   genetik,   evolusi/migrasi   tanaman   kelapa, keterpautan gen tertentu terhadap karakter spesifik, penelusuran tetua, dan analisis lokus-lokus karakter kuantitatif dengan menggunakan Restriction Fragment Length   Polymorphism                  (RFLP),   Random   Amplified Polymorphic DNA (RAPD), Amplified Fragment Length Polymorphism (AFLP),  dan  mikrosatelit  atau  Simple Sequence   Repeat (SSR).  Saat  ini   BALITKA   sedang melakukan penelitian untuk mengidentifikasi fragmen DNA   sebagai   penanda   sifat   kopyor,   klarifikasi kandidat penanda sifat produksi buah pada kelapa Dalam Mapanget, dan identifikasi penanda tanaman tahan terhadap P. palmivora.   Pemanfaatan penanda DNA akan menghemat waktu dan tenaga kerja karena pengujian yang dilakukan pada tingkat DNA tidak dopengaruhi  oleh lingkungan  tumbuh.  Keuntungan lainnya adalah jumlah benih, bibit, atau galur yang dibutuhkan untuk pengujian dapat dikurangi, karena banyak  yang  sudah  tidak  terpilih  setelah  seleksi dengan  penanda  DNA  pada  tahap  awal  generasi, sehingga  desain  pemuliaan  lebih  efektif.  Efisiensi paling  besar  adalah  seleksi  terhadap  sifat  spesifik (target) akan lebih cepat karena seleksi berdasarkan genotif   spesifik   lebih   mudah   diidentifikasi   dan diseleksi.Kata kunci : Cocos nucifera, pemuliaan, RFLP, RAPD,   mikrosatelit (SSR) ABSTRACTDNA Marker in Coconut Breeding ProgrammCoconut plant breeding activities in Tall coconut is a very  long  and   expensive   process.   Coconut  plant breeding  in  Indonesia  has  been  done  through  the exploration,                 collection,             and         hybridization. Inventarization of coconut populations conducted by the COGENT, CGR (The International Coconut Genetic Resources Network, the Coconut Genetic Resources) from 17 countries, reported as many as 936  population and 105 of the population of which originated from Indonesia or equal to 11:22% of the entire population of the  world's  coconut  has  been  reported  .  Some  of existing  collections  in  BALITKA  has  used  as  the material crosses between dwarf and tall coconut. From the   collection   of   coconut   germplasm,   we   have successfully  released  as  much  as 15   varieties  of superior Tall coconut palm, 4 Dwarf coconut varieties, and five varieties of hybrid coconuts. Progress in the genetics  field,  especially  on  the  DNA  marker  has changed  the  pattern  of  research  in  disciplines  of genetics and plant breeding. A lot of DNA markers in plant breeding had found and used. Several DNA markers that have been used on the coconut crop are to analyze genetic variation, the evolution / migration of coconut plantations, mapping of specific genes related to specific characters, parental analysis, and analysis of quantitative trait loci using Restriction Fragment Length polymorphism (RFLP), the Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD), Amplified Fragment Length polymorphism (AFLP), and of micro-satellite or Simple Sequence Repeat (SSR). BALITKA currently doing research to identify DNA   fragments   as   a   marker   kopyor   properties, clarification of the nature of the candidate marker of fruit   production   in   coconut   In   Mapanget,   and identification  markers  P.  palmivora  resistant  plants. Utilization of DNA markers will save time and labour because the tests conducted at the DNA level is not influenced by environmental. Another advantage is the number  of  seeds,  seedlings,  or  strain  required  for testing can be reduced, because many of them had not elected after selection by DNA marker generation in the  early  stages,  so  the  breeding  design  is  more effective. Greatest efficiency is the selection of specific characters will be faster because the selection based on specific genotype is more easily identified and selected.Keywords:  Cocos  nucifera,  breeding,  RFLP,  RAPD, micro-satellite (SSR)

Page 9 of 21 | Total Record : 201